Who's The Winner?
Cast: Do Kyungsoo x Kim Jongin
Bertambah seiring berjalannya cerita
Rate: T (Untuk dibeberapa bagian bisa berubah M)
Warning! New author, GS, tulisan amburadul
•
•
•
•
•
Chapter 2
Ternyata Jongin masih memiliki sedikit rasa kepedulian. Buktinya Jongin tidak membiarkannya tidur diruang tamu, seperti yang Kyungsoo pikirkan sebelumnya. Jongin memberinya satu kamar. Tentunya kamar ini tidak lebih besar dari kamar milik Jongin. Tapi kamar ini memiliki ukuran dua kali lebih besar dari kamarnya dirumah.
Kyungsoo bangun pagi - pagi sekali. Setelah mandi, ia berpakaian dengan cepat. Kyungsoo mengenakan Hanbok dengan warna lembut, Jeogori (blouse dibagian atas) berwarna biru muda dan Chima (rok bagian bawah) berwarna merah muda. Rambut panjang sepinggulnya ia kepang menyatu dan diujung kepangannya diberi pita besar atau Daenggi berwarna merah. Kyungsoo tersenyum melihat pantulan dirinya dicermin, ia siap untuk memulai pekerjaannya pagi ini. Memasak sarapan untuk Jongin.
Semalam Jongin bilang ia tidak menyukai makanan berat untuk sarapannya. Jadi Kyungsoo memutuskan untuk membuat omelet telur dengan sayuran sebagai isiannya dan Kyeran Gwaja (kue telur) perpaduan antara kue lembut dan telur mata sapi hangat yang diletakan diatas kue. Kyungsoo juga tidak lupa menyiapkan secangkir kopi, karna kopi adalah menu favorit Jongin sebelum memulai harinya. Itu yang Jongin katakan padanya.
•
•
Jongin datang tepat saat Kyungsoo selesai menata sarapan dimeja makan. Pria itu telah rapi dengan setelan jas kantornya. Kyungsoo memberi sapaan selamat pagi, Jongin membalasnya dengan gumanan pelan dan mendudukan dirinya dihadapan sarapan yang Kyungsoo sajikan untuk-nya.
Jongin memulai dengan kue yang terdapat telur mata sapi diatasnya. Kuning telur langsung meleleh begitu Jongin menyendok suapan pertamanya. Matanya terpejam takjum karna sensasi lumer yang ia rasakan didalam mulutnya. Tampilan kuenya mungkin biasa saja, tapi kenikmatan yang Jongin rasakan lebih dari rasa kue mahal yang biasa ia beli. Aahh.. Buatan rumahan memang luar biasa.
"Jongin-ssi.. Jongin-ssi.." Bahkan ia tak menghiraukan panggilan Kyungsoo.
"YA! Kim Jongin!"
Jongin baru tersadar saat suara berat itu meneriaki namanya. Ia terkejut mendapati Jongdae yang berdiri disampingnya. Dengan segera Jongin berdiri dari duduknya.
"K-Kenapa? Apa yang membuat-mu datang kesini?" Ucapnya canggung.
"Sebenarnya aku datang membawakan sarapan. Pagi ini Minseok membuat banyak sandwich. Jadi kupikir akan membawakannya untuk-mu. Tapi kau sudah makan sarapan yang lezat sepertinya, kau begitu menghayati setiap gigitan. Ekspresi-mu begitu sangat menikmatinya. Terlihat seperti kau sedang menikmati sentuhan seorang wanita" Ujaran Jongdae diakhir tawa besar-nya. Namun terhenti oleh rintihan sakit karna Jongin menendang kakinya keras. "Mulut-mu itu benar-benar... Berikan saja sandwich itu pada team Marketing mu".
Selesai dengan rintihan panjangnya, Jongdae mendekat dan membisikan sesuatu pada Jongin. "Siapa wanita itu?".
"Kyungsoo, perkenalkan diri-mu" Bukannya menjawab, Jongin malah meminta Kyungsoo untuk memperkenalkan dirinya pada Jongdae. Ia lebih memilih melanjutkan sarapannya.
"Annyeong Haseyeo. Saya Do Kyungsoo. Saya bekerja untuk Kim Jongin-ssi. Sebagai pengurus rumah dan kebutuhan Jongin-ssi" Salam Kyungsoo dan membungkukkan setengah badannya.
"A-Ah, ne, Kyungsoo-ssi. Saya Kim Jongdae, Kepala Departemen Marketing Hotel ini" Balas Jongdae. Tapi kemudian ia menyambung kalimatnya. "Kyungsoo-ssi, kenapa kau mau berkerja untuk pria lajang menyebalkan seperti Jongin? Apa kau tahan menghadapinya?"
