Disclaimer : "I don't own all the characters in here. they are belong to the selves. This story inspired by Lexi Xu's novels. I make no money from this, so please don't sue me"
.
.
.
-ONG SEONGWU-
Aku berjalan tergesa, atau lebih tepatnya berlari terburu-buru menuruni tangga yang menghubungkan rumah atap yang kutempati dengan rumah induk semangku. Perkenalkan dulu, namaku Ong Seongwu, 16 tahun, siswi SMA 101 atau lebih tepatnya lagi siswi baru SMA 101 atau lebih tepatnya lagi aku akan menjadi siswi SMA 101 jika hari ini aku bisa sampai di SMA 101 tepat pada waktunya. For Goodness sake, pagi ini seharusnya aku sudah berada di sekolah untuk bersiap mengikuti penyambutan siswa siswi baru, tapi rupanya Tuhan berkata lain dengan membuatku bangun kesiangan. Arrrhh sial! Aku memang selalu bangun siang! Atau mungkin SMA 101 saja yang jadwal masuk sekolahnya terlalu pagi dan tidak cocok dengan jadwalku. Seharusnya aku tidak masuk sekolah yang jadwalnya seperti diktator yang sewaktu-waktu bisa merenggut kebebasanku. Tapi sayangnya SMA 101 adalah sekolah kenamaan yang aku yakin siapapun pasti ingin bersekolah disana, Termasuk aku. Ya Tuhan, semoga aku masih diizinkan untuk menuntut ilmu disana dan bukannya dipulangkan karena datang terlambat di hari pertama masuk.
"Seongwu-ya, sarapan dulu" tawar induk semangku ketika melihatku melintasi depan rumahnya.
"Terima kasih, Bi. Tapi aku sudah terlambat" balasku setengah berteriak dan melanjutkan langkahku ke halte bus.
Sebenarnya yang kumaksud dengan induk semang adalah tetanggaku yang berbaik hati merawatku setelah Ayah dan Ibuku yang tidak bertanggung jawab meninggalkanku seorang diri. Tetanggaku itu menawariku tinggal di rumah atapnya tanpa uang sewa, juga sering memberiku makanan gratis. Pokoknya dia adalah wanita paling baik yang pernah kukenal. Cerita lengkapnya kapan-kapan saja karena aku harus segera menaiki bus yang sudah disesaki penumpang itu.
.
.
.
Aku sudah sampai di SMA 101 dengan selamat, dan sedang berusaha bernego dengan security yang berjaga untuk memperbolehkanku masuk.
"Ayolah Pak ijinkan saya masuk"
"Nggak bisa. Penyambutannya baru aja mulai, kamu tunggu aja di luar situ sampai guru piketnya datang dan mengijinkanmu masuk"
"Yaelah. Makanya baru mulai itu, nggak apa-apa dong saya masuk. Baru telat bentar ini"
"Nggak bisa! Kamu ini ya, bebal banget dibilangin. Siswi baru tapi udah ngelanggar aturan di hari pertama masuk. Ditambah lagi penampilanmu nggak rapi banget. Kalo nggak lihat seragammu, udah kukira berandalan kau" cerocos si satpam bertubuh pendek bernama Park Sunkwang itu, tenang aja aku tahu dari name tag nya kok, aku belum sempet kenalan.
"Halah Pak, nggak usah nyeramahin saya. Nanti saya juga diceramahin guru piket. Bapak nggak perlu ikut-ikutan, bisa gumoh saya nanti" selaku santai tanpa nada menghina. Karena aku memang sadar kok penampilanku jauh dari kata rapi sekarang. Seragamku yang belum sempat kuseterika sejak baru ambil dari sekolah, jadi masih bau baju baru banget. Rok yang pendek banget, membuatku harus mengenakan shorts sebagai dalaman. Sialnya, panjangan shorts nya daripada rok nya. Tapi bodo amatlah, daripada paha seksi gue jadi tontonan banyak orang ewww. Rambut pendekku yang seperti milik Amber f(x) juga berantakan karena nggak sempet aku sisir.
"Eh, Pak di panggil Pak Guru itu tuh" ucapku sambil menunjuk arah di belakang si satpam.
Satpam yang bernama Park Sunkwang itu berbalik, celah antara gerbang dan tubuhnya yang sempit itu kuterobos paksa dengan mudah. Jangan salah, di balik tubuh kurusku ini tersimpan otot-otot yang sanggup mengguncang dunia hahahahaha. Selagi si satpam berusah menyetabilkan tubuhnya yang terhuyung, aku melarikan diri dengan segenap kemampuanku.
"YAAAAAAA!" teriak Sunkwang menggelegar.
