Our Secret

NCT & Infinite Fanfiction

Kim Myungsoo x Lee Taeyong

Main Cast: Kim Myungsoo, Lee Taeyong, David (SM Kids Model)

Warning: BL, Mpreg, OOC, Typo(s), DLDR.

Rated T+

Diharapkan untuk melihat foto dan video David terlebih dahulu untuk mudah membayangkannya.

By El Lavender

.

.

.

Flashback

Myungsoo atau yang dikenal dengan L adalah salah satu anggota dari Boy Group yang sedang hangat saat ini yaitu Infinite. Mereka semua saat ini sedang merayakan kemenangan mereka dalam acara musik untuk kesekian kalinya. Terlihat mereka semua sedang menikmati pesta itu malam ini.

"Hei aku memiliki sebuah tantangan untuk kalian semua." Ujar Hoya dengan sangat antusias, semua mata memandang penasaran kearahnya.

"Apa itu hyung?" Sungjong yang tertarik bertanya kepada Hoya.

"Aku menantang kalian semua untuk meminum soju. Siapa yang paling banyak meminumnya dan bertahan akan aku nyatakan sebagai pemenang. Tidak hanya itu saja, aku juga akan memberikan hadiah kepada pemenangnya." Jika Hoya sudah berkata seperti ini berarti dia serius mengatakannya dan member lain pun percaya akan perkataannya.

"Baiklah aku terima, tidak boleh ada yang tidak ikut!" Sang leader Sunggyu menyuarakan perintahnya.

Jika seperti ini Myungsoo hanya bisa pasrah mengikuti semuanya. Bukan karena apa, hanya saja jika dia sudah mabuk dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

Mereka semua memulai tantangan dari Hoya. Terlihat beberapa member yang mulai tumbang, Sunggyu tumbang saat dia minum dibotol keduanya. Yang bertahan saat ini hanyalah Myungsoo dan Hoya, mereka berdua memanglah tipe yang kuat meminum minuman beralkohol.

Myungsoo akhirnya menyerah dia sudah tidak kuat meminum sojunya lagi, mereka hari ini memang berencana pulang kerumah masing-masing tetapi kondisi mereka yang mabuk tidak memungkinkan untuk itu, untung saja Manajer mereka masih sadar dan mengatasi kekacauan yang mereka perbuat.

.

.

.

Taeyong baru saja pulang dari latihannya, dia memanglah berencana mengikuti audisi di salah satu Agency ternama untuk menjadi seorang Idol. Taeyong sangat suka menari, selain karena wajahnya yang tampan hobinya itulah yang membuatnya memiliki keinginan untuk menjadi seorang Idol.

Taeyong sudah terbiasa untuk pulang malam usai latihannya tetapi entah kenapa Taeyong malam ini pulang sangat larut dari biasanya. Ia memiliki firasat yang buruk malam ini, salahkan saja dirinya yang terlalu bersemangat berlatih gerakan baru sehingga lupa waktu.

Tempat latihan Taeyong beserta teman-temannya yang lain bisa dikatakan jauh dari keramaian, teman-temannya sudah pulang duluan sehingga menyisakan dirinya seorang. Taeyong saat ini masih meneruskan perjalanannya menuju halte bus, dia berharap semoga masih ada bus yang tersisa jika tidak terpaksa ia naik taksi menuju rumahnya.

Udara semakin dingin, Taeyong merapatkan Hoodie yang dipakainya. Seoul dimalam hari memanglah sangat berbahaya tapi ia tidak takut akan hal itu karena ia merasa tindakan kejahatan hanyalah akan mereka lakukan kepada para wanita yang terlihat lemah. Semakin berjalan lebih jauh firasat buruk yang dirasakan Taeyong semakin besar, awalnya Taeyong mengabaikannya tetapi semua itu berubah ketika ada seorang pria mabuk yang menghampirinya.

"Hai manis, sedang apa kau sendirian disini hehe..." Taeyong mengabaikan sang pemuda yang tengah mabuk berat itu, ia tetap melanjutkan perjalanannya.

Taeyong mengingat-ingat sepertinya dia pernah melihat wajah pemuda itu, pemuda itu seperti salah satu member dari sebuah Boy Grup yang sedang hangat saat ini. Tetapi ia menepis pikirannya itu karena tidak mungkin seorang Idol sedang mabuk berat dan berkeliaran malam-malam seperti ini. Mungkin hanya mirip.

"Hei tunggu, kau mau kemana? Mari bersenang-senang denganku." Pemuda itu menarik tangan Taeyong dan menghentikan langkahnya.

Cup

Tanpa aba-aba pemuda itu mencium Taeyong dengan tiba-tiba. Taeyong sangat terkejut akan hal yang terjadi kepadanya, ia yang sadar segera meninju pemuda itu.

"APA YANG KAU LAKUKAN HAH?! PERGI ATAU AKU AKAN MELAPORKANMU KE POLISI!" Taeyong memberikan peringatan kepada pemuda yang sudah melecehkannya itu.

