Because of Fate

Beginning?

A Fanfiction Made by min_ve

Main Pairing: Kookv; Top! Jungkook x Bottom! Taehyung

.

.

Enjoy~

.

.

Menyelusuri jalanan sepi berhubung langit telah menyatakan ini adalah saatnya tidur untuk beberapa orang, tetapi untuk orang sepertinya baik siang atau malam selama dia memiliki waktu beristiriahat itu adalah waktu tidur. Tetapi jalanan ini biasanya tidak pernah sepi sebenarnya namun karena berita banyaknya pembunuhan yang terjadi banyak orang lebih memilih untuk pulang atau setidaknya tidak berada di luar sendirian selarut ini. Padahal sebenarnya pembunuhan yang dilakukan oleh Kim Taehyung telah terjadi sejak hampir empat tahun yang lalu namun sejak munculnya satu pembunuh berantai yang membunuh secara acak sampai bahkan pembunuh berantai pun tak bisa mengerti alasannya melakukannya.

Berhubung memang para pembunuh bayaran—seperti namanya, hanya membunuh demi uang dan beberapa dari mereka termasuk dia tak pernah membanggakan pekerjaannya. Dia hanya melakukannya tetapi tak begitu dapat menjelaskan apa yang dilakukannya sebelum memulai membunuh demi membuat tangan orang lain bersih.

Sampai di sebuah tempat bernama bar dimana kau bisa meminum alkohol dimulai dari alkohol termurah sampai termahal tapi tentunya merupakan alkohol asli yang diimpor sesuai dengan lisensi—andaikan secara ilegal pun setidaknya dapat terjamin itu adalah alkohol asli. Tangannya mendorong pintu tersebut dan baru menghentakkan kaki maju ke dalam bar tersebut berbagai macam pasang mata telah mengalihkan perhatian mereka untuk memperhatikan kedatangannya.

Tetapi hanya terdiam beberapa saat bermacam-macam pasang mata itu kembali memberi atensi kepada kegiatan mereka masing-masing. Netra indahnya mengerling memperhatikan setiap sudut ruangan untuk mencari rekannya yang mengajaknya kemari dan menemukannya tengah berbincang dengan bartender dengan tangannya memegang gelas berisi alkohol dan es batu.

"Yaho~"

Dan rekannya sudah hampir setengah mabuk.

Because of Fate Part One

"Beginning?"

Pipinya sudah merona akibat suhu tubuh yang naik akibat efek utama alkohol tetapi masih cukup kuat untuk mempertahankan pembicaraan dan tatapan mata untuk fokus ke lawan bicaranya. Pemakai anting unik itu mengambil tempat duduk tepat di samping rekannya dan mengatakan pesanannya kepada si bartender. Lengan kirinya langsung dipeluk erat oleh rekannya menandakan bahwa dia benar-benar hampir mabuk. Rekannya ini tak pernah sekalipun bertingkah seperti anak-anak dan manja selain ketika dirinya mabuk.

Tapi banyak orang mengatakan bahwa semakin mabuk orang semakin terbuka sifat asli mereka.

"Semalam menyenang—hik—kan sekali ya… Kau hampir saja tertang—hik—kap ole—hik—h polisi~"

"Itu karena kau seenaknya."

Oh.

"Akhirnya kau berbicara. Sejak awal kau sama sekali tak berbicara bukan~? Pembaca hampir saja merasa bingung siapakah ini jika tanpa ada foto kau ta—hik—hu…?" rekannya sekarang mengeluskan wajahnya pada lengan berbalut kemeja putih itu.

"Pembaca? Jim—kau terlalu ma—"

Belum menyelesaikan kalimatnya rekan itu tiba-tiba melepaskan lengannya dan segera berlari ke arah kamar kecil sembari menutup mulutnya. Si pemakai anting unik hanya menatapnya dengan pasrah—entah kejadian ini pernah terjadi keberapa kalinya berhubung tidak hanya rekannya memiliki toleransi alkohol cukup rendah, lambungnya terkadang tak kuat menahan unsur asam dari alkohol itu. Tapi tetap saja dia meminumnya—terkadang dia tak tahu apa rekannya tak pernah jera atau hanya bodoh.

