Hari itu hujan turun dengan lebat disertai angin yang berhembus kencang juga kilat dan suara petir. Wonwoo kadang terlonjak kaget ketika mendengar suara petir yang sepertinya berada tepat di atas gedung apartement yang ia tempati, ia bahkan bisa merasakan getarannya di ranjangnya. Wonwoo mencoba untuk tidur tapi pikirannya terus kemana-mana, matanya bahkan tidak lepas dari pintu kamarnya yang tertutup dan terkunci rapat itu. Hari itu Wonwoo ketakutan.
Ia sudah mengambil mp3, headphone juga ponselnya dan menaruhnya di bawah bantal takut-takut ia mendengar lagi pembicaraan yang seharusnya tidak di dengar itu. sebenarnya Wonwoo tidak menyangka bahwa Mingyu yang ia pikir baik ternyata seorang penjahat yang bahkan sedang dicari. Wonwoo ingin menelpon kantor polisi dan mengatakan bahwa penjahat yang mereka cari sekarang berada di apartementnya tapi ia urungkan niatnya karena menghubungi kantor polisi sama saja bunuh diri karena kondisinya sekarang benar-benar tidak memungkinkan.
Suara petir kembali terdengar dan Wonwoo lagi-lagi terlonjak kaget. Entah sudah keberapa kalinya ia terlonjak dan hampir berteriak sampai-sampai ia mengalami cegukan dan mau tidak mau keluar untuk mengambil minum. Ia sudah mencari cara agar ia tidak keluar dari kamarnya dan cegukannya cepat hilang tapi semua usahanya sia-sia dan Wonwoo benar-benar terpaksa keluar.
Wonwoo membuka pintunya perlahan dan mendapati ruang tamu sudah gelap itu tandanya Mingyu sudah masuk ke kamarnya. Wonwoo jalan dengan berjinjit mencegah suara apapun terdengar sampai ke kamar Mingyu. Wonwoo bahkan menahan nafasnya sepanjang perjalanan tanpa sadar dan akhirnya sampai ke dapur. Ia beruntung karena lampu dapur tidak pernah dimatikan. Wonwoo mengambil gelas, membuka kulkas dan menuangkan air dingin dengan sepelan mungkin. Ia meminum airnya dengan cepat dan menghela nafas lega ketika cegukannya berangsur-angsur hilang. Suara petir kembali terdengar diikuti suara berat Mingyu yang memanggil Wonwoo.
Wonwoo kontan berteriak dan tanpa sengaja menjatuhkan gelasnya.
"Ma-maafkan aku…" gumam Wonwoo sambil memunguti beling-beling gelas, Mingyu kontan ikut membantu dan mengambil sapu, Mingyu menyapu pecahan kaca yang tidak terlihat sedangkan Wonwoo memunguti pecahan kaca yang besar. Ia terlalu gugup hingga tidak sadar telapak tangan kirinya memegang erat pecahan kaca.
"Wonwoo apa yang kau lakukan? Tanganmu berdarah!" tegur Mingyu dengan nada khawatir dan langsung memperhatikan telapak tangan Wonwoo. Wonwoo blank dan hanya memperhatikan darahnya. Lama kelamaan rasa sakit mulai menjalar dan Wonwoo akhirnya meringis sambil memegangi pergelangan tangan kirinya.
"Tunggu sebentar aku akan mengambil obat dan perban." Kata Mingyu, Wonwoo merutuki dirinya yang begitu bodoh sampai-sampai sekarang ia harus bertatap muka dengan orang yang sedang tidak ingin dilihatnya itu.
Mingyu kembali dengan terburu-buru ketika Wonwoo tengah membuang pecahan kaca ke tempat sampah. Mingyu langsung menarik Wonwoo untuk duduk di kursi meja makan sedangkan dirinya berlutut. Sepertinya Mingyu terlalu tergesa-gesa hingga ia memilih berlutut di hadapan Wonwoo ketimbang duduk di kursi satunya.
Mingyu membuka kotak p3k dengan cepat dan mulai berkonsentrasi mengobati telapak tangan Wonwoo.