"Beraninya kau... Aku hanya mengajakmu bersenang-senang, baiklah jika itu maumu. Terpaksa aku melakukan ini." Taeyong bergidik mendengarkan perkataan pemuda yang masih dalam keadaan mabuk itu.

Taeyong terkejut ketika pemuda itu menariknya begitu saja ke sebuah motel yang berada di dekat mereka saat ini. Ia tidak mengira tenaga seseorang dalam keadaan mabuk bisa sekuat ini, ia sudah berusaha melepaskan cengkraman pemuda itu di lengannya tetapi tidak berhasil.

Brakkk

Pintu kamar motel itu dibanting dan dikunci oleh pemuda itu begitu saja, Taeyong menatapnya dengan ketakukan entah apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu kepadanya. Ia berharap Tuhan masih menyayanginnya dan menyelamatkannya malam ini.

.

.

.

Myungsoo terbangun dari tidurnya. Ia merasa sangat pusing, seingatnya semalam mereka semua memanglah sedang berpesta merayakan kemenangan mereka dan hal terakhir yang ia ingat adalah tantangan dari Hoya untuk minum setelahnya dia tidak mengingat apapun.

Myungsoo merasa jika dia sekarang tidaklah berada di rumah maupun di dormnya, ia merasa tempat ini asing baginya. Myungsoo merasa jika tidak ada pakaian yang melekat di dirinya saat ini, ia melihat keadaan sekelilingnya dan dikejutkan dengan seseorang yang tertidur di sampingnya. Ia melihat raut kesakitan dan bekas air mata di wajah pemuda yang masih tidur itu, kondisi mereka saat ini sama-sama tidak menggunakan pakaian. Myungsoo tidak tahu apa yang terjadi, ia mengingat-ingat apa saja yang dilakukannya ketika dia mabuk. Tetapi nihil, dia tidak mengingat apapun.

Ia memutuskan untuk mandi dan menjernihkan pikirannya serta memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.

Myungsoo sudah selesai mandi, dia masih menunggui pemuda di sebelahnya yang masih belum bangun. Sebenarnya ia bisa pergi begitu saja tetapi entah mengapa hatinya menyuruhnya untuk tetap menunggu pemuda itu bangun dan mendengar penjelasan dari pemuda itu. Myungsoo merasa jika semua ini adalah karena perbuatannya di saat ia mabuk semalam.

Myungsoo melihat banyak melihat pesan yang masuk serta panggilan tak terjawab di ponselnya. Ia tahu Manajer dan teman-temannya sedang mengkhawatirkan kondisinya karena ia pulang begitu saja dalam keadaan mabuk. Myungsoo yang hendak membalas pesan-pesan itu mengurungkan niatnya karena pemuda disebelahnya itu sudah bangun dari tidurnya.

"Kau sudah bangun?"

"..."

"Apa yang terjadi semalam?"

"..."

"Apa aku melakukan sesuatu yang buruk kepadamu? Aku minta maaf jika aku melakukan hal yang buruk kepadamu. Aku tidak mengingat apapun semalam yang terakhir ku ingat hanyalah aku sedang minum bersama teman-temanku."

Pemuda itu tidak menjawab pertanyaannya sama sekali, pemuda itu mendudukkan dirinya sehingga selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap begitu saja. Myungsoo dapat melihat beberapa bercak merah di tubuh pemuda itu, ia sangat yakin jika itu adalah perbuatannya.

'Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan.' Myungsoo miris memikirkan apa yang kira-kira dilakukannya semalam kepada pemuda itu, saat ini ia masih belum bisa mengingatnya.

"Aku tidak bisa mengendalikan diriku jika aku mabuk. Maafkan aku." Myungsoo masih melanjutkan perkataannya walaupun tidak ada respon dari sang lawan bicara.

Pemuda itu mengabaikannya dan berlalu begitu saja menuju kamar mandi dan tidak lupa ia memunguti pakaian yang juga berserakan. Myungsoo hanya bisa menatap sendu punggung pemuda itu, ia merasa sangat bersalah kepada pemuda yang tidak dikenalinya itu dan ia yakin usia pemuda itu berada dibawahnya.

Beberapa menit kemuda pemuda itu telah selesai mandi dan melihat Myungsoo yang tengah bertelepon dengan Manajernya.

"Aku tidak apa-apa Manajer hyung, kalian tidak perlu khawatir... Setelah ini aku akan menyusul, kalian berangkat duluan saja. Aku masih harus menyelesaikan urusanku disini, sampai jumpa hyung." Myungsoo yang melihat pemuda itu keluar dari kamar mandi segera menutup panggilan dari Manajernya itu.

"Apa yang harus aku lakukan? Aku tahu kau membenciku tapi setidaknya katakanlah sesuatu. Aku bukanlah pria yang lari dari tanggung jawab begitu saja. Jika kau marah katakanlah, jika kau ingin memukulku pukul saja." Myungsoo menghampiri pemuda itu.

