Cloud mempercepat laju motor nya sesudah meninggalkan rumah Tifa.. Dulu, ia pernah jatuh cinta pada Tifa dan kini ia mulai kembali merasakan nya. Perasaan nya pada Tifa bagaikan api yang hampir padam dan tinggal menyisakan riak bunga api kecil kini kembali membara.

Sejak dulu, Cloud sangat peduli pada Tifa. Bahkan, alasan nya untuk menjadi anggota SOLDIER tak hanya karena ingin mengikuti jejak Sephiroth, sang jenderal perang hebat. Alasan utama nya ialah ia ingin menjadi kuat sehingga ia akan terlihat keren dan Tifa akan mengagumi nya.

Tifa mungkin benar-benar lupa, namun Cloud masih mengingat ucapan Tifa yang benar-benar mengubah hidup nya.

- Tiga belas tahun lalu, desa Nibelheim-

"Okaa-san, aku pergi dulu, ya.", ucap seorang anak laki-laki bersurai pirang spiky pada ibu nya yang sedang memasak untuk makan siang.

"Kemana kau akan pergi, Cloud ?"

"Sumur desa, Tifa menungguku disana."

"Pergilah, namun kau harus kembali sebelum pukul lima sore."

Cloud melambaikan tangan dan berlari meninggalkan rumah. Ia begitu bersemangat menemui Tifa dan kini ia menemukan Tifa yang sedang terduduk di pinggir sumur.

"Hey, Cloud", sapa Tifa sambil mengalihkan pandangan dari koran yang dibaca nya.

"Apa yang sedang kau baca ?", tanya Cloud sambil duduk di samping Tifa.

"Lihat ini.", Tifa tanpa sengaja menunjuk foto seorang pria muda bersurai silver panjang. "Keren sekali, usia nya baru enam belas tahun, namun sudah menjadi SOLDIER 1st class."

Cloud menatap foto pria berusia enam belas tahun itu. Wajah pria itu terlihat muda bagaikan remaja pada umum nya, namun tubuh nya terbentuk sempurna dan hanya dengan melihat foto pria itu dapat menunjukkan kekuatan menakjubkan yang dimiliki pria itu.

"Kudengar, dia juga menjalankan berbagai misi-misi berbahaya dan bahkan ikut dalam perang.", ucap Cloud.

"Keren sekali, ya ? Wajah nya juga tampan.", ucap Tifa sambil tertawa dan tersipu-sipu. Ucapan Tifa terdengar terlalu dewasa bagi gadis berusia delapan tahun, namun juga tidak aneh bila seorang gadis kecil tertarik dengan seorang pria yang lebih tua dalam batasan fans. "Kalau aku sudah dewasa nanti, aku ingin memiliki kekasih seperti Sephiroth-sama."

"Kenapa ? Kau bahkan tidak mengenal nya.", jawab Cloud dengan datar. Sekilas, ucapan nya terdengar sinis dan ia bagaikan sedang cemburu, namun ia tak mengerti mengapa seorang gadis ingin menjadi kekasih orang yang bahkan tak dikenal nya.

"Aku ingin memiliki kekasih yang tampan dan kuat bagaikan pangeran di negeri dongeng. Pasti Sephiroth-sama bisa melindungiku bila ada orang jahat yang ingin melukaiku.", ucap Tifa dengan nada kekanak-kanakan. "Kira-kira Sephiroth-sama aslinya seperti apa ya ? Apakah sama dengan di foto ?"

"Mana kutahu. Aku juga tak pernah bertemu dengan nya."

Tifa tersenyum dan kembali memandang foto itu. Cloud menatap foto itu sesaat dan memilih untuk tak mengatakan apapun. Kini, ia seolah merasa tertantang untuk menjadi lebih kuat dan dapat menjadi seperti Sephiroth.

"Tifa, kalau suatu saat nanti aku menjadi SOLDIER 1st class seperti Sephiroth apakah aku juga terlihat keren ?", tanya Cloud pada Tifa.

"Kau berbeda dengan Sephiroth-sama sih.", ucap Tifa.

"Kalau begitu, aku akan berusaha agar menjadi kuat seperti Sephiroth. Lalu, aku juga berharap dapat menjadi tampan seperti dia.", ucap Cloud dengan lugu.

