SOULFUL

Kuroko Tetsuya. Akashi Seijuurou. Aomine Daiki.

T

yaoi, OOC, typo[s], no edit, confusing, ambiguous

KnB is Om Fujimaki's


A/N: Disini main menu-nya flashback buat AoKuro ya. Jadi yang nyari Akashi, sebentar, dia masih di-make up, belum waktunya keluar. Hehehe.


.

.

.

Chapter 2 – Past

.

.

.


'

"Hantu basket itu selalu muncul di gedung ketiga, tepat setelah latihan selesai."

Momoi Satsuki benar-benar terlihat serius ketika bercerita tentang sang 'hantu basket' pada Aomine.

"Baka. Di dunia ini mana ada hantu yang bisa bermain basket. Kau sedang mengigau Satsuki."

Aomine benar-benar bosan mendengar cerita tentang hantu yang bisa bermain basket itu. Sudah ada beberapa orang yang bercerita padanya. Dan hari ini ia berada pada batasnya. Aomine ingin memastikan sendiri mengenai cerita itu setelah mendengarnya dari Momoi. Setelah latihannya selesai, Aomine nekat pergi ke gedung latihan 'berhantu' itu.

"Konbanwa. Apa ada orang-"

Aomine menghentikan kalimatnya ketika melihat bola basket menggelinding begitu saja di depannya. Ia kaget dan sempat ingin berteriak sebelum sosok yang lebih kecil darinya terlihat berlari menghampiri bola.

"Sejak kapan dia disana? Apa dia hantu yang mereka ceritakan itu?"

"Ah, Aomine-kun?"

Aomine membulatkan matanya. Dia tahu sosok itu bukan hantu seperti yang orang-orang ceritakan. Tidak ada hantu disini, hanya ada seorang murid yang berlatih basket. Aomine mendekati murid berambut biru muda itu. Aomine tidak ingat pernah melihat pemuda itu di klub basket. Aomine cukup banyak mengenal orang-orang di klub basket, tapi ia tidak pernah tahu ada pemuda beriris biru muda itu.

"Kau siapa?"

"Aku Kuroko Tetsuya."

.

.

.

Mata biru itu berkedip seketika. Dia menggeleng beberapa kali, mencoba mengembalikan kesadarannya. Entah mengapa, ingatan Kuroko saat pertama kali bertemu Aomine terlintas. Ia baru saja selesai merapikan rambutnya setelah mandi pagi itu. Tiba-tiba saja ketika Kuroko hendak mematikan lampu di kamarnya sebeum pergi, ia teringat masa-masa saat ia mengenal Aomine dulu.

"Aomine-kun."

Mulut kecil itu berbisik pelan mengucap nama mantan kekasihya. Memang sulit melupakan pemuda tan itu dari ingatan Kuroko. Waktu yang mereka habiskan bersama tidak sedikit. Hampir seluruh masa SMP-nya ia habiskan bersama Aomine, baik di klub maupun di luar klub.

Kuroko menghela nafas panjang. Ia tidak ingin terlalu larut dalam masa lalunya, toh waktu tidak akan kembali. Setelah selesai memakai syal, ia mengambil tas dan beranjak dari kamarnya menuju ke sekolah.

.

.

.

"Aku tidak percaya kalian berdua bisa bersama-sama seperti ini terus."

Kise Ryouta, pemuda berambut kuning itu menepuk dahinya. Ia bertemu Kuroko dan Aomine di restoran cepat saji. Kise sendiri sedang ingin makan sepulang dari studio pemotretan dan tidak sengaja bertemu dengan Kuroko dan Aomine disana, Dan akhirnya mereka bertiga duduk di satu meja.

"Apa Kurokocchi dan Aominecchi tidak pernah bertengkar?"

"Kurasa tidak. Benarkan Tetsu?"

Kuroko mengangguk menyetujui apa yang baru saja dikatakan Aomine pada Kise. Kuroko memang tidak pernah bertengkar dengan Aomine selama ini, bahkan ia hampir tidak pernah memiliki masalah dengan orang lain mengingat sifatnya yang pendiam dan tertutup.

"Ah begitu ya. Aku juga ingin berteman baik dengan Kurokocchi."

"Tidak."

Kuroko dan Kise terkejut mendengar penolakan Aomine. Keduanya menatap Aomine dengan penuh Tanya. Kenapa tidak? Aomine hanya memalingkan wajah dari Kuroko dan Kise.

"Nanti kau bisa tertular seperti Kise yang berlebihan terhadap sesuatu, Tetsu."

.

.

.

"Oi, Tetsu. Aku dengar di tim basket akan kedatangan anggota baru."

Aomine terlihat antusias saat ia tahu seorang murid akan memasuki tim bola basket mereka. Dengan begitu bertambah pula orang yang menyukai basket. Entah apakah dia berbakat atau tidak, tidak hal yang lebih penting dari menyukai basket. Selama ini, itulah yang menjadi tolak ukur pandangan Aomine terhadap seseorang, tidak terkecuali pandangannya pada Kuroko. Ia melihat pemuda beriris biru muda itu sangat menyukai basket meskipun kemampuannya tidak sehebat Aomine.

