A/N : New update! Wish you haven't bored to read this story, readers! *grin*
Oh, dan terima kasih untuk semua review di chapter sebelumnya! *hugs* (for Hinaruto : iya saya masih ingat kok sama kamu ^ ^ *hugs*)
Well, enjoy, please! And don't forget to send me your respon! : )
Nb : Kesalahan EYD akan segera dibenarkan.
.
.
.
A SasuSai fanfic.
.
.
Warning : Shonen-Ai/BoysLove/Percintaan sesama laki-laki, bahasa kasar, dll. No lemon, sorry : )
.
.
.
.
.
"Berhenti!"
Sai menarik nafas tertahan dan mengerang pelan. Dengan perlahan dia memutar badannya, menghadapi seorang guru muda yang kini mengalihkan perhatian dari papan tulis ke arahnya. Jemari kanan senseinya masih memeluk kapur putih yang menempal di papan tulis namun tak butuh waktu lama hingga mereka bertengger angkuh di pinggangnya. Hal yang selalu dilakukannya ketika sedang marah.
Anko Mitarashi tidak dalam kondisi mood yang baik. Setelah malam panjang yang dia habiskan dengan beberapa kolega perempuannya - yang sebenarnya lebih pantas di sebut sebagai wanita murahan dari pada seorang guru – dia harus memenuhi panggilan kepala sekolah, Tsunade di pagi buta. Hanya untuk mendapat omelan mengenai teman-temannya yang ditemukan mabuk di depan emperan toko. Tsunade menuduhnya bersalah karena telah membiarkan mereka mabuk dan meninggalkannya. Itu tidak benar-benar salahnya sebenarnya – hanya karena dialah satu-satunya yang tidak mabuk namun dia terlalu tidak peduli untuk menuntun teman-temannya mendapat taksi yang bisa mengantar mereka dengan aman – salahkan mereka yang bertindak seperti wanita murahan – menggoda laki-laki yang terlihat berkelas bahkan mengencani beberapa anak muda! Anko tidak mengerti bagaimana sekolah ini bisa bertahan dengan guru-guru semacam itu.
Setidaknya Tsunade mulai mempertimbangkan untuk mengeluarkan mereka jika hal seperti ini terjadi untuk kedua kalinya. Tentu itu juga berlaku untuk Anko sendiri.
"Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?" tanyanya dengan nada yang sama sekali tidak bersahabat pada pemuda berkulit pucat yang kini berdiri mematung. Sudah cukup dengan segala peringatan dan ancaman Tsunade pagi ini. Mempunyai kelas pagi hanya membuatnya semakin buruk. Dan seorang murid yang datang terlambat adalah hal yang sempurna untuk melampiaskan sedikit amarahnya. Walaupun dia adalah murid yang berprestasi dan hampir tak pernah memiliki masalah. Anko sama sekali tidak merasa iba dengan anak ini. Anggap saja dia sedang tidak beruntung karena datang terlambat di saat suasana hatinya sedang buruk.
Sai terdiam membeku. Dia hanya terlambat sekitar sepuluh menit, tidak berarti dia sedang dalam masalah yang besar namun ekspresi sensei nya seolah mengatakan kalau dia telah melakukan sebuah pelanggaran tingkat satu di sekolah.
Menelan ludahnya, Sai membuka mulutnya hendak melakukan pembelaan namun dia segera mengurungkan niatnya – mempertimbangkan bahwa itu bukan hal yang bijak untuk berdebat saat ini. Anko sensei terlihat sangat marah – walau dia memang terkenal pemarah namun kali ini jelas, dia benar-benar sangat marah. Mungkin sesuatu telah membuatnya kesal sebelumnya. Sai mendesah pelan. Selalu saja hal-hal buruk terjadi padanya secara beruntun.
"Gomen, Sensei," ucap Sai hati-hati. Suaranya hampir berbisik, jelas tidak ingin membuat segalanya menjadi lebih buruk. Ini semua salah Sasuke, pikirnya. Kejadian di toilet tadi membuatnya terlambat masuk.
"Jadi kau masih bisa menyesal setelah berani datang terlambat ke kelasku? Dan dengan percaya dirinya hendak duduk di tempatmu tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan permisi?"
