Vocaloid © Crypton Future Media, Internet, Yamaha, et cetera.
Utauloid & Fanloid © their respective owner. No commercial profit taken.
Warning LGBT issue, homophobia. Kesamaan ide harap dimaklumi.
Tipuan yang Salah
Oleh devsky
[3]
Bumi terus berputar hingga akhirnya matahari pun hengkang. Nyx, si Dewi Malam, keluar dari rumahnya untuk menyibak semesta dengan hitam pekat.
Aku melirik ke jendela di kamar hotelku. Venice di malam hari terasa sunyi. Gondola-gondola berhenti beroperasi. Keriaan turis-turis menghilang untuk sampai besok pagi. Dan dalam keheningan ini, aku merasakan sisi lain Venice.
Kota air itu setingkat lebih cantik ketimbang siang hari, menurutku. Cahaya-cahaya dari lampu toko dan hotel memantul melalui air di kanal. Menciptakan sebuah pertunjukkan cahaya yang sederhana, namun memukau.
Samar-samar, terdengar suara gesekan biola. Melodi yang berasal dari dawai-dawai yang digesek terdengar lembut dan menghanyutkan. Itu pasti berasal dari restoran di bawah, aku bisa dengan mudah menebak. Selain punya wine yang lezat, makanan bercita rasa tinggi, serta view yang menarik, beberapa restoran di sekitaran Rialto Bridge juga menyediakan hiburan berupa permainan musik bagi para turis yang menikmati santap malam di tempat mereka. Tapi tentu saja, kau harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk menikmati itu semua. Rialto Bridge adalah sudut terbaik di kota dan para pemilik usaha tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.
Aku mungkin juga akan pergi ke bawah, duduk di bangku salah satu restoran sambil menikmati santap malam bersama musik yang luar biasa menenangkan. Mungkin. Kalau saja suasana mood-ku sedang tidak berantakan seperti ini.
Selepas pertemuan singkat dengan Gakupo tadi sore, mood-ku langsung hancur hingga tidak terbentuk. Sungguh, persoalan mengenai Luki benar-benar menggangguku. Aku bahkan tak yakin, bicara dengan Yuuma akan membantu membuatku merasa lebih baik kali ini. Ini terlalu rumit—setidaknya untukku. Karena itu, aku menyimpan ponselku di atas nakas. Tak sedikit pun berminat menyentuhnya.
Sebagai saudara kembar Luki, aku selama ini selalu mengklaim diriku sebagai orang yang paling tahu tentang dia. Tidak ada yang mengenal Luki lebih baik dariku. Maksudku, aku tahu makanan kesukaannya, tahu tempat yang paling ingin dia kunjungi, tahu siapa aktor kesukaannya serta apa film favoritnya. Semuanya kuhapal di luar kepala. Akan tetapi, pertemuan dengan Gakupo barusan membuatku sadar bahwa aku tidaklah sedekat itu dengan saudara kembarku sendiri.
"Luki mengatakan sesuatu saat mabuk. Kata-kata seperti … seperti orang yang patah hati. Dia bahkan menangis, kau tahu."
Aku melemparkan badanku ke tempat tidur dan bergelung seperti cacing di sana. Helaan napas letih lolos begitu saja.
Seluruh kalimat Gakupo masih jelas terdengar di telingaku, membuat perasaanku bertambah semakin buruk. Dan aku yakin semuanya disebabkan oleh satu fakta: bahwa sebenarnya selama ini aku meleset terlalu jauh. Aku tidak tahu apa pun mengenai Luki. Hanya mengenal sisi luarnya. Jika aku sedang berkunjung ke laut, maka aku baru sampai di air yang tingginya cuma sebatas mata kaki.
Ironis, memang. Itu menjadi satu pukulan telak untukku.
Tak pernah terpikirkan olehku bahwa Luki pernah merasa begitu hancur akibat seseorang yang ia cintai. Bahkan kalau boleh aku jujur, aku memang tidak pernah punya bayangan.
Luki yang selama ini kukenal seperti tidak tertarik dengan perkara asmara. Ia tidak pernah terdengar terlibat dalam sebuah hubungan yang romantis, meski punya beberapa teman wanita yang sangat dekat. Sekali, aku pernah bertanya perihal pasangan kepadanya. Jawaban Luki hanya tawa ringan dan sebuah kalimat; "Aku belum benar-benar memikirkannya."
