Chapter 3
Search SeeU!
Aku diculik. Ke tempat yang gelap, dengan diseret. Yukari dan Miki ketakutan, tetapi, mereka... kulihat mereka tetap mengejarku, sementara Rin, Miku, dan Lenka menangis histeris lalu berlari sekuat tenaga. Aku meneteskan air mata. Apakah ini adalah akhir dari kehidupanku?
"Tolong aku, lepaskan aku!" Aku berusaha memberontak, tetapi, gadis itu, gadis yang menyeramkan itu... menoleh ke arahku, dan mengacungkan guntingnya. Aku menangis, lalu tak berani bicara lagi. Ini sudah cukup menyakitkan. Diseret pada permukaan jalan bersemen yang kasar. Aku sudah bisa merasakan betisku lecet. Tetapi, sesaat... aku melihat Yukari dan Miki mulai perlahan menghilang dari pandanganku. Pandanganku memburam.
BRUUUKK!
...
Normal P.O.V~~
"Dia benar-benar diculik Misaya-san!" jerit Rin di kelas keesokan harinya. Nampak Miki yang baru datang, juga langsung bergabung di meja Rin segera setelah ia menaruh tasnya di atas kursi.
"Itu mengejutkan...," sela Miku. Yang lainnya ikut bergerombol, ikut penasaran dengan berita mencengangkan itu. Ya, SeeU, murid baru, pindahan dari Ryousei Gakuen, diculik oleh Misaya-san, si hantu Kuchisake Onne yang masih berkeliaran di sekitar sini.
"Benarkah dia diculik?" Seorang gadis berambut pendek hijau, Gumi Megpoid namanya, tak yakin dengan apa yang diberitakan Rin, Miku, dan Lenka. Tetapi, Rin mengangguk, Miku juga terpaksa mengangguk, sementara Lenka terdiam, lemas, dan ia nampak memucat sambil menggigit bibir bawahnya dengan perasaan khawatir, nampak sangat jelas dari raut wajahnya yang suram.
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!"
"Lalu, siapakah yang juga menjadi saksi?" tanya Gumi lagi. Rin menunjuk Yukari dan Miki yang berdiri mematung saja.
"Kalian?"
Keduanya mengangguk kaku.
"Ya."
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Entahlah... saat SeeU berlari, entah kenapa ia berlari, tiba-tiba saja... Mi-Misaya-san sudah menghadang dia di hadapannya, dan kemudian menculik SeeU, lalu menyeretnya dengan tali tambang yang sudah ia bawa, lengkap dengan sebuah gunting besar berwarna hitam."
"Eh! Itu mengerikan!" seru banyak gadis-gadis histeris sambil menutupi mulut dengan tangan mereka. Miki dan Yukari mengangguk.
"A-awalnya... ka-kami tak percaya, tapi... itu Misaya-san sungguhan!" Gumi mundur selangkah sambil menelan ludahnya.
"Mi-Misaya-san? Muncul lagi?"
"Ya, seperti itu, jika ada murid yang sudah nekat," kilah Neru, disusul anggukan Meiko. Gumi menghampiri sahabatnya, Neru dan Meiko sambil memegang ujung kemeja seragam Meiko, keduanya gemetaran. Neru memang baru saja datang, dan telah mendengar kabar mengejutkan itu dari kelas lain.
"Tapi, aku kasihan padanya!" ujar Gumi. Meiko menyetujuinya. Yukari dan Miki juga.
"Kami prihatin. Apakah ia kini telah mati?"
"Jelas saja," kata Neru.
"Tapi, masih ada waktu untuk menyelidikinya!" seru Miki bersemangat. Yang lainnya mengangguk.
"Ta-tapi... bukankah itu menyeramkan dan mengerikan?" sergah Miku gemetaran. Miki menggeleng. "Menyelamatkan teman sendiri bukan hal yang salah bukan?" Lenka kemudian tersenyum, lalu menghampiri Miki dan Yukari. Rin dan Miku saling berpandangan.
"Tapi, aku penakut," kata Rin beralasan.
"Aku juga."
"Ya sudah, kalian terpaksa tinggal," ujar Aoki Lapis, murid baru juga, tetapi, ia pindahan dari Kurata Gakuen.