Sai kembali menarik nafas. Matanya sedikit melebar. Dia benar-benar tidak ingat untuk melakukan hal itu. Mengutuk dirinya dalam hati, Sai mulai meremas-remas tangannya gelisah. Ini adalah pertama kalinya dia mendapat masalah dengan seorang guru seperti ini. Dia bisa merasakan ketegangan yang terjadi di kelasnya, tidak hanya berasal dari dirinya namun juga teman-temannya.
"A… Aku.."
"Simpan pembelaanmu, Shimura! Aku kecewa karena murid yang selalu dibangga-banggakan oleh hampir semua orang di ruang guru ternyata datang terlambat dan sama sekali tidak memiliki sopan santun!" Anko menikmati setiap bait ucapannya dan juga reaksi anak itu yang berlebihan. Itu terlalu sayang untuk menghentikannya, jelas Sai sangat sempurna untuk sebuah pelampiasan, terlalu penurut. Sekali lagi, Anko sama sekali tidak merasa iba padanya.
"Bahkan kau berani menampakkan diri dengan seragammu yang terlihat sangat tidak pantas!"
Pemuda berkulit pucat itu tersentak akan kalimat terakhir senseinya dan dengan tergesa-gesa, tangannya meraba-raba seragamnya. Sai memerah karena malu saat mendapati dua kancing atas kemeja terbuka dan sebagian kemeja keluar dari celana. Di tambah dengan rambut gelap pendeknya yang berantakan dan matanya yang sembab, Sai benar-benar tampak menyedihkan. Tidak berlebihan jika Anko sensei tampak begitu marah padanya. Dia terlihat seperti seorang berandalan.
Ada keheningan yang memuakkan saat Sai berusaha merapikan seragamnya. Tampilan wajahnya kini nyaris tanpa emosi. Apapun yang akan terjadi padanya setelah ini, Sai benar-benar pasrah, tidak peduli. Dia merasa begitu lelah setelah konfrontasi dengan Sasuke di toilet tadi. Lagipula dia bisa mengejar ketinggalan pelajaran jika sensei nya memutuskan untuk mengeluarkannya dari kelas. Itu bukan masalah yang sulit bagi dirinya.
Sai sedang bekerja dengan bagian bawah kemejanya ketika pintu kelas bergeser dengan suara nyaring, dan sosok pemuda bermata onyx muncul dari sana. Ada gumaman tertahan dari teman-temannya ketika mereka melihat Sasuke di sana, tidak lebih berantakan dari Sai, hanya saja dia muncul dengan wajah yang mengerikan – hampir dalam satu level dengan sensei mereka. Berjalan dengan angkuh, Sasuke menatap Sai sekilas dan kemudian beralih pada sensei nya. Dengan segera dia menyadari posisinya dan juga situasi yang sedang terjadi.
Satu lagi sebuah objek untuk pelampiasan amarah sensei mereka.
.
.
How To Kill Your Fangirls
-Act III-
.
.
Shimura Sai menggerakkan pergelangan kakinya untuk yang kesekian kalinya. Dia mulai merasa sedikit kesemutan. Senseinya telah menjadi cukup baik dengan memberinya ijin untuk tetap mengikuti kelas hanya saja dia melarangnya untuk kembali ke tempat duduknya. Jadi di sinilah dia sekarang, berdiri di sisi kanan kelas di dekat dinding – tanpa boleh bersandar pada dinding itu. Hal serupa juga di alami oleh pemuda bermata onyx yang ada di dekatnya – tidak cukup dekat namun cukup untuk membuat Sai merasa begitu canggung.
Pemuda berkulit pucat mencoba untuk memusatkan perhatian pada Anko-sensei yang kini sedang berkutat di papan tulis. Sebuah buku catatan dan pena berada di genggaman kedua tangan Sai, mencoba menyalin sebisanya apa yang bisa dia tangkap dari penjelasan senseinya. Sedikit susah melakukannya dengan posisi berdiri, terutama dengan Sasuke di yang berada di dekatnya. Entah kenapa Sai merasa jika pemuda bermata onyx itu sedang mengawasinya. Membuat keringat dingin menetes di dahi pucatnya dan jemari kurusnya terus melakukan kesalahan ketika menggoreskan pena di atas buku.
