Boku to Kimi no Monogatari
.
A Tsukiuta fanfiction presented by InfiKiss
Tsukiuta(c) Tsukino Production
.
.
(Tiga kisah yang berbeda di setiap judulnya. Tentang rasa yang tak akan pernah mampu disampaikan kepada mereka yang tak bisa lagi digapai.)
.
.
Chapter 3
.
Taisetsu Na Mono
.
—Haduki You dan Nagatsuki Yoru
"…satu-dua kenangan bersamamu tak akan kulupa. Kukubur jauh di dalam sebuah kotak rahasia di relung terdalam jiwaku. Tak akan kubiarkan lenyap. Karena itu adalah bukti bahwa aku pernah memilikimu."
Di dunia ini selalu banyak sekali kisah yang terjadi. Senang, sedih, duka, lara, hanyalah bumbu yang melengkapinya. Tentang seseorang yang bertemu dengan satu orang spesial namun tidak mampu mengetahui namanya hingga detik terakhir, pun tentang dua orang berlatar berbeda yang ditakdirkan berpisah tanpa sempat menautkan dua hati yang saling memiliki.
Bagi Nagatsuki Yoru, kisah hidupnya begitu sederhana. Sesederhana sebuah bentou yang kerap kali ia bawa ke sekolah. Hanya saja bentou tersebut memiliki kain pembungkus yang begitu spesial. Tidak pernah sekalipun ia berpikir akan mengalami satu dari sekian dilemma yang biasa dirasakan orang kebanyakan.
Tentang cinta.
Tentang persahabatan.
Dan tentang ikatan yang tidak ditakdirkan.
.
.
"Yoru! Selamat pagi!"
Pagi yang sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Berdiri di depan rumah untuk menunggu seseorang merupakan pekerjaan rutin Yoru. Suara yang begitu familiar di pendengaran dan aroma tubuh yang khas seolah diterbangkan angin untuk ia nikmati sesuka hati. Tapi tentu saja semua rasa canggung yang merubah debaran anomali itu harus dikesampingkan.
Dan berpura-pura menjadi seorang teman yang baik.
"Hai, You. Kau kelihatan semangat sekali pagi ini."
Hati Yoru pias.
Haduki You adalah sahabatnya sejak kecil. Tinggal bertetangga yang membuat masing-masing keluarga itupun menjadi dekat bagai saudara. Selalu berada di sekolah yang sama sejak taman kanak-kanak hingga SMA. Dan tentu saja tak satupun dari mereka yang merasa jengah dengan takdir sederhana ini.
You tersenyum lebar seolah ada mentari yang setia menemaninya. Dirangkulnya pundak Yoru tanpa beban. "Tentu saja. Aku selalu bersemangat setiap saat,dong."
Yoru ikut tersenyum. "Hari ini aku membuatkanmu bekal."
"Wah? Sungguh? Terima kasih, Yoru! Kau benar-benar calon isteri yang baik! Hahaha~"
Sekali lagi, ada duri tak terlihat yang tertancap di relung hati Yoru.
.
.
"Yoooruuu! Ayo kemari!"
Suara kecil nan polos dari seorang bocah berambut merah menggema jelas di seluruh penjuru taman. Tangan mungilnya melambai dari kotak pasir. Kakinya berkali-kali dihentakkan, membuat gunung yang ia buat bergetar pelan. Tapi anak itu sama sekali tidak peduli, ia tetap melambaikan tangan dengan begitu semangat kepada anak lain yang baru muncul di pintu masuk ke dalam taman.
Yoru berlari bergegas dengan nafas tersenggal-senggal. "Aku tadi ketemu sama tonggeret!"
"Hee?! Dimana?!"
Ada binar terang di bola mata anak-anak berusia lima tahun tersebut. Bahkan You kecil bisa merasakan debaran semangat di dadanya. Tangannya terkepal. Tidak sabaran dengan apa yang akan Yoru katakan berikutnya.
