SUN FLOWERS
.
.
Chapter 3 :
Obstacle
.
Cast :
Lu Han , Se Hun
And orther member to participant
Disclaimer :
Semua tokoh di cerita ini punya orang tua dan diri mereka sendiri. Cerita dan plotnya murni dari saya.
Terinspirasi dari beberapa kejadian.
Romance, lilltle bit angst, drama plot, genderswitch, DLDR.
Rating :
T/M
.
.
Summary chapter 3 :
Aku tau disetiap kesenangan pasti ada sakitnya, pasti ada susahnya. Dalam pepatah mengatakan berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian yang artinya bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Pangeran berkuda putih pun akan kembali pada istananya. Karena disanalah dia lahir dan menetap.
Harus diingatkan kembali bahwa terdapat perbedaan kasta di dunia ini.
.
.
.
Pagi ini Luhan terlihat lebih cerah dari biasanya. Dengan kemeja tunik dan ripped jeans nya dia berjalan sendirian ke halte bus, menunggu bus dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibir mungilnya. Sesekali dia menyapa perempuan tua penjaga toko roti di sebrang jalan dan membantunya. Luhan adalah devinisi dari perempuan muda yang seperti malaikat. Dengan kulit selembut kapas dan wajah yang sangat imut bisa membuat siapapun yang melihatnya terpana dalam satu detik.
"Selamat datang." Sapa seseorang dari meja kasir saat Luhan masuk ke dalam café tersebut.
"Selamat pagi xiuxiu, sekarang adalah hari yang indah!" Luhan berkata sembari berjalan memasuki dapur untuk mengganti bajunya menjadi baju kerja.
"Oh Luhan! Kau terlambat 2 menit semenjak toko buka. Apa yang kau lakukan baby? Membantu bibi sam itu lagi?" sahut Xiumin.
"Begitulah. Lumayan sarapan pagi hehe" sahut Luhan sembari terkikik dan membantu Xiumin menata meja dan kursi.
"Kau bisa sarapan disini hannie" Xiumin berujar lembut.
"No no no, aku masih bisa bekerja dengan baik jadi jangan manjakan diriku ini." Sahut Luhan dan menoleh ke arah Xiumin yang sedang memperhatikannya dengan menampilkan cengiran lebar.
"Dasar gadis keras kepala" sahut Xiumin.
"Aku bukan seorang gadis juga."
"Ohya aku lupa bahwa setiap malam kau selalu di hetakkan dengan kasar oleh big baby mu." Timpal Xiumin.
"Dia punya nama xiuxiu." Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis.
"Pangeran berkuda putih?"
"Oh tuhan kau masih mengingatnya?!" Luhan buru-buru berlari kearah Xiumin dan membekap mulutnya dengan tatapan tidak percaya.
"Ya masih dengan jelas terekam di otakku, dua tahun lalu ada yang begitu mendambakan pangeran berkuda putih dan tepat di hari ulang tahunnya datang seseorang dengan mobil limited edition bewarna putih. Seolah menegaskan pada perempuan yang berangan-angan itu bahwa pangeran berkuda putih itu tidak ada karena kita bukan manusia yang hidup di zaman juseon." Xiumin bercerita sembari meletakkan kepalanya diatas meja dengan pipi yang mengembung, kalian tidak akan sadar bahwa umur Xiumin sudah masuk 30 tahun dengan wajahnya yang seperti gadis remaja berumur 18 tahunan.
"Itu memalukan untuk di ingat kembali xiuxiu" jawab luhan sembari menutup matanya.
"Tunggu, Luhan kau tau laki-laki yang selalu datang kesini mengenakan topi hitam kan?" Xiumin menegakkan tubuhnya kembali dan memasang wajah serius.
"Ya, aku tau ada apa?" sungggut Luhan.
"Kemarin dia tidak datang kesini dan kemarin kau juga tidak bekerja." Sahut seseorang yang keluar dari arah dapur.
"Oh, KIM SEOKJIN!" Luhan menatap tidak percaya pada koki andalan di café itu.
"Berhenti berteriak dengan suara cempreng mu itu baby Lu" sunggut Seokjin sembari duduk menghadap Luhan dan mengusap surai pink miliknya.
"Aku tidak menyangka kau kembali! Sudah selesai belajar di negeri paman same eoh?" sahut luhan.
"Sudah dari satu minggu yang lalu tapi baru datang ke café ini kemarin."
"Dia hanya belajar 3 bulan dan kembali dengan alasan bahwa dia lebih suka belajar ke paris untuk membuat dessert dan kue manis! Anak itu benar-benar" sunggut Xiumin
"Kau itu kasihan kakak mu."