Sebelum Kyungsoo menjawab pertanyaan konyol Jongdae, pria malang itu terlanjur ditarik paksa oleh Jongin. "Ya! Kenapa kau menarik-ku? Dia belum menjawab pertanyaan-ku" Jongin tidak menghiraukan racauan Jongdae hingga mereka memasuki lift menuju kantornya.
•
•
"Sejak kapan Kyungsoo berkerja untuk-mu, Jongin?" Jongdae bertanya saat lift berada di lantai 13.
"Baru hari ini. Semalam nenek pulang dari Jeonju dan membawa wanita itu bersamanya. Keluarga ku memperkerjakan Kyungsoo sebagai pengurus kebutuhanku. Awalnya aku menolak, tapi terpaksa menerimanya karna ayah ku murka" Jelas Jongsin. Tampak sekali kekesalan masih membekas diraut wajahnya.
"Jadi dia berasal dari Jeonju? Pantas saja penampilannya sangat tradisional"
Saat berada dilantai 5 pintu lift terbuka, memperlihatkan sesosok wanita cantik bertubuh tinggi ramping. Gaun biru gelap yang ia kenakan sangat kontras dengan kulit putihnya. Wajahnya begitu bersinar melihat sosok Jongin didalam lift. "Jongin~" Panggilnya dengan nada manja, ia pun tak segan-segan merangkul mesra lengan Jongin. Pria itu tampak tak acuh dengan kelakuan wanita bernama Lee Chohee itu.
"Tuhan benar-benar menginginkan kita bersama sehingga mempertemukan kita didalam lift secara kebetulan. Bukankah begitu, Jongin?" Ujar wanita itu dengan senyum lebarnya. "Kau juga bertemu Jongdae disini. Bisa saja Tuhan menginginkan-mu bersama Jongdae" Ucap Jongin dingin. "Oh maaf Jongin. Aku sudah bahagia dengan Minseok" Tolak Jongdae cepat.
"Tapi yang aku lihat pertama kali adalah diri-mu, Jongin" Rengek wanita itu. "Dan yang aku lihat pertama kali adalah pot besar disamping-mu berdiri saat dilantai 5" Elak Jongin.
TING
Lift berhenti dilantai tujuan mereka. "Maaf, aku harus berkerja, noona. Sampai nanti" Jongin memberi isyarat dengan matanya pada Jongdae untuk segera keluar dari lift. Ia menghiraukan terikan Chohee yang ingin mengajak dirinya makan siang diluar nanti. Ahh, sungguh menjengkelkan.
Jongdae sungguh kasian pada Jongin, Chohee selalu saja mengejarnya. Jelas - jelas Jongin sudah menolak keberadaan Chohee disekitarnya, tapi wanita berusia 30 tahun itu selalu menggoda Jongin. Apa mau dikata jika Chohee adalah Sales Marketing Hotel ini? Jongin pasti akan selalu bertemu dengannya.
"Kau bisa memecatnya jika kau mau. Lagi pula kita butuh wanita muda untuk bekerja dibagian Sales Marketing" Saran Jongdae.
"Yang benar saja. Kau pikir mudah memecat karyawan? Kita harus memiliki alasan yang tepat. Selalu menggoda ku setiap waktu bukanlah alasan tepat memecat karyawan. Lagi pula, kinerja kerjanya cukup bagus. Aku tidak bisa memecatnya begitu aja" Jongdae membenarkan ucapan Jongin. Sahabatnya itu cukup bijaksana menghadapi situasi. Tapi tidak cukup bijaksana saat menghadapi wanita. Jongin adalah pemain ganda didunia percintaan. Tidak cukup dengan seorang wanita. Tapi Jongin sama sakali tidak menginginkan hubungan serius dengan para wanita yang ia kencani. Jongin memiliki kriteria tersendiri.
Mereka berhenti dipersimpangan koridor. "Jangan lupa beri tahu Luna agar segera menyerahkan laporan padaku pagi ini" Jongin mengingatkan. "Tentu Jong, sampai jumpa saat makan siang" Jongdae melambaikan tangan dan berjalan kearah berlawanan dengan Jongin.
•
•
"Ya ibu, aku baik-baik saja disini. Bagaimana dengan ibu dan ayah?"
"Jangan khawatirkan kami, sayang. Ibu dan ayah mu selalu akan baik-baik saja. Bagaimana dengan Jongin?".
"Jongin-ssi juga baik-baik saja, ibu".
"Maksud ibu, bagaimana sikapnya terhadap-mu Kyungsoo? Apa dia baik?".
