TITLE: LOVE ISN'T JUST A WORD
RATING: K+ / T
GENRE: Romance, drama, shonen-ai/yaoi
DISCLAIMER: Vocaloid belongs to Crypton Future Media and Yamaha
WARNING: Mengandung SHONEN-AI/YAOI, boy x boy
COUPLE: KaitoxLen
- CHAPTER 3: If You're not by My Side -
Seseorang berjalan ke tempat Len berdiam diri dengan sebuah buku berwarna hitam di tangannya.
"Sedang apa?" tanya orang itu.
Len tersentak kaget. Ditatapnya mata orang di depannya itu. Mata hijau yang memancarkan keceriaan.
Tidak mendapat jawaban dari Len, orang itu bertanya lagi,"Kau sedang apa?"
"Tidak ada," jawab Len seraya berdiri dari lantai.
"Kau..manis ya. Padahal laki-laki, tapi begitu manis seperti anak perempuan," kata orang itu.
"Tidak juga," kata Len menanggapi.
"Aku Gumi, salam kenal..namamu siapa?" kata orang itu seraya mengulurkan tangannya pada Len.
"Aku Len," kata Len dan dia menyambut uluran tangan Gumi.
Merekapun berjabat tangan.
"Kau murid baru ya?" tanya Gumi memulai pembicaraan.
Len mengangguk. Merekapun berjalan bersama dan meninggalkan ruang perpustakaan.
"Sebentar lagi pelajaran akan segera dimulai, sebaiknya kau kembali ke kelasmu," saran Gumi.
"Ini kan masih jam segini..," gumam Len.
"Ini adalah wilayah kelas 3-A-1 sampai 3-J-1..kau kan masih kelas 2, kelas 2 kan deretannya di lantai bawah kelas 3," jelas Gumi.
"Eh..?"
"Kau butuh banyak waktu untuk kembali ke kelasmu kan? Harus berjalan melewati beberapa lantai dulu..kecuali kalau pakai lift mungkin bisa."
"Aku lupa kalau gedung ini terdiri dari banyak lantai."
"Hahaha..aku kembali ke kelasku dulu ya..sampai jumpa..," kata Gumi dengan senyuman di wajahnya.
"Tunggu! Gomen ne, kalau boleh tahu..dimana kelas Gumi-nee?"
"Aku kelas 3-D-4," kata gadis berambut hijau itu sambil berjalan meninggalkan Len.
Len berjalan kembali ke kelasnya yang ternyata benar, seperti yang Gumi bilang. Kelasnya beberapa lantai dari deretan kelas tempat perpustakaan itu.
=';'=
Andaikan aku bisa terbang
Aku ingin bisa terbang bersamamu
Melewati awan dan birunya langit
Pergi ke negeri impian dimana hanya ada kau dan aku
=';'=
Kaito duduk di kursi ruang makan rumahnya dan menatap spagetti yang ada di depannya. Sedangkan Mikuo duduk di depannya sedang asyik menikmati spagetti bawangnya. Meja makan dengan bentuk lingkaran berwarna coklat berada di tengah ruangan yang tidak banyak perabotannya itu. Dindingnya berwarna biru langit. Di sebelah kanan ada pintu yang menghubungkan ruang makan dengan dapur.
"Kalau hanya dilihat saja, makanan itu tidak akan bisa sampai ke perutmu Kaito," kata Mikuo santai.
Kaito terkejut dngan kata-kata Mikuo.
"Iya, akan kumakan," jawab Kaito singkat.
Kaito mengambil garpunya dan mulai memainkan spagetti yang ada di piring putih itu. digulungnya beberapa helai mie dengan garpu dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Tidak lama kemudian dimainkannya spagetti itu lagi. Tapi kali ini dia tidak memakannya.
Mikuo merasa ada yang aneh dengan Kaito. Diperhatikannya Kaito dengan seksama.
"Kaito," panggilnya. "Kaito.."
Tidak ada jawaban dari Kaito. Tatapan kaito terus pada spagettinya.
"KAITO!" bentak Mikuo yang sudah kehilangan kesabarannya.
"Ada apa?" tanya Kaito santai.
"Kau tidak suka spagetti atau ada yang salah dengan spagettinya? Kenapa kau tidak memakannya?"
"Oh..err, aku sedang tidak nafsu makan."
