Another War
Disclaimer: Semua karakter dari anime 'Naruto' dan 'Kantai Collection(Kancolle)' bukan milik saya, semua itu hanya pinjaman belaka.
Pair: Naruto .U X ?
Summary: Akhir yang sangat mengejutkan bagi sang pahlawan perang, berpindah dimensi yang dipenuhi dengan orang-orang yang mengaku 'Armada kapal' bahkan menyeret dirinya ke dalam perang yang sangat aneh. Dia tak tahu sampai kapan dan bagaimana dirinya akan bertahan di dunia ini.
Genres: Millitary, Science Fiction (Sci-Fi), Adventure, Matrial Art, Hurt/Comfort, and Romance.
Warning: Semi-Canon, Semi-OOC, No OC, Typo(s), Very Mainstream, Miss Typo(s), Alur cepat dan rumit, Newbie' Author, Not Like Don't Read, Read 'n Review.
Happy Reading!
Chapter 2: Divisi Pengintai 'Uzumaki Naruto'
Naval Base District, 20.58
Kanvas hitam sudah menyelimuti seluruh langit yang semulanya berwarna biru, sang raja siang sudah berganti menjadi ratu malam yang ditemani oleh ribuan bintang yang bertebaran di langit hitam yang sangat luas itu.
Suara deburan ombak yang memecah terumbu karang atau'pun tembok dermaga disertai dengan angin yang berhembus kencang menjadi sebuah simponi alam yang sedang dimainkan oleh beberapa komponen alam, siapa saja akan terasa sangat betah jika melihat pemandangan seperti itu.
"Hmmmhh~..."
Helaan napas dari seseorang memecah keheningan malam yang sangat sepi itu, hanya deburan ombak saja yang menemani lelaki bersurai pirang jabrik yang sedang mendudukan dirinya sendiri di tepian tembok dermaga. Angin malam yang berhembus sangat kencang tak dihiraukan oleh pemuda itu seolah-olah dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti malam tersebut, sepasang iris biru langit menatap lurus kearah bulan yang menyinari kegelapan malam hari tersebut.
Entah kenapa pikirannya masih saja teringat dengan kejadian sekitar satu jam yang lalu...
.
.
.
Flashback Start.
"Umm?"
Pemuda bersurai pirang itu hanya memicingkan matanya karena bingung saat melihat secarik kertas yang menampilkan beberapa deretan tulisan diatasnya kemudian pandangannya terarah pada perempuan bersurai hitam panjang dengan mata ruby-nya yang menatap kearahnya dengan pandangan datar, headgear berbentuk antena selalu setia diatas kepalanya serta pakaiannya yang cukup minim membuat siapa saja akan salah fokus terhadapnya. Tapi dia ingin tahu kenapa perempuan itu memanggilnya kesana dan memerintahkannya untuk membaca surat yang ada digenggamannya.
"Divisi Pengintai?" tanya Naruto sambil membaca salah satu baris yang ada terdapat dalam surat tersebut.
"Ya, kau diminta oleh Admiral untuk masuk ke dalam Divisi itu. Tapi sebelumnya Aku Kapal Sekertaris Nagato yang akan bertugas dan bertanggung jawab selama Admiral tak ada disini," ucap perempuan bernama Nagato itu dengan nada tegas tanpa emosi sama sekali, kedua tangan terlipat di bawah dadanya menunjukan ke-ambigu-an yang sangat tinggi.
"Tapi aku tak berniat masuk ke dalam Divisi apa'pun disini," jawab pemuda pirang itu, dalam pikirannya memang tak pernah terpikirkan untuk masuk pasukan Divisi mana'pun di Distrik Naval Base ini bahkan dirinya tak mengerti bagaimana cara mereka bekerja disini. Masih sama layaknya Shinobi atau malah berbeda.
"Aku tahu itu, tapi kau tak bisa menolak permintaan dari Admiral sendiri. Dia yang berkuasa untuk memasukan atau mengeluarkan seseorang dari Distrik Naval Base ini dan itu juga berlaku untukmu, Uzumaki-san," jelas Nagato yang masih mempertahakan nada bicaranya tanpa menunjukan emosi yang berarti pada Naruto.
Iris biru laut itu kembali menatap kearah secarik kertas yang berada di genggaman tangan kanannya, dia tak tahu harus menjawab apa sekarang. Ini terlalu cepat dan terlalu tiba-tiba untuknya, kelopak matanya terpejam sesaat berusaha mengosongkan pikirannya dan memikirkan langkah selanjutnya yang harus ia lakukan "Sepertinya aku harus memikirkan ini sementara waktu," ucap Naruto yang tak mau gegabah dalam mengambil keputusan dan dia ingin berubah agar sifat cerobohnya itu menghilang.