"Iya ibu, bahkan Jongin-ssi memberikan ku satu kamar. Kamarnya sangat modern. Jauh sekali perbedaannya dengan kamar-ku dirumah. Tapi tetap saja aku merindukan kamar-ku, ibu".
"Ibu senang mendengarnya. Semoga Jongin akan selalu baik pada-mu, sayang. Ah, apa saja yang telah kau kerjakan seharian ini, Kyungsoo?".
"Pagi ini aku memasak sarapan untuk Jongin-ssi. Setelah Jongin-ssi pergi ke kantor bersama temannya, aku memulai pekerjaan rumah dari memberisihkan kamar Jongin-ssi, mencuci piring, menyetrika pakaian, membersihkan debu, dan mengepel lantai. Dan juga Jongin-ssi meminta-ku untuk memasak makan malam pukul 5 sore".
"Jadi kau sudah memutuskan harus memasak apa, sayang?".
"Belum ibu, aku bingung. Bisa ibu berikan saran?".
"Hhmm, biarkan ibu berpikir sebentar... Ah! Bagaimana jika kau memasak Soondubu, Jjukumi, dan Tteokbokki? Dimusim dingin seperti ini sangat cocok menyantap Soondubu. Ibu yakin Jongin pasti akan menikmatinya".
"Baiklah jika begitu menurut ibu. Aku akan mulai memasaknya sekarang. Aku tutup telfonnya, sampai jumpa ibu".
"Iya sayang, sampai jumpa".
Kyungsoo kembali meletakkan telfon pada tempatnya. Ia baru saja menyelesaikan semua pekerjaan saat telfon rumah berdering. Awalnya Kyungsoo ragu untuk mengangkatnya, tapi bisa saja itu telfon penting dan ia bisa menyampaikannya pada Jongin saat Jongin pulang. Dan Kyungsoo terkejut mendapati suara ibunya diseberang telfon. Kyungsoo amat sangat senang. Ibunya bilang ibu Kim yang memberikan nomor telfon kediaman Jongin ini pada ibunya.
Jam sudah menunjukkan pukul 16.35 sore, masih ada waktu untuk membersihkan diri sebelum menyiapkan makan malam untuk Jongin.
•
•
Malam ini Sehun membawanya mengunjungi club. Yah, sudah cukup lama Jongin tidak datang ke club karna sibuk dengan pekerjaannya. Saat makan siang bersama di cafe milik Sehun, pria cadel itu menawarkan mereka untuk mengunjungi club malam ini. Berhubung pekerjaannya cepat selesai hari ini, dari pada kembali ke Penthouse lebih baik ia menghabiskan malam di club. Sayangnya Jongdae menolak untuk ikut karna ia sudah punya janji dengan Minseok malam ini.
"X-HOTZ adalah club yang terbaik" Sehun memandangi gedung besar penuh dengan gemerlap lampu dihadapannya. "Kita akan bersenang-senang. Siapkan dirimu" Jongin menunjukkan senyum remehnya pada Sehun. "Aku selalu siap. Kau tau itu, Sehun".
Merlot adalah pilihan Jongin malam ini. Ia menginginkan wine yang lembut dan ringan. Karna Jongin tidak ingin terlalu mabuk malam ini, ia hanya ingin bersenang-senang. Berbeda dengan Sehun, ia memilih Vodka. Sepertinya Sehun berniat untuk mabuk malam ini.
"Ada masalah dengan Luhan? Kau terlihat frustasi" Jongin kembali menuangkan Merlot kedalam gelasnya. Ia meneguk hingga habis saat Sehun menjawab, "Dia berkencan dengan seorang pria" Tanpa menatap Jongin.
Jongin hanya terkekeh menanggapi ucapan Sehun. "Aku melihatnya dijemput oleh seorang pria tadi sore. Mereka pasti sedang bersenang-senang sekarang" Kembali meneguk Vodka-nya, Sehun mendesah keras saat alkohol itu mengalir cepat ditenggorokannya.
"Kau itu bodoh dan pengecut, Hun. Kau selalu mengeluh saat Luhan berkencan dengan pria lain, itu wajar dia lakukan karna dia wanita lajang. Kau sudah sangat dekat dengannya dari sekolah menengah, sudah bertahun-tahun memendam perasaan, tapi sifat pengecut-mu itu menolak untuk menyatakannya pada Luhan" Jongin benar-benar sudah muak dengan sifat pengecut Sehun.
Sehun hanga mampu terdiam mendengar ocehan teman dekatnya itu. Dan Sehun pikir itu benar. Dirinya sangat pengecut.
"Apa Luhan masih sering menghubungi-mu?" Tanya Jongin.
