Naruto menatap tajam Shikamaru. "Kau tidak tahu…"
Kedua tangannya berpindah meremas kuat rambutnya. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika takdir jodohmu sudah ada dihadapanmu sementara kau baru mengenalnya!"
"A-apa maksudmu, Naruto?"
.
.
.
Takdir Benang Merah
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Fantasy
Rate : T
Warning: Alur laju, typo atau miss typo, OOC.
.
.
Naruto membuang pandangannya ke arah lain. Pikirannya sudah tidak selaras lagi dengan hatinya. Mau jawab apa ia dengan pertanyaan Shikamaru tersebut? Tidak mungkin kan ia akan bilang kalau ia mendapat keajaiban dapat melihat jodohnya? Memangnya Shikamaru akan bilang 'Wah benarkah?'
Yang benar saja.
Pemuda berambut nanas itu hanya percaya dengan hal-hal yang bisa dipahami secara logika. Yang masuk akal. Bukan mitos yang bahkan tidak bisa dibuktikan dengan nyata.
"Naruto, jangan diam saja! Kau harus menjawab pertanyaanku!" tiba-tiba Shikamaru membentaknya lagi.
Sigh. Naruto mendengus kesal. Kalau dipikir lagi, percuma ia jelaskan semuanya kepada Shikamaru. Pemuda malas itu tidak akan percaya.
Naruto menatap Shikamaru dengan tatapan bosan. "Aku tidak mau mengatakannya padamu."
Shikamaru terdiam. Tidak. Ia hanya tidak habis pikir. Tidak tahukah Naruto kalau ia mengejarnya jauh-jauh sampai kelelahan karena mengkhawatirkan keadaan sahabat pirangnya itu? Tapi, dia bukanlah tipe yang suka mencari keributan. "Kenapa?" Tanya Shikamaru. Ia hanya ingin mencoba memastikannya.
Lagi-lagi Naruto membuang mukanya. "Karena kau tidak akan mengerti."
Shikamaru menatap sahabatnya itu lekat-lekat. Sejak kapan Naruto jadi suka menyembunyikan masalah darinya? Walaupun Shikamaru ingin sekali hidup tenang. Tapi membiarkan sahabatnya terlarut dalam masalah, sama sekali bukan gayanya.
"Hei Naru—"
"Ini masalah yang berbeda. Kau tidak perlu ikut campur." Potong Naruto cepat. Dan Shikamaru hanya bisa terdiam lagi.
Baiklah. Kali ini Naruto yang menang. Mungkin memang bukan saatnya ia menyentuh topik itu sekarang. Dan mungkin Naruto berusaha untuk menyelesaikannya sendiri tanpa bantuannya.
Shikamaru memijit keningnya. Ia sudah lelah bicara dengan sahabatnya itu. "Terserah kau saja."
Dan tanpa membalas apapun, Naruto pergi begitu saja, menjauh dari pandangannya. Tapi Shikamaru tidak suka orang-orang pergi darinya tanpa mengatakan apapun. "Hei kau mau kemana?" Tanya Shikamaru.
Naruto menghentikan langkahnya. "Ke toilet." Jawabnya.
"Jangan lama-lama. Semua siswa harus masuk tepat waktu jam 10 nanti."
"Aku tahu."
.
.
.
"Tidak! Sekalipun tahu, aku tidak peduli! Lebih baik aku mengurung diri disini daripada bertemu dengan gadis itu!"
Naruto menjambak rambutnya kuat. Hatinya menangis. Kenapa tuhan berikan ia keajaiban seperti ini? Mampu melihat siapa jodohnya? Ia sama sekali tidak menginginkan itu!
Ia akui kalau ia sangat mempercayai bahwa takdir cinta sejati itu benar-benar ada. Tapi jika ia dihadapi langsung dengan jodohnya…
…bisa apa ia?
Ia bahkan baru mengenal gadis yang benang merahnya terhubung padanya itu.
Dan jujur, Naruto masih belum mengerti. Saat ia menggenggam tangan Hinata untuk membantunya naik ke atas tembok, tiba-tiba saja benang merah itu muncul. Benang merah itu saling terikat dijari mereka. Menghubungkan 'takdir' mereka.