"Ng, biar aku sendiri saja Mingyu kau kembalilah tidur…" ujar Wonwoo berharap Mingyu pergi, tapi Mingyu hanya diam dan terus memperhatikan telapak tangan Wonwoo yang terus mengeluarkan darah, ia tengah mencari pecahan kaca yang mungkin masuk ke telapak tangan Wonwoo.
Wonwoo meringis ketika Mingyu mulai membersihkan lukanya dengan alcohol. Tangan Wonwoo gemetar karena takut, ia takut Mingyu menggigit tangannya yang tengah berdarah itu dan malah memakannya hidup-hidup, disini, sekarang. Mingyu malah mengira kalau Wonwoo merasa kesakitan dan meniup-niup lukanya untuk meredakan rasa sakit.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanya Mingyu, Wonwoo tersadar dari lamunan gilanya dan menatap Mingyu kaget.
"Hah? A-aku cegukan jadi aku mengambil minum…" jawabnya diikuti tawa garing. Mingyu hanya bergumam tidak jelas dan kembali berkonsentrasi.
"A-apa yang kau lakukan malam-malam begini Mingyu?" tanya Wonwoo balik, Mingyu mendongak dan buru-buru Wonwoo mengalihkan pandangannya.
"Aku seperti mendengar seseorang di dapur jadi aku keluar dan melihat apa yang sedang kau lakukan." Jawab Mingyu, Wonwoo hanya beroh dan masih mengalihkan pandangannya. Mingyu terus memperhatikan wajah Wonwoo dengan kening berkerut dan kemudian Mingyu menyentuh pipi kanan Wonwoo mengarahkannya untuk melihat ke arah Mingyu.
"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Mingyu tambah membuat Wonwoo panik. Wonwoo memutar otak dua kali lebih cepat.
"A-aku sedang melamun mendengarkan suara hujan…" jawabnya tegang, Mingyu hanya diam dan terus memperhatikan wajah Wonwoo sampai Wonwoo risih dan kembali mengalihkan perhatiannya.
"Kau mau pergi?" tanya Mingyu dan membuat Wonwoo mengerutkan alisnya menahan jawaban yang ada di otaknya. Iya Wonwoo ingin pergi jauh dari penjahat yang suka memakan manusia.
"Pe-pergi kemana? Hari ini sedang badai aku tidak mau sakit. Besok aku ada kuis" tanya Wonwoo balik berbohong.
"Mungkin pergi ke tempat temanmu yang berwajah wanita itu atau si mungil jutek itu, atau… ke kantor polisi mungkin." Jawab Mingyu membuat Wonwoo shock. Ia menahan tangannya yang masih di genggam Mingyu itu untuk tidak gemetar, akan sangat tidak lucu jika Mingyu tahu dirinya ketakutan.
"A-apa maksudmu?" tanya Wonwoo bertambah panik. Mingyu mengelus jari telunjuk Wonwoo yang kini sudah merah karena darah yang tadi di pegang Mingyu.
"Kau mendengarnyakan Jeon Wonwoo…" katanya seperti memberitahu, bukan dengan nada menebak atau bertanya. Wonwoo menggigit bagian dalam mulutnya.
"Apa?" tanya Wonwoo berpura-pura polos, Mingyu menyeringai dan memperlihatkan taringnya. Wonwoo terkesiap karena dalam sedetik Wonwoo berpikir bahwa Mingyu sangat tampan tadi tapi dirinya kembali sadar karena ini bukan saatnya memuji seorang penjahat.
"Kau mendengarnya atau tidak?" tanya Mingyu lagi sambil mengelus jari kelingking Wonwoo. Wonwoo mengerutkan keningnya menahan diri untuk tidak menghentakkan tangannya dan berlari.
"Aku tidak mendengar apapun, aku sakit dan tengah tertidur. Bahkan aku tidak tahu kalau Tzuyu datang, aku sedang tertidur sungguh!" jawab Wonwoo mantap. Tapi Wonwoo baru sadar, ia sejak tadi di kamar dan tidak melihat Tzuyu. Oh sepertinya Wonwoo kali ini keceplosan. Mingyu tersenyum.
"Kau mendengarnya ya…" kata Mingyu seperti bergumam. Wonwoo diam tubuhnya terasa dingin dan ia tidak bisa menahan gemetar tubuhnya.
