Marauders Family
Harry bermain dengan mainan snitch-nya yang bisa terbang sungguhan, namun hanya setinggi 30 cm. Wajah kecilnya mengerut sementara Ayah dan Ibunya sedang berbincang-bincang di sofa. Mereka mengobrol seolah-olah mengabaikan Harry yang sedang duduk di antara mereka. Seolah-olah Harry tidak dianggap.
Harry membiarkan boneka snitch-nya terbang sekali lagi, lalu menangkapnya dengan bangga, mencoba mendapat perhatian dari Ayah dan Ibunya. Tapi tidak ada reaksi apa-apa. Hanya sekilas senyum dari Lily, dan sudah, hanya seperti itu.
Wajah Harry makin mengerut. Harry turun dari sofa dengan hati-hati dan berhasil. Lalu dia merangkak ke kaki Lily. Memeganginya. Wajahnya semakin mengerut, sampai…
"HWAAA!" Harry menangis kencang.
Lily dan James, yang sedang mengobrol, langsung terkesiap, mengangkat Harry dari karpet dengan panik, dan berusaha menghibur Harry. Sirius dan Remus segera keluar dari dapur dengan panik, lalu menghampiri Harry, "Hawihehawa?" Tanya Sirius dengan mulut yang dipunuhi biscuit-biskuit buatan Lily.
"Telan, Sirius. Aku tahu kau memiliki sifat anjing di dalam dirimu, tapi setidaknya bersikaplah yang rapih di depan Harry," Lily memukul lengan Sirius pelan.
Sirius memutar bola matanya, namun tetap menelan makanannya, "Harry kenapa?" tanya Sirius sekali lagi dengan lebih jelas.
Lily langsung memeluk Harry dengan reflex, "Entahlah. Aku tadi sedang mengobrol dengan James, lalu tiba-tiba Harry menangis."
James menarik Harry dari gendongan Lily, lalu menghapus air matanya, "Ada apa, Harry? Apa Padfoot melakukan sesuatu padamu?"
"Hei!" protes Sirius yang diabaikan total.
Sesaat ruangan itu hening. Hanya terdengar isakan Harry, lalu, "HWA!" teriak Harry. Dia mengambil mainan snitch-nya dan melempar benda itu ke kepala James.
James meringis setengah terkejut, sementara butuh usaha keras untuk Sirius dan Remus agar tidak tertawa terbahak-bahak melihat James diperlakukan seperti itu oleh anaknya sendiri. Namun berbeda dengan Lily,
"Harry James Potter! Dari mana kau belajar hal itu? Harry, kau tidak boleh melempar-lempar benda ke orang tuamu. Itu namanya tidak sopan, mengerti?" Lily memandangi mata Harry.
"Benar Harry, dengarkan Mummy mu," James mencubit pipi Harry dengan gemas.
Mata hijau Harry membulat memandangi James, lalu dia membuka mulutnya. Serentetan kata yang tidak jelas keluar dari bibir mungil Harry, sampai akhirnya—
"Mamah."
Hening.
James, Sirius, dan Remus menganga memandangi Harry dengan shock, sementara mata Lily membulat karena shock dan terharu.
"H-Harry, coba kau ulangi lagi."
"Maaamaaaah," ucap Harry senang.
"Kau dengar itu…?" James berbisik.
Lily menangis sungguhan sekarang. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang memerah karena senang dan terharu. Ini adalah kata pertama yang seumur-umur pernah Harry katakan selain kata-kata aneh seperti; "Auu!" atau "Uiiii?".
Sirius masih menganga, "Coba kau ulangi lagi, Harry."
"Mamaaaaah?" Harry cemberut melihat wajah Lily ditutupi.
"Sepertinya Harry ingin melihat wajahmu, Lily." Remus memberi saran.
Perlahan, Lily menurunkan tangannya dan tersenyum lebar kepada Harry, "Iya, Harry?"
Harry tertawa senang, lalu bertepuk tangan, "MAMAH!" jeritnya.
"Aku disini, Harry." Lily merebut Harry dari James dan memeluknya dengan sangat erat.
"Tunggu," sergah James tidak suka, "Kalau Harry bisa mengucapkan 'Mamah', pasti setidaknya dia juga bisa mengatakan 'Daddy' atau 'Papah'. Harry, coba kau bilang Daddy."
Harry memiringkan kepalanya sedikit, berusaha mencerna ucapan ayahnya barusan, membuka mulutnya, lalu…
"DA!" ucap Harry lantang dan percaya diri.
"KAU DENGAR ITU? PADS, MOONS, KAU DENGAR ITU?" James tertawa bangga dan meloncat-loncat di atas sofa.
Lily memeluk Harry lebih erat lagi. "Coba ucapkan lagi, Harry."
"Mamah! Da!" Harry berkata dengan bangga.
"Tunggu, itu tidak adil," Sirius merebut Harry dengan lembut, lalu membuat Harry melihat matanya, "Harry, dengarkan aku baik-baik. Coba kau katakan, 'Padfoot'".
"Tidak, Harry, coba kau katakan 'Moony'. Itu jauh lebih diingat, bukan?" Remus duduk disebelah Sirius, berusaha mengalihakan perhatian Harry dari Sirius.
"Ha?" Respons Harry melihat kedua pria itu.
"LIHAT? LIHAT? Dia hanya ingin mengucapkan namaku!" James membusungkan dadanya, "Dan Lily tersayang, tentu saja," katanya cepat-cepat setelah mendapat tatapan super 'manis' dari Lily.
"Tidak, Harry, coba kau…"
"MAMAH! DA!" potong Harry cepat, lalu bertepuk tangan. Melihat itu, James dan Lily segera memeluki Harry lagi. Obrolan mereka terlupakan. Well, itu tidak penting. Harry jauh lebih penting daripada obrolan yang sudah terlupakan itu.
Dan Harry sudah tidak lagi terlupakan.