Seperti yang dikatakan sepupunya kemarin. Dua insan yang saling terhubung melalui benang merah adalah takdir cinta abadi. Pasangan hidup yang akan bersama sehidup semati.
Bukankah itu berarti Hinata adalah pasangan hidupnya nanti? Istri masa depannya?
Naruto serasa ingin meledak sekarang juga. Dia yakin sekali pikirannya sudah tidak waras lagi. Seharusnya ia tidak memiliki keajaiban ini. Naruto merutuki dirinya berkali-kali. Untuk apa tuhan? Untuk apa?
Naruto menjatuhkan pandangannya ke arah jarinya. Tatapannya berubah sendu.
Benang merah yang terikat itu…
…untuk apa itu baginya?
Agar ia bisa mengetahui bahwa Hinata adalah jodohnya?
Tapi itu justru membuatnya ingin menghindari Hinata.
Ah, pikiran Naruto benar-benar kacau. Otaknya hanya dipenuhi oleh kalimat 'Hinata adalah jodohnya'.
Hinata adalah jodohnya.
Hinata adalah jodohnya.
…jodohnya.
.
Akh! Naruto menjambak rambutnya lagi dengan sangat kuat. Ya ampun, membayangkannya saja sudah membuat ia stress. Apalagi jika membayangkan kalau ia dan Hinata…
…akan berpacaran…
kencan…
menikah…
dan melakukan hubungan seks—
BLUSH!
Naruto memukul-mukul kepalanya ke dinding.
Tidak. Tidak. Kenapa ia tiba-tiba memikirkan hal-hal semacam itu? Memalukan!
Dia tidak bisa menerima hal itu begitu saja. Ia baru bertemu Hinata tadi pagi. Dan terlebih…
…ia tidak memiliki perasaan apapun pada gadis itu.
Kenapa tuhan? Kenapa?
.
.
.
"Tenang Hinata, tenang. Tidak akan ada yang terjadi selama kamu masih menjadi dirimu sendiri."
Hinata. Gadis bersurai indigo itu tengah menatap pantulan dirinya di cermin. Berusaha menetralisirkan emosi yang tertera di wajahnya.
Ah setetes peluh menuruni pelipisnya.
Tangan mungilnya pun bergerak memutar kran air, dan membasuh wajahnya berkali-kali. Dan ia kembali memandangi dirinya di cermin itu lagi.
Alisnya bertautan. Hinata tidak yakin apakah yang ia lakukan saat ini benar atau tidak. Yang jelas, ada sebagian kecil hatinya menyuruhnya untuk berada di tempat itu.
Salah satu tempat yang bagus untuk bersembunyi. Itu menurutnya.
Tapi, tunggu dulu. Untuk apa ia bersembunyi? Mengurung diri di toilet perempuan disaat para siswa berada di kelas bukanlah hal yang bagus. Apa dirinya belum jera setelah keterlambatannya yang nyaris tadi?
Tidak. Hatinya tersenyum mantap. Inilah yang seharusnya ia lakukan. Ia hanya belum siap bertatap muka dengan pemuda pirang itu. Si Uzumaki Naruto.
Hinata hanya merasa tidak enak hati. Tingkah Naruto tadi terkesan seperti menjauhinya. Aku salah apa? Aku tidak berbuat hal-hal yang aneh kan? Timbul pertanyaan dibenak Hinata.
Naruto bahkan tidak berani menatapnya. Pemuda itu selalu membuang muka saat pandangan mereka bertemu.
Apa Naruto takut padaku?
Tidak. Itu pertanyaan bodoh, Hinata. Anak kecil saja bisa menyakitimu jika mereka mau. Jadi, sudah jelas bukan itu penyebabnya.
Lalu karena apa?
Segelumit tanda tanya itu malah membuat Hinata semakin enggan bertemu Naruto. Di tidak mau menerima kenyataan bahwa Naruto benar-benar menjauhinya.
Tapi apalah daya.
Mereka berdua sekelas. Duduk sebangku. Dan itu bisa jadi dalam waktu yang lama.
