.

Alles is Liefde

[Semua Adalah Cinta]

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

For Accacia Li's Late Bday Present

.

It is all about humanity, love and medisch.

.

"Aku sudah mengurus administrasi seluruh pasien yang tunjangannya sudah habis. Sekarang, biarkan mereka kembali dirawat di rumah sakit ini." Ujar Ino lantang.

Sasuke menatap tajam akua Ino yang menantangnya, penuh emosi.

"Kau tidak perlu melakukan semua itu. Sudah kubilang, mereka yang tunjangannya sudah habis tetap harus keluar dari rumah sakit ini."

"Kau—ck! Mereka masih membutuhkan perawatan. Kau pikir bagaimana mereka akan sembuh jika kau usir mereka dari sini?!" Ino kesal.

Sasuke menghela napas, "itu urusan mereka. Bukan urusanku."

"Apa?!"

"Pergilah dari ruanganku! Aku muak melihatmu!" Usir Sasuke.

Jika saja Sasuke bukan pimpinannya, Ino sudah akan meninju rahang Sasuke hingga remuk.

"Kheh, baiklah kalau itu maumu. Memang benar hati dan akal sehatmu sudah hilang ditelan bumi. Kau tidak ubahnya kulkas berjalan, dokter Uchiha. Permisi." Ino berlalu meninggalkan Sasuke di ruangannya dengan segudang pemikiran megenai perempuan yang berani menghardik pimpinannya tersebut.

.

Beberapa hari berlalu, perang dingin antara Ino dan Sasuke masih berlangsung. Gadis pirang itu tidak habis pikir dengan pimpinannya satu itu. Baru kali ini ia menemukan Uchiha berhati sekeras batu. Ia menghela napas, kembali menekuri beberapa berkas penelitian yang harus dia selesaikan dalam waktu dekat di ruangannya. Selang berapa lama, seseorang mengetuk pintu ruangannya. Ino mempersilahkan masuk seseorang di balik pintu dan kepala crimson Karin menyembul dibaliknya.

"Hi there!" Sapa Karin ceria, "aku penasaran, kenapa beberapa hari ini kau terlihat tidak bersemangat. Apa masalah apakah?"

Ino tersenyum simpul, "nothing really. Hanya beberapa perawat di departemenku dipindah tugaskan tanpa pemberitahuan dan persetujuanku. Aku jadi kesal." Karin menghela napas.

"Kau pikir aku mengenalmu sehari-dua hari? Ayolah, aku yakin otakmu itu memikirkan sesuatu yang rumit. Karena masalah pemindahan tugas perawat adalah hal yang wajar di sini."

"Well—"

Ino menceritakan apa yang terjadi dengannya dan Sasuke pada Karin tempo hari. Mendengar hal tersebut, Karin menggeleng.

"Ino ... Kau gila." Ino memutar bola matanya, "aku tidak menyangka kau berani seperti itu pada pimpinan kita."

"Kita ini dokter, Karin. Menyelamatkan nyawa seseorang bagaimana pun caranya adalah tugas kita."

Nona Uzumaki itu mengangkat kedua bahunya, tahu bahwa sobat pirangnya itu keras kepala dan apapun yang dikatakannya adalah percuma. Alhasil Karin memilih mengalah. "Baiklah kalau begitu, lagipula aku tidak dapat berkomentar apapun."

"Dank u sudah mau mengerti, Karin." Karin tersenyum.

Tak lama, derap langkah menuju ke ruangan Ino terdengar. Tiba-tiba Tenten muncul di balik pintu, sembari terengah.

"Seluruh kepala departemen bedah, hematologi, anestesi beserta anggota dimohon untuk berkumpul di auditorium rapat sekarang juga!" Ujar Tenten yang kemudian bergegas berlari tanpa menunggu jawaban kedua rekannya.

Ino dan Karin berpandangan. Perasaan Ino mendadak tidak enak.

.

Ino selaku kepala departemen bedah hati dan pankreas tercengang mendengar penuturan pemimpin rapat sekaligus manager rumah sakit, yakni Sai Uchiha.

