The story of us

.

Present by Indukcupang

.

Kim Mingyu

Jeon Wonu

.

Mature

.

Chapter

.

Ini bukan sequel. Tapi drama diantara Wonu dan Mingyu. Mature untuk sexual content. Tapi tidak untuk semua chapter dan dichapter ini SUDAH ADA AWH!

enjoy with my fict, madarls!

.

Disclaimer-nya saya seperti biasa. Cerita milik saya. Mingyu Wonwoo milik saya juga. Jan marah. Muah!

.

Warn. GS!WONU. TYPO. PENULISAN YANG TIDAK SESUAI EYD. CAST YANG MEMBUAT CINTA HAKS.

.

Enjoy.

.

. NP: NCT U - THE 7TH SENSE .


.

Mingyu membawa Wonu keluar dari Zenvo ST1 milik Junhui. Tanpa berpamitan atau pun mempersilahkan Junhui pulang, Mingyu langsung saja berlalu meninggalkan Junhui yang menggeram berang.

Laki-laki china itu tidak langsung pergi. Ia mendiamkan diri setelah masuk kedalam mobilnya.
Memejamkan mata sejenak. Memikirkan hal yang tadi dilihat.

Bingung dengan sosok lelaki yang tadi mengangkat Wonu dari mobilnya.

Tidak mungkin itu Kim Mingyu. Hei. Kim Mingyu itu sangat buruk rupa. Tapi, tadi itu. Adalah sosok yang sangat tampan—walau bagaimana pun dia harus mengakuinya—melebihi ketampanan dirinya.

Tapi kenapa dia bertanya tentang kakaknya dan membawa Wonu? Tidak mungkin Wonu punya adik tiri lagi selain Mingyu?

Lelaki china itu menghela nafas. Ini bukan hal yang harus dicampurinya. Tidak.

Dan akhirnya lelaki itu menghidupkan mesin Zenvo-nya dan menarik pedal gas. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.

.

.

Mingyu menidurkan Wonu di sofa ruang tengah. Mini dress yang digunakan Wonu tersingkap keatas dan memperlihatkan penutup kewanitaan yang digunakan oleh Wonu. Mingyu menghela nafas berat. Tangannya menjulur untuk menata mini dress yang tersingkap. Menurunkan mini dress itu hingga menutupi kewanitaan Wonu. Lalu laki-laki itu beralih kebawah dan melepaskan high heels yang digunakan Wonu.

Lelaki tinggi itu melirik kearah jam dinding yang bertengger disisi kanan ruangan itu.

12.59

Itu artinya Wonu sudah pergi selama 4 jam. Gadis itu pulang tengah malam, dan hampir saja dinodai oleh lelaki china yang Mingyu ketahui bahwa lelaki itu bukanlah lelaki baik-baik. Apalagi untuk kakak tirinya.

Menurut Mingyu, Junhui adalah tipekal laki-laki yang memperalat apa yang dimilikinya untuk memiliki apapun yang ia inginkan. Dan tampaknya Junhui menginginkan kakak tirinya itu.

Mingyu tidak buta. Dia dapat melihat apa yang terjadi disebalik kaca mobil itu.

Junhui hampir saja melecehkan kakaknya. Dan ia tidak akan memaafkan dirinya jika kakaknya ternodai oleh laki-laki sebejat Junhui.

"Uuhmm.." Mingyu tersadar saat Wonu menggeliat dalam ketidaksadarannya. Lelaki tinggi itu mendekati wajah Wonu dan tiba-tiba menjauhkannya kembali.

Wonu bau alkohol.

"Eih. Apa yang dilakukan sibodoh itu sih sebenarnya!" Mingyu mengutuk Wonu dan teman-teman di party Seungcheol. Ia yakin, kakaknya ini di provokator untuk menenggak alkohol yang padahal ia sangat tahu bahwa saudara tirinya itu bukan seorang peminum yang kuat.

"Uh. Kau tidak—hik—tahu hansol! Aku—hik—benci dengan Mingyu—hik—sangat." Wonu mengigau dalam tidurnya.

"Hei. Bangun." Mingyu menepuk pipi Wonu lumayan keras. Lalu dia menggoyangkan wajah Wonu kekanan dan kekiri. "Bangun, Noona."

Mingyu menarik-narik tubuh Wonu agar duduk. Mingyu akan memberikan Wonu ibuprofen atau aspirin, agar gadis itu tidak meraung kesakitan besok pagi.

Namun Mingyu teringat. Wonu tidak akan mau meminum obat walau dalam keadaan seteler apapun. Mingyu beranjak dari tempat Wonu dan berjalan menuju dapur. Teh jahe atau lemon madu adalah salah satu cara untuk menyembuh si gadis itu.