Tifa menatap Cloud dengan tatapan berbinar-binar. Ia langsung memeluk Cloud dan berkata, "Saat itu aku pasti merasa sangat bangga dan dapat mempamerkan pada teman-teman karena memiliki sahabat yang tampan kuat dan keren seperti Sephiroth."

"Kau janji akan berubah menjadi seperti Sephiroth, kan ?", tanya Tifa dengan antusias dan memberikan jari kelingking.

"Aku janji.", Cloud mengeratkan jari kelingking nya pada kelingking Tifa.

-End of Flashback-

"Hahaha…", Cloud tertawa sambil memacu motor nya dengan kecepatan tinggi. Ia tak dapat berhenti tertawa saat tanpa sengaja mengingat kekonyolan masa kecil nya setelah bertemu dengan Tifa kembali.

Saat itu ia benar-benar lugu dan naïf, begitupun dengan Tifa. Cloud tertawa tak hanya karena ia merasa begitu polos dan dungu tanpa mengerti bahwa menjadi kuat dan tampan seperti Sephiroth sangatlah tidak mungkin.

Tak hanya itu, Cloud juga tertawa ironi, tertawa pahir pada diri nya sendiri. Kini, ia tak mungkin lagi menjadi SOLDIER 1st class dan jenderal perang bagaikan Sephiroth yang agung seperti yang pernah dijanjikan nya pada Tifa dulu. Cloud telah mengundurkan diri saat masih menjadi SOLDIER 3rd class dan Sephiroth pun sudah mengundurkan diri dari Shinra Company dan kini entah berada dimana. Dan mustahil bagi Cloud untuk memiliki kekuatan setara dengan Sephiroth dan wajah bagaikan malaikat seperti Sephiroth, kecuali bila ia bersedia mengubah genetic nya dan merelakan diri nya di injeksi dengan sel JENOVA.

Cloud mengurangi kecepatan laju motor nya ketika ia melewati jalan menuju minimarket dan memparkir motor nya di depan sebuah minimarket serta memutuskan membeli bahan makanan.

…..*….

"Cloud-nii, kau baru saja selesai mengantar barang ?", ucap seorang anak laki-laki bersurai cokelat yang menyambut Cloud ketika Cloud menginjakkan kaki nya di sebuah rumah sederhana di pinggir kota.

Cloud melepas sepatu nya dan meletakkan di rak serta mengelus kepala anak lelaki itu. Ia tumbuh tanpa sosok ayah dalam hidup nya dan tak mengerti bagaimana seorang ayah seharusnya bersikap dan ia memilih menyebut diri nya sebagai 'kakak laki-laki' bagi anak yang tak sengaja ditemui nya di gereja dan dibawanya pulang. Ia mencoba menunjukkan kasih sayang sebagai seorang kakak laki-laki sekaligus melindungi anak itu bagaikan seorang ayah, namun sepertinya ia merasa gagal dalam kedua nya akibat tidak ada nya peran anggota keluarga inti laki-laki dalam tahap awal kehidupan nya.

"Kau sudah makan, Denzel ?"

"Tidak, aku menunggu Cloud-nii pulang untuk makan bersama."

"Sudah kukatakan untuk tidak perlu menungguku pulang untuk makan."

"Tidak ada bahan makanan apapun , dan kemarin kau menyuruhku untuk tidak makan mi instan tanpa seizing mu."

Cloud terdiam sejenak, ia terlalu sibuk hingga lupa apa yang sudah dikatakan nya. Ia memang melarang anak itu makan mi instant karena anak itu selalu makan mi instant untuk makan malam semenjak tinggal bersama nya dan ia merasa itu tidak sehat, terutama untuk anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.

"Kalau begitu aku akan memasak sup sayur untukmu."

"Bagaimana bila mi instant saja ? Aku suka mi instan, kok."

"Tidak boleh.", jawab Cloud dengan tegas. "Tidak baik bila memakan terlalu banyak mi instan."

"Tapi aku tidak terlalu suka sayur."

Cloud merasa jengkel, ia sangat lelah dan anak itu sangat sulit diatur. Ingin rasanya ia berteriak memaki anak itu, namun anak itu sama sekali tidak salah. Banyak anak, termasuk diri nya sendiri dulu, tidak menyukai sayur. Lagipula, ia sendirilah yang berniat mengurus anak itu dan bahkan mulai berpikir untuk mengurus dokumen resmi mengenai pengadopsian anak itu di kantor pemerintah Midgar.

