Bad girl ( Chapter 3 )
Author : Bacon14
Length : Chaptered
Genre : Romance, SchoolLife, Genderswitch
Main Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Additional Cast :
Xi Luhan
DO Kyungsoo
Sinopsis :
Byun Baekhyun. Yeoja berwatak keras, dingin dan sadis. Ia bertemu dengan Park Chanyeol. Seseorang geek yang selalu bergelut dengan buku-buku tebal. Bagaimanakah awal pertemuan mereka?
Happy Reading😀😀
Baekhyun mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Segala usaha sudah ia kerahkan agar ia bisa keluar dari tempat laknat ini. Tetapi, semuanya sia-sia saja. Namja jangkung ini juga tidak membantunya sama sekali. Ia masih sibuk dengan buku tebalnya sambil sesekali tertawa kecil. Apa sih yang ia tertawakan padahal mereka sedang terjebak dalam ruangan busuk ini? Baekhyun lihat Chanyeol sangat nyaman disini dan tidak ada niatan untuk pulang. Huft~~ percuma saja meminta orang ini untuk membantunya keluar kalau dia sendiri terlihat senang berada disini.
"Lebih baik kau hentikan suara tawamu itu. Mengganggu." Ucap Baekhyun dingin. Chanyeol menghentikan tawanya dan menggembungkan pipinya. Lihatlah... tingkahnya seperti anak kecil. Chanyeol terlihat seperti anak kecil yang dimarahi eommanya karena makan gula kapas terlalu banyak.
"Ne, sunbae. Mianhae.." Chanyeol menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya. Baekhyun masih menatapnya dengan kilatan emosi di kedua bola matanya. Ia menghembuskan nafasnya berkali-kali untuk menetralkan emosinya. Entah kenapa setiap berada di dekat Chanyeol emosinya naik berkali-kali lipat dan membuat kepalanya ingin pecah. Tingkah ajaib Chanyeol selalu membuatnya naik darah.
Udara semakin mendingin. Perpustakaan ini tidak menyediakan pemanas dan sialnya lagi jendela besar perpustakaan ini rusak sehingga udara dingin masuk ke ruang perpustakaan. Baekhyun yang sama sekali tidak tahan dingin mulai meringkuk di atas kursi panjang. Ia menggigil kedinginan. Sweater dan blazer sekolahnya ia tinggal di lokernya. Kalau tahu seperti ini, ia tidak akan meninggalkannya di loker. Baekhyun merutuki nasib sialnya hari ini.
"Pakailah ini." Chanyeol melemparkan blazer sekolahnya ke arah Baekhyun. Baekhyun menatap blazer sekolah itu dan membuangnya asal. Ia tidak mau terlihat lemah di hadapan orang lain. Chanyeol menghembuskan nafansya perlahan. Ia tidak habis pikir dengan kekeraskepalaan yeoja ini. Dia kedinginan dan Chanyeol sudah berbaik hati untuk menolongnya. Namun, sikap angkuhnya benar-benar mendarah daging dalam dirinya.
"Aku tidak butuh pertolonganmu." Lihatlah.. bibir mungilnya gemetaran. Bukankah ia sedang kedinginan saat ini? Ck! Kenapa yeoja ini masih mementingkan egonya dibandingkan kesehatannya? Kalau dia mengalami hiportemia disini, Chanyeol pasti disalahkan dan dicap sebagai namja yang jahat. Padahal, semua ini karena keegoisannya sendiri.
Chanyeol mengambil blazernya dan langsung menyampirkannya di pundak Baekhyun. Baekhyun berusaha menolak tetapi tangan Chanyeol menahannya untuk membuka blazer itu. Dengan jarak seperti ini, Baekhyun dapat merasakan hembusan nafas hangat dari Chanyeol. Entah kenapa Chanyeol sangat tampan kali ini. Mereka bertatapan beberapa detik sebelum Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol. Ia mengeratkan blazer milik Chanyeol sambil mengusap-ngusap tangannya. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain sambil menepuk-nepuk pipinya. Ia bergumam 'bodoh' beberapa kali pada dirinya sendiri. Akhirnya, Baekhyun memakai blazer sekolah Chanyeol dengan ekspresi kesal ( awalnya cuman disampirin di bahu Baekhyun ).