"Kau gemetar Wonwoo, apa kau kedinginan?" tanya Mingyu setengah berbisik. Wonwoo menahan nafasnya ketika Mingyu menarik jari tengahnya ke mulutnya.
Our Secret by Bola Salju
Main Cast: Seventeen Mingyu +Jeonghan X Wonwoo
Other Cast:?
Genre: Drama, Romance, Psycho, Mystery, Hurt.
Rating: EhemM!
WARNING! Yaoi, Boys Love, Shounen-Ai, Obsessive, Possesive, BDSM, DeathChara, Rape, OOC, Typos.
ALERT! BAGI ANAK DIBAWAH UMUR DAN TIDAK KUAT IMAN SILAHKAN TINGGALKAN HALAMAN INI DENGAN DAMAI, AUTHOR TIDAK BERTANGGUNG JAWAB DENGAN SEGALA KEADAAN YANG MENIMPA KALIAN SETELAH MEMBACA FF INI!
A/N: Semua cast milik tuhan, keluarga juga agensi mereka, plot cerita milik author.
#Chapter 3
Jeonghan menghela nafasnya dan mengetuk-ngetukan pulpennya ke meja, mejanya terlihat berantakan penuh dengan kertas. Di hadapannya tertempel note-note yang benar-benar teliti dan tersusun rapih. Jeonghan menidurkan kepalanya di atas tumpukan kertas penuh coretan tangannya, wajahnya menghadap laptop yang tengah membuka sebuah situs.
Tangannya bergerak perlahan di atas mouse padnya, matanya tanpa berkedip membaca tiap barisnya. Setelah membaca seluruhnya Jeonghan mengembalikan situs itu ke homepage dan kembali mengetik sesuatu. Ia menegakkan tubuhnya kembali ketika membaca headline bercetak tebal di sebuah situs.
JACK THE RIPPER MODERN KEMBALI MENYERANG KOTA.
Jeonghan cepat mengklik situs tersebut dan mulai membaca artikelnya, sesekali ia menuliskan beberapa kalimat yang dipikirnya membantu. Di notenya tertulis kalimat yang sama bercetak tebalnya dan menjadi judul tulisan-tulisan yang ia tulis di bawahnya.
PENYELIDIKAN KEBENARAN JACK THE RIPPER.
Jeonghan terus berkonsentrasi menulis dan sesekali menyingkirkan rambut coklatnya yang tanpa ia sadar sudah memanjang. Jeonghan melemparkan pulpennya ke atas notenya dan menghela nafas. Ia melirik jam weker yang berada di sebelahnya yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Jeonghan mengulurkan tangannya ke dalam ranselnya dan mengeluarkan ponselnya. Lama ia memperhatikan ponselnya tapi berakhir dengan helaan nafas panjang dan Jeonghan kembali melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
Wonwoo merasa hidupnya benar-benar terancam. Di depannya Mingyu tengah menjilati dengan perlahan jari tengahnya yang sudah tercampur saliva Mingyu dan darahnya dari lukanya. Ia mencoba menarik tangannya tapi Mingyu menggenggamnya erat dan menekan lukanya hingga kembali berdarah.
"Mingyu apa yang kau lakukan?!" tanya Wonwoo setengah membentak. Ia sudah tidak tahan lagi ia harus pergi.
"Wonwoo apa kau tidak tahu ini adalah pertolongan pertama jika kau terluka, saliva bisa membunuh kuman dan mempercepat penyembuhan." Jawab Mingyu dan kembali menjilat bagian depan jari tengah Wonwoo.
"Jariku tidak terluka Kim Mingyu, aku harus tidur dan bangun pagi besok…" kata Wonwoo kembali menarik tangannya dan meringis ketika Mingyu dengan keras meremas tangan kirinya.
"Lukamu akan infeksi." Jawab Mingyu singkat dan mulai mencoba memasukkan jari tengah Wonwoo ke dalam mulutnya tapi dengan cepat Wonwoo menariknya tidak memperdulikan tangan kirinya yang mungkin saja lukanya tambah sobek dan mulai mendorong bahu Mingyu keras hingga Mingyu terjungkal lalu berlari ke luar. Ia sudah tidak perduli lagi dengan badai petir atau apapun itu. Yang paling penting adalah hidupnya sekarang.