.
"Wah beruntung sekali guru kelas kita bukan Anko-sensei."
"Iya, kamu benar."
"Ngomong-ngomong, kelas berapa yang diajari oleh Anko-sensei?"
"Kalau tidak salah sih kelas 11 B."
.
'T-tunggu, aku tidak salah dengar kan?' batin Hinata panik setelah tidak sengaja mendengar pembicaraan dua gadis yang baru masuk ke toilet.
Kelas 11 B?
K-kelas 11 B?
'I-ITU KAN KELASKU!'
Hinata mengepalkan kedua tangannya yang mulai bergetar. Ia ketakutan.
Tidak. Ini gawat! Anko-sensei itu guru yang ganas! Jangan sampai Hinata telat masuk di kelas guru itu!
Dengan takut-takut Hinata melihat jam tangannya.
'Aku…telat sejam ya…hahaha' batin Hinata. Menangis.
Tamatlah riwatnya.
.
.
.
BRAK!
BRAK!
"Maaf sensei! Aku terlambat!"
"Maaf sensei! Aku terlambat!"
Suasana kelas mendadak sunyi. Siapapun pasti akan kaget ketika mendengar kedua pintu di kelas terbuka tiba-tiba.
Semua yang di sana menatap heran ke arah kedua pintu secara bergantian. Di setiap kelas memang terdapat dua pintu, masing-masing berada di depan dan di belakang. Yang mengejutkan itu, kedua pintu terbuka bersamaan. Siapakah gerangan yang masuk kelas jam segini?
Ah ternyata ada dua siswa yang terlambat masuk kelas. Bukan hanya kompak saat membuka pintu dengan kasar. Suara mereka yang menggema di kelas juga berada di gelombang yang sama.
Kedatangan dua siswa yang kelewat terlambat itu menjadi pusat perhatian di kelas. Mulai terdengar bisik-bisik halus di sana-sini. Seperti, "Mereka siapa?" "Kenapa telatnya barengan?" "Bukankah itu Uzumaki?" "Gadis itu siapa?" "Bukankah mereka duduk sebangku?"
Menyadari bahwa mereka menjadi pusat perhatian, sontak keduanya saling melempar pandangan. Raut kaget jelas menghiasi wajah mereka. Tatapan yang mereka berikan seolah-olah berkata 'Ternyata kau!' dan keduanya diam tak berkedip barang sedikitpun.
"Wah wah, kejadian langka apa ini." Suara lantang nan tegas milik seorang wanita bersurai ungu memecah keheningan. Langkah kaki dengan sepatu tinggi itu menambah tegangnya suasana. "Uzumaki dan Hyuuga." Merasa dipojokkan, keduanya cepat menoleh dengan gugup ke arah wanita yang kini berada di tengah antara mereka.
Anko-sensei. Bergitulah sebutan murid-murid kepada wanita itu. Cengiran ganas pun muncul di bibirnya yang merah mencolok. Satu persatu diliriknya tajam kedua anak didik barunya itu. Keduanya masing-masing masih berada di pintu kelas.
Guru yang baru menjabat satu tahun itu melototi pemuda yang ada di sebelah kanannya. "Uzumaki Naruto!" Bentaknya. Yang dibentak lantas memperbaiki caranya berdiri, merapatkan lengan dan kakinya. Lehernya menggigil sampai ia tak sanggup berkata-kata.
Ia masih keukeuh dengan posisinya, berdiri di antara celah pintu yang berada dekat dengan meja guru. Pemuda dengan enam goresan dikedua pipinya itu takut membalas tatapan gurunya, dan berakhir diguyur keringat dingin.
Lalu kepala Anko-sensei bergerak menoleh ke kiri. Pandangannya menjadi sedikit lembut. "…dan Hyuuga Hinata." Dengan suara yang lebih halus dari sebelumnya. Anko-sensei dengan jeli memperhatikan gerak-gerik waspada Hinata yang malah terkesan lucu dimatanya.
Naruto diam-diam mencuri kesempatan melirik Hinata, dan—
DEG!
