Burung dalam sangkar tak akan pernah bisa terbang lagi dengan bebas…

Sekalipun dapat terbang, burung putih tersebut hanya akan bernasib malang…

.

.

Seekor burung putih dalam sangkar selalu menatap ke arah langit. Mata biru burung itu berharap untuk dapat terbang di langitnya biru…

Suatu ketika, sang pemilik lupa mengunci sangkar, lalu, sang burung mengepakkan sayapnya dan melesat terbang…

Namun hanya sebentar saja dia merasakan enaknya terbang di langit.

Karena di tengah perjalanan terbangnya, burung itu, dilukai oleh sang elang, membuat sang burung terjatuh sampai ke jurang…

Membuat sang burung kehilangan sesuatu yang merupakan identitasnya sebagai seorang burung… sesuatu yang merupakan benda berharganya…

Burung putih yang malang itu, kehilangan kedua sayapnya….


.

.

Lost Wing

By : Fuyu-yuki-shiro

.

.

Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

Pairing : Sasufemnaru

.

.

Warning: OOC, GaJe, romance, hurt/comfort, Naruto POV, dll

.

.

A/n : Italic itu buat kata-kata asing dan masa lalu ya? Trus OOOoooOOO itu merupakan tanda pergantian POV. Kalo gak ada pemberitahuan berarti kembali ke Naruto POV.

Ja.. Reading happy.. (?)


.

Normal POV

Dengan nafas terengah-engah, Naruto memasuki rumahnya. Tubuhnya gemetaran. Dia luruh tepat saat pintu rumahnya tertutup oleh tubuhnya. Tubuhnya gemetar hebat. Air matanya sudah hampir keluar, bibirnya yang mungil bergetar. Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri, berupaya menenangkan dirinya, berupaya untuk menghilangkan bayangan itu dari pikirannya saat ini.

Namun sia-sia…

Dia sudah kotor! Dia sudah tak pantas lagi untuk dicintai! Dia sudah tak pantas lagi untuk seorang Uchiha Sasuke!

Tak pantas…

Sedalam apapun rasa sayangnya pada pemuda itu, seberapapun tubuhnya menginginkan pelukan hangat pemuda berambut raven itu, tapi Naruto tak boleh bersama Uchiha Sasuke.

Tak boleh…

Karena dia berbeda dengan yang dulu…

Berbeda dengan dirinya Sembilan tahun yang lalu, saat pertama bertemu dengannya

Berbeda dengan dirinya lima tahun yang lalu, saat dirinya harus berpisah dengan pemuda itu.

Berbeda…

"Jangan sensei… kumohon jangan! Kumohon! Akh…"

Naruto memejamkan rapat-rapat matanya,

"Sensei…Akh… Ku…mohon…"

Naruto menutup telinganya rapat-rapat. Dia masih bisa merasakannya, masih bisa merasakannya…

Pipinya masih ingat hangatnya air mata yang keluar saat itu…

"Hiks..hiks…."

Naruto tahu, Naruto tahu… perbuatannya saat ini hanya akan menambah penderitaannya, menambah bebannya, menambah penghinaan atas kekotoran dirinya….

Penyesalan atas sesuatu yang hilang darinya, terenggut dengan paksa, namun itu menjadi awal jalannya menuju kekotoran yang sangat pekat….

"Suke…suke… hiks…hiks… Tasu…"

Tidak! Tidak! Jangan katakan itu! Jangan katakan kata yang akan meruntuhkan dirinya! Jangan katakan segala hal yang menggoyahkannya saat ini. Jangan katakan hal itu atau dirinya akan langsung berantakan tanpa sisa….

.

.

Sasuke berjalan tak tentu arah, otaknya kosong, hatinya pun tak kalah kosongnya dengan otaknya sekarang. Entah apa yang dirasakannya sekarang.

Kecewa?

Sedih?

Marah?

Terluka?

