Disclaimer : Naruto-Masashi Kishimoto.
Cerita murni terlahir dari pikiran nista author
Rate : T
Pair : SasufemNaru
Warning : TYPO, alur gaje, AU, pluff, OOC, OC, Author newbie, femnaru, straight, Don't Like Don't Read
Theme song: Sung Si Kyung-you are my spring
.
.
.
Enjoy
.
.
.
Different Spring
By: puzZy cat
Kelopak bunga sakura yang melintas didepan wajahnya berhasil membuyarkan lamunannya. Ia sadar pemuda raven itu berhasil menyita sebagian pikirannya saat ini. Mungkin alasannya untuk meminta biodata laki-laki itu telah berubah menjadi ketertarikannya pribadi untuk mengenal sang Uchiha. Selama hampir tiga tahun berada di sekolah yang sama, ia bahkan tak mengenal sosok lelaki itu. Oh, jangan salahkan Naruto, ia memang tahu lelaki itu sering disebut-sebut oleh beberapa teman-teman gadisnya. Tapi untuk apa mengenal orang yang bahkan begitu tertutup untuk membuka dirinya terhadap orang lain.
Ia bangun dari duduknya ketika melihat pemuda yang ia lamunkan keluar dari kelas mereka. Dan disinilah ia, mengekori kemanapun pemuda dingin itu berjalan. Tak ada protes, lelaki itu menerima keberadaannya. Dan perlu kita tekankan hanya ia yang berani berada sedekat ini dengan lelaki itu. Menarik ujung lengan blazer lelaki itu untuk mendapatkan perhatiannya. Pemuda itu menoleh, memandang malas ia yang tengah tersenyum tipis.
"Teme, mau kemana sih?"
"Ke toilet." Ucap pemuda itu singkat. Ia menggembungkan pipinya sebal. Menyilangkan tangannya didepan dada.
"Isshh, kenapa baru bilang? Kalau tahukan aku nggak perlu ikut." Ucapnya berlalu kembali menuju kelasnya, menyisakan sang pemuda yang mengerutkan alisnya tak mengerti dan sedetik kemudian tersenyum tipis melihat kebodohan gadis blonde tersebut.
.
.
.
"Naru-chan! kemari!" Ia mengedarkan pandangannya mencari sumber suara yang memanggil namanya. Sedetik kemudian tersenyum melihat gerombolan gadis-gadis di meja Sakura. Melangkah perlahan kearah mereka sebelum duduk di tempat yang sudah disediakan oleh Hinata padanya.
"Apa aku ketinggalan sesuatu?" Tanyanya penuh minat.
Ino menggeleng, "Tidak, rasanya kami yang ketinggalan sesuatu."
"Eumm… ada apa?" Tanyanya bingung mengerutkan alisnya.
"Kulihat kau semakin dekat dengan Sasuke-kun…" ucap Sakura penuh arti, "Apa kau tak ingin berbagi dengan kami Naru-chan?" lanjut gadis Haruno itu menaik turunkan alisnya.
"Ah benar juga…" Gadis itu menjentikkan jarinya seakan menemukan hal yang menarik. "Kalian tahu, si Teme itu benar-benar misterius, tak banyak yang kudapatkan…"
"Tunggu sebentar Naruto, kau memanggilnya Te-Teme?" Interupsi Hinata memotong kalimat sang gadis blonde. Ino dan Sakura mengangguk penasaran dengan kawan hiperaktifnya tersebut. Sungguh betapa beraninya gadis itu memanggil sang pemuda Uchiha dengan panggilan kasar seperti itu.
"Eumm, dia itu menyebalkan! Memanggilku dengan panggilan Dobe dan sering mengacuhkanku." Jelasnya sambil menggembungkan pipinya imut dan ada nada kesal yang sedikit dibuat-buat dalam suaranya. Tapi kemudian ia tersenyum ketika memikirkan panggilan istimewa mereka, yang justru menurutnya membuat mereka terlihat semakin dekat.
"Wow, kau hebat Naru-chan! Jadi apa yang kau temukan dari pangeran es itu?" Tanya Ino penuh minat.
