3 hari kemudian….

Pengumuman kelulusan telah dipasang di website resmi SMA Fairy Tail atau papan pengumuman. Natsu malas jika berdesak-desakan, mengingat pula kondisi kakinya yang tidak dalam keadaan fit sejak kemarin. Besok sekolah dimulai, kak Zeref memperingati adik tersayangnya agar tidak terlalu lelah, begitu juga ayah dan ibu, mereka hanya takut Natsu kenapa-napa, dan dia sendiri ogah merusak kebahagiaan terbesarnya.

Di sinilah Natsu duduk, di depan komputer yang sudah menyala dari lima menit lalu. Jari telunjuknya mengetik nama sebuah website, menekan kolom bagian 'lolos tahap tes' gemetaran. Dia sudah berusaha sangat keras. Melafalkan rumus matematika sampai gila. Mengafal materi IPA sampai kepala terasa penuh. Berlatih menulis kanji demi tes Bahasa Jepang. Semua dilakukannya mati-matian, kalau gagal sekarang, Natsu tidak tau mesti berlapang dada atau mengutuk takdir.

"Natsu Dragneel…Natsu Dragneel…." gumamnya seorang diri, harap-harap cemas menginginkan nama itu, terselip di antara deretan pesaing lain

Bingo! Ada di bawah nama Sting Eucliffe dengan rata-rata 9.0, sedangkan punya Natsu 8.6. Ya, dia senang bukan kepalang karena dua alasan, yaitu : berhasil menepati janji untuk bersama-sama sekolah dan menjadi teman, kedua : dia membanggakan orang tua dan kak Zeref, keluarga paling berharga yang dimilikinya.

Berita membahagiakan ini harus diberitaukan secepat kilat. Natsu pun sontak menuruni tangga tersendat-sendat penuh semangat.

"Ayah, ibu, kak Zeref!" panggilnya menginterupsi mereka yang asyik menonton acara televisi. Menyadari Natsu turun dari lantai dua, ketiga manusia itu buru-buru menghampiri, pasti pemberitahuan tentang tes masuk

"Bagimana hasilnya?" tanya sang ibu pertama kali, diikuti raut cemas ayah dan Zeref

"Aku diterima! Besok bisa sekolah!" seru Natsu memecah keheningan. Suasana yang awalnya tegang kembali mereda. Sorak sorai kemenangan terdengar meriah mengisi kekosongan di ruang tamu

"Selamat, ya, Natsu. Sekarang salah satu impianmu sudah terwujud, masih punya yang lain?" Zeref tak mau ketinggalan mengajukan pertanyaan. Adik kecilnya tengah berpikir, memiringkan ke kiri dan ke kanan yang membuatnya begitu menggemaskan

"Entahlah, aku tidak tau"

"Kamu tidak ingin memiliki teman?"

"Apa maksud ayah? Aku punya teman, kok"

Ups, keceplosan! Batin Natsu. Dia mengundang rasa penasaran seluruh anggota keluarga. Entah terlalu senang atau apa, ayahnya merangkul tubuh sang anak seerat mungkin. Mengejutkan jelas, padahal baru pertama kali putra bungsu Dragneel berkomunikasi dengan orang luar, sudah dapat teman saja. Namun hal yang paling menarik perhatian adalah jenis kelaminnya, jangan-jangan cewek lagi!

Untuk merayakan keberhasilan Natsu dalam pendidikan dan sosial, ibu segera beranjak pergi ke dapur, hendak memasakkan makanan kesukaan buah hati tercinta. Tak mau ketinggalan, ayah ikut membantu sebatas memotong sayur-mayur. Zeref tinggal di ruang tamu, menemani adiknya mengobrol tentang topik barusan : teman baru Natsu. Niat usil sang kakak pun mulai muncul mendapati wajah yang tersipu malu itu.

"Jadi, siapa nama temanmu?" pertanyaan paling mendasar dan penting. Natsu mengambil jeda beberapa saat, kenapa harus gugup padahal hanya diintrogasi biasa?