.

.

Mingyu membawa segelas teh jahe keruang tengah. Diletakkan gelas berisikan teh beraroma jahe itu keatas meja. Lalu ia menuntun Wonu duduk bersandar. Gadis itu tetap tidak sadarkan diri. Mingyu menghela nafas. Kenapa dia jadi repot mengurusi anak gadis besar ini?

"Mingyuuu~" wonu kembali mengigau namun dengan sedikit kesadaran. Tangan gadis itu menggapai-gapai Mingyu. Dipandangannya, Mingyu kini terbagi banyak dan bergerak kencang. Pandangannya berputar ketika ia berusaha duduk.

"Aduuuh. Aku ingin muntah." Ujar Wonu sambil menutup mulutnya dengan tangannya. Gadis itu bangkit namun kembali ambruk. Mungkin karena dia sempoyongan. Mingyu berlari cepat kebelakang dan kembali membawa kantong plastik. Cepat-cepat ia mengarahkan kantong plastik itu kemulut Wonu.

"Muntahkanlah." Ikatan batin mungkin keduanya, setelah Mingyu berkata seperti itu, Wonu langsung menembakkan muntahan dari mulutnya. Hanya ada air. Cairan berwarna merah keluar dari mulut gadis itu. Begitu banyak muntahan yang keluar. Hampir setengah kantong plastik itu.

Setelah Mingyu rasa Wonu tidak muntah lagi, dengan cekatan laki-laki itu mengikat kantong plastik dan pergi kedapur untuk membuangnya.

Mingyu kembali membawa kantong plastik baru. Dan Wonu duduk bersandar disofa. Dada gadis itu naik turun. Nafasnya menderu.

"Minum ini dulu. Setelah itu tidurlah." Wonu menoleh. Melirik cairan kecoklatan yang ada ditangan Mingyu.

"Seperti alkohol. Tidak mau! Hik." Wonu bergerak-gerak liar ditempat. Menolak minum obat ala anak-anak. Mingyu mulai habis kesabaran.

"Ini cuma teh. Minum. Kau merepotkan." Mingyu menahan gerakan tubuh Wonu yang masih saja cepat. Perlahan gerak gadis itu mendiam. Mingyu mendekatkan minuman herbal itu pada Wonu. Dan gadis itu memandang tak yakin. Mingyu mengangguk dan tersenyum.

"Tak apa, biar sembuh."

Bagai tersihir, Wonu meraih gelas dari tangan Mingyu dan meminum isinya sedikit demi sedikit.

"Mingyu-yaa.." Ujar Wonu ketika minumannya habis setengah.

"Yaa, Noona?"

"Aku mengantuk.." Wonu mengerjabkan matanya lucu. "Kepalaku pusing sekali." Gadis itu kembali merengek. "Antarkan aku kekamar."

Perintah ratu tidak bisa ditolak.

Mingyu meraih tubuh Wonu lalu diangkatnya tubuh gadis itu. Menggendong si gadis menuju kamarnya.

"Aku tidak suka lihat Mingyu dekat—hik—dekat sama Minkyung itu. Mingyu bisa tersakiti kalau dekat dia." Mingyu melirik wajah Wonu. Gadis itu jelas-jelas memejamkan matanya. Dan masih belum sepenuhnya sadar. Mungkin sekarang tidak sadar.

Mingyu tertawa pelan, Wonu mengkhawatirkannya. Dia tidak akan tersakiti. "Siapa Minkyung memang yang menyakitiku."

"Tapi aku takut bil—bilang—hik—yang sebenarnya." Wonu diam. Mungkin menjeda. Gadis itu sibuk dengan cegukannya. "Aku tidak mau gadis sialan itu menyentuh milikku—hik."

Milikku…

Milikku..

Milikku.

Wonu baru saja mengigau dan meng-claim Mingyu itu miliknya.

Mingyu terkekeh pelan.

"Pantasan saja Junhui ingin mengerjaimu. Kau hanya wanita bodoh, noona." Gumam Mingyu.

Terbesit untuk melakukan tindakan kejahatan diotak Mingyu. Melecehkan Wonu saat ini juga. Tapi tidak. Memperkosa orang mabuk bukan gayanya.

Dan lagi. Ia tidak ingin kesalahan lama terulang kembali.

Mingyu tampak frustasi sendiri.

Lelaki itu meninggalkan kamar Wonu.

.

.

.

.