"Sejauh ini yang aku tahu dia menyukai hewan… eum dan langit…" ia mengerutkan keningnya, mengais memori dalam kepalanya yang berhubungan dengan pemuda raven tersebut. "Yah kurasa hanya itu yang kuketahui, dan kurasa dia menyumbunyikan sesuatu. Entahlah aku tidak berani bertanya." Lanjutnya sambil mengendikkan bahu.
"Itu sudah hebat Naru. Membuat Sasuke-kun mau kau dekati saja sudah membuat kami terheran-heran, tak tahu saja kau fans-fansnya begitu iri denganmu." Ucap Ino sambil memukul hangat bahunya. Mereka tertawa ketika Ino mulai membuat lelucon lucu, tenggelam dalam obrolan hangat para sahabat.
"Oi Dobe, apa yang kau lakukan pada bukuku?" Suara dingin itu sontak membuat mereka berhenti tertawa. Ino, Sakura dan Hinata terdiam kaku ketika melihat raut kesal pemuda itu, pemuda yang mereka bicarakan. Heran dengan sang pangeran es yang menghampiri mereka yang bahkan selalu diacuhkan sang pemilik onyx.
"Eh? Apa maksudmu Teme?" Tanya Naruto bingung. Mereka mengangguk paham, tentu saja karena ada gadis ini. Pemuda raven itu hanya diam tak membalas ucapannya, namun tatapan tajamnya menandakan ia sedang marah pada sang gadis.
Hempasan buku diatas pangkuannya membuat gadis itu terkejut. Ia amati buku itu, sedetik kemudian badannya menegang menyadari sesuatu.
"Eum… ehehehe…" Gumamnya tak jelas. Tersenyum kaku sambil mengusap tengkuknya. Lelaki didepannya terdiam sebelum menarik napas panjang. Pergi menjauh setelah menatap tajam gadis itu. Mengintimidasi lewat tatapan matanya, seolah berkata 'jangan ganggu aku lagi'.
Naruto bangkit mengikuti lelaki itu. Terdengar rengekan permohonan maaf darinya yang tentu saja tak digubris oleh sang pemuda. Teman-teman gadisnya mengerut alis bingung, berusaha mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Ino mengambil buku yang tergeletak dilantai akibat pergerakan Naruto tadi, terlihat beberapa halaman yang tercoret-coret dan sedikit kusut. Mereka bertiga saling pandang sebelum tersenyum penuh maksud.
"Ini benar-benar menarik kan Sasuke?" Ucap salah seorang dari gadis-gadis itu pelan dan hanya angin yang mungkin mendengar suara penuh arti tersebut.
.
.
.
"Hey Teme, tunggu aku." Ucapnya setengah berlari, berusaha menyamakan langkah panjang pemuda didepannya. Pemuda didepannya tak menggubris sedikit pun, peduli pun tidak pada gadis yang kini sedikit mengatur napasnya yang mulai tak beratur. Setitik keringat terlihat diujung pelipisnya.
Bibirnya mengerucut imut karena kembali diacuhkan. Sudah seharian ini ia didiamkan oleh pemuda itu. Yah, walau biasanya pemuda itu memang terlalu irit bicara, namun kali ini terasa berbeda. Pemuda itu marah padanya, kembali membuat jarak yang sudah mati-matian ia buang.
"Kau masih marah padaku?" Tanyanya ketika berhasil menyamakan langkah disamping pemuda itu. Kembali, pemuda itu tetap cuek tak menanggapi ucapannya. Berusaha fokus kedepan tanpa menghiraukan raut tak nyamannya. Jalan setapak yang mereka lalui sedikit lenggang karena hari sudah mulai menjelang malam. Salahkan jam tambahan yang kini memenuhi jadwal siswa tingkat akhir seperti mereka, hingga kini setiap saat mereka harus menjalani waktu seharian hanya untuk belajar, dan itu sungguh membosankan bagi gadis pemilik manik safir tersebut. Ia menggembungkan pipinya karena diacuhkan, kenapa pemuda ini mudah sekali merajuk eoh?
Oke, ia tak dapat kesal saat ini. Dan benar saja jika pemuda itu marah padanya. Jelas memang kesalahannya yang begitu tak hati-hati dalam menggunakan barang sang Uchiha. "Teme, maafkan aku." Ada nada kesedihan dalam suara lembut itu. Ia berhenti melangkah, menundukkan kepalanya. Sungguh ia benar-benar merasa bersalah, merutuki sikap ceroboh dan kurang hati-hatinya dalam menggunakan barang sang Uchiha. Ia sungguh bukan gadis yang bisa tahan didiamkan apalagi dengan seseorang yang kini begitu membuat hatinya tertarik.