"Walaupun aku tidak ingin mengatakannya, terima kasih." Chanyeol berdecak kesal. Lihatlah tingkah lakunya. Bahkan untuk mengucapkan terima kasih saja sulit untuknya. Apakah orangtuanya tidak pernah mengajarkan sopan santun?
Blazer Chanyeol sangat besar sekali di tubuh Baekhyun. Jari-jari tangannya saja tidak terlihat dan blazer itu panjang sekali hingga rok mininya. Baekhyun terlihat manis dengan blazer Chanyeol. Bau parfum yang dipakai Chanyeol juga tercium oleh Baekhyun. Parfum ini mengingatkannya pada seseorang. Baekhyun tersenyum sedih. Senyumannya tertangkap oleh mata Chanyeol namun Chanyeol acuh tak acuh. Bukankah yeoja itu yang mengacuhkannya sejak tadi lalu untuk apa dia mempedulikannya? Tetapi, hati dan logikanya tidak mau berjalan di arah yang sama. Hatinya mengatakan untuk mendekatinya dan mengajaknya untuk berbicara tetapi logikanya sangat berkebalikan dengan hatinya.
"Kau tidak mengantuk? Tidurlah." Hanya ucapan itu yang keluar dari bibirnya. Chanyeol melangkah ke meja lain. Di perpustakaan ini terdapat dua meja besar dan dikelilingi oleh masing-masing empat kursi panjang. Ia harap satpam segera membukakan pintu perpustakaan ini agar ia tidak berlama-lama dengan Baekhyun. Sosoknya sangat misterius. Kasar dan dingin di satu sisi, tetapi di sisi lain ia memiliki kepribadian yang gelap sekali. Terlalu gelap untuk dijangkau. Mungkin itulah yang dapat dideskripsikan Chanyeol tentang Baekhyun.
Chanyeol menidurkan tubuhnya di atas kursi kayu yang keras tanpa ada bantalan sofa sama sekali. Punggungnya nyeri sekali saat ini tetapi ia mengalah pada Baekhyun. Ia membiarkan Baekhyun menggunakan kursi kayu yang setidaknya ada bantalan sofanya. Ia tidak bisa menyuruh seorang yeoja untuk tidur di atas kursi kayu yang keras. Ia bukan namja yang tidak berperikemanusiaan walaupun yang ia kasihani tidak memiliki sifat seperti manusia.
"Ck! Bantalnya tidak empuk. Aku tidak bisa tidur kalau begini!" Satu sifat lagi yang Chanyeol baru ketahui. Yeoja ini sangat manja. Mungkin ia terbiasa dengan kehidupan mewah.
"Jangan mengeluh. Sudah bagus kau tidur disana. Kau mau tidur disini tanpa bantalan sofanya?" Sindir Chanyeol. Baekhyun mempoutkan bibirnya. Ia berjalan ke arah kursi panjang. Akhirnya, ia merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang tersebut. Matanya perlahan menutup dan mulai menjelajah mimpi indahnya.
Chanyeol tidak bisa tidur dengan nyenyak. Matanya menutup lalu beberapa menit kemudian kembali terbuka. Kakinya terasa gatal untuk mendekati Baekhyun. Chanyeol memutuskan untuk berdiri dan merenggangkan otot-ototnya yang terasa nyeri. Walaupun ia hidup sangat sederhana, ia tidak pernah tidur di atas kayu yang keras seperti ini. Ia perlahan mendekati Baekhyun. Sekedar memastikan yeoja berandalan itu tertidur.
"Oh.. dia sudah tidur." Baekhyun tertidur dengan bantal tasnya. Tubuhnya meringkuk sehingga tubuhnya seperti trenggiling. Chanyeol menatap jendela yang terbuka lebar itu dan langsung mengarah ke arah Baekhyun.