Sebetulnya, aku tidak suka jawaban Luki. Terlalu mengawang, kalau menurutku. Tapi aku juga tidak bisa memaksa. Bagaimana pun, itu privasi. Dan aku tidak mau dicap sebagai saudara yang suka ikut campur masalah saudara kembarnya. Karena itu, aku pun tutup mulut.
Namun, kini, aku merasa bodoh karena membiarkan Luki memberi jawaban seperti itu. Seandainya aku mau cari tahu sedikit, pastilah kejadiannya tidak akan begini. Aku akan bisa sedikit lebih mengerti Luki, dan segalanya tidak akan terasa memusingkan.
Tapi waktu terlanjur berjalan. Luki sudah terlanjur pergi meninggalkan banyak keping misteri. Terlalu banyak sampai mengusikku.
Kenapa Luki menangis dan mengatakan hal-hal semacam itu ketika mabuk? Benarkah dia tengah mencintai seorang gadis dan frustasi karena ia akan menikah dengan pria lain? Jika benar, siapa orangnya? Kenapa kejadiannya—oh, sialan, aku bahkan mulai ragu bahwa yang dialami Luki memang murni kecelakaan— harus terjadi beberapa hari sebelum pernikahanku? Kenapa harus pas sekali? Apakah … apakah mungkin semua spekulasi itu benar? Luki … memendam perasaan terhadapku? Benarkah?
Aku bangkit dari tempat tidur dan segera meraih tas berisi laptop yang kuletakkan di sofa dekat jendela. Semua pikiran ini membuatku gila. Aku bahkan tidak percaya kepalaku mampu berpikir ke arah sana. Luki tidak mungkin seperti itu!
Sambil menghela napas, aku mengeluarkan laptop Luki dari dalam tas. Sudah kuputuskan bahwa aku hanya belum merelakan kepergian Luki. Jadi, kupikir mengingat-ingat sosok saudaraku itu melalui gadget pribadinya sama sekali bukan masalah. Lagipula, siapa tahu ini dapat membantuku mengembalikan pandanganku terhadap Luki ke jalur yang benar—persis seperti sebelumnya.
Aku membiarkan laptop perlahan menyala dan menampilkan tampilan dekstop. Namun aku tanganku tidak langsung bergerak menuju mouse. Terpaku sebentar menatap gambar yang Luki pasang sebagai wallpaper.
Sebuah foto. Ada Yuuma, aku, dan Luki di dalamnya. Kami tersenyum lebar ke kamera. Di situ, aku mengenakan kimono merah dengan motif bunga ceri dan mengikat rambutku menjadi ekor kuda.
Tentu saja aku ingat kapan foto tersebut diambil. Waktu kami duduk di bangku SMP kelas 2. Tepatnya, di malam festival tahun baru. Kami rutin datang ke festival itu untuk menyaksikan kembang api, namun, malam itu menjadi kunjungan favoritku. Alasannya sederhana: itu adalah pertama kalinya aku mengenakan kimono ke festival. Rasanya sangat luar biasa.
Menggerakkan mouse, aku pun mulai melihat apa pun yang tersimpan di dalam setiap folder.
Sebelum kami berpisah, Gakupo mengatakan jika ia telah mengisi daya baterai laptopnya. Sepertinya ia telah menduga jika aku akan memeriksa—atau dalam hal ini: mengobrak-abrik— apa-apa saja yang selama ini Luki kerjakan.
"Kau pernah membukanya?" tanyaku pada Gakupo, sesaat sebelum vaporetto yang kami tumpangi sampai di wilayah Rialto Bridge. Suasana di atas bus air agak sedikit bising oleh celotehan turis dan bunyi kecipak air. Jadi, aku harus mendekatkan wajahku pada telinga Gakupo.
"Tidak," ia menjawab minimalis. "Aku hanya rekan Luki. Apa hakku mengutak-atik barang pribadinya? Jika ada orang yang mau melihat isi laptop Luki, maka orang itu adalah kau dan orangtuamu. Bukan aku."
Kuakui, Gakupo benar dalam poin ini. Oleh sebab itu, aku pun tidak lagi ragu membuka beberapa folder di dalam laptop tersebut.
Hal pertama yang kulihat saat membuka benda itu adalah: rapi. Luki tidak menaruh file-file secara sembarangan. Ia menyimpannya ke dalam folder-folder khusus. File-nya pun dinamai dengan baik, sehingga tidak saling tertukar dengan yang lain.