"Dari kemarin kau hanya makan satu kali. Tadi pagi kau tidak sarapan. Es krim di lemari pendingin juga tidak kau sentuh. Sudah beberapa hari ini kau tidak nafsu makan, kau sakit?"
Kaito menggeleng, tatapannya masih seperti orang yang melamun.
"Aku sahabatmu, ceritakan padaku ada masalah apa sebenarnya."
Kaito melihat ke arah Mikuo.
"Sudah beberapa hari ini, hampir seminggu lebih tepatnya, dia tidak datang menemuiku. Aku sudah mengikuti saranmu untuk datang ke kelasnya. Tapi tiap kali aku ke sana dia selalu tidak ada di kelasnya. Terkadang dia malah menghindariku. Saat tidak sengaja berpapasan di kantin, dia berlari menjauhiku. Aku berpikir, terus berpikir 'Apa ada yang salah denganku?'. Aku tidak mengerti kenapa dia menjauhiku. Seolah tidak ingin melihatku lagi. Padahal aku selalu memikirkannya."
Jujur, aku tidak sanggup bila harus hidup tanpa Len.. Dia sangat berarti bagiku. Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini. Tapi karena dialah aku bisa bahagia..
Kaito berhenti bercerita dan meminum jus blueberry-nya.
"Aku..aku ingin bertemu dengan Len," kata Kaito.
Sepertinya perasaan Kaito pada Len berkembang jauh dari dugaanku. Lebih pesat dan lebih jauh, kata Mikuo dalam hati.
"Tapi kalau kau terus-menerus seperti ini lama-lama kau bisa sakit," kata Mikuo cemas.
"Bagus kan kalau aku sakit. Mungkin dengan begitu Len akan khawatir dan menjengukku. Dia akan datang menemuiku."
Kaito tersenyum kecut.
"Kalau kau sengaja melakukannya, berarti kau benar-benar BaKaito-san."
"Apa kau bilang!"
"Hahahaha…," tawa Mikuo.
Aku tidak bisa membiarkan keadaan ini terus berlanjut, pikir Mikuo.
.
.
.
[Vocaloid Gakuen..]
Aku tidak bisa membiarkan kedaan ini terus berlanjut. Jangan sampai kemungkinan terburuk terjadi, kata Mikuo dalam hati. Dia berjalan menuju kelas Len dengan santai.
Bila biasanya Mikuo ditemani Kaito, kali ini dia sendirian.
Mikuo masuk ke dalam kelas 2-C dan melihat Len sedang bercengkrama dengan seorang gadis yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri. Mikuo menghampiri Len.
"Len?" sapa Mikuo.
Len melihat ke arah Mikuo dengan tatapan bingung, bagaimana bisa laki-laki yang tidak dikenalnya mengetahui namanya?
"Iya," tanya Len balik.
"Ah…Mikuo-nii..kenapa datang kemari? Tumben sekali..," kata Teto dengan wajah ceria.
"Hai Teto, apa kabar?"
"Baik. Mikuo-nii, kenapa datang kemari?"
"Aku ada perlu dengan Len," jawab Mikuo singkat. Dia melihat ke arah Len,"Bisa bicara sebentar?"
Len mengangguk.
Mikuo mengajak Len keluar kelas.
Ada hubungan apa antara Mikuo-nii dengan Len? Bagaimana mereka bisa saling kenal..? Jangan-jangan..jangan-jangan Len bukan murid pindahan biasa! Pikir Teto dalam hati.
Sementara itu Mikuo dan Len telah berada di persimpangan jalan antara club basket dan club majalah sekolah. Tempat itu lumayan sepi, jadi tidak maslaah kalau Mikuo mengajak Len bicara di sana. Selain itu letaknya tidak begitu jauh dari deretan ruang kelas 2-A sampai 2-J.
"Kau siapa?" tanya Len pada Mikuo.
"Gomen ne, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Mikuo, sahabat Kaito," jawab Mikuo dengan senyum di wajahnya.
Len terkenjut saat mendengar nama 'Kaito' dari Mikuo.
"Lalu ada apa?"
"Aku ingin meminta sesuatu darimu. Tolong, kau temui Kaito," pinta Mikuo.
"Kenapa?"
"Karena Kaito sangat merindukanmu. Dia ingin bertemu denganmu tapi kau selalu menghindarinya."
Len menundukkan kepalanya.