Buagh

Pemuda itu benar-benar memukulnya. Myungsoo tidak marah ataupun membalasnya karena ia memang pantas mendapatkannya. Darah mengalir dari sudut bibirnya.

"Aku membencimu KIM MYUNGSOO! Jangan pernah kau ganggu hidupku lagi! Aku tidak menyangka Idol sepertimu dapat berbuat hal yang hina seperti ini cih!" Myungsoo dapat melihat amarah pemuda itu dan air mata yang tergenang di pelupuk matanya.

Brakk

Pemuda membanting pintu kamar motel dan pergi begitu saja. Myungsoo masih merasa bersalah kepada pemuda itu.

.

.

.

2 bulan kemudian

Taeyong saat ini sedang berada disebuah rumah sakit. Wajahnya saat ini sangatlah pucat, akhir-akhir ini Taeyong juga sering merasakan mual.

Semenjak peristiwa pahit yang menimpanya beberapa bulan yang lalu Taeyong tidak berani lagi pulang malam seorang diri bahkan Taeyong sudah tidak pernah latihan lagi karena disibukan dengan ujian di sekolahnya dan juga dia merasa malas untuk menari akhir-akhir ini.

Taeyong sedang menunggu gilirannya, hanya tersisa dia seorang yang menunggu. Seorang pria yang menggunakan hoodie beserta masker duduk disamping Taeyong begitu saja. Taeyong tidak peduli dengan orang yang duduk disebelahnya itu.

"Apa kau sedang sakit?"

'Suara ini...'

Taeyong membeku seketika mendengar orang yang berada disampingnya itu bertanya kepadanya.

"Apa pedulimu." Taeyong berkata tanpa melihat ke arah sang lawan bicara.

"Tuan Lee Taeyong." Seorang Suster memanggilnya, Taeyong bersyukur gilirannya sudah tiba sehingga dia tidak perlu lama-lama terjebak dengan orang itu lagi. Taeyong memasuki ruangan itu untuk melakukan pemeriksaan.

"Apa keluhan anda?" Sang dokter bertanya kepadanya.

"Akhir-akhir ini saya kurang enak badan Dok, setiap pagi saya mual-mual dan ketika saya mencium aroma yang menurut saya tidak sedap juga terasa mual Dok." Jelas Taeyong kepada sang Dokter.

"Sepertinya kau hanya masuk angin. Mari kita periksa." Dokter tersebut bangkit dari tempat duduknya dengan membawa Stetoskopnya.

Taeyong mengikuti Dokter tersebut dan berbaring di ranjang pasien untuk diperiksa lebih lanjut oleh Dokter itu. Taeyong dapat melihat raut wajah serius yang tertera di wajah sang Dokter, ia berharap tidak terjadi sesuatu yang serius dengannya ia masih ingin mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang Idol.

"Hmm... Ini adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi, aku tidak bisa memastikannya dengan jelas." Ujar Dokter tersebut setelah memeriksa keadaan Taeyong.

"Apa yang terjadi Dok?" Taeyong menjadi semakin khawatir dengan perkataan sang Dokter.

"Sebaiknya kau menemui Dokter Cha, Dokter spesialis kandungan. Kau akan tahu jawabannya." Sang Dokter memberikan sebuah catatan kepada Taeyong yang akan diberikan kepada Dokter Cha.

Taeyong keluar dari ruangan itu dengan firasat yang buruk, dia tidak tahu apa yang terjadi kepadanya sampai Dokter itu menyuruhnya untuk menemui Dokter kandungan. Pandangan matanya sempat bertemu dengan orang itu tetapi dia segera berlalu begitu saja.

"Tuan Kim Myungsoo." Taeyong masih sempat mendengar nama orang itu dipanggil oleh Suster sebelum dia semakin menjauh dari ruangan itu.

.

.

.

"Ah Myungsoo-ah apa kau sakit lagi?" Tanya sang Dokter begitu Myungsoo memasuki ruangan itu.

"Hahaha sepertinya aku hanya terserang Flu biasa Dokter Kim." Myungsoo dan Dokter Kim memanglah saling kenal, sejak sebelum dia menjadi seorang Idol jika sedang sakit Ibunya selalu membawanya kesini.

"Sepertinya kau memang terkena flu, sebaiknya kau banyaklah beristirahat dan jangan terlalu lelah Myungsoo-ah." Ujar Dokter itu setelah memeriksa kondisi Myungsoo. Ia hanya mengangguk menuruti perintah Dokter itu.

"Dokter aku ingin bertanya sesuatu." Ujar Myungsoo serius.

"Tanyakan saja Myungsoo-ah."

"Apa yang terjadi kepada pria yang masuk sebelum aku tadi? Dia sakit apa Dok?" Walaupun ini bukanlah haknya untuk mengetahui tentang masalah pasien lain tetapi Myungsoo merasa dia harus mengetahui apa yang terjadi dengan pemuda yang bahkan baru ia ketahui namanya ketika suster memanggil namanya tadi.