"Ck! Pantas dia meringkuk." Gumamnya. Chanyeol mencoba menutup jendela itu dengan berbagai cara tetapi tidak berhasil. Akhirnya, ia duduk di dekat Baekhyun. Baekhyun bergerak sedikit lalu kembali tidur pulas. Chanyeol menggigit bibir bawahnya sendiri. Ia tengah mencari cara terbaik agar Baekhyun tidak kedinginan. Ia tidak memiliki perasaan apapun pada Baekhyun namun sesama manusia harus saling tolong menolong, bukan?
"Apa aku harus memeluknya?" Entah pikiran konyol apa yang merasuki otak Chanyeol, hanya ide itu yang terlintas di pikirannya. Dulu ketika Chanyeol sakit demam, ibunya memeluknya. Rasanya hangat sekali. Mungkin saja cara itu berguna untuk menyalurkan kehangatan. Chanyeol bergerak kaku ke arah Baekhyun. Ia meneguk ludahnya berat. Ini pertama kalinya dirinya memeluk seorang yeoja selain ibunya. Chanyeol melingkarkan tangan besarnya ke leher Baekhyun dan memeluknya perlahan.
"Nggh.." Chanyeol menutup matanya erat. Ia pikir Baekhyun terbangun dan memarahinya atau bahkan melakukan kekerasan padanya atau yang lebih parahnya lagi mengeluarkannya dari sekolah. Huhh~~ Chanyeol sangat bersyukur karena Baekhyun hanya menyamankan posisinya. Baekhyun merapatkan tubuhnya pada Chanyeol dan berhasil membuat pipi Chanyeol memerah. Chanyeol mengangkat tangannya ke arah Baekhyun dan mengusapnya perlahan. Ia tersenyum tipis lalu ikut tertidur di samping tubuh Baekhyun.
Sinar matahari pagi masuk ke jendela perpustakaan. Chanyeol mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke retinanya. Tangannya masih di leher Baekhyun dan badannya terasa pegal sekali karena duduk di samping Baekhyun ( jadi disini Baekhyun tidur di kursi panjang sedangkan Chanyeol tidur di samping Baekhyun. Seperti orang berlutut gaya tidurnya. Bisa bayangin rasa sakitnya kayak gimana😁 ) Kakinya kesemutan juga dan sulit digerakkan. Mungkin kakinya kedinginan karena lantai perpustakaan ini seperti es. Chanyeol memindahkan tangannya dengan hati-hati dan memaksakan kakinya untuk bergerak.
"Sial.. sakit sekali.." Chanyeol berjalan tertatih-tatih ke arah tasnya. Ia melirik jam tangannya dan tersenyum kecil. Pukul 07.00 pagi. Untunglah, hari ini sekolah libur jadi tidak akan ada yang tahu mengenai kejadian ini. Hanya satpam saja yang berjaga disini.
"Nggghh.." Suara lenguhan kecil terdengar dari seorang yeoja. Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya dengan lucu. Ia duduk dan celingukan kesana kemari mencari tasnya. Setelah berhasil menemukannya, ia meraba-raba mencari jam tangannya. Matanya membulat melihat jam tangannya. Spontan ia langsung merapikan rambutnya dan melangkah keluar perpustakaan.
"Hari ini libur, Babbo." Ucapan Chanyeol membuat Baekhyun berhenti bergerak. Ia menatap Chanyeol dengan tampang bodoh dan setengah mengantuk. Kalau dilihat-lihat memang Baekhyun ini sangat manis, batin Chanyeol."Aku tidak bodoh, Chanyeol!" Sepertinya Chanyeol harus menarik kembali pikirannya mengenai Baekhyun yang sempat terlintas tadi. Setelah Baekhyun mendapatkan kesadarannya sepenuhnya, Baekhyun kembali menjadi pribadinya yang menyebalkan. Ia menaruh kembali tasnya dengan kesal sambil menatap tajam Chanyeol yang tertawa.