Memang benar aku selalu menghindari Kaito-nii. Aku merasa aku tidak pantas bertemu dengannya yang begitu hebat. Aku tidak ada apa-apanya bila dibanding dengannya. Siapa aku? Aku bukanlah siapa-siapa. Walau sebenarnya aku juga mrindukannya, tapi aku mencoba mengubur perasaanku ini, kata Len dalam hati.
"Kumohon..temuilah Kaito. Dia selalu murung selama kau tidak menemuinya. Padahal biasanya dia selalu tersenyum dan ceria. Tapi sekarang..sekarang tidak kulihat ada kebahagiaan yang tersisa dari dalam dirinya. Dan aku tahu satu-satunya orang yang bisa membuatya kembali ceria hanyalah kau Len," bujuk Mikuo.
Len terlihat bingung.
"Aku..kenapa Kaito-nii merindukanku? Aku bukanlah siapa-siapa untuknya kan?"
"Aku juga tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Tapi satu hal yang kutahu. Hati dan jiwa kalian telah terpaut dalam satu rantai kehidupan yang tidak bisa diputuskan. Aku yakin kaupun merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Kaito sekarang," ujar Mikuo lembut.
"DEG!"
Bagaimana Mikuo-nii tahu apa yang kurasakan? Aku kan baru mengenalnya hari ini.
"Aku..aku..akan mencoba. Aku akan menumui Kaito-nii-san," kata Len pelan.
Suara Len terlihat lembut di telinga Mikuo. Mikuo tersenyum bahagia.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, sekarang Kaito pasti ada di taman dekat kolam di taman belakang sekolah," kata Mikuo seraya menarik tangan Len dan berlari keluar gedung sekolah.
"Mikuo..Kaito..dan Len..sepertinya menarik..," gumam seorang gadis yang memperhatikan gerak-gerik dan percakapan antara Mikuo dan Len tadi. Gadis berambut hijau itu tersenyum licik.
=';'=
Hatiku dan hatimu terpaut jadi satu
Dalam alunan melodi cinta
Jiwaku dan jiwamu terpaut jadi satu
Dalam rantai takdir cinta
=';'=
"Tu, tunggu dulu Mikuo-nii. Apa maksudnya taman belakang? Bukannya hanya ada halaman belakang?" tanya Len penasaran.
Mikuo dan Len masih terus berlari.
"Kau belum tahu ya? Taman belakang adalah taman yang dibuat seperti hutan. Masuk ke sana lewatnya dari halaman samping bukan dari halaman belakang. Wajar kalau tidak tahu," jelas Mikuo.
Tanpa terasa Mikuo dan Len telah sampai di taman belakang yang ternyata sangat luas dan penuh dengan pepohonan dan bunga-bunga indah. Terdapat jalan setapak yang menghubungkan taman bagian luar dengan taman bagian dalam. Di tengah taman terdapat sebuah kolam ikan yang ditumbuhi bunga teratai yang indah. Di sana juga tersedia banyak bangku taman untuk para siswa yang ingin belajar atau sekedar melepas lelah di sana. Tempatnya terasa sejuk dan menyenangkan.
"Kirei…," gumam Len.
Mikuo tersenyum melihat Len yang seperti anak kecil itu.
Ternyata memang seperti anak kecil. Sesuai dugaanku, pikir Mikuo.
"Kau kan sudah kelas 2, kenapa tidak tinggi-tinggi juga? Kalau kau tidak bertambah tinggi..tidak akan ada gadis yang menyukaimu," kata Mikuo santai.
Pandanganku tetang Mikuo-nii kuubah. Kupikir dia orang yang baik, ternyata sama saja dengan yang lainnya, protes Len dalam hati.
"Ternyata Mikuo-nii sama saja dengan yang lainnya!" teriak Len.
"Hahahaha..aku hanya bercanda.."
Mikuo dan Len berjalan memasuki daerah taman bagian tengah dan melihat kolam yang indah. Air yang ada di dalam kolam terlihat berkilauan ketika terkena cahaya mentari yang masuk melalui sela-sela daun dan pepohonan.
Len melihat seseorang yang dikenalnya di dekat bangku taman. Wajah Len langsung terlihat ceria.
Tiba-tiba seorang gadis mendekati Kaito dan memeluknya dari belakang. Len melihatnya.
"Miku?" kata Len lirih.
