BYUN VIENNY
.
PRESENT
.
BAEKHYUN IS MINE
.
CHANBAEK GS
.
ROMANCE/DRAMA
.
.
Lanjutan... FLASHBACK ON
.
Tiga hari kemudian...
Baru saja Baekhyun melangkahkan kaki menginjak koridor sekolahnya, langkahnya terhenti saat melihat beberapa siswa berebut untuk melihat isi didalam papan informasi gantung yang melekat pada dinding dengan list almanium yang tertutup kaca.
Baekhyun sebenarnya tidak terlalu peduli dengan apa yang sekarang menjadi perhatian dari siswa sekolahnya.
Namun langkahnya terhenti saat samar-samar dia mendengar namanya disebut diantara kerumunan siswa tersebut.
Sepertinya ada yang tidak beres! Baekhyun berlari kecil mendekati papan informasi tersebut.
Baekhyun dengan tubuh mungilnya berusaha menerobos kerumunan dan berharap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.
Gadis bertubuh tambun menoleh kebelakang ketika dia merasa terganggu dengan gadis dibelakang yang sedari tadi mendorong-dorong tubuhnya.
"Wajah gadis ini seperti tidak asing." Gumannya sesaat sebelum berfokus kembali dengan isi di papan pengumuman didepannya.
Matanya membulat ketika mengetahui bahwa wajah gadis yang ada di foto itu sama persis dengan gadis dibelakangnya
"Kau...Baekhyun." Gadis bertubuh tambun itu terbata-bata karena kaget.
Sontak beberapa siswa yang mengelilingi papan informasi itu langsung membalikkan tubuhnya dan menatap Baekhyun kaget.
"Oh jadi kau Baekhyun?" Mereka serentak mendelik tajam Baekhyun dari ujung kaki sampai kepuncak kepala untuk memastikan sesempurna apa gadis dihadapan mereka yang berani mencium seorang Park Chanyeol.
Tatapan sinis siswa itu menjadikan Baekhyun sebagai pusat perhatian justru membuat Baekhyun tidak nyaman dan gelisah.
Ini pasti ada yang tidak beres! kali ini dengan mudah dia menerobos kerumunan karena beberapa siswa yang tadi menghalanginya kini melonggarkan jarak untuk mempermudah langkahnya.
Dia membelalakan mata sipitnya ketika melihat foto dirinya yang sedang mengecup bibir Chanyeol apalagi pada atas foto itu bertuliskan "Baekhyun berani mencium Chanyeol" sontak membuat sekujur tubuhnya melemas.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Baekhyun frustasi kepada orang disekelilingnya.
Bukannya merespon pertanyaan Baekhyun mereka malah mendengus kesal dan serempak meninggalkan Baekhyun.
"Ya Tuhan, bagaimana ini!" Baekhyun dengan cemas berulang kali memukul keras kaca tersebut, berharap adanya mukjizat kaca itu terbuka agar dia dapat segera merobek foto yang membuatnya ingin bunuh diri detik ini juga!
Baekhyun yang terlalu fokus dengan benda didepannya tidak menyadari jika ada seorang gadis bertubuh kurus tinggi diiringi kedua genknya berjalan menghampirinya.
"Beraninya kau mendekati Park Chanyeol, kau mau cari mati dengan ku." Sumber dari suara Yoona yang berada disampingnya membuat perhatian Baekhyun teralih.
"Apa kalian yang melakukan ini kepadaku?" Tuduh Baekhyun dengan menatap tajam Yoona.
Kata-kata yang keluar dari mulut Baekhyun membuat Yoona menatap Baekhyun dengan tatapan penuh kebencian.
"Berani sekali kau menuduhku, apa kau punya bukti?!" Bentak Yoona
"Akhh..Lepaskan.." Baekhyun meronta berusaha melepaskan tangan Yoona yang mencengkram keras rambutnya bukannya melonggarkan cengkramannya, gadis berkulit putih itu langsung membenturkan kepala Baekhyun pada kaca mading dibelakangnya.
"Itu akibatnya kalau kau berani melawanku!" Gertak Yoona lalu meninggal Baekhyun yang meringis kesakitan.