"Seperti biasa pekerjaanmu selalu bersih, Taehyung ah." Suara di sampingnya menyadarkan yang dipanggil untuk mendongak ke sumber suara dan kemudian si bartender meletakkan gelas kecil tak sebanding dengan harganya di hadapan si pemakai anting unik—Taehyung.

"Tidak begitu bersih. Tak menduga asistennya segera mencurigai dan melaporkan hilangnya orang itu." Balas Taehyung menggapai gagang gelas kecil tersebut.

"Well, it's not our job to think about it."

Bukan tugas mereka—memang benar juga. Mereka hanya perlu membunuh dengan cukup bersih, urusan mengenai apakah akan ketahuan atau tidak sebenarnya bukan urusan mereka selama klien tak meminta secara khusus untuk membuang mayat target—seperti dikatakan sebelumnya.

Jemarinya hanya menggoyangkan pelan gelas tersebut perlahan, ketika isi cairannya hampir tumpah jantungnya sejenak berdetak lebih cepat. Andaikan cairan itu tumpah—berarti dia membuang uangnya untuk alkohol yang tak sepenunya diminum olehnya. Menatap kelam cairan berwarna itu dengan netra cokelatnya—warna retinanya yang asli. Berbalik untuk melihat banyaknya orang yang tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing sembari masih menggoyangkan gelasnya dengan pelan. Sedikit banyak posisinya terlihat sangat angkuh dan itu tak salah sebenarnya.

Banyak rekan sesama pembunuh bayaran sedikit takut dengannya terutama Taehyung memiliki bakat menjadi penipu ulung seperti layaknya penipu pada zaman dahulu yang memakai topeng dansa.

Tepat pada saat itu dia menyadari beberapa lelaki atau perempuan yang memakai pelindung pada lehernya menandakan strata sosial mereka.

"Tertarik?" tanya si bartender menyadari tatapan mata Taehyung tertuju kepada kumpulan submisif itu.

"Kau yakin mereka tak akan menyebabkan masalah? Bukankah kau sangat tak suka harus membeli furnitur baru karena cairan mereka mengotorinya?" bukannya menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh si bartender dia malah memberi pertanyaan baru.

"Tenang saja. Akan kutebas mereka andaikan mereka mengotori furniturku." Sanggah si bartender tersenyum lembut—berbanding terbalik dengan perkataannya yang sama sekali tak memberi ampun.

Taehyung hanya mengeluarkan suara 'hm' rendah sebagai tanda tak berniat melanjutkan topik tersebut dan akhirnya menyesap alkohol pesanannya sedikit demi sedikit, berhati-hati agar tidak membuatnya mabuk dengan cepat. Melakukan perbincangan yang tak bertahan lama dengan si bartender berhubung memang sebuah fakta si bartender ini entah mengapa sangat betah berusaha membentuk perbincangan dengan Taehyung meski tahu semua itu tak akan bertahan lama. Akan tetapi di setiap topik memang ada perbedaan durasi keduanya melakukan komunikasi dan itu semua tergantung pada topik.

Beberapa belas menit setelah rekannya pergi ke kamar kecil dia menyadari bahwa rekannya itu belum kembali sedari tadi, memutuskan untuk memeriksa apa mungkin lelaki itu terlalu mabuk untuk sekedar berdiri dan berjalan keluar kamar kecil. Namun yang didengar oleh Taehyung setelah hanya berjarak beberapa langkah dari pintu kamar kecil itu—berhubung disana hanya ada satu yang tergabung sehingga dapat digunakan baik oleh lelaki maupun perempuan—telinganya malah menangkap seperti suara erangan tertahan.

Dan pintunya tak terkunci. How reckless.