Ternyata Hinata juga melihat ke arahnya, sontak keduanya segera membuang muka.
Anko-sensei menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Dari mana saja kalian sampai berani telat di kelasku?" suara lantang itu bergema lagi. Menambah kegugupan kedua muridnya yang mungkin akan dijadikan sasaran amukan.
"Aku dari toilet."
"Aku dari toilet."
Keduanya menjawab dengan serempak. Mendengar itu, bukan hanya Naruto dan Hinata yang kaget karena ternyata mereka berdua dari tempat yang sama. Tapi juga senyuman jahil yang mulai menghiasi wajah Anko-sensei.
Siapapun pasti akan berpikiran yang tidak-tidak setelah mendengar jawaban Naruto dan Hinata. Disamping mereka telat dan datang bersamaan, keduanya juga sama-sama dari toilet. Pikiran nakal jelas tentu menjalar di otak Anko-sensei. "Dari toilet ya…" ia menghembus pelan jari-jarinya yang lentik.
"Apakah kalian melakukan hal yang tidak senonoh?"
JLEB!
Bagaikan ditusuk ribuan anak panah. Baik Naruto ataupun Hinata, keduanya tak menyangka guru mereka akan berpikiran seperti itu. Oh ayolah, mereka memang sama-sama dari toilet, tapi alasannya justru untuk menghindari satu sama lain. Bagaimana bisa mereka melakukan hal senonoh sementara keduanya enggan bertatap muka?
"T-tentu saja tidak!"
"Tentu saja tidak!"
Lagi-lagi keduanya menjawab di detik yang sama. Naruto meringis dalam hati, bagaimana bisa Hinata mengikuti perkataannya? Ia bahkan tidak bisa menahan semburat merah yang mewarnai pipi tannya itu. Bukan karena gugup dengan adanya Hinata yang telat bersamaan dengannya, tapi karena pertanyaan Anko-sensei malah membuatnya mengkhayal yang tidak-tidak. Karena mengingat Hinata 'mungkin' menjadi istri masa depannya.
Tidak, tidak. Naruto cepat menggelengkan kepalanya. Kalau ia masih berpikiran seperti itu, berarti ia tidak ada bedanya dengan pamannya yang mesum.
Sedangkan Hinata merungut menahan rasa malu. Ia tidak biasa berada di posisi yang genting seperti ini. Kegugupannya semakin bertambah-tambah karena banyak tatapan mata mengarah kepadanya, terlebih tidak ada satupun yang ia kenal di kelas itu. Perombakan kelas ternyata bisa semengerikan ini. Pikirnya.
"Seperti yang kalian tahu, murid-murid yang melakukan pelanggaran di depanku tidak akan lolos dengan selamat." Anko-sensei meraih tongkat panjangnya dan menghantamkannya ke lantai. Bukan hanya Naruto dan Hinata yang bergidik ngeri melihatnya, semua yang disana juga memasang wajah takut. "Anko-sensei akan memukul mereka?" "Mereka kasihan." "Ternyata berada di kelas ini mengerikan." Mulai lagi terdengar bisikan dari para siswa.
Anko-sensei berdecak pinggang. "Tapi, karena kalian berada di garis murid istimewa. Aku tidak akan melukai fisik kalian."
Huh?
Mata Hinata yang tadinya menyipit, sekarang terbuka lebar. Murid istimewa? Jujur, Hinata baru mendengar hal tersebut.
"Sekarang ikut aku keluar." Perintah Anko-sensei. Keduanya pun mau tak mau harus mengikuti ucapan guru mereka tersebut.
BAM!
Kedua pintu tertutup keras menyisakan murid-murid lainnya yang dilanda kebingungan. Bagaimana bisa mereka bebas dari amukan sensei? Lagi pula apa itu murid istimewa? Berbagai macam tanda tanya memenuhi pikiran mereka.
Nah, abaikan itu.
Naruto dan Hinata harus siap kapan saja menerima hukuman dari guru mereka. Anko-sensei menyuruh mereka untuk berdiri tegap di luar kelas. Keduanya berdiri bersampingan.
"Rentangkan tangan kalian kedepan."
