Disclaimer : Naruto ©Masashi Kishimoto
Numb ©Linkin Park
Rated : M
Warning : Yaoi. Narusasu. Implisit Lemon. OOC. OC. Typos. M-Preg
.
LOVE ACTUALLY
Chapter 3 : Matirasa
.
Can't you see that you're smothering me
Holding too tightly afraid to loose control
Cause everything that you thought I would be
Has fallen apart right in front of you
.
" Duduklah, aku akan menceritakannya padamu, dari sisi pandangku. Karena jika kau bertanya pada Sasuke, dia mungkin akan menceritakan 'hal lain' yang dia tahu. Ini adalah siapa aku, siapa Sasuke. Dan hubungan yang terjalin diantara kami berdua"
.
Naruto tidak tahu pasti kapan perasaan itu muncul. Yang jelas sejak ia selalu mengawasi Sasuke, memusatkan seluruh perhatiannya pada sang Uchiha, perasaan yang awalnya iri dan merasa tersaingi itu menghangat seiring dengan dirinya yang bertambah dewasa. Pikirannya yang awalnya hanya ingin sebatas menepati janji pada Sakura, berubah menjadi kerinduan yang tak terbatas. Ia lebih dari ingin membawanya kembali kedesa, tapi ia juga ingin terus berada disampingnya. Saat mendengar Sasuke bergabung dengan Akatsuki, ketakutan menghantuinya seketika. Ia takut ia akan semakin jauh dengan orang yang dikasihinya. Ya, pada tahap ini Naruto sadar ia telah jatuh cinta.
Jadi ia berusaha lebih keras, memacu dirinya hingga batas maksimal. Kalau perlu ia ingin melampaui batas. Semuanya hanya demi membawa Sasuke kembali, untuknya. Bukan untuk siapa-siapa.
Naruto bersumpah tidak akan melepaskan Sasuke saat 'sahabatnya' itu akhirnya mau menerima uluran tangannya. Namun setelah bisa meluluhkan hati Sasuke, masalah baru muncul. Mereka bilang, dosa Sasuke terlalu besar. Meski ia ikut berjuang menghentikan Mugen tsukuyomi yang menjadi kekhawatiran orang diseluruh dunia. Mereka bilang Sasuke tak bisa diampuni, karena darah terkutuk Uchiha yang bisa membahayakan desa dan dunia shinobi sewaktu-waktu.
Naruto tak bisa menerima ini. Sekali lagi ia memperjuangkan Sasuke, agar tetap hidup disampingnya. Bukan hal yang mudah, Naruto hanya dianggap anak bau kencur yang tidak mengerti politik dan terlalu naif memandang dunia shinobi. Seolah mereka lupa pada budinya yang kemarin-kemarin. Beruntung sang guru membelanya, Kakashi yang saat itu menjabat sebagai hokage ikut memperjuangkan hak Sasuke. Mereka akhirnya melepaskan sang Uchiha, tapi tidak untuk membebaskannya. Desa akan tetap mengawasi pergerakannya, dan tidak akan segan-segan mengambil tindakan jika sampai Sasuke melakukan satu saja langkah mundur. Setidaknya dengan itu Naruto bisa bernafas lega, Sasuke tak harus mati. Dan Naruto berjanji akan memastikan Sasuke hidup apapun yang terjadi.
Jadi ia ikut mengawasi Sasuke, melindunginya dari para anbu yang tidak berhenti mengintainya. Ia pindah kerumah Sasuke dengan alasan ingin merasakan hidup enak tinggal dirumah orang kaya. Sekalian bisa terus berada didekat sang pujaan. Ia bersyukur tidak ada bantahan dari Sasuke meski temannya tak juga memberi ijin. Siapa peduli? Naruto akan tetap tinggal dengan Sasuke meski anak itu mengusirnya.
.
Hari-hari yang panjang, Naruto menikmati setiap detik yang ia lalui bersama Sasuke. Meski Sasuke tak banyak bicara dan tidak banyak merespon kelakuannya, bagi Naruto tak masalah. Yang penting Sasuke tetap hidup dan berada didekatnya.
Ia sebenarnya sakit hati saat melihat kelakuan penduduk desa pada Sasuke. Ia ingin melabrak tapi tak akan ada gunanya juga. Penduduk Konoha sebagian besar masih berpikiran sempit, mereka tidak akan lantas sadar pada perbuatan mereka yang merugikan orang lain. Jadi Naruto ikut bersabar, menenangkan Sasuke agar menghiraukan penduduk desa. Menghibur Sasuke agar tidak sedih dan semangat menjalani hari bersamanya. Apapun akan ia lakukan untuk hidup Sasuke.
