Disclaimer: NARUTO dan semua karakternya adalah milik Kishimoto Masashi. Haru no Namida wo (Tears of Spring) adalah lagu milik dan dinyanyikan oleh Goose house.


Tears of Spring

by ytamano

.

.

Chapter 2

.

.

.

"…koboroteku haru no namida wo fuite…"

Sasuke menghentikan langkahnya, kedua alisnya mengerut. Apa ia memang mendengar apa yang baru saja tadi didengarnya?

"…nigitta te wo hanasu yo…"

Kedua alis hitamnya semakin dalam mengerut, menciptakan garis-garis halus pada dahinya.

"…tadoritsuita yume ga…"

Lirik ini… tidak salah lagi.

"…yondeiru kara…"

Salah. Akhir nadanya tidak seperti itu.

Tidak, tapi bahkan, nada-nada yang dinyanyikan seharusnya sama sekali bukan seperti itu.

Yang terdengar kemudian hanyalah senandung tanpa lirik, hanya nada-nada yang kadang terdengar familiar kadang juga tidak. Senandungan itu pun sontak berhenti ketika Sasuke membuka pintu di depannya, memperlihatkan sosok Sakura yang tengah mengelap meja dapur.

Wajah gadis itu pun menoleh padanya seketika mendengar suara pintu yang terbuka. Kedua mata hijaunya sedikit membulat melihat siapa yang berada di antara gagang pintu dan cepat-cepat gadis itu menegakkan badannya, kedua tangannya yang memegang kain lap tersembunyi di balik punggungnya.

"Sasuke-kun? Ada apa?" Gadis itu kemudian memperlihatkan senyumnya.

Sasuke hanya terdiam dan tak langsung menjawab saat ditanya, namun pandangannya lekat mengarah pada Sakura, membuat gadis itu memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain. Semburat tipis kemerahan menghiasi kedua pipinya.

"Tadi, apa yang kaunyanyikan?" Akhirnya Sasuke membuka suaranya.

Semburat merah di wajah gadis itu berubah semakin menebal. Rautnya pun terlihat kelabakan dengan matanya yang menatap kesana-kemari. Melihat itu, Sasuke menyadari bahwa gadis itu sangat memahami apa yang dimaksudnya.

seharusnya tidak ada orang lain yang tahu tentang lagu itu.

"Darimana kau tahu lagu itu?" tanya Sasuke kembali.

Sakura menoleh akhirnya menatapnya.

"Eh… aku…" Gadis itu nampak kehilangan kata-katanya.

"Selama ini kau diam-diam mendengarkanku?" –bernyanyi? Namun Sasuke tak membiarkan kata itu terucap keluar dari mulutnya.

Sakura tak menjawab, matanya kembali menatap kesana-kemari.

Sasuke juga tak melanjutkan kata-katanya, hanya membiarkan pandangan tajamnya terus melekat pada gadis itu.

Gadis itu pun akhirnya menyerah.

"Maafkan aku, Sasuke-kun!" Sakura berseru sambil membungkukan badannya dalam, tangannya yang masih memegang kain lap ditaruh di depan lututnya. "Apa yang tadi kaubilang itu benar, selama ini aku memang suka diam-diam mendengar Sasuke-kun bernyanyi di atap sendirian. Awalnya aku tidak sengaja mendengar tapi… tapi… lama kelamaan…aku—maafkan aku!"

Sasuke hanya diam tak membalas. Matanya masih terpaku pada sosok Sakura yang membungkuk.

Mendengar tak ada balasan sama sekali, Sakura akhirnya memberanikan diri kembali menegakkan badannya. Mata hijau mencoba menatap kembali pada sosok anak laki-laki di depannya namun sontak ia palingkan kembali mendapati betapa lekatnya iris mata hitam itu menatap dirinya. Ia pun menegukan ludahnya.

Hanya saja Sasuke masih saja membisu. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini—Sakura sama sekali tidak paham. Situasi ini benar-benar aneh. Ia pun lalu menghela napasnya.

