'Cause I'm Yours
Disclaimer : CAPCOM
Chapter 3 : Dekatimu
-Masamune's P.O.V-
Kakakku, Katakura Kojuuro terlebih dahulu pulang ke Jepang. Alasannya sih ada keperluan mendadak di tempat kerjanya. Aku mengerti kalau seorang dokter itu pekerjaannya sangat banyak serta sibuk, dan di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan pertolongan darinya. TAPI! Kenapa aku tak boleh ikut pulang?! Lalu, kenapa juga aku ditinggal berdua bersama Chosokabe-san?!
Sekarang tengah malam, udara pun mendingin. Shit! Aku benci udara dingin! Kurasakan tubuhku mulai menggigil. Aku harus menahannya, jangan sampai ketahuan olehnya kalau aku kedinginan, bisa-bisa dia memelukku lagi. But, damn! It's so cold!
"Masamune?"
Terdengar teguran darinya, aku hanya menoleh saja, tak merespon.
"Wajahmu pucat, kau pasti kedinginan," tebaknya.
Sial! Chosokabe-san menyadarinya. Punya kekebalan tubuh yang lemah memang merepotkan diri sendiri juga bagi orang lain.
"Mungkin kita mampir dulu ke cafe. Bagaimana?" ajaknya. Aku mengangguk saja. Mumpung ditraktir.
"Ayo." Chosokabe-san menggenggam kemudian menarik tanganku. Wh-what the...kenapa aku tak bisa melepaskan genggamannya!? Tangannya yang besar begitu hangat.
Sesampainya di cafe, tangan kami masih bertautan. Saat duduk, aku menarik tanganku dari sentuhan tangan Chosokabe-san. Dia sedikit terkejut akan tingkahku barusan, dia hanya tersenyum lalu memanggil pelayan.
"Kau mau pesan apa, Masamune?" dia bertanya.
"Coffe," jawabku cepat.
"Okay." lelaki itu pun memesan dua kopi menggunakan bahasa perancis.
"Masamune, aku ingin berkenalan lebih dekat dengan dirimu yang baru," sahut Chosokabe-san, menatapku ramah.
"Boleh." eh, basar bodoh! Kenapa aku malah berkata seperti itu?! Chosokabe-san tersenyum lebar menanggapinya. Ah, biarlah sudah terlanjur ini.
"Kau suka warna apa?" Chosokabe-san mulai membuka pertanyaan.
"Biru."
"Suka nonton film dan mendengarkan musik?"
Hanya anggukan sebagai responku.
"Biasanya genre seperti apa yang kau sukai, dari film maupun musik?"
"Musik, aku suka semua genre. Kalau film, genre action, adventure dan sci-fi."
"Seleramu bagus juga," pujinya.
"Chosokabe-san sendiri?" aku bertanya juga. Biasanya aku sering mencueki saja bila ada orang di dekatku.
"Di musik aku suka genre rock dan EDM. Film, action dan comedy," jawabnya.
"Oh," responku singkat. "Chosokabe-san," tegurku.
"Ya?"
"Kalau boleh tahu, kuliah jurusan apa?" aku bertanya lagi. Mungkin Kojuuro benar, aku harus mencari teman dan mulai bersikap terbuka ke orang lain.
"Teknik Elektro," responnya. "Kau mau masuk perkuliahan juga?" dia bertanya balik.
"Aku masih menimbang-nimbang hal itu."
"Tapi, keinginan untuk kuliah ada?"
"Ada sih. Hanya saja aku bingung jurusan apa yang sekiranya cocok untukku," jelasku.
Perbincangan kami terjeda sebentar, karena ada pelayan yang membawa minuman pesanan kami. Chosokabe-san meminum kopinya, begitupun aku. Hangatnya kopi menghilangkan rasa dingin di tubuhku.
"Soal jurusan sih, menurutku sesuaikan saja dengan bidang atau pelajaran yang kau kuasai. Ngomong-ngomong, kau kuatnya di pelajaran apa?" tanyanya, memulai obrolan kembali.
Kuletakan cangkir kopiku ke meja, lalu aku menjawab, "Sejarah, matematika, fisika dan bahasa inggris."
"Saranku, lebih baik kau teruskan jenjang pendidikanmu. Lumayanlah memperdalam dan mempertajam keahlianmu. Saat kau ingin bekerja nanti hal itu sangat berguna dan memudahkanmu di lapangan kerja."
Ucapannya ada benarnya juga sih, aku tak mungkin terus berdiam diri dan bergantung pada kakakku.
"Akanku pertimbangkan lagi. Terima kasih sarannya, Chosokabe-san."
Hm, berteman dekat dengannya tak terlalu buruk juga. Rasanya nyaman ketika berinteraksi bersamanya. Chosokabe-san orangnya baik juga, meski pada awalnya aku agak takut padanya.