"Akhh..." Baekhyun meringis kesakitan mengelus kepalanya.
Baekhyun berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh karena dia tidak ingin terlihat lemah dimata orang yang berusaha menginjak harga dirinya.
Baekhyun sejenak merapikan rambut dengan jari-jarinya lalu berjalan menuju lokernya, sepanjang perjalanan semua orang menatapnya dengan tatapan aneh, Baekhyun pura-pura tidak menyadari dan tetap berjalan acuh sembari berusaha melupakan kejadian yang dia alami agar air matanya tidak jatuh.
"Hai Tao," Sapa Baekhyun ramah seolah tidak terjadi apa-apa ketika telah sampai pada lokernya.
"Haii Baekhyun." balas gadis berkacamata disampingnya tak kalah ramah.
"Bagaimana kabarmu hari ini Baekhyun?" Tanya Tao seraya menutup lokernya.
"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" Baekhyun berusaha membohongi Tao dengan senyuman manisnya.
"Aku juga baik-baik saja, aku duluannya." Pamit Tao menepuk pundak Baekhyun dibalas dengan anggukan Baekhyun.
"APA LAGI INI!" Keluh Baekhyun membuat Tao langsung berbalik arah dan menghampiri Baekhyun.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Tao kaget melihat sampah-sampah berserakan didalam loker Baekhyun.
"Mereka sungguh menjijikan dasar pengecut!" Umpat Baekhyun lalu menyingkirkan sampah yang ada didalam loker membuangnya disegala arah.
"Ini pasti perbuatan Jessica atau Yoona." Tuduh Tao sambil membantu membersihkan loker Baekhyun.
"Semua ini karena Park Chanyeol!" Batin Baekhyun karena Baekhyun merasa bahwa seluruh masalah yang terjadi padanya karena Chanyeol. Yah! Andai saja waktu itu dia tidak bertemu dengan Chanyeol dan lelaki itu tidak usil mengambil bukunya mungkin dia bisa bersekolah dengan tenang meskipun hanya berteman dengan Tao.
.
.
-BAEKHYUN IS MINE-
.
"Jongiiinnn.. Bangunnnn..." Teriak Chanyeol mengoyangkan tubuh Jongin yang masih terlelap di balik selimutnya.
Jongin sejenak meliukan tubuhnya lalu kembali menarik selimut menutupi puncak kepalanya.
Melihat sahabatnya tidak kunjung membuka mata, akhirnya Chanyeol berinisiatif duduk sebelah Jongin lalu menerjang sahabatnya dengan kasar sehingga Jongin langsung jatuh di lantai.
Jongin yang kaget dengan serangan Chanyeol langsung membelalakan mata dan berdiri siap memukul orang yang berani menganggu tidurnya.
"BRENGSEK!" Tanpa pikir panjang Jongin memukul keras kepala Chanyeol dengan bantal guling kesayangan.
"Aduh...!" Chanyeol meringgis kesakitan memegang kepalanya.
"Kau mau aku mati karena serangan jantung, HAH!" Ucap Jongin dengan nada tinggi lalu mengambil selimut yang tergeletak dilantai untuk melanjutkan tidur pada sofa empuk yang terletak disamping ranjangnya.
"Jongin" Panggil Chanyeol yang masih duduk diatas ranjang Jongin.
Jongin langsung membalikkan badannya dan menatap Chanyeol.
"Bukankah aku berkencan dengan Hyeri siang nanti?" Jongin mengeryitkan alisnya
"Emang aku bilang kalau kita akan membolos lagi?" Sahut Chanyeol.
"Aku sangat malas kesekolah hari ini dan aku ingin tidur sepanjang hari, OKE." Jongin menekankan kata terakhirnya seolah ingin menunjukkan kepada sahabatnya bahwa dia tidak ingin pergi kesekolah lalu kembali menarik selimut menutupi kepalanya.
"Oke, kalau begitu aku pergi sendirian." Chanyeol turun dari ranjang Jongin.
"Jadi kau mulai mengabaikan sahabatmu ini, Okehh." lanjut Chanyeol mengambil kunci mobilnya lalu beranjak pergi.
.
.
"Harusnya aku mengubah password apartemenku!" Jongin menutup kasar pintu mobilnya sesaat mereka sampai tempat parkir sekolah.