Sasuke-pemuda itu-ikut menghentikan langkahnya, menyisakan jarak yang tak terlalu jauh dari ia yang kini menunduk sedih. Terdengar helaan napas dari pemuda itu.
"Jangan ulangi lagi."
Kalimat itu tertangkap oleh telinganya. Membuatnya mendongak secara otomatis. Menatap onyx yang kini melembut tak setajam tadi. Ia tersenyum, melangkah riang menuju pemuda itu. Tanpa ragu menggamit lengan sang Uchiha untuk mengikuti langkahnya. Terlihat manja memang, tapi gadis itu sungguh melakukan hal refleks yang ada dalam kepalanya. Yah, dan kembali kita lihat sang Uchiha yang tertegun menerima perlakuan 'manis' sang blonde.
oOoOoOoOo
ia menutup bukunya. Konsenterasinya pecah hanya karena mengingat safir indah dalam memorinya. Menarik napas sejenak, ia tak habis pikir sejak kapan mereka menjadi begitu akrab hingga pulang bersama setiap harinya.
Memegang pelipisnya, kembali berpikir tentang kekuatan yang dimiliki gadis blonde itu. Sihir apa yang digunakannya hingga ia begitu sulit untuk mengacuhkan gadis itu? Dan apa tadi yang ia lakukan, begitu mudahnya ia memaafkan orang yang telah merusak buku berharganya. Oh! Kini ia benar-benar merasa ada yang salah dengan otaknya.
Atau ia sudah benar-benar terikat dengan gadis itu? Ikatan? Apapun itu ia harus segera mengakhirinya. Ia tak ingin gadis itu terluka dengan apa yang akan terjadi. Ia tersenyum miris dengan pemikirannya barusan. Meratapi nasibnya memang sudah lama tak ia lakukan, namun sejak kehadiran gadis ini ia bahkan ragu bisa menerima takdirnya.
Dan sejak kapan ia mulai begitu perduli dengan gadis pembawa masalah itu? Tak ada habisnya ia berpikir, hanya karena seorang Uzumaki Narutolah ia merasa begitu berbeda, begitu hidup? Begitu diinginkan? Ia menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikirannya yang ia rasa sudah tak rasional. Membuka bukunya untuk berusaha kembali berkonsenterasi, berusaha membuyarkan gambaran gadis pirang yang begitu senang menghinggapi kepalanya akhir-akhir ini.
oOoOoOoOo
"Oi Teme." Suara yang sudah sangat ia hapal itu berhasil membuatnya menghentikan aktifitasnya saat ini. Memandang gadis yang kini tengah duduk didepan mejanya. Gadis itu tersenyum manis, yang entah kenapa, membuatnya nyaris menahan napas akhir-akhir ini setiap kali melihat lengkungan bibir itu. Ia tak menjawab, tahu bahwa gadis itu akan tetap mengoceh bahkan tanpa respon darinya.
"Kau mau kemana akhir minggu ini?" Nah benarkan? Selalu gadis itu yang akan memulai pembicaraan ini.
"Hn."
Gadis itu terlihat berpikir dari ekor matanya. "Bagaiamana kalau kita ke taman bermain? Selagi kita diberi libur Teme." Ucap gadis itu dengan mata berbinar penuh harap. Ia hanya diam, berusaha mempertimbangkan usulan kekanakkan gadis itu, walaupun dalam hati ia cukup menaruh minat dengan tawaran tersebut. Gengsinya memenangkan perdebatan dalam pikirannya.
Berusaha terlihat tak tertarik sama sekali, ia kembali mengalihkan perhatiannya pada langit biru disamping jendela. "Oke, kutunggu jam 10 ya teme." Ucap gadis itu sebelum berlalu menuju meja Sakura yang tak terlalu jauh dari mejanya.
Ia tersenyum tipis. Merasa tebakannya benar, gadis itu benar-benar telah mengerti sepenuhnya tentang dirinya. Memejamkan mata. Menghiraukan lagi biru langit yang selalu menjadi favoritnya dan lebih memilih safir yang mendominasi pikirannya. Apapun perasaannya saat ini, ia merasa nyaman dengan keadaan yang menghangatkan hatinya.