Hihihihi maaf ya Pak, kali ini aja aku menyusahkanmu. Setelah aku mengenal seluk beluk sekolah ini, aku nggak akan datang lewat gerbang sekolah. Ups!
.
.
.
Aku mengendap-endap memasuki barisan siswa-siswi baru. Sekolah ini aneh, para siswa nya disuruh berbaris di depan siswinya. Mungkin para guru pikir para siswa sering berulah, padahal para siswi lah yang senang bergosip kala upacara. Kalau begini caranya, makin amanlah para siswi tersembunyi dibalik tubuh tinggi para siswa. Aku menerobos barisan itu dan mendapat desisan tidak suka dari para siswi. Bodo amat, dibaris belakang udah penuh jadi aku nggak punya teman sebaris. Eh ternyata sampe depan juga nggak ada yang kosong. Aku menatap ke seorang siswi yang lebih pendek dariku dan sedikit berisi tengah menundukkan kepalanya. Kuamati seragamnya yang rapi dan wangi, rambutnya yang panjang terurai, kacamatanya, sepatunya yang kukenali dari brand murah. Dia pasti siswi culun yang masuk SMA 101 dengan beasiswa sepertiku, tapi tentunya aku tidak culun.
"ssst, geser!" perintahku.
Si siswi tersebut menoleh kearahku dengan pandangan tajam di balik kacamatanya. Tapi karena aku balas memelototinya, dia buru-buru bergeser ke samping dengan wajah ketakutan. Tsk, yang kayak dia ini nih pasti jadi sasaran bully. Duh!
Sampai kapan sih kepala sekolah itu akan berpidato, ubun-ubunku sudah berasap karena terpapar sinar matahari.
.
.
.
Aku menggendong tasku yang super ringan,- karena hanya berisi sebuah buku, menuju ke kelasku. Ini hanya kelas sementara untuk masa orientasi, setelah selesai akan ada pembagian kelas lagi. Ketika memasuki kelas, aku melihat tiga orang cewek tengah memojokkan seorang cewek. Oh si culun tadi. Tiga orang cewek yang kutebak dari golongan kaya dan populer dan kini tengah membully seorang cewek yang kutu buku culun dan tidak bisa membela diri. Kuperhatikan cewek culun itu hanya menundukkan kepala tak membalas celotehan cewek-cewek itu.
"kalian liat nggak girls, potongan rambutnya aja udah out of date banget" seru si cewek berwajah cantik, wajahnya cenderung kalem tapi sayangngnya mulutnya jauh dari kata kalem. Kayak serigala berbulu domba, dari nametag nya sih tertulis Jung Chaeyon.
Teman-temannya yang mendengar ucapan si serigala berbulu domba tadi terkikik heboh. Kikikan yang membuatku mengorek telingaku karena gatal. Entah apa yang lucu dari ucapan penuh hinaan itu.
"Lihat, sepatunya juga dong Chae. Itu mah sama sabun mandi lo mahalan sabun lo kali" sahut cewek lainnya yang rambutnya sengaja diikal di ujungnya, Lee Siyeon.
"Duh jangan samain sama sabun mandi gue lah. Nggak level" balas si serigala berbulu domba.
Karena tidak tahan lagi aku melewati pintu dengan sedikit menyenggol cewek-cewek itu, karena mereka memang dipinggir pintu masuk.
"Shit!" maki mereka kesal karena terhuyung, lalu menatap padaku murka.
"Apa?" tanyaku santai melihat wajah marah mereka.
"Lo mau cari gara-gara sama kita ya?" tanya si cewek ketiga yang bernama Joo Kyulkyung. Duh namanya ribet banget.
"Apa maksud lo nabrak-nabrak kita?"
"Santai aja elah. Cuma kesenggol dikit ini kan, nggak pake tenaga apapun gue nyenggolnya" jawabku santai sambil melirik ke arah cewek culun itu. Kukira aku akan melihat cewek itu berkaca-kaca karena dibully, atau setidaknya ketakutan lah. Ini malah si culun itu berwajah datar tapi ujung bibirnya sedikit melengkung dan binar matanya nampak tengah tersenyum geli.
"Nggak pake tenaga apaan. Gue sampe hampir jatuh tadi" sahut si ikal.
"Itu mah elo nya aja yang letoy" jawabku masih santai.
"LO!.." belum sempet si serigala berbulu domba melanjutkan ucapannya ada Kakak kelas panitia MOS yang mendampingi kelas ini masuk.
"Ada apa ini? Kenapa kalian bergerombol di depan kelas?" tanya Kakak Kelas cewek yang bertubuh tinggi semampai. Entah namanya siapa, dia sengaja nggak pake nametag kayak gue.
