Disclaimer Masashi Kimoto

Black Mask chap 001 : Pertemuan

Tokyo, salah satu kota besar di Jepang dengan kepadatan penduduknya mencapai tiga belas juta lebih. Kota dengan mayoritas workaholis ini tak pernah sepi, baik pagi, siang, malam, maupun hari libur. Selalu saja padat disan sini. Akibatnya, sebagian besar penduduk Tokyo melupakan arti dari persahabatan bahkan persaudaran yang mengakibatkan terciptanya suatu individu yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Tingkat polusi di Tokyo terbilang paling tinggi di Jepang. Dengan maraknya kendaraan yang memenuhi kota ditambah dengan asap pabrik yang ada dan juga berdirinya gedung gedung pencakar langit yang menggantikan lahan pohon di kota ini, polusi kota ini sangat meningkat tajam di Jepang.

Begitu pula dengan kejahatan yang ada di Tokyo. Akibat terbentuknya individualisme, pencurian, pemerkosaan, dan pembunuhan menjadi sering terjadi disini. Saat para penjahat tertangkap dan diintrograsi oleh polisi apa alasan mereka melakukannya, para penjahat itu akan menjawabnya dengan, aku iri padanya atau aku sakit hati karenanya. Simple dan agak.. Egois. Itulah faktanya.

Namun dari segi pendidikan, Tokyolah yang paling bagus di Jepang. Hampir rata rata sekolah Tokyo meluluskan siswanya dengan bakat dan pertasi yang bagus. Jika ada yang gagal atau tidak lulus, masyarakat Tokyo hanya punya dua opsi saja. Pertama bunuh diri karena malu. Kedua menjadi penjahat.

Tokyo High School. Sekolah paling bergengsi dan menjadi sekolah terpavorit Tokyo. Sekolah yang dimulai dari jam sembilan pagi dan berakhir pada jam tiga sore ini, setiap tahunnya menjebolkan lulusan terbaik di Jepang, baik dibidang keilmuan maupun dibidang olahraga.

Seperti sore ini, para siswa di Tokyo High School atau sering disebut THS ini, baru keluar dari kelas mereka masing masing. Sebagian dari mereka ada yang langsung pulang kerumah dan sebagian lagi menetap di sekolah karena ada urusan klub atau urusan pribadi.

"Dasar ketua malas. Masa menyuruh kita menaruh barang barang ini ke gedung tua itu, padahal hari sudah sore." Rutuk seorang siswi bercepol dua yang sedang berjalan kaki menuju bukit, tempat berdirinya gedung bekas kelas THS, kepada teman sebelahnya yang terkikik geli melihat teman disampingnya itu. "Gak ada yang lucu Hinata-chan." Pipi kuning langsat miliknya mengembung tanda tak suka mendengar sahabatnya terkikik geli melihat kelakuannya.

"Maaf Tenten-chan. Aku tidak bermaksud menertawaimu kok." Hinata, siswi berambut biru gelap dengan mata seindah rembulan meminta maaf kepada temannya dengan halus. "Ketua mungkin punya urusan lain, makanya ia menyuruh kita. Diakan orang yang sibuk." Jelas Hinata selembut mungkin agar mood temannya meningkat.

"Iya juga sih, tapi..." Perkataan Tenten terhenti ketika mata cokelatnya menangkap gedung yang mereka tuju. "Ayo cepat Hinata-chan, sebelum hari mulai gelap." Langkah kakinya dipercepat untuk segera menyelesaikan tugasnya, karena langit sudah berubah warna dari biru menjadi jingga.

"Jangan terburu buru dong, nanti jat..."

Brakkkk!

"Adawwww!"

"...uh. Tuhkan jatuh." Hinata bergegas ke arah Tenten yang sedang duduk di tanah akibat tersndung akar pohon disana, untuk menolongnya. "Kamu tak apa apakan, Tenten-chan?" Tanya Hinata yang membatu Tenten berdiri.

"Yap, tapi bokongku sakit." Kata Tenten yang sudah berdiri sambil mengelus ngekus pantatnya yang sakit.