"Jangan tertawa, namja bodoh!" Gertak Baekhyun. Ia mempoutkan bibirnya kesal sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Wajahnya memerah menahan malu. Heol.. tidak ada yang pernah mempermalukan Baekhyun sebelumnya. Tetapi untuk pertama kalinya, namja jangkung ini berhasil mempermalukan Baekhyun sampai seperti ini.
"Tidak tahu terima kasih!" Sindir Chanyeol. Ia membetulkan letak kacamatanya dan bergegas pergi meninggalkan Baekhyun. Baekhyun hampir saja melempar tasnya di kepala Chanyeol agar ia berhenti mengejeknya. Benar-benar namja yang menyebalkan.
"Oh ya.. blazernya?!" Baekhyun melepas blazer Chanyeol dan menatapnya horror. A-apakah ia harus mengembalikan ke namja itu? Bahkan Baekhyun benar-benar mengutuk takdir yang mempertemukannya dengan namja super duper menyebalkan.
"Nanti kusuruh Luhan saja." Baekhyun mengambil tasnya lalu keluar dari perpustakaan. Persetan dengan tugas seabrek. Bukankah dia bisa meminjamnya dari Luhan atau Kyungsoo? Asalkan tidak ketahuan guru bahwa ia mencontek. Awalnya, ia berencana mengerjakannya sendiri karena Luhan menolak untuk membantunya. Tetapi, ia yakin Luhan akan membantunya kali ini. Hanya dengan memasang wajah imut dan minta tolong, kan? Apa sulitnya untuk Baekhyun yang memang pandai beracting? Baekhyun mengibaskan rambut panjangnya dengan angkuh. Tidak ada yang bisa menandingi Baekhyun di sekolah ini.
Baekhyun mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian hangat. Ia menaruh asal blazer Chanyeol. Bahkan, Baekhyun ingin sekali membakar blazer itu di depan mata Chanyeol. Ia meminum coklat panas di beranda apartemennya. Udara musim dingin menerpa wajahnya dan sedikit membuatnya menggigil. Baekhyun tidak terlalu menghiraukannya dan tetap meminum coklat hangatnya.
"Kok aneh ya? Kenapa aku tidak kedinginan saat tidur di perpustakaan padahal jendela besar itu mengarah padaku? Tidak mungkin kan kalau Chanyeol..." Baekhyun menutup matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berpikir udaranya berubah tidak terlalu dingin atau sebagainya. Ia tidak mau berprasangka aneh-aneh. Pipinya saja merona merah ketika memikirkan hal yang aneh-aneh.
"Aishh... apa kau berharap Chanyeol memelukmu, Baek?" Monolognya. Baekhyun menepuk pipinya berkali-kali dan berusaha menghilangkan imajinasi anehnya terhadap namja bertelinga lebar itu. Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu beranda.
"Luhan belum datang juga?" Sebelumnya ia menelepon Luhan untuk datang kemari karena ia berencana menitipkan blazer Chanyeol. Ia tidak mengungkapkan tujuannya sebenarnya ( mengembalikan blazer ). Ia berdalih pada Luhan bahwa ia rindu pada Luhan dan alasan yang tidak masuk akal lainnya. Tetapi, Luhan tetap saja percaya. Ia tidak mau Luhan bertanya macam-macam mengenai blazer ini lewat telepon. Ia terlalu tahu mengenai sifat Luhan yang ingin mengetahui segalanya. Lebih baik ia menjelaskannya ketika Luhan berada di apartemennya. Baekhyun menghembuskan nafasnya kesal. Ia menaruh coklat hangatnya di atas meja dan mengambil ponselnya.
'Maaf, Baek. Sepertinya aku akan terlambat beberapa menit. Jalanan sangat macet.' Baekhyun mendengus sebal. Ia tebak bukan karena jalanannya yang macet tetapi acara kencannya dengan Sehun yang terlalu lama. Ketika Baekhyun menelepon Luhan 1 jam yang lalu, Baekhyun mendengar suara Sehun di sampingnya. Ia baru saja ingin membatalkan janjinya pada Luhan tetapi Luhan secepat kilat langsung mengiyakan janjinya dan mematikan telepon. Benar-benar menyebalkan dan seenaknya sendiri. Padahal, Baekhyun berbaik hati dengan tidak mau mengganggu kencan HunHan. Lihatlah sekarang... Orang yang mengiyakan janjinya terlambat datang.