"Apa dia temanmu?" Myungsoo mengangguk untuk meyakini Dokter Kim walaupun sebenarnya mereka hanyalah dua orang yang tidak saling mengenal.

"Sebenarnya ini bukanlah hakku mengatakan apa yang terjadi kepada pasienku kepadamu. Berhubung kau adalah temannya dan juga kau sudah aku anggap seperti anak sendiri jadi aku akan memberitahukannya kepadamu." Myungsoo masih menanti apa yang akan dikatakan oleh Dokter itu selanjutnya.

"Untuk pertama kalinya aku menemukan hal aneh seperti ini Myungsoo-ah, peristiwa ini memang sangat jarang terjadi. Aku merasakan ada kehidupan lain yang bersarang ditubuhnya. Aku tidak bisa memastikannya dengan pasti sehingga aku menyuruhnya untuk menemui Dokter kandungan." Myungsoo yang mendengar penjelasan Dokter Kim membulatkan matanya.

"Kepada Dokter siapa anda menyuruhnya untuk melakukan pemiksaan lebih lanjut Dok?" Myungsoo memutuskan untul langsung bertanya siapa Dokter kandungan yang ditemui oleh pemuda itu.

"Aku menyuruhnya untuk menemui Dokter Cha."

"Ah baiklah... Terimakasih atas semuanya Dokter." Myungsoo membungkukkan badannya dan segera keluar dari ruangan itu.

Myungsoo mencari dimana Dokter kandungan berada, ia berharap jika pemuda yang bernama Lee Taeyong masih berada disana. Myungsoo merasa dia harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi kepada pemuda itu.

"Disini ruangannya." Myungsoo sudah menemukan dimana ruangan Dokter Cha berada. Dia masuk begitu saja tidak peduli jika tindakan yang dilakukannya tidaklah sopan.

"T-tidak mungkin... Itu tidak mungkin terjadi Dok. Aku adalah seorang pria bagaimana itu bisa terjadi." Myungsoo dapat melihat keterkejutan diwajah Taeyong, entah apa yang sudah diberitahukan Dokter itu kepadanya.

"Hal ini sangat bisa terjadi Taeyong-ssi. Dalam dunia kedokteran sudah beberapa kali kami menemukan kasus yang sama seperti yang terjadi kepadamu, kau memiliki rahim. Aku tidak tahu ini adalah anugrah yang diberikan Tuhan kepadamu atau bukan, tetapi saat ini kau sedang hamil Taeyong-ssi. Usia kandunganmu susah memasuki dua bulan." Myungsoo yang mendengar penjelasan dari Dokter itu juga terkejut. Kedua orang itu masih belum menyadari keberadaannya diruang ini.

"Dokter bisakah kau membantuku menggugurkannya?"

Myungsoo dapat melihat raut wajah datar dan dingin di wajah Taeyong. Myungsoo tidak tahu apakah ia akan membiarkan Taeyong menggugurkan kandungan yang sangat ia yakini itu adalah anaknya atau mencegah pemuda itu melakukannya.

"Apa kau yakin Taeyong-ssi? Tapi aku tidak yakin, karena hidupmu akan dipertaruhkan kemungkinannya 50:50." Jelas Dokter itu kembali.

Myungsoo memutuskan untuk duduk disebelah Taeyong, kedua orang itu tampak terkejut akan kehadirannya yang tiba-tiba itu.

"Maaf aku mengejutkan kalian dan maaf jika aku telah masuk secara tiba-tiba dan mendengarkan beberapa percakapan kalian. Aku adalah kekasih dari Taeyong Dokter." Myungsoo dapat melihat tatapan benci Taeyong yang ditunjukkan kepadanya.

"Ah tidak apa-apa, aku sudah terbiasa melihat beberapa pasangan seperti kalian." Ujar Dokter itu kepada Myungsoo.

"Aku terkejut mendengar jika dia sedang hamil, aku senang mendengarnya. Dokter anda tidak perlu mengikuti keinginannya untuk menggugurkan kandungannya. Aku akan mencoba untuk berbicara dengannya."

"Ah baiklah." Dokter itu tersenyum maklum.

"Ayo kita pulang." Myungsoo berkata kepada Taeyong.

"Terimakasih Dokter Cha atas semuanya." Myungsoo tidak lupa berterimakasih kepada Dokter itu sebelum meninggalkan ruangan itu.

Taeyong bisa saja protes terhadap semua tindakan yang dilakukan oleh Myungsoo, tetapi ia tidak mau membuat keributan di ruangan itu dan terpaksa mengikuti pemuda itu keluar.

"Apa maksudmu, kenapa kau ikut campur semua urusanku?! Aku sudah berkata kepadamu menjauh dari hidupku! Kenapa kau tidak membiarkanku menggugurkannya, semua akan selesai jika aku melakukannya kau juga tidak akan terbebani!"

Mereka saat ini berada di koridor yang sepi, Taeyong yang sudah tidak tahan mengeluarkan semua emosinya kepada Myungsoo.