"Aku akan mencampur sup nya dengan ayam."

"Arigato, Cloud-nii."

Cloud berjalan memasuki dapur dengan membawa kantung belanjaan berisi sayur dan ayam. Ia meminta anak itu membantu nya mencuci sayur dan ayam, sementara ia memotong sayur itu.

Cloud memotong sayur dengan satu tangan, sementara tangan lain nya memegang ponsel membaca resep cara membuat sup.

Sebetulnya, Cloud tidak pernah memasak sesuatu yang lebih sulit daripada telur goreng, omelet dan mi instant. Saat ia masih tinggal sendiri, ia biasanya makan malam dengan mi instant, omelet , atau bahkan tidak makan sama sekali. Sementara untuk makan pagi, ia biasanya sarapan roti atau tidak sarapan, dan makan siang diluar rumah.

"Perlu kubantu memotong sayur nya ?"

"Jangan, nanti kau malah melukai jari mu."

"Tenang saja, dulu aku pernah membantu ibu memasak di rumah."

Cloud menyerahkan pisau lain nya dan wortel yang belum dipotong serta meminta Denzel memotong wortel. Denzel terlihat terbiasa memotong sayur, berbeda dengan hasil potongan Cloud yang berantakan dan ukuran hasil potongan yang berbeda-beda.

Setelah itu, Cloud memasukkan air ke dalam panci dan memanaskan panci itu di atas kompor dan memasukkan sayur serta ayam yang dipotong nya dengan bentuk tak karuan. Ia memasukkan lada, garam dan sedikit kaldu ayam sesuai resep serta mengaduk-aduk nya beberapa kali.

Lima menit kemudian, sup itu selesai dan Cloud membawa panci itu di atas meja makan.

"Itadakimasu, Cloud-nii", ucap Denzel sambil mengambil sup itu.

"Itadakimasu"

Cloud mengambil sup buatan nya sendiri. Ia mengikuti petunjuk untuk memasak nya hingga matang dan ia cukup yakin bila sup nya matang setelah sup tersebut mengeluarkan gelembung-gelembung.

Wajah Denzel berubah ketika ia dengan terpaksa menggigit wortel setelah Cloud memaksanya makan sayur. Denzel terlihat begitu tersiksa dan meminum banyak kuah sup.

"Kenapa ? Rasanya tidak enak ?", tanya Cloud sambil mengamati wajah Denzel yang terlihat sangat tersiksa.

"E-enak kok. Masakan buatan Cloud-nii sangat lezat."

Cloud tak mempercayai ucapan Denzel walaupun Denzel berpura-pura tersenyum dan mengacungkan jempol nya. Ia menyuap potongan kentang dan wortel memaksakan diri menelan nya setelah mengunyah beberapa kali.

Wortel dan kentang itu belum matang dan masih keras, untunglah rasa kuah sup itu lezat karena Cloud mengikuti takaran di resep. Cloud mencoba mengambil ayam dan seketika memuntahkan ayam itu di tisu karena merasakan ayam itu belum matang.

"Denzel, jangan makan sayur dan ayam nya. Minum saja sup nya, kita akan memesan delivery makanan."

"Lho ? Kenapa ? Rasa sup nya enak, kok."

"Tidak, kita tidak bisa memakan sup ini. Aku akan memesan ayam goreng untuk makan siang kita sekarang", jawab Cloud sambil kembali mengeluarkan ponsel nya dan mencoba menelpon restaurant yang menyediakan layanan delivery makanan.

Cloud merasa benar-benar gagal. Ia berniat mengadopsi anak dan bahkan untuk menyediakan makanan rumah yang bergizi saja ia tidak mampu. Ia merasa bila Denzel akan lebih baik bila bersama Tifa, setidaknya Denzel akan makan dengan cukup dan ia tidak perlu mengkhawatirkan Denzel yang terus menerus makan makanan yang tidak sehat.

….*….

Saat ini pukul setengah lima sore dan Cloud datang ke bar untuk bekerja setelah tidur selama tiga jam. Tifa dan beberapa karyawan menyambut pria itu dengan ramah seolah Cloud adalah karyawan lama di bar itu.