"Aku sudah menekan bel puluhan kali tetapi kau tidak membukakan pintu, aku sangat khawatir siapa tau kau dibunuh pacarmu karena ketahuan bercumbu dengan pacarmu yang lain." Ucap Chanyeol terkekeh sambil menutup pintu mobilnya.
"Lain kali aku akan membalaskan perbuatanmu yang membangunkanku dengan tidak beretika." Ucapnya masam.
"Oke ku tunggu." Tantang Chanyeol.
Chanyeol tahu bahwa Jongin tidak mungkin bangun lebih pagi darinya, kebiasaan Jongin adalah kalau sudah bertemu dengan bantal dan ranjangnya dia langsung berubah menjadi beruang yang berhibernasi pada musim dingin.
"Kau membatalkan kencanku hari ini." Jongin memasang ekspresi masam ketika mereka berdua berjalan menyusuri koridor.
"jangan-jangan karena gadis bernama Baekyun itu." Selidik Jongin.
"Kau sangat peka Jongin." Chanyeol tersenyum mengedipkan matanya
"Kau jatuh cinta padanya?"
"Entahlah, kau pernah merasakan apa yang aku rasakan saat ini?"
"Aku berharap tidak pernah merasakan apa yang kau rasakan."
"Jangan berkata seperti itu Jongin."
Langkah kaki ringan Chanyeol dan Jongin berjalan menyelusuri koridor sekolah terhenti katika ada sosok lelaki yang menatap lurus kearah mereka.
"Chanyeol." Panggil Kris yang berdiri berseberangan mereka.
"Ada apa Kris?" Balas Chanyeol ramah sejenak menghentikan percakapannya dengan Jongin.
"Kau lihat ini!" Kris mengerahkan jari telunjuk kearah benda di sampingnya.
"Emangnya ada disana?" Chanyeol bertanya pelan kepada Jongin.
"Entah." Jongin mengangkat kedua bahunya.
Jongin dan Chanyeol dengan santai mendekati mading tersebut.
Sama seperti Baekhyun, ekspresi Chanyeol yang teduh berubah menjadi sangat menyeramkan ketika melihat foto dirinya berada didalam kaca papan informasi otomatis membuatnya menjadi konsumsi publik.
"SIAPA YANG MELAKUKAN INI?!" Chanyeol mengepalkan kedua tangannya.
"Tunggu sebentar aku akan meminta kunci mading ini dengan Yoona." Jongin langsung berlari menuju kelasnya mencari Yoona.
"Aku tidak menyangka selerahmu serendah ini." Remeh Kris ketika Jongin telah jauh dari jangkauan matanya dengan tatapan angkuh.
"Kau tidak perlu mencampuri segala kehidupanku!" Tegas Chanyeol.
"Baekhyun sama seperti ibumu sama-sama seperti debu yang mengotori keluarga Park jika gadis itu mendekatimu lagi. Aku akan membuatnya menderita!" Kris menegaskan kalimat terakhirnya.
"ULANGI PERKATAANMU SEKALI LAGI!" Rahang Chanyeol mengeras, dia marah ketika indera pendengarannya menangkap suara Kris yang mengatakan "Aku akan membuatnya menderita" kalimat sepupunya itu seperti belati-belati tajam yang akan menghujam jantungnya.
Chanyeol menutup matanya sejenak untuk merendam tumpukan amarahnya namun perkataan Kris sudah berhasil meruntuhkan batas kesabaran yang telah dia pertahankan.
"KAU TULI? ULANGI PERKATAANMU SEKALI LAGI?!" Bentak Chanyeol dengan tatapan tajam penuh amarah.
Kris pun tersendak dan mundur selangkah ketika Chanyeol memajukan langkahnya.
"Chanyeol.." Suara Jongin berhasil mengalihkan atensi perhatian Chanyeol kepada kris.
Ketika Chanyeol membalikan tubuhnya, tanpa pikir panjang Kris mengunakan kesempatan itu untuk berlari sebelum Chanyeol membunuhnya.
"Kuncinya hilang." Ujar Jongin dengan nafas terengah lalu berlari kecil mendekati sahabatnya.