"Tentu saja, tapi kau hanya punya waktu kurang dari 24 jam untuk memikirkannya karena ada misi yang harus diterima oleh Divisi Pengintai sepertimu," Nagato juga tak bisa langsung memaksa agar laki-laki itu langsung mau menerima surat keputusan itu.
Naruto hanya menganggukan kepalanya perlahan saat mendengar perkataan dari Nagato lalu membungkukan tubuhnya kearah perempuan tersebut dan membalikan tubuhnya dan keluar dari ruangan sang Admiral, dia melipat kertas tersebut kemudian memasukannya ke dalam saku celananya.
Flashback End.
.
.
.
Laki-laki kembali mengeluarkan surat keputusan dari dalam saku celananya dan kembali memperhatikannya dengan seksama, dia masih sanksi antara menerima keputusan itu atau menolaknya. Dia tak tahu harus melakukan apa sekarang, helaan napas kembali ia keluarkan dan sepertinya dia harus mengajukan usulan 'Satu hari tanpa Masalah' kepada Kami-sama. Ini semua sungguh diluar kendalinya.
"Malam hari memang sangat indah, karena itulah aku suka malam hari."
Pemuda pirang itu menolehkan kepalanya ke belakang saat mendengar suara seseorang dari belakangnya, pandangannya tertuju pada gadis bersurai coklat pendek yang diikat twinstail di kedua sisi kepalanya dengan pakaian oranye yang malah mengingatkan itu kepada dirinya sendiri yang sangat menyukai warna jingga. Mereka saling bertukar pandangan satu sama lain membuat pemuda pirang itu tersenyum kecil "Apa yang dilakukan gadis kecil sepertimu disini? Seharusnya kau istirahat dan tidur di kamarmu," ucap lelaki itu sambil terus memperhatikan gadis yang umurnya pasti diatas Fubuki, kaki jenjangnya yang dibalut kaos stocking hitam panjang itu mulai melangkah mendekatinya.
"Aku suka malam hari...," gadis itu mengambil tempat duduk tepat di samping pemuda pirang itu lalu menatap lurus kearah bulan yang menyinari malam itu "Jadi, aku akan menikmati malam hari dengan sebaik mungkin. Apalagi jika cerah dan ditemani bulan seperti ini," jawabnya yang masih saja memperhatikan bulan yang membentuk bulatan sempurna dengan seksama.
"Dasar Maniak," sindir Naruto pada gadis tersebut.
"Lalu kau sendiri sedang apa malam-malam seperti ini sendirian di dermaga?" tanya gadis itu sambil mengalihkan pandangannya kearah lelaki di sampingnya disertai dengan seringai kecil di bibirnya.
Naruto hanya tersenyum kecil kepada gadis itu dengan ramahnya "Hanya sedang memikirkan sesuatu dan kurasa malam hari adalah waktu yang tepat untuk memikirkannya," ucap Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Ya, itulah yang kusuka jika malam hari sudah datang."
Setelah itu, suasana hening menyelimuti mereka berdua yang terdengar hanyalah deburan ombak yang menabrak tembok dermaga serta hembusan angin malam yang sesekali melewati telinga mereka. Naruto dan gadis itu sepertinya memang menikmati malam itu dengan perasaan nyaman, jarang-jarang pemuda itu melihat pemandangan lautan di malam hari seperti sekarang.
"Ne~ Naruto-san?" panggil gadis itu pada lelaki yang ada di sampingnya dengan tatapannya tertuju pada wajah lelaki itu, pipi yang dihiasi dengan goresan tipis layaknya kumis kucing membuat daya tarik sendiri bagi gadis itu.
"Ada apa? Ada yang ingin kau tanyakan ya?" Naruto tahu jika gadis itu ingin berkata sesuatu padanya tetapi dia tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, dia memilih tak memandang gadis itu karena seseorang akan lebih gugup jika ditatap saat ingin mengungkapkan hal yang sulit diutarakan. Dia lebih memilih untuk memandang bulan yang bersinar terang di langit sana.
"Terima kasih sudah mau melatih Fubuki tadi siang, sepertinya dia lebih lihai daripada sebelumnya walau'pun belum terlalu lihai. Tapi sekarang dia tak berpikir sebagai beban lagi, sekali lagi terima kasih," ucap gadis itu dengan nada bersungguh-sungguh, bola mata kecoklatan itu terus menatap kearah Naruto yang masih saja tak memberikan respon berarti kepada dirinya. Apa ada perkataan yang menyinggung lelaki itu?
"Boleh kutahu siapa namamu?" tanya pemuda pirang itu yang masih tak bergeming dari posisinya sekarang ini.
"Namaku Sendai, Kapal Penjelajah Ringan," jawab gadis itu disertai dengan senyumannya.