"E-eh?"
"Baiklah, siapa saja yang ikut?" seru Yukari.
"Aku!"
"Aku!"
"Aku juga!"
Banyak juga murid yang ikut. Yang laki-laki pun ada. Ada Kaito (saudara kembar Kaiko), Gakupo, Len (saudara kembar Rin), Ted (kakak Teto yang tidak naik kelas), Mikuo (sanak-saudara Miku), Luki (sepupu Luka), Gumiya (kembaran Gumi) serta Akaito (sepupu Kaito) #banyak ya anak kembarnya ._.#
Sementara yang perempuan juga lebih banyak; Teto, Yukari, Miki, Gumi, Neru, Lenka, Meiko, Aoki, Mayu, Kaiko, Haku, dan Luka.
"Kita atur rencana," aku Luka. Yang lainnya menyetujui.
"Em... anak laki-laki dan anak perempuan dicampur. Dibagi menjadi empat kelompok dengan masing-masing kelompok memiliki arah yang berbeda-beda. Sebentar, nah... kelompok 1 : Kaito, Len, Teto, Yukari, Gumi, dan Lenka. Kelompok 2 : Ted, Mikuo, Miki, aku, dan Aoki. Kelompok 3 : Luki, Gakupo, Mayu, Kaiko, dan Luka. Kelompok 4 : Akaito, Haku, dan Gumiya. Oke... kalian bisa mengatur rencana untuk masing-masing kelompok!" Neru mengomandoi.
"Oke... kita bekerja sama ya!" ucap Akaito pada Gumiya. Gumiya mengacungkan ibu jarinya. "Sip."
"Hei! Kelompok satu kumpul di sini!" teriak Len lantang. Miku dan Rin hanya menyendiri di sudut, karena mereka tidak menggabungkan diri untuk ikut melacak keberadaan SeeU. Tetapi, Gumiya menghampiri mereka, dan mengulurkan tangan. Rin menengadah. Keduanya sedang duduk meringkuk, terdiam.
"Hei, kalian mau ikut kelompok kami mencari SeeU-san?" tanya Gumiya. Akaito juga menyusul Gumiya.
"Kalian boleh ikut kalau mau."
"E-eh... tapi kami pasti akan merepotkan kalian," desah Rin tidak enak. Gumiya dan Akaito menggeleng.
"Tak apa."
"Benar?" tanya Miku tak yakin.
"Ya."
"Baiklah.., kami ikut dengan kalian."
"Yeay!"
Rin P.O.V~~
Sebenarnya, aku sedikit takut sekaligus cemas dengan keadaan SeeU dan apa yang terjadi menimpanya. Entahlah... bulu kudukku terasa menegak, entah... seperti ada aura aneh yang menyelimutiku. Apa-apakah ini? Aku tak yakin bahwa ini Misaya-san yang sedang lewat.
"Hei, Rin! Perhatikan pelajaran!" Miyako Sensei melemparkan sebatang kapur putih ke mejaku, dan aku tersadar. Uoh... ini sedang pelajaran Geografi, Rin! Aku menepuk-nepuk pipiku, lalu menyahut, kemudian, aku sudah terfokus pada pelajaran, yang sebenarnya kusukai itu.
Bel istirahat pertama berbunyi nyaring. Aku mengemasi semua peralatan tulisku, lalu mengambil makan siang di meja depan.
"Makan siang! Tidak ada porsi tambah!" teriak Yukari. Kebetulan, ia yang tugas piket sekarang, bersama Akaito, Gumiya, dan Teto.
"Hei! Aku mau... tunggu dulu."
Aku berlari, lalu mengambil nampan besar, dua buah piring, sebuah mangkuk, dan tempat kecil untuk saus.
"Makan siang kali ini adalah kari dengan wortel dan udon, serta tambahan nasi. Susu coklat dingin, dan butter roll dengan butter. Pencuci mulutnya yoghurt atau puding, bisa dipilih sendiri," kata Teto dengan ramah, lalu ia mengambilkanku udon dan nasi hangat. Lalu, Akaito mengambilkanku kari, Gumiya mengambilkanku cucu coklat dingin dan butter roll, sementara Yukari mengambilkanku butter dan menyuruhku memilih antara puding atau yoghurt. Em, aku pilih yoghurt! Selain sehat, setiap kali makan, pencuci mulutnya tak lain adalah yoghurt! Tapi sebenarnya, aku juga suka sekali dengam puding, apalagi yang stroberi.
