Sinar matahari mengintip dengan malu-malu dibalik gorden tipis, cahaya kecilnya melirik kecil dua pemuda yang tengah tidur sambil berpelukan dalam kamar itu. Tepatnya hanya seorang pemuda yang tengah tertidur, Sasuke memandang wajah tidur Naruto dengan lembut. Wajah manis nan polosnya mampu membuat hati sedingin es milik Sasuke mencair perlahan, mengetuk dengan lembut, masuk kedalam ingatan, menjadikan vampire muda ini bagaikan hidup. Tidak disesalinya masalah kaburnya ia dari kerajaan. Jemari putihnya sibuk mengelus surai pirang lembut milik Naruto, tersenyum kecil saat dirasanya Naruto akan bangun.

Kelopak tan itu mengerjap pelan, bulu mata lentiknya menari dengan lincah, mengulet pelan lalu memandang sosok didepannya dengan bingung. Mengumpulkan kesadaran sejenak kemudian tersenyum manis, menuai balasan senyum dari sosok tampan dihadapannya. Sasuke kemudian mencium lembut kening Naruto, rona tipis menari dikedua belah pipi tan milik Naruto.

"Selamat pagi Sasuke"

"Hn, selamat pagi juga Naruto"

Salam sederhana namun mempunyai banyak makna, salam yang biasa terdengar basi kini terasa manis ditelinga Sasuke.

"Masih terasa sakit?" Tanya Sasuke cemas, saat dilihatnya Naruto meringis pelan.

"Shh, tidak apa-apa 'suke. Bukan salahmu, jangan merasa –aww"

"Naruto!"

"Huwee, sakit 'suke.. " Pertahanannya hancur sudah, dipeluknya tubuh tegap Sasuke.

"Shh, maafkan aku. Mungkin aku sedikit keterlaluan tadi malam."

"Sedikit?! Itu SANGAT keterlaluan teme!"

"Hei, siapa juga yang meminta lebih" Seringai licik terkembang tak kala dilihatnya Naruto terdiam dengan wajah memerah. Dengan pelan dinaikinya tempat tidur. Tangan besarnya menggenggam dengan erat tangan mungil Naruto, dikecupnya tangan yang terkasih. Menyalurkan rasa hangat dalam tubuh Naruto, meredakan amarah dengan seketika.

"Maafkan aku, tak akan kuulangi lagi. Mau memaafkanku?" Tanya Sasuke lembut.

"Umm, baiklah." Jawaban terlontar dengan nada malu-malu didalamnya.

"Istirahatlah, akan kubuatkan kau makanan."

"Hu-um"

Sesaat setelah Sasuke pergi, Naruto pun kembali masuk kedalam selimut. Sekalian tidur kembali, hehehe.

"Jadi, Naruto bersama bocah Uchiha itu"

"Benar Kushina sama"

"Hm, kau boleh pergi"

"Saya permisi Minato sama, Kushina sama"

"Ini keterlaluan Minato, bagaimana bisa ia kabur lalu tinggal bersama vampire sialan itu?! Ini tidak bisa dibiarkan!" Teriak Kushina marah.

"Bagaimana jika ia bekerjasama dengan klan Uchiha? Bagaimana jika ia membelot dari kita? Bagaimana jika-"

"Diamlah kushina! Sebelum matahari tenggelam, akan kupastikan anak pengkhianat itu mati!" Ucap Minato dingin.

"Kau sudah dengar semuanya. Segera laksanakan tugasmu, Neji"

"Baik Minato sama."

Perintah telah terucap, sebentar lagi. Tinggal beberapa jam lagi, langit mulai menunjukkan tanda-tanda akan menangis. Angin berhembus kencang, ranting-ranting saling bergesekan. Seakan memberitahu bahaya yang akan datang.

Perasaan Sasuke semakin memburuk ditambah dengan cuaca yang ikut memburuk, entah kenapa ia sangat takut sekarang. Tapi, takut akan apa? Oh ayolah, ia adalah vampire murni yang terkenal sangat kuat diantara kalangan vampire murni lainnya. Namun ini? Ia seperti tak ingin meninggalkan Naruto barang sedetik pun, dengan perasaan campur aduk Sasuke tetap menyuapi Naruto makan.

'Kami-sama, apa yang terjadi? Semoga bukan sesuatu yang buruk.' Doa Sasuke dalam hati, ia benar-benar merasa sangat ketakutan. Ditatapnya wajah ceria Naruto yang saat ini ada dipangkuannya setelah Naruto menghabiskan semangkuk penuh bubur ayam.