Menarik kenop pintu itu dan melihat di dalam—sekarang ada dua orang—tengah melakukan hubungan tubuh—dengan memalukannya di sebuah toilet bar. Awalnya dia mengira si penerima merupakan orang biasa tetapi setelah melihat pelindung leher itu netra Taehyung hanya memicing tak suka.

Jimin menyadari keberadaan rekannya dan menghentikan gerakan pinggulnya—gerakan penetrasi dalam lubang omega itu. Kepalanya didongakkan ke arah Taehyung, menjilat gigi taringnya dengan lidahnya—menunjukkan gairah yang tengah dialaminya menghapus semua mabuknya.

"Yo… Mau bergabung ti—"

Blam.

Tangan Taehyung memilih untuk menarik kembali kenop tersebut dan menutup pintu itu—sekarang sampai tidak ada celah yang terbuka kemudian berbalik lalu pergi menjauhi kamar kecil itu. Ia tak pernah ingin melakukan hubungan tubuh di tempat kotor layaknya toilet bar, andaikan itu adalah toilet hotel bintang lima dia tak akan terlalu keberatan tapi di toilet bar yang tidak dipisah pula? No, thank you.

Ketika ia kembali, si bartender telah berbincang dengan orang lain dan jika dilihat dari bagaimana cara berpakaian dan tawanya itu adalah—

Oh shit.

No, please.

"Oh? Taehyung sunbaenim?"

Suara itu langsung mengirimkan sinyal pertanda bahaya ke seluruh pikiran logis untuk segera berbalik dan berpura-pura tak kenal padahal jelas orang yang memanggil mengenalnya meskipun menggunakan cara pemanggilan yang sama sekali tak menunjukkan bahwa mereka kenal dekat. Tetapi sebelum bisa melangkahkan kakinya lengan berbalut jaket jeans biru muda itu sudah melingkar pada pinggangnya.

Sudah—dia tidak akan bisa kabur.

Tak ada satu detik pun ia gunakan untuk memberontak untuk lepas dari rangkulan tak tahu ruang pribadi itu, hanya suara helaan napas lelah yang dikeluarkan kotak suaranya. Sadar bahwa sama sekali tidak ada perlawanan membuat lelaki yang seenaknya merangkulnya meletakkan dagunya di atas helaian rambut cokelat Taehyung dan menghirup aroma darinya.

"Setidaknya sedikit melawanlah~" keluh lelaki—yang sebenarnya lebih muda darinya—dengan nada sedikit kecewa dan manja.

"No. Playing hard to get turns you on, sick fuck." Balas Taehyung dengan dingin, mengungkapkan fakta.

Ucapan itu mengundang senyuman miring kecil, terutama pada sisi kiri bibirnya. Semakin menghapus jarak antara kedua tubuh itu sampai dirasanya hanya dengan merangkulnya ia dapat menggesekkan kejantanan pada belah bokong monok milik Taehyung. Tidak keras, hanya saja mungkin dengan pelecehan seksual dapat mengundang perlawanan. Itu benar, wahai pemirsa. Lelaki ini jika lawan mainnya memberontak atau bahkan ketakutan malah membuatnya semakin bergairah.

"Aku masih sedikit heran—apakah sunbaenim omega atau alpha? Tanpa memakai pelindung leher pun, sunbaenim terlihat seperti omega. Mungkin karena begitu cantik, menawan dan sungguh submissive-able."

Perkataan itu diucapkan seraya tangan kanannya bergerak memijat paha dalam Taehyung dengan gerakan mengundang—berusaha sedikit demi sedikit menarik rasa tak nyaman dan jijik dari lelaki pemilik netra indah tersebut.

"Tak bisakah seorang dominan memiliki wajah cantik? Sejak kapan penampilan menentukan peran hidupmu?" tanya Taehyung dengan ketus, sedikit tersirat rasa tak suka dan amarah, masih berusaha untuk tetap diam dan tak menunjukkan sedikit pun rasa tak nyaman pada wajahnya.