Isi folder yang ada dalam laptop Luki pun nyaris semua adalah pekerjaannya. Tulisan-tulisan, cerita pendek (yang mungkin akan ia kirim ke redaksi sebuah majalah?), draft naskah untuk novelnya, dan hal-hal semacam itu. Kalaupun ada yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, mungkin itu adalah kumpulan foto-foto kami. Itu pun disimpan dalam sebuah folder sendiri. Ada juga video kenang-kenangan dan—oh, apa ini?
Alisku terangkat ketika menemukan sebuah dokumen diletakkan sembarangan di dalam kumpulan foto-foto kami semasa kecil. Berbeda dengan dokumen yang lain—yang mana dinamai dengan hati-hati dan teliti—, yang ini terkesan dinamai dengan acak. Asdhjl, begitu yang tertera. Kelihatan seperti dokumen itu tidak dibuat dengan sepenuh hati. Namun, kenapa Luki menyimpannya di sini? Kenapa seperti disembunyikan?
Penasaran, aku pun membuka dokumen tersebut.
"29 Januari, 2007"—adalah hal pertama yang dapat kubaca. Aku tidak perlu berpikir terlalu keras. Itu adalah tiga hari sebelum ulang tahunku dan Luki. Sementara 2007 adalah tahun lalu. Atau lebih tepatnya, tiga hari sebelum kami berulang tahun yang ke duapuluh delapan. Atau lebih tepatnya lagi, tiga hari sebelum orangtuaku memberi kabar bahwa mereka akan menjodohkanku dengan Yuuma.
Apa yang Luki tulis pada tanggal 29?
Penasaran, aku pun mulai membaca dokumen itu—
29 Januari, 2007
Penampilan bisa menipu.
Orang bilang, bersaudara kembar itu enak. Kau punya saudara seumuran yang tumbuh di satu waktu yang sama dan, secara praktis, merangkap menjadi teman karena bisa diajak bermain bersama. Tidak ada perbedaan di antara kalian, terutama bagian wajah. Kalian seperti satu orang yang digandakan dengan mesin fotokopi. Hanya saja saudara kembar punya ikatan batin yang kuat satu sama lain, karena mereka sudah bersama sejak di dalam lahir. Itu yang menjadikan kembar sangat istimewa.
Tapi, tentu saja segalanya akan menjadi lebih menyenangkan jika saudari kembarmu adalah seorang ternama. Maksudku, wah, tentulah sedikit abu keberuntungannya akan menempel pada kita. Dengan itu, tentu saja perkara jadi sorotan media bukan lagi hal susah. Dompleng saja nama saudarimu yang berkilauan itu, dan kita pun akan langsung sama terkenalnya dengan mereka. Semudah membalikkan telapak tangan. Ha!
Jika orientasiku hanya berputar pada nama dan harta, mungkin aku sudah melakukannya sejak awal. Apalagi sekarang banyak orang menjadi tenar secara instan hanya karena berhubungan darah dengan seorang public figure. Jadi, rasanya mendompleng ketenaran mereka adalah hal yang sah-sah saja.
Tapi itu berarti aku akan membuat diriku sendiri, yang sudah terlihat seperti sampah, langsung turun derajat menjadi sesuatu yang lebih menjijikkan dari sampah.
Aku dan Luka mungkin lahir bersama, punya wajah yang nyaris serupa, bahkan tumbuh dengan takaran kasih sayang yang nyaris sama. Akan tetapi, dua buah apel yang dipetik pohon yang sama tetaplah punya perbedaan. Entah dari segi penampilan, atau dari segi kualitas.
Bisa saja yang satu rasanya manis, sementara yang lain terlalu asam. Bisa saja yang satu punya kulit merah menawan, sementara yang lain rusak akibat disusupi ulat dan jadi santapan kelelawar. Bisa saja yang satu dalam kondisi bagus hingga langsung dibeli ketika pedagang menaruhnya di tempat dagangan, sementara yang lain tidak terlalu menarik hingga berakhir membusuk di dalam kardus akibat tak ada yang mau beli.
Dalam hal ini, mungkin akulah si apel busuk.
