Chapter 2

Dari sekian banyak hal yang Kise alami di sekolah ini, hal yang paling membuatnya bahagia sampai-sampai tak memperhatikan guru adalah ketika ia kembali berkontak dengan Aomine.

Ia sudah menepati janjinya mentraktir gadis pink sahabatnya itu di kantin dan menceritakan kejadian yang ia alami semalam tentang facebook-nya itu.

Kise terlalu senang, sekrup yang dulu pernah jatuh itu kini terpasang lagi. Hanya diperlukan obeng untuk membuat sekrup itu terpasang dengan sempurna, yakni bagaimana cara ia menambah kedekatannya dengan Aomine.

Satu-satunya sarana yang ia punya hanyalah facebook. Sedangkan tak selamanya bukan Kise akan tetap online di dunia maya sedangkan tugas duniawinya banyak yang belum selesai?

Yah… Ia masih kelas dua, jadi soal ujian nasional, ujian sekolah itu urusan kelas tiga 'kan? Berarti ia masih punya waktu setahun untuk dorama cintanya yang baru memulai debut ini. Tak salah juga, Kise sedang masa-masanya pubertas. Wajar jika cinta yang ia pikirkan sekarang.

"Heh, dulu kau yang paling tidak mau mendengar kata cinta."

—Kata-kata Momoi terkadang mendengung di telinganya.

Dulu, Kise bukanlah orang yang paham dan peduli soal cinta. Momoi dan yang lainnya terkadang sering curhat ke Kise yang sama sekali tak tau apa-apa tentang sesuatu yang tak dapat dilihat itu.

Ia hanya menyimpan perasaannya dalam-dalam dan menguburnya tanpa berniat menceritakan kepada orang lain, termasuk Momoi. Sehingga, ketika si gadis pink bertanya tentang orang yang disukai, maka Kise akan menatapnya tajam seolah mengatakan jangan-membuat-topik-tentang-cinta.

Karma itu ada. Aomine yang saat itu sedang olahraga, membuat Kise tak bisa melepaskan pandangannya dari lelaki itu. Saat itu masih kelas satu, dan Momoi mengetahui itu tak lama setelah ia menangkap binar Kise yang memperhatikan Aomine.

"Jangan katakan pada siapapun! Dia itu temanku."

Kise memang belum mengerti apa yang akan dipikirkan Momoi sekarang, mungkin ia akan mengejeknya atau apa? Tapi tidak, Momoi adalah teman yang baik, ia takkan mengatakannya pada siapapun.

Kise berterimakasih padanya, dan mulailah giliran Kise yang jadi curhat dengan Momoi, sekali lagi, karma itu ada.

Kalau diingat-ingat Momoi akan tertawa dan meledek Kise soal itu. Berakhir dengan wajah Kise yang menahan malu karena sudah kena hukum alam.

Mungkin—tidak, memang jika Kise bercerita kepada kumpulan tukang gosip dan penebar sensasi di kelasnya, ia bakal ditertawakan.

Kisah cinta yang dipendam itu sudah kuno. Modernisasi telah merambat ke seluruh aspek kehidupan, termasuk cinta. Jika sudah suka, ya langsung tembak saja. Jangan dipendam-pendam nanti jadi penyakit. Tapi jika ditolak, silahkan cari laki-laki lain.

Tidakkah itu murahan? Bukankah hatimu hanya untuk seorang saja? Lalu, apakah menyenangkan jika hati itu 'diisi' dengan 'air' lalu 'ditumpahkan' dan 'diisi' lagi dengan yang lain? Itu hanya membuang waktu, hati itu satu. Jadi tetapkanlah hatimu pada seorang saja.

—Kau tau? Itulah pemikiran Kise. Pemikiran seseorang yang sama sekali tak pernah berpacaran. Kise selalu memandang sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Ia memang tak bisa menyukai orang lain selain Aomine.

Kise bahkan berpikir, jika ia masih tetap menyukai Aomine dan melihat Aomine mengggandeng tangan perempuan lain ketika menikah, ia yakin, hidupnya tidak akan tenang bahkan sampai berumah tangga.

Memikirkan yang terlalu jauh itu kadang bahaya juga. Jadi, gadis brunette ini memilih untuk memikirkan keadaan yang sekarang saja. Dimana, ia sudah kembali dekat dengan Aomine. Titik.

Seperti yang Kise pikirkan sebelumnya, tak selamanya ia online di jejaring sosial, dan menghabiskan waktu di layar komputer seharian seperti hikikomori, ia memikirkan satu ide.

Facebook memang tak selamanya menjadi sarana komunikasi yang efektif, maka Kise memikirkan satu hal yang sepertinya, bisa membuat dia tetap berkomunikasi dengan Aomine.