Mereka pun akhirnya membereskan buku buku yang sudah tak terpakai lagi kedalam dus yang tadi dibawa. Setelah selesai, mereka pun melanjutkan perjalanan yang mereka tunda. Akibat insiden terjatuhnya Tenten, mereka sampai di gedung tua itu sekitar empat puluh lima menit, telat lima belas menit dari waktu yang dibutuhkan untuk sampai disana dengan jalan kaki dari gedung utama.

Alasan mereka tidak memakai kendaraan kesana adalah karena jalannya yang licin dan dipenuhi dengan batu batu yang berserakan di tengah jalan. Jadi mereka harus kesana dengan jalan kaki sekitar tiga puluh menitan untuk sampai. Jaraknya dari gedung utama memang tidak terlalu jauh, tapi karena jalannya yang menanjak juga akibat faktor jalan yang seperti sungai kering ini menjadi alasan betapa susahnya mereka menuju kesana, belum lagi jalan setepaknya banyak yang tertutupi oleh rumput rumput liat yang tinggi.

!

!

!

!

Kriettttttt...

Ketika mereka masuk kedalam gedung tua tersebut, kedua panca indra yang mereka pakai untuk melihat sedikit terganggu akibat kegelapan di gedung tersebut. Kaki jenjang mereka melangkah menelusuri gedung tersebut dengan hati hati, takut tersandung sesuatu. Tiba tiba saja bulu kuduk mereka merinding tanpa sebab dan...

Bam!

"Kyaaaa!" Dengan refleks mereka melepas pegangan mereka pada dus yang mereka bawa dan langsung berpelukan satu sama lain dengan erat sambil memejamkan mata.

"Mung - mungkin cuma angin saja." Tenten berucap setelah beberapa saat terjadi keheningan di antara mereka.

Sret... Sret... Perlahan lampu tua yang ada disana bercahaya dan menimbulkan teriakan kedua dari mereka. Setelah mengetahui keadaan bahwa hari telah gelap, mereka memutuskan untuk cepat menaruh dus yang mereka jatuhkan tadi ke tempat seharusnya.

"Te - Tenten-chan ayo cepat pergi." Ajak Hinata ketakutan saat mereka telah menaruh dus yang mereka bawa di tumpukan dus lainnya yang telah ada sebelum mereka kemari. Tenten hanya mengangguk saja, meng-iyakan ajakan temannya itu. Lalu mereka berdua berjalan menuju pintu keluar.

!

!

!

!

'Kemarilah!' Suara bisikan misterius terdengar jelas, seperti dibisikan tepat di telinga Hinata. Dengan refleks, Hinata segera menengok ke asal suara. Kosong. Di belakangnya tak ada siapapun, hanya ada kolidor yang sempat ia lewati untuk menyimpan dus yang ia dan temannya bawa kemari.

"Ada apa, Hinata-chan?" Tenten bingung karena Hinata tiba tiba berhenti berjalan, karenanya, ia juga ikut berhenti dan menengok ke arah yang Hinata tengok.

Menggeleng pelan, Hinata lalu berbicara, "Tidak ada apa apa." Lalu kembali melanjutkan jalanny, setelah memastikan tidak ada apa apa di sana.

'Kemarilah!' Baru beberapa langkah, bisikan itu terdengar kembali di gendang telingan miliknya. Dengan ragu, Hinata bertanya kepada Tenten, "A-apa kamu mendengar suara?"

Tenten yang bingung akan pertanyaan Hinata hanya menautkan alisnya bingung, dan bertanya balik ke Hinata sambil menengok ke arah Hinata, "Maks... Kyaaaa! Hantu!" Tanpa ba bi bu, Tenten menarik pergelangan tangan Hinata ketika ia melihat sebuah sorotan mata merah menyala dibalik ruangan gelap di sebelah Hinata.

Sedangkan Hinata yang bingung akan teriakan dan perlakuan temannya ini menengok ke belakangnya dan mendapati sesosok manusia setengah ular yang sedang mengejar mereka. Dari pinggang ke atas makhluk tersebut bertubuh manusia, tapi dari pinggang kebawah makhluk tersebut seperti ular.

Bam! Bam! Bam! Hinata maupun Tenten menggedor pintu tempat mereka masuk tadi yang anehnya sekarang terkunci.