"Maafkan aku, tolong jangan marah padaku. Aku sama sekali tidak berniat buruk," ucapnya kemudian. "Suaramu benar-benar bagus. Aku pikir kau memiliki bakat dalam bernyanyi. Lalu mendengarmu bernyanyi sebagus itu membuatku jadi ingin bernyanyi juga makanya…"

Sakura sadar bahwa ia hanya meracau—habisnya ia tak tahu lagi harus mengatakan apa.

"…Sasuke-kun? Tolong katakan sesuatu…"

Sasuke sempat diam sejenak sebelum akhirnya menghela napas. "…nyanyianmu itu menyebalkan."

Sakura menaikkan kedua alisnya. "Eh?"

"…nyanyianmu itu benar-benar menyebalkan. Suaramu jelek."

Gadis bermahkota merah muda itu hanya bisa menganga, kedua matanya sedikit melebar. Tak lama kemudian ia terkikik, lalu tertawa. Awalnya hanya perlahan saja, namun lama-lama ia sudah tidak bisa lagi menahan tawanya untuk tidak berubah lebih lepas. Ia pun mencoba menutup mulutnya dengan telapak tangan, namun ia masih saja tertawa. Setitik air mata nampak keluar dari ujung matanya yang menyipit.

Tawa itu akhirnya berhenti ketika Sakura mendapati tatapan yang sangat tajam dari anak laki-laki di hadapannya itu mengarah padanya.

"Ma-maaf, aku tidak bermaksud menertawaimu. Tapi aku pikir kau marah padaku tapi ternyata…"

Sasuke kembali menghela napasnya, "bukannya aku tidak marah…"

"Jadi kau memang marah?"

Laki-laki itu terdiam.

"Jadi kau itu marah atau tidak marah sih sebenarnya? Kalau kau tidak bilang dengan jelas aku tidak akan paham."

Sasuke masih terus menatap lekat iris hijau gadis di depannya tanpa bersuara, hingga akhirnya—akhirnya—ia memalingkannya ke arah lain dan berkata dengan pelan, "…kau itu benar-benar menyebalkan."

Gadis itu hanya tersenyum mendengarnya, membuatnya yang mendapati senyuman itu dari ujung matanya hanya bisa menaikkan alis.

"Ini pertama kalinya kita benar-benar saling berbicara satu sama lain, Sasuke-kun. Selama ini biasanya kau hanya mengabaikanku," kata Sakura kemudian, "aku benar-benar senang. Meskipun kau bilang aku menyebalkan sekalipun, aku tidak keberatan."

Semburat kemerahan pun kembali terlihat di wajahnya.

Sementara itu Sasuke sendiri tidak tahu harus mengatakan apa untuk menanggapinya, jadi dia hanya bisa terus terdiam. Pembicaraan ini baginya sudah mulai terasa aneh dan biasanya ia lebih memilih untuk menghindari atau melarikan diri dari situasi seperti ini. Akan tetapi saat ini ia sama sekali tidak bisa berkutik—kedua kakinya seakan terpaku pada lantai kayu di dapur itu.

"Sekali lagi aku benar-benar minta maaf selama ini sudah diam-diam mendengarkanmu bernyanyi," Sakura berkata. "Tapi aku juga tidak bohong waktu bilang suaramu sangat bagus. Aku juga suka sekali dengan lagu-lagu yang kaunyanyikan, tapi aku tidak pernah mendengar lagu-lagu itu sebelumnya. Aku coba cari di internet juga tidak ada. Sebenarnya itu lagunya siapa?"

"…bukan siapa-siapa," jawab Sasuke pelan.

"Kalau begitu apa lagu-lagu itu ciptaanmu sendiri?"

Laki-laki itu menggeleng, namun tak mengatakan apapun untuk menjelaskan lebih lanjut.