"Selaku kepala departemen hematologi sekaligus manager rumah sakit, saya mengambil tindakan tegas untuk dokter Ino agar tidak mencampuri manajemen dan segala prosedur rumah sakit. Termasuk menangani administrasi pasien tunjangan pemerintah beberapa waktu lalu." Ucap Sai tenang sembari tersenyum.

"Ap—" Baru saja Ino hendak menyela, Sai kembali menyuara.

"Anda pikir sebagai kepala departemen, anda dapat bertindak sesuai keinginan anda? Tentu tidak. Untuk itu kami, mengambil tindakan tegas. Jika anda melakukan kesalahan lagi, saya tidak akan tinggal diam."

Ino tak dapat berkutik, ia shock.

"Dan satu hal yang perlu anda semua tahu." Lanjut Sai, "pimpinan rumah sakit bukanlah pembuat segala peraturan di sini, melainkan manager. Manager berhak menindaklanjuti siapapun yang berani melanggar peraturan rumah sakit."

Iris kelam Sai bergulir ke arah kakak kandungnya, Sasuke yang juga tengah menatap tajam dirinya di mimbar rapat. Sai melayangkan senyuman misteriusnya yang dibalas decihan Sasuke.

Rapat kilat itu berakhir dengan ancaman secara tidak langsung oleh Sai yang sukses membuat Ino berjalan gontai menuju ruangannya.

Di ruangannya, ia hanya dapat menangis. Ia tak terima kewajibannya sebagai dokter yang didukung dengan keinginan dari hati nuraninya untuk menolong sesama justru hancur begitu saja oleh manajemen dan prosedur rumah sakit.

Sementara itu, kakak-beradik Uchiha yang masih berada di auditorium rapat saling emosi. Keduanya sama-sama menabuh genderang perang.

"Kepentingan sesama katamu? Kheh. Bagiku kepentingan perusahaan lebih penting. Dengan semua hal yang kulakukan untuk perusahaan, aku akan membuat perusahaan ini jauh lebih baik darimu dan menjadi pemimpinnya." Ujar Sai dengan nada menantang.

Sasuke geram, "tidak usah bermimpi, adik kecil. Sudah jelas ayah mengangkatku sebagai pemimpin perusahaan cabang ini. Ambisimu hanya akan membuatmu menyesal di lain waktu."

Sai terkekeh, "Lihat nanti siapa yang akan berkuasa. Aku atau kau?" Ia pun berlalu meninggalkan auditorium.

Sasuke menghela napas usai berbicara dengan adik bungsunya. "Anak itu yang justru tidak punya hati nurani dan akal sehat. Bukan aku, Ino." Gumamnya.

.

Sebuah ketukan terdengar di balik pintu ruangan dokter Ino.

"Karin, Tenten, sudah kubilang kembalilah ke ruangan kalian! Aku sedang tidak mau bercerita apapun!" Teriak Ino. Namun ketukan itu masih terdengar, bahkan makin nyaring.

"Karin, Tenten, kubilang cukup!" Ino beranjak dari kursinya menuju pintu dan segera membukanya. Berharap seseorang di baliknya tidak lagi mengganggunya. Nyatanya seseorang di balik pintu tersebut bukanlah kedua rekannya yang sedari tadi nongkrong di depan pintu yang berusaha menenangkan Ino, namun pimpinannya.

"Bolehkah aku masuk?" Tanya Sasuke.

Ino memersilahkan Sasuke masuk ke ruangannya. Dokter bedah syaraf itu mendudukan diri di sofa ruangan Ino.

"Ada perlu apa kau datang kemari?" Ino straight forward, mencoba untuk berbicara sedatar mungkin agar Sasue tidak mengetahui bahwa ia habis menangis.

"Sasuke."

"Hah?"

"Panggil aku Sasuke. Bukan 'kau' ataupun 'pimpinan' karena aku punya nama." Ujar Sasuke.

Ino memutar bola matanya, "apa maumu datang kemari, Sasuke?"

"Aku ingin memberi tahu mengapa kemarin aku bertindak seperti itu padamu."

Ino terdiam, menunggu Sasuke melanjutkan perkataannya.