Mingyu sengaja tidak langsung mengejar Wonwoo dan membiarkannya lari karena ia tahu kakinya ini panjang dan larinya sangat cepat melebihi Wonwoo. Baru saja Wonwoo sampai di ruang tamu Mingyu merangkul lehernya dan menyeretnya ke belakang, tepatnya ke kamarnya.
Wonwoo kontan berontak. Bagaimanapun juga Wonwoo adalah pria jadi tenaganya tentu kuat, berkali-kali ia mendorong Mingyu, memukul wajah dan perutnya dengan sikunya, menginjak kaki Mingyu keras hingga Wonwoo berhasil melepaskan rangkulan yang mulai mencekiknya. Mingyu yang membungkuk karena kakinya yang terinjak keras menarik kaki Wonwoo hingga ia terjatuh dengan dagu yang terantuk lantai. Wonwoo bahkan menggigit lidahnya hingga berdarah, tangan panjang Mingyu mulai menyeretnya ke kamarnya yang pintunya sudah terbuka lebar itu. Wonwoo dengan suara beratnya berteriak dan mencoba meraih apapun untuk menahan tarikan Mingyu, tapi Mingyu jauh lebih kuat sampai akhirnya ia sudah berada di dalam kamar Mingyu dengan pintu yang langsung dikunci sedang Wonwoo mulai meringsut menjauhi Mingyu.
Mingyu berdecih ketika masih merasakan nyut-nyutan di kakinya yang diinjak Wonwoo, Wonwoo memasang ancang-ancang untuk melawan jika Mingyu mencoba melukainya.
"Wonwoo apa kau sadar, darahmu terus menetes dan mengotori lantai…" kata Mingyu melihat darah dari tangan Wonwoo tidak berhenti menetes.
"Jika tidak cepat diobati kau akan kehabisan darah." Lanjutnya sambil mendekati Wonwoo.
"Aku bisa melakukannya sendiri, biarkan aku pergi!" jawab Wonwoo sambil mundur dengan posisi siap memukul.
"Sekarang sedang badai dan besok kau ada kuiskan…" timpal Mingyu mengikuti kata-kata Wonwoo tadi.
"Aku ingin pergi." Kata Wonwoo keras kepala. Mingyu berhenti mendekati Wonwoo dan menghela nafas.
"Sepertinya aku akan sibuk sekali." gumamnya, Wonwoo mengerutkan keningnya. Perasaannya mengatakan apapun yang dilakukan Mingyu bukanlah hal yang bagus.
"Baiklah aku menyerah, kau boleh pergi aku harus bangun pagi dan sekarang hujan sedang lebat itu artinya hari ini aku bisa tidur nyenyak. Pergilah." Ujar Mingyu berjalan ke arah ranjang berwarna hitamnya. Wonwoo terus mengikuti gerakan Mingyu dengan matanya. Tidak sekalipun ia melewatkan apa yang dilakukan Mingyu hingga akhirnya Mingyu benar-benar menarik selimut hitamnya dan memejamkan matanya. Wonwoo perlahan menjauhi Mingyu dan berbalik pergi tapi Mingyu ternyata berbohong dengan cepat ia membekap Wonwoo dari belakang dan bahkan langsung memasukan jari telunjuk dan jari tengahnya ke dalam mulut Wonwoo. Wonwoo yang berontak kontan tersedak dan kembali menginjak kaki Mingyu tapi Mingyu tidak lagi melepaskan bekapannya, ia malah menghimpit Wonwoo ke pintu sedangkan dua jari yang berada di dalam mulut Wonwoo mulai bermain dengan lidah Wonwoo. Wonwoo mengerang, ia takut sekaligus kehabisan nafas. Tapi gerakan berontaknya belum juga reda bahkan ketika Mingyu kembali menekan telapak tangan kirinya dan semakin membuka lebar sobekan di tangannya. Wonwoo tetap berontak.