Respon semangat yang sama ditunjukkan anak berambut gelap di hadapannya. Semburat merah muda ada di kedua pipi tembamnya. "Tak jauh dari taman. You mau lihat?"
"Mau! Ayo kita tangkap, Yoru! Terus kita cari kumbang!"
"Setuju!"
You kecil langsung menarik tangan Yoru dan mengajak bocah yang sedikit lebih pendek itu berlari meninggalkan taman. Keduanya tertawa riang dengan jemari yang saling bertautan. Hari itu, tentu mereka tidak memikirkan apapun selain bisa berada di sisi satu sama lain tanpa hambatan.
Asalkan bisa terus bersama, hidup seperti apapun pasti bisa dihadapi.
.
.
"You…."
"Ya?"
"Bukannya teman-teman mengajakmu ke karaoke sepulang sekolah?"
You melirik Yoru yang berjalan disampingnya. Lalu tersenyum lembut tanpa sepengetahuan sahabatnya itu.
Salah satu sifat Yoru yang terkadang membuatnya gemas sendiri adalah yang seperti ini. Ketika Yoru tak tahu harus bersikap bagaimana jika You selalu memilih bersamanya dibanding menghabiskan waktu dengan teman-teman di kelas mereka. Padahal You adalah salah satu anak yang menjadi pusat perhatian, berbanding terbalik dengan Yoru yang biasa saja—bahkan cenderung tertutup dan memiliki kepercayaan diri yang kecil.
Senja sudah mulai merekah di luar gedung sekolah. Koridor tidak terlalu ramai karena sebagian siswa sudah bergegas pulang ke rumah. Begitupun yang hendak dilakukan You dan Yoru.
Kedua tangan You diletakkan di belakang kepala. Bibirnya bersenandung pelan. Ia tidak menjawab pertanyaan Yoru sama sekali dan gelagat itu jelas membuat kening Yoru mengernyit keheranan sehingga ia melirik You. Ketika itulah ia sadar kalau manik ungu You seolah mengunci dirinya. Yoru mengalihkan pandangan. Menatap lurus koridor untuk mengalihkan pikirannya dari debaran menyebalkan ini.
"Kenapa tersenyum aneh sambil memandangiku? Kadang You membuatku merinding."
"Ahaha~" You tertawa lepas. "Jawabannya sederhana. Aku lebih memilih menghabiskan waktu soreku bersama Yoru. Berejalan pulang ke rumah sambil mengobrol. Bukannya kebahagiaan itu sesederhana bisa terus bersama orang yang paling berharga?"
Yoru memejamkan mata sesaat. Mengenyahkan degup anomali tak wajar yang menginterupsi langkah kakinya yang mendadak lemas. Jangan lupakan rasa sakit yang senyap merayap di hatinya. Racun itu kembali menyebar bebas. Manis tapi mematikan.
Ia tersenyum. "Sederhana sekali, ya."
Sampai kapan rasa ini akan menjadi bumerang di hatinya? Yoru tidak mampu menemukan jawabannya.
.
.
"Kalau sudah dewasa Yoru akan bagaimana?"
Iris biru itu melirik You yang berbaring di lantai kayu. Dua-duanya sama-sama tengah menikmati udara hangat musim panas di sore hari. Berbaring malas di halaman belakang kuil yang merupakan rumah keluarga Haduki. Saat itu adalah musim panas di tahun ketiga mereka di sekolah dasar.
Lalu You berguling, membuat dirinya menatap Yoru langsung. "Ada rencana ke Tokyo?"
Yoru menggelengkan kepala. "Kalau You?"
Cengiran kekanakan menghiasi wajah polos You. "Aku ingin mencoba kemanapun yang aku bisa. Tokyo—juga negara lain di dunia. Berkeliling. Kedengarannya seru soalnya."
Yoru tertegun mendengar impian sederhana sahabatnya. Lengkungan senyum tercetak di kedua sudut bibirnya. Tangan terangkat ke hadapan wajah You dan jari kelingking ditunjukkan. Ia ingin mengikat sebuah janji.
"Kalau begitu izinkan aku ikut dengan You."