"Siang tadi dia menghubungi-ku. Dia meminta-ku untuk menemaninya ke acara pembukaan galeri lukisan milik temannya tadi sore. Aku menolaknya" Sehun menjawab saat menuangkan Vodka terakhirnya.
"Dan itu sebabnya dia memilih pergi dengan pria lain?" Sehun menggangguk setelah alkohol itu kembali mengisi perutnya. Jongin meraih botol Vodka kosong milik Sehun dan berlagak seolah akan memukul kepala teman bodohnya itu. "Kau menolak, Sehun. Kau sendiri yang menolak Luhan. Dan sekarang kau berlagak frustasi dihadapan-ku" Jongin mengerang kesal.
"Sudahlah Sehun. Jangan hanya mendengar ocehan-ku. Kau pikir aku mau bicara panjang lebar seperti ini? Aku sangat terpaksa karna mencemaskan kehidupan percintaan tragis-mu itu. Kau mencintai Luhan. Dan Luhan jelas juga mencintai-mu. Kau hanya tinggal mengungkapkan perasaan-mu yang sebenarnya pada Luhan. Aku yakin Luhan akan menerima-mu. Dia wanita baik" Jongin berharap ini terakhir kalinya ia menasehati Sehun tentang masalah ini. Ia berharap Sehun segera tersadar dari sifat pengecutnya itu.
"Aku tidak pernah kuat menatap wajah Luhan. Dia begitu baik, tulus, lugu, dan sempurna. Itu semua terlihat sangat jelas Jongin. Aku hanya takut menyakitinya, aku takut merusak kesempurnaan Luhan. Tapi, aku sangat ingin Luhan menjadi milik-ku seutuhnya seumur hidup-ku. Bahkan aku sudah membelikannya cincin tanpa sepengetahuan siapapun dan menyisihkan uang untuk pernikahan impian-ku dengan Luhan. Aku hanya butuh kepercayaan diri dan aku rasa aku telah mendapatkannya malam ini" Senyum manis terukir diwajah Sehun. "Kau benar-benar teman terbaik-ku, Kkamjong".
"Berhenti tersenyum seperti itu pada-ku. Kau menjijikkan" Tidak menghiraukan ujaran Jongin, Sehun malah berdiri dari duduknya dan mendekati Jongin. Ia memeluk Jongin paksa. Jongin berteriak histeris sambil menjauhkan Sehun dari tubuhnya.
"Pesan semua wine yang kau suka, Jongin. Kita benar-benar akan bersenang-senang sekarang".
•
•
Acara bersenang-senang mereka berakhir pukul 01.45 malam. Sehun benar-benar mabuk. Dan dengan terpaksa Jongin harus mengantar bayi tua itu kembali ke apartemennya.
Saat sampai di Penthouse, Jongin mendapati semua lampu telah dimatikan kecuali lampu dapur. Ia sedikit terkejut mendapati Kyungsoo tertidur dimeja makan. Ada beberapa mangkok makanan dimeja. Jongin melangkah mendekat, makannya sudah dingin dan tak tersentuh. Jadi wanita ini memasak makan malam untuk-nya? Pikir Jongin.
"Hei, bangun" Jongin mengguncang tubuh Kyungsoo.
Kyungsoo bergerak kecil dan akhirnya terbangun. Ia terkejut mendapati Jongin berdiri dihadapannya. Dengan cepat ia berdiri dari duduknya. "Maaf, Jongin-ssi. Saya ketiduran" Sesal Kyungsoo.
"Tidurlah dikamar-mu. Sekarang sudah pukul dua malam" Ujar Jongin lalu ia berbalik pergi.
"Apa Jongin-ssi lapar? Saya bisa memanaskan makanan ini kembali".
"Tidak perlu. Aku sudah makan. Buang saja" Ucap Jongin acuh, pria itu melangkah pergi meninggalkan Kyungsoo.
Makan malam yang Kyungsoo masak untuk Jongin dengan susah payah terbuang sia-sia. Kyungsoo tidak punya hak menolak perintah Jongin. Tapi Kyungsoo berkewajiban menuruti semua perintah Jongin. Bahkan jika perintah itu menyakiti perasaannya.
•
•
•
•
•
TBC
Hallo semuanyaaaa~ Ini dia chapter ke-2 Who's The Winner?
Terima kasih banyak telah membaca fanfic ku ini^^
Semoga chapter kali ini tidak mengecewakan.
Maaf aku belum sempat menjawab rasa penasaran kalian saat ini, semuanya akan terjawab di chapter-chapter selanjutnya^^
Mohon reviewnya^^ Aku sangat membutukan review teman-teman sebagai penyemangat ku^^
Sekali lagi terima kasih banyak.
PelukCium untuk semuanya.
DRP