"Ambillah sebuah dan sendoknya, ini," kata Yukari, dan aku menerimanya, kemudian meninggalkan barisan panjang. Fiuh... selamat makan!
"Hei... kau masih cemas memikirkan 'itu'?" Miku tiba-tiba saja muncul, lalu duduk di samping meja Rin. Rin menggeleng.
"Tidak."
"Tapi, entah kenapa, aku masih berpikir keras."
"Tentang?"
"Yah, tentang Misaya-san. Sesungguhnya, aku belum pernah melihat dia!"
"Kita bisa melihat dia nanti, entah kenapa aku menjadi anak berani, Miku-san," balasku dengan nada riang. Miku menghela napas panjang, lalu memandangku dengan tampang memelas, tapi, aku acuh tak acuh karena perutku setengah keroncongan.
"Hei, kau tahu kan... kalau keluarga SeeU itu miskin?"
"Ya, bukan miskin, dia sederhana," tanggap Neru yang tiba-tiba juga muncul di hadapanku sambil memegang nampan yang berisi banyak makanan, sepertiku.
"Boleh aku makan bersama kalian? Meiko ijin, karena dia akan diajak orangtuanya pergi sebentar untuk mendatangi kakeknya yang sakit-sakitan. Gumi masih ke toilet." "Tidak apa kok," sahut Miku. Aku mengiyakan, dan Neru sudah makan bersama kami, tanpa banyak bicara lagi.
"Oh ya, tadi kau bilang keluarga SeeU miskin, memang ada apa?" tanyaku memecah keheningan, sesudah aku menyelesaikan makan siangku.
"Emmh, tunggu..," katanya sambil terus mengunyah.
"Iya, soalnya, keluarga Misaya kan juga keluarga miskin," katanya melanjutkan, setelah mulutnya kosong. Neru mengiyakan. Gumi sekarang juga sudah makan di samping Neru.
"Misaya-san sebenarnya gadis baik, jika saja dia belum mati," kataku. "Dia gadis yang pintar dan manis, maka itulah, senpai suka padanya!"
"Aku sudah pernah melihat wajah senpai-nya," celetuk Neru.
"Masa? Bagaimana? Tampan?" tanya Miku.
"Mungkin, tapi dia benar-benar tampan!" kilah Neru.
"Oh..," aku hanya ber-oh-oh.
"Tapi, kurasa, mustahil senpai suka pada Misaya," kata Gumi memberi komentar.
"Hei! Nanti Misaya-san bisa marah lho," aku mengingatkan. Gumi langsung tersadar dan menutup mulutnya dengan tangannya.
"Ups... aku lupa, maaf Misaya-san."
"Eh, tapi... ucapanmu mengingatkanku sesuatu!" seru Neru mendadak, dan tiba-tiba suasana hening mencekam seisi kelas yang pada mulanya penuh dengan hiruk-pikuk...
SeeU P.O.V~~
Aku diikat di sebuah gudang yang gelap, lembap, dan sedikit bau. Aku diikat dengan tali tambang yang sangat kuat, dengan simpul mati, yang bahkan akan sulit untuk dilepaskan, atau bahkan, malah tak bisa sama sekali. Lagipula, hari sudah sore... jika saja ini tak terjadi, pasti sekarang aku sedang berjalan pulang dari sekolah menuju ke rumah.
Aku menangis, tapi, air mataku kini sudah mengering, dan mungkin, mataku merah. Yang jelas, wajahku kini lengket. Aku tak bisa melakukan apapun lagi. Aku hanya bisa pasrah.
Tap... tap... tap...
Eh?! Misaya-san?
"Kau mau makan?" tanyanya. Eh?! Aih, dia bahkan menawariku makanan. Apakah benar dia Misaya-san si 'Kuchisake Onna' atau hanya orang lain yang menyamar menjadi Misaya, hanya untuk menakut-nakuti? Tapi... uhm, harus kuingat, ini bukan April Mop!