"AAAAHH.." Pekikan nyaring keluar dari kamar Wonu. Disusul dengan derap langkah cepat dan ribut dari kamar Mingyu. Lelaki itu berlari mendekati kamar Wonu dan membuka pintu dengan cara membanting. Gadis itu tengah memegang kepalanya. Rambut yang seperti rambut singa dan wajah yang kusut seperti belum disetrika. Tubuh gadis itu masih dililit dengan selimut tebalnya.

"Apa yang terjadi?!" Tanya Mingyu heboh sambil berlari ke arah Wonu.

"Kepalaku sakit, Gyu.. Hiks." Gadis itu berujar dan menangis.

Bukannya tadi malam ia sudah memberikan gadis ini obat? Kenapa masih mengeluh? Memangnya dia minum seberapa banyak sih?

"Sebentar." Ucap Mingyu lalu pergi meninggalkan kamar Wonu. Dan gadis itu kembali telentang.
Wonu kembali mual. Ia merasa dunianya tengah berputar. Ia merasa dia sedang berada diatas. Gadis itu merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari mulutnya.

Dengan gerakan cepat ia bangkit dari tempat tidurnya dan berlari cepat menuju kamar mandi.

"Huweek."

Muntahan keluar begitu saja dalam berbentuk air dari mulut gadis itu. Ia tidak berhenti mengeluarkan muntahan itu hingga Mingyu datang dan memijat tengkuknya pelan.

"Makanya kalau tidak kuat minum, jangan dipaksakan." Ujar Mingyu sambil memijat tengkuk Wonu. Lelaki itu bergerak hingga Wonu berhenti berhenti mengeluarkan muntahannya. Gadis itu mendekat ke wastafel dan mencuci mulutnya dan sekalian wajahnya. Dia berbalik dan bersandar pada sisi wastafel. Keduanya saling berhadapan. Mingyu menatap Wonu yang tengah terengah.

Sial. Dalam keadaan seperti ini, Wonu tampak seksi sekali.

Gadis itu masih menggunakan mini dress yang digunakannya tadi malam. Ya. Mingyu tidak mengambil resiko menggantikan pakaian kakaknya dan berakhir menyetubuhi tubuh indah saudara tirinya ini.

"Sudah mendingan?"

Wonu mengangguk pelan.

"Jangan berhubungan dengan Junhui lagi." Ujar Mingyu lalu menekan tombol air pada toilet bowl agar air membersihkan muntahan Wonu.

Gadis itu mengeryitkan keningnya. Bicara apa si tampan ini?

Mingyu menoleh pada Wonu karena gadis itu sama sekali tidak menjawabnya. "Kau dengar aku, Noona?"

"Kenapa aku harus mengikuti ucapanmu?" Tanya Wonu menantang. Selalu menantang memang gadis ini.

"Aku sudah katakan. Dia bukan laki-laki baik. Okay. Aku juga. Tapi kalau aku tidak cepat datang, aku yakin kau sudah ditelanjangi dan dimasuki olehnya dimobilnya tadi malam." Jelas Mingyu menggeram. Alih-alih marah, Mingyu melemparkan beberapa tissue pada Wonu. "Bersihkan mulutmu." Perintahnya.
Wonu membersihkan sekitaran mulutnya. "Maksudmu?" Tanya gadis itu. Tidak mengerti dengan apa yang sudah dikatakan Mingyu.

"Kau paham betul maksudku, Jeon." Ucapan Mingyu mengakhiri segalanya. Karena setelah itu dia pergi meninggalkan Wonu yang hampir mati penasaran.

.

.

Wonu mengambil posisi tiduran dikarpet ruangan keluarga dirumah itu. Tubuhnya sudah mulai membaik.

Ya. Mingyu menjejalkan susu dan obat ibuprofen yang sebenarnya Wonu tidak suka. Obat itu pahit. Dia tidak suka yang pahit.

Alih-alih tiduran, gadis itu masih memikirkan ucapan Mingyu dikamar mandi.

Artinya, tadi malam Mingyu menolongnya dari Junhui yang hampir saja menidurinya.

Tapi kenapa Junhui melakukan itu padanya?

Dan kenapa pula Mingyu menolongnya?

Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan dikepala gadis itu. Hingga dia sadar Mingyu lewat didekatnya sambil memegang handphone-nya.

By the way. Mingyu sering memegang handphone belakangan ini.

"Yaa, Minkyung?"

Wonu menoleh ke arah Mingyu. Lelaki itu tengah menerima telepon. Dan itu dari Minkyung.

Audy Q7..

Membuktikan bahwa Kim Mingyu mempunyai penis kecil..