.
Naruto menghadiri acara pernikahan kapten Yamato, tanpa Sasuke. Ia menikah dengan salah satu kunoichi yang juga seorang anbu. Mereka berpacaran saat masih sama-sama bertugas diorganisasi nomor satu di Konoha tersebut. Naruto bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka. Rasa haru bercampur iri. Ya, Naruto iri. Ia jadi ingin menikah juga. Dengan orang yang dicintainya, dengan Sasuke. Tapi apakah bisa? Bukan karena mereka sama-sama pria, Naruto tak mau ambil pusing dalam hal ini. Tapi karena Sasuke, apakah ia mau? Apakah ia bersedia menikah dengannya? Apakah ia tidak akan jijik nantinya? Tapi kalau tidak dicoba mana tahu. Jadi Naruto 'berjudi'. Ia melamar Sasuke setelah pulang dari pesta itu.
" Dobe" Sesingkat itulah jawaban Sasuke, sambil tersenyum begitu manis. Naruto meleleh melihat orang yang jarang berekspresi, ternyata bisa tersenyum semanis itu. Tapi cukup dengan itu saja, Naruto tahu ia tidak sedang ditolak.
Setelah itu mereka menikah, mengakhiri masa jomblo, membuat ikatan lebih kuat untuk menyatukan mereka. Naruto bersumpah, tidak akan pernah melepaskan ikatan ini. Meski badai menghantam.
.
" Kami mendengar desas-desus bahwa kau memiliki hubungan yang spesial dengan Uchiha Sasuke"
Naruto diam mendengar perkataan Koharu, salah satu tetua yang berkuasa mengendalikan desa. Dan dirinya. Ia tidak ingin membantah ucapannya.
" Kami memang dekat. Kurasa seluruh desa sudah mengetahui hal itu sejak lama"
" Kedekatan seperti apa yang kau maksud? Apa kalian berciuman dimalam hari?"
Naruto mengernyit mendengar balasan Homura, kalimat yang tidak pantas diutarakan ditengah-tengah rapat dewan seperti ini. Bisik-bisik terdengar setelah Homura mengatakannya, juga kernyitan jijik beberapa pejabat desa. Entah apa yang ada dipikiran mereka, Naruto tak tahu dan tak mau tahu.
" Sebenarnya apa yang sedang kita bahas disini?" Naruto berkata tegas. Sebagai hokage ia bukan hanya sedang menyelamatkan harga dirinya tapi juga kekasihnya.
" Kami ingin kau menikah secepatnya. Sebagai hokage kau harus melanjutkan keturunan. Jangan sampai harga diri desa ini hancur didepan negara lain karena ulahmu" Homura kembali berkata menghardik Naruto.
" Ulah apa yang sebenarnya Anda maksud? Kedekatan antara aku dan Sasuke hanya sebatas teman dekat. Ia sudah kuanggap sebagai saudara ku sendiri" Naruto akhirnya memutuskan untuk berbohong. Bukan karena ia tak mau mengakui Sasuke, tapi ia hanya mencari cara untuk menyelamatkannya. Sedikit, Naruto paham apa yang ada di kepala orang-orang tua ini.
" Kami tidak peduli kedekatan macam apa yang kalian jalin. Sebagai hokage kau harus melakukan tugasmu sepenuhnya demi kesejahteraan desa ini. Menjaga martabat desa agar tidak jatuh dimata desa lain." Koharu menjawab tak kalah tegas dari Naruto, tak mau kalah.
" Kami sudah memutuskan untuk menikahkanmu dengan Putri Hinata dari Hyuuga. Kalian akan menikah bulan depan."
" Aku akan menikah dengan pilihanku sendiri, diwaktu yang aku mau"
" Jangan mencoba membantah wewenang desa. Kalau kau sampai melakukan satu saja langkah mundur, kami akan menghabisi Uchiha Sasuke. Eksekusinya hanya ditunda, bukan dibatalkan kalau kau lupa"
Desa. Desa. Desa. Naruto muak mendengar alasan para tetua yang berlindung dibalik kata desa. Ia tidak tahu kalau menjadi hokage akan sememuakkan ini. Setelah membatasi aksesnya untuk berhubungan dengan Sasuke, sekarang orang-orang tua itu benar-benar ingin memisahkan mereka berdua. Tapi apa yang bisa ia perbuat? Membantah pun tak mampu. Bukan karena jabatannya yang dipertaruhkan, tapi karena ia tahu posisi Sasukelah yang sedang diujung tanduk saat ini.