Luka dan aku terlalu berbeda. Kami mungkin sama-sama selalu meraih prestasi gemilang di segi akademis, tapi—wah, bukankah fisik dan prestasi tidak bisa dijadikan tolak ukur antara satu individu dengan yang lain? Hanya orang picik yang melakukannya. Maksudku, kami benar-benar berbeda. Seperti siang dan malam.
Luka, tentu saja, adalah siangnya. Karena dia selalu terlihat cemerlang. Ia pintar berkawan, punya banyak teman, aktif, dan cerdas—tidak jenius, tapi berpengetahuan cukup untuk membuat orang-orang menyukainya.
Oleh sebab itu, aku tidak terkejut ketika ia memilih profesi sebagai aktris. Sukses, pula. Sungguh, aku sama sekali tidak terkejut.
Sejak awal, aku sudah tahu jika Luka memang terlahir untuk menjadi sorotan semua mata; untuk menerima semua anugerah dan keberuntungan di segala sisi kehidupannya. Mulai dari bidang akademik, karier, bahkan sampai ke yang paling privasi seperti cinta: Luka berhasil memiliki Yuuma.
Sementara aku? Ketika Luka berhasil meraih segalanya, di sinilah aku berada. Tidak ada di mana-mana. Tak mendapat apa pun. Tidak mencapai apa pun. Tak (pernah) diakui siapa pun. Berhasil menjadi penulis sekarang pun aku belum membuktikan apa-apa.
Karena semua orang hanya berpikir bahwa keberuntungan buku-bukuku ada karena aku berbagi nama belakang yang sama dengan Luka. Masuk akal. Semua orang pasti penasaran dengan karya yang dihasilkan oleh jerih payah saudara kembar Megurine Luka—si aktris ternama. Jika itu memang yang sesungguhnya terjadi, maka kurasa semua yang kulalui masihlah percuma. Termasuk perdebatanku dengan ayah ketika aku menolak tawaran pekerjaan sebagai seorang analis keuangan di perusahaan Akita—dan sepertinya, emosi ayah masih naik ketika Luka memberitahu bahwa ia menerima tawaran seorang sutradara untuk bermain film.
(Baiklah. Pertengkaran Luka dan ayah memang separuhnya adalah salahku, aku mengaku salah. Tapi setidaknya, aku berusaha kembali mendamaikan mereka berdua.)
Aku … baiklah, aku iri dengan saudara kembarku sendiri. Bukan dalam cara yang negatif, pada awalnya. Oleh sebab itu, aku selalu berusaha keras dengan nilai-nilai akademikku semenjak di sekolah. Semua nilai di mata pelajaran eksak-ku sempurna. Aku juga selalu ada di peringkat teratas di kelas. Orang-orang perfeksionis pemburu nilai selalu menganggapku sebagai saingan berat. Ini bagus. Artinya aku diperhatikan dan diperhitungkan.
Meski hanya sebatas rival—beberapa mungkin menjadikanku sebagai target untuk dilampaui, yang mana ini konyol sekali.
Peringkatku memang baik, tapi kemampuan sosialisasiku payah. Jauh berbeda dengan Luka.
Aku tidak pernah punya teman, selain Yuuma. Semua orang yang pernah sekelas denganku memang sangat baik, tapi mereka tidak pernah benar-benar menganggapku sebagai teman. Aku bisa merasakannya dengan sangat jelas. Mereka mengajakku bicara hanya untuk sekedar beramah-tamah. Tidak sopan bila kau tidak menegur anak yang berada dalam kelas yang sama denganmu, begitulah kira-kira.
Yuuma anak yang baik. Dari dulu, sampai sekarang. Aku beruntung selalu dapat kelas yang sama dengannya. Dia banyak menolongku, terutama ketika aku merasa terlalu canggung berada di antara siswa yang tak kukenal. Dia satu-satunya orang luar yang tulus bicara denganku—tidak ada tuntutan kesopansantunan seperti yang lain. Dia menilaiku tulus sebagai seorang teman.
Mungkin karena itulah aku merasa bersyukur kami menjadi teman baik. Mungkin karena itulah aku menyukai dia. Menyukai Yuuma—bukan. Aku malah mencintainya. Sangat mencintainya, sampai-sampai rasanya ingin mati ketika tadi Ibu mengabari bahwa Beliau dan Ayah tengah merancang perjodohan antara Yuuma dan Luka.
Ibu memberitahu dengan wajah yang berbinar. Seolah-olah sudah tahu sejak lama bahwa Yuuma dan Luka memang saling mencinta. Karena itu, ia memintaku untuk tidak memberitahu hal ini pada Luka. Setidaknya, sampai hari ulang tahun kami tiba.