BRAK! Suara pecahan kaca terdengar mengema seisi koridor, Chanyeol memukul keras kaca tersebut dengan tangannya sekaligus bentuk pelampiasan segala kekesalan dan amarahnya terhadap Kris dan orang yang berani mencari masalah dengannya.
Jongin membulatkan matanya dia sangat terkejut dengan perubahan emosi dari sahabatnya
Serpihan kaca berhasil menembus tangan Chanyeol, setetes demi setetes darah mengalir melewati disela-sela jarinya.
.
.
-FLASHBACK ON-
.
Saat jam pelajaran berlangsung, Baekhyun tidak fokus dengan materi pelajaran yang sedang dipaparkan oleh gurunya.
Karena suara-suara seperti berbisik sangat menggangu konsentrasinya apalagi ketika dia mengetahui bahwa dirinya lah yang sedang diperbincangkan.
"Harusnya dia sadar siapa dia dan siapa Chanyeol." Bisik gadis yang duduk di belakang Baekhyun.
"Dia tidak apa-apanya dibandingkan Yoona dan Jessica kedua gadis terpopuler disekolah ini."
Baekhyun berusaha pura-pura tidak mendengar kalimat yang begitu menyayat hatinya. Sesekali dia menarik dan menghembuskan nafasnya berlahan mencoba menenangkan dirinya.
Kalau saja dia bukan penerima beasiswa, dia akan merobek mulut-mulut gadis yang telah membicarakannya.
"Kau sebagai cowok bagaimana tanggapanmu ketika gadis menciummu duluan." Jessica mencolek lelaki yang duduk disampingnya.
"Bagiku dia seperti jalang." Celetuk Lelaki yang duduk disudut belakang bersama Jessica tertawa diikuti beberapa siswa yang duduk di dekat mereka.
"Seperti jalang?" Baekhyun membatin, entah kenapa kalimat itu sudah membuat hatinya hancur, dia memang sering menerima berbagai macam bentuk hinaan dari orang disekelilingnya tetapi kata "Jalang" itu sudah menginjak harga dirinya sebagai seorang wanita.
"Permisi Pak." Ujar Baekhyun sudah tak tahan lagi seraya berdiri
Baekhyun melangkah keluar setelah lelaki paruh baya itu mengganguk pelan.
"Tao..." Panggil Jessica
"Apa?" Sahut Tao menoleh kebelakang
"Kemana dia?" Tanya Jessica
"Toilet." Jawab Tao singkat
.
.
"Berani sekali kau merusak fasilitas sekolah milik Tn. Kim." Omel Jongin sambil merekatkan plester pada kain kasa yang menyelimuti seluruh punggung tangan kiri Chanyeol.
"Apa kau mencurigai seseorang Jong?." Tanya Chanyeol duduk disamping ranjang uks.
"Aku belum mencurigai siapapun." Jawab Jongin santai.
"Kita harus cepat menyelesaikan masalah ini." Ujar Chanyeol.
"Benar.. Aku sudah tidak sabar untuk melihat pelakunya." Jongin tersenyum kecil seraya berbaring di ranjang Chanyeol.
"Kunci tersebut 1 terdapat diruang guru, ketua osis dan anak-anak pengelola mading lalu kunci yang tadi hilang itu milik Yoona." Jelas Jongin lalu mengambil ponsel dari sakunya.
"Hmm... apa Yoona pelakunya?" Chanyeol menoleh kebelakang.
"Entahlah, kita tidak punya bukti, Chan." Jongin membalas tatapan Chanyeol sebelum kembali sibuk memainkan ponselnya.
"Apa Baekhyun sudah mengetahui hal ini?." lirih Chanyeol melempar pandangannya kedepan dinding UKS sekolahnya yang berwarna putih.
.
.
Ternyata gadis yang barusan disebut Chanyeol kini sedang duduk diatas Closet dan menarik selembar demi selembar tisu yang berada disampingnya.
"Semua ini karena Park Chanyeol!" Umpat Baekhyun disela-sela isak tangisannya.
"Pantas kalian menyukai Chanyeol karena kalian sama-sama brengsek!" Baekhyun kembali mengambil tisu disampingnya.