"Kenapa kau ingin menggugurkannya? Bukankah Dokter bilang kemungkinan berhasil hanyalah 50:50." Myungsoo berusaha setenang mungkin dan tidak ikut terpancing emosi.

"Aku ini seorang pria bodoh! Apa yang akan dikatakan oleh orang lain jika mereka melihat seorang pria yang sedang hamil. Apa yang dikatakan oleh kedua orangtuaku dan karena ini semua mimpiku hancur seketika! Itu semua karena perbuatanmu, kau menghancurkan hidupku!" Taeyong sudah tidak mampu membendung semua emosinya dan menangis begitu saja karena ia merasa takdir terlalu kejam kepadanya.

Myungsoo ingin memeluk tubuh rapuh pemuda yang lebih pendek darinya itu, tetapi ia sadar jika ia melakukan hal itu Taeyong akan semakin membencinya. Ia sadar jika dia sangat bersalah karena telah merusak kehidupan pemuda itu.

"Maafkan aku... Aku ingin bertemu dengan kedua orangtuamu sekarang. Aku akan menjelaskan semuanya kepada mereka." Taeyong sudah menghentikan tangisannya, ia menatap dingin ke arah Myungsoo.

"Aku ingin menggugurkannya saja dan kau tidak perlu melakukan itu." Ucap Taeyong datar.

"Sudah kubilang aku akan bertanggung jawab atas semuanya Lee Taeyong! Jika memang kau tidak menginginkannya aku yang akan merawatnya ketika dia lahir. Hanya menunggu waktu 7 bulan lagi untuk itu! Sekarang jangan membantahku dan beritahu dimana alamatmu." Myungsoo harus membuat Taeyong mau mengikuti perkataannya dengan cara ini.

Taeyong sudah lelah karena keterkejutannya mendengar kabar jika dia hamil, ia tidak ingin berdebat lagi dengan pria itu dan akhirnya memberitahu dimana alamat rumahnya kepada Myungsoo dan pria itu juga mengantarkannya pulang.

.

.

.

Awalnya ketika Myungsoo datang kerumah orangtua Taeyong mereka terkejut dengan apa yamg dijelaskan oleh pemuda itu. Ayah Taeyong sempat memukulinya karena telah melakukan hal itu kepada anak mereka.

Kedua orangtua Taeyong meminta Myungsoo untuk menikahi anak mereka sebagai pertanggung jawaban, mereka tidak peduli dengan status Myungsoo yang saat ini adalah seorang Idol dan mereka berjanji akan merhasiakan semuanya asalkan Myungsoo bertanggungjawab terhadap Taeyong.

Hal serupa terjadi di keluarga Myungsoo ketika ia mengatakan jika dia telah menghamili seseorang dan akan menikahinya. Dan yang lebih mengejutkan orangtuanya adalah orang yang dimaksud Myungsoo adalah seorang pria, ibunya bahkan pingsan ketika mendengarkan hal itu.

Pernikahan mereka hanyalah dilakukan secara sederhana dan dilakukan ketika Myungsoo tidak memiliki jadwal dengan grupnya. Pernikahan mereka dilakukan disebuah gereja tua di pinggir kota Seoul dan hanya dihadiri oleh keluarga mereka. Orangtua Myungsoo meminta maaf kepada orangtua Taeyong atas perbuatan anaknya, keluarga merekapun menjadi dekat satu sama lain.

Setelah menikah Taeyong tinggal di apartemen Myungsoo, terkadang ia akan tinggal sendirian jika Myungsoo sibuk dengan semua kegiatannya sebagai Idol. Ia tidak mempermasalahkan hal itu, Taeyong justru senang jika tidak ada pemuda itu di sekitarnya.

Taeyong tetap melanjutkan pendidikannya di Seoul Performing of Art karena kandungannya belumlah terlihat jelas dan karena badannya yang terbilang kecil kandungannya tidaklah terlalu tampak.

Taeyong setiap bulan rutin memeriksakan kandungannya ke Dokter Cha tidak jarang Myungsoo menemaninya padahal Taeyong sudah menolaknya agar tidak usah ikut tetapi pemuda itu tetap memaksanya. Dokter Cha sangat senang mengetahui jika mereka berdua telah menikah dan Dokter itu mengatakan jika perkembangan sang janin setiap hari semakin baik dan sehat. Mereka berdua tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat pergerakan sang janin melalui USG.

Usia kandungan Taeyong sudah memasuki usia 9 bulan. Dokter memperkirakan minggu ini dia akan melahirkan, saat ini dia memang sedang berada dirumah sakit untuk berjaga-jaga kapan dia akan melahirkan ditemani oleh Ibu beserta Ibu mertuanya. Myungsoo? Dia sedang mengadakan tur konser di Jepang bersama dengan member Infinite yang lain.