"Tifa, ini uang untukmu. Sebagai biaya untuk makan Denzel dan jasa karena telah mengurusnya selama dua hari nanti.", Cloud menyerahkan uang sebesar seribu gil.

"Tidak usah, kita adalah teman dan kau juga bekerja untukku.", Tifa mendorong uang yang diserahkan Cloud.

"Benar tidak apa-apa ? Maaf telah menyusahkanmu."

"Tidak perlu merasa sungkan padaku. Lagipula aku juga senang karena Marlene akan mendapat teman."

"Terima kasih, namun kalau boleh, aku ingin meminta beberapa hal darimu selama Denzel menginap di rumah mu."

"Katakan saja."

"Tolong jangan bersikap terlalu keras padanya, anak itu kehilangan kedua orang tua nya yang meninggal di sektor tujuh. Orang yang merawatnya sebelum aku juga baru saja meninggal. Aku tidak masalah bila kau menegurnya bila sikap nya tidak baik, hanya saja tolong menasihati nya dengan baik."

Tifa tertawa mendengar penjelasan Cloud yang terdengar seperti orang tua yang sedang mengkhawatirkan anak nya.

"Cloud, kau terdengar seperti seorang ayah yang khawatir karena akan melepas putra nya."

"Tentu saja, sebentar lagi dia akan menjadi anak adopsi ku secara resmi."

Tifa tertawa semakin keras dan menepuk-nepuk lengan Cloud, "Oh iya. Kau sudah menjadi seorang ayah sebentar lagi, kau sudah tua sih."

"Usia ku bahkan belum dua puluh lima tahun, Tifa. Lagipula kau sendiri juga sudah menjadi seorang ibu."

"Ibu ? Marlene hanya anak adopsi teman ku yang sedang dititipkan padaku. Sementara kau berniat mengadopsi Denzel, maka kau menjadi ayah."

"Satu lagi, tolong jangan biarkan ia makan mi instant atau makanan cepat saji. Ia sering memakan itu saat bersama denganku dan itu tidak baik bagi nya."

"Haha… Otou-san benar-benar mengkhawatirkan putra nya, ya. Tenang saja, putra mu berada di tangan yang tepat. Aku tidak akan membiarkan nya makan mi instant dan tidak akan melepaskan nya dari pengawasanku sedetikpun.", balas Tifa sambil tertawa.

"Dasar… kau masih tidak berubah, ya."

"Tentu saja tidak. Oh ya, kau tidak menepati janjimu padaku, lho.", Tifa mengalihkan percakapan. Tifa masih dapat mengobrol karena bar belum buka.

Beberapa pekerja yang melihat Tifa dan Cloud mengobrol dengan begitu akrab tampak heran, begitupun dengan Zack yang beberapa kali bersiul dengan maksud meledek Cloud dan Tifa.

Tifa dan Cloud hanya tersenyum sambil mengatakan 'Apa maksud kalian sih ?' pada para pekerja yang seolah meledek mereka berdua dan melanjutkan percakapan.

"Janji yang mana ?"

"Kau bilang ingin menjadi kuat dan tampan seperti Sephiroth ? Sekarang kau malah ingin menjadi anggota teroris ?", Tifa berbisik dengan pelan saat mengucapkan kalimat terakhir nya.

"Itu hanya janji masa kecil. Lagipula aku sudah berusaha menjadi kuat, untuk wajah jelas tidak mungkin aku seperti Sephiroth.", balas Cloud. "Lagipula Sephiroth tiba-tiba saja mengundurkan diri setelah menjalani misi terakhir dan sekarang menghilang entah kemana. Bagaimana mungkin aku masih berusaha untuk menjadi seperti orang yang entah masih ada atau tidak ?"

"Mengapa ? Seandainya kau masih menjadi SOLDIER, kau mungkin lebih mudah menjadi 1sr class karena Sephiroth sudah tidak ada. Lagipula, sekarang aku tidak mengagumi Sephiroth lagi."

"Kenapa ? Bukankah dulu kau mengagumi Sephiroth ? Bahkan menyimpan poster, guntingan koran yang memberitakan menegenai Sephiroth, foto dan bahkan saat ia menyewa mu untuk menunjukkan jalan ke reactor mako kau malah meminta foto bersama."

Wajah Tifa memerah seketika, "Eh ? Mengapa kau tahu ?"