"Dasar bodoh kenapa kau menciumnya." Baekhyun memukul-mukul kepalanya saat adegan dirinya yang mencium Chanyeol terlintas dalam ingatannya.
"Kau harus kuat Byun Baekhyun." Baekhyun mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Setelah menghapus airmatanya, Baekhyun melirik arloji ditangan kirinya.
"30 menit sudah cukup kau meratapi diri." Batin Baekhyun seraya berdiri merapikan rambut dan seragam sekolahnya.
Dengan ringan Baekhyun membuka pintu toiletnya, alangkah kagetnya Baekhyun ternyata pintu itu tidak dapat dibuka.
" TOLONGG!" Baekhyun panik memukul-mukul pintu toiletnya namun tidak ada jawaban dari luar Baekhyun langsung berdiri diatas closet yang dari tadi dia duduki "TOLONG...TOLONG." Jerit Baekhyun mendongakan kepalanya keatas agar suaranya terdengar seisi toilet.
Jongin dan Chanyeol melangkah beriringan menuju kelas mereka terkadang terdengar gelak tawa disela-sela percakapan mereka.
"Untung tadi tidak ada orang yang menyaksikan perbuatanmu." Ucap Jongin
"Kau tau apa yang terjadi jika Tn. Kim mengetahui kau merusak fasilitas sekolahnya" Lanjut Jongin
"Tn Kim akan datang kesekolah detik itu juga dan membunuh kita." Sahut Chanyeol diiringi tawa kecil dari bibirnya.
"Tn Park akan meninggalkan meetingnya lalu meluncur kesekolah untuk membakar kita hidup-hidup" Timpal Jongin dan mereka selalu tertawa terbahak-bahak jika membahas mengenai Tn. Kim dan Tn. Park.
"TOLONG!" Baekhyun berteriak mengeluarkan seluruh tenaganya kembali memukul-mukul pintu.
"Kau mendengar sesuatu?" Tanya Jongin sesaat tawa mereka mereda.
Langkah mereka pun terhenti lalu memasang telinga untuk menangkap suara yang telah mengubah perhatian mereka.
"Tolong." Suara Baekhyun mulai melemah, cairan hangat kembali menetes membasahi pipinya.
Chanyeol pun tersentak kaget, dia mengenali suara lirih itu.
"BAEKHYUN!" Jerit Chanyeol.
"DIMANA KAU?!" Chanyeol mulai panik
Baekhyun sedikit lega mendengar ada yang meresponnya, gadis itu kembali menginjak closet dengan mengumpulkan sisa tenaga yang dia miliki "Tolong." Teriaknya.
"Toilet." Tangkap Chanyeol langsung berlari.
"Dimana kau?" Chanyeol membuka beberapa pintu toilet yang tertutup.
"Aku disini." Sahut Baekhyun kembali memukul-mukul pintu toilet agar orang yang diluar sana mengetahui keberadaan.
"Baekhyun!" Panggil Chanyeol dengan nada panik berusaha mendobrak pintu berwarna coklat tua itu.
"Baekhyun tenang, aku akan mengambil kunci duplikatnya." Jerit Jongin tanpa pikir panjang langsung berlari mencari kunci pintu yang mengurung Baekhyun.
"Baekhyun mundur! Aku akan mendobrak pintu ini." Suara khawatir Chanyeol terdengar dibalik pintu.
Baekhyun segera menjauhi pintu dengan kembali menginjak closetnya.
"Sudah." Jawab Baekhyun terisak.
Chanyeol mencoba menerjang dan menghempaskan tubuhnya berkali-kali dengan sekuat tenaga untuk membuka pintu tersebut sesaat luka pada tangan kirinya tidak terasa. Sangat sulit untuk membuka pintu tebal tersebut meskipun keringat mulai merembes seragam sekolahnya dia pantang menyerah untuk mendobrak pintu yang membatasi dirinya dan Baekhyun..
Sampai pada akhirnya, BRAK! Akhirnya pintu itu terbuka setelah tenaganya hampir habis.
Chanyeol terengah langsung berjalan cepat dan menarik keluar Baekhyun yang mematung dan mengikat gadis itu dalam pelukannya.