'Kapan pria menyebalkan itu kembali? Apa dia tidak tahu jika sebentar lagi anaknya akan lahir. Dasar menyebalkan bahkan dia tidak menghubungiku hari ini... Tunggu, aku tidak sedang merindukannya bukan? Tidak, mana mungkin aku merindukannya. Mungkin ini efek dari orang hamil dan anaknya yang sedang merindukannya bukan aku.' Taeyong menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menepis semua pikiran anehnya.

"Kau kenapa nak? Apa butuh sesuatu?" Ibu mertuanya yang melihat hal itu bertanya kepada Taeyong. Hanya Ibu mertuanya yang bersama Taeyong saat ini Ibunya sedang ke kantin untuk membeli makanan.

"Tidak Bu, aku tidak apa-apa." Taeyong malu karena ketahuan sedang bertingkah aneh oleh ibu mertuanya.

"Aaaahh." Taeyong tiba-tiba merasakan sakit di perutnya.

"Taeyong kau kenapa nak?" Nyonya Kim khawatir melihat keadaan Taeyong yang sedang memegang perutnya.

"I-ibu ini sangat sakit." Taeyong hanya bisa merintih kesakitan.

"Apakah ini sudah saatnya? Tunggu sebentar aku akan memanggilkan Dokter dan juga Ibumu." Nyonya Kim langsung keluar dari kamar dimana Taeyong berada untuk memanggil Dokter.

Myungsoo baru saja mendarat dan ia langsung bergegas menuju rumah sakit setelah mendapat kabar dari ibunya, ia tidak mempedulikan keadaannya yang sangat lelah seusai tur konser di Jepang.

Sesampainya di rumah sakit Myungsoo langsung berlari menuju ruang operasi. Disana sudah berkumpul keluarganya dan juga keluarga Taeyong bahkan adiknya dan juga kakak perempuan Taeyong juga turut hadir. Myungsoo segera menghampiri mereka semua.

"Bagaimana keadaannya?" Myungsoo masih mengatur nafasnya, tidak lupa dia melepaskan topi serta masker untuk penyamarannya tadi. Myungsoo juga sempat mengganti pakaiannya di mobil karena tidak aman jika ia menggunakan pakaian yang sama dengan di bandara karena orang-orang akan mudah mengenalinya.

"Dokter sedang berusaha menanganinya Myungsoo-ah." Jawab Ayah Taeyong.

Hanya keheningan yang terjadi setelah itu, semua orang sedang berdoa untuk keberhasilan operasi yang sedang dijalani Taeyong. Myungsoo merasa bersalah karena tidak dapat menemani Taeyong selama proses bersalin, Myungsoo juga merasa bersalah karena hampir satu bulan ini dia jarang sekali bertemu dengannya dikarenakan jadwal tur konser Infinite di Korea dan di Jepang yang terlalu padat. Mereka hanya berkomunikasi melalui telepon hanya pembicaraan singkat yang selalu diakhiri dengan perdebatan kecil di antara mereka berdua, bahkan Myungsoo lebih memilih untuk menanyakan kondisi Taeyong kepada Ibunya ataupun Ibu mertuanya.

Cklek

Semua mata memandang ke arah pintu ruangan operasi yang dibuka oleh Dokter Cha, mereka semua menghampiri Dokter itu.

"Bagaimana Dokter? Apakah operasinya berhasil? Bagaimana keadaan menantuku?" Tanya Ibu Myungsoo.

"Operasinya sukses, kalian dapat melihatnya secara bergantian." Semua yang mendengar perkataan Dokter Cha dapat bernapas lega.

"Nak kau masuklah dulu." Ayah Taeyong menepuk pundak Myungsoo. Myungsoo tersenyum dan mengangguk sebagai tanda persetujuan.

Myungsoo sudah memakai pakaian yang diberikan oleh salah satu Suster. Myungsoo dapat melihat Taeyong yang sedang terbaring beserta seorang bayi dalam pelukkannya.

"Hei..." Myungsoo sudah berada di sebelah ranjang Taeyong.

"Kau sudah datang... Lihatlah dia sangat mirip sepertimu." Myungsoo dapat melihat senyum kelelahan di wajah Taeyong.

Myungsoo berlutut melihat anaknya yang sedang nyaman dipelukan sang Ibu, dia tidak menyangka jika dia sekarang telah menjadi seorang Ayah. Taeyong benar bayi ini sangat mirip dengannya.

"David... Namanya adalah Kim David." Tanpa terasa air mata Myungsoo mengalir begitu saja.

"Maaf karena aku tidak bisa menemanimu ketika melahirkan, maaf karena aku telah mengacaukan hidupmu, maaf atas semua kesalahanku kepadamu... Terimakasih karena kau tidak jadi menggugurkannya saat itu, terimakasih karena kau telah berjuang melahirkannya ke dunia ini dan selamat ulang tahun maaf aku telat mengucapkannya." Myungsoo tersenyum kepada Taeyong dengan air matanya yang terus mengalir.

"Ah aku menjadi semakin membencimu." Taeyong tidak mengerti kenapa air matanya juga ikut keluar ketika mendengarkan kata-kata dari pria itu, bahkan dia tidak ingat jika kemarin adalah hari ulang tahunnya.