Aku setuju untuk menjadikan berita ini rahasia. Sama rahasianya dengan perasaanku terhadap Yuuma.
Jangan tanya sejak kapan aku punya keberanian untuk menyukai sesama jenisku sendiri. Aku memang tumbuh di lingkungan yang konservatif, akan tetapi itu seperti tidak punya pengaruh apa pun—selain kenyataan bahwa aku harus berakting netral di depan semua orang, tentu saja (dan aku merasa tersiksa karenanya). Namun, mengesampingkan itu, perasaan ini tetap tumbuh.
Mungkin ini karena aku terlalu banyak menghabiskan waktu dengan Yuuma. Mungkin juga karena Yuuma tak segan merangkul pundakku sambil tertawa. Atau mungkin, ini karena Yuuma yang sangat baik. Terlalu baik bahkan, sampai membuat mataku terus bergerak mengikuti ke mana pun sosoknya berjalan.
Aku selalu menyimpan semua ini untuk diriku sendiri. Cinta sesama jenis adalah hal tabu. Bagi keluargaku, juga bagi orang-orang di lingkungan sekitarku. Aku yakin, Yuuma juga berpikir begitu. Karena itu, aku tak pernah mengatakan apa pun. Aku tidak mau Yuuma menjauhiku. Namun, pernah satu kali aku hampir menyerah dengan keinginanku untuk memiliki sosok itu. Karena rasa itu semakin kuat dan kuat. Maka, aku pun menulis sebuah surat untuknya.
Itu adalah surat cinta pertamaku. Kutulis waktu masih duduk di bangku SMP, kelas dua.
Aku ingat begadang semalaman hanya untuk memilih kata-kata yang tepat. Aku ingat, keesokan harinya, datang ke loker sepatu Yuuma waktu bel pulang telah berbunyi. Aku ingat waktu itu sekolah sudah kehilangan lebih dari setengah penghuninya, hanya menyisakan para siswa yang sibuk dengan eskul mereka di lapangan—begitu pun Yuuma yang berada di klub atletik. Aku ingat merasa sangat gugup saat akan meletakkan surat itu ke loker Yuuma. Terlalu gugup, sampai aku menjatuhkannya ke lantai.
Aku ingat saat itu aku hendak mengambilnya, tapi tiba-tiba saja Luka datang.
"Apa itu?" Dia menanyakan amplop yang hendak kuambil. Karena tidak mungkin menjawab jujur, aku katakan saja bahwa aku menemukan ini saat hendak mengambil sepatu. Letak lokerku dengan Yuuma tidak terlalu jauh. Cuma berjarak lima loker. Jadi, kebohonganku berjalan mulus.
Luka mengambil amplop itu, membaca tulisan yang tertera di sana. Aku bergeming. Tidak merasa takut akan ketahuan, karena aku hanya menuliskan nama orang yang kutuju—Yuuma— baik di amplop, mau pun di sepanjang surat. Jadi, kalau mau dibaca juga tidak jadi masalah. Luka juga jarang melihat tulisanku. Jadi, aku aman. Mau dibaca ya, baca saja.
Akan tetapi, aku salah perhitungan. Luka tidak membuka surat yang ada di dalam amplop. Ia langsung merobek-robek amplop beserta isinya sampai jadi keping paling kecil, kemudian membuangnya ke tempat sampah. Tanpa merasa perlu melihat apa isinya.
Ia bahkan, tanpa merasa berdosa, memintaku untuk tidak mengatakan apa pun pada Yuuma.
Tidak ada yang tahu seberapa besar keinginanku untuk menjambak rambut Luka dan membenturkan kepalanya ke tembok pada waktu itu. Betapa kebencianku pada Luka tumbuh sejak saat itu. Tapi, tetap, aku tak mengatakan apa pun dan hanya mengangguk. Karena aku hanya bisa menurut pada skenario. Hidup di lingkungan konservatif tak memberimu pilihan, kecuali berpura-pura patuh dan ikut berada di belakang garis aman.
Tapi, tidak. Tentu saja aku tidak menganggap diriku kalah. Justru sebaliknya, aku mulai menganggap serius semuanya. Ini adalah saat aku duduk di meja judi dengan serius. Lawanku adalah Luka. Yuuma adalah jackpot yang aku tuju. Aku akan terus berpura-pura, namun sedikit demi sedikit berusaha meraih jackpot-ku. Dan di atas meja judi takdir, aku mengerahkan seluruh taruhanku.