Rasanya ia tidak ingin pulang. Ia tidak sanggup jika harus mengatakan ini pada suaminya. Naruto paham, akan sulit menjalani hubungan macam ini. Ketidak terbukaan penduduk, juga keterasingan Sasuke menjadi kendala yang besar bagi hubungan mereka. Ia bisa saja mundur dan membawa kabur Sasuke. Tapi hal itu justru akan semakin menyusahkan mereka. Menjadi buronan yang diincar banyak negara, hidup tak tenang disetiap tanah yang mereka pijaki. Bukan itu yang menjadi mimpi mereka.
Tapi bukan mimpi seperti ini yang diinginkannya. Akan lebih baik jika ini hanya sekedar mimpi, tapi ini adalah kenyataan. Sasuke berang mendengar penuturannya. Yang paling menyakitkan adalah saat pria yang sangat dicintainya itu menuduhnya bahwa ini hanya akal-akalannya saja agar bisa mendapatkan keturunan. Demi Tuhan, ia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Ia memang ingin, tapi kalau memang tidak bisa dapat ya sudah.
Naruto ingin mengejar Sasuke yang lari lewat jendela, tapi ia tahu ada beberapa anbu yang mengawasinya. Bagaimana ini? Kalau tidak mengejarnya ia takut Sasuke tidak akan kembali. Tapi kalau mengejarnya nyawa Sasuke yang menjadi taruhan. Jadi ia diam, berharap kekalutan dihatinya menghilang.
.
Naruto lega luar biasa mendapati Sasuke sudah ada dirumah saat ia pulang. Pria itu duduk sambil menonton acara tengah malam. Sebuah film porno berkedok horror yang sedang nge-tren akhir-akhir ini. Ia tidak yakin Sasuke benar-benar menontonnya. Itu bukan seleranya.
Naruto mendekati Sasuke, ingin mendekapnya dan mengucapkan ribuan maaf, tapi tak punya cukup keberanian. Jadi ia diam saja, menunggu dirinya divonis.
" Duduklah"
Sasuke akhirnya berkata lirih, jengah pada diamnya Naruto. Pria itu menurutinya, duduk disampingnya dengan perlahan. Sasuke tak ingin menunggu Naruto memulai berbicara, ia tahu pria itu tak berani mengatakannya.
" Menikahlah lagi kalau memang harus"
" S-sasuke..."
" Tapi aku minta satu hal, jangan lupa untuk pulang padaku"
Detik berikutnya ia merasakan kecupan hangat di bibirnya. Bukan ciuman yang menuntut, Naruto menikmatinya selembut mungkin. Tapi setelah ini ia akan 'menikah', mungkin melewati malam seperti ini tidak akan mudah lagi. Jadi ia memanfaatkan kualitas waktu yang didapatkannya sebaik mungkin.
Perlahan ia membaringkan Sasuke diatas sofa, melucuti pakaian mereka berdua. Ia buka tubuh Sasuke lebar-lebar, mencari kesenangan yang selalu dirindukannya. Sasuke bertahan pada bahu lebar Naruto. Setiap rasa hentakan didalam tubuhnya akan selalu ia ingat, agar ia tak lupa bahwa Naruto juga miliknya. Desahan dan erangan hasil pergulatan mereka, mengantarkan jiwa masing-masing kegerbang surga. Sasuke dan Naruto, masing-masing dari mereka akan mengingat rasa ini. Saat mereka sama-sama terbang oleh cinta. Sekedar menjadi pengingat bahwa ada tempat untuk pulang bagi mereka.
.
Mencintai adalah hal yang sulit. Karena kita tak pernah tahu takdir kehidupan yang membawa kita. Cinta yang bertepuk sebelah tangan adalah hal yang menyakitkan. Naruto pernah merasakannya saat ia pikir ia jatuh cinta pada Sakura. Rekannya di tim tujuh bersama Sasuke. Tapi berpura-pura mencintai,...? Entahlah, Naruto kehabisan akal. Rasanya bukan hanya sulit, tapi juga menyakitkan. Menyakitkan untuknya, juga Hinata. Istri 'pura-puranya'. Ia harus membuka diri pada orang yang tidak ia inginkan. Tetap memasang senyum bahagia dihadapan semua orang. Menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh 'drama'. Naruto seperti dicekik. Ia tak pernah berfikir menumpahkan spermanya di vagina wanita itu.