Sungguh dia tak mengerti. Narutonya berubah. Sasuke tahu itu. Mata biru yang amat disukai Sasuke tidak seindah dulu. Redup tanpa cahaya. Membuat Sasuke sedih, membuat Sasuke terluka karena dia tidak dapat membantu Narutonya, tak dapat membantu Mentarinya.

Sasuke menendang kaleng yang ada di depan kaki kirinya, membuat suara khas kaleng yang membuat orang di sana menatapnya, namun Sasuke tak peduli. Dia masih sibuk dengan pikirannya, dia masih sibuk dengan langkahnya. Dia masih sibuk dengan dirinya sampai sesuatu yang keras mengenai wajahnya.

Serangan dari depan, eh?

Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya. di hadapannya berdiri tiga orang yang kemarin-kemarin dihajarnya. Hah… Sasuke mendengus kesal. Bagus… setidaknya, ada sebuah kegiatan yang akan menyalurkan rasa yang ada di hatinya saat ini!


OOoooOO


Aku berjalan dengan tatapan hampa. Lengkap dengan pakaian kerjaku. Ya… pakaian kerjaku adalah seragam sekolahku juga.

Entah kenapa, penjual diri yang menggunakan seragam sekolah lebih diminati. Benar. Lebih diminati.

Ah, aku tak tahu apa asal mulanya sehingga aku menjalani kehidupan malam seperti ini. Semenjak ayah meninggal, ibu jadi sibuk bekerja. Jadi jarang dirumah dan dia jadi jarang tersenyum padaku.

Akh, dia bahkan jarang melihat ke arahku jika dia sedang di rumah. Karena aku mirip dengan ayahku.

Mata blue sapphire, rambut pirang, wajah juga mirip…

Mungkin, jika aku seorang lelaki, aku bisa dibilang sebagai reinkarnasinya.

BRUK!

Mataku terbelalak ketika melihat seorang lelaki berambut raven berjalan terhuyung beberapa meter dari tempatku berdiri sebelum akhirnya dia jatuh. Melihat itu aku segera menghampirinya. Aku segera menidurkan kepalanya di pangkuanku.

"Hei… Sasuke…Hei… Kau tak apa? Sasuke? Oi teme… jawab aku…" teriakku panic sambil memukul-mukul pipinya bergantian. Tapi Sasuke tak bergerak. Mataku memanas lagi, tenggorokanku sakit.

"Suke teme… jangan tinggalkan aku lagi… hiks…," ucapku lirih, air mataku kembali mengalir. Setitiki dua titik, air mataku jatuh ke pipinya.

Tidak!

Aku tidak mau kehilangannya!

Tidak mau!

Kemudian, kurasakan lengannya menarik tubuhku mendekatinya,

Dia membenamkan diriku di dadanya yang bidang…

Hangat….


OOOoooOOO


Sasuke POV

Aku tak menyangka aku akan kalah,

Mereka bertiga berhasil melukai diriku sampai babak belur. Pandanganku mengabur saat aku tetap memaksakan diriku untuk berjalan meski dengan limbung. Dan selama dalam perjalanan, tidak ada yang membantuku sama sekali.

Baguslah, disini benar-benar area untuk lebih memikirkan dirinya sendiri ketimbang memperhatikan orang .. aku merasa kepalaku berat. Tubuhku sudah tak bisa dipaksakan untuk berjalan lagi. Aku merasa pemandangan di depanku berubah miring dan aku merasa kepalaku menyentuh sesuatu benda keras.

.

.

Aku mengenalnya saat usiaku enam tahun. Namikaze Naruto, nama bocah perempuan itu. Rambut pirang sebahunya diikat dua. Mata blue sapphire miliknya berbinar-binar ceria. Kulitnya agak kecoklatan dan tingginya sama denganku,

Dia yang pertamakali menyapaku, saat itu –bahkan sampai sekarang – aku tidak terlalu dekat dengan orang lain. Wajahku yang tanpa ekspresi ini memang sudah dari lahir kudapat, tak bisa ditolak. Tapi orang lain tak bisa menerima itu.

