Jinakkan Aku.

Disclamer:
Durarara by Narita Ryohgo

Warning:
Random. Super Short.


Shizuo sudah menganggap permasalahan model baru yang dibuat Izaya sudah selesai. Apa pun benda asing yang sedang mengalir dalam darah Izaya, Shinra bisa mengatasinya. Dalam hitungan jam, mungkin Shizuo bisa kembali melemparkan rambu lalu lintas ke kepala menyebalkan Izaya.

Well, bukan prospek yang membosankan.

Lagipula dia sudah minta ijin pada bosnya untuk selesai lebih cepat hari ini, jadi dia tidak punya hal lain untuk dilakukan.

Tapi entah dari mana munculnya—membuat Shizuo benar-benar hampir percaya kalau dia sedang pilek—ada seekor kutu yang kembali hinggap di wajahnya. Maksudnya Izaya kembali muncul begitu dekat dengan wajahnya sampai Shizuo bingung bagaimana dia bisa melempar sesuatu ke wajah menyebalkan itu tanpa membuat gerakan canggung.

Seketika pemandangan yang ada di sekitar Shizuo tergantikan oleh mata kemerahan Izaya yang entah kenapa Shizuo tidak bisa melihat sinar kenakalan darinya. Itu bukan sinar mata Izaya yang bisanya. Dan mau tidak mau itu membuat Shizuo agak bingung. Tapi mungkin itu tujuan Izaya: memakai tetes mata untuk membuat matanya terlihat lebih bersinar dan... membuat Shizuo mau tidak mau mengakui—tentu saja tidak secara lisan, tidak sampai kapan pun—kalau Izaya berhasil membuat matanya terlihat indah. Bukan berarti Izaya dan indah bisa diletakkan dalam satu kalimat begitu saja, itu adalah keadaan khusus. Dalam keadaan normal mata Izaya selalu terlihat mencurigakan.

Tapi kalau sedang terlihat bersih bersinar begitu, Izaya terlihat jujur.

Butuh waktu dua menit sampai Shizuo menyadari kalau Izaya sedang menjulurkan sesuatu ke arah tangannya. Dan menyadarinya pun malah membuat Shizuo semakin bingung. Karena Izaya sedang mengulurkan sebuah tali pengikat yang terikat pada sebuah ban leher warna merah yang terikat manis di leher Izaya.

"Ne, Shizu-chan, kau tidak boleh meninggalkan peliharaanmu di sembarang tempat begitu. Bagaimana kalau dia diculik? Nanti kau akan membutuhkan lebih banyak energi untuk menghajar penculiknya, lho," suara melengking Izaya menyadarkan Shizuo dari kebingungannya.

"Apa maksudmu, hah? Aku tidak pernah memelihara kutu,"

Izaya memiringkan kepalanya dan melebarkan matanya dan mengerucutkan bibirnya sedikit, "Tapi aku tidak mau jadi peliharaan orang lain selain Shizu-chan. Bukankah tadi Shizu-chan bilang dia mau mengurusku?"

Manis.

"Kau itu sedang mabuk obat macam apa, sih? Dari mana kau bisa berpikir kalau aku mau punya sedikit pun urusan denganmu?"

"Kan sudah kubilang aku sedang jatuh cinta. Dan dia tidak akan membalas cintaku kalau aku masih liar, makanya aku butuh majikan,"

Bertahan dengan kegilaan Izaya hanya untuk membuat kisah cinta Izaya punya happy ending? Memangnya Shizuo sudah gila? Kalau hanya endingnya saja, sih, Shizuo oke. Tapi kalau happynya, yang benar saja. Izaya yang tidak happy saja sudah membuat banyak masalah apalagi yang sedang happy.

(Tentu saja logika Shizuo memang hampir selalu unconventional seperti itu.)

"Itu tidak akan mengubah apa pun. Aku tidak mau punya urusan denganmu. Cepat pergi dari sini sebelum aku membunuhmu!"

"Tapi kalau tidak bersama Shizu-chan aku akan tetap menjadi liar...,"

"Kau bisa menjadi peliharaan konglomerat hidung belang dan aku masih tidak akan peduli!"

Shizuo menolak percaya kalau dia melihat tatapan patah hati yang terlempar dari seluruh tubuh Izaya. Dari kepalanya yang tertunduk sampai pundaknya yang jatuh, atau kakinya yang mulai terlihat rapuh. Tapi dia masih menolak percaya. Ini Izaya. Tentu saja dia bisa memalsukan ekspresi macam apa pun yang dia inginkan. Dia bahkan pernah mendengar kalau Izaya punya persona lain yang berjenis kelamin perempuan, dan manusia macam apa yang bisa berpura-pura berkelamin lain tapi tidak bisa memalsukan ekspresi patah hati?

Shizuo tidak sebodoh itu untuk bisa percaya begitu saja.

(Or so he thought...)


Matahari sudah hampir terbenam saat Shizuo memutuskan untuk berjalan pulang setelah seharian berkeliaran tanpa arah dan tujuan. Dia akhirnya bisa sedikit menghilangkan Izaya dari pikirannya, karena meskipun dia tidak akan mengakuinya, Izaya selalu ada di pojok pikirannya, entah heboh menebar konfeti atau diam saja sambil membuat peta di tanah.

Dari awal dia sudah memutuskan untuk tidak terlibat dalam kegilaan baru yang dimainkan Izaya, namun tanpa bisa dikontrol, seperti biasanya, dia ingin menyingkirkan kegilaan Izaya. Atau menyingkirkan Izaya secara keseluruhan, yang mana saja oke. Yang penting Izaya tidak menyebarkan kegilaannya di area yang dekat dengan Shizuo. Itu sangat mengganggu kedamaian hidupnya.

Tentu saja semuanya akan berjalan lancar. Asalkan tidak ada kutu busuk itu, hari-hari Shizuo akan damai. Well, bukan berarti dia akan berhenti marah-marah sama sekali karena ada banyak orang yang meskipun tidak semenyebalkan Izaya tetap saja menyebalkan. Tapi jumlah kemarahan yang dibangkitkan orang-orang itu tidak sebanding dengan kemarahan yang dipicu oleh eksistensi Izaya.

Dan bayangkan saja betapa besar kemarahan Shizuo ketika dia melihat apa yang menyambutnya begitu dia menginjakkan kaaki di rumah kecilnya sendiri.

Ini adalah hal terakhir yang muncul dalam ekpektasinya.

Izaya berada di ujung genkan* duduk bersila dengan kedua tangannya tertumpu di tumpukan kakinya. Seperti kucing. Bahkan dengan senyum lebarnya.

"Shizu-chan, okaeri~"


(* Lorong yang langsung ditemui dari pintu utama. Biasanya isinya rak sepatu sama tempat payung.)

(Kok rasanya makin pendek aja, ya? Well, ternyata WB nggak bisa diatasi bahkan dengan menulis plotline sebelum menulis. Dan sebagian karena saya suka kalau ending chapter ini di situ saja. X9)

(Dan setelah dengan santainya proklamasi kalau akan membuat one chap per week, malah langsung telat. Tapi keberadaan review yang almost non-existent membuat saya lepas dari rasa bersalah. Jadi bingung harus seneng apa depresi. Abisnya pas mau publish minggu kemaren saya baru nyadar begitu sampai di net cafe kalau file yang ada di FD cuma sampai chap 2. Deep sigh.)