"Lucy Heartfilia kalau tidak salah" jawab Natsu ragu-ragu. Tiga hari lalu mereka belum berkenalan, dia tau namanya dari seseorang yang kebetulan lewat, lalu berbaik hati memberitau

"Kalau tidak salah? Apa kalian…."

"Ya, kami tidak saling mengetahui nama masing-masing. Maaf, mungkin dia bukan temanku, hanya sekadar kenal dan mengobrol sebentar"

"Tidak bisa disebut asing juga, sih. Tinggal berkenalan saja ketika masuk nanti, mudah bukan?" Natsu menganggukan kepala pelan, jadi, sesi tanya-menjawab sudah selesai kan? Zeref tidak membiarkannya berdiri terlebih dahulu, masih ada yang menjanggal di hati pemuda bersurai hitam itu

"Apa dia pacarmu?"

"Hah?! Kakak ini apa-apaan?! Aku tidak memiliki niat untuk pacaran!" sukses berat! Zeref cekikikan melihat wajah Natsu semerah kepiting rebus di restorant mahal. Pemandangan lucu nan langka yang menyegarkan otak

"Berhentilah menggodaku, kak!"

"Zeref, Natsu, ayo makan siang dulu!" ajak sang ibu yang langsung dituruti. Berdebat juga tidak ada gunanya, masalah begituan merupakan keahilan si putra sulung. Dibanding masuk kesenian dia lebih pantas masuk jurusan hukum

Yakiniku panas tersedia di meja makan bertaplak kotak-kotak merah. Masakan andalan itu wajib ada setiap kali merayakan sesuatu. Terakhir kali, mereka menyantapnya sewaktu kesehatan Natsu masih baik-baik saja. Sekarang tiga tahun telah berlalu, cepat juga ya….dia yang paling menyukai daging di antara ayah, ibu dan kakak, dia juga yang makannya paling banyak. Melihat Natsu kehilangan nafsu makan bagai pukulan telak bagi keluarga mereka. Menghabiskan setengah nasi pun tidak ada.

"Terima kasih atas makannya. Aku ke kamar duluan" pamit Natsu menaiki tangga. Zeref memandang sendu mangkuk berwarna hijau di samping kanannya. Kenapa kesenangan selalu disertai kesedihan di belakangnya?

"Ah iya, untuk besok tidak perlu membuatkanku bekal. Aku di sekolah hanya sampai jam sepuluh pagi"

"Natsu, bukankah lebih baik kamu tidak ikut upcara penerimaan siswa baru? Ibu takut kamu pingsan" bagaimana tidak khawatir, dia mengidap penyakit mematikan bernama kanker stadium empat, meski sekarang baik-baik saja, tidak ada yang tau bukan ke depannya?

"Bu, percayalah padaku! Aku benar-benar merasa sehat, jika kepalaku sakit nanti, aku berjanji akan pergi ke UKS dan mengabari kalian, oke?"

Karena waktu bebasnya, tidak tersisa banyak. Natsu sadar, dia harus memanfaatkan waktu demi waktu sebaik mungkin. Tuhan mana lihat waktu untuk mencabut nyawa manusia?

Keesokan harinya….

Pagi-pagi sekali, sekitar pukul enam, Natsu tengah bersiap memasang sepatu kets putih pemberian ayahnya, sebagai hadiah karena berhasil melanjutkan ke SMA. Sepeda Zeref terparkir rapi, di depan gerbang rumah bercat putih bersih, meski yang bersangkutan tidak ingin diantar oleh siapapun ke sekolah. Dia sudah berpesan kemarin, akan berangkat sendirian naik kendaraan umum, tetapi diindahkan total dengan alasan, 'demi kebaikanmu'.

"Ayo pergi, jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh, lho" peringat Zeref memainkan bel sepedanya bosan. Natsu duduk di belakang jok, berpegangan erat selama perjalanan yang mengharuskan mereka melewati rute kelak-kelok

"Hari ini bersemangat tidak?"