'Aku akan melindungimu Naruto. Selamanya.'

--

Sesosok tubuh tegap berdiri jauh dikedalaman hutan. Ia menghela napas, mengeluarkan kabut tipis putih ditambah kilauan dingin dari sepasang mata lavendernya.

"Ketua. Kami menemukannya." Neji melirik sekilas kearah anak buahnya yang bernama Lee.

"Bersiaplah. Awasi terus, celah sekecil apapun. Kita harus menangkap kembali pengkhianat itu." Desis Neji tajam. Lee mengangguk singkat, kemudian memberi tanda pada yang lain untuk berpencar. Mereka adalah pemburu dari bawah, mereka terbiasa bergerak cepat dan pelan. Hal mudah bagi mereka untuk menyamarkan aura dan keberadaan diri.

Aku akan memburumu.

Menemukanmu.

Membunuhmu.

Menghisapmu sampai habis tak tersisa.Pengkhianat!

I'm Here For You

Chapter 3

Disclaimer Masashi Kishimoto

Genre : angst/romance/dll

Rate : T

Pair : SasuNaru

Warning : yaoi, gaje, typo(s), dll

Don't Like Don't Read!

Enjoying

Summary : TIDAKKK! NARUTOO!/ah, Sasuke?/ Aniki, aku butuh bantuanmu.

Jeritan, tangisan, lolongan membelah langit malam. Malam yang tenang berubah bagaikan neraka.

Ia terpisah. Talinya putus. Kenapa begini Kami-sama. Kenapa kau tega merenggut kebahagiaanku?

"SASUKEE!!"

"NARUTO!!"

Ia terluka, terbekap, dipanggul kemudian dipukul. Dibenturkan dengan batang pohon, dijedukkan dengan batu besar. Para pemburu berhasil menangkapnya. Sasuke...

Binatang saling menjerit, mengguncang hutan dan sungai. Ia dijatuhkan diatas dedaunan kemudian ditindih. Kakinya diinjak keras, tangannya ditimpa batu besar, tubuhnya ditutupi daun dan ranting kering. Suasana menjadi hening.

Sasuke berlari kencang. Sial! Dia pangeran Agung klan Uchiha! Bagaimana ia bisa kecolongan? Bagaimana bisa mereka membawa kabur kekasihnya secepat itu??

Srak!!

Terengah, Sasuke menatap sekitar. Bagaimana? Bagaimana ia tidak merasakan hawa keberadaan siapapun? Kenapa?

Syutt.. Jleb

"Arghh" Sasuke jatuh berlutut, perutnya tertancap sebuah belati pendek. Nafasnya semakin terengah.

"Cih. Pangeran dari klan Uchiha sangat lemah ternyata." Ejek sebuah suara dari balik pohon. Neji menunjukkan dirinya sambil tersenyum mencemooh. Mata lavendernya menatap pemandangan ironis.

"Ckckck, pangeran terhormat ini rela berlutut demi seorang jalang?"

"JAGA UCAPANMU SIALAN! SIAPA YANG KAU SEBUT JALANG?!" Teriak Sasuke murka, tidak ia perdulikan rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya. Sasuke duga belati itu telah dilumuri racun.

"Menyedihkan. Kau sebut pengkhianat itu kekasihmu?"

Suasana hening. Tubuh Sasuke mulai oleng, keringat dingin mulai bermunculan.

"Uhuk.." Ia memuntahkan darah cukup banyak. Neji memandang Sasuke datar.

"Lee, bawa tubuh pengkhianat itu kedepanku. Kita akan membiarkannya mengucapkan selamat tinggal pada kekasih menyedihkannya."

Lee menggeret tubuh Naruti yang tak berdaya. Tangannya hancur dan terlihat gepeng karena tertimpa beban berat, kakinya tak terbentuk karena terus diinjak, kepalanya berdarah dan robek, wajahnya bahkan sudah tak terlihat bagaimana manisnya ia, tubuhnya mengeluarkan darah karena luka memanjang sepanjang dada dan punggung.

Deg.. Sasuke menatap nanar tubuh kekasihnya. Tidak.. Tidak!!

Brukk.. Tubuh Naruto terlempar, berada dalam jarak saru meter dari Sasuke.

"Sa.. Sasuke.." Suaranya bahkan sudah selembut angin, hampir tak terdengar dengan air mata yang terus mengalir.

Para pemburu mengelilingi mereka, Neji bahkan membiarkan mereka untuk sementara.

"Naruto.." Sasuke menangis. Untuk pertama kalinya, walau hanya meneteskan satu sampai dua airmata.