"Kau tahu, Sendai. Saat aku melihat Fubuki berlatih keras sampai-sampai bisa saja menyakiti dirinya sendiri, itu malah mengingatkan diriku yang dulu. Aku bisa melihat sifat pantang menyerah, semangat yang tinggi dan kegigihan untuk menggapai sesuatu. Aku pernah mengalami itu semua dan aku juga yakin jika suatu hari nanti Fubuki bisa menjadi orang yang sangat hebat dan dibanggakan oleh orang banyak. Aku yang menjaminnya," saat lelaki itu mengakhiri perkataannya, dia menolehkan kepalanya kearah Sendai dengan bibirnya yang membentuk sebuah senyuman lebar yang berisi keyakinan yang sangat besar atas ucapannya.
Wajahnya memerah seketika saat melihat senyuman yang diperlihatkan oleh Naruto, baru kali ini ada seseorang yang bisa membuatnya merona dan orang itu adalah orang yang baru saja ia kenal. Dia membuang pandangannya kearah lain karena dirinya tak mau jika lelaki yang ada di depannya itu dan tak mungkin sekali dia memiliki sesuatu yang seharusnya tak dirasakan oleh gadis seusianya, tapi dia tak bisa menutupi kemungkinan jika jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Dia bahkan tak tahu harus berbicara apalagi sekarang, dia kehilangan topik pembicaraan 'Apa yang kupikirkan? Apa yang kupikirkan?' ucapnya dalam hati dengan kedua tangannya yang mengelus rambutnya sendiri, Sendai tersadar akan sesuatu sekarang dan kemungkinan besar bisa menjawab rasa penasarannya pada lelaki pirang itu.
"Ada satu lagi yang ingin aku tanyakan, Naruto-san?"
"Apa itu, Sendai?" tanya Naruto dengan nada antusias.
"Kenapa kau bisa mengapung diatas air tanpa menggunakan Launcher? Bahkan Kapal terhebat'pun tak akan bisa melakukannya?" Dari kemarin-kemarin hingga hari ini, rasa penasaran tentang orang bernama Naruto ini terus berputar di pikirannya. Kanmusu terhebat saja tak akan tentu bisa melakukan apa yang dilakukan oleh lelaki di sampingnya.
"Aku akan memberitahukannya padamu, tapi apa kau bisa menjaga rahasia seseorang, Sendai?" tanya lelaki itu yang ekspresinya sudah berubah menjadi serius dan sedikit memohon pada gadis bersurai coklat itu.
Mau tak mau Sendai menganggukan kepalanya saat mendengar pertanyaan dari Naruto itu, dia juga ingin menghilangkan rasa penasaran yang menggerogoti otaknya dan siapa tahu jika dirinya tahu rahasia lelaki itu dia juga bisa bisa mengapung diatas permukaan air tanpa menggunakan Launcher nantinya.
"Aku memang tidak seperti para gadis kapal yang ada disini, mereka harus menggunakan alat untuk mengapung diatas air. Aku memiliki sesuatu yang sebenarnya tak masuk akal bagi kalian dan itulah alasannya kenapa aku menyembunyikannya dari kalian," Naruto mulai menjelaskan sambil memandang kearah rembulan yang bersinar terang di langit sana.
"Sesuatu? Sesuatu seperti apa?" tanya Sendai dengan nada penasaran dan heran disaat yang bersamaan.
Salah satu tangan pemuda pirang itu mulai terulur ke depan dengan posisi terlentang yang sedikit berdekatan dengan gadis itu agar dia juga bisa melihatnya, perlahan-lahan angin pelan mulai berhembus dan berpusat pada tangan kanan Naruto dengan benang-benang energi berwarna biru mulai terbentuk diatas telapak tangan itu. Bola mata kecoklatan itu membulat sempurna saat melihat bola energi tercipta diatas telapak tangan itu disertai dengan suara bising yang bisa mengganggu siapa'pun yang ada disana.
"K-kenapa bisa?" tanya Sendai dengan nada heran dan terkejut, baru kali ini dia melihat bola energi seperti yang ada diatas telapak tangan pemuda pirang itu.
"Itu hanya kemampuanku saja dan...," Naruto langsung menghilangkan bola energi itu kala melihat gadis itu berniat menyentuhnya "...Bisa melubangi tembok bangunan setebal apa'pun dan kau pasti tahu akibatnya jika sampai terkena manusia, bukan?" Sambungnya dengan senyuman kecil terpasang di bibirnya untuk menanggapi ekspresi kekesalan dari gadis berpakaian oranye di sampingnya.
"Hmm... Terima kasih sudah mengingatkan," ucap Sendai yang masih berekspresi sama "Lalu sebenarnya kau ini makhluk apa, Naruto-san?" tanya Sendai yang masih ragu jika Naruto itu hanya manusia biasa, karena tak ada manusia biasa yang bisa menciptakan bola energi sebesar bola sepak.