"Oi, Tetsu. Kau tidak mendengarkanku?"

Aomine sedikir geram melihat pemuda disampingnya tidak merespon sama sekali apa yang ia katakan. Kuroko masih memusatkan perhatiannya pada novel di tangannya. Aomine mendengus pelan, tapi sesaat kemudian otaknya bekerja dan menghasilkan sebuah ide jahil. Tangannya merangkul pundak Kuroko, lalu ia mendekatkan bibirnya kea rah telinga Kuroko. Aomine sudah akan meniup telinga Kuroko ketika novel Kuroko sudah menampar pelan bibirnya, menghalanginya meniup telinga Kuroko.

"Aomine-kun, ini masih di sekolah. Dilarang melakukan hal-hal yang tdak senonoh."

Kuroko berdiri lalu pergi meninggalkan Aomine begitu saja.

"Oi, Tetsu! Tunggu!"

.

.

.

"Ini Aomine-kun, untukmu. Otsukaresama deshita."

Kuroko memberikan sebotol minuman ion pada Aomine yang baru saja selesai berlatih. Mereka berdua masih seperti dulu. Sejak pertama kali bertemu, sampai sekarang mereka diam-diam berlatih berdua setelah anggota tim basket selesai latihan. Keduanya memiliki sifat yang sangat berbeda, tapi keduanya sama-sama menyukai basket, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka nyaman oleh keberadaan masing-masing.

"Sankyu, Tetsu. Hari ini kutraktir vanilla milkshake, ya."

"Eh? Benarkah? Tumben sekali Aomine-kun."

"Anggap saja itu ajakan kencan."

.

.

.

"Jadi bagaimana? Mau menerimaku atau tidak?"

"Tentu. Aku juga menyayangi Aomine-kun."

Keduanya baru saja mengakui dan menyatakan perasaan masing-masing. Di restoran cepat saji yang mereka biasa datangi, keduanya memutuskan menjalani hubungan yang lebih tinggi tingkatannya dari sekedar partner dalam bermain basket dan teman dekat. Sekarang –saat itu mereka adalah sepasang kekasih.

.

.

.

Kuroko turun dari bus, tepat di depan sekolahnya. Perjalanan dari rumah sampai sekolah ia habiskan dengan melamun. Sejak tadi, di pikirannya hanya ada kilasan balik masa lalunya dengan Aomine. Kuroko yakin, sudah tidak ada lagi yang perlu ia pertahankan bersama Aomine. Perasaannya pada Aomine sudah hampir tersingkir oleh perasaan lain. Anggap saja Kuroko pengkhianat. Meskipun ia tidak menginginkannya. Kuroko ingat kata-kata temannya dulu, Midorima.

'Takdir membawamu ke tempat dimana kau sesungguhnya berada. Kau tidak bisa dan tidak perlu melawannya.'

.

.

.

"Aomine-kun. Bisakah kau sedikit memberiku keringanan. Aku lelah."

"Tidak Tetsu. Ayo kita lanjutkan."

Aomine masih men-dribble bola. Berkali-kali ia sukses melewati Kuroko dan memasukkan bola ke ring. Tapi, ketika baru saja ia ingin melakukan fake untuk mengelabui Kuroko, kali ini Aomine gagal. Kuroko berhasil menghalau bola. Bola itu keluar dari garis dan terus menggelinding hingga menyentuh kaki seseorang. Kuroko dan Aomine mendapati sosok pemuda mengambil bola itu dan mendekat ke arah mereka berdua.

"Sepertinya menyenangkan. Boleh aku ikut bermain bersama kalian?"

Senyum tipis itu mengembang dari bibir pemuda yang baru saja menghampiri Aomine dan Kuroko. Aomine membalas senyuman itu dengan seringaian semangat, sedangkan Kuroko hanya berkedip berulang-ulang. Ia tidak kenal dengan pemuda itu, tapi sepertinya Aomine tahu siapa pemuda itu.

"Aomine-kun, dia siapa?"

Pemuda itu memberikan bola pada Kuroko. Kuroko menerimanya masih dengan tatapan bertanya-tanya. Sedetik kemudian, pemuda berambut merah dan iris berwarna serupa itu mengulurkan tangannya.

"Namaku Akashi Seijuurou, Kuroko Tetsuya."

.

.

.

TBC


Yang di-italic itu flashback kisah AoKuro dari pertama mereka ketemu sampai jadian, sampai awal ketemu Akashi sekalian. Memang adegan di sini kebanyakan saya ambil dr OVA 41.5, karena memang ide ngebikin fic ini muncul setelah lihat itu OVA. Hehehe. sumimasen klo ngebosenin.

Ketauan banget ya di OVA 41.5 pas Akashi ketemu Kuroko berasa dia pen ngerebut Kuroko dari Aomine. Mana pake bilang Kuroko itu tipe berbeda yang belum pernah Akashi temuin. Ah modus memang. Hahaha.

Chapter 3 will be coming soon. Oh ya, berhubung Ramadhan, apdet mungkin bakal terlambat dan kudu hati-hati pilih adegan nih, kekeke. Have a nice Ramadhan readers. Happy fasting! Osh!

Let's Love!