"Wajahmu seperti orang yang tidak puas masturbasi."
Seketika bir yang sedang diminum Tsukishima menyembur,"A, Akaashi-san..."
"Eh? Tebakanku benar ya?"
One Time Chance
By rrabbid29
OS: Haikyuu! by Furudate Haruichi
.
.
.
Chapter Three :
Displeasure
.
"Akhir-akhir ini kau tidak pernah muncul di bar, sekalinya datang wajahmu ditekuk." Lanjut laki-laki yang dipanggil Akaashi itu.
"Lalu kau bilang wajahku seperti tidak puas masturbasi?"
"Itu cuma tebakan random, tapi melihat reaksimu ternyata tepat."
Tsukishima menghela nafas, ia kembali meminum birnya yang tinggal setengah dengan tidak tenang. "Aku ingin tidur dengan seseorang malam ini."
"Wow, masturbasimu pasti benar-benar tidak memuaskan." Canda Akaashi sedikit terkejut.
"Tsk, aku tidak mood untuk bercanda." Melihat Tsukishima yang kesal, laki-laki berambut hitam itu tidak berniat melanjutkan leluconnya. Matanya yang hitam melirik ke semua penjuru bar yang bercahaya remang-remang tersebut. Bar itu berada di sudut kota dimana tempat orang-orang gay berkumpul, bisa dikatakan semua laki-laki yang berada disana memang mencari partner untuk berhubungan.
"Laki-laki kantoran yang ada di ujung sana tampaknya memperhatikanmu dari tadi." Ujar Akaashi sambil menunjuk dengan lirikan matanya.
"Baiklah." Sang surai kuning tidak berpikir dua kali dan langsung beranjak dari kursinya, berencana mendatangi laki-laki yang dimaksud temannya itu.
"Hei, ada apa denganmu malam ini?" Tanya sang manik hitam sedikit khawatir.
"Aku dikutuk oleh kucing hitam."
Alis Akaashi menyatu sambil masih melihat Tsukishima yang kini tampak berbicara dengan pria kantoran itu. Ia telah mengenal si kacamata itu cukup lama untuk tahu bahwa dia sedang bertingkah gegabah. Maksudnya, Tsukishima selalu menggoda tergetnya agar dia diajak tidur. Tidak pernah sekalipun dia menyapa duluan.
Apa dia mabuk?
.
Tsukishima benar-benar berharap dia mabuk. Mendatangi duluan orang yang ingin diajak seks sama sekali bukan gayanya. Tapi dia sangat butuh mengeluarkan benih-benihnya. Nafsunya berada diujung tanduk, tubuhnya terasa sensitif dan dia sungguh ingin dipeluk malam ini. Semua karena seekor kucing hitam telah menemukan tombol dimana membuat hasrat seksnya bangkit. Dan sekarang dia tidak bisa berhenti menginginkan seseorang untuk memuaskannya.
"Hh... Gi, gigit tengkukku..." Ucap Tsukishima disela-sela nafasnya.
"Apa?"
"Sebelah sini... gigit, hisap...Ah." Ia menujuk bagian belakang leher.
Laki-laki asing itu membalik badan Tsukishima, mulai menggenjot tubuhnya dari belakang. Ia memegang pinggul sang surai kuning yang ramping dan mempercepat pinggulnya, membuat kasur berderit lebih keras.
"Ah!Ah! Hisap... leherku." Pinta Tsukishima.
Masih mempertahankan kecepatannya, partner sang manik karamel itu menurunkan tubuhnya untuk mencapai leher jenjangnya. Ia mulai menggigit dan menghisap tengkuknya sesuai perintah.
"Kau jadi makin sempit di dalam." Tsukishima mengetahui hal itu, titik sensitif yang dikatakan Kuroo memang membuatnya makin bernafsu.
"A, Aku akan keluar..." Bisik Tsukishima. "Aahhh!"
Cairan sperma langsung berhambur keluar membasahi seprai hotel. Lubang Tsukishima berkedut, menandakan kepuasan tertinggi. Tak lama, partnernya juga mengeluarkan cairan putih itu dan menarik keluar batangnya yang basah.
"Mau melakukannya sekali lagi?" Tanya laki-laki yang entah bernama siapa itu.
Tsukishima tersenyum kecut mendengarnya. "Maaf, aku tidak pernah tidur dengan orang yang sama dua kali."
Sang surai kuning lalu beranjak dari kasur, berencana untuk membasuh badannya yang berkeringat. Air hangat langsung mengaliri kulit putih tersebut, membuat tubuhnya yang lelah karena aktivitas bernafsu itu menjadi lebih rileks.
Namun berbeda dengan pikirannya, Tsukishima malah merasa sangat gelisah. Ia menutup mata untuk menenangkan diri tapi bayangan Kuroo menjilati tengkuknya tidak hilang juga. Padahal orang lain telah melakukannya, lebih ganas dan lama dari pada si kucing hitam. Lalu kenapa tetap orang itu yang terasa?
"Ugh." Wajah Tsukishima kembali menekuk memikirkannya.
Tiba-tiba dia teringat kecupan lembut di dahi itu. Dengan pelan jarinya yang lentik menyetuh tempat dimana sang kapten memberinya ciuman sore tadi. Wajahnya perlahan memerah, namun ia mengatakan pada dirinya sendiri hal itu disebabkan karena ia mandi air hangat terlalu lama.
"Kau yakin tidak mau satu ronde lagi?" Tanya sang laki-laki asing begitu Tsukishima keluar dari kamar mandi. "Karena sepertinya kau masih belum puas."
"Aku sudah bilang tidak akan tidur dengan orang yang sama dua kali."
Pria itu tersenyum tipis,"peraturan yang aneh."
Tsukishima hanya mengangkat bahu kemudian pergi meninggalkan hotel setelah menaruh beberapa uang untuk membayar sewa kamar. Ia sadar kenapa dirinya tidak bisa melakukan ronde kedua, ia sadar kenapa seksnya terasa nikmat tapi dia tidak puas sama sekali.
Sang kacamata mempercepat langkahnya menuju stasiun. Sungguh, ia hanya ingin segera pulang dan tidur dengan sangat nyenyak. Menghapus semua memorinya tentang hari ini dan meredam semua nafsunya yang ia tahu tapi tidak ingin diakui, tertuju pada satu orang. Kuroo Tetsurou.
Apa yang telah kau lakukan pada pikiran dan tubuhku?
.
.
.
Author's Note : Maapkeun nganunya malah sama orang asing, habis Tsukishima udah keburu sange n Kuroo masih siap-siap :v