"Aku...?" Naruto berdiri dari tepian dermaga yang terbuat dari tembok itu lalu menatap kearah Sendai yang masih menunggu jawabannya "Aku hanya seorang manusia yang diberi kelebihan dan kekurangan yang tidak bisa kuberitahu pada siapa'pun," sambungnya sambil tersenyum kecil kearah gadis yang menemaninya lalu salah satu tangannya menepuk kepala Sendai "Sebaiknya kau tidur, tak baik jika seorang gadis kecil masih berkeliaran malam-malam seperti ini."
"Aku bukan anak kecil yang harus diingatkan!"
Naruto hanya mendengus pelan sambil mempertahankan senyumannya "Tak apa-apa 'kan jika aku tinggal?" tanya Naruto.
"Aku bisa menjaga diri sendiri," balas Sendai sambil melipat kedua tangan di depan dadanya yang bisa dibilang masih dalam tahap 'Pengembangan'.
"Baiklah, terima kasih sudah menemaniku, Sendai," ujar Naruto sambil melenggang pergi meninggalkan Sendai yang masih berdiam diri dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.
"Yah, sama-sama, Naruto-san," balas Sendai dengan nada perlahan yang tak bisa didengar oleh siapa'pun kecuali dirinya sendiri, senyuman tipis terpasang di bibirnya sementara bola matanya mengarah pada rembulan yang masih tetap diam di tempatnya. Sendai memang menyukai malam hari yang sangat terang seperti ini.
.
.
.
Naval Base District, 09.47
Matahari sudah kembali menyapa penduduk Distrik Naval untuk kesekian kalinya, burung-burung camar putih sudah mengudara di langit yang tak bertuan itu. Beberapa orang sudah kembali beraktivitas dan menyibukan diri mereka seperti biasanya...
"Zzzz..."
Suara dengkuran keras memecah keheningan di tanah lapang yang tidak lumayan luas dan kebanyakan di sekitarnya ditumbuhi beberapa tanaman seperti pohon berukuran sedang, bunga-bunga yang berwarna-warni atau'pun rumput-rumput liar yang terus tumbuh di permukaan tanah tersebut. Seorang laki-laki yang memiliki surai berwarna pirang jabrik tengah mengistirahatkan tubuhnya tepat di bawah pohon yang cukup rindang dan melindunginya dari sinar matahari, peluh-peluh berukuran kecil menghiasi beberapa sudut wajahnya menandakan semua sisa metabolismenya keluar tetapi bukan hanya itu saja, latihan pagi yang ia lakukan juga menjadi faktor penyebab peluh itu keluar.
Tangkai yang sangat tipis terselip diantara kedua belahan bibirnya, napas yang sangat teratur dan ekspresi wajahnya yang sangat tenang membuat siapa'pun pasti akan melihat nyenyaknya tidur pemuda itu. Kedua tangannya terlipat di depan dada bagian bawahnya serta salah satu kakinya ditekuk agar posisi tidurnya yang bersandar pada pohon kokoh di belakangnya tak berubah sedikit'pun. Semilir angin yang membelai lembut tubuhnya seolah menjadi pengantar dan penyenyak tidur bagi pemuda tersebut.
.
.
Alam bawah sadar
Di sebuah tanah lapang yang begitu sangat luas dan tak berujung dengan rumput pendek yang terawat sekali, angin yang berhembus menggerakan semua rumput yang tertanam di tanah lapang tersebut sehingga membuat pola garis lurus yang sangat enak dipandang mata. Siapa'pun yang melihat tempat ini pasti akan terpesona bahkan terhipnotis karena keindahannya, tetapi disana tak ada desa, rumah atau'pun makhluk hidup lainnya selain 9 monster berukuran kolosal dihadapan seorang remaja bersurai pirang yang sama sekali tak takut dengan monster-monster di depannya.
"Tak biasanya kalian semua menarikku secara bersamaan kesini, ada masalah 'kah?" tanya remaja pirang itu tanpa rasa takut sekali menatap langsung kearah 9 monster yang terlihat menakutkan itu, kedua tangan remaja itu disilangkan tepat di belakang kepalanya.
"Tentu saja, kita semua tak mungkin menarikmu tanpa alasan, Gaki. Dan sekarang kau lebih memilih bersantai-santai saja, berbeda sekali dengan dulu," jawab monster yang menyerupai seekor rubah dengan bulu berwarna oranye serta memiliki sembilan ekor yang lumayan panjang, seringai rubah terpasang di mulutnya yang bisa saja melahap remaja kuning yang ada di depannya dan tak mungkin jika dia melakukannya.
Kepala pemuda kuning itu menoleh kearah rubah yang besarnya 10 kali lebih besar dari tinggi badannya bahkan bisa saja lebih "Kau tahu, pertempuran tempo hari membuat semua chakraku dan stamina yang ada di dalam tubuhku terkuras lumayan banyak, walau'pun aku ini memiliki kekuatan yang diluar nalar tapi tubuhku tetap tubuh shinobi biasa. Aku juga perlu mengistirahatkan tubuhku beberapa hari ini," jelas remaja itu dengan nada sedikit tinggi dan semua itu adalah hal yang biasa bagi mereka.