Chosokabe-san menatapku lekat, tanpa seizinku dia menyentuh tangan kananku.
Dia berkata, "Katakura bercerita padaku, kau itu tidak punya teman satupun. Alasan kau menutup diri itu kenapa?"
Pertanyaan seperti ini yang kuhindari. Terkadang malas untuk menjawabnya, percuma memberitahu, toh jawabanku tak akan memuaskan mereka.
"Masamune?" panggil lelaki di hadapanku. "Ah, kalau kau tidak mau menjawabnya, tak apa kok."
Dari suaranya jelas dia kecewa akan sikapku barusan. Muncul perasaan tak enak. Ck! Kenapa jadi seperti ini sih. Padahal aku sering mencueki orang, namun ke pria ini rasanya lain.
Daripada merusak suasana, aku pun memberitahunya, "Alasannya hanya tak mau gabung dengan mereka saja. Mereka kebanyakan modus padaku. Dan aku tidak suka cara mereka melihatku, dibalik senyumannya orang-orang itu suka merendahkanku di belakangku, yang kebanyakan membicarakan fisik, yaitu mata kananku."
"Orang macam apa itu?" Chosokabe-san tampak geram mendengar penjelasanku.
"Memang begitu kenyataannya."
"Aku mengerti perasaanmu. Orang seperti itu jauhi saja, tak ada gunanya juga berteman dengan mereka."
"Ya, kau benar."
Lama-lama aku bosan berada di sini, jadi ingin cepat-cepat ke hotel dan tidur. Juga aku tidak suka suhu sekarang ini. Terlalu dingin.
"Masamune, kita kembali ke hotel, yuk," ajaknya. Tahu saja kalau aku ingin ke sana. Peka.
"Ok."
-End Masamune's POV-
Waktunya mereka beristirahat, tetapi rasa kantuk keduanya hilang begitu saja, mereka masih terjaga sekitar dua jam. Entah mereka gugup karena tidur sekasur, atau mungkin masih canggung ke satu sama lain.
"I can't sleep," gumam Masamune.
"Sama," sahut si pria satunya.
Sahutan itu membuat Masamune kaget, dan tahu-tahu Motochika sudah didekatnya. Dada Motochika menempel di punggung lelaki berambut coklat itu.
"Um...Chosokabe-san."
"Ada apa, Masamune?"
"Ada sesuatu yang mengganjal saat kita mengobrol tadi," kata Masamune.
"Mengganjal? Ceritakan saja, daripada itu menganggu pikiranmu," usul Motochika.
"Waktu itu kau pernah bilang 'menghilang selama 4 tahun' dan 'SMA Basara'. Lalu kau menyebut nama orang yang tak kukenal, I'm still don't get it. Memangnya kita pernah bertemu?"
"Iya, sejak SMA kita berteman...sangat dekat," ucap Motochika, "Keiji, Ieyasu dan Yukimura itu teman kita juga, mereka itu yang paling heboh dalam hal apapun."
"I want to meet them."
"Kau harus bertemu mereka. Semenjak kau menghilang tanpa kabar, teman-temanmu khawatir dan cemas, bahkan para guru maupun kepala sekolah sama cemasnya."
"Really? Sampai kepala sekolah?" Masamune penasaran dengan kehidupan sekolahnya yang dulu sebelum ia mengalami amnesia.
"Date Masamune. Murid paling cerdas di sekolah, populer, disukai guru, juga kau yang paling dekat dengan kepala sekolah."
Masamune tertegun mendengarnya, ada rasa bangga di hatinya. Lelaki ini tersenyum, dia tak menyangkan jika kehidupan sekolahnya semenarik itu.
Sementara itu, saat Motochika bercerita, hasrat ingin memeluk Masamune begitu besar. Lelaki beriris biru itu ingin sekali mengatakan 'Aku sangat merindukanmu'. Namun dia tahu, jika melakukan itu sekarang, Masamune akan merasa risih, dan mungkin saja langsung tak mau berdekatan dengannya lagi.
"Chosokabe-san sendiri, saat SMA seperti apa?" Masamune bertanya lagi.
"Hhmm...aku tergolong murid yang nakal, karena waktu itu bergabung dengan geng dan menjadi ketua gengnya, hehe," Motochika terkekeh kala menjawabnya. Masamune ikut tertawa pelan.
"Tapi jangan salah. Walau aku ketua geng, masalah pelajaran masih ke-handle dan nilaiku bagus," sambungnya membanggakan diri.
"Nakal tapi banyak akal," ujar Masamune menimpali perkataan Motochika.
"Nah, itu betul."
Suasana kembali sunyi, keduanya bingung mau membicarakan apa lagi. Juga, mereka belum ngantuk sedikitpun. Masamune sebenarnya ingin mengetahui lebih dalam masa lalunya, ada keinginan untuk bertemu keluarga aslinya.