"Tentu saja! Aku sudah lama tidak sekolah, pasti menyenangkan sekali"

"Baguslah. Mendengar jawabanmu kakak tidak lagi khawatir"

"Khawatir untuk apa? Adikmu sudah besar, sekarang menginjak bangku kelas satu SMA. S-M-A!" eja Natsu di akhir kata, berusaha menyakinkan Zeref yang entah kenapa, suka sekali meragukan setiap perkataannya

"Iya iya, Natsu sudah besar. Dulu masih mengompol dan menangis. Berjalan pun butuh bantuan ibu. Menulis abjad saja tidak bisa, hahaha…."

"I-itukan saat masih TK! Berhentilah menggodaku!" anggap saja kalimat itu merupakan kesukaannya. Zeref tertawa hambar guna mencairkan suasana. Dia tau diri tidak boleh sedih di saat-saat seperti ini. Natsu sedang bergembira, sebagai kakak yang baik ia wajib ikut merasakannya

Tanpa sadar, sepeda yang Natsu tumpangi berhenti mendadak, tepat di depan bangunan megah bertuliskan 'SMA Fairy Tail'. Ini sekolahnya, inilah tempatnya menuntut ilmu selama tiga tahun. Dia segera masuk dengan tergesa-gesa, meninggalkan Zeref yang sempat mengucapkan salam perpisahan. Apa Lucy-san sudah sampai? Kira-kira nanti di kelas mana? Lantai satu atau dua? Natsu terlalu bersemangat memikirkannya, dia pun tidak sengaja terpeleset batu kerikil.

"Lucy-san!" serunya terkejut, mendapati seorang wanita bersurai pirang menolongnya, agar tetap berdiri. Tangan mereka berpegangan, Natsu yang sadar langsung melepaskan dan mengucap terima kasih

"Bagus juga semangatmu. Sedikit, lho, yang baru datang"

"Eh….benarkah?"

Natsu beranggapan, semua orang antusias karena Senin ini merupakan, hari pertama mereka masuk sekolah setelah liburan panjang berakhir. Ternyata salah besar, ya. Gedung olahraga menjadi tempat para murid melaksanakan orientasi. Wakilnya adalah siswa dengan nilai terbaik, ditambah sambutan ketua OSIS dan kepala sekolah.

Seorang lelaki berambut pirang pucat menaiki podium penuh kebanggaan. Samar-samar Natsu mengenali sosoknya yang nampak familiar, seperti pernah melihat di cover majalah remaja. Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Hebat sekali pidatonya, mampu menyihir orang untuk mendengar hingga selesai. Sementara 'pengantar tidur' kepala sekolah bikin peserta malas memperhatikan, bahkan sangat membosankan….

"Yosh, waktunya cari kelas!"

"Mau mencari bersama-sama? Siapa tau kita sekelas" ajak Lucy spontan menarik lengan Natsu. Diam-diam ada yang cemburu di belakang punggung, entah siapa dia auranya gelap pekat

Kembali, mereka membaca deretan nama yang tersusun rapi, di papan tulis berwarna hijau lumut. Natsu heboh menunjuk-nunjuk tulisan kanji bermakna musim panas itu. Lucy yang sadar mengajak teman barunya naik ke lantai dua. Kelas I-C terlihat di depan iris karamel dan hitam tersebut. Tuhan memang baik, dia tidak akan sendirian melewati masa-masa kelas satu SMA.

"Aku ingin duduk di dekat jendela" Lucy mendahului Natsu yang sebenarnya kepingin juga di sana. Ya biarlah, masih ada bangku kosong lain, semisal di pojok kiri dekat seorang pemuda berambut raven

"Maaf, bolehkah aku duduk di sini?"

"Duduk saja, lagi pula tempat itu masih kosong. Siapa namamu?" menangkap pertanyaan itu Natsu terdiam sejenak. Terlalu cepat dan pendek sehingga dia kurang jelas mendengarnya

"Tolong diulangi, aku tidak dengar"

"Siapa namamu?"

"Natsu Dragneel, kamu?"