"Tapi tetap saja kau harus melatih semua kemampuanmu untuk menghadapinya di pertarungan yang pastinya akan terjadi, kita tak akan pernah tahu dia datang kapan. Setidaknya kita harus berjuang untuk impian semua orang yang bergantung padamu, Naruto-kun," ujar monster berbentuk kucing yang terbuat dari api berwarna biru disertai dengan aksen hitam yang seolah tak akan padam jika terkena air sebanyak apa'pun, dua buah ekor yang serupa dengan warna tubuhnya sendiri.
"Tenang saja, aku sudah memikirkannya sejak bangun dari pingsan beberapa hari yang lalu. Jadi, aku tinggal menentukan bagaimana cara berlatihnya agar orang-orang disini tak tahu jika aku juga bisa mengeluarkan elemen alam," ucap remaja pirang itu dengan cengiran lebarnya dengan posisi kedua tangan yang masih saja berada di belakang kepalanya.
"Lalu kenapa kau tunjukan Rasengan-mu itu pada gadis yang semalam?" tanya monster berbentuk rakun berwarna coklat cerah dengan aksen biru yang menghiasi seluruh tubuhnya, ekornya yang terlihat sangat runcing melambai-lambai pelan di belakang tubuhnya sementara iris keemasan dengan pupil mirip shuriken bermata empat menatap bingung kearah Naruto.
"Kurasa tak akan apa-apa jika hanya dia saja yang tahu, lagipula lambat laun semua yang ada disini akan tahu siapa aku sebenarnya. Kita hanya tinggal menunggu waktu saja."
"Kenapa kau tak masuk saja ke dalam Divisi Pengintai yang dibicarakan perempuan yang bernama Nagato itu? Kau bisa berlatih selama misi berlangsung dan menjelajahi beberapa tempat di sekitar pulau ini," usul monster yang memiliki kepala seperti kerbau tetapi memiliki delapan buah ekor berbentuk seperti tentakel gurita dengan salah satu tanduknya yang hanya tersisa setengahnya.
"Benar apa yang dikatakan Gyuki, anggap saja itu balas budi karena telah memberimu tempat untuk beristirahat, makan dan lain sebagainya. Lagipula musuh yang kau lawan kemarin memiliki niatan gelap yang sangat pekat dan sepertinya sangat berbahaya juga bagi dunia ini," sambung monster berbentuk serangga dengan tiga pasang sayap berwarna oranye kekuningan disertai dengan ekor yang lumayan panjang dan kepalanya lebih mirip helm pada pakaian besi abad pertengahan dulu.
Remaja bersurai kuning keemasan jabrik itu membalikan badannya hingga membelakangi kesembilan monster tersebut, sepasang iris shappirenya terus saja menatap ke depan dimana dataran tersebut seperti tak memiliki ujung bahkan dia sendiri tak tahu dimana ujungnya "Sebenarnya aku tak mau membuat masalah di dunia yang baru saja aku tempati ini, tapi apa boleh buat. Semua pilihan memiliki resiko sendiri...," ucap Naruto yang sedikit menggantungkan kalimatnya.
"Jadi, biarkan Uzumaki Naruto yang menanganinya," ujarnya sambil menunjukan jempol tangan kanan kearah dirinya sendiri, kepalanya sedikit melirik kearah belakang tepatnya kearah sembilan monster itu "Kalian beristirahat saja, di pertarungan selanjutnya kekuatan kalian akan sangat dibutuhkan," sambung Naruto dengan senyum kecil menghiasi bibirnya.
"Kenapa kau tidak memakai 'itu' saja? Bukankah akan sangat membantu?" usul monster besar mirip dengan kera berwarna merah dengan gigi taring atasnya yang lumayan panjang disertai dengan empat ekor di belakangnya, makhluk itu hanya menyeringai saat mengusulkan ide yang ada di kepalanya.
"Aku masih nyaman dengan yang ini, jadi untuk 'itu' nanti saja jika memang sangat dibutuhkan. Lagipula kita tak tahu efeknya jika aku memakainya, aku diperintahkan untuk menjaganya, bukan memakainya," jawab Naruto sambil melirikan kepalanya kearah kesembilan monster itu tepatnya pada monster berbentuk kera itu "Baiklah, aku pergi dulu. Ada urusan yang harus kuselesaikan," lanjut remaja itu yang sudah melangkahkan kakinya lurus ke depan seolah tempat tujuannya ada di depan sana.
'Kami akan terus berjuang bersamamu hingga akhir...,
.
.
.
Uzumaki Naruto."