"Kalau begitu mari kita buktikan dengan melihat lubang sunbaenim i—"

Bahkan belum meraih bokong besar itu, si bartender telah menghunuskan pedangnya dan mengarahkannya tepat pada leher lelaki yang tengah melakukan pelecehan seksual kepada Taehyung. Hunusan pedang di bawah sinar lampu redup tersebut sungguh mengundang dan terlihat begitu mengancam seolah helaian rambut pun dapat terbelah menjadi dua andaikan secara sial terjatuh ke sisi tajam pedang tersebut. Jelas itu merupakan pedang asli yang merupakan khas negara tetangga mereka dengan kata lain—satu tebasan maka tangannya bisa terpotong sampai ke tulangnya.

"Kita bisa berbagi~" ujar si lelaki paling muda itu—masih memakai nada bermain-main.

"Ini bukan masalah berbagi atau tidak. Barku bukan tempat dipakai untuk melakukan pelecehan seksual maupun berhubungan seks, hanya untuk sekedar minum atau mencari teman bermain. Informan sekalipun, selama ini barku aku bisa memotong tanganmu, Yugyeom-ssi." Si bartender itu benar-benar mengatakannya setajam pedangnya, "Beri jarak satu meter dari Taehyung-ssi baru aku akan menarik pedangku."

"… Pelit sekali."

Lelaki yang lebih muda dua tahun itu mendecih tak suka tapi tetap melakukan perintah dari si bartender, memundurkan tubuhnya dan memberikan jarak satu meter dari Taehyung. Sesuai dengan perkataannya ia menarik kembali pedangnya kemudian menyimpannya kembali di bawah meja. Taehyung hanya menepuk pelan daerah tubuhnya yang disentuh oleh lelaki—Yugyeom—itu., seolah menunjukkan bahwa sentuhan Yugyeom sangat kotor sampai harus dibersihkan.

Namun Taehyung tak tahu bahwa Yugyeom berlari mendekatinya sambil mempersiapkan tangan kanannya untuk meninjunya tapi—

Seolah mengetahui apa yang terjadi di baliknya kedua tangannya dengan sigap menggenggam lengan Yugyeom—menariknya sampai tubuh lelaki lebih muda dua tahun itu melayang sejenak di udara sampai akhirnya gaya gravitasi membawanya turun dengan punggung terkena serangan langsung dari lantai keramik keras. Suara 'gahk' terdengar sebagai reaksi refleks dari merasa sakit. Jika itu adalah orang biasa sudah dipastikan akan terjadi luka fatal tapi tidak—Yugyeom memiliki tulang sekeras baja tapi setidaknya ototnya cukup untuk merasakan sakit.

"Ukh…"

Tentunya itu menarik perhatian seluruh sisi bar karena itu terdengar seperti sebuah pertengkaran dan memang tidak jauh dari kata itu tapi ini memang karena Yugyeom yang mencari masalah dengan Taehyung dan dia masih tak jera ingin meninjunya? For your information, tinjuan Yugyeom mampu membuat tengkorak retak dan retakannya akan melukai otak—dengan kata lain—

Cukup kuat untuk membunuh orang.

"Apa ini yang target sunbae lihat sebelum mereka menemui kematian?" tanya Yugyeom masih sedikit lemas tapi cukup untuk tak terlihat terlalu kesakitan.

Ia dapat mengatakan itu tentunya setelah melihat legenda terkenal yang berhubungan dengan Taehyung—bertemu dengan malaikat kematian yang sungguh cantik bagaikan bidadari atau malaikat.

"Mungkin aku tidak keberatan untuk mati andai bisa bertemu dengan malaikat seperti sunbae. Andaikan malaikat kematian itu memang secantik sunbae, aku rela mati sekarang."

"Cheezy fucker."