Sakura hanya bisa menghela napas dibuatnya. "Aku sama sekali tidak mengerti." Ia pun kembali membentuk sebuah senyuman di wajahnya. "Tapi yang aku tahu aku benar-benar menyukainya. Setelah beberapa kali aku mendengar kau menyanyikannya mereka seperti stuck di kepalaku dan kalau sudah stuck seperti itu aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menyanyikannya juga."

Sasuke kembali menatap Sakura dengan sebuah kerutan di antara kedua alisnya, "kau menyanyikannya dengan salah."

Gadis itu tertawa pelan sambil menundukkan wajahnya. "Haha, aku tahu. Lagu-lagunya memang stuck di kepalaku tapi sejujurnya aku juga tidak begitu hapal semuanya. Lagipula aku juga tidak bisa benyanyi karena seperti yang kau bilang suaraku memang jelek."

Sasuke membuka sejenak mulutnya seperti yang ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi ia lakukan ketika tak ada satu pun kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Untungnya Sakura sama sekali tidak menyadari gelagatnya. Gadis itu pun lalu berkata, "Maafkan aku kalau suaraku menyebalkan, tapi aku juga sama sekali tidak berniat untuk berhenti menyanyikannya meskipun kau mengatakan itu."

"Aku tidak bermaksud seperti itu," sahut laki-laki itu kemudian masih dengan kedua alis yang mengerut.

"Aku tahu. Aku hanya…" Sakura lalu menghentikan sejenak kata-katanya ketika gadis itu kembali menatap wajahnya, sebuah senyuman lebar terukir di wajahnya. "Ah, benar juga! Bagaimana kalau kau mengajariku bagaimana cara menyanyikannya dengan benar, Sasuke-kun?"

Kedua mata Sasuke membeliak. "…apa?"

"Aku bilang, bagaimana kalau kau mengajariku bernyanyi? Kalau aku bisa menyanyikannya dengan benar, kau juga jadi tidak akan sebal mendengarnya kan?"

kenapa pembicaraan ini jadi berakhir seperti ini?

Sasuke terdiam sejenak, masih mencoba untuk mencerna apa yang baru saja ia dengar. Bukankah ini kesempatan bagus? Bukankah selama ini ia benar-benar ingin mengoreksi cara bernyanyi Sakura?

Akan tetapi ketika kesempatan itu akhirnya datang padanya, ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Ia bahkan tidak tahu apakah ini ide yang bagus atau tidak baginya.

bukankah ia sama sekali tidak berniat terlibat dekat dengan para penghuni panti asuhan ini?

Ia hanya ingin cepat-cepat keluar dari panti asuhan ini tanpa meninggalkan kesan.

Sasuke menggeleng cepat. "Aku tidak—"

"Aku akan menambahkan tomat!" seru Sakura memotong kata-katanya, "aku tahu kau suka tomat kan? Aku berjanji akan menambahkan irisan tomat khusus untuk sup miso bagianmu kalau kau mau mengajariku bernyanyi."

Apa ini? Apa Sakura sedang mencoba membujuknya dengan tomat? Lagipula bagaimana bisa gadis itu tahu bahwa ia menyukai tomat terutama di dalam sup miso?

"Bagaimana Sasuke-kun? Kau mau kan?" tanyanya lagi dengan mata yang berbinar.

Dan Uchiha Sasuke melakukan kesalahan yang sangat besar dengan menatap langsung kedua iris mata hijau emerald yang baru ia sadari merupakan warna yang sangat cocok dengan rambut merah muda pastel milik gadis itu.

Gadis ini selain menyebalkan, ternyata ia juga keras kepala rupanya.

Seakan sudah tak punya pilihan lain, ia pun mengangguk dan menjawab, "…baiklah."

.

.

To be continued


A/N: Terima kasih sudah membaca. Jumlah kata di tiap chapter di fic ini tidak akan selalu sama, kadang akan pendek sekali, kadang akan panjang sekali, tergantung kebutuhan ceritanya, hehe. Chapter berikutnya akan saya update cepat, hopefully.