"Saat itu aku salah satu tentara infantry yang ikut bersama dengan Sephiroth dan Zack. Aku hampir tertawa saat melihatmu yang tersenyum saat befoto bersama Sephiroth, sementara ia hanya berdiri tegak sambil memegang masamune."

"Huh, aku tahu… dingin sekali, kan ? Aku sebetulnya berniat merangkulnya saat itu, hanya saja aku takut ia akan merasa risih dan malah berpikir aku akan menyerang nya."

Cloud kembali tertawa mendengar ucapan Tifa. Entah kenapa ia malah merasa Tifa terkesan begitu menyedihkan saat menceritakan kekecewaan nya terhadap sang idola.

"Hey, jangan tertawa, dong. Aku benar-benar kecewa tahu, Sephiroth, bahkan dalam kehidupan pribadi nya benar-benar dingin dan seolah 'tak tersentuh'. Aku bahkan takut untuk mendekatinya, tatapan nya selalu dingin dan seolah mengatakan 'jangan dekati aku'."

"Bagaimana kau tahu, Tifa ? Kau pernah bertemu dengan nya ?"

"Tentu saja, dulu dia pernah menjadi host di bar ini selama dua tahun, dan ia sangat 'laris'."

"Host ? Kalau begitu aku akan beralih profesi menjadi host saja agar seperti Sephiroth. Kau bilang suka pria yang seperti itu kan ?"

"Ah ! Jangan membahas nya lagi !", teriak Tifa dengan wajah memerah. "Pokoknya kau harus menjadi diri sendiri, bukan Sephiroth atau siapapun. Kau tidak akan bisa menjadi seperti siapapun dan aku hanya ingin kau menjadi diri sendiri."

Lagi-lagi Cloud menertawakan ekspresi Tifa yang terlihat sangat malu dengan wajah memerah. Cloud ikut tersenyum dan berdebar-debar saat Tifa berteriak dengan wajah memerah. Tifa terlihat sangat cantik bagi nya.

….*….

Bar tutup pukul dua pagi. Hari ini bar cukup ramai, namun tidak ada pelanggan yang pulang sesudah pukul dua pagi. Tifa merasa sangat puas dengan performa Cloud karena pria itu dapat belajar meracik dengan cepat.

Cloud segera memacu fenrir nya dengan kecepatan tinggi dan kembali ke rumah serta memasuki kamar nya. Hanya terdapat satu kamar di rumah nya dan ia menempati kamar itu bersama dengan Denzel. Ia merasa tak perlu memiliki kamar tambahan karena sangat jarang orang datang dan menginap ke rumah nya, kecuali Zack dan terkadang ibu nya.

Cloud membersihkan tubuh dan mengganti pakaian serta berjalan menuju kasur dan menatap Denzel yang tertidur dengan pulas.

Ia kembali mengelus kepala Denzel dan berbisik, "Maaf tak bisa merawatmu dengan baik. Maafkan aku'

Cloud merasa aneh pada diri nya sendiri. Ia merasa bagaikan seorang ayah dan ia mulai berpikir bagaimana dengan Tifa yang mendadak harus menjadi seorang 'ibu'.

'Apakah Tifa juga memiliki kekhawatiran yang sama denganku ?', batin Cloud.

"Cloud-nii tidak akan meninggalkanku, kan ?", ucap Denzel dengan suara serak khas orang yang baru saja bangun tidur.

'Dia mendengar ucapanku, ya ?', batin Cloud dengan terkejut.

"Tidak, aku akan merawatmu dan bertanggung jawab atas dirimu."

"Kau tidak akan meninggalkanku seperti orang tua ku ataupun Ruvie-san, kan ?"

Cloud terdiam sejenak. Ia tidak bisa berjanji untuk hal itu. Kematian dapat mengancam siapapun, termasuki dirinya. Dan bahaya kematian itu akan semakin besar karena sebentar lagi ia akan mendafatar menjadi anggota AVALANCHE.

"Cloud-nii ?"

Sebetulnya Cloud dapat dengan mudah mengatakan 'Ya, aku janji'. Namun ia tak ingin mengulang janji kosong seperti yang dilakukan nya pada Tifa dulu dan tak tega untuk menyakiri anak itu apabila ia melanggar janji nya

"Aku akan berusaha, Denzel.", Cloud lmengelus surai coklat Denzel. "Maaf sudah membuatmu terbangun."