"Apa tidurmu terlalu nyenyak tadi sampai-sampai kau tidak kehilangan energi satu pun," kata Mingyu entah mengejek atau memuji. Mingyu menekan tubuhnya ke Wonwoo semakin menjepitnya berusaha mengurangi gerakan yang dipikirannya benar-benar menyusahkan. Mingyu melirik ke bawah dan melihat begitu banyak darah yang dikeluarkan Wonwoo yang tengah sibuk meronta dan mengerang juga mencoba berteriak. Mingyu bahkan bisa mendengar nada marah dan kata-kata kasar yang tidak jelas karena terhalang jari Mingyu dilidahnya.
Mata Wonwoo melotot ketika dirasakannya tangan Mingyu mulai meremas benda yang berada di tengah-tengah kakinya. Wonwoo mengerutkan keningnya tidak suka ketika Mingyu memijat-mijat pelan miliknya.
Wonwoo menggigit keras kedua jari Mingyu, tapi Mingyu tidak perduli dan bahkan memasukkan tangannya ke dalam celana tidur Wonwoo lalu meremas keras miliknya hingga Wonwoo memekik. Ia tidak bisa menahan tangan Mingyu karena kedua tangannya yang terhimpit tubuhnya sendiri ditambah lagi Mingyu mulai menjilat dan mencium leher dan tengkuknya yang baru ia tahu kalau tempat itu benar-benar sensitif. Wonwoo meringis karena merasa kesakitan dan merasakan sensasi aneh karena tangan Mingyu.
"Kau mulai tenang…" bisik Mingyu dan mengigit telinga kiri Wonwoo. Kaki Wonwoo terasa lemas ketika Mingyu masih memijat-mijat miliknya yang masih berada dibalik celana dalamnya, dan perlahan Mingyu menyusupkan telapak tangannya ke dalam celana dalam Wonwoo dan mengeluarkan benda yang sudah menegang itu. Wonwoo mulai melemas dan tidak melawan ketika Mingyu mulai meremas-remas miliknya.
Nafas Wonwoo mulai berat, dan jari Mingyu kembali bermain dengan lidah Wonwoo sedangkan tangan satunya masih sibuk memanja milik Wonwoo. Mingyu terus meremas, memijat dan memaju mundurkan tangannya di milik Wonwoo hingga Wonwoo mencapai klimaksnya. Wonwoo bahkan merosot dan terduduk dengan Mingyu yang masih berada di belakangnya. Wonwoo mengeluarkan kedua jarinya dan memperhatikan telapak tangannya yang sudah kotor akibat cairan kental putih milik Wonwoo.
"Tadi itu sangat cepat Wonwoo…" goda Mingyu masih berbisik di telinga Wonwoo. Wonwoo hanya diam mengatur nafasnya, ia bahkan tidak sadar ketika Mingyu mulai mengangkatnya dan menggendongnya ke ranjang.
Wonwoo sadar ketika Mingyu mulai menciumnya dengan kasar dan menindihnya. Wonwoo kembali berontak tapi tidak seliar awal karena energinya serasa terkuras akibat dirinya datang tadi.
Wonwoo mencoba bernafas melalui hidungnya ketika Mingyu mulai sibuk bermain dan menjelajahi mulutnya. Dijilatnya dan digigitnya lidah Wonwoo hingga berdarah. Wonwoo mengerutkan keningnya dan memperhatikan Mingyu yang sepertinya terbuai dalam ciuman karena Mingyu sudah menutup matanya.
Mingyu mulai menyusupkan tangannya ke kaos Wonwoo dan mengelus nipple yang sudah menegang milik Wonwoo. Wonwoo kontan terkejut ketika Mingyu mulai mencubit kecil nipplenya dan menggigit bibir Mingyu keras. Mingyu melepaskan ciuman mereka dan menegakkan tubuhnya.
Nafas Wonwoo terengah-engah, diusapnya dengan kasar mulutnya yang sudah basah karena saliva dengan tangannya. Mingyu berdecak kesal karena Wonwoo membuat bibirnya berdarah. Wonwoo terkesiap ketika melihat Mingyu menjilat bibir bawahnya dan lagi-lagi Wonwoo berpikir kalau Mingyu terlihat sexy, ia bahkan lupa untuk melarikan diri dan malah diam di tempat dengan menahan nafasnya. Mingyu membuka kaosnya karena kamarnya yang mulai terasa panas, diam-diam Wonwoo kembali takjub dengan tubuh Mingyu yang rasanya lebih manly ketimbang dirinya itu.