Motochika mencari cara agar mengantuk, diambilah handphone yang tergeletak di meja. Dia meng-turn on kan benda itu, lalu melihat puluhan email dan ribuan obrolan di group chat-nya. Selama liburan, Motochika jarang mengecek group chat, isinya juga tak terlalu penting sih.
Drrtt drtt!
Satu pesan masuk, itu dari Maeda Keiji.
-Group Chat-
Cowo ganteng ya si Keiji namanya
Sepinyaaa~ gak bisa tidur, bete x'u
Ada yang masih melek mhank? :'u
C. Motochika
Hadeerrr
Btw, di Jepang jam berapa sekarang?
Nagamasa
Hadir. Di sini jam 11:20 PM
Yukimura (Harimau lepas)
Hadir. Sama ga visa vovok ('v')
C. Motochika
Anjay Yuki :v sejak kapan dikau jadi anak yimyam? :v
Yukimura (Harimau lepas)
Sejak Oyakata-sama jadi hovi vikin meme :v ane ketularan :v
Cowo ganteng ya si Keiji namanya
Demi semvuck Nobunaga aku tercengang Sanada :v
Wiiihh! Yang lagi liburan di Paris matanya masih melotot :v
Ini juga, si anak rajin Nagama'icih masih melek :v
C. Motochika
Iya nih. Ane gak bisa tidur, terlalu menikmati liburan di kota Paris. Anjaaaayyyy XD
Nagamasa
Menyenangkan pasti di sana. Aku jadi iri, Chosokabe. Gc ini sempat ramai karena topik liburanmu.
Yukimura (Harimau lepas)
Katanya livuran, tapi ko velum ada satupun foto yang ente upload? :/
C. Motochika
Yaelah, itu mah bisa nanti kali di-upnya -_- ane bukan cewe alay yang sekali jepret langsung upload :v
Cowo ganteng ya si Keiji namanya
Jangan-jangan liburannya bohongan :v
C. Motochika
Xibazeng... ane beneran ke Paris. Nanti deh kalo ane dah pulang, bakal tunjukin fotonya ke ente :V
Ieyasu
Kalo itu bo'ongan, siap-siap ente di-bully sama temen sekelas Bv
#TeamBully
Nagamasa
Aku ikutan, Ieyasu.
#TeamBully
Yukimura (Harimau lepas)
Ane juga ikutan mhank ('v')/
#TeamBully
Cowo ganteng ya si Keiji namanya
Yuuhuu... ikutan ah :v
#TeamBully
Ieyasu
Zeeeebb lah mhank Bv ane leadernya kalo gitu Bv
#TeamBully
C. Motochika
Anjriiit :"u jauhilah hamba dari orang-orang iri dan dengki, Tuhan :"u
Udah ah, ane mau off lagi, bye :'u
-end group chat-
Motochika mematikan lagi handphone-nya, sekalinya on dia malah di-bully, dan teman-temannya tidak yakin kalau dia benar-benar ke Paris. Motochika jadi memikirkan perkataan Yukimura di group chat itu. Ya, dia belum meng-upload satupun foto liburan ke akun sosial medianya, lelaki ini hanya sedang malas membuka akunnya saja. Dan di folder fotonya rata-rata menampilkan foto Masamune yang iseng dia potret, dan kebanyakan sedang berpose bertiga bersama Kojuuro. Jika dia meng-uploadnya, kemungkinan seluruh gruop chat dan teman semasa SMA nya akan super heboh.
Handphone-nya disimpan lagi, ia menengok ke Masamune untuk memastikan apakah mantan pacarnya sudah tidur atau belum. Ternyata lelaki di sebelahnya sudah terlelap. Satu mata birunya berat, dia juga ikut terlelap.
.
.
.
Taman Jardin du Luxemnbourg.
Keduanya kini tak saling canggung lagi, mereka pun saling menegur satu sama lain. Setidaknya hal ini untuk membuat Masamune tidak selalu menjadi pendiam. Dalam hati, Motochika berhasil menjalankan kedekatannya bersama Masamune. Ia harus melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu mencuri hatinya. Ia sadar, kalau hal itu sulit, dan kesempatan mendapatkannya sedikit dan kemungkinan gagal. Namun, Motochika optimis akan berhasil, apapun yang terjadi.
"Chosokabe-san?" Masamune melambai-lambaikan tangannya ke muka Motochika yang bengong.
"Ah! Ma-maaf..." Motochika jadi malu sendiri.
"What's wrong?" nada suara Masamune terdengar cemas.
"Tidak ada. Kau tak perlu khawatir," ucap Motochika.
"Sedang banyak pikiran?"
"Tidak juga, aku hanya tak fokus saja, dan jadinya kebanyakan bengong, hehe," responnya.