Kedua mata sipit Wonu membola. Tidak. Dia tidak akan biarkan hal itu terjadi.

"Tidak ada, Kyung."

Sialan.

Mereka sudah punya panggilan sayang.

"Tidak masalah, aku akan tunggu di toko buku itu nanti." Dia akan pergi dengan Minkyung.

Tidak!

"Jam 4 sore? Okay. Daah."

Wonu langsung bangkit dari posisinya dan langsung menyerang Mingyu ketika lelaki itu lewat disampingnya. Gadis itu mendorong tubuh Mingyu jatuh diatas sofa kulit namun lembut diruangan itu.
Wonu langsung menghimpit Mingyu dibawahnya.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Mingyu dengan nada tak suka.

"Jangan menemui Minkyung."

"Jangan ikut campur urusanku." Mingyu mendorong tubuh Wonu pelan. Gadis itu hampir terjungkang, tapi dengan sigap ia menahan dan mempertahankan posisinya.

"Sorry. Untuk kali ini aku akan ikut campur." Ujar Wonu sambil mendempetkan tubuhnya pada Mingyu. Ia merapatkan tubuh atas keduanya, hingga wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti saja.

"Apa pedulimu sehingga harus ikut campur?" Mingyu bertanya sambil berusaha melepaskan tangannya yang terkunci. Hingga tangannya lepas, ia mengunci pergerakan wajah Wonu dengan memegang wajah gadis itu.

"Peduliku? Kau ingin tahu apa peduliku?" Gadis itu melepaskan kungkungan jemari Mingyu dari wajahnya dan menghempaskan tangan sipenjantan. "Peduli adalah..." Wonu menggesekkan tubuhnya pelan diatas tubuh Mingyu. Karena gadis itu duduk tepat mengangkangi selangkang Mingyu, kelamin kedua bergesekkan. Walau masih terhalang penghalang dalam berbentuk untaian benang, sensasinya membuat keduanya lumayan menegang.

"Apa yang kau—Ohh.." Ucapan Mingyu malah berubah menjadi desahan berat ketika Wonu menggesekkan kelamin keduanya begitu liar.

Nafas keduanya berubah berat. Keduanya terengah.

"Mingyuhh.."

Mingyu berdeham berat sebagai jawaban. Ia begitu menikmati perlakuan Wonu diatasnya. Wonu membawanya kedalam lubang kenikmatan yang menggila.

"Aku ingin ulangi yang waktu itu. Hhh.." Desah Wonu tanpa menghentikan pergerakkannya yang tentu saja membuat sesuatu diantara selangkangan Mingyu membengkak.

Mingyu menguasai dirinya sesaat. "Aku bukan pria baik-baik, Jeon." Ujarnya dengan nafas terengah. Keduanya bernafas pendek dan berat.

"Aku ingin kau menjadi pria tidak baik-baik, Kim." Sentak Wonu. Lalu gadis itu menangkup wajah Mingyu dengan kedua tangannya. Dengan cepat gadis itu melalap bibir berisi Mingyu melumatnya kasar. Ciuman liar tidak terelakkan. Mingyu menerima perlakuan yang mengenakkan yang disuguhi oleh Wonu.

"Kau gila, Jeon." Bentak Mingyu saat bibir keduanya terlepas. Wonu bernafas tepat diwajah Mingyu

"Ya. Aku memang gila.." Balas Wonu dan lalu kembali menggoda adik tirinya yang tampan itu. Dia menyeringai sebelum melarikan tangannya pada selangkangan Mingyu. Gadis menggoda kelamin Mingyu yang sudah membengkak besar.

Ouh. Betapa memuaskannya si adik ini..

Seringai tipis kembali terlihat dibibir gadis bermarga Jeon itu. Lalu gadis itu menarik nafas dan membuangnya berat sebelum menciumi rahang tegas Mingyu. Dan gerakan gadis itu turun menuju perpotongan leher Mingyu yang panjang hingga desahan berat keluar dari belahan bibir lelaki bernama Mingyu itu.

Celana Mingyu semakin mengetat. Persetan dengan masa lalu.

Dengan cepat lelaki itu duduk dan memutar keadaan. Dibaliknya badan Wonu dan menghimpit dan mengurung gadis itu dibawahnya.

Wonu sangat seksi dilihat dari atas sini. Begitu menggoda. Begitu menggairahkan. Hingga ingin rasanya ia meledakkan gairahnya diatas Wonu saat ini juga.

Mingyu melesakkan mulutnya kepada arah leher Wonu. Mengecup setiap inchi leher gadis itu. Lenguhan dari si gadis membuat selangkangan Mingyu menjerit ngilu. Mingyu menggeram pelan. Diliriknya bibir Wonu yang mengatup-ngatup mencari oksigen untuk bernafas.