Perhatian mereka teralihkan kepada bayi mungil yang sedang tersenyum itu, sepertinya dia turut bahagia dengan kehadiran kedua orangtuanya disisinya.

End of Flashback

.

.

.

"Ya! Kim Myungsoo bangun! Ponselmu terus berbunyi sejak tadi."

Taeyong sedang berusaha membangunkan Myungsoo karena ponsel pria itu selalu berbunyi sejak tadi, Manajer dari pria itu sejak tadi meneleponnya tetapi pria itu tidak terusik dari tidurnya sama sekali.

Taeyong tahu jika Myungsoo paling tidak suka jika ada yang membangunkannya dari tidurnya. Ia heran kenapa pria itu sangat susah sekali untuk bangun pagi bahkan Taeyong dan David sudah menyelesaikan sarapan mereka tanpa Myungsoo. David sedang menonton kartun kesukaannya di ruang santai sementara dia sedang berusaha membangunkan 'suami'nya itu.

Ini adalah hari ketiga dan hari terakhir Taeyong berada disini sebelum dia kembali ke rutinitasnya sebagai seorang Idol. Kemarin Taeyong menghambiskan waktu seharian bersama David di apartemen Myungsoo sedangkan pria itu kembali sibuk dengan jadwalnya bersama dengan Infinite dan juga kegiatan syuting drama terbarunya. Taeyong mengira pria itu tidak akan pulang dan akan tidur di dorm Infinite tapi nyatanya Myungsoo pulang ke apartemennya saat tengah malam.

Taeyong memutuskan untuk mengirim pesan ke Manajer Myungsoo jika pria itu masih tertidur, dia akan mengirim pesan sebagai adik Myungsoo. Hal itu sudah sangat sering ia lakukan sejak dulu jika Myungsoo sulit dibangunkan dan Myungsoo tidak pernah keberatan akan hal itu, sebaliknya dia selalu berterimakasih kepada Taeyong.

"Hei Kim bangunlah kau tidak tahu jam berapa sekarang? Bahkan aku dan David sudah menyelesaikan sarapan kami." Taeyong tetap mengomeli Myungsoo, dia tidak peduli jika pria itu akan marah kepadanya.

"Sebentar lagi eomma~" Myungsoo membalikkan badannya dan memunggungi Taeyong.

"Ya! Aku bukan eommamu, cepat bangun." Taeyong memutuskan untuk kembali naik ke ranjang untuk menarik selimut dan guling yang sedang dipeluk oleh Myungsoo.

Grep

Myungsoo tiba-tiba saja menariknya dan memeluknya begitu saja. Taeyong yang belum siap dan kehilangan keseimbangannya berakhir menjadi guling Myungsoo. Ia terdiam sejenak, untuk pertama kalinya ia merasakan pelukan Myungsoo walaupun karena ketidak sengajaan tetapi Taeyong merasa nyaman dalam pelukan pria itu.

'Tidak... Tidak... Apa yang sedang aku pikirkan. Lee Taeyong sadarlah!' Taeyong berusaha menyadarkan dirinya sendiri.

"Ya! Kim Myungsoo lepaskan! Aku bukan gulingmu!" Taeyong berusaha melepaskan pelukan Myungsoo yang sangat erat itu, bahkan dia sudah berusaha mengerahkan semua tenaganya tetapi tenaga pria itu lebih kuat darinya. Taeyong hanya bisa pasrah.

Myungsoo membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah Taeyong yang berada di dalam pelukkannya.

"Akhirnya kau bangun, sekarang lepaskan!" Ujar Taeyong dingin.

"Ah maafkan aku." Myungsoo yang mulai sadar dengan apa yang terjadi segera melepaskan pelukannya.

"Mommy apa Daddy sudah bangun? Kenapa lama sekali~" David menghampiri mereka dan naik ke ranjang. Myungsoo sudah melepaskan pelukannya kepada Taeyong.

"Daddymu sangat susah sekali dibangunkan sayang dan dia baru saja bangun." Jawab Taeyong dengan memeluk David yang ikut membaringkan tubuhnya diantara mereka berdua.

"Karena Daddy tidak bangun tadi David dan Mommy sarapan duluan tanpa Daddy. Daddy sih gak bangun-bangun jadi kami tinggal saja." Ucap David dengan ekspresi yang lucu yang membuat kedua orangtuanya tertawa karenanya.

"Benarkah? Kenapa David tidak membangunkan Daddy saja tadi, kalian tega sarapan tanpa Daddy." Myungsoo berpura-pura merajuk kepada David.

"Kata Mommy biarkan saja Daddy tertidur karena Daddy sedang capek, jadi David tidak jadi membangunkan Daddy." David masih bercerita dengan antusias kepada Myungsoo.

"Wah benarkah? Mommymu sangat perhatian kepada Daddy~" Taeyong yang mendengar itu hanya memutar bola matanya.