"Nggak ada apa-apa Kak. Kita Cuma kenalan aja kok" jawabku santai, sambil merangkul Siyeon yang otomatis berusaha melepaskan diri dari rangkulanku, tapi tentu saja rangkulanku tak semudah itu dilepaskan oleh cewek yang hanya pernah mengangkat kuas make up ini.
"Yaudah. Cepat duduk di tempat masing-masing"
Kami semua menuju ke tempat duduk, dan kulihat si cewek culun yang bernama Park Jihoon itu duduk sendirian. Akhirnya aku memutuskan untuk mendudukkan bokongku disampingnya. Kutatap si culun itu yang nampak kaget setengah bahagia ketika melihatku duduk disampingnya. Mungkin dia berpikir dia tidak akan punya teman di kelas ini. Yah, bukan berarti aku mau jadi temannya sih. Aku lebih baik tidak berurusan terlalu dalam dengan orang lain. Merepotkan!
"Ngg...Makasih ya tadi udah bantuin aku dari mereka" ucapnya sedikit gugup padaku.
"Biasa aja. Gue nggak ngapa-ngapain mereka kok. Eh pake lo-gue aja, geli gue denger lo ngomong aku-kamuan" ucapku.
"Eh..oke"
"Tapi kalo lo emang niat berterima kasih ke gue, lo bisa traktir gue makan siang ntar" ucapku setengah bercanda.
"Oke" jawabnya lagi.
Lah, gue yang kaget. Dia kan pasti siswa beasiswa juga disini pasti nggak punya banyak duit kayak gue. Duh, padahal tadi gue Cuma bercanda.
"Eh nggak usah! Gue Cuma bercanda tadi"
"Tapi gue serius kok, nanti gue traktir makan siang"
Belum sempat aku membalas, si kakak kelas tadi sudah berseru "itu yang dibelakang ngobrolin apa? Kok seru banget?"
"Duh! Lanjutin aja Kak, nggak usah kepo" jawabku santai.
"Kamu, maju sini kedepan!"
Dengan langkah sedikit terseret dan dagu terangkat tinggi, aku melangkah ke depan kelas sambil terus menatapnya yang juga menatapku.
"Sedari tadi saya memberi pengarahan, kamu malah asik ngobrol sendiri. Emangnya kamu denger apa yang saya omongin tadi?" tanyanya dengan nada tegas.
"Denger kok"
"Coba ulangi!"
"Ini berhubungan sama Kakak yang nggak pake nametag, atau lebih tepatnya semua panitia MOS nggak pake nametag. Jadi kita siswa baru disuruh untuk mencari tahu nama kalian, entah dengan cara apapun. Pokoknya nanti di akhir jadwal hari ini kita harus sudah hafal semua nama panitia MOS"
Tuhkan. Udah kubilang aku dengerin si kakak ini meski aku ngobrol sama si culun itu.
"Lalu, kenapa kamu nggak pake nametag?"
"Yah kan semua siswa punya hak yang sama. Masa Kakak boleh nggak pake nametag, saya nggak boleh sih Kak?"
"Ong Seongwu" ucapnya lalu memberi jeda setelah menyebutkan namaku, yang aku berani bertaruh pasti siswa disini belum ada yang tahu, "Kepala sekolah Kwon sudah memperingatiku untuk lebih memperhatikanmu. Meski kamu peraih ranking pertama, mendapat beasiswa full dari sekolah karena daya ingat fotografismu itu, bukan berarti kau bisa berlaku seenakmu disini"
Kudengar kasak-kusuk teman sekelasku, entah karena Kakak kelas ini menyebut namaku atau karena kemampuanku yang memang menakjubkan ini. Tak heran sih, sudah banyak orang yang terkagum dengan ingatan fotografisku ini.
"Lalu saya harus apa, Kak?"
"Kau bisa keluar kelas lalu pergi ke perpustakaan, bantu Bu Yumi merapikan buku-buku di perpustakaan"
"Baik,Kak" sahutku lalu segera meninggalkan kelas.
Tentu saja kesempatan ini tidak akan aku sia-siakan. Aku memang sudah mencari waktu untuk bisa menjelajahi sekolah ini, mencari jalan-jalan rahasia untuk keluar masuk sekolah. Yosh, mari kuasai sekolah ini dengan menemukan semua rahasianya HUAHAAHAHAHA.
.
.
.
TBC
AN/ : special thanks to winkinie and Niewwho always leave comments on my story. actually, I almost delete this story because no one left review, so it means this story is not interesting. But, I always cherish every comment you left for me, and the both of them make me wanted to continue this story. Thank you.
Cerita selanjutnya yang mungkin akan aku update adalah Blooming in autumn. Udah lama anakku yang satu itu belum aku update. Still waiting for your feedbacks. Thank you..