"Gray Fullbuster. Salam kenal conge" hah, conge? Apa itu bahasa gaul yang digunakan anak zaman sekarang? Natsu hanya mengangguk dan menarik kursi untuk diduduki. Mengerti tidak, bingung iya

"Hey! Jangan sembarangan mencetus julukan aneh" teriak Lucy memperingati Gray yang acuh tak acuh. Bagus, sekarang otaknya kesulitan mencerna maksud dari percakapan mereka berdua

"Kamu tidak usah mendengar perkataan dia. Gray hanya bercanda"

"O-oh"

Syukurlah bel berbunyi, jadi, Natsu tidak lagi mendengar pertengkaran kecil Gray dan Lucy. Wali memasuki kelas dilanjut perkenalan diri. Nama beliau Gildarts-sensei, mengajar pelajaran IPS dan ekonomi. Ketika giliran Natsu tiba, hampir seluruh murid membicarakan yang tidak-tidak mengenai cara berjalannya. Suara sang guru berhasil menenangkan kericuhan, dia berterima kasih karena diselamatkan tidak langsung.

"Apa yang terjadi dengan kakimu?"

"Kecelakaan mobil, sensei. Eto….perkenalkan nama saya Natsu Dragneel. Mohon bantuannya untuk satu tahun ke depan"

"Kasihan sekali dia. Kakinya sampai bengkok begitu"

"Menakutkan! Aku tidak mau dekat-dekat dengannya"

"Siapa tau dia berbohong, bahwa sebenarnya itu adalah penyakit polio"

"Hahaha….aku sampai tertawa terpingkal-pingkal melihat cara berjalannya. Apalagi kalau jatuh, pasti lebih menarik"

"Tempatnya bukan di sini, tetapi di SLB. Hahaha!"

Penyakit kankernya adalah rahasia besar. Natsu sadar harus menerima nasib, dia siap diejek sebanyak apapun. Gildarts-sensei memperbolehkan balik ke tempat. Tatapan intimidasi Gray membuat detak jantungnya berpacu cepat, jangan sampai terjadi apa-apa. Jangan sampai!

"Gray tidak akan menganggumu selama ada aku" ujar Lucy menenangkan Natsu yang berkeringat dingin. Apa dia itu malaikat? Gumamnya tersenyum simpul penuh sejuta arti. Andai moment ini abadi

Ting…tong…ting…tong….

Seseorang masuk ke dalam kelas, ketika mereka sibuk mengemasi buku tulis. Ternyata lelaki yang tadi menjadi wakil murid, tetapi ada perlu apa dia datang kemari? Tanya Natsu terus memperhatikan gerak-gerik si asing. Tatapan dia terhadap Lucy beda sekali, begitu dalam dan lembut.

"Siapa lelaki di belakangmu ini?!" Natsu menjatuhkan isi kotak pensilnya yang berhamburan keluar, akibat kaget diteriaki seperti tadi

"Dia teman baruku, Sting-kun. Apa kamu cemburu?"

"Su-sudah jelas kan! Kalian terlihat dekat, aku pikir kamu berpindah ke lain hati"

"Bicara apa kamu ini?" canda Lucy memukul bahu Sting pelan. Natsu melamun di tempat, apa hubungan mereka? Kenapa sekarang malaikat penolongnya terasa begitu jauh?

"Maaf menyela. Apa hubungan kalian?"

"Aku belum memberitaumu, ya, Natsu. Kami pacaran"

Padahal kamu tidak perlu, menaruh perhatian untuk orang lain kecuali pacarmu sendiri.

Terutama, dia adalah lelaki yang cacat fisiknya

Bersambung….

A/N : Update selanjutnya Aozora Kataomoi dan Jalan Pikir Readers ya. Thx buat SR yang udah baca, juga kepada para pereview yang setia menanti kelanjutan cerita gaje ini. Jujur, author bingung bagaimana membuat chapter 4-nya, tetapi jangan khawatir, gak bakal discontinue. Author akan berusaha sebaik mungkin untuk segera membuatnya.

Balasan review :

Fic of Delusion : Hahaha, aku juga baru sadar ada typo di sana pas baca ulang, langsung deh malu sendiri. Ya kalau soal pemikiranmu itu kita lihat saja bagaimana ke depannya, tetapi jaminan cerita ini tamat belum seratus persen. Thx ya udah review.

Winry : Eh benarkah feel-nya dapet? Padahal ini baru awal lho, aku belum menampilkan semua emosi karakter. Berarti prolognya terjamin ya. Thx udah review