"Sudah sudah... Waktunya Daddy untuk mandi. David temani Mommy untuk berkemas-kemas ya." David mengangguk mendengarkan ucapan Mommynya. Mereka semua kembali ke aktivitas mereka masing-masing.

Myungsoo sudah selesai mandi dan menyelesaikan sarapannya. Saat ini mereka semua sedang bersiap untuk mengantarkan David ke rumah orangtua Myungsoo. Karena Taeyong juga mendapatkan telepon dari Manajernya terpaksa ia harus kembali ke dorm siang ini juga.

David tidak pernah protes kepada kedua orangtuanya karena Nenek dan Kakeknya mencoba untuk membuat anak itu mengerti kenapa orangtuanya jarang bertemu dengannya. Setidaknya David dapat melihat wajah kedua orangtuanya walaupun tidak secara langsung melainkan melalui video call, bahkan David juga tahu Mommy dan Daddynya sering tampil di tv.

.

.

.

Mereka bertiga sudah sampai di kediaman keluarga Myungsoo dan mengantarkan David kedalam rumah itu.

"David tidak boleh nakal kepada Nenek dan Kakek ya." Taeyong menasehati anaknya dan tidak lupa mengecup pipi gembul David.

"Mampirlah dulu nak." Ujar Ibu Myungsoo.

"Maaf Bu kami tidak bisa berlama-lama disini karena Myungsoo sudah ditunggu oleh Manajernya dan aku juga tiba-tiba mendapatkan panggilan dari Manajerku untuk segera kembali ke dorm. Sekali lagi maafkan kami Bu." Ujar Taeyong yang sedang memeluk Ibu mertuanya itu.

"Ah tidak apa-apa Ibu mengerti." Nyonya Kim tersenyum maklum.

"Ibu kami pamit. Jagoan jangan nakal ya." Ujar Myungsoo kepada Ibunya dan juga David.

Mereka berdua sudah meninggalkan kediaman keluarga Kim menuju tempat tujuan mereka masing-masing.

"Turunkan aku." Myungsoo yang sedang menyetir menoleh ke arah Taeyong.

"Apa maksudmu?" Myungsoo bingung dengan maksud Taeyong.

"Turunkan saja aku, aku bisa naik taksi."

"Jika kau khawatir kita akan terlihat oleh orang lain itu tidak akan terjadi karena kaca mobilku hitam, aku juga tidak akan menurunkanmu langsung di depan gedung apartemen itu dan jika kau mempermasalahkan arah dorm kita yang berlawanan kau tidak usah memikirkan hal itu. Aku akan tetap mengantarkanmu." Ujar Myungsoo karena dia sangat tahu apa yang sedang berada dipikiran pemuda itu. Taeyong hanya diam jika sudah begitu.

Taeyong sudah sampai di dormnya. Seperti yang dikatakan Myungsoo, pria itu menurunkannya tidak jauh dari gedung apartemen tempat dorm NCT berada agar tidak dicurigai oleh orang lain. Ia tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada pria itu.

Taeyong baru saja masuk ke dorm mereka diherankan dengan kehebohan teman-temannya.

"Hyung... Lihatlah anak ini sangat mirip dengamu hyung. Dia seperti mini Taeyong." Haechan berkata kepada Taeyong.

"Katanya dia salah satu model SM Kids ya? Wah kalian bisa bertemu tuh Hyung." Doyoung juga ikut heboh.

"Wuah~ ada yang berkata jika dia anakmu dengan L hyung loh hyung. Karena jika dilihat anak ini memang memiliki wajah seperti perpaduan kalian berdua." Ten ikut menimpali perkataan teman-temannya yang lain.

Deg

Perkataan Ten membuat Taeyong berhenti bernafas seketika.

'Tidak mungkin yang mereka maksud David kan.'

"Apa maksud kalian semua, aku tidak paham. Mana fotonya? Siapa nama anak itu?" Jawab Taeyong setenang mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan terhadap dirinya.

"Namanya David hyung."

.

.

TBC

.

.

Thanks to:

Johntenny, tieneelau, mybestbaetae, Shim Yeonhae, restiana, ChiminChim, ryeong9 na, NitaNElf, Yuta Noona, JLuna Yoolie99, hanicp, Mifta Jannah, lutfiah24k, Nikeisha Farras, Rina Putry299, iamjcks, ki, bbbbeat, peachpetals, askasufa, Tikha Semuel RyeoLhyun, meatball27, JaeMinhyung, binwoo16, livanna shin, chanbaek mp.

Terimakasih buat semua yang sudah baca, review, fav & follow Our Secret~ ditunggu lagi review dari kalian semua xD

Maaf updatenya agak lama *bow* di flashbacknya konfliknya dibikin gak terlalu berat dan maaf kalau alurnya kecepetan, awalnya pengen dibuat 2 chapter sih flashbacknya tapi gak jadi hahaha x'D *dihajar*

Chapter depan ditunggu aja ada apa~

Siders? Review please~~~