Sai nyaris menyerah ketika dia sama sekali tidak bisa menangkap ucapan senseinya. Mendesah lelah, dia menutup dan menurunkan lengannya. Buku catatannya kini menggantung malas di antara jari-jarinya di sisinya. Sai memutuskan untuk mengabaikan seluruh hal di kelas ini – termasuk juga pemuda yang ada di sampingnya – sampai kemudian tanpa sengaja penanya tergelincir dari jarinya, menggelinding di lantai yang dingin dan berhenti setelah menabrak kaki Sasuke. Sai segera menahan nafasnya.
Uchiha Sasuke mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi pada apa yang diterangkan senseinya di depan kelas. Dia mencoba untuk tetap menatap papan tulis namun pemuda berkulit pucat yang ada di sebelah kanannya selalu ikut tertangkap matanya sehingga tanpa sengaja mata gelapnya bergeser ke arahnya.
Sasuke hanya mengangkat alisnya ketika matanya menangkap gerakan yang terus dibuat oleh pemuda bermata onyx itu. Dia tampak sangat gelisah – mengganti tumpuan badannya dari kaki kanan ke kiri dan kembali ke kanan lagi. Sasuke mengasumsikan bahwa Sai merasa tidak nyaman karena jarak mereka yang cukup dekat – tentu karena kejadian di toilet tadi. Namun dia tidak menyesali tindakannya sedikitpun karena pemuda berkulit pucat memang pantas mendapatkannya. Jelas bahwa pengkhianatan sama sekali tidak ada dalam kamus Uchiha. Sai telah menerima tawarannya sehari sebelumnya – untuk berpura-pura menjadi pacarnya – dan bagi Sasuke itu sama saja dengan sumpah yang harus ditepati. Sai hanya harus mengerti. Dan Sasuke mempunyai banyak cara untuk membuatnya mengerti.
Suatu gerakan kembali menarik perhatian Sasuke, hanya saja kali ini bukan berasal dari pemuda berkulit pucat itu, namun dari sebuah pena yang menabrak lantai dengan suara yang tidak terlalu keras dan menggelinding sampai menyentuh sepatunya. Sasuke mengalihkan perhatiannya dari pena itu ke arah pemiliknya, hanya untuk menatap sepasang mata gelap yang terbuka lebar sambil memandang kearah sepatunya – seolah tak percaya jika benda miliknya tergeletak tak berdaya di sana. Jika Sasuke tidak melihat wajah itu, dia mungkin mengira bahwa Sai sengaja menjatuhkannya.
Sai kembali menahan nafasnya ketika dia bertemu pandang dengan sepasang mata onyx, seolah mereka sedang menilai dirinya. Pemuda berkulit pucat itu mencoba sebisa mungkin untuk bersikap tenang – walau dadanya sedang bergemuruh dengan keras. Memutuskan kontak mata, Sai kembali menatap lantai, sedikit malu akan kecerobohannya. Matanya terpejam erat saat dia mulai melakukan kebiasaan lamanya, mengutuki diri sendiri.
Dunia seolah menjadi kabur ketika Sai berdebat di dalam pikirannya, haruskah dia meminta tolong pada Uchiha untuk mengambilkan penanya – karena itu terdengar cukup sopan – namun dia tahu dia terlalu takut dan malu untuk mengatakan itu, atau dia memaksa untuk mengambil pena itu sendiri – dengan resiko menjadi terlalu dekat dengan Uchiha dan jelas itu terkesan sangat tidak sopan, seolah menganggap bahwa Sasuke tidak ada di sana. Yang manapun, Sai merasa tidak memiliki tenaga untuk melakukan keduanya. Tidak sampai sebuah gerakan menarik perhatiannya dan membuyarkan pikirannya.
