Disclaimer : All character © J.K. Rowling. Story © D'rain

Warning : OOC, Typo, dan kekurangan lainnya silahkan dikritik agar bisa membuat cerita yang lebih baik kedepannya.

Happy Reading and Review, please...


Chapter 3 : Kesempatan Kedua

Pelajaran Rabu pagi dimulai dengan Ramuan. Draco sangat sangat tidak bersemangat saat mengikuti pelajaran ini karena mereka akan satu ruangan bersama murid-murid Gryffindor. Dan itu artinya, dia akan melihat wajah-wajah yang tidak diingankannya seperti Potter, Weasley dan Granger.

Hari yang menyebalkan menjadi jauh lebih parah ketika Ron dan Hermione masuk ke ruang kelas dengan membawa pertengkaran kekanak-kanakan mereka seperti biasanya.

"Kau bahkan tak mendengarkan penjelasanku, Hermione!"

"Ron, kalau kau terus mencontek punyaku, kapan kau bisa mengerjakannya sendiri?" serang Hermione tak mau kalah.

"Oh ayolah! Itu tidak akan membunuhmu kalau kau membantuku dan Harry."

"Dimana otakmu, Ron? Kau mau aku membantumu dan Harry agar menjadi orang bodoh?" Kini mereka bertiga duduk terpisah. Harry sebangku dengan Ron, sementara Hermione dengan Parvati.

"Baiklah, lupakan saja kalau begitu Hermione. Hubungan kita mungkin berakhir sebentar lagi. Kau jangan menyesal..."

"Kau sangat kekanak-kanakan! Ini tidak ada hubungannya dengan... dengan kita." Hermione berbisik pada kata 'kita'. Draco malas berkomentar dalam hal ini. Tidak penting untuknya. Kelihatannya Ron tidak sungguh-sungguh akan ucapannya mengenai hubungan mereka.

"Yah–kurasa kau benar. Kalau begitu berikan aku kesempatan kedua, oke?" katanya buru-buru. "Aku janji tidak akan memaksamu untuk memberi contekan..." Hermione tersenyum samar mendengarnya.

"Tidak perlu memaksakan seperti itu. Janjimu mungkin tidak akan bertahan selama satu jam setelah ini."

Ron Weasley membuka mulut untuk menjawab, tapi sebelum dia mengeluarkan suara, pintu kelas terbuka. Profesor Slughorn masuk dan memulai pelajaran Ramuan. Sepanjang pelajaran, Draco mulai memikirkan kalimat Ron. Kesempatan kedua. Kalau ia mencobanya, apa Astoria akan luluh seperti Hermione?

-o0o-

Mencoba. Tidak. Mencoba. Tidak. Mencoba...

Draco Malfoy mondar-mandir di sepanjang koridor lantai tiga. Kakinya terasa berat, begitu juga dengan nafasnya. Kepalanya dipenuhi pertanyaan 'apa yang harus kukatakan?'. Sebelumnya tekadnya sudah bulat, tetapi begitu sampai di depan perpustakaan, tekad itu mencair sedikit demi sedikit.

Setelah berada dalam kebimbangan selama sepersekian menit, Draco ahirnya melangkahkan kaki untuk masuk ke perpustakaan. Ia mencari sosok yang ingin ditemuinya. Draco melalui beberapa rak dan tiba di rak ke tujuh sisi kiri. Setiap Rabu sore, Astoria selalu meluangkan waktunya untuk ke perpustakaan dan Draco sudah hafal akan hal ini.

Draco mengambil asal sebuah buku kemudian sengaja duduk disamping Astoria. Gadis itu mengubah ekspresinya saat menyadari pria itu ada disana.

"Aku ingin bicara." kata Draco.

Gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Draco, tepat ke telinga kirinya, "ini perpustakaan–bukan tempat untuk bergosip." bisiknya.

"Berikan aku kesempatan kedua." tegasnya tanpa basa-basi.

"Dan kenapa aku mau melakukan itu?"

"Karena aku akan membuktikannya padamu. Itu yang kau mau, bukan? Maksudku, itu yang wanita inginkan."

"Baiklah. Jawab pertanyaanku, Draco," Draco tampak serius mendengarkan, "kau suka atau cinta padaku?"

"Cinta. Aku sudah memberitahumu kemarin."

"Dan kenapa kau mencintaiku?"

Draco mengerjap bingung. Pertanyaan Astoria ini sama sekali tidak disangkanya. Dia bingung bagaimana harus menjawab. Karena alasannya mencintai Astoria terdengar tidak masuk akal. Astoria Greengrass tidak diragukan lagi, selain cantik, pandai, berdarah-murni, dan sama sekali berbeda dibandingkan gadis-gadis Slytherin lainnya. Dia sangat anggun, elegan, misterius dan lain-lain. Tapi Draco tidak mungkin mengatakan semua itu. Dia harus memikirkan sesuatu yang simpel. Apa gunanya dia di Slytherin kalau tidak bisa berpikir cepat dalam kondisi darurat seperti ini?

"Karena kau adalah kau. Astoria Greengrass."

Sesaat Draco mengira dia berhalusinasi tentang lengkung senyuman dari bibir Astoria. Tapi nyatanya hal itu benar-benar terjadi. Gadis itu tersenyum menatapnya dan kemudian mengecup pipi kanannya.

"Apa artinya itu?" tanya Draco penasaran sekaligus senang.

"Kurasa kau sudah tahu apa artinya." Astoria berdiri dan berjalan keluar perpustakaan. Meninggalkan Draco dalam kebingungannya.

"Hanya itu? Hanya butuh jawaban simpel seperti itu?" Draco mengikuti jejak Astoria dengan wajah penuh senyuman.

~ To Be Continued ~


A/N : Untuk chapter ini, aku ga berani lihat review kalian. Pasti bakal banyak komentar negatif. Tapi yasudah lah, toh ini cuma cerita yang bertujuan untuk menghibur semata. Kalau ada yang ga berkenan, Don't read this stories... simpel kan?