Sialan.

Mingyu memburu bibir tipis Wonu. Menghisap keras belahan lunak itu hingga sang pemilik terhanyut dan terbawa arus api yang dilukiskan oleh Mingyu.

Mingyu dan Wonu saling merapatkan diri. Merapatkan diri sehingga tak ada lagi celah tersisa diantara keduanya. Tubuh keduanya terhalangi pakaian mereka saat ini.

Wonu masih dengan mini dressnya. Mingyu dengan kaus oblong putih dan celana pendek selutut.

Kreek..

Suara robekan berasal dari tubuh Wonu. Mini dress itu terbelah dibagian dada dan membuat payudara berisi gadis itu terpampang indah dihadapan Mingyu. Lelaki itu mendekatkan wajahnya kepayudara Wonu dan menenggelamkan wajahnya dibelahan tersebut. Bernafas berat dan panas.

Mingyu mengerang pelan ketika Wonu menyentuh kulit dadanya. Entah kapan tangan gadis itu masuk kedalam bajunya, Mingyu tak tahu. Lelaki itu menatap Wonu dalam.

Sementara gadis itu merasakan basah diselangkangannya ketika Mingyu menatapnya. Tatapan lelaki itu menghantar arus api yang begitu panas dan membuat Wonu melenguh pelan.

Wonu mengaitkan kedua tangan dileher Mingyu dan menarik kepala Mingyu agar mendekat. Dahi keduanya bertemu. Nafas keduanya bersahutan.

"Kau inginkan aku, 'kan?"

Sempat-sempatnya gadis ini bertanya hal yang jelas-jelas telah ada jawabannya. Wonu mengelus rahang Mingyu, menggoda sang penjantan agar segera takluk dan memasukinya.

Mereka mendesah bersamaan saat kelamin kedua bergesekan karena pergerakan pelan dari Wonu. Gerakan sensual yang perlahan, Wonu menaikkan pinggulnya dan menikmati sensasi pembengkakkan pada kejantanan Mingyu yang begitu menggoda.

Pandangan Mingyu menggelap. Ia berdeham rendah dan lalu menekan kejantanannya pada selangkangan Wonu. Lagi-lagi kedua mendesah bersamaan.

Mingyu menutup matanya dan kembali membawa Wonu kedalam nikmatnya bercumbu dibibir. Tangan Mingyu menggoda payudara sintal Wonu dengan irama yang dibuatnya sendiri. Akibatnya, Wonu merintih dan mendesah tertahan didalam ciuman panas yang Mingyu ciptakan.

Wonu menghempaskan kepalanya kebelakang yang mengakibatkan tautan bibir keduanya terlepas paksa ketika jemari Mingyu menggoda daerah kewanitaannya. Jari-jari panjang Mingyu menusuk-nusuk kelamin Wonu yang membuat Wonu menegang.

Mingyu benar-benar membuat Wonu sangat ketagihan dengan apa yang telah dilakukannya. Mendadak tubuhnya sudah sangat ingin untuk dimasuki oleh Mingyu.

Suara helaan nafas Mingyu dan Wonu beradu menjadi satu.

"Kau sudah basah sayang.." Desah Mingyu ketika jemarinya berhasil menyentuh labia mayor. Basahnya Wonu menyebar hingga bagian keluar. Sebelah tangan Mingyu dilarikan untuk melepas penutup lubang kenikmatan itu. Setelah melepaskannya, Mingyu berusaha menarik mini dress Wonu keatas. Sehingga ketika mini dress itu terlepas, gadis dibawah kungkungannya itu benar-benar polos telanjang tanpa seuntai benang.

Mingyu memasukkan dua jemarinya sekaligus untuk memuaskan lubang kewanitaan yang sudah berkedut meminta agar segera dipuaskan. Mingyu bergerak intens dibawah sana.

Dada gadis itu berdebar tak beraturan saat Mingyu membelahnya dan menatapnya dalam. Hingga Wonu dapat rasakan kecepatan gerakan jemari Mingyu dibawah sana semakin cepat yang membuat Wonu merasakan gelombang getaran hebat yang nikmat melanda dirinya. Hingga gadis itu menegang dan terlepas. Melepaskan orgasme pertamanya sambil meneriaki nama Mingyu.

Tangan mengalung ke leher Mingyu. Menarik sang penjantan dan menciumnya beberapa kali. Berucap terima kasih karena memberikannya pelepasan yang begitu luar biasa.