"Kau juga lebih muda dariku Luhan jangan sok menceramahiku deh, nanti juga aku akan mengabdi di sini hehe" Seokjin terkekeh pelan dan menghadap kakaknya.
"Kau melewatkan pesta penyambutan nya Lu" xiumin berdiri dari tempatnya dan merapikan kembali bajunya yang kusut.
"Benarkah? Oh Kim aku merindukanmu" balas Luhan manja dengan mempoutkan bibirnya.
"Serius Luhan laki-laki itu kau tidak mengenalnya?" Xiumin di buat jengah karena pertanyaannya yang diabaikan oleh Luhan.
"Aku sedikit curiga dengan satu orang." Luhan mengusap dagunya mendramatisir.
"Apa? Siapa? Jangan bilang suruhan si nenek sihir itu?"
"Sepertinya. Dibandingkan itu aku lebih curiga dengan perempuan ceriwis yang datang dengan gaya berlebihan dan selalu memesan strawberry milkshake tapi menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk duduk dan selalu mencuri pandang kearah ku." Luhan memutar bola matanya malas saaat kembali mengingat perempuan kecentilan itu.
"Dia imut," sahut Seokjin.
"Ya benar dia imut dan mencurigakan, kemarin dia juga datang kemari tapi hanya sebentar dengan tampang bingung seperti mencari seseorang." Sunggut Luhan kembali.
"Sepertinya dia memang mencari dirimu Lu. Tunggu jangan-jangan dia fans fanatik atau seseorang dengan kelainan seksual dan menyukai dirimu." Seokjin mengacungkan jarinya ke atas seolah mendapatkan sebuah safaat.
"Yak! itu menjijikan." Luhan memukul kepala Seokjin dengan sendok besar yang dipegangnya.
"Sakit Xiao Lu!" Seokjin mengusap-usap kepalanya.
.
.
.
"Ma! Aku sudah bilang jangan jodohkan aku dengan perempuan pilihan mama! Aku punya perempuan yang akan ku nikahkan sediri nanti ma!" Sehun bersuara menentang mamanya yang mempunyai usulan di ruang keluarga.
"Perempuan itu? Maksud kamu Luhan?!" Jihyo berdiri dari duduknya dan menyalak memandang Sehun.
"Ya! Bahkan mama sudah mengenalnya dengan baik!" Sehun kesal. Itulah yang terlihat dari mukanya yang sudah merah dan urat lehernya yang menonjol memperlihatkan bahwa dia sedang menahan amarahnya.
"Dia tidak cocok bersanding dengan mu! Sadarlah nak kasta kita berbeda! Dia hanya perempuan panti yang tidak jelas asal-usulnya!" mamanya itu kembali duduk dengan berwibawa.
"Mama berkata seolah mama adalah penguasa. Apa-apaan itu!" Sehun adalah putra tunggal dari pasangan Oh Yunho dan Park Jihyo. keluarga ternama dari direktur salah satu perusahaan besar Korea yaitu Oh cooperation.
"SEHUN! Oke mama nyerah, begini saja. Sekarang kau bisa kenalan dan dekat dulu dengan dia dan jika kau siap kau akan melangsungkan pertunangan atau menunggu kau lulus kuliah baru akan mama atur pertunangan mu. Kau punya waktu untuk memutuskan perempuan itu." Jihyo mencoba bernegosiasi dengan anaknya dan dia tau cepat atau lambat anaknya akan menuruti semua kemauan dia karena kelemahan anaknya hanya satu. – kehilangan sesuatu yang berharga dari dirinya -
"Ini gila! Aku tidak akan pernah berpisah dengan Luhan! Tidak dengan mama, tidak juga dengan yang lainnya!" sungggut Sehun dan segera keluar dari ruangan itu.
"Anak itu," Jihyo mengelus dadanya pelan.
"Sudahlah yeobo. Dia sudah besar tidak sepatutnya kau seperti itu" sementara sang suami berusaha membuat tenang dengan mengelus punggung istrinya.
"Itu tidak benar! Perempuan itu tidak jelas asal-usulnya! Aku akan mengusahakan dia pergi dari anakku." Jihyo lagi-lagi tersulut emosinya hanya dengan mengingat perempuan yang di maksud – luhan -
"Aku mengerti perasaan mu. Lakukan lah selama kau tidak akan menyesal di kemudian hari." Merasa tidak akan menang melawan sang istri, Oh Yunho berdiri dari duduknya dan melenggang pergi.
.
.
.
"Luhan lihat! Perempuan itu datang kembali hari ini." Xiumin mearik pelan lengan baju Luhan dan membuat Luhan menoleh kearah yang di tunjuk.
"Oh itu dia, tunggu sampai dia masuk akan aku introgasi dia" sahut Luhan.