Mingyu mengambil kesempatan ketika Wonwoo masih sibuk mengagumi tubuhnya dengan mengikat kedua tangannya di atas kepalanya dengan cepat dengan menggunakan kaosnya. Wonwoo terkejut, kenapa ia begitu mudah dialihkan perhatiannya dan kenapa Mingyu bisa sangat cepat melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan Wonwoo.
"Kim Mingyu, kau ini straight kan?! Oi pikirkan pacarmu! Kalau kau ingin memakanku lakukan dengan cepat! Kumohon!" pinta Wonwoo sangat panik ketika Mingyu membuka kaosnya hingga dada dan mulai mendekati wajahnya ke nipple kanan Wonwoo. Tubuh Wonwoo kembali tidak bisa diam ketika Mingyu tidak memperdulikan Wonwoo yang memohon ingin dihentikan dan lebih memilih menjilat, menghisap dan menggigit nipple Wonwoo. Tangan yang satunya mulai mencubit dan memelintir nipple satunya.
Wonwoo tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan melengkungkan tubuhnya karena merasa sensasi aneh yang mulai dirasakannya. Tubuh bagian bawahnya mulai panas dan kembali menegang hanya karena Mingyu bermain dengan nipplenya.
Wonwoo menggigit bibir bagian dalamnya menahan suara-suara aneh yang dikeluarkannya. Mingyu melirik wajah Wonwoo yang sudah memerah dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tersenyum dengan giginya yang masih menggigit nipple Wonwoo.
"AGH! Kkhh…" Wonwoo mengerang ketika tangan Mingyu yang tadi sibuk memilin nipple Wonwoo pindah dan meremas keras miliknya yang masih tertutup celana itu. Wonwoo bernafas lega ketika Mingyu menjauhkan wajahnya dari dada Wonwoo dan menegakkan tubuhnya. Tapi Wonwoo kembali panik ketika Mingyu turun dan membuka celananya hingga benda tegang miliknya terlihat jelas dan berdiri tegak di hadapan Mingyu.
"Kau sudah setegang ini Wonwoo, heeh ternyata kau menikmatinya…" goda Mingyu sambil menyentuh puncak penis Wonwoo.
"Hentikan Mingyu, aku ini seorang pria!" kata Wonwoo marah dengan nafas terengah-engah, Mingyu mengangkat kedua bahu dan mulai memasukkan penis Wonwoo ke dalam mulutnya. Wonwoo kembali berontak karena merasa aneh, Wonwoo bahkan bisa melihat bagaimana Mingyu menjilat penisnya dan kembali memasukkannya ke dalam mulutnya, sesekali Mingyu mengecup puncaknya dan menghisapnya. Wonwoo mencengkram erat kaos yang mengikat kedua tangannya dan menutup matanya erat-erat. Wajahnya memerah hingga ke telinga ketika mendengar suara-suara erotis yang dibuat Mingyu.
"Bibirmu akan berdarah Wonwoo, jangan terus menggigit bibirmu." Ujar Mingyu ketika melihat Wonwoo terus menggigit bibirnya. Pikiran Wonwoo sudah blank dan ia mulai membuka mulutnya mengeluarkan suara-suara yang mengundang bagi Mingyu itu.
Mingyu melirik Wonwoo yang terus mendesah dan mengerang tertahan di atasnya, dengan perlahan Mingyu mengangkat salah satu paha Wonwoo dan memperdalam kulumannya. Ia bahkan bermain dengan dua bola kembar Wonwoo dan menjilat juga menggigitnya kecil secara bergantian. Mingyu menutup matanya dan terus menghisap penis Wonwoo bahkan menelan cairan yang dikeluarkan Wonwoo dengan perlahan.
"Ohh jadi ini rasa milikmu Wonwoo…" ujar Mingyu membuat wajah Wonwoo semakin memerah. Wonwoo membuang muka dan baru menyadari sesuatu.