Hancur hati Len melihat Kaito bersama dengan Miku. Lagi-lagi dia harus melihat kejadian yang tidak ingin dilihatnya. Tak kuasa menahan tangis, tanpa terasa air matanyapun jatuh berlinang di kedua pipinya. Tatapan matanya mulai kabur. Sudah tidak bisa dibendung lagi.
Tiba-tiba Len berlari meninggalkan Mikuo. Mikuo merasakan Len sedang bersedih.
Sementara itu di sisi lain kolam, Kaito mendorong Miku. Dia meninggalkan Miku begitu saja. Hanya beberapa langkah dari tempat Miku jatuh Kaito melihat Mikuo ada di sana. Dihampirinya sahabatnya itu.
"Mikuo, tumben sekali kau datang kemari?" sapa Kaito ramah.
"PLAAKKK!"
Mikuo menampar Kaito tiba-tiba.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Mikuo marah seraya menarik kerah baju Kaito kuat-kuat.
"Apa maksudmu? Soal Miku? Aku bisa menjelaskannya padamu. Aku tidak bermaksud.."
"Bruk!"
Belum selesai Kaito bicara, Mikuo melempar Kaito ke tanah. Kaito pun terlempar cukup jauh dari tempat Mikuo berdiri.
"Apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Mikuo dengan tatapan tajam ke arah Kaito.
Kaito tidak bergerak. Dia masih terdiam.
"Kau benar-benar MENYEBALKAN, Kaito," kata Mikuo dengan penekanan pada kata 'MENYEBALKAN'.
"Aku tidak bermaksud menyakiti Miku, aku tahu kau menyayangi adikmu tapi..," kata Kaito sambil berdiri dari tempatnya terlempar tadi.
"Len," gumam Mikuo. "Tadi dia datang untuk menemuimu. Tapi kau malah bersama dengan Miku. Apa kau tidak sadar telah menyakiti perasaannya!" teriak Mikuo.
"Apa?"
"Jujurlah pada dirimu sendiri Kaito," saran Mikuo seraya berjalan melewati Kaito. Dia berjalan menuju pintu keluar taman.
"Tunggu!" teriak Kaito. Ditangkapnya tangan Mikuo, "Dimana Len sekarang?"
"Tadi kulihat dia berlari ke arah sana."
Mikuo menunjuk ke arah halaman belakang.
Tanpa pikir panjang Kaito langsung berlari mencari Len. Dia tidak mau kehilangan Len karena kesalahan yang tak sengaja dibuatnya. Dia tidak ingin Len salah paham.
.
.
.
"Len, dimana kau?"
Kaito berhenti sejenak. Dilihatnya sekeliling taman yang sepi. Tidak ada seorangpun kecuali dirinya.
"Tes..tes.." ada air yang jatuh tepat di pipi Kaito.
"Apa ini? Hujan?" tanya Kaito bingung.
Kaito menengadah ke atas dan melihat seseorang yang tak terduga ada di sana. Orang yang dari tadi dicarinya.
"Len?" sapa Kaito lembut.
"Kaito-nii?"
Selama beberapa detik kedua mata mereka saling menatap penuh arti. Ternyata Len menangis di atas pohon. Tapi tiba-tiba dia melompat turun dan berlari meninggalkan Kaito. Kaito langsung berlari lagi mengejarnya.
"Lagi-lagi Len berlari."
Len berlari meninggalkan taman belakang dan memasuki gedung sekolah. Dia melesat ke arah lift yang sedang terbuka. Tapi tiba-tiba Kaito yang telah berada di belakangnya menangkap tangan kirinya.
"Tidak akan kubiarkan kau kabur dariku lagi," kata Kaito.
Len memaksa masuk ke dalam lift dan Kaito pun ikut terseret masuk ke dalam lift. Pintu lift menutup. Mereka berdua ada di dalam lift. Ya, hanya berdua.
Kaito mendorong Len ke dinding lift sisi belakang. Dipegangnya kedua tangan Len dan didorongnya ke arah dinding lift. Tubuh Len dan Kaito begitu dekat. Kaito menatapnya terus. Tiba-tiba wajah Len memerah. Len mencoba memalingkan wajahnya dari Kaito tapi setiap dia mencobanya Kaito selalu mengikuti kemana arah mata Len manatap. Seolah Kaito tidak akan membiarkan Len menatap ke tampat lain selain dirinya.