Baekhyun tidak percaya bahwa yang menolongnya adalah Park Chanyeol lelaki yang baru saja dia cela.
"Syukurlah, kau tidak apa-apa." Chanyeol menarik nafas panjang memeluk erat Baekhyun.
Baekhyun tidak membalas pelukan dan tidak juga melepaskan pelukan Chanyeol. Entah kenapa sekarang Baekhyun merasa logika dan perasaannya tidak sinkron.
Dimana logikanya ingin segera melepaskan pelukan lelaki yang baru dia cela namun aroma maskulin dan kehangatan yang ditawarkan oleh tubuh Chanyeol meruntuhkan rasa panik yang baru saja dia alami dan kini cuma ada rasa tenang dan nyaman. Dalam hati Baekhyun ini berlama-lama merasakan kenyamanan dalam dekapan lelaki yang diincar oleh semua kaum hawa.
Baekhyun sejenak memejamkan mata menikmati suara debaran jantung Chanyeol yang berdetak cepat.
"Chanyeol." Panggil Jongin dengan nafas terengah sambil menunjukkan kunci duplikat yang dibawanya.
Baekhyun sadar langsung melepaskan pelukannya dan menatap Chanyeol.
"Berani sekali kau memelukku!" Ketus Baekhyun menatap sinis Chanyeol.
Chanyeol dan Jongin terdiam ketika mengetahui reaksi Baekhyun.
Baekhyun berjalan membelakangi Chanyeol dan menabrak bahu Jongin yang sedang berdiri didepan pintu keluar toilet.
Jongin yang menerima serangan fisik dari Baekhyun berprasangka kalau Baekhyun sedang menantangnya.
"Apa penerima beasiswa sepertimu hanya belajar mengejar nilai akademik tanpa belajar beretika." Ucap Jongin memandang dengan tatapan lurus kedepan tanpa melihat Baekhyun.
Langkah Baekhyun terhenti dan memutar lehernya kebelakang.
"Harusnya kau mengucapkan itu pada temanmu." Sahut Baekhyun lalu kembali meneruskan langkahnya.
Jongin membalikkan badannya menatap tajam punggung Baekhyun.
"Apa berat bagimu mengucapkan terima kasih?" Jongin tak mau kalah.
Baekhyun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jongin
"Apa kau mengemis ucapan terima kasih?" Baekhyun mengeryitkan kedua alisnya,
"Okeh! Ini pertama dan terakhir kalinya aku membantumu jika nanti kau, adikmu atau keluargamu dalam bahaya, aku tidak akan mengulurkan bantuan! pegang ucapanku." Jongin menetap pada kalimat terakhirnya.
"Aku dan adikku tidak akan pernah meminta bantuanmu." Jawab Baekhyun lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Maafkan aku Jongin." Guman Baekhyun.
Sebenarnya Baekhyun tidak ingin Chanyeol menyadari debaran jantungnya dengan cepat dia melepaskan pelukan dan berlari menghindari Chanyeol sehingga dia tidak sengaja menabrak Jongin segala perkataan Baekhyun kepada Jongin sebenarnya pelampiasan dari semua kekesalannya terhadap Chanyeol, ya! Semua kata-kata itu ditujukan untuk Chanyeol bukan Jongin.
Jongin mengepalkan kedua tangannya dan hendak mengejar Baekhyun namun langkahnya ditahan oleh Chanyeol.
"Baekhyun kau bodoh!" Gerutu Baekhyun dalam hati menyesali segala perkataannya melangkah gelisah menuju kelasnya.
"Sudahlah, Ayo kita kekelas." Chanyeol merangkul pundak sahabatnya.
"Sebaiknya kau melupakan gadis yang tidak tahu berterima kasih itu" Kesal Jongin
"Tapi aku makin menyukainya." Chanyeol tersenyum dan mengedipkan mata
"Semakin kau menyukainya maka kau juga akan banyak merusak fasilitas Tn. Kim." Jongin mengdengus kesal melepaskan rangkulan Chanyeol berjalan mendahului Chanyeol.
Chanyeol tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sahabatnya.
.
.
-BAEKHYUN IS MINE CH 3-
.