Sasuke Uchiha mengangkat sedikit kakinya, mata onyxnya mengunci pada Sai yang tampak sedikit bingung. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, membuat Sai hanya bisa meremas-remas jarinya gelisah hingga akhirnya dia bersumpah melihat seringaian di sana bersamaan dengan kembali turunnya kaki pemuda itu dengan cepat, diiringi oleh suara yang cukup memuakkan.
Bibir merah cherry Sai sedikit terpisah dan matanya melebar ketika Sasuke menginjak penanya hingga hancur. Sai menatap penanya yang kini telah menjadi dua bagian dengan tatapan tidak percaya. Jantungnya berdegup lebih kencang dan seolah dunia telah berputar, Sai nyaris kehilangan tumpuannya. Lengan pucatnya dengan sigap segera mencari pegangan di dinding. Pemuda berkulit pucat itu membawa tubuhnya yang sedikit terguncang untuk bersandar di sana. Mata gelapnya mengembara pada pemuda di sampingnya sekali lagi, masih menemukan seringaian di sana namun segera menghilang ketika mata onyx itu menatap ke bawah. Sai mengikuti arah pandangnya, kembali menatap penanya yang hancur hanya untuk mendapati Sasuke menendang jauh sisa-sisa penanya.
Sai berkedip beberapa kali. Mencoba mencerna semua yang telah terjadi. Sasuke telah menginjak penanya, sambil menyeringai ke arahnya. Lalu dia menendang serpihan pena itu, melakukan itu dengan sengaja. Melakukan itu dengan direncanakan. Seolah ingin menunjukkan sesuatu pada Sai. Sesuatu yang terjadi jika Sai berani melakukan hal yang bertentangan dengannya.
Sai mengerang pelan. Dia kembali menjatuhkan beban tubuhnya pada kedua kakinya, menjauh dari dinding. Bersikap seolah hal tadi tidak pernah terjadi, dia kembali – memaksa – untuk fokus pada gurunya. Berharap kelas atau hari ini cepat selesai sehingga dia bisa segera mengendarai sepedanya menuju apartemen tercintanya, bertemu kakak tercinta, lalu beristirahat di dalam kamar tercintanya.
Mungkin Sai akan mengurung diri semalaman di sana sambil berharap kedamaian akan kembali mendatangi hidupnya.
.
.
.
Uchiha Sasuke menaruh tasnya di sudut ruangan kamarnya. Dia pulang sedikit terlambat dari bisanya – Anko sensei benar-benar terlihat sangat membencinya karena dia masih memberinya hukuman selain berdiri sepanjang pelajaran yaitu membersihkan taman kecil yang ada di depan ruang kesehatan sepulang sekolah sementara dia tidak memberi hukuman lanjut pada pacar palsunya. Sedikit tidak adil namun tidak ada yang Sasuke lakukan selain menerima hukuman untuknya – tanpa banyak berdebat. Uchiha tidak pernah menyukai perdebatan yang tidak berguna. Terutama jika itu membuat mereka tampak lemah – menolak hukuman itu terlihat seolah dia tidak mampu melakukannya. Tentu saja, tidak ada yang tidak bisa Uchiha lakukan. Selain itu, hal itu cukup menguntungkannya juga karena membuatnya tidak perlu pulang bersama Sai. Sasuke hanya merasa terlalu malas untuk berhubungan dengan Sai saat ini. Dia masih merasa kesal pada pemuda berkulit pucat setelah semuanya.
Sasuke melakukan ritual yang biasa dia lakukan sepulang sekolah, mencuci wajah dan mengganti baju seragamnya. Dia tidak terbiasa mandi sepulang sekolah – biasanya dia melakukan itu di malam hari ketika akan tidur karena itu membuatnya lebih mudah untuk jatuh ke dalam dunia mimpi. Setidaknya dia jadi tidak tergantung oleh obat tidur seperti orang tuanya dan kakak laki-lakinya.
Sasuke mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan otot-ototnya sebelum menarik kursi dan mendudukinya. Ada beberapa pekerjaan sekolah yang harus dia selesaikan sebelum dia dapat melakukan aktifitas yang lain – tidur atau mungkin membaca beberapa buku di perpustakaan pribadi Uchiha. Ayahnya adalah seorang kolektor buku sehingga Sasuke tidak pernah kehabisan bahan bacaan di sana.