"Ingin rasakan yang lebih?" Tanya Mingyu sambil menyeringai seksi.

"Berikan padaku."

Namun sebelum Mingyu bergerak, Wonu bergerak terlebih dahulu. Gadis itu menggeliat dan menekankan pinggulnya keatas. Mendorong Mingyu agar memberinya celah. Saat tercipta ruang, gadis itu menurunkan celana pendek selutut Mingyu menggunakan kakinya. Gadis itu mendorong celana penghalang itu beserta celana dalam yang digunakan Mingyu. Sehingga ia berhasil mengeluarkan milik Mingyu yang tampaknya sudah sangat siap menggempur isi rahim Wonu. Lalu gadis itu menarik kaos oblong putih yang dikenakan Mingyu keatas. Sehingga keduanya sama-sama tanpa busana.

Wonu menatap lelaki yang ada diatasnya ini. Lelaki tinggi itu malah mengumbar senyum yang mampu membuatnya memerah.

"Wonu.." Bisik Mingyu saat bibir basahnya ada di samping telinga Wonu. Mengalirkan berjuta volt listrik ke seluruh tubuh gadis itu ketika nafas panas Mingyu menerpa kulit lehernya. Ya Tuhan.
Mingyu menggesekkan kelaminnya dibibir kewanitaan Wonu. Menyapa kewanitaan sang gadis. Seolah mengatakan, Bersiaplah. Aku akan datang.

Kepala Wonu melesak kebelakang saat Mingyu memasukkan ujung kejantanannya pada lubang vagina Wonu. Menggesekkan kejantanannya untuk menyapa urethral, menuju klitoris, berakhir pada pubis. Lalu lelaki itu mundur, dan kembali maju menggoda bagian-bagian daerah sensitif itu.

"Jangan menggodaku." Wonu berusaha menahan diri agar tidak meledak karena masih saja digoda oleh si pemuda tampan ini

"Kau tergoda?"

Sialan.

Wonu mengeluarkan seluruh tenaganya, dan mendorong tubuh Mingyu telentang. Dengan sigap gadis itu berada diatasnya.

Perempuan itu langsung menggenggam kejantanan Mingyu dan mengarahkannya pada lubang senggamanya. Setelah pas, Wonu turun perlahan.

Keduanya menggeram tertahan.

Kenikmatan mengaliri tubuh keduanya. Kenikmatan yang membawa keduanya tersengat. Nafas keduanya tersenggal.

Wonu menghentakkan tubuhnya. Kejantanan itu membelahnya dan mengirimkan rasa nikmat yang begitu besar.

Gadis bermuka datar itu mendiami kelamin Mingyu didalam kelaminnya. Menikmati pembengkakkan penis Mingyu didalamnya. Mingyu mendorong tubuhnya keatas sedikit. Gerakan kecil yang diciptakan oleh Mingyu membuat Wonu melenguh pelan. Dan melihat Wonu melenguh, Mingyu menarik diri dan mendorongnya kembali.

Tangan Mingyu membantu Wonu untuk naik dan turun berirama diatas tubuhnya. Posisi yang begitu menguntungkan. Dengan posisi Wonu diatas, membuat kejantanan Mingyu masuk lebih dalam kedalam tubuhnya membuat Wonu ketagihan untuk naik-turun lagi, lagi, lagi dan lagi.

Mingyu mendorong tubuhnya untuk duduk tanpa melepaskan kontak diantara keduanya. Pemuda itu menarik tubuh Wonu semakin rapat pada tubuhnya. Posisi memangku Wonu membuat Mingyu gencar mengerjai payudara Wonu.

Mingyu langsung menenggelamkan wajahnya di dada gadis itu. Wonu merintih ribut tanda nikmat saat merasakan mulut Mingyu mengisap puncak dadanya, sedangkan tangan yang satunya menjelajahi tubuh Wonu dan sampai pada dada gadis bermarga Jeon tersebut. Jemari Mingyu meremas payudaranya. Ini sangat nikmat, membuat kewanitaannya yang sedari tadi basah dan terasa nyeri sepertinya akan datang pelepasan sebentar lagi.

Desahan memanggil nama Mingyu lolos berulang-kali dari mulut Wonu yang bahkan sulit
terkatup. Membuat semangat dan hasrat Mingyu semakin berkobar.

"Gyuhh…" desah Wonu saat tubuhnya menegang. Mingyu mengulum puncak dadanya dengan semakin keras hingga terasa perih dan saat itu juga Wonu merasakan pelepasannya yang hebat. Nafasnya tersengal dan ia mengeratkan pelukannya pada bahu Mingyu.