"Hhmm."
"Tamannya nyaman." Motochika berbasa-basi.
"Kau benar, betah juga lama-lama di sini," timpal Masamune.
"Jadi ada niatan pindah ke Paris nih, haha," canda Motochika.
Ucapannya barusan membuat Masamune ikut tertawa juga. Motochika pribadi yang menyenangkan dan suka bercanda, orang-orang di sekitar menjadi lebih nyaman dan hangat di dekatnya, termasuk Masamune.
"Chosokabe-san ap-"
"Panggil 'Motochika' saja. Agar terdengar lebih akrab," potong Motochika. "Barusan mau bilang apa?"
"Motochika, apa kau pernah bermimpi dengan mimpi yang sama setiap malam?" tanya Masamune.
"Belum pernah. Memangnya kenapa?" Motochika balik bertanya, topik pembicaraan semakin menarik.
"Aku mengalaminya sebelum ke sini. Setiap malam aku sering bermimpi sama. Dan di mimpi itu lokasinya selalu sama, lalu saat terbangun, pasti aku menangis," jelas Masamune.
"Lokasinya memang selalu di mana?"
"Belakang gedung sekolah."
DEG
Gedung sekolah...
"Terus, di mimpi itu selalu ada lelaki di depanku," lanjutnya.
"Lelaki?"
"Awalnya wujud lelaki itu blur, lama-kelamaan semakin jelas, tapi dia membelakangiku."
'Ah, sial! Yang benar saja...'
"Yang membuatmu menangis dari mimpimu itu apa?" Motochika penasaran.
"Jika kerap kali aku memanggilnya, suaraku menjadi parau, dan kalau lelaki itu menjauh, air mataku mengalir deras. Padahal aku tak tahu siapa dia. Aku penasaran, mimpi itu pertanda apa, ya?"
'Itu bukan mimpi...'
Motochika mencerna setiap untaian kalimat dari Masamune. Motochika seratus persen yakin, jika itu bukanlah mimpi belaka, yang Masamune lihat tersebut adalah nyata, yakni kejadian di masa lalunya, dimana Masamune merasakan sakit di hatinya.
"Masamune, apa kau merasa terganggu dengan mimpimu itu?" Motochika berkata serius.
"Terganggu sih, bosan juga mimpinya itu-itu terus," balas Masamune.
"Kau mau kopi?" tawar Motochika. Mengalihkan pembicaraan.
"Boleh." Masamune tersenyum.
"Tunggu di sini, aku beli dulu."
Motochika berdiri dan mulai melangkahkan kakinya untuk membeli kopi. Masamune memperhatikan dia berjalan, melihat punggung tegap lelaki itu menjauh.
Lelaki itu menjauh...
Semakin jauh...
Tiba-tiba rasa sakit menjalar di hatinya, Masamune mengeluarkan air mata. Hal ini persis di mimpinya, dia ingin memanggil nama pria itu, tetapi tenggorokannya tercekat. Masamune ikut berdiri, sedikit berlari ke arah Motochika.
GREP!
"-!"
Masamune meraih dan memeluk lengan kekar Motochika. "Jangan pergi..." ucap Masamune lirih.
"..." Motochika mematung mendengar suaranya yang begitu lirih.
"Mengapa..." tangisannya tak terbendung lagi, "Mengapa melihat punggungmu menjauh begitu menyakitkan...?"
Lengannya dipeluk erat, lelaki berambut coklat itu masih menangis. Ah, hal ini mengingatkan Motochika pada 4 tahun yang lalu.
Motochika tak mau lagi mendengar Masamune menangis, dia berbalik, Masamune menyadari gerakannya tersebut, dia secara refleks melepas pelukan di lengan Motochika. Yang selanjutnya Motochika lakukan adalah memeluk Masamune erat
"Itu karena..." lelaki bersurai perak itu berbisik.
"...Motochika..."
"Kau...begitu tulus mencintaiku..."
To Be Continued
A/N : Ane juga mau ikutan jadi #TeamBully si Ieyasu! *disambit jangkar*
Balasan Review :
Sanada Yuu Chacha : Ho'oh aduuhh~ ditinggal berdua di kota paling indah nan romantis, jadi iri... ahay XD gak kok si Kojuuro cuma sayang sama Masamune sebagai adik saja :3 arigatou reviewnya :D
Hyudate Sanata : Ini udah lanjut~ :3 yaoi itu emang ada manis sama asem-asem(?) gimanaaa gitu ya~ XD arigatou review dan fav nya :D
Asyifaanas13 : Ah, si Masamune kalo udah di tangan teteh bakal jadiin dia uke kawaii sama ultra tsundere eeaa *plak!* arigatou reviewnya :D
Ok, reader's review berisi kritik dan saran saya terima dengan senang hati :D