Hingga suara disamping mejanya membuatnya memalingkan wajahnya penasaran. Beberapa gadis disana sedang asyik membicarakan sesuatu. "Kau tahu gadis itu bunuh diri." Ia mengerutkan alis tak suka, tapi tetap melanjutkan aksi mengupingnya.
"Benarkah?"
"Eum, hanya karena hubungannya tak direstui dengan Kaze-kun."
"Oh, kudengar Kaze-kun juga ingin bunuh diri kan?"
"Wow, sungguh romantis, cinta sampai mati." Ia mengepalkan tangannya. Wajahnya mendingin, mengeras kaku menahan amarah.
BRAKK
Suara hempasan pintu itu menghentikan aktifitas seluruh penghuni kelas. Mereka terdiam, gadis-gadis yang bergosip tadi bahkan tertunduk malu seakan ketahuan mencuri permen dari anak kecil.
"Lepaskan aku!" Terlihat seorang pemuda yang diseret paksa oleh dua orang lelaki.
"Tenanglah Kaze-kun. Berpikirlah jernih!" Bentak salah seorang dari laki-laki yang menyeret lelaki yang dipanggil Kaze-kun tersebut.
"Kalian tak tahu apa-apa, apa hak kalian menghentikanku bunuh diri hah!"
Gadis pirang yang berada didekat mereka berdiri. Merasa tak nyaman dengan pembicaraan ketiga orang tersebut. Tangannya mengepal karena tak suka. Berusaha menahan diri daritadi untuk tidak memukul mulut laki-laki yang tidak menghargai hidup tersebut.
"Kenapa kalian diam hah! Lepaskan!" kedua lelaki yang menggapit tangan pemuda itu terhempas kasar atas tepisan tangan Kaze.
Ia bangkit, mengumpulkan tenaga dikepalan tangannya. Safirnya memicing marah.
Buaghh
Pukulan keras itu membuat semua penghuni kelas terdiam tak percaya. Itu bukan pukulannya. Sasuke Uchiha yang memukulnya, ya, pemuda anti sosial itu yang melakukannya. Gadis itu terdiam tak mengerti.
"Renungkanlah bodoh!" Ucap pemuda itu sebelum keluar dari kelas, merasa penat akan atmosfir yang ia ciptakan sendiri.
.
.
.
"Teme tunggu aku!" Ia bergegas berlari mencari sang Uchiha yang sudah berjarak cukup jauh darinya.
"Hey!" Pekiknya ketika berhasil menangkap ujung kemeja pemuda itu. Pemuda itu terdiam berhenti. Onyxnya memicing tajam melihat sang safir.
"Ada apa?" Ucapnya lembut sambil mengelus tangan sang pemuda, berusaha memberikan ketenangan.
"Ada apa denganmu?" Tanyanya lagi. Pemuda itu terdiam, tatapannya melembut tak setajam tadi. Ia alihkan wajahnya untuk menatap langit di samping kaca koridor. Koridor memang sedang sepi saat ini, karena jam pelajaran telah dimulai.
"Tau apa dia tentang kematian."
Naruto melepaskan tangan sang Uchiha. Ia bersumpah ada nada sedih dan putus asa dari suara lelaki itu. Dan lihat onyx itu, cairan bening meluncur lurus menuju kulit putih sang pemuda. Membuat ia tertegun, refleks tangannya terulur melingkar diperut sang Uchiha. Berharap pelukan ini dapat membuat sang pemuda mengerti jika ia juga dapat merasakan perasaannya.
"memang ada apa dengan kematian, Sasuke?"
TBC
A/N:
Gomennasai akan keterlambatan update dari fic ini, Zy nggak bakal cari alasan.
Gimana chap 3 nya? Membosankan kah? Jujur saja Zy aja sampe ketiduran ngelanjutin cerita ini. Dan ceritanya makin aneh kan? Mulai chap ini genre Zy ubah sesuai maksud dari lagu diatas.
Big thanks to:
Neerval-Li
VOC
Ciel-Kky30
Rinda
Nasumichan Uharu
naMIKAze nara
MoodMaker
Haru'uchiha'chan
Guest
Last, minta review boleh?