"Kau selalu saja lari dariku. Aku tidak akan membiarkanmu lari lagi dariku. Tidak akan," kata Kaito lembut. "Setiap kali kita bertemu, kau selalu kabur. Kenapa kau selalu begitu padaku? Apa kau tidak memikirkan perasaanku?" tanya Kaito.
Len tidak menjawab.
"Jawab aku Len. Kenapa kau berlari?"
"A, aku..tidak mau Kaito-nii..melihatku menangis," kata Len lirih.
Kaito melepas tangannya dari tangan Len.
"Kaito-nii hebat dan juga terkenal, berbeda denganku. Aku tidak pantas berada di dekatmu," kata Len tiba-tiba. "Aku bukanlah siapa-siapa di mata Kaito-nii. Jadi jangan pedulikan aku."
"Apa yang kau katakan? Apa maksudmu?" tanya Kaito bingung.
Digenggamya tangan kecil Len.
"LEPASKAN AKU!" teriak Len seraya mencoba melepaskan tangannya dari Kaito. "Kaito-nii pergi saja dengan pacarmu! Miku pacarmu kan? Tidak perlu menemuiku lagi! Dan tidak perlu perhatian padaku lagi! Urus saja pacar Kaito-nii!"
Len berteriak-teriak ke arah Kaito. Wajahnya merah padam antara marah dan seperti menahan tangis.
"LEN, KAU TIDAK MENGERTI! KAU HANYA SALAH PAHAM!" teriak Kaito. "Aku dan Miku tidak punya hubungan apa-apa. Miku adalah adik sahabatku, Mikuo!"
"AKU TIDAK PERCAYA PADAMU!"
Kaito terdiam. Tiba-tiba perlahan-lahan air mata mengalir di kedua mata Len.
"Jangan membohongi dirimu sendiri Len. Aku tahu kau percaya padaku."
"Gol waktu itu..itu untuk Miku kan? Aku tahu!"
"Kau salah. Gol itu kuprsembahkan UNTUKMU," kata Kaito dengan penekanan kata 'UNTUKMU'.
"DEG!"
Len tersentak. Dia semakin tenang. Tapi air matanya mengalir dengan derasnya.
Tiba-tiba Kaito memeluk Len dengan hangat.
"Kenapa?" bisik Len lirih.
"Karena aku peduli padamu Len. Aku tidak peduli orang akan berkata apa tentangmu. Aku tidak peduli kau orang seperti apa, entah itu hebat ataupun pecundang. Tapi aku akan selalu bersama denganmu. Entah apa yang terjadi padaku. Tapi satu hal yang bisa kupercayai, aku senang bisa megenalmu. Kau adalah orang pertama yang benar-benar mengerti apa yang kurasakan. AKU MENYAYANGIMU."
A, aku..aku..aku juga menyayangimu, Kaito-nii..
Len tiada hentinya menangis. Air matanya mengalir semakin deras.
"Menangislah. Menangislah dipelukanku. Jangan pernah perlihakan tangisanmu itu pada orang lain. Perlihatkanlah hanya padaku. Aku tahu, kau menangis karena salahku," bisik Kaito.
"Kaito-nii.."
"DERT…DREEK! DREEKK! BREK.."
"Ada apa ini?" tanya Kaito dan Len hampir bersamaan. Mereka berhenti berpelukan.
TBC
Preview Ch. 4
(Kaito dan Len..)
Kaito mengacak rambut Len dengan tangannya.
"Ah..Kaito-nii..," protes Len dengan nada manja seraya memegang tangan Kaito untuk menghentikannya mengacak rambutnya.
Manisnya.. Tanpa sadar senyum lebar merekah di bibir Kaito.
Kaito menatap Len dengan tatapan lembut.
(Mikuo dan Miku..)
"Miku, lupakanlah Kaito. Dia tidak bisa mencintaimu."
"Kenapa? Jelaskan padaku Nii-san!"
(Kiyoteru Hiyama..)
"Kepala Sekolah memanggilku?" tanya pemuda itu sopan.
"Sebagai Ketua OSIS Vocaloid Gakuen aku harap kau segera menyelesaikan masalah fasilitas sekolah yang rusak," perinah Kepala Sekolah Kiyoteru.
(Akita Neru..)
"Apa-apaan ini? Siapa yang mengotorinya?" teriak Neru kesal.
mkch semuanya..bagi yg udah baca chapter 3.
yg mau review..silahkan...
tunggu chapter selanjjutnya ya..