"Hati-hati aku punya firasat buruk tentang itu" Seokjin melirik dari arah kaca dapur.
"Tenang saja itu tidak mungkin, kurasa dia masih wanita normal yang menyukai batang pisang sepertimu Jin" sunggut Luhan.
Seokjin terkejut mendengar perkataan frontal Luhan karena demi dewa neptunus Luhan itu adalah gadis manis dan polos menurutnya.
"Selamat datang" sapa Luhan dengan senyum cerahnya.
"Eoh? Eonnie kau bekerja hari ini? Kemana kau kemarin?"
"Siapa kamu? Kenapa kamu penasaran sekali?"
"A-ah i-itu emm maksudku—''
"Duduk lah. Strawberry milkshake?"
"Y-ya eonnie"
Luhan kembali lagi ke meja kasir dan membuat pesanan gadis itu. Lalu tidak lama kemudian pesanan itu selesai dibuat dan dia memberikannya pada gadis itu.
"Ini pesanan mu cantik. Dan tolong sekarang jelaskan padaku apa maksudmu mengintaiku?" Luhan tanpa basa-basi duduk dan bertanya di hadapan gadis itu.
"Emm eon ini bukan saatnya kurasa. A-aku adalah fansmu ya fansmu" jawab gadis itu terbata.
"Sudah kuduga, jangan terlalu intens menyapa-''
"Luhan nenek sihir itu datang" bisik minseok menyela pekataan Luhan. Dengan reflex cepat luhan membalikkan badannya dan memicingkan mata melihat seorang ibu menghampiri café.
"Selamat datang,"sapa seorang pegawai lain.
"Dimana Luhan?" ibu itu bertanya dengan tegas dan mengedarkan mata keseluruh penjuru ruangan.
"Aku disini. Silahkan duduk eommonim" luhan bangkit dari duduknya dan menghampiri ibu tersebut.
Gadis yang tadi duduk bersama Luhan memicingkan mata melihat gelagat Luhan yang sepertinya takut kepada ibu tersebut, dengan rasa penasarannya gadis itu mencolek bahu Minseok.
"Permisi kak, itu siapa? Mengapa kau tadi menyebut dia nenek sihir?" tanyanya pelan.
"Dia itu ibu mertua Luhan atau lebih tepatnya ibu dari kekasih Luhan sekarang" jawab minseok dengan suara pelan.
"Lalu kenapa Luhan eonnie terlihat takut?"
"Kau akan melihatnya sebentar lagi." Minseok mengerling ke arah gadis itu.
.
.
"Kau sudah tau maksud kedatanganku Luhan. Jauhi Sehun" tanpa basa-basi Jihyo berkata seperti itu. Mendengar itu Luhan memutar bola matanya malas.
Lagi dan lagi dia tahu ini yang akan terjadi.
"Dan kau juga sudah tau jawaban ku eommonim, ah tidak nyonya Oh. Aku tidak akan menjauhi anakmu jika dia tidak memiliki kesalahan padaku." Luhan mencoba untuk terlihat tenang dengan santai dia memaku tangannya diatas meja tanpa ada rasa gusar ataupun gemetar yang membuat emosi Jihyo tersulut.
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika dia membuat kesalahan." Jihyo terlihat tenang dan balas menatap Luhan sengit.
"Tergantung seberapa besar kesalahannya nyonya." Luhan mengedikkan bahunya acuh.
"Aku akan menjodohkan anakku dengan anak temanku, seharusnya kau sadar diri Luhan selagi aku masih punya tata karma untuk tidak menamparmu." Jihyo kembali menegakkan tubuhnya membuatdia seperti berada diatas kasta Luhan.
"Lakukanlah jika itu membuatmu senang, aku tau anakmu sangat mencintaiku nyonya. Seharusnya kau sadar tidak ada yang bisa memisahkan kita." Luhan mencibir tepat dan telak ke hadapan Jihyo.
"Keterlaluan!" dengan emosi yang sudah memucak Jihyo mengayunkan tangannya kearah luhan-
PLAK
Dan menampar telak di pipi sehalus kapas itu. Membuat bekas merah terlihat.
"Sudah puas? Nyonya itu sungguh memalukan. Lakukanlah jika kau memang tau yang terbaik untuk anakmu, tapi jangan pernah kau membuatnya kehilangan jiwa raga. Karena kau tau? Aku memegang kendali separuh dari jiwanya." Luhan tersenyum sedangkan semua orang yang memperhatikan kejadian itu menganga sempurna bagaimana melihat seorang Luhan berontak dengan ibu dari kekasihnya itu. Gadis itu juga tidak kalah terkejut melihat bagaimana Luhan di tampar dengan sangat keras.