Jadi Naruto pulang ke Sasuke, serutin mungkin ia berusaha mengunjunginya. Melampiaskan perasaan muaknya pada lubang nikmat suaminya. Sasuke sangat tahu bagaimana menyenangkan hati Naruto. Sebulan dua bulan jalannya masih 'mudah', meski harus menyelundup kesana kemari. Tapi bulan ketiga dan selanjutnya adalah neraka baginya. Para tetua tahu Naruto masih mengunjungi Sasuke.
" Kenapa kau masih mengunjungi 'saudaramu' itu padahal kau sudah menikah?"
" Tidak ada yang salah dari mengunjungi 'saudara' sendiri bukan?"
" Naruto, sebaiknya kau sadar pada posisimu. Jangan sampai kau melakukan hal yang mencurigakan bagi kami."
" Aku adalah hokage. Seluruh penduduk didesa ini adalah keluargaku. Melindungi mereka sudah menjadi tugasku. Aku bukan kalian yang suka mengintimidasi dan pilih-pilih pada warganya sendiri"
" Jaga bicaramu! Kau memang Hokage, tapi wewenang kami lebih besar. Sebaiknya kau fokus pada tugasmu sebagai hokage dan suami bagi istrimu. Kau tahu apa konsekuensinya jika melawan keinginan desa"
Bolehkan Naruto membunuh mereka saja? Tubuhnya seperti dicengkeram terlalu kuat. Dikendalikan seperti boneka. Ia benci pada dirinya sendiri karena bahkan kekuatan kyuubi yang ada didalam tubuhnya, tak mampu membuatnya melawan mereka.
.
Naruto tidak tahu harus bagaimana saat mendengar kabar bahwa ia akan memiliki anak. Ia senang juga karena akan memiliki keturunan, tapi kalut karena bebannya dikeluarga yang penuh dengan kepalsuan ini akan semakin menyulitkannya dan Sasuke. Ya, Naruto merasa anaknya hanya sebuah beban. Tapi apakah anaknya patut disalahkan jika dialah sebenarnya sumber masalah? Dialah yang sebenarnya yang selalu mempermasalahkan semuanya. Jadi Naruto mencoba membuka hatinya, perlahan. Bukan untuk Hinata, tapi untuk anaknya. Ia ingin mengasihi benda rapuh namun mampu menguatkan hatinya. Sedikit demi sedikit hatinya mulai terbuka.
" Kau akan menjadi anakku yang membanggakan"
Naruto mengucap doanya pada sang anak setiap malam. Sekedar untuk menyenangkan hati sang istri, juga buah hati yang dikandungnya.
.
Naruto sedih saat harus berbagi kabar dengan Sasuke. Ia tahu pria itu menahan sakit saat dirinya bercerita ini dan itu. Ia menahan diri untuk tidak bertindak lebih jauh lagi, meski dirinya ikut tertekan. Tidak memberi kabar salah, mau memberi kabar juga ia tak tahu apa yang harus dibahas. Ia menghindari pertanyaan 'kapan kau pulang?'. Karena ia tak akan sanggup untuk menjawabnya.
" Datanglah malam ini"
Dan Sasuke merubahnya menjadi kalimat yang lain. Ia tahu pada akhirnya ia tidak bisa selamanya main kucing-kucingan seperti ini. Jadi ia menuruti suaminya itu. Menyerah pada permintaan orang terkasih, dan rasa rindu yang membebani hati.
.
" Kemana kau kemarin malam?"
Yang bertanya adalah Hyuuga Hiashi, mertuanya. Hinata duduk disampingnya dengan cemas.
" Aku ada urusan" Naruto menjawab setenang mungkin.
" Urusan apa yang mengharuskanmu sampai menginap dan tidak pulang"
" Apakah semuanya harus dilaporkan padamu?"
Hiashi menatap Naruto tajam. Ia tidak suka cara menantunya itu berbicara padanya.
" Kau mungkin adalah seorang hokage, tapi kau adalah membantuku dirumah ini. Jangan melakukan sesuatu yang mengecewakan anak dan keluargaku"
Hiashi adalah daftar orang kesekian yang hanya membuat hidup Naruto semakin terpojok. Pria posesif yang hanya mementingkan martabat keluarga. Ia menyetujui pernikahannya dengan Hinata bukan untuk menyenangkan sang putri, tapi agar klannya terlihat semakin terhormat dihadapan masyarakat. Suatu prestasi memiliki menantu seorang hokage.