.
.
Naval Base District, 10.00
"Hmmmhh... Hoaammhh..."
Remaja bersurai pirang itu akhirnya menguap dan membukakan mulutnya lebar-lebar hingga tangkai tipis yang sedari tadi tersemat di bibirnya sudah jatuh pada baju yang ia kenakan, kedua tangannya yang terjulur keatas menandakan jika dirinya harus melemaskan otot-ototnya yang sudah kaku kembali karena tertidur. Dia merasakan jika istirahatnya memang sudah cukup, walau'pun hanya sebentar tapi sangat berbeda sekali jika menikmatinya di alam terbuka.
"Heh, sudah berapa jam aku disini?" tanya pemuda itu entah pada siapa karena hanya dirinya saja yang ada di tanah lapang yang cukup luas itu.
Kepalanya menengadah menatap langit biru yang dipenuhi dengan awan-awan putih yang membentuk gerombolan besar atau'pun hanya seukuran gumpalan kapas di langit yang sangat luas diatas sana, dia menjulurkan tangannya keatas seolah berusaha meraih langit yang nyatanya sangat jauh dari tempatnya sekarang kemudian tangan tersebut mengepal dengan erat diiringi senyum lebarnya "Yosh, aku akan berusaha kembali mulai dari sekarang," ucap Naruto sambil menepuk-nepuk celana di bagian pantatnya agar menghilangkan tanah dan debu yang menempel.
KRUYUK~!
Remaja pirang itu langsung memegangi perutnya karena dia baru ingat jika dirinya belum makan sama sekali bahkan ia tak tahu kapan terakhir kali dirinya makan dan sepertinya sekarang dirinya baru merasakan lapar "Uuhhh~... Baru terasa sekarang, kemarin kemana saja," pemuda itu terus menggerutu sambil melangkahkan kakinya keluar dari lapangan tersebut, dia bahkan tak memiliki energi untuk mengangkat kepalanya, dia hanya bisa melihat permukaan jalanan yang dijejakinya.
"I got you, Cat-boy!"
Seruan dari seseorang membuatnya mau tak mau mengangkat kepalanya dan menatap kearah asal suara yang memanggilnya dengan panggilan aneh itu lagi, Naruto menatap salah satu perempuan yang pernah ia temui di ruang perawatan beberapa hari yang lalu. Senyuman manis terpasang di bibir tipis perempuan itu ditambah pakaian ala penjaga kuil dengan rok berwarna hitam malah menambah kesan feminim bagi perempuan itu "Kongou-san? Ada apa?" tanya Naruto dengan nada lemas.
"Aku mencarimu dari kemarin, Cat-boy," ucap perempuan bernama Kongou itu sambil berkacak pinggang disertai senyuman yang masih terlihat di bibirnya "Kenapa kau memegangi perutmu seperti itu? Apa kau terluka?" tanya Kongou saat melihat lelaki pirang di depannya itu malah memegangi perutnya.
"Aku hanya sedikit kelaparan saja karena beberapa hari ini aku belum memakan apa'pun, ini sangat merepotkan," ucap Naruto yang tertunduk lesu sambil memegang perutnya yang mulai berbunyi meminta agar cepat diisi.
Senyuman Kongou semakin lebar saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Naruto "Begitu ya, aku rasa aku bisa mengatasi permasalahanmu itu, Cat-boy," setelah mengatakan itu, tangan perempuan itu sudah menggandeng salah satu tangan remaja pirang itu sambil menyeretnya ke suatu tempat.
"Hey! Hentikan panggilan anehmu itu, panggil aku Naruto," pemuda pirang itu memang tak nyaman sekali mendengar panggilan yang diberikan oleh perempuan yang sekarang menyeretnya "Ngomong-ngomong kita mau kemana, Kongou-san?" tanya Naruto yang agak bingung saat Kongou terus saja berjalan sambil menyeretnya.
"Ikuti saja aku, nanti juga kau tahu sendiri."
Remaja pirang itu sangat tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Kongou, tapi dia berharap jika perempuan itu membawanya pada suatu tempat dimana dirinya bisa memakan sesuatu. Jujur saja, dia memang sangat lemas kali ini, dia membutuhkan energi tambahan lagi sekarang ini.
"Onee-sama!"
Teriakan seseorang memecah keheningan membuat Naruto sendiri mau tak mau harus mencari tahu darimana asal suara tersebut, remaja itu harus menahan dagunya agar tak jatuh ke tanah saat melihat sebuah meja bulat berukuran lumayan besar diletakan tepat di halaman belakang sebuah bangunan dan darimana'pun terlihat sangat mahal. Lalu diatas meja tersebut terdapat beberapa piring berisi makanan dan juga beberapa gelas putih kecil yang empat diantaranya sudah terisi teh hangat dan disana juga sudah ada Hiei, Kirishima dan Haruna yang sudah melambaikan tangannya kearah Kongou yang sedang menyeret Naruto.