"Seperti yang sudah kau ketahui, yang membuat dan menegakan peraturan rumah sakit adalah manager rumah sakit. Jadi itulah alasanku menahanmu untuk tidak mengurusi administrasi pasien."

Dokter pirang itu mengrenyit, "lalu, bagaimana nasib pasien yang diusir dari rumah sakit itu?"

"Sudah kutangani dan kau tak perlu tahu bagaiman keadaannya."

"Hah?"

"Hanya itu yang ingin kusampaikan padamu." Sasuke berdiri dari sofanya, bersiap untuk meninggalkan ruangan, "satu hal lagi."

Ino menatap Sasuke yang membelakanginya. "Aku—"

Baru saja Sasuke akan berbicara, pintu ruangan Ino terbuka. Tenten kembali muncul di balik pintu seraya terengah, habis berlari.

"Ino, gawat! Pasienmu yang akan dilakukan pembedahan hari ini dibatalkan pembedahannya! Saat ini kondisinya benar-benar parah! Akan sangat gawat jika tidak segera dilakukan tindakan!"

"Apa?! Bagaimana bisa?!" Pekik Ino. Sasuke pun ikut membelalakan matanya.

"I-ini ... masalah tunjangan—" Belum sempat Tenten menyelesaikan perkatannya, Sasuke segera berlari ke luar ruangan. Ino terkaget melihat tingkah Sasuke, lantas menyusulnya.

"Tenten, kumohon tolong urusi dulu prosedur pembedahan untuk pasien ini. Sisanya aku akan urus. Aku harus menyusul Sasuke!"

.

"Sasuke, tunggu!" Derap langkah keduanya terdengar ke seluruh penjuru korridor yang sepi. Langkah Sasuke terhenti sesampainya di depan ruangan manager rumah sakit yang kemudian dibukanya hingga menimbulkan debaman keras. Menampakkan Sai yang tengah asyik menyesap minuman di mejanya.

"Ada perlu ap—"

Sasuke mencengkram kerah baju Sai hingga ia tercekik dan tak dapat bernapas dengan baik.

"Apa yang kau lakukan, brengsek?!" Ia lantas menghempaskan tubuh Sai ke lantai, pemuda pucat itu terbatuk lantaran kekurangan oksigen. Sementara Ino terdiam melihat kakak-beradik itu.

"Apa maksudmu?" Sai bertanya balik.

"Kau dan segala peraturan sialanmu itu membuat banyak pasien hampir mati! Ini yang kau sebut kepentingan perusahaan? Dasar bodoh! Ini hanya kepentinganmu sendiri!"

Sai terkaget dengan penuturan sang kakak.

"Kau pikir dengan mengusir seluruh pasien yang habis masa tunjangannya akan menguntungkan perusahaan? Dasar tidak punya akal sehat dan hati nurani!" Pekik Sasuke.

Ino terdiam.

"Asal kau tahu, kau bisa saja membuat dan menegakan peraturan bodohmu di sini tapi ingat, akulah pimpinanmu dan aku berhak mengeluarkanmu dari sini jika aku mau apapun alasanmu tak akan menjadi hambatan bagiku meskipun kau adik kandungku!" Sasuke meluapkan segala kekesalannya pada Sai.

Sai ciut, "a-aku—"

"Jika kau masih ingin berada di tempat ini, pakailah hati nurani dan akal sehatmu, bodoh!"

Setelah mengatakan hal itu, Sasuke meninggalkan ruangan. Disusul Ino yang mengekorinya, sementara Sai mengintrospeksi dirinya sendiri.

"Ino ..." Panggil Sasuke yang berjalan cepat di depan Ino.

"Ya?"

"Segera siapkan operasi untuk pasienmu itu. Kau harus segera menyelamatkan nyawanya."

Ino hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sasuke.

"Tunggu apa lagi? Ini adalah perintah langsung dari pimpinan. Tak usah lagi kau hiraukan peraturan sialan mengenai tunjangan itu. Segeralah lakukan pembedahan!"

Ino tersenyum, "baik. Tapi—"

"Apa lagi?"

"Aku ingin kau yang menjadi asisten bedahku."

.

TBC