Lalu, suatu hari, ketika waktu pulang dari TK, dia mengintaiku dengan terang-terangan. Setengah badannya tersembunyi di balik pintu. Setengah badannya lagi menatapku dengan malu-malu. Aku mendekatinya.

"Ada apa?" tanyaku terkesan kasar dan simple. Dia hanya menggeleng-geleng malu kemudian dia tersenyum. Senyum seperti mentari pagi.

.

.

"Hei… Sasuke…Hei… Kau tak apa? Sasuke?...

Siapa? Siapa yang memanggilku?

… Oi teme… jawab aku…"

Sepertinya dia khawatir. Sepertinya dia panic. Suara siapa?

Ah, bukan suara siapa, karena Aku kenal suara itu. Aku bahkan rindu panggilan itu.

"Suke teme… jangan tinggalkan aku lagi… hiks…."

Dia menangis, jangan… jangan menangis.

Kemudian, ketika kesadaranku kembali, setidaknya seperempatnya, tanganku langsung terjulur meraihnya. Membenamkan wajahnya di dadaku.

"Aku rindu padamu dobe," ucapku lirih. Kurasakan dadaku basah. Ah, dia menangis. Apa dia kini sedang berubah menjadi gadis cengeng? Aku tersenyum simpul. Terselip kebahagiaan di dadaku. Apalagi ketika dia bergumam lirih…

"Aku juga… teme…," ucapnya amat lirih.

Saat itu, rasa sakit di sekujur tubuhku sudah tak terasa lagi.


OOOoooOOO


Normal POV

"Teme… ayo main!" ucap seorang gadis berusia sekitar delapan tahun menghampiri seorang lelaki yang sebaya dengannya sedang menulis sesuatu. Sasuke, nama bocah lelaki itu hanya memasang tampang datar saat menatap temannya itu.

"Kau tak lihat aku sedang apa?" tanyanya sinis.

"Sedang apa memang?" Tanya gadis itu sambil sedikit memiringkan kepalanya, menggemaskan.

"Dasar dobe!" hanya itu yang dibalas Sasuke kepada temannya, Naruto yang langsung mengembungkan pipinya. "Aku sedang mengerjakan tugas musim panasku, kau sudah mengerjakan tugasmu belum?" tanyanya sambil tetap mengarahkan pandangannya pada bukunya.

"Tugas musim panas? Tentu saja belum," ucap Naruto dengan nada bangga, seolah dia telah melakukan hal yang baik.

"Dan kau dengan bangga mengatakan bahwa kau belum mengerjakan sama sekali tugas musim panasmu?" Tanya Sasuke heran. "Bagus," sindirnya.

"Hei, kita itu harus bangga pada apa yang kita perbuat bukan? Selama kita tidak terbebani dengan apa yang dilakukan oleh kita, sah-sah saja kita bangga atas setiap perbuatan yang kita kerjakan bukan?" ucap Naruto entah pemikiran dari mana. Sasuke hanya menghela nafas. Percuma berdebat dengan gadis satu ini. Sifat keras kepalanya membuat dirinya tak terima jika harus kalah debat, dan logika-logika di luar logika (?) pun meluncur keluar dari mulutnya.

"Maka dari itu aku sebut kau bodoh!"

.


.

"Sudahlah Naruto, jangan menangis lagi…," ucap Sasuke sambil mengelus pelan rambut gadis yang kini menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Otousan… aku tak akan pernah bertemu lagi dengan otousan kan? Kenapa otousan harus pergi? Hiks.. aku..tidak mengerti…,"

Gyut!

Naruto merasa seseorang memeluk tubuhnya dari samping. Sasuke yang memeluknya. Pelukan untuk menenangkan, pelukan untuk berbagi sedikit saja kebahagiaan kepada Naruto. Naruto menggenggam lengan kiri lelaki itu, kemudian menangis dengan deras.

.


.