"Ka-kau menelannya?" tanya Wonwoo kaget, Mingyu menjilat bibir bawahnya dan menyeringai kembali memamerkan taringnya. Diam-diam Wonwoo bersyukur karena Mingyu tidak menggigit miliknya tadi. Ia bahkan lupa kalau Mingyu ini seorang penjahat berbahaya karena Wonwoo terlalu terbuai tadi.
"Tunggu sebentar…" gumam Mingyu dan bangkit menjauhi ranjang, Wonwoo memakai kesempatan ini dengan terus menggerakan tangannya mencoba melepaskan ikatannya dan kembali diam ketika Mingyu kembali naik ke ranjang dengan sebotol lotion.
"Aku tahu kau pasti perawan kan Wonwoo, aku sudah berbaik hati lihat." Wonwoo mengerutkan keningnya mendengar suara Mingyu yang terkesan senang dan bersemangat itu. Wonwoo baru tersadar ketika dirinya benar-benar terancam bahaya ketika Mingyu mulai menanggalkan celana Wonwoo dan membuka juga menekuk pahanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Wonwoo takut, Mingyu hanya diam matanya memperhatikan kondisi Wonwoo yang sepenuhnya berantakan, dan kemudian memperhatikan lubang sempit milik Wonwoo yang terlihat jelas. Mingyu menahan kaki Wonwoo yang mencoba menutup.
"Wonwoo, biar kuberi tahu satu hal untukmu. Apa kau tidak merasa bersyukur karena aku tidak membunuhmu? Seharusnya kau berterimakasih karena aku memilih melakukan hal ini daripada membunuhmu tadi…" ujar Mingyu dan membuka penutup lotion dengan mulutnya karena tangannya terlalu sibuk mencegah Wonwoo menutup kakinya.
Tanpa basa-basi Mingyu membasahi penis Wonwoo dengan lotion berjumlah banyak hingga mengalir sampai ke lubang sempit Wonwoo.
"Kau sudah gila Kim Mingyu." Kata Wonwoo mendesis. Mingyu tertawa dan mulai melakukan aksinya.
Mula-mula ia mengelus lubang sempit yang sudah basah oleh lotion itu dan kemudian memasukkan jari telunjuknya secara perlahan. Wonwoo memekik tertahan dan kembali mencengkram erat kaos Mingyu, Wonwoo merasa aneh dan ada sesuatu yang mengganjal dibawah sana hingga membuat tubuhnya menggeliat.
Mingyu mulai memaju mundurkan jari telunjuknya itu perlahan sambil memperhatikan wajah Wonwoo yang seperti menahan sakit. Terus begitu hingga ia kembali memasukkan jari tengahnya dan mulai memaju mundurkan lagi. Mingyu menaikkan alisnya ketika Wonwoo berhenti menggeliat dan mengerutkan keningnya.
"Sebaiknya kau ingat dimana letak titik nikmatmu Wonwoo, atau mungkin kau tidak perlu mengingatnya ya?" goda Mingyu dan mulai memaju mundurkan jarinya dengan cepat. Wonwoo kontan mendesah keras dengan suara beratnya itu. pikiran Wonwoo mulai benar-benar blank ia bahkan tidak malu mengeluarkan suara-suara aneh yang sejak tadi ditahannya dan bahkan salivanya sudah turun hingga membasahi bibir hingga ke leher, Mingyu kembali memperhatikan wajah Wonwoo yang sudah mulai kehilangan kendali itu dan mulai menggigit lutut Wonwoo karena saking gemasnya. Wonwoo terengah-engah dan penuh peluh ketika Mingyu mengeluarkan kedua jarinya. Wonwoo menghela nafas lega ketika benda aneh dan mengganjal tadi keluar dari tubuhnya.
"Nah, mari kita mulai acaranya." Ujar Mingyu dan mengeluarkan miliknya yang ternyata sudah mengeras dan menegang itu. Wonwoo terkejut tentu saja melihat ukurannya yang dua kali lebih besar dari miliknya itu.
"Itu…tidak akan muat…" gumam Wonwoo setengah berbisik.
"Apa yang kau katakan Wonwoo, dua jari saja tidak cukupkan?" Wonwoo hanya diam karena terlalu shock dan takut ketika Mingyu menyeringai lebar. Wonwoo menutup matanya rapat-rapat dan Mingyu mendekatkan wajahnya ke wajah Wonwoo. Mengecup bibirnya lembut.