"Aku bosan~~~~" Baekhyun mempoutkan bibirnya dengan kesal. Ia berjalan mondar mandir di dalam kamar seperti orang gila.
Tingtong.. tingtong..
Baekhyun berteriak girang mengira Luhan datang tetapi ternyata...
"Park Chanyeol?!" Baekhyun hampir saja memeluknya karena mengira dia adalah Luhan. Untung, Chanyeol menjauhkan dirinya tepat sebelum Baekhyun menangkap tubuhnya. Sepertinya ia trauma dengan kejadian Baekhyun yang mabuk itu. Chanyeol terlihat tampan dengan kaos dan celana jeans. Kemana kacamata tebalnya? Soflen hitam melekat di bola matanya. Tatanan rambutnya juga tidak berponi seperti biasanya. Rambutnya dinaikkan ke atas sehingga ia terlihat lebih seksi. Baekhyun menegukkan ludahnya berat. Benarkah ini Chanyeol si kutu buku itu?
"Sunbae, kembalikan blazerku! Jebalyo~~" Baekhyun mengutuk pikirannya yang berpikir Chanyeol sangat tampan dengan dandanan seperti itu. Sifatnya sama saja dengan kutu buku lainnya. Tetap penakut dan pemalu. Kecuali saat di perpustakaan itu. Chanyeol sangat berani padanya dan hal itu sangat menyebalkan.
"Oh.. kau telah menyadari kesalahanmu, ya? Kemana sikap sombong dan beranimu itu?" Ujar Baekhyun dengan sinis. Chanyeol menundukkan kepalanya dan langsung meminta maaf pada Baekhyun.
'Ah~~ dia bisa mengusir kebosananku sebentar. Hitung-hitung, memberi hukuman untuknya dan menunggu kedatangan Luhan.' Batin Baekhyun.
"Kalau kau mau blazermu, kau harus kuberi hukuman atas kelancanganmu." Baekhyun tertawa kemenangan. Sebaliknya, Chanyeol menatapnya dengan horror. Chanyeol mengutuk dirinya karena membalas semua perkataan Baekhyun di perpustakaan dengan tidak sopan. Ia baru menyadari ketika ia berjalan ke rumah. Ia baru sadar beasiswanya akan terancam kalau Baekhyun benar-benar marah padanya. Akhirnya dengan dalih meminta blazernya kembali, Chanyeol datang ke apartemen Baekhyun. Penampilannya juga sedikit ia rubah entah karena alasan apa.
"Hukuman apa, sunbae?" Baekhyun menyuruh Chanyeol masuk sambil menyeringai. Chanyeol masuk dengan kepala menunduk. Untuk kedua kalinya, ia masuk ke 'rumah singa' milik Baekhyun.
"Shin ahjumma pulang ke Busan kemarin. Jadi, apartemenku sangat berantakan. Tolong ya rapikan apartemenku sampai tidak ada debu." Ucap Baekhyun sambil tersenyum manis. Chanyeol melotot horror ke arah Baekhyun. Senyuman manisnya bagaikan senyuman annabelle yang mengarah padanya.
Baekhyun mengambil peralatan bersih-bersih dan memberikannya pada Chanyeol. Ia tersenyum menyeringai lalu masuk ke dalam kamarnya. Suara pintu dibanting menandakan awal penderitaan Chanyeol dimulai. Chanyeol menghembuskan nafasnya. Benarkah ini apartemen seorang yeoja? Baju kotor menumpuk. Meja ruang tamu berserakan camilan dan majalah wanita. Tempat sampah jangan ditanya lagi. Tumpukan bungkus ramyun menumpuk di sudut dapur. Piring-piring menumpuk di tempat cuci piring. Hanya dengan melihatnya Chanyeol merasa dirinya sudah sangat lelah.