" Aku juga memiliki kehidupanku sendiri, ayah. Aku mohon, hargai itu" Naruto menjawab selembut mungkin. Berusaha menjaga kesopanan yang mati-matian ia pertahankan.
" Kehidupan yang seperti apa? Mengunjungi kekasih gelapmu di Uchiha?"
Intimidasi Hiashi benar-benar keterlaluan. Kalau ia tidak mencoba menjaga perasaannya, setidaknya ia bisa menjaga perasaan putrinya sendiri.
" Naruto-kun, benarkah itu?"
Naruto melihat istrinya yang mulai menangis. Kenapa hidupnya harus serumit ini?
" Tuduhan ayahmu benar-benar tidak berdasar. Aku tidak memiliki kekasih gelap di manapun" Naruto tidak berbohong. Ia tidak punya selingkuhan. Kalau yang dimaksud yang ada di Uchiha, itu adalah suaminya. Orang pertama yang ia nikahi. Naruto ingin meneriakkan hal itu sebagai tambahan.
" Lalu apa yang kau lakukan dengan Uchiha kemarin malam dirumahnya sampai kau lupa pada istrimu yang menunggumu dirumah?"
Naruto membisu. Sekarang ia sadar, mata-mata begitu banyak mengelilinginya.
" Naruto-kun, apa benar yang dikatakan ayahku?"
Ohh, Hinata! Naruto berharap wanita itu tak menambahi kesialannya.
Ia sebenarnya bermaksud mengakhirinya malam itu juga. Naruto bosan dengan hidupnya yang penuh drama. Tapi bukan tangisan histeris Hinata yang merubah pikirannya, melainkan wanita itu yang langsung pingsan saat Naruto hendak pergi lagi. Kandungannya yang lemah, membuat kondisi Hinata juga tidak stabil. Apalagi jika sampai memiliki beban pikiran. Ia nyaris keguguran. Naruto tak bersedia jika harus 'membunuh' darah dagingnya sendiri.
Mereka memutuskan untuk menutup masalah itu, dengan syarat Naruto keluar dari kehidupan Uchiha. Ia ingin tertawa sinis untuk hal ini. Ini hidupnya, keputusannya, kenapa jadi ia yang disyarati. Namun lagi-lagi, Naruto hanya bisa menurut. Membiarkan dirinya kembali berada digenggaman orang lain. Ia hanya berharap Sasuke akan selalu baik-baik saja.
.
Ekspektasi keluarga Hyuuga dan desa benar-benar besar padanya. Setelah memberlakukan peraturan ini itu, sekarang mereka merencanakan wejangan untuk acara tujuh bulan kehamilan Hinata, acara terbuka yang mengundang seluruh warga desa, termasuk Sasuke. Naruto hanya berharap Sasuke tidak akan mendengar apapun. Karena ia tidak tahu, sandiwara apa lagi yang harus dilakukannya dihadapan pria yang sangat dikasihinya itu. Ia sudah lelah. Ia muak. Ia ingin bunuh diri saja. Tapi jika ia mati, siapa yang akan menjaga Sasuke? Siapa yang akan memastikannya agar tetap hidup?
Tidak ada pilihan lain selain tetap terjebak pada hidupnya yang penuh sandiwara.
.
" Naruto, Hinata selamat ya!" Naruto mempertahankan senyum mataharinya agar tidak menimbulkan kecurigaan. Satu demi satu orang ia salami, membagi 'kebahagiaan'.
" Yo! Kau memang yang terhebat bro! Hahaha"
Naruto meringis saat temannya Kiba menggeplaknya dengan kekuatan 'luar biasa'. Benar-benar temannya yang paling heboh.
" Naruto, Hinata aku foto ya!" Ini berkata centil, tak kalah heboh dengan Kiba. Ia hanya menuruti temannya itu. Ia sedang akan mengambil pose untuk merangkul istrinya saat Ino tiba-tiba berkata memberikan arahan.
" Pose yang seperti itu sudah biasa! Kau cium istrimu, biar terlihat mesra"
Mesra matamu! Naruto mengumpat dalam hati. Ingin menolak tapi tak bisa. Apalagi melihat wajah penuh harap Hinata. Jadi lagi-lagi Naruto menurut, rasanya ia sudah terlalu familiar dengan kata itu. Kebiasaan barunya.