"Ayo terbuka, terbukalah pintu brengsek! Jahanam! Laknat!" Rutuk Tenten sembari berusaha membuka pintu di depannya dengan menendang dan memukul mukulnya. Namun usaha yang ia lakukan hanya sia sia saja, pintu tersebut seperti di lem oleh lem super kuat.

Di saat Tenten dengan suyah payah mencoba membuka pintu didepannya, Hinata malah jatuh terduduk dengan pipi yang berlinangan air mata. Saking takutnya, hanya mampu melihat manusia setangah ular itu mendekat ke arahnya dan temannya.

"Hah... Hah... Sepertinya ini akhir dari kita. Dimakan oleh makhluk menjijikan seperti dia." Ucap Tenten yang sekarang duduk di samping Hinata sambil melihat apa yang Hinata lihat.

"Makanan. Makanan. Makanan. Makana." Makhluk itu terus mengulangi kata katanya sambil sudah berjarak tiga meter dari mangsanya. Kedua tangan bersisik miliknya mengacung tinggi tinggi mengambil ancang ancang saat jaraknya dan mangsanya sudah dalam jangkauan serangnya.

Melihat itu, Hinata dan Tenten hanya memejamkan mata mereka setelah mengucapkan, "Maafkan aku, ibu." berbarengan. Pasrah dengan keadaan mereka sekarang ini.

1 detik...

3 detik...

Mereka mash tak merasakan apa pun.

5 detik...

Buagh...

"Argh..." Mereka mendengar suara rintihan cukup keras. Karena penasaran, mereka memutuskan membuka mata perlahan hanya untuk mendapati seseorang yang kini sedang membelakangi mereka sambil menengok kearah mereka dengan menggunakan topeng rubah dan mata merah ber-iris vertikal.

"Si-siapa kau?" Tanya mereka berbarengan. Setau mereka, tak ada jalan masuk lain selain pintu yang mereka jadikan sandaran, juga mereka tidak melihat orang di depannya ketika mereka masuk ke gunang ini.

"Nanti saja tanya nya. Sekarang yang terpenting cepat tutupi rok kalian, putih dan krem." Orang tersebut lalu mengalihkan perhatiannya dari Hinata dan Tenten ke pada manusia setengah ular di depannya yang kini telah kembali menuju kearahnya.

Hinata dan Tenten yang menyadari celana dalam mereka disebutkan oleh pria yang menolong mereka cepat cepat merapatkan lutut mereka dan menekannya dengan kedua tangan lalu berteriak berbarengan, "MESUM!"

Orang yang diteriaki hanya terkekeh geli akan teriakan kedua siswi THS dibelakangnya sebelum ia berlari juga menerjang manusia setengah ular tersebut.

"Seekor Half-Ayakashi menyedihkan." Ucapnya seraya memunculkan sebuah tanto dari ketiadaan di tangan kanannya, lalu melompat saat jarak antara dirinya dan Half-Ayakashi tersebut sudah dekat dan...

Slash!

Crot!

Tubuh Half-Ayakashi tersebut terbelah menjadi dua dan memuncratkan cairan hijau ke diding.

Membalikan badannya dan melihat kedua gadis yang ia tolong menatap takut kearahnya, pria bertopeng rubah itu melepaskan topengnya dan menampakan wajah tampan miliknya yang dihiasi oleh cengiran lebar dengan ke tiga garis dimasing masing pipi tan miliknya. Mata yang tadinya merah, sekarang berganti dengan mata biru lngit yang cerah.

"Namaku, Uzumaki Naruto." Ucap pria itu yang ternyata adalah Naruto. Kemudia Naruto jongkok didepan Hinata, lalu bertanya, "Bukankah kau Hinata Hyuga?"

TBC

ane hanya minta saran dan kritikannya dari chap SKS (sistem kebut sejam) ini.

Guest : maaf ane gak kenal dengan orang yang anda maksud :"v

Dan untuk yang mendukung ane ucapin makasih :* maaf gak bisa bales satu satu faktor waktu dan fasilitas.

Spesial thanks ke kak ari :* sudah memberi saran yang bagus :*