Pemuda bermata onyx itu hampir menyelesaikan tugas sekolahnya ketika kemudian ketukan di pintu menghentikan kegiatannya. Dia memutar kursinya dan mendapati wajah yang sangat identik dengannya muncul dari balik pintu. Sasuke mengangkat alisnya.
"Ya?" Tanya Sasuke sambil menyilangkan tangan di dadanya. Kakak laki-lakinya sangat jarang masuk ke kamarnya untuk menemuinya. Jelas kecuali untuk hal-hal yang cukup mendesak.
Uchiha Itachi tampak seperti versi lain dari Sasuke – lebih tinggi, lebih tegap dan lebih dewasa. Mereka berbagi wajah yang sama – hanya dengan sedikit perbedaan pada gaya rambut dan selera berpakaian. Banyak yang berpikir bahwa tampilan fisik yang nyaris serupa membuat kedua saudara itu sangat dekat. Namun kenyataannya, Itachi dan adiknya sama sekali tidak memiliki hubungan yang dekat. Mereka bahkan nyaris tidak saling berbicara kecuali ketika saling melemparkan kalimat-kalimat ejekan di meja makan. Hal yang dianggap terlalu biasa di kediaman Uchiha.
Itachi melangkah ke dalam kamar adiknya dengan anggun, tanpa menghiraukan silau permusuhan dari mata onyx yang identik seperti miliknya. Dia duduk di atas tempat tidur adiknya. Meraba-raba bed cover dengan telapak tangannya – seolah mengukur kehalusannya dan membandingkan dengan miliknya sendiri. Oh, betapa adiknya selalu ada di bawahnya dalam segala hal, pikir Itachi.
"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa tidur di tempat seperti ini," ucap Itachi tanpa sadar.
Sasuke mengerutkan keningnya. Berada di dekat kakaknya selalu membuat begitu emosional. Entah kenapa setiap kata yang keluar dari bibir laki-laki itu tampak seperti pemicu yang membuatnya kehilangan kontrol dengan mudah.
"Kalau kau ingin bermain, aku sedang sangat sibuk sekarang," ucap Sasuke ketika dia akhirnya bisa mengembalikan logikanya dan tidak menuruti amarahnya. Biasanya Itachi akan meninggalkannya dengan damai ketika Sasuke tidak membalas satupun kata-katanya.
"Tidak, tidak, aku tidak sedang ingin bercinta dengan dirimu, adikku sayang," ujar Itachi.
Sasuke mengangkat alisnya. "Bagus," ucapnya. "Pintunya ada di sebelah sana," tambahnya sambil mengangkat telunjuknya. Itachi hanya tersenyum kecil menanggapinya, tanpa menunjukkan tanda-tanda untuk meninggalkan kamarnya dalam waktu dekat.
"Tidak seperti itu Sasuke," balas Itachi kemudian. "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa?" Sasuke mulai merasa tidak sabar. Itachi selalu berbelit-belit, membuatnya benar-benar kesal karena membuang waktunya yang berharga.
"Hmm…." Alih-alih menjawab pertanyaan adiknya, Itachi malah merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dari sana dan mulai menggerakkan jari-jarinya diatas layar sentuh ponselnya, membuat Sasuke semakin mengerutkan alis karenanya.
Sasuke membuka mulutnya hendak menginterupsinya sampai kemudian Itachi memperlihatkan layar ponselnya padanya. Seketika itu juga pemuda bermata onyx itu membeku.
Di layar ponsel itu, tampak sebuah foto dari dirinya dan seorang pemuda berkulit pucat yang tak lain adalah Sai. Sedang berciuman. Atau lebih tepatnya, Sasuke sedang menciumnya. Dengan paksa.
Menyadari bahwa adiknya sudah cukup melihat tampilan gambar di layar ponselnya, Itachi menarik tangannya. Mengembalikan ponselnya seperti sedia kala dan kembali memusatkan perhatian pada Uchiha muda yang kini tampak berusaha bersikap masa bodoh.
"Jadi Sasuke, bisa tolong jelaskan padaku apa itu?"
.
.
.
to be continue