"Silahkan duduk, Naruto."
Naruto kembali tersadar dari lamunannya sehingga dia tak sadar jika dirinya sudah berdiri tepat di samping meja tersebut, iris shappirenya menatap kearah Kongou, Hiei, Haruna dan Kirishima yang sudah duduk di masing-masing kursinya "Tak apa-apa 'kah aku bergabung dengan kalian?" tanya Naruto yang siapa tahu saja keberadaan dirinya malah mengganggu kegiatan mereka berempat.
"Tak apa-apa, Naruto-san. Lagipula Onee-sama yang langsung membawamu kesini," ucap Haruna sambil tersenyum manis kearah Naruto lalu meletakan sebuah gelas tepat di meja yang akan ditempati oleh Naruto "Duduklah, Naruto-san," titah Haruna sambil menuangkan teh yang ada di dalam teko ke dalam gelas yang nantinya akan dipakai oleh Naruto.
Pemuda pirang itu hanya tersenyum lalu menuruti apa yang diperintahkan oleh Kongou dan Haruna sebelumnya "Terima kasih sudah mau mengundangku kesini," ujar Naruto yang terlihat sangat gugup dan siapa'pun yang ada di posisi Naruto pasti akan sangat gugup jika dihadapkan dengan beberapa perempuan yang terlihat sangat baik pada pendatang baru sepertinya.
Salah satu tangannya memegang pegangan gelas tersebut lalu mengangkatnya setinggi mulutnya, ia bisa merasakan uap air hangat menerpa wajahnya ditambah wangi teh yang mencapai hidungnya membuatnya sedikit rileks. Baru kali ini dia merasakan hal yang seperti ini, dengan perlahan-lahan Naruto mendekatkan gelas itu ke mulutnya dan mulai meminumnya. Rasa hangat langsung menyebar di dalam mulutnya ditambah dengan rasa khas yang dikeluarkan teh tersebut, air itu mengalir dengan mulus membawa rasa hangat itu ke kerongkongan dan alat pencernaan yang lainnya.
"Baru kali ini aku merasakan teh yang seperti ini," gumam pemuda itu dengan nada perlahan sambil menatap air teh yang masih tersisa di dalam gelasnya, pandangannya terarah pada keempat perempuan yang malah tertawa cekikikan dengan semua direksi terarah padanya.
"Itu teh yang dibawa langsung dari Inggris, sangat enak, right?" ucap Kongou sambil mengangkat gelasnya kearah Naruto.
Kepalanya hanya mengangguk pelan saat mendengar pertanyaan kakak tertua dari keempat bersaudara itu, dia kembali meletakan gelas itu diatas piring kecil yang tersedia di depannya. Bola matanya melihat sebuah piring dengan sepotong kue berada diatasnya lalu kearah orang yang menyodorkan piring itu padanya...
"Silahkan dicoba Kue Scone buatanku," ucap Kirishima yang melemparkan senyuman kecil pada satunya laki-laki yang ada disana.
Dia mengambil garpu yang tersedia di meja tersebut kemudian memotongnya dengan potongan kecil dan menusuknya, laki-laki itu bisa merasakan bagaimana lembutnya tekstur kue yang dimakannya ditambah krim yang manisnya terasa pas di lidahnya sepanjang sejarah baru kali ini lidahnya bisa merasakan sesuatu seenak ini selain ramen "Kenapa kalian begitu baik padaku? Bahkan kita baru berkenalan beberapa hari yang lalu, tetapi kenapa kalian semua melakukan hal seperti ini," tanya Naruto setelah dirinya menelan kue yang sebelumnya ia kunyah.
"Kami sudah mendengar jika kau diperintahkan untuk masuk ke dalam divisi yang sempat tak beroperasi beberapa tahun yang lalu karena hampir semua anggota divisi itu gagal dalam misi dan tak pernah diketahui keberadaannya, kemungkinan besar mereka tenggelam. Maka dari itu atas usulan dari Kongou-Oneesama, kami membuat pesta kecil-kecilan untukmu," jelas Kirishima sambil membenarkan kacamatanya.
Salah satu tangan Naruto merogoh saku celananya dimana surat keputusan itu masih ada di tangannya lalu ia membentangkan kertas itu kembali dan menatapnya dengan seksama, pandangannya terarah pada Kongou berserta saudaranya "Aku bahkan belum mengambil keputusan untuk masuk atau tidak ke dalam divisi itu, aku masih bingung," ujarnya sambil mengeratkan pegangannya pada kertas tersebut.
Keempat perempuan itu hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Naruto dan mereka memaklumi kebingungan yang laki-laki itu alami saat ini, memiliki bakat aneh dan tak dimiliki oleh orang lain memang menjadi keuntungan sendiri bagi Distrik Naval ini. Tak heran jika Admiral memang menginginkan laki-laki itu masuk ke dalam skuad-nya, armada ini akan lebih kokoh lagi karena adanya Naruto...