Tawa You terdengar renyah. Jari kelingkingnya ditautkan dengan jari Yoru. "Janji, ya!"
.
.
Yoru bergeming ketika menatapYou di kejauhan bersama dengan seorang gadis dari kelas lain. Keduanya tampak begitu akrab satu sama lain dan Yoru sama sekali tak mengenal siapa nama gadis itu. Memang hal biasa jika menemukan You bersama satu-dua gadis, tapi kenyataan itu tentu tidak membuat Yoru bisa terbiasa.
Ia menelan ludah. Rasa sakit yang dalam kembali menganga hingga ia harus menekan dadanya yang sesak.
Ia benci perasaan ini. Semua kenangan manis yang pernah mereka lalui seolah perlahan direnggut paksa oleh detakan tak wajar di dada. Mengubah semua rasa manis menjadi derita.
Yoru benci kenyataan ini.
Kenapa ia harus merasakan hal yang paling dilarang dalam ikatan persahabatan mereka?
.
.
"Ah? Dia Yarimizo Yukari anak kelas sebelah. Tumben sekali Yoru menanyakannya. Ada apa?"
Perasaan Yoru tidak baik senja ini. Ia tak berani menatap wajah You. Tapi rasa ingin tahu tak bisa ia abaikan begitu saja, karenanya Yoru bertanya siapa gadis yang bersama You siang tadi. Rasanya bisa mati penasaran jika Yoru tidak mendapatkan jawaban secara segera.
Hening yang diciptakan Yoru membuat You keheranan. Sejak kecil sahabatnya selalu seperti ini. Jika ada yang mengganggu benaknya, Yoru lebih senang menyembunyikannya. Padahal sudah hampir tujuh belas tahun bersama, anak itu sama sekali enggan terbuka kepadaYou.
"Yoru."
Tubuh Yoru menegang ketika You menahan lengannya. Ia tak berani menoleh ke belakang. Jantungnya berdegup tak beraturan. Yang paling jelas, Yoru takut You menyadari perasaan ini jika sekarang mereka bertatap muka. Karena wajahnya merah padam tanpa alasan.
"Hei? Ada apa? Aku merasa belakangan kau aneh sekali. Apa ada masalah?"
"Tidak, kok. You terlalu cemas."
Jangan remehkan You. Ia kenal betul sahabatnya ini.
"Kau bohong."
DEG.
"Yoru—"
"Aku pulang duluan!" Tangan You dihempaskan dengan buru-buru memacu lari secepat yang bisa untuk menjauhi You. Tak peduli bahwa yang ia lakukan saat inihanya akanmemperburuk keadaan nantinya.
Yoru hanya ingin berhenti. Ingin lari. Ingin membuang semua rasa mengerikan ini dari hatinya.
Dan You senja itu hanya bisa memperhatikan punggung Yoru semakin menghilang dari pandangan. Jika Yoru tak pernah ingin You menyadari rasa sesak yang berusaha ia pendam sepanjang hari, You sama sekali tak mau membuat Yoru mengetahui ketakutan yang selama ini You pendam jauh di dalam hati.
Ikatan yang awalnya begitu sederhana ini perlahan sudah berubah.
.
.
Perasaan ini tak boleh dibiarkan terus merambat. Rasanya seperti memendam racun yang bisa membunuhmu kapan saja. Jika dibiarkan menjalar, racun jelas akan menyebar. Sedikit demi sedikit akal sehat Yoru akan habis diluluh-lantahkan oleh rasa yang paling megerikan. Ia akan jatuh semakin jauh ke dalam jurang sendirian.
Mungkin berlebihan cara Yoru menggambarkannya. Tapi bagi ia yang bertekad tidak ingin mengotori ikatan sederhananya dengan You, tentu saja Yoru merasa menjadi orang yang paling menderita.
Harus dihentikan.
.
.