Bel bertanda pelajaran berakhir pun telah berbunyi, seluruh siswa serempak berhamburan keluar kelas.
"Lulu, Kau lihat itu?" Yixing menunjuk Sehun yang sedang duduk diatas motor sambil memainkan ponselnya sesaat mereka menuju keluar gerbang sekolah.
Senyuman Luhan langsung merekah dan berlari kecil mendekati Sehun yang berada di depan gerbang.
Yixing yang melihat reaksi sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Oppaa." Panggil Luhan manja langsung duduk dibelakang Sehun
Sehun kaget tiba-tiba Luhan memeluknya dari belakang langsung berusaha mengimbangi motornya agar tidak jatuh.
"Apa yang kau lakukan." Sehun mendelik kaget.
"Kenapa kau berubah seperti ini?" Lirih Luhan cemberut.
"Lu." Sehun memegang tangan gadis bermata rusa itu berusaha melepaskan pelukan yang membuat nafasnya sesak.
"Aku tidak mau." Rengek Luhan malah mempererat pelukannya.
"Gak enak nanti dilihat Kyungsoo." Sehun mengeluarkan ucapan andalannya yang merupakan kelemahan Luhan.
"Bohong! Kau bohong! Kyungsoo kan ada rapat tim basket." Ucap Luhan dengan nada manjanya.
"Oppa, Pak Yeon Seok lembur hari ini jadi kau tidak punya alasan menolak untuk mengantarkanku pulang!"
"Kau tau dari mana?" Sehun menoleh kebelakang.
"Kakak ipar yang bilang denganku, kalu gak percaya tanya Yixing." Luhan menjulurkan lidahnya.
Sehun mengehembuskan nafas dengan kasar.
"Berani sekali hyung kerjasama dengan Lulu!" Batin Sehun.
Dengan berat hati akhirnya Sehun menstarter motornya karena Sehun tidak ingin Luhan menangis seperti anak kecil yang kehilangan permen lalu membuatnya jadi pusat perhatian akibat menolak pinta gadis yang paling kekanak-kanakan dimata Sehun.
Namun Sehun kembali mematikan motornya saat melihat dari kaca spionnya sebuah mobil yang sangat dia kenali menuju kearahnya.
"Oppa kenapa dimatikan..?" Tanya Luhan menaruh dagunya di bahu lebar Sehun.
Sebelum Sehun menjawab petanyaannya, Luhan sudah mengetahui jawabannya.
Mobil itu berhenti dan seorang lelaki keluar dari mobil mewahnya berwarna merah "Lulu, apa yang kau lakukan!" Kris langsung menarik kasar tangan adiknya untuk turun dari motor Sehun.
Luhan juga tidak melawan saat Kris langsung mendorong masuk Luhan ke mobilnya.
"Kau tidak perlu kasar kepada adikmu." Ucap Sehun datar.
"Itu bukan urusanmu!" Ucap Kris dengan nada tinggi seketika auranya mengelap.
Jari telunjuk Kris berada didepan wajah Sehun "Jauhi adikku karena kau memberi pengaruh buruk kepadanya." Ketus Kris sebelum menutup pintu mobilnya dengan kasar.
Sehun lagi-lagi hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar.
"Pengaruh buruk darimana? Adikmu rajin belajar menjadi juara satu karena aku dan Yeon Seok, hanya karena setamat SMP dia memilih sekolah yang sama denganku bukan memilih sekolah elite sepertimu lalu kau langsung menuduhku memberi pengaruh buruk." Guman Sehun hanya bisa mengehembuskan nafas dengan kasar mengingat miris kisah cintanya dengan Luhan setelah empat tahun berpacaran.
.
.
-READ AND REVIEW-
.
Semua gadis yang berkumpul di aula menatap Chanyeol dengan penuh binar kekaguman seperti memuja sosok lelaki tampan memiliki bentuk fisik sempurna sedang berdiri dihadapan mereka.
Sepulang sekolah Chanyeol dan Jongin sengaja mengumpulkan beberapa siswa dikelasnya untuk mencari tahu siapa pelaku yang memotret dan menempelkan foto Baekhyun dan dirinya.