"Emh, ya, aku sebenarnya agak lapar." "Kau suka makan cacing?" Aku mendelik. Makan cacing? Eikh, mendengar namanya saja aku sudah mau muntah. Perutku mendadak sakit. Aduh, mag-ku kambuh! Parah. Damn!
"Ca-cing?"
"Kau tak suka?"
"Emh, aku belum pernah makan cacing," kataku.
"Tapi itu enak, kau harus mencobanya."
"Ti-tidak, aku tak suka makan serangga!" seruku dengan panik, takut ia akan memaksaku memakan cacing yang mengerikan itu.
"Baiklah, kuberi makan kau daging tikus saja ya, bagaimana?" tanyanya. Mataku melotot. Daging tikus? Bisa-bisa aku kena pes!
"Tidak deh, lebih baik, daging sapi."
"Aku punya... tapi bukan daging sapi. Tapi kurasa, pasti kau akan menyukainya. Rasanya enak."
"Wah, sudah matang?"
"Kau masak sendiri, kau bisa masak?"
"Tentu. Daging apa itu?"
"Dagingku."
Aku menjerit hingga pita suaraku hampir putus.
Kaito P.O.V~~
Aku mendengar suara jeritan seorang gadis. Entah dari mana asalnya. Aku langsung mengomandoi anak buahku menuju ke tempat yang kira-kira merupakan asal sumber suara.
"Hei, kalian dengar teriakan?" tanyaku.
"Ya, aku mendengarnya. Bahkan, jelas sekali!" jawab Len. Aku lega. Berarti, bukan hanya aku saja yang mendengarnya.
"Kalian?" tudingku ke arah Gumi, Yukari, Lenka, dan Teto.
"Ya, kami mendengarnya."
"Oke, kita lanjut berjalan. Gunakan hanya dua senter, nanti baterainya cepat habis kalau kita pakai semua," aku mengingatkan sekali lagi, sambil menyorotkan senterku ke arah-arah tertentu. Suasana sudah agak gelap, menjelang malam hari. Kulirik arlojiku. Ya, sudah jam enam petang menjelang jam setengah tujuh malam.
"Jam berapa?" tanya Lenka.
"Jam setengah tujuh malam kurang sepuluh menit." Kami kembali berjalan, dengan langkah pelan. Hanya terdengar derikan suara jangkrik, gesekan daun-daun pepohonan spruce yang berada di sekeliling kami. Ya, kami sedang mencari di antara pertokoan, dan baru saja memasuki gang kecil.
"Eh, ruangan itu nampak menyala!" Teto menunjuk sebuah rumah kecil dengan ruangan yang menyala. Ya, nampak kalau itu seperti secercah cahaya dari sekumpulan kegelapan.
"Baiklah, Len dan Yukari. Kalian mengintip lewat jendela situ. Tapi sepertinya, itu hanya gudang saja," kataku.
"Lalu, aku dan Teto menyelidiki daerah bagian lain dari gang ini, sementara Gumi kau ikut Len, dan Lenka, kau ikut membantuku dan Teto."
Kami berpencar. Len, Gumi, dan Yukari berjalan mendekati ruangan kecil itu, sementara aku, Teto, dan Lenka berjalan lurus ke arah lain, lalu membelok. Ya, memang, gang ini terdiri dari beberapa jalan yang juga masih berupa gang kecil yang sempit, namun keadaannya tak bisa dibilang begitu kumuh. Lumayan bersih juga, dan tumbuhannya tak tumbuh liar, melainkan terawat.
"KAITO!" kudengar teriakan Len yang mengejutkanku. Aku menoleh ke belakang, berbalik, dan menyuruh kedua anak perempuan itu untuk mengikuti kembali ke arah semula. Kulihat raut wajah Len sangat tegang, sementara Yukari dan Gumi nampak memucat, seolah mual.
"Ada apa?"
"Kau... lihatlah sendiri ke dalam, apa yang sedang terjadi membuatku ingin muntah." Dan aku melihat ke arah jendela. Seketika, yang lainnya muntah, aku hampir pingsan karena tercengang-cengang.