Mingyu melepaskan kuluman bibirnya pada puncak dada Wonu, kemudian mengecup bibir gadis dengan penuh hasrat.

Setelah puas dengan dada, Mingyu kembali fokus untuk menggempur lubang kenikmatan milik gadis yang ada dipangkuannya ini.

"Kau masih sempit saja." Ujar Mingyu saat dorongan entah keberapa kali ia hantarkan untuk memuaskan hasrat keduanya. Belum sempat Wonu menanggapinya, Mingyu sudah mendorong miliknya hingga membuatnya memekik tertahan. Nafas Mingyu langsung terdengar memburu bersamaan dengan miliknya yang terus mendorong lebih dalam.

"Oh, Gyuhh.." desah Wonu berulangkali saat Mingyu mendaratkan ciuman di dada telanjangnya dan kadang menjilati dada itu sambil terus menggerakkan miliknya, hingga menusuk dinding rahim Wonu.

"Noona, kau begitu nikmat." desah Mingyu parau sambil menusukkan milikknya lebih dalam dan Wonu mengimbanginya dengan gerakan berlawanan, membuat Mingyu semakin gila dalam menggerakkan tubuhnya.

Bunyi gerakan penyatuan tubuh mereka berdua membuat Mingyu semakin terbakar. Cepat dan semakin cepat ia menggerakkan milikknya menusuk lubang kewanitaan Wonu hingga suara Wonu melengking indah karena nikmat membuatnya makin terangsang.

Wonu merasakan gerakan bercinta Mingyu yang sangat liar ini membuatnya juga merasa liar, hingga ia bisa cepat merasakan ada sesuatu yang akan datang sebentar lagi. Tubuhnya menegang.

"Keluarkan bersama, sayang." bisik Mingyu mesra dengan nafas tersengal sambil mengecup pelipisnya yang kini bahkan sudah tertutupi oleh keringat.

"Y-ya,." jawab Wonu dengan memejam matanya. ia menggigit bibirnya kuat-kuat. Wonu merasakan satu dorongan begitu kuat saat

Mingyu menghentakkan kejantanannya semakin dalam pada kewanitaan Wonu, hingga gadis itu seolah merasakan rahimnya akan dapat ditembus oleh kejantanan Mingyu yang masuk dan mengisinya penuh sampai ke dalam.

Tidak lama kemudian, tubuhnya terasa kaku setelah cairannya keluar secara intens bersamaan dengan cairan milik Mingyu bersatu di dalam rahimnya dan sebagian keluar mengalir melalui pahanya.

Mingyu menghela nafas panjangnya. Begitupun juga Wonu.

"Kau hebat, noona." Bisik Mingyu serak lalu mencium bibir Wonu pelan. Mingyu menarik nafas dalam-dalam dan kemudian menatap Wonu intens.

"Sial. Aku ada janji dengan Minkyung, Wonu." Wonu melihat ekspresi Mingyu seperti terlihat frustasi. "Tapi aku ingin mengulanginya lagi." lanjutnya tenang penuh hasrat.

Wonu memegang kuat kedua pipi Mingyu. Menegaskan Mingyu hanya boleh menatap dirinya. Tidak boleh apapun selain dirinya.

"Kau ingin ulangi?"

Mingyu mengangguk.

"Lakukan lagi dan lagi," ujar Wonu penuh hasrat. "Hingga kau lupa bahwa kau punya janji dengan gadis sialan itu." Lanjutnya marah.

Sumpah. Minkyung bukan gadis yang tepat untuknya.

"Kau seksi kalau cemburu." Bisik Mingyu parau dan berat. Hasrat kembali memuncak saat Wonu mengizinkannya datang lagi kedalam tubuh gadis itu.

"Terserah. Silahkan ulangi. Aku rela mengangkang dibawahmu, aku rela mengoral penismu, asalkan kau tidak pergi menemui gadis brengsek itu." Sesak Wonu dengan nada tak suka. Dia marah karena Mingyu sepertinya tetap ingin menemui si sialan—minkyung itu.

Tubuh Wonu terdorong kebelakang ketika Mingyu membungkuk.

Lelaki itu meraih handphonenya. Mengetuk layar datar itu beberapa saat dan lalu mendekatkan handphonenya pada telinganya.

"Aku tidak bisa menemuimu." Ujar Mingyu sambil memainkan puncak payudara Wonu yang ada di depannya. Wonu menahan nafas saat Mingyu malah mengecupnya. "Aku tidak ingin. Aku tutup. Bye."