"Aku langsung to the point siapa yang berani mencuri kunci mading di ruanganku." Gertak Yoona sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Bukankah kau sebagai ketua osis yang memegang kunci itu lalu siapa yang berani mencurinya? Kami saja tidak tau dimana kau simpan kunci itu!" Sahut Jessica
Mendengar jawaban Jessica, Yoona yang duduk dibarisan paling depan spontan memutarkan tubuhnya dan berjalan penuh amarah kepada Jessica yang duduk disudut belakang.
"Kau menuduhku?! Bukankah papan infomasi itu menjadi tanggungjawabmu sebagai ketuanya,HAH!" Yoona memukul keras meja Jessica membuat Jessica tersentak kaget.
"Yang hilang itu kuncimu lalu kenapa kau seperti mencuci tangan dengan menuduhku,HAH?! Jessica tidak mau kalah lalu berdiri menujuk Yoona yang tepat dihadapannya.
"Sudah tenangkan dirimu." Amber yang berada ditengah-tengah Jessica dan Yoona berusaha melerai pertangkaran yang terjadi antara sahabatnya dan Yoona.
"Jangan-jangan kau yang mencuri kunciku." Balas Yoona tetap tidak terima dengan perkataan Jessica.
"Lalu dengan mudah kau menjebakku padahal kau pelakunya." Timpal Yoona.
BRAK! Chanyeol memukul papan tulis yang ada dibelakangnya untuk menghentikan perdebatan yang terjadi antara Yoona dan Jessica.
Suasana menjadi hening.
"Kalian tidak perlu saling menyalahkan! Aku cuma butuh pengakuan!." Teriak Chanyeol
Sejenak Yoona mendelik kesal kearah Jessica dan kembali menuju mejanya.
"Terhitung dari sekarang kami membuka 1x24 jam untuk pelakunya mengaku!." Ancam Chanyeol.
"Kalau tidak ada yang mengakuinya?" Tanya siswa laki-laki yang bertubuh kurus berkulit hitam duduk dibarisan tengah diketahui sebagai anggota mading.
"Kami sendiri yang menemukan pelakunya, aku pastikan dia akan keluar dari sekolah ini detik itu juga!" Ujar jongin datar sambil memainkan smartphonenya.
"Sampaikan itu kepada seluruh siswa disekolah ini." Timpal Chanyeol.
"Satu hal, aku minta kalian semua tidak menganggu Baekhyun lagi." Pinta Chanyeol
"Kenapa kau berkata seperti itu?." Tanya gadis yang merupakan anggota osis duduk dibarisan Yoona.
"Karena dia milikku." Ujar Chanyeol santai seraya beranjak pergi.
Sontak saja jawaban Chanyeol membuat Jongin, Jessica, Yoona dan siswi yang didalam kelas tersebut mengangga dan membelalakan mata, hanya ada satu orang yang tetap bertahan pada ekspresinya dari awal sampai akhir yaitu Tao yang merupakan anggota osis bertahan pada ekspresi datarnya.
.
.
.
.
TBC ? maybe tergantung Review dari kalian :)
-FLASHBACK END-
.
.
Annyeonghaseyo,,
Akhirnya Flashback berakhir,, yang nebak uri Baekhyun di bully karena di taksir oleh Loey sepertinya urung mendapatkan gelas cantik "saat ini" hehehhehe,,
.
(RE REVIEW) Rizkaa said : kpn Loey menyatakan cinta kepada Baekhyun ? - kira-kira kapannyaaa ? Chanyeol dulu atau Baekhyun dulu yaaa? hihihihi ditunggu aja say-
.
Sebenarnya FF ini Okta tulis padahal setiap chapnya masih dalam bayang-bayang ilusiii kalo kata Anggun hihihi jadi butuh banget Review dari kalian untuk memberi masukan selanjutnya gimana ? mungkin Luhan kita jodohkan dengan Yeon Seok #bunuh Okta bunuh wkwkwkwk.
.
Sorry banget jika udah update 2 story baru karena ide muncul gitu aja jadi sayang kalau gak ditulis nanti lupa atau kalau bahasa Palembangnya (Agek Lupo) sayaang tuu.
.
.
Thx banget untuk yang udah review,follow,favorite and membaca FF ini :)