Naruto dan Hinata pasrah mengikuti perintah Anko-sensei. Mungkin mereka tidak akan dihukum dengan kekerasan fisik. Lalu, apa yang akan Anko-sensei lakukan?
Anko-sensei mengangkat tongkat panjangnya ke hadapan Naruto dan Hinata. "Panjang tongkat ini adalah satu meter. Aku akan meletakkan tongkat ini di atas tangan kalian."
"Yang perlu kalian lakukan hanyalah menjaga agar tongkat ini tidak jatuh dalam waktu 20 menit." Langsung tergambar kebingungan di wajah Naruto dan Hinata.
Anko-sensei tersenyum jahil. "Menjaganya berdua." Ulang Anko-sensei dengan sengaja menekankan kalimat tersebut. Yang tentu saja membuat wajah Naruto dan Hinata merah memanas. Itu artinya mereka akan berduaan selama 20 menit kan? Ditambah, dengan panjang tongkat tersebut, malah akan mempersempit jarak mereka.
"Oh ya." Keduanya tersentak.
"Aku melakukan ini hanya khusus pada kalian. Ini karena garis keturunan kalian telah berjasa dalam pembangunan sekolah. Itu yang kudengar sih."
Baik Naruto dan Hinata, keduanya hanya manggut-manggut tanda paham. Bukan masalah 'murid istimewa' yang harus mereka pikirkan. Tapi bagaimana caranya bisa bertahan dengan situasi saat ini?
"Ah jangan tegang begitu. Harusnya kalian senang bisa kuberi waktu berduaan seperti ini." Ucap Anko-sensei seraya mengangkat bahunya. Ia senang sekali menggoda murid-muridnya ini.
'SENSEIII!' teriak keduanya dalam hati. Sudah cukup. Sudah cukup guru ganas itu mempermalukan mereka seperti ini.
"Ya ya nikmatilah!" seru Anko-sensei riang.
Ah, guru mereka itu. Benar-benar menyebalkan.
.
.
.
Entah kenapa waktu terasa berjalan sangat lambat. Naruto dan Hinata berusaha tetap keukeuh mempertahankan posisi mereka. Menjaga agar tongkat kayu yang menjadi hukuman mereka itu tidak jatuh dengan mudahnya.
Bulir-bulir keringat jatuh di pelipis Naruto. Ia tidak menyangka hal semacam ini terjadi dalam hidupnya. Berada disamping seseorang yang nantinya akan menjadi pasangan hidupnya membuatnya kehilangan kata-kata. 'Kami-sama, beri aku keberanian.'
Dan Hinata? Ia tak kalah gugupnya. Baru saja tadi ia berencana ingin menghindar dari Naruto. Tapi ternyata takdir berkata lain.
"Hei." Tiba-tiba suara Naruto memecah keheningan.
Sontak Hinata menjawab. "A-apa?" sial. Ia gagap karena suara Naruto mengagetkannya.
Naruto membuang pandangan dari Hinata. "Kau…tidak berpikiran yang aneh-aneh tentangku kan?"
DEG!
Kenapa Naruto bertanya seperti itu? Apa pemuda itu sadar tingkahnya tadi pagi pasti akan membuat Hinata berpikiran yang tidak-tidak?
Berusaha menyembunyikan kegugupannya. "T-tentu saja tidak." Jawab Hinata. Bagaimana mungkin ia akan bilang kalau Naruto benar-benar membuat pikirannya kacau?
"Begitu…" Naruto masih belum berani menatap Hinata.
Dan suasana hening itu kembali lagi.
.
.
"Hei." Kali ini suara Hinata yang mengganggu lamunan Naruto.
"A-apa?" jawab Naruto cepat. Ya ampun, gadis itu baru saja membuyarkan lamunan panjangnya.
Hinata meneguk ludahnya. "Sikapmu tadi pagi itu…bukan karena aku kan?"
DEG!
Sial! Kenapa pertanyaannya seperti itu? Naruto meringis kesal. Tidak mungkin Naruto menjawab kalau itu benar-benar karena Hinata, Karena benang yang terhubung dijarinya. Tidak. Naruto tidak mungkin menjawab seperti itu.