"Wonwoo kau sudah siap?" bisik Mingyu pelan dan dijawab oleh gelengan kuat Wonwoo. Mingyu mendengus geli dan mulai memasukkan ujung miliknya ke lubang Wonwoo. Wonwoo mengerutkan keningnya tanpa membuka mata merasakan bagaimana sesuatu yang besar itu seolah menyobek bagian bawah dirinya itu.
"Ngh, Wonwoo rileks kau membuatku sulit masuk…" bisik Mingyu di atas bibir Wonwoo. Wonwoo tidak tahu caranya untuk tenang dan hanya menutup matanya. Tapi kemudian ia merasakan Mingyu menciumnya dengan lembut sangat lembut dan membuatnya sedikit tenang. Ia ingin semuanya cepat selesai. Wonwoo akhirnya membuat dirinya setenang mungkin ketika Mingyu melepaskan ciumannya dan memasukkan dirinya ke dalam Wonwoo. Wonwoo meringis dan tertohok ketika penis Mingyu benar-benar sudah masuk sempurna.
Mingyu tanpa menunggu langsung bergerak cepat dan mengabaikan teriakan kesakitan Wonwoo. Wonwoo bahkan meneteskan air mata ketika Mingyu secara tiba-tiba menggerakan pinggulnya dengan brutal. Wonwoo merasakan darah mengalir dari lubangnya dan perutnya seperti penuh. Ia merasa sakit, di tangannya dan dibagian bawahnya.
"Ming…Ming..gyu…berhent…i…" ringis Wonwoo setengah terisak, Mingyu terus menggerakan pinggulnya dengan kedua matanya yang tertutup. Ia sudah tidak tahan karena lubang Wonwoo yang seperti memijat-mijat miliknya itu, ditambah Wonwoo yang kesakitan membuat lubangnya semakin mengetat. Wonwoo akhirnya hanya terus mengerang dan mendesah juga meminta Mingyu untuk berhenti sampai Mingyu akhirnya mengeluarkan semennya untuk pertama kali. Wonwoo pikir semuanya akan selesai karena Wonwoo sudah menutup matanya tapi ternyata belum. Mingyu mengangkat tubuh Wonwoo hingga ia berada dipangkuannya dengan berhadap-hadapan, dan kembali bergerak namun secara perlahan. Wonwoo sudah tidak merasakan sakit lagi karena semen Mingyu yang berada di dalam lubangnya.
Mingyu mengangkat kedua tangan terikat Wonwoo untuk memeluk lehernya dengan pinggulnya yang masih bergerak. Mingyu memeluk Wonwoo erat dan menggigit bahunya keras. Tubuh Wonwoo menegang ketika Mingyu mulai menemukan titik nikmatnya dan terus menerus menghantamnya. Wonwoo terus menerus mendesah di telinga Mingyu membuat libidonya semakin meningkat dan kembali menggerakan tubuhnya dengan keras hingga Wonwoo akhirnya klimaks dan tubuhnya langsung melemas.
Mingyu menghentikan pinggulnya merasakan sensasi penisnya yang terasa dipijat-pijat itu, dan menjilat telinga Wonwoo.
"Hey Wonwoo, aku harap teman mungilmu kembali meminta ijin pada dosenmu karena kau tidak masuk besok…" bisik Mingyu, Wonwoo hanya terengah-engah dengan mata tertutup. Ia mendengar Mingyu berbicara tapi ia tidak mengerti dan tidak menjawab.
Mungkin malam itu adalah malam dimana kehidupan Wonwoo benar-benar berubah, mungkin Wonwoo lebih suka dirinya terbunuh daripada melakukan hal terlarang dengan roommatenya. Karena malam itu Mingyu terus membuatnya datang dan membuat tubuhnya benar-benar lemas sampai badai reda dan matahari mulai terbit.
To Be Countinue.
APA INI?! AHHHH, terkesan terburu-buru dan kurang hot ngghh-_- maklum belum pengalaman T.T ff nc pertamaku ya ampun T.T maafkan aku#sujud# semoga saja yang berikutnya lebih dari ini aminn(?) yoshh sampai jumpa di chap selanjutnya '-')/