CEKREK
" Sempurna!" Ino memekik senang mendapatkan apa yang diinginkannya. Naruto nyaris melihat hal itu dengan jengah saat ia mendapati Sakura berjalan kearahnya sambil tersenyum lebar.
" Haha, maaf aku telat. Aku harap aku tidak melewatkan banyak hal"
" Kalau tidak ingin melewatkan banyak hal menginap saja disini sampai Hinata melahirkan" Ino yang menjawab dengan ketus. Sakura mengabaikannya.
" Naruto, selamat ya! Kau juga Hinata! Aku turut bahagia untuk kalian. Semoga kalian mendapatkan keturunan terbaik" Doa Sakura, yang diamini oleh orang-orang disekitarnya.
" Terima kasih Sakura-chan. Semoga Sakura-chan juga akan segera menyusul" balas Hinata dengan lembut dan malu-malu, seperti biasa.
" Ahahahahaha, kalau itu-ehh.." Awalnya Sakura juga ikut tertawa malu-malu saat mendengar sahabatnya itu bicara demikian, membuatnya mengingat sesuatu. Tapi ia sudah celingak-celinguk, objek yang dicari tetap tidak ia temui.
" Kau ini cari siapa?" Kiba bertanya keheranan.
" Kau tidak sedang mencari jodohmu disini kan? Hihihihi" Ino menimpali sambil cekikikan.
" Kalian tidak lihat Sasuke? Tadi aku kemari dengannya"
" Apa? Sasuke katamu?" Naruto langsung terkesiap. Hinata langsung memasang wajah tak suka. Kekhawatiran mereka dalam konteks yang berbeda, benar-benar terjadi.
Setelah acara tersebut, Naruto langsung pergi untuk menemui Sasuke. Tidak ada yang bisa mencegahnya. Hinata hanya bisa menangis pasrah.
Dan firasat buruknya terjawab, yang ia takutkan terjadi, Naruto tak menemukan Sasuke dimana pun. Pria itu meninggalkannya. Ia ingin mengejar tapi dicegah oleh Hinata yang tiba-tiba kontraksi. Anaknya lahir prematur hari itu juga. Harusnya sang hokage bahagia, karena statusnya sebagai manusia telah naik. Tapi kenyataannya hatinya semakin kosong.
Naruto matirasa. Ia telah kehilangan hidupnya.
.
" Itulah ceritaku. Tentang siapa sebenarnya kami, siapa Sasuke dimataku. Dan ikatan yang terjalin antara aku dengannya"
Menma terdiam mendengar cerita Naruto, juga saat pria itu mendekatinya dan membawa dirinya kedalam pelukannya yang hangat. Kehangatan yang sama saat Sasuke mendekapnya.
" Menma, akhirnya kita bertemu. Kau memang anakku!"
" Bagaimana kau bisa tahu kalau aku anakmu?"
Naruto merenggangkan pelukannya, kemudian menatap Menma dengan tatapan bahagia yang luar biasa.
" Karena kita memiliki garis pipi yang sama"
Menma terisak mendengar pernyataan Naruto, kenapa ia juga memiliki pemikiran yang sama?
" Meskipun kita belum pernah bertemu sebelumnya tapi ikatan antara orang tua dan anak tidak akan pernah terputus. Itulah yang selalu menghubungkan kita berdua"
Lalu dia menangis, dalam dekapan orang tua yang penuh haru.
Hari yang luar biasa, dongeng yang indah. Menma akan mengingat hal ini seumur hidupnya.
.
I've become so numb
I can't feel you there
Become so tired so much more aware
I'm becoming this all i want to do
Is be more like me and be less like you
.
TBC
Memang terdengar naif saat Naruto langsung tahu kalau Menma adalah anaknya. Tapi saya tidak membuat keputusan yang main-main. Saya pernah membaca sebuah cerita, ini kisah nyata. Tentang seorang ibu di China yang terpisah dengan anaknya sejak bayi yang ternyata ada di Malaysia selama 29 tahun! Mereka bertemu secara tak sengaja saat si ibu ini berbelanja di minimarket tempat anaknya bekerja. Dan ibu ini langsung tahu kalau si anak itu adalah anaknya yang hilang selama 29 tahun! Setelah di tes DNA hasilnya si anak ini memang anaknya.
Dan masih banyak lagi kisah serupa, saudara yang terpisah, kembar terpisah yang bertemu karena keajaiban. Kekuasaan Tuhan yang dinamakan cinta :-)
Nah, bagaimana menurut anda? Mind to review :-)