Jihyo lagi-lagi terbakar emosinya karena dirasa bahwa Luhan mempermainkan dirinya dan persaan cinta dari anaknya itu, dengan tangan yang sudah terayun kembali Luhan sudah menutup matanya tapi serangan itu tidak datang juga.
"Lepas!" Jihyo mencoba melepaskan tangannya dari seseorang yang menahan tangan dia yang sudah siap menampar Luhan.
"Itu memalukan nyonya Oh, aku terkejut" dengan perlahan orang itu melepas tangan Jihyo.
"Ka-kau?!" Jihyo membolakan matanya melihat seseorang yang menahan tangannya tadi.
"GEGE!" gadis itu segera menghampiri laki-laki dengan tuxedo hitam.
"Bee cepat pulang. Baba datang, oh selamat siang nyonya Oh kebetulan yang menarik melihat anda disini. Dan kau Luhan, ikut aku." Kata laki-laki itu tegas, Luhan yang membola melihat kejadian cepat itu. Bagaimana nyonya Oh terlihat takut dan tidak berkutik kembali saat ada orang itu dan ditambah lagi orang tersebut memanggil namanya.
"Permisi kau mengenalku?" Luhan bertanya sedangkan dia tetap mengikuti kemana orang itu berjalan.
"Sangat mengenalmu, Luhan dengarkan aku-'' laki-laki itu membalikkan badannya cepat membuat Luhan seketika berhenti dan menatap dengan mata rusanya.
"Luhan ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahumu tapi kau pegang ini. Datanglah ke alamat itu jika kau merasa sudah tidak bisa menahan semua cobaan dan ini'' laki-laki itu memberikan satu paper bag besar yang sedari tadi dibawanya.
"Apa ini?" luhan menerima itu dengan pancaran mata penasaran andalannya.
"Hadiah ulang tahunmu tahun ini. Pakailah jika memang sudah waktunya. Dan mungkin kita tidak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama. Selamat ulang tahun deer" laki-laki itu mengusak kepala Luhan pelan dan menampilkan senyum menawan andalannya lalu dia berjalan memasuki mobil hitam. Luhan hanya bisa melihat siluet itu dari jauh dan mendesah Lelah saat orang itu sudah memasuki mobilnya, merasa tidak paham apa yang dibicarakan oleh orang tersebut.
"Lulu eonnie selamat ulang tahun!"
Flashback
LUHAN POV
Aku mengingat dengan jelas saat masih berada di panti setiap minggu ada gadis kecil dan ayahnya yang selalu mengunjungiku. Disaat itu umurku baru delapan tahun dan itu tepat hari ulang tahunku, gadis kecil itu datang membawa kue strawberry yang lumayan besar. Semua orang di panti sangat senang dengan keberadaannya. Mereka semua akhirnya merayakan ulang tahunku bersama. Sungguh ini adalah ulang tahunku yang paling meriah. Gadis kecil itu membawakan banyak sekali hadiah untukku dan anak panti yang lainnya.
Dan saat hari sudah terlihat senja ayahnya membawa gadis kecil itu pulang. Saat itu juga dia berteriak padaku
"Lulu eonnie selamat ulang tahun" dengan binaran mata yang sangat indah dan senyuman yang secerah senja. Aku selalu mengingatnya, membayangkan betapa sangat bahagia dirinya saat mengucapkan hal itu.
Semenjak hari itu aku tidak pernah melihat dia lagi, aku selalu menunggu setiap hari minggu berharap dia akan datang dengan senyum manisnya dan tingkah lakunya yang bisa membuat semua orang terdekatnya menjadi bahagia. Aku selalu menunggu tapi dia tidak pernah muncul kembali.
Flashback end
'Apakah itu dia? Gadis kecil yang cerewet dengan senyum secerah senja dulu? Apakah aku akan bertemu dengannya kembali?'
.
.
.
.
.
.
TBC
Satu bulan? Huhuhuhu chapter tiga selesai. Sedih terharu aku tuh. . .
Sejujurnya aku kemaren down banget karena banyak cobaan real life doain author semoga cepet sembuh dan bisa up cerita baru lagi, karena sepertinya author akan men-update cerita yaoi hehe *eaa curhat*
Makasih buat review kalian, yang udah setia baca ff ini aku tuh seneng banget.
Di tunggu review selanjutnya. Ketjup mesra ^3^
Jangan lupa favorite dan follow
hey hey satu lagi nih, i have a group chat about exo shipper, do you wanna to join with us? yang ngerasa exo-l hard dan gak cuma jadi penyimak di grup let's join ^^ line me : robihatulazizah
See yaa next chapter fast update ~