"Maaf. Sayonara ne teme." Sekuat tenaga Naruto mengembangkan senyum manis untuk terakhir kalinya.

Tubuh Sasuke terseret kebelakang dengan kuat. Ia meronta, berteriak, mengais ditanah. Ia ingin memeluk tubuh kekasihnya, kekasih kecilnya. Pasangan hidup matinya.

"LEPASKAN AKU! NARUTO!"

Naruto tersenyum getir. Rambutnya dijambak kuat, ia melirik keatas. Menatap mata sedingin es milik tangan kanan ayahnya. Ah, akhir yang terlalu singkat ya? Setidaknya ia bahagia, ia bisa merasakan kebahagiaan diluar untuk pertama kalinya, jadi ia tidak akan menyesal.

"Arigatou, gomen, sayonara ne teme." Guman Naruto untuk terakhir kalinya. Dan jleb..

Sebuah belati tipis dan panjang menancap tepat didahinya.

"Tidak.. TIDAK! TIDAK! TIDAAKKK!!! NARUTO!!!"

Raungan iblis terdengar keseluruh hutan. Binatang binatang ikut meraung. Menangis, mengumpat, marah. Penderitaan berbayang binar cerah sang pemilik iris sapphire.

Para demon berlutut sedih, tertekan akan rasa putus asa tuan mereka. Itachi menatap cemas dibalik jendela besar. Dibelakangnya Fugaku aka tousan dan Mikoto aka kaasan ikut saling berpandangan janggal. Hati setiap makhluk kegelapan bagai teriris, ikut merasakan derita. Mereka merasakan amarah luar biasa membungkus udara, putus asa dan kehilangan. Frustasi berkepanjangan. Rasa itu berakhir menjelang tengah malam, walau masih meninggalkan jejak tapi tidak sehebat awal.

Neji terengah, ia berhasil kabur. Kesal, ia memcengkram sebelah tangannya yang terkoyak. Putus hingga bahu. Sial! Ia tidak tau kalau Sasuke adalah kandidat Raja Kegelapan di permukaan yang akan datang. Ia hanya bisa berharap anak buahnya berhasil menyelamatkan diri. Keadaan kacau balau begitu Sasuke memanggil nama Naruto, ia seakan lepas kendali. Langsung membunuh dua anak buah yang menariknya dan menyerang mereka. Sekuat dan seterlatih apapun mereka, kalau dihadapkan Calon Raja Vampir yang lepas kendali, mereka pasti musnah.

Bergetar, Neji menekan sebuah tombol di ikat pinggangnya. Memanggil sisa anak buahnya yang selamat untuk kembali, mereka harus mundur. Keadaan pasti tidak akan sama lagi. Klan Uchiha akan menyerang.

Sasuke benar-benar hilang kendali. Ia menyerang siapapun, meraungkan suara keras. Para binatang ikut meramaikan suasana

Makhluk-makhluk aneh bermunculan dari balik bayang-bayang, memenuhi panggilan tuan mereka. Mata dengan lima koma berputar, berpendar merah bak iblis, sebuah tato bersulur ular membuka mulutnya muncul. Dari tangan kanan hingga lehernya, menampilkan tanda seorang Raja diantara gigi taring. Simbol Uchiha berpendar terang ditelapak tangan kiri. Ia mengamuk. Sangat hebat.

Para pemburu itu saling berpencar, menambah murka Sasuke. Sasuke berjalan pelan, tanah dibawahnya retak akibat tekanan murka dari Sasuke. Ia terus melemparkan tatapan kejam dan sadis kepada mereka yang berhasil anak buahnya tangkap dan siksa. Hari menunjukkan tengah malam. Sudah lebuh dari lima jam berlalu kalau begitu.

Dug..

Tekanan rasa murka sedikit menurun, meninggalkan rasa putus asa dan frustasi. Sasuke berlutut saat kakinya tak sengaja menyenggol tubuh kekasihnya. Tangan pucatnya bergetar, memeluk hati-hati tubuh dingin Naruto.

"Na-naru.. Hei dobe, sayangku. Kenapa kau masih tidur disini huh? Dingin? Aku akan menghangatkanmu oke?"

Para makhluk aneh itu mengerti, mereka segera kembali kedalam bayangan dan tempat gelap sambil menarik mangsa mereka ikut bersama mereka. Membiarkan tuan mereka bersama mayat kekasihnya. Para raksasa entah muncul dari mana berjaga disekitar, memastikan tidak ada para pemburu lain yang mendekat disaat kondisi tuan mereka tengah rapuh.