"Chanyeol, Fighting!" Chanyeol mulai membersihkan apartemen Baekhyun mulai dari dapur. Ia membuang semua bungkus ramyun ke tempat sampah dan mengikat plastik sampah itu. Ia mencuci semua piring kotor dan menaruhnya kembali di tempat piring. Chanyeol mengusap keringat yang jatuh di pelipisnya.
Tangannya dengan cekatan menaruh plastik sampah di depan apartemen. Ia langsung melanjutkan dengan mengelap meja makan hingga bersih. Chanyeol tersenyum kecil saat melihat hasil kerjanya. Tidak sia-sia ia sering membantu ibu dan kakaknya.
"Chanyeol! Sudah selesai?" Chanyeol memberengut kesal mendengar teriakan Baekhyun. Ck! Yeoja menyebalkan! Chanyeol membalas teriakan Baekhyun tak kalah kencang. Terdengar suara dengusan sebal dari bibir mungil Baekhyun. Chanyeol terkikik geli dengan dengusan yeoja itu.
Chanyeol melanjutkan pekerjaannya di ruang tamu. Ia membuang bungkus camilan ke tempat sampah dan merapikan majalah. Aish.. ia lelah sekali. TV yang menyala juga ia matikan. Suara vacuum cleaner memenuhi ruang tamu. Jendela dekat ruang tamu juga ia bersihkan dan dilap hingga mengkilat. Sebuah bingkai foto yang dibalik menarik perhatian Chanyeol. Ia mengambil foto itu dan membersihkan debu yang menutupi foto itu.
"Ini Baekhyun sunbae dan keluarganya ya? Kenapa dibalik foto ini? Harusnya kan dipajang dengan cantik." Gumam Chanyeol. Baekhyun kecil terlihat cantik dengan dress putih dan senyumnya yang sangat manis. Mungkin ini eomma dan appanya, batin Chanyeol.
"Ya! Apa yang kau lakukan!" Baekhyun mendatangi Chanyeol dan langsung merebut foto itu. Ia menatap tajam Chanyeol sambil menaruh kembali foto itu dalam keadaan terbalik. Pada saat itu, Baekhyun baru saja selesai mandi. Ketika ia keluar kamar, Chanyeol sedang memegang foto keluarganya. Bagaimana ia tidak kesal? Selama ini hanya Luhan yang tahu tentang keluarganya, ia tidak mau ada orang lain yang mengetahui tentang keluarganya. Apalagi mengenai kisah kelam keluarganya.
Chanyeol menundukkan kepalanya dengan pipi merona. Bagaimana tidak? Baekhyun menggerai rambutnya yang basah dan memakai kaos tipis berwarna putih. Tidak lupa dengan hotpants yang memamerkan paha mulusnya. Chanyeol juga namja yang memiliki pikiran 20+. Mati-matian Chanyeol menenangkan jantungnya yang berdebar dan kakinya yang gemetar.
"Ck! Jangan sentuh barang pribadiku, bodoh. Cepatlah! Lihatlah itu, bantal sofa masih berantakan dan uhuk.. uhuk.. ini masih banyak debu. Lantai masih lengket juga. Tidak becus." Jawab Baekhyun berpura-pura batuk. Ia mengibaskan rambut panjangnya ke arah Chanyeol lalu masuk ke dapur. Chanyeol menghembuskan nafasnya lega. Setidaknya ia tidak perlu lama-lama berdekatan dengan Baekhyun.
"Sabar, Chanyeol." Chanyeol mulai membersihkan semua yang diperintah Baekhyun. Ia berharap Baekhyun langsung masuk ke kamar, tetapi perkiraannya salah. Baekhyun duduk dengan menaikkan kaki di atas meja. Chanyeol meneguk ludahnya berat ketika tatapannya tak sengaja bertemu Baekhyun. Tatapan Baekhyun seperti seseorang yang akan membunuhnya jika ia melakukan kesalahan.