Berbeda dari pagi yang lain. You sudah berdiri di depan rumah Yoru dengan wajah kikuk. Menanti Yoru etah sejak kapan dan sama sekali tidak memberi kabar. Jelas saja Yoru terkejut dibuatya. Bahkan ia belum memantapkan hatinya untuk bertemu You. Karena dia tahuYou pasti akan membahas kesalah-pahaman kemarin sore.
Itupun kalau bisa disebut kesalah-pahaman.
"…You. Pagi—"
"Ah!" You tersentak dari lamunannya. Berdiri gugup memandang Yoru. "Pagi—Yoru." Sekuat hati melengkungkan senyum tak pasti. Seyum yang dipaksakan yang membuat Yoru geli sendiri melihatnya. Tampak begitu jelas kecanggungan You dan itu lucu sekali.
Yoru menghampiri You. "Ayo."
Hari ini harus diakhiri…'kan?
.
.
"Apa aku bisa bersama dengan You terus?"
"Tentu saja! Selamanya. Karena Yoru sahabat terpenting dalam hidupku!"
Karena janji yang pernah diikat adalah sakral. Tak ada ikatan apapun yang boleh mengingkarinya.
.
.
Sekali kalimat terucap, selamanya tak akan pernah bisa ditarik ulang.
.
.
Biasa melewati kegiatan pagi berjalan ke sekolah dengan gurauan dan candaan, pagi ini malah ditemani dengan keheningan di ruang antara mereka. Meski berjalan bersisian, You merasa Yoru begitu jauh hingga tak bisa diraih. Entah sudah berapa kali pemuda itu melirik Yoru dan menghitung kapan waktu yang tepat untuk membuka suara, tapi ekspresi sedih Yoru serius membuat hatinya malah semakin gundah.
You merasa bodoh. Bodoh sekali. Tapi sebagai laki-laki ia tak bisa pura-pura tak melihat kekalutan yang Yoru tunjukkan. Ini pasti salah dia.
"Uhm~ Soal kemarin…maaf, Yoru."
Yoru menggeleng. "Kenapa You meminta maaf? Aku yang bersikap aneh tanpa sebab. Bukan salahmu. Maaf, yaa…"
Situasi malah semakin rumit kalau dua-duanya meminta maaf begini.
"Tetap saja aku merasa harus meminta maaf. Kau marah dan kurasa ini hal yang tidak baik. Semalaman aku tak bisa tidur hanya karena meneka-nerka alasan kemarahanmu."
"Nah… Benar aku yang harus meminta maaf 'kan? Sudah tenang saja."
You menjerit dalam hati. Kenapa Yoru sulit sekali dipahami.
Tapi tentu saja You tak akan melupakan tekadnya. Ia harus menuntaskan semua rasa aneh dalam dirinya terhadap Yoru. Kelakuan Yoru kemarin membuatnya yakin bahwa sahabatnya mungkin saja memendam rasa yang sama selama ini. Jadi jika ia mengutarakannya, masalah mereka akan selesai 'kan?
Bibir You terbuka, "SebenarnyaYoru, aku ingin membicarakan hal ini padamu sejak lama tapi—"
"You." Yoru memotong.
"Ya?"
Di sisinya,Yoru memandang You dalam sorot mata yang sarat kesedihan. Namun ia tersenyum. Senyum kecil yang You sadari buruk artinya. Membuat You perlahan menelan ludah. Ini ekspresi paling pahit yang pernah Yoru tunjukkan di hadapannya. "Jangan diteruskan."
Benar 'kan?
"Eh? Apa maksudmu?"
"Yang ingin kau bicarakan, jangan kau ungkapkan."
Nafas You tertahan. Ia menggenggam pundak Yoru erat demi menyingkap jutaan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. "Yoru…Jangan-jangan kau—"
"Jangan! Kumohon jangan kita bicarakan hal ini. Aku tak mau merusak semua kenangan yang telah terjalin begitu banyak. Jadi jangan diteruskan, You. Kumohon…." Pundak Yoru bergetar. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Takut menatap mata You yang memandanginya penuh harap.
"Kenapa kau tak ingin aku mengatakannya, Yoru?"