Setelahnya Mingyu melemparkan layar datar itu kesampingnya. Sedangkan Wonu melenguh tertahan karena Mingyu meremas payudaranya dan tidak sadar bahwa Mingyu tengah menatapnya penuh nafsu.

"Kau harus mengangkangi kedua kakimu untukku hari ini, Jeon Wonu." Seketika gadis itu sadar. Dan tersenyum miring.

"Aku akan.." Jawab gadis itu nakal penuh tantangan. "Asalkan, kau tidak akan pernah memperlihatkan ukuran penismu pada wanita sialan itu."

"Aku juga akan lakukan itu, kalau kau berhenti berhubungan dengan Junhui."

"Deal?"

"Deal."

Lalu setelahnya Mingyu membawa tubuh gadis itu menuju kamarnya dilantai dua untuk menerbangkan hasrat-hasrat yang terus membuncah diantara kedua. Keduanya akan menggempur dosa kenikmatan.

.


To be continued...


.

Hellow epribadeeeeh~ miss meh? ato kangen otak rada nganu/?nya gue hmzz

Sekali lagi terima kasih banyak kepada permisah-permisah yang sudah sudi membaca fiksi rada nganunya karya indukancupang ini dan sudah meninggalkan review. Ku sayang kalian nak. Muah.

dan para siders. Ku juga sayang kalian. Karena kalian membuatku berpahala karena sabar menghadapi kalian. Haha. Tobat beb. Hiks

Yaah well, karena sebenarnya gue itu sebel sama readers yang tidak meninggalkan jejak. Sempet kehilangan minat buat nulis. Tapi... Mengingat para permisah yang sudah review, kukembali. HEHEHE. CIUM DULUW SINIH! MUAH!

big thanks for...

DevilPrince: Masih berfikir Wonu polos disini tants? bener gayaah? aduh. masih panjang cerita untuk menjawab pertanyaan yang satu itu dear. staytune aja di channel Indukcupang yah hehe. Karna kalo kaga dirumah, item gabisa mergokin wonuku:" jejalin ae. perlu gue bantu?:g thanks for review dear!

nisaditta: Ehbuluq,- serah gue dong, mau bikin naena sama siapa, sama gue pun jadi, tapi gue dihalalin dulu *eh JADIAN TIDAK YAA~~ KASIH TAHU TIDAK YAAAA~~? HAHA
Makaseeh tidak jadi siders adikmanis muah!

mshynngts: Daahdahsudah lanjuud nih! hehe. thanks for review dear!

aliciab.i: Jadi kamu ngapain kalo bukan review nak?-_- jan senyum sendiri, review dulu. ntar tak begal mau?hmz. thanks for review dear! muah!

Nikeisha Farras: Mingyu u mean, tants?-" Mingyu ngalalin gue dulu baru WOnu haha. Thanks for review darl. Muah!

pizzagyu: Mingyu juga manusia dan dia punya nafsu seperti manusia biasa pada umumnya tante hehe. thanks for review.

Skymoebius: Masa iya Wonu ae gue bikin mesum, item juga dongs HAHA Aku juga belum tau,- gimana dong?hehe. thanks for review!

Kyunie: Mereka bukan saling cemburu. tapi... RAHASIA. HAHAHA thanks for review!

whiteplumm: Aku juga manusia maah, tak luput dari typo hiks. Gue uda kaya penulis novel ae punya editor wkwk i'll calling u, kalo butuh hehe. Makasih sudah review sayang! Muah!

Pearl Metal Gold: YEAY KAMU REVIEW hehe. akusih gayakin mereka saling suka. hihi. trims sudah review.

mintchan99: Sudah terkirim. Trims sudah review! muah!

bolang: YAY. INCEST! HaHa-_-

zarrazr: jan teliti. ntar ada pidio live naena meanie bahayaa-" entar gue kasi tau Jun deh yaa wks ADA NIH! SEMOGA KAMU SUKA YAAAH

Re-Panda68: Yash. dikei mine HAH. SUDAH LANJUT NIH! Semoga sukaa~ trims sudah review!

fuckyeahSeKaiYeol: Biar greget nganuin anak gadis orang didepan rumahnya wkwk trims atas semangat dan reviewnya darl.

WANNA REVIEW AGAIN MABAIBEHS?! Kudu weh. biar mangats kaya author kece lainnya hehe.

Ditunggu kritik dan saran terbarunya. Maaf atas kekurangan dalam cerita. Saya masih pemula jadi maaf atas kekurangnyamanan dan kekurangan dalam bahasa dan kebosanan cerita.

if u like, berikan komentar dalam kolom. Kalau tidak, kasih juga hehe.

See you next chapter, gals.

Bye.