"Ada yang mau minta nomor Aominecchi. Dia adik kelasku."

Sialan! Kenapa juga Kise harus berbohong dengan mengatakan kalau yang minta nomornya itu adik kelasnya?! Baka Kise!

Padahal niatnya, Kise ingin bilang kalau dialah yang ingin minta, tapi seperti ada yang merasuki jiwanya, ketikkan tangannya berakhir dengan menulis kalimat itu.

Tanpa ada rasa curiga, pria dim itu langsung saja memberi nomornya. Sehingga Kise tak perlu repot-repot lagi untuk menambah dosanya dengan berbohong sana-sini.

Namun, sebagai gantinya, karena sudah secara sepihak memakai lisensi nama orang sembarangan, adik kelas Kise menuntut untuk ditraktir di Maji Burger sepulang sekolah nanti.

Demi Aomine, ia rela uangnya habis hari ini.

.

.

.

For My…

Warning : AU, Fem!Kise, Gaje!

Disclaimer : Hanya Milik Fujimaki Tadatoshi-sensei seorang.

Facebook milik Mark Zuckerberg

.

.

.

Semua berjalan lancar, Kise—yang mengaku sebagai adik kelas itu, dengan lancarnya saling bertukar pikiran atau berbicara lewat sms mengenai apa yang mereka sukai. Dimulai dari Anime, musik, makanan hingga anak yang paling dibenci di sekolahnya. Semua itu menambah informasi Kise mengenai apa yang terjadi pada Aomine hari ini.

"Oh ya, bisa kau sampaikan maafku pada Kise? Tadi aku lupa menyapanya saat jam istirahat."

Kise tak bisa berhenti untuk menggila malam itu, ia terus tersenyum dengan pesan Aomine itu. Ternyata, ia tetap memikirkan dirinya. Syukurlah, Aomine yang ia kenal tidak berubah.

"Begitu? Tadi Kise-senpai bilang juga kalau dia hampir menangis karena tak disapa oleh Aomine-senpai. Tapi kukatakan saja kalau Aomine-senpai pasti malu. Hehe.."

"Bukan begitu! Ah… Ada benarnya juga sih. Tapi, pokoknya sampaikan saja yah!"

Aomine masih peduli padanya. Oh baguslah, ia masih punya banyak kesempatan untuk mengenal Aomine lebih dalam lagi, mengingat satu tahun lebih kontak tak terjalin di antara mereka berdua.

"Begini saja, kenapa Aomine-senpai tidak sms langsung Kise-senpai? Aku kirimi nomornya deh."

Setelah itu, ada balasan kilat darinya, "Yasudah, kirimi saja nomornya."

Kise memakai nomor lain untuk menyamar menjadi adik kelas itu, beruntunglah dengan dual sim di ponselnya, memudahkan si pirang ini lebih leluasa berkirim sms dengannya.

Dengan cepat Kise mengirim nomornya sendiri. Satu balasan diterimanya yang menandakan akhir dari percakapan mereka malam itu.

"Terimakasih."

.

.

.

"A-Apa yang terjadi?" Wajah Momoi kelihatan khawatir melihat Kise yang tiba-tiba masuk toilet dengan keadaan yang tidak elit begitu, menangis.

Ia menutup wajahnya dengan suara isakan yang terdengar jelas disana. Momoi sudah beberapa kali mengetuk pintu toilet itu dan hanya mendapat respon seperti, "Pergilah!" atau, "Aku tak apa."

Risih juga merasa diacuhkan, Momoi meninggalkan tempat itu dengan wajahnya yang masih penasaran., "Kenapa tiba-tiba Ki-chan begitu?"

Flashback

Kise berlari-lari kecil menuju kran air tempat ia biasa mencuci mukanya. Ia baru saja makan bersama dengan teman-teman sekelasnya siang itu, sehingga ia memutuskan untuk mencuci tangan atau sekedar kabur dari kumpulan tukang gosip di kelasnya.

"Ah… Benarkah? Hebat sekali!"

"Aku tak percaya."

Bising suara-suara anak laki-laki terdengar dari belakang Kise. Ia menutup kran air dan berpikir untuk kembali ke kelasnya,

—Jika ia tidak bertemu Aomine kala itu.

Tak ada yang bisa dihindari, tatapan itu, juga posisi mereka yang terbilang pas untuk saling menyapa meski dari kejauhan. Hanya sepersekian detik tatapan mereka saling tertuju, Kise berusaha untuk tersenyum, sedangkan Aomine, Kise sempat melihat melalui iris madunya itu saat tubuh Aomine yang tertegun sesaat ketika mereka bertatapan. Seperti berusaha tak saling melihat, Aomine membuang tatapannya ke arah lain. Sangat terlihat, itu adalah adegan paling payah yang pernah Kise lihat—pura-pura tidak melihat.