Baekhyun sepertinya tidak tanggung-tanggung mengerjai Chanyeol. Ia sengaja menjatuhkan camilan dan menyuruh Chanyeol membersihkannya. Bantal sofa yang sudah dirapikan Chanyeol juga dibuat berantakan oleh Baekhyun. Baekhyun juga menyalakan pemanas dengan suhu tinggi sehingga membuat Chanyeol berkeringat lebih. Suara kikikan geli membuat Chanyeol ingin sekali melempar Baekhyun ke Sungai Han. Ia menghembuskan nafasnya kesal setiap kali Baekhyun berulah. Yeoja setan!
"Sepertinya hukumanmu cukup sampai disini. Kau termasuk siswa yang sangat beruntung karena aku tidak mengeluarkanmu dari sekolah walaupun kau bertingkah kurang ajar." Ucap Baekhyun. Chanyeol membungkuk dan mengucapkan terima kasih walaupun hatinya sangat dongkol pada yeoja setan ini.
Tingtong..tingtong..
Mata Baekhyun membulat. Luhan datang. Ia langsung mendorong Chanyeol ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
"Jangan keluar kalau aku tidak suruh. Arraseo?" Chanyeol mengangguk. Baekhyun menutup pintu kamar mandi dan dikunci dari luar. Ia berlari ke arah pintu dan membukakan pintu untuk Luhan.
"Lama sekali. Apa sih yang kau lakukan?" Ucap Luhan sebal. Luhan menyerahkan sekotak kue pada Baekhyun dan langsung melenggang masuk.
"Apartemenmu baru dibersihkan ya? Bau harumnya masih terasa. Shin ahjumma mana?" Baekhyun menaruh kotak kue di dapur dan tidak menjawab pertanyaan Luhan. Ia memotong kue tersebut menjadi beberapa bagian lalu membawanya ke ruang tamu.
"Dia ke busan." Luhan mengangguk-angguk. Ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Mungkin sedang bertukar pesan dengan Sehun.
"Oh ya untuk apa kau menyuruhku datang kemari? Memamerkan apartemenmu yang bersih ini?" Baekhyun menggigit bibir bawahnya sendiri. Ia bingung mau memberi alasan apa. Chanyeol sedang ada disini dan pastinya dia akan mengambil blazer itu sendiri. Jadi, untuk apa Luhan datang? Bukankah tujuan awal Luhan datang karena Baekhyun berencana menitipkan blazer Chanyeol?
"Ahh iya.. iya.. Prom Night.. aku membicarakan Prom Night nanti malam." Baekhyun kembali menggigit bibir bawahnya sendiri dengan gugup. Baekhyun merutuki ucapan bodohnya pada Luhan. Tatapan Luhan yang curiga terhadapnya, membuat Baekhyun berkeringat dingin.
"Apa kau tidak sakit, Baek? Kau selalu menolak untuk datang setiap Prom Night diadakan di sekolah. Kemana Baekhyun yang menolak untuk datang saat itu? Akhirnya kau tertarik juga pada Prom Night." Luhan tersenyum hangat dan hal itu membuat Baekhyun sedikit lega.
Setiap tahun sekolah mereka mengadakan Prom Night sebagai kebiasaan untuk menyambut siswa baru kelas X. Prom Night ini mengharuskan para siswa untuk datang berpasangan ( namja dan yeoja ). Hal ini dimaksudkan agar anak kelas X lebih cepat berbaur walaupun kadang-kadang menjadi 'ajang pencarian jodoh'. Baekhyun selalu menolak kalau diajak ke Prom Night. Walaupun banyak sekali yang mengajaknya untuk datang ke Prom Night, ia selalu menolaknya dengan dingin. Bergandengan masuk bersama namja/yeoja yang bahkan kadang tidak dikenal saat Prom Night itu sangat menjijikkan menurut Baekhyun. Semua hanya formalitas untuk menyemarakkan malam Prom Night yang diadakan satu tahun sekali. Kecuali untuk mereka yang berpacaran. Prom Night adalah malam yang indah bagi mereka yang telah memiliki namjachingu atau yeojachingu. Saling berbagi kemesraan tanpa ada yang melarang.