"Naruto!" Sasuke berlari mengejar mobil yang ada di depannya. Dari jendela mobil, dia dapat melihat Naruto tengah menatapnya dengan sedih. Bocah perempuan itu mengatakan untuk berhenti mengejar mobil yang ditumpanginya namun Sasuke tak peduli. Dia tak menghiraukan kata-kata Naruto.

Jika ia berhenti berlari mengejar mobil hitam di mana Naruto ada di dalamnya, apakah dia akan bertemu lagi dengan mentarinya itu? Tidak akan! Tidak akan bisa bertemu lagi. Sasuke paham itu.

Dan dia tak ingin jika harus tak bertemu lagi dengan mentarinya.

"Naruto!" teriaknya lagi, menambah kecepatan. Namun mobil itu lebih cepat darinya. Melesat, malah menambah kecepatan dan dalam beberapa detik menghilang dari si kecil Sasuke. Meninggalkan Sasuke dengan muka merah karena kehabisan nafas. Nafasnya terengah-engah. Tenggorokannya terasa terbakar sekarang. Lututnya gemetar. Keringat bercucuran. Sekitar sepuluh menit dia mengejar mobil itu, namun hasilnya sia-sia.

Mentarinya pergi begitu saja. Meninggalkannya dalam gelap…

.


.

Sembari meringis,kelopak mata yang menyembunyikan mata hitam itu terbuka. Kemudian, mata onix dari pemuda bermarga uchiha itu menangkap pemandangan langit-langit kamar yang dikenalinya sebagai kamarnya. Menyadari itu membuatnya segera bangkit dari posisi tidurnya, menyebabkan dirinya disengat rasa sakit akibat perkelahian beberapa waktu lalu. Sasuke meringis.

"Hei, Sasuke, tidak seharusnya kau bangun dulu,"ucap seorang pemuda yang langsung menghampiri Sasuke.

"Sai?" ucap Sasuke ketika pemuda itu menghampirinya. Sai mengangguk dengan senyumnya, "Naruto?" Tanya Sasuke lagi, agak bingung. Sai menghela nafasnya.

"Kau itu pingsan selama enam jam dan ketika kau terbangun yang kau ingat adalah Naru-chan? Kau bahkan tidak mengucapkan terima kasih pada aku yang dengan susah payah mengobati dan membawamu ke kamarmu sendiri?"

"…."

"Kau tahu kalau kau itu sangat berat?"

"Tidak dan terima kasih sudah memberi tahu!" potong Sasuke cepat sebelum Sai, yang sekilas mirip dengannya mulai mengoceh kembali.

"Sama-sama dan terima kasih sudah memotong perkataanku," sahut Sai dengan senyumnya namun jelas sekali auranya mengatakan bahwa dia sangat kesal pada rekannya ini. Sasuke mendengus.

"Jadi?"

"Jadi apa?"

"Di mana Naruto?"

"Entahlah…," sahut Sai santai, membuat darah Sasuke sedikit bergejolak. Menyadari itu Sai melanjutkan, "Begitu aku menghampirimu, gadis pujaanmu itu langsung pergi, hei… bukannya kau saat itu menahan kepergiannya? Kau tak ingat?"

"…."

"Hah… Baiklah. Kan kuceritakan kejadian sekitar enam jam yang lalu. Kau tahu, aku mendapat kabar dari Konohamaru kalau dia melihatmu berkelahi di gang sempit, tempat biasa kau nongkrong dan sepertinya kau dalam keadaan terdesak. Maka dari itu aku langsung ke gang dan tidak mendapatimu, karena aku takut kau terjadi apa-apa maka aku mencarimu – setelah aku menghajar mereka bertiga dalam lima menit – dan menemukanmu tengah dipeluk oleh seorang gadis berseragam sekolah elit putri di konoha. Lalu…

Flash Back : ON

"Sasuke!" teriakan Sai membuat Naruto mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Sai yang kini berada di hadapannya. Air mata yang keluar dihapusnya kemudian dia menatap galak ke arah Sai.