"Tidak kok. Aku selalu terbangun di tengah malam saat mendengar kau pulang dan kau selalu mengelus rambut ku."

Denzel tidak menyadari nya, namun wajah Cloud sedikit memerah. Tanpa sadar ia telah menunjukkan sisi kelembutan diri nya yang tak pernah ditunjukkan nya pada siapapun, kecuali pada Tifa saat ia masih kecil dulu. Ia merasa malu karena sikap nya terkesan 'tidak jantan' dan terkesan sangat keibuan.

"Oh ya, aku lupa mengatakan padamu. Besok, kau akan menginap selama dua hari di rumah teman ku, Tifa. "

"Aku tidak mau", ucap Denzel dengan tegas.

"Kenapa ? Ada anak perempuan seusia mu disana."

Denzel terduduk di atas kasur dan memeluk kedua lutut nya. Tubuh nya bergetar hebat dan ia berkata, "Aku tahu aku menyusahkan dan mereporkan. Aku juga menyebalkan dan tidak sopan, namun aku tidak ingin pergi. Aku berjanji akan bersikap lebih baik dan akan membantu Cloud-nii membersihkan rumah, atau bahkan berusaha agar menjadi lebih kuat agar aku tidak merepotkan. Pokoknya aku akan melakukan apapun agar Cloud-nii tidak mengusirku"

Cloud kembali mengelus rambut Denzel, suatu kebasaan yang akhir-akhir ini selalu dilakukan nya sejak Denzel berada di rumah nya.

"Aku tidak mengusirmu. Hanya saja aku sangat sibuk dan tak bisa menyiapkan makanan untukmu. Lalu teman ku menawarkan diri untuk merawatmu sementara."

"Cloud-nii tidak akan mengusirku, kan ?"

"Tidak, kok. Oh ya, kau bilang ingin melakukan apapun, kan ?"

"Ya, aku akan melakukan apapun asal aku masih boleh tinggal bersama Cloud-nii."

"Kalau begitu, kau harus melakukan apa yang kuminta selama menginap di rumah teman ku."

"Ya."

"Pertama, kau tidak boleh menyentuh barang-barang tanpa seizin temanku. Lalu, kau harus menuruti nya dan tidak memilih makanan yang dihidangkan unttukmu. Kau juga tidak boleh mengambil apapun tanpa izin dan meminta apapun bila kau tidak ditawarkan."

"Aku janji akan menjaga sikap ku selama berada disana. Kau benar-benar tidak akan mengusirku kan, Cloud-nii ?"

"Ya, aku janji tidak akan mengusirmu.", ucap Cloud. Tanpa sadar ia memeluk Denzel dan Denzel membalas pelukan Cloud.

…..*…..

Keesokan pagi nya, Cloud mengantar Denzel ke rumah Tifa pukul enam pagi. Ia sengaja mengantar Denzel pagi-pagi sekali karena jadwal pengantaran nya sangat padat serta cukup jauh.

Tifa membuka pintu dan tersenyum pada Cloud dan Denzel.

"Hai Cloud dan… siapa nama mu ?", Tifa mengalihkan pandangan pada Denzel yang terlihat gugup dan mengulurkan tangan.

"Denzel.", jawab anak itu dengan singkat dan membalas uluran tangan Tifa.

"Nama ku Tifa Lockhart. Senang bertemu dengan mu, anak manis.", Tifa mengelus surai coklat Denzel.

Cloud terkejut menyadari sisi feminine dan keibuan Tifa. Seingatnya, dulu Tifa tidak seperti itu dan kini Tifa banyak berubah. Tifa hampir tidak pernah menunjukkan sisi feminine di hadapan nya.

Tanpa sadar, Cloud ikut tersenyum menatap Tifa yang terlihat senang bersama Denzel. Ia merasa telah menyerahkan Denzel pada 'tangan yang tepat'.

"Ayo masuk ke dalam. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kalian berdua."

"Tidak perlu, aku harus segera berangkat.", tolak Cloud dan ia mengelus kepala Denzel. "Kau ingat pesanku, kan ? Jaga diri mu baik-baik, ya."

Denzel menatap Cloud dan mengangguk. "Ya, aku ingat. Aku tidak akan menyusahkan Tifa-nee."