Namun, sekali lagi, aku tersandung ketika sedang menjalankan taruhanku.
Itu adalah pertengahan bulan Desember yang dingin. Aku dan Yuuma sedang berada di sebuah café untuk berteduh sebentar dari salju, ketika tiba-tiba saja Yuuma berkata, "Hei, Luki, jika suatu saat aku melamar Luka, apa kau akan menerimaku sebagai adik iparmu?"
Jantungku seperti anjlok dari tempatnya. "Maksudmu?"
"Aku mencintai Luka."
Aku ingin menanyakan apakah Yuuma tengah bercanda. Tapi kilatan yang ada di kedua bola mata Yuuma tidak menunjukkan tanda main-main. Ia sangat serius dengan perkataannya. Yuuma mencintai Luka.
Rasanya aku ingin menangis lalu gantung diri saat itu juga.
Kemudian segalanya bertambah kacau saat dua orang pria dewasa masuk ke café tempat kami berada. Mereka punya hubungan yang sangat intim, terlihat bagaimana cara jemari mereka saling mengait satu sama lain. Mengabaikan tatapan para pengunjung yang mencemooh, termasuk Yuuma.
Aku ingat bagaimana cara Yuuma menatap kedua pria itu. Penuh dengan prejudis bahwa mereka adalah anomali. Ia bahkan berkata dengan nada jijik, "Homo."
Detik itu juga, jantungku langsung seperti dihunjam ribuan panah. Dadaku sesak sampai-sampai susah bernapas.
Homo, begitu katanya. Homo.
Aku bisa merasakan betapa Yuuma jijik dengan mereka hanya dari caranya memandang dan berbicara. Hanya dari bagaimana ia melontarkan satu kata sederhana itu. Dan aku tidak dapat membayangkan jika suatu saat aku menerima semua itu darinya. Aku tidak dapat membayangkannya, sungguh.
Itu pasti akan menyakitkan. Dan menyesakkan. Dan, oh, entahlah. Aku tidak sanggup memikirkannya.
Pikiranku waktu itu langsung kacau. Aku bahkan tidak ingat apa yang kukatakan pada Yuuma. Tapi sepertinya, aku bilang bahwa aku mengijinkan Yuuma menjadi adik iparku. Karena wajah Yuuma terlihat ceria sekali setelahnya.
Itu adalah saat aku kehilangan setengah kekuatanku untuk bertaruh di perjudian. Dan berita pertunangan dari ibu makin menegaskan kekalahanku.
Aku kalah dari Luka. Telak sekali.
Meski begitu, aku masih tidak ingin melihat mereka menikah. Hei, siapa yang rela melihat pujaan hatinya bersanding di pelaminan dengan orang lain? Jadi, aku berharap perjodohan itu batal. Mungkin saja Luka melakukan hal yang kepalang bodoh, hingga akhirnya Yuuma membatalkan pertunangannya? Persentasenya memang kecil sekali, tapi aku tetap berharap ada sesuatu yang membuat pertunangan mereka batal.
Aku ingin angan-angan Luka untuk hidup bersama Yuuma hancur sampai jadi kepingan—aku jahat dan egois, aku tahu. Tapi, untuk kali ini saja, aku tidak peduli. Sejak awal, aku memang ada di posisi antagonis.
Jika memang pertunangan mereka berjalan lancar sampai tahap persiapan pernikahan, maka aku akan bunuh diri. Menyilet nadi atau terjun dari gedung yang akan mereka gunakan untuk resepsi kedengarannya tidak buruk. Setidaknya, lebih baik ketimbang aku harus melihat mereka berdiri di altar berdua. Juga, seratus kali lebih baik, daripada harus dihantui kekhawatiran mengenai orientasi seksualku. Luka adalah artis bernama besar. Ia pasti menderita jika wartawan tahu bahwa saudara kembarnya adalah seorang gay—yang diam-diam menyukai calon suaminya.
Jadi, inilah kenyataannya.
Penampilan memang bisa menipu.
To be Continued
Yess, bby. Luki is a gay. Lalalalalala~
Cookies buat semua orang yang udah nebak ke arah sini~
Review is love.
Sign,
devsky