"Siapa Kau?" tanyanya membuat Sai yang tadi panic dengan nafas terengah-engah menormalkan kembali wajah pucatnya menjadi wajahnya yang biasa, penuh senyuman.

"Aku Sai, partner Sasuke," ucap Sai kemudian berjongkok untuk meraih Sasuke. Kini tubuh Sasuke bersandar pada pundak Sai. *author : KYA!* "kau… Naru-chan kan?"

"Dari mana kau tahu?" Tanyanya bingung. Senyum Sai makin lebar.

"Tahu saja," ucapnya. Naruto hanya ber "Oh" ria. tak niat meladeni kemudian dia berdiri.

"Aku sudah tidak diperlukan lagi, aku pergi," ucap Naruto lagi kemudian beranjak pergi namun lengannya tiba-tiba di sentuh oleh seseorang. Naruto tak perlu berbalik untuk melihat siapa yang menyentuhnya.

"Jangan… pergi… kumohon…," pintanya sambil terengah-engah. Naruto tak bergerak.

"Lepaskan aku Sasuke," ucap Naruto dingin. Dari pundaknya yang bergetar, Sai tahu bahwa gadis dihadapannya tengah menahan tangisnya.

"Kau bilang kau rindu padaku kan?" ucapnya sambil tetap menggenggam erat lengan Naruto. kelihatan sekali tidak ingin gadis pujaannya pergi.

"Aku tidak pernah mengatakannya, kau hanya mimpi!" ucapnya kemudian melepas paksa cengkraman itu dan berhasil. Sasuke sedang dalam keadaan setengah hidup, ingat?

"Naru…," Sasuke tak bisa berkata lagi karena kemudian kesadarannya hilang sama sekali.

Flash back : Off

…Begitulah," cerita Sai. Sasuke terdiam. Kemudian menyentuh pipi kirinya yang lebam.

"Aku… merasakan dia menangis," ucapnya.

"Lalu?"

"Aku akan membuatnya berhenti menangis," ucap Sasuke mantap.


TBC


Author : "Ya! Cut!"

Sasuke : "Hah… akhirnya seleSai juga,"

Sai : "Akhirnya aku muncul juga," *dengan senyum khasnya*

Author : "Kya! Ada Sai… hehehe…"

Naruto : "Hah… aku capek menangis…." *lepas wig*

Author : "wah.. maaf Naru-chan… sebaiknya kalian balas review ya," *ngasih berkas review sambil peluk Naruto*

Sasuke : *chidori Author terus narik Naruto ke tempat yang aman*

Naruto : "Uh.. em.. baiklah… pertama dari superol… Sembarangan! Yang harusnya dikasihani disini itu aku! Bukan si teme itu. Dan aku tidak kerja sebagai cewek panggilan, aku hanya menerima telepon dari om-om dan tidur dengannya, hanya itu!"

Author : *sweatdrop* "Ano… Naru-chan.. yang itu tuh namanya cewek panggilan"

Naruto : "…. APA?" *membatu*

Sasuke : "Naruto!" *menatap horror*

Sai : "Ok, review selanjutnya dari KyouyaxCloud, Hem… gak bakalan bilang, tapi bisa berfikir sendirilah, kalau terang-terangan bilang di depan Sasuke bisa-bisa di chidorii Sasuke *sambil bisik-bisik* kemudian dari CCloveRuki, nih dah update, wah… banyak banget yang bilang Sasuke di sini terlalu OOC? Gimana nih author?"

Author : *Sibuk mikir* "Yups, gimana dengan chap ini? Apakah Sasuke masih over OOC?"

Sasuke : *ngerebut kertas review* "Next dari NaruDobeListachan, aku bukannya diem aja, aku kan gak tahu, ingat, aku pisah dengannya lima tahun! " *emosi dan hamper pake Sharingan*

Author : "O…Oke… sebaiknya kita tutup acara ini, Jaa minna, review?"

.

R

E

V

I

E

W

?