Itu bukanlah suara Taehyung maupun si bartender melainkan suara Jimin yang sepertinya telah menyelesaikan kegiatan seksnya di toilet sebelumnya—sekarang tengah berdiri di samping Yugyeom sambil mencodongkan tubuh bagian atasnya lebih maju. Omong-omong rambut abu-abu Jimin terlihat sangat berantakan—dan si bartender akan menyadarinya dalam—

"Omong-omong, apa kau ingin menerima pekerjaan membunuh polisi—detektif—Tae?"

Cepat sekali.

Perkataan itu menarik perhatian si bartender untuk tak menyadari rambut berantakan Jimin karena ditarik setelah bermain di toilet sebelumnya. Sementara Taehyung mengerti bahwa Jimin menanyakannya karena dia akan selalu meminta persetujuan jika permintaan klien merupakan target yang bisa membahayakan keselamatan atau kehidupan Taehyung. Secara garis besar Jimin merupakan asisten merangkap operator berhubung ketika melakukan kegiatan tusuk menusuk lelaki berambut abu itulah yang memberitahu andaikan ada polisi ataupun calon saksi mata menuju ke daerah dimana Taehyung berada.

Dan—dialah yang sebenarnya menerima permintaan klien dan menolaknya tetapi jika mengenai menjawab telepon Taehyung sendiri yang melakukannya.

Akan tetapi, memang Jimin terkadang cukup gila seperti memberitahukan jalan keluar untuk rekannya tapi malah membawanya semakin dekat dengan polisi yang tengah berpatroli jadi dia memang rekan yang bisa dipercayai namun terkadang menghanyutkan.

Taehyung menatap layar ponsel Jimin yang tengah membuka web berisi bermacam-macam pesan dan melihat bahwa permintaan calon klien mereka yang baru adalah—

Jeon Jungkook.

Memiliki nama yang sama sangatlah mungkin di tempat mereka tinggal dan mungkin Jeon Jungkook disana bukanlah si detektif Jeon yang dilihatnya tadi tapi Jimin mengatakan bahwa targetnya adalah seorang detektif. Apa memang Jeon Jungkook ini adalah si detektif yang tengah memburunya?

"Tawarannya adalah 100 juta won dan bisa dinaikkan andaikan kita memintanya."

Whoah. That's a record.

Maksudnya—bisa dinaikkan, berarti andaikan Taehyung meminta satu miliar won klien akan menyediakannya. Masalahnya adalah—mengapa ada orang kaya yang ingin membuang uang untuk membunuh seorang detektif? Biasanya yang menyimpan dendam terutama ke seorang detektif yang menyelidiki pembunuhan hanyalah para penjahat dan mereka lebih baik membunuhnya dengan tangan sendiri daripada harus membuang uangnya.

"Untuk detailnya, ia meminta untuk bertemu langsung denganmu. Tanpa menyelesaikan pekerjaanmu dia akan langsung membayar uang bayarannya."

Terlalu mencurigakan.

Biasanya Taehyung tak akan menerimanya, tetapi setelah melihat identitas si klien—padahal dia tak pernah memberikan kewajiban agar klien memberikan identitas mereka—dan melihat nama penulis e-mail itu. Dirinya langsung menarik pandangannya untuk melihat ke arah lain sebelum memutuskan. Mengingat semua informasi mengenai si klien yang berhubungan dengan si target—baru teringat—

"Cari tempat yang aman dari kamera pengawas dan polisi. Beritahukan kepada diriku esok pagi dan jangan memenuhi kotak masukku."

Wajah Taehyung tentu masih datar seperti biasanya tetapi Jimin—sebagai rekannya dapat menangkap bahwa ada sesuatu yang berbeda tetapi memilih untuk tak menyebutkannya. Si pembunuh bayaran itu hanya terdiam sebelum pamit untuk pulang duluan, dipersilahkan oleh si bartender dan Jimin ia melangkahkan tungkainya ke pintu keluar. Setelah tertutup ia menyandarkan punggungnya pada dinding terdekat dan menghela napas panjang.

Klien itu—

Ingin membunuh putranya sendiri.

.

.

.

To Be Continue