"T-tentu saja tidak." Naruto berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah lagi. Sekali lagi ingat, bukan karena ia gugup berada disamping Hinata, tapi karena bayangannya akan Hinata yang 'mungkin' menjadi istri masa depannya.
Hinata menghela napas, pura-pura lega. "Begitu…"
Dan lagi, suasananya hening kembali.
.
.
Huh?
Hinata mengerjapkan matanya berkali-kali. Sekilas memang, tapi ia yakin penglihatannya tidak salah. Benang merah yang terikat dijari Naruto ternyata berbeda dari kebanyakan orang yang dilihatnya sebelum ini. Bukan seutas benang yang terikat dengan pola pita.
Tapi benang merah panjang yang diikat mati. Yang diikat sekuat mungkin seolah-olah takut nantinya akan lepas. Dan yang membuat Hinata semakin kaget adalah benang itu melayang-layang ke arahnya seperti dihembus angin.
Tapi…memangnya itu bisa terjadi?
Disentuh saja tidak bisa, kenapa terhembus angin bisa?
Eh, tunggu dulu. Angin?
Hinata baru menyadari sesuatu yang janggal disini. Sama sekali tidak angin. Kelas mereka berada didalam gedung, dan posisi mereka sangat jauh dari yang namanya jendela atau elat elektronik penyejuk sekalipun.
Ternyata memang ada yang aneh dari Naruto. Dari awal kecurigaan Hinata memang tidak salah. Hinata mengangguk pasti.
Hinata mencoba melirik ke arah Naruto. Ah, pemuda itu masih saja membuang mukanya.
.
.
.
"Karena hanya kalian yang tersisa. Jadi kutugaskan kalian untuk berada di satu kelompok." Ucapan Anko-sensei serasa mengusik jiwa yang tenang.
Eh?
"Hanya berdua?"
"Hanya berdua?"
Untuk kesekian kalinya, Naruto dan Hinata selalu kompak saat membalas perkataan Anko-sensei. Mendengar itu, Anko-sensei tersenyum geli. Bagaimana tidak, dari tadi anak didiknya itu terus saja menunjukkan tingkah yang menggelitik perutnya. Makanya ia bahagia sekali bisa menggoda murid dengan tipe seperti Naruto dan Hinata.
"Ini juga salah kalian. Siapa yang suruh kalian untuk telat selama itu?" Anko-sensei bergerak untuk merapikan lembaran-lembaran kertas di meja. Mengabaikan tatapan iba buatan yang diberikan Naruto.
"Tugasnya tidak sulit kok. Hinata yang pintar dan Naruto yang sosialis pasti bisa melakukannya." Ucap Anko-sensei seraya menyerahkan selembar kertas tugas. "Ambil ini."
Tangan Hinata menggigil mengambil kertas tersebut. Apa ini? Mengerjakan tugas berdua bersama Naruto? Ah, kenapa nasibnya jadi seperti ini?
Anko-sensei segera meninggalkan ruangan kelas tersebut. Semua siswa sudah diperbolehkan pulang, karena hari pertama sekolah biasanya memang singkat. Jadi, tinggalah Naruto dan Hinata yang diam mematung.
"Jadi…bagaimana?" akhirnya Naruto mau memulai pembicaraan. Walau ia masih tidak mau melihat ke arah Hinata.
Hinata pun tampaknya enggan menatap Naruto. "Kita kerjakan sore ini. Aku tidak suka membuang-buang waktu."
.
Menyadari bahwa suasana hening yang muncul lagi itu tidak mengalami perubahan, Hinata pun angkat bicara. "A-aku pulang dulu. Ingat ya, sore ini di taman kota."
"Uhm…" Naruto mengangguk paham tanpa tahu ternyata gadis itu sudah meninggalkannya sendiri.
'Semoga semuanya berjalan baik-baik saja.'
.
.
.
Sore hari di taman kota benar-benar waktu yang cocok untuk melepaskan penat bagi sebagian banyak pekerja di sana. Banyak orang berlalu-lalang, berusaha menghibur diri mereka dengan memanfaatkan fasilitas rekreasi yang ada.