.
.
.
Central Command, Naval Base District, 14.00
Suara langkah kaki terburu-buru menggema di sepanjang koridor lurus dan sangat panjang itu, sandal hitam yang agak tebal dari orang itu terus saja menggesek lantai kayu koridor tersebut. Tatapan yakin yang terlihat dari matanya menandakan jika renungan yang ia lakukan selama kurang lebih 4 jam ini memang sudah menemukan titik temu yang dia yakin jika itu adalah pilihan yang sangat baik untuknya dan dia rasa itu bukan hanya untuk dirinya saja tapi Distrik Naval ini.
Langkah kakinya terhenti saat bola matanya membaca tulisan 'Ruangan Admiral' yang tertera di samping daun pintu berwarna kecoklatan itu, dia meneguk ludahnya menandakan jika dia sudah menelan kegugupannya yang sudah ia ganti dengan keberanian. Laki-laki itu menghembuskan napasnya perlahan bersiap untuk mengungkapkan hasil renungannya sepanjang siang tadi pada pemimpin Distrik Naval itu, matanya terpejam sempurna seolah menghela napas saja tidak cukup bagi dirinya.
"Aku yakin apa'pun yang Naruto-san putuskan, itu adalah keputusan terbaik dengan alasan yang kuat."
Dia bisa mengingat bagaimana Haruna berkata itu padanya...
"Kemampuanmu sangat dibutuhkan oleh Distrik Naval ini."
Dia bisa membayangkan bagaimana Kirishima mengatakan itu sambil memegangi kacamatanya...
"Aku sangat berterima kasih jika Naruto-san mau bergabung dengan kami."
Senyum tipis terkembang di bibirnya saat mengingat ucapan Hiei...
"Dengar, Cat-Boy. Divisi yang akan kau ikuti sangat penting bagi semua Kanmusu yang ada disini, meski'pun pesawat Recon sudah biasa melakukan pengintaian udara tapi pergerakan mereka terbatas dan hanya mencakup udara saja. Jadi, kuharap kau memutuskan keputusan terbaik."
Senyumannya semakin lebar ketika Kongou mengucapkan itu sambil memanggilnya dengan pandangan aneh, sekarang dia semakin yakin jika pilihan yang akan ia putuskan adalah jawaban terbaik dari hati dan pemikirannya.
KLEK~! CLEKEK~!
Laki-laki pirang itu membuka pintu ruangan tersebut dengan perlahan tanpa berkata-kata sedikit'pun dan membukakannya lebih lebar lagi, dia hanya melihat Nagato, Mutsu dan Ooyodo yang ada disana bukannya pimpinan dari Distrik Naval ini. Sebenarnya ia ingin mengatakan jawabannya pada sang Admiral langsung tetapi dia tahu jika kesibukan seorang pemimpin memang sangat padat dan tak bisa ditunda barang satu detik'pun.
"Ada apa kau datang kesini, Uzumaki-san?" Sepasang iris merah itu menatap kearah Naruto dengan pandangan datar tanpa berekspresi, sikap dingin yang ditunjukan perempuan itu menandakan ketegasan seorang pemimpin.
"Aku hanya ingin memberikan jawaban atas surat keputusan yang kau berikan padaku waktu itu dan kurasa aku sudah memikirkannya dengan masak-masak," jawab Naruto sambil menutup pintu ruangan tersebut rapat-rapat.
Nagato dan Mutsu menatap kearah Naruto dengan lekat "Lalu apa jawabanmu?" tanya Nagato yang masih dengan nada sama, sementara Mutsu yang ada di sampingnya malah tersenyum kecil pada Naruto.
"Aku, Uzumaki Naruto. Menerima surat keputusan itu dan siap menerima perintah selanjutnya!"
[To Be Continued...]
Terima kasih kepada semuanya yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita abal-abal buatan saya ini, walau'pun tema Militer dan Ninja memang agak sedikit menyusahkan tapi saya akan terus menyeimbangkannya. Dan maaf jika update-annya terlalu lama, idenya terkadang suka mandet-mandet, pas mau tidur malah dapet lagi idenya. Itu sangat menyusahkan.
Saya tak menyangka jika ulasannya meningkat walau'pun sedikit, tapi tak apa, itu bukan patokan kualitas untuk sebuah cerita.
Maaf jika ada dalam cerita itu terdapat kesalahan, jangan sungkan untuk memberitahu saya. Saya akan mengoreksinya dan memperbaikinya dengan segera.
Kritik dan saran masih saya tunggu dari para pembaca semua agar ke depannya semakin baik dan lebih baik lagi daripada yang ini.
[TTD: Yami Ikuto]