Dan salah satu pihak kini menangis.

.

.

.

Meja belajar Kise dipenuhi dengan buku malam itu. PR sejarah, rumus matematika yang harus dihapal besok, praktik biologi, semua ia hapal malam itu.

Sayangnya, itu seakan angin lewat. Semua tak bisa masuk di kepalanya, mengingat peristiwa tadi siang yang mengenaskan itu membuat Kise jadi ingin membanting ponselnya, membakar PRnya atau mengutuk dirinya menjadi nyamuk agar mati ditepuk.

Sebuah nada pendek keluar dari ponsel Kise. Ia dengan malas meraih ponselnya yang ada di kasurnya itu, kemudian membaca pesan dari yang entah siapa itu.

"Eh, maaf soal tadi."

Kise menatap layar ponselnya datar. Realita saat ini adalah Aomine yang mengiriminya sms saat kejadian tadi siang. Terkutuk kau Aomine! Bisa-bisanya kau menyakiti Kise sampai matanya sembab begitu?!

Kise tak mempedulikan sms itu. Lantas ia buang begitu saja ponselnya ke kasur setelah mendengar makam malam sudah siap dari sang ibu.

Kise turun ke bawah. Ia benar-benar tak habis pikir Aomine akan meminta maaf padanya, itu artinya ia menyadari kesalahannya bukan? Kise 'kan sudah mencoba untuk tersenyum—meski tipis, lalu Aomine?

Tak ada yang enak dengan makam malam ini. Semua terasa hambar. Bukan, bukan karena ibunya lupa untuk membumbui dengan garam atau kuah yang terlalu banyak, ini karena hatinya. Ia sedikit merasa menyesal juga karena tak ingin membalas pesan Aomine. Bagaimanapun, Aomine 'kan sudah meminta maaf, jadi tidak ada salahnya juga 'kan Kise memaafkan?

"Siapa peduli? Dia yang salah karena membuang muka begitu."

Ia bergumam tidak jelas, mengutuk Aomine sedalam-dalamnya. Mesum, hitam, bodoh, apa saja. Hingga ia kembali masuk ke kamarnya lagi dan melihat ponselnya menyala.

Satu pesan dari orang yang sama. Dengan isi pesan yang sama, mungkin Aomine mengira jika sms pertamanya tak sampai sehingga ia mengirimi sms yang sama lagi, begitu pemikiran Kise.

Ia kalah dari ego nya sendiri, mencoba membalas sms Aomine dengan singkat, "Soal apa?"

Tak lama berselang, pesan itu dibalas, "Aku tidak menyapamu tadi siang. Sungguh, aku benar-benar minta maaf!"

"Aku saja sudah lupa. Lupakan sajalah."

Kise tak peduli lagi, ia benar-benar kesal dengan Aomine. Tak peduli dengan apa yang akan dikatakannya selanjutnya, Kise tidak akan terlalu berharap lagi.

"Tiba-tiba jantungku lebih cepat berdetak saat itu, makanya aku refleks melihat ke sembarangan arah. Sungguh! Aku tidak bercanda! Aku benar-benar deg-degan melihatmu!"

Kise tak salah baca 'kan? Wajahnya langsung memerah membaca sms itu. Seperti apapun ia merutuki nasibnya, kenapa dia tak pernah bisa bergerak maju dari lelaki itu?!

"Ukhh.. Berhentilah menggodaku, bodoh." Gumam Kise sambil mengetik sms selanjutnya.

"Kau pikir aku setan makanya kau deg-degan begitu! Dasar kau bodoh!"

"Bukan, bodoh! Aku juga tidak mengerti, bukan deg-degan karena takut, tapi karena… Ah… Aku juga bingung menjelaskannya!

Semakin Kise berusaha untuk menjauh, entah kenapa ia selalu merasa Aomine mendekat. Makanya, ia tak bisa mengelak lagi, perasaannya itu, ia memang (masih) mencintai Aomine.

"Ck, pokoknya aku benci padamu, Aominecchi!"

Setelah itu, sebuah pesan singkat berhasil membuat iris madu Kise mengeluarkan air matanya, "Akhirnya, kau menyebut namaku juga. Terimakasih!"

Kise ingat, dia dulu pernah berjanji jika mereka bertengkar, tidak akan saling menyebut nama satu sama lain. Dan perkelahian mereka akan berakhir jika salah satu dari mereka, menyebut nama itu.

"Itulah kenapa aku masih mencintaimu, bodoh."

Kise terlalu banyak menangis malam itu.

.

.

End of Chapter 2

.

.

A/N : Apa sudah terasa friendship antara mereka? Dan gimana Kise disini? Apa dia cengeng? Yang penting, terimakasih sudah meyempatkan membaca ^^/