Di sanalah Hinata berdiri. Dengan dress ungu selutut yang dipadukan dengan cardigan putih, tampak sesuai bagi remaja seusianya. Mata bulannya tampak sibuk melirik ke sana ke mari, mencari-cari orang dengan kepala kuning.
Aish, ia lupa mengatakan kepada Naruto kapan dan dimana seharusnya mereka bertemu. Sekarang ia terus-terusan merutuki dirinya, bagaimana jika Naruto tidak menemukannya? Atau pemuda itu datang terlambat?
Sebenarnya, sekalipun pemuda itu tidak datang, sama sekali bukan masalah baginya. Ia masih bisa mengerjakan tugas itu sendirian. Tapi, ia hanya tidak mau mencari masalah lagi dengan Anko-sensei karena mereka tidak mengerjakannya bersama.
Yah, mungkin Hinata harus menunggu sebentar lagi.
.
"Kau menuggu lama?" tiba-tiba suara khas pemuda pirang yang ia tunggu mengagetkan Hinata.
Sontak Hinata memutar kepalanya. "Maaf…aku ketiduran tadi." Ucap pemuda itu kikuk. Ia memberikan cengiran malu-malunya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Seketika Hinata terkesiap. Baru kali ini Naruto kembali menatapnya. Bahkan tersenyum padanya.
Hinata merasakan sesuatu yang hangat mengalir di relung hatinya. Itu berarti Naruto benar-benar tidak menjauhinya kan? Ya kan? Hinata berusaha meyakinkan dirinya.
Perkataan Naruto seolah-olah telah meringankan beban dihatinya. Hinata pun menarik senyum simpul. "Tidak. Aku juga baru sampai."
Keduanya saling melempar senyuman, dimana keadaan yang semulanya beku telah cair oleh suasana yang hangat.
Ditengah momen yang indah itu, Hinata tidak menyadari bahwa benang merah yang terikat di jarinya perlahan memanjang.
.
.
.
Bersambung.
.
.
.
Yey akhirnya UPDATE!
Oke sip, pertama saya ingin berterima kasih yang sebesarnya kepada para pembaca yang telah mau meluangkan waktunya untuk membaca cerita yang makin abal ini. Terlebih bagi yang udah fav, follow, dan yang ngasih review. Saya juga menghargai silent reader (jika ada), karena terkadang saya juga termasuk diantaranya.
Chapter kali ini lebih panjang dari chapter sebelumnya. Dan menurut author, alur di chapter ini tampaknya lambat. Dan itu hanya agar pembaca tidak kehilangan 'feels' saat membaca.
Yosh, dari beberapa review ada yang memberikan pertanyaan dan saran. Dan berhubung author lagi sekarat kuota, ga sempat balas via PM, jadinya author akan merangkumnya secara garis besar aja.
Naruto memang bisa melihat benang merah, latar belakang dari itu akan diceritakan di chapter depan. Tapi penglihatannya beda dari Hinata. Hinata bisa melihat benang merah di jari semua orang. Sedangkan Naruto hanya bisa melihat benang merahnya dan Hinata yang terhubung. Alias ia bisa tahu bahwa Hinata adalah jodohnya. Bedanya Hinata ga bisa.
Ada yang bilang pengennya dikasih orang ketiga. Sebenarnya itu juga yang sempat author pikirkan sebelumnya. Tapi setelah dipikir ulang, memunculkan orang ketiga hanya akan menambah konflik yang baru. Jadi mungkin author hanya memunculkan orang-orang yang akan membuat salah satu dari mereka cemburu, namun bukan sebagai orang ketiga.
Oh ya, satu lagi. Maaf deh kalau tokoh utamanya pada OOC. Sebenarnya sih, Hinata itu suka malu-malu karena ia suka pada Naruto dan berhadapan dengan Naruto membuatnya tidak sanggup. Disini Hinatanya belum suka sama Naruto. Jadi tenang aja, ada saatnya kok :D
Seperti biasa, silahkan atuh reviewnya. Saran dan kritik sangat diterima.
Terima kasih.