Cloud mengeluarkan uang sebesar dua ratus gil dan menyerahkan nya pada Denzel, "Ini untukmu. Kau mungkin memerlukan uang untuk membeli sesuatu."

"Tidak perlu. Aku tidak membutuhkan apapun."

"Ambil saja.", Cloud memaksa Denzel menerima uang itu.

"Terima kasih, Cloud-nii. Hati-hati di jalan, ya.", ucap Denzel sambil mengambil uang itu.

"Ya, kau harus mengikuti pesanku.", Cloud kembali mengulang percakapan nya untuk memastikan bila Denzel akan mengikuti pesan nya. "Tifa, tolong jaga Denzel untukku. Hubungi aku bila terjadi sesuatu padanya."

"Ya, ya, ya. Kau ini bawel sekali sih, seperti ibu-ibu yang akan melepas anak nya pergi saja. Bahkan, ayah ku tidak bawel seperti kau, lho", goda Tifa yang dibalas dengan wajah cemberut oleh Cloud.

Cloud melambaikan tangan pada Tifa dan Denzel serta naik ke atas motor nya dan menyalakan mesin.

Tifa hampir menahan nafas dan tanpa sadar ia menatap Cloud dengan kagum. Sang teman masa kecil yang dulu menyebalkan itu sudah berubah menjadi pria dewasa yang keren dan benar-benar jantan. Bahkan, hingga cara pria itu naik ke atas motor dan mengemudi terlihat begitu keren bagi Tifa.

Tifa terus menatap Cloud hingga motor pria itu meninggalkan halaman rumah nya dan ia segera mengajak Denzel masuk ke dalam rumah dan menepuk wajah nya, Cloud sama sekali bukan tipe nya, ia lebih menyukai tipe pria seperti Sephiroth. Namun kini, ia malah begitu mengagumi Cloud hingga ia beberapa kali menemukan dirinya sendiri sedang melihat-lihat foto masa kecil nya dengan Cloud dan pas photo yang ditempelkan Cloud pada lembaran C.V

…..*…..

Sementara itu, kini Cloud sedang mengendarai motor nya. Jalanan tak terlalu ramai, namun hanya mengendarai motor dengan kecepatan tiga puluh kilometer per jam.

Senyum Tifa yang ditujukan pada Denzel tadi begitu lembut, bagaikan senyum yang biasa diberikan ibu nya pada Cloud. Saat itu, ia merasa Tifa begitu keibuan dan ia teringat akan ibu nya sendiri.

'Seandainya aku memiliki istri seperti Tifa, pasti akan sangat menyenangkan', batin Cloud.

Cloud menghentikan diri nya berpikir seperti itu. Tiba-tiba ia merasa diri nya begitu aneh hingga memikirkan hal yang tidak-tidak.

'Mengapa aku berpikir seperti itu ? Kami bahkan baru bertemu kembali setelah lama berpisah dan aku masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan'.

Sebuah pemikiran muncul di benak Cloud. Ia merasa senang bertemu Tifa dan mendadak ia menjadi sering tersenyum serta begitu bersemangat setiap berangkat bekerja. Ia juga merelakan diri meluangkan waktu satu jam di tengah kesibukan nya hanya untuk mempelajari cara meracik minuman dan bahkan mengeluarkan uang untuk membeli beberapa minuman beralkohol hanya untuk melakukan praktik membuat minuman.

'Kurasa aku kembali jatuh cinta pada Tifa', batin Cloud.

-To be continued-


Yo ! Author baru update fict ini setelah selesai UTS. Gomen ne kalau chapter ini mendadak bernuansa family & me-'mention' soal Sephiroth terus menerus. Sejujurnya, Sephiroth merupakan chara favorit author & author bersemangat bisa terus menerus me-'mention' soal Sephirtoh di setiap chapter karena di fanfict FF sebelumnya hampir ga ada yang me-'mention' soal Sephiroth

Untuk chapter selanjutnya mungkin ga terlalu kerasa romance nya & masih lebih bernuansa family.


Reply to review :


- Arunasachi chan : Di chapter selanjutnya author masih belum bisa masukin terlalu banyak adegan romance. Mungkin mendekati ending bakal author masukin romance.

- Mico-a : Thanks... maaf ya kalau di chapter ini mulai ga canon.. xD

- wan chow : maaf ya, aku ga pakai bbm & belum isi pulsa