"Memang kau memiliki pasangan?" Skakmat. Baekhyun tidak memikirkan hal itu. Siapa yang menjadi pasangannya? Ia tidak bisa memilih sembarang namja untuk datang bersamanya di Prom Night.
"Sepertinya kau belum memiliki pasangan. Oleh karena itu, kau menyuruhku datang." Luhan menjentikkan jarinya karena berhasil menemukan penyebab Baekhyun memanggilnya.
"Lebih baik kau memilih saja namja yang ingin kau ajak ke Prom Night." Ucap Luhan. Baekhyun mendengus sebal. Bukannya memberi solusi, Luhan malah memberikan masalah baru. Sejauh mata Baekhyun memandang, tidak ada namja yang menarik di matanya. Itu permasalahannya.
"Kau datang bersama Chanyeol saja? Bagaimana? Ide bagus, kan?" Baekhyun menatap Luhan dengan horror. D-datang bersama Chanyeol? Itu semua mimpi buruk. Baekhyun langsung menolak mentah-mentah usul dari Luhan.
"Lalu siapa yang kau ajak ke Prom Night? Sudahlah Chanyeol saja. Tunggu, aku akan meneleponnya." Luhan memencet nomor telepon Chanyeol. Suara dering telepon terdengar dari kamar mandi Baekhyun. Luhan mematikan telepon dan menatap Baekhyun dengan curiga. Baekhyun menundukkan kepalanya.
"Chanyeol disini?" Baekhyun mengangkat wajahnya dan mengangguk pasrah. Ia berdiri dan membukakan pintu kamar mandi. Chanyeol keluar dengan wajah kusut. Sepertinya ia akan dimarahi Baekhyun, batinnya.
"Sudahlah, kalian berdua datang saja ke Prom Night. Kalian serasi!" Baekhyun hendak protes namun tatapan Luhan menyuruhnya untuk diam. Chanyeol juga ikut menundukkan kepalanya.
"Kalau kau tak mau dengan Chanyeol, akan kusebarkan ke seluruh sekolah kalau kau berhubungan intim dengan Chanyeol." Baekhyun dan Chanyeol menatap Luhan dengan horror. Berhubungan intim? Bahkan sejak tadi, Baekhyun dan Chanyeol tidak saling berdekatan dalam jarak 1 meter. Baekhyun yang meminta Chanyeol menjauhi dirinya dalam radius 1 meter. Bagaimana bisa berhubungan intim?
"Kami tidak berhubungan intim, Lu. Aish.. aku saja tidak mau berdekatan dengannya." Baekhyun mempoutkan bibirnya kesal.
Ckrek..
"Foto ini bisa menjadi bukti kalau kalian melakukan hubungan intim." Baekhyun menatap Luhan dengan pandangan 'darimananya?'
"Baek, bajumu itu sangat tipis hingga dalamanmu saja hampir kelihatan dan baju Chanyeol juga berkeringat basah seperti itu. Sekilas, orang lain akan berpikir kalian melakukan hubungan intim. Untunglah aku sahabat yang sangat baik ke kalian. Persyaratanku kan tidak susah. Datanglah ke Prom Night bersama Chanyeol dan foto ini akan langsung lenyap. Mengerti?" Sahabat baik kepalamu itu, Batin Baekhyun. Ia dan Chanyeol langsung melihat baju masing-masing. Semua perkataan Luhan benar. Baju mereka seperti baju setelah melakukan.. err.. begitulah..
"Ne, aku akan datang dengan Chanyeol." Ucap Baekhyun pasrah. Luhan tersenyum kemenangan dan dari sinar matanya terpancar 'I Got You, Baek.'
"Berpenampilan yang anggun, Baek. Chanyeol, kau harus terlihat tampan. Jangan mempermalukan sahabatku ini." Luhan tersenyum manis sambil menatap mereka berdua.
'Oh.. sepertinya penderitaanku akan terus berlanjut' -Chanyeol
'Kenapa harus dengan orang ini? Tidak adakah namja yang lebih baik darinya? Mau ditaruh mana harga diriku?' -Baekhyun
TBC