Sasuke menangis, tidak perduli tangisannya akan didengar atau tidak. Ia menangis, gagal melindungi kekasihnya. Gagal melindungi pasangan hidupnya. Apa guna titel pangeran Agung dan calon Raja Kegelapan jika ia tidak bisa melindungi orang yang paling dikasihi? Mereka hanya mempunyai satu pasangan seumur hidupnya, dan akan begitu selamanya.

Ia berteriak, memanggil nama Naruto berulang kali hingga suaranya serak. Ia tidak ingin berharap muluk-muluk. Biarkan ia lampiaskan saja, untuk ini. Biarkan.

"Mi-minato sama." Minato dan Kushina tersentak kaget.

"Astaga, Neji! Apa yang terjadi padamu?" Kushina memandang ngeri keadaan Neji.

"Maafkan saya Kushina-sama. Minata-sama, kami berhasil membereskan pengkhianat itu."

"Berapa?" Minato memandang datar. Neji melirik dendam anak buahnya yang tersisa tiga orang.

"Tujuh dari mereka tidak ada kabar. Dua dari mereka terbunuh. Tinggal sisa kami berempat." Jelas Neji sambil mengepalkan tangan.

"Kerja bagus, pergilah ke Tsunade. Kau bisa beristirahat. Sasori! Panggil semua anak buahmu, kita akan berperang!"

--

Suara dentum langkah kaki membuat Itachi terpogoh menuju depan gerbang istana. Para pengawal yang melihat segera membuka gerbang. Tiga raksasa tengah berlutut didepannya, diatas tangan raksasa yang paling depan terdapat adiknya yang terduduk lunglai sambil memeluk seseorang.

"Sasuke." Sasuke mendongakkan kepalanya kemudian memperbaiki gendongan Naruto di lengannya. Naruto telah ia bersihkan, ia obati, kemudian dipakaikan pakaian bagus. Wajahnya terlihat damai dengan senyum kecil dibibirnya, terlihat indah. Begitu Sasuke meloncat turun, kaasan dan tousannya telah berdiri di samping Itachi.

Pelan, Sasuke melangkah menuju mereka. Raut wajahnya kosong. Mikoto yang tidak tahan lagi segera maju, memeluk anak bungsunya erat.

"Tidak apa-apa Sasuke, kaasan disini."

"Dia cantikkan kaasan. Namanya Naruto." Mikoto melepaskan pelukannya kemudian memandang sosok yang dipeluk anaknya.

"Ya, ia terlihat sangat baik dan lembut." Sekuat tenaga Mikoto menahan isak tangisnya, melihat anak bungsunya kembali memeteskan air mata. Fugaku dan Itachi segera bergabung. Fugaku memeluk Mikoto erat, Itachi mengelus surai kepala Naruto lembut. Tidak tahan, Sasuke segera jatuh berlutut. Menuai teriakan tertahan tidak percaya dari mereka yang berada disana.

"Kaasan, tousan, aniki..." Sasuke sedikit mencium kening Naruto lembut sambil terisak. "Tolong.. Kumohon.." Ucapnya lirih dengan suara tercekat. Fugaku menjentikkan jarinya.

Bendera perang dikibarkan, Panji-panji klan Uchiha dengan lambang gagak bermata merah dikirim keberbagai raja kegelapan yang berada dibawah kekuasaannya. Mereka akan berperang, dengan bangsa bawah permukaan. Pintu neraka terbuka, Fallen Angel dan Hades berdiri berdampingan, menyatakan kesediaan dalam membantu. Calon permaisuri sang calon Raja Kegelapan berikutnya terbunuh di tangan keluarga sang permaisuri itu sendiri. Mereka memang makhluk kegelapan, hina dan menjijikkan. Tapi mereka tidak sekejam itu untuk membunuh anggota mereka sendiri.

Tiga hari setelah hari ini, bangsa bawah permukaan akan lenyap tak bersisa.

End of Chapter 3

Anjayyyyy!! /nangis dipojokan.

Gue yang buat, we juga yang nangis kejer (﹏) Gomen lamaaaa, baru nongol lagi idenya.

Balas repiuw

novapujiastuti600 : Iyess, ini lanjut kok.. Thanks for comment

Guest : Hem, ada yang nyulik. Tapi bukan Sasuke. Sasuke kebetulan yang nemuin Naruto kemudian dibawa kerumahnya. Well, ini dulu aku buat dari puisi sih. Jadi agak bingungin ya? :"

Yep, segitu aja Soalnya repiuw yang laen kan uda lama wkwk sorry..

Mind to rnr?