"Aku tak ingin memunculkan batasan besar di antara kita, You. Sudah cukup bagiku untuk bisa bersamamu seperti sekarang. Jadi aku ingin mengabaikan ketidak-wajaran yang selama ini menggangguku. Aku ingin berjalan bersamamu tanpa rasa sakit semacam ini. Karena kita punya janji yang harus ditepati. Jika aku biarkan diriku tersesat, aku takut akan mengingkari janji itu."
Hati You tercekat mendengar penuturan sahabatnya. "Yoru… Kau takut?"
"Iya. Aku takut. Di dunia ini tak ada yang abadi. Aku takut itu menghampiri ikatan semu kita. Jadi aku ingin menguburnya jauh."
"Tapi, Yoru. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku men—"
"You~"
DEG.
"Kau orang yang paling penting. Aku pun orang terpenting untukmu 'kan? Jadi bisakah kita tetap berjalan dengan hati yang seperti ini? Karena hanya dengan ini saja aku bisa berada bersamamu tanpa beban berlebih, You. Maafkan aku…."
Hening mengunci. Empat kelereng berbeda warna itu saling menukar makna dalam satu garis pandangan. Ada selapis kaca bening di manik biru milik Yoru. Membuat You menggigit bibir bawahnya sendiri. Ia tak bisa menahan kecamuk yang menghancurkan hatinya pagi ini.
Tubuh Yoru berguncang saat You menariknya kuat dalam sebuah pelukan erat.
"Kau jahat. Kau egois sekali, Yoru."
"Maafkan aku,You…."
Sekuat apapun sedih yang You rasakan, mengabaikan keinginan Yoru adalah hal terlarang. Jika ini keputusan Yoru, maka You akan mengabulkannya. Meski mereka berdua sangat tahu rasa sakit yang bercokol di dada ini akan bertahan sangat lama. Bahkan mungkin selamanya. Di dalam hidup ini memang ada beberapa batas yang tidak bisa mereka lewati dengan paksa. Dan ikatan mereka ini adalah salah satunya.
"Meski kukatakan begitu, aku tetap tak bisa mengatakan apapun lagi. Tapi kali ini saja, izinkan aku memelukmu seperti ini. Sebentar saja. Sampai aku bisa mengatur hatiku kembali. Boleh 'kan?"
Keduanya sama-sama hancur. Apa begini sudah benar?
Pelan-pelan Yoru melingkarkan kedua tangannya dipundak You. Menyesap kuat aroma stroberi yang menguar dari tubuh pemuda tinggi itu. Mentari pagi membuat matanya begitu silau. Hingga meneteskan air mata yang sejak tadi berusaha dibendung dengan sempurna. Debaran cepat dari dada You bisa terdengar jelas. Rasa sakit yang mereka rasakan untuk pertama kalinya selaras.
Jika suatu saat mereka terlahir kembali ke dunia ini, akan jauh lebih baik jika Yoru terlahir dalam gender yang berbeda. Jadi jika mereka memiliki rasa yang sama seperti saat ini, maka rasa sakit di dada mereka akan mendapat balasan yang lebih indah. Untuk saat ini Yoru hanya tak ingin menghancurkan hal yang paling berharga dalam hidupnya.
Pelukan erat mereka adalah jawaban dari semuanya.
"Iya…." Bisik Yoru parau.
.
.
(End)
If you want to back, please click 'previous' button~
.
Chapter 1 ; Kimi no Namae Wa (Kannaduki Iku dan Minaduki Rui)
Chapter 2 ; Kono Hoshi to Sekai (Fuduki Kai dan Shimotsuki Shun)
A/N :
Akhirnya sampai di halaman terakhir. ^^
Untuk siapapun yang mungkin menyempatkan waktu membacanya, aku ucapkan terima kasih banyaaak. Ini pertama kalinya mencoba menulis fanfiksi Tsukiuta. Maaf jika banyak typo atau agak OOC dan bertabur garam semua. Semoga hari kalian menyenangkan~
Sign,
InfiKiss
