HONTOU NI GOMENNASAIIII (*.*)
Saya kembali dengan fic gaje ini lagi setelah sekian lama..
Reader-tachi masih ingat ka? Sudah lupa yaa? Hiks Hontou ni gomennasai~
Ada alasan kenapa chapter 3 nya baru saya publish 9 bulan 10(?) hari setelah chapter 2, mau tau? Mau tau?
Alasannya saya kehilangan laptop sehari setelah chapter 2 di publish. Padahal fic saya disitu semuaaa T-T
Ya sudah lah.. saya udah ikhlas kok
Langsung aja ya minna~
Disclaimer : Naruto milik Kishimoto-sensei
Pairing : SasuHina/NaruSaku/GaaIno
Warning : OOC, Typo, alur cepat, dll
Happy Reading~!
Teen's Heart
chapter 3
"Ennggghhh.. Jam berapa ini?" Hinata meraba-raba meja kecil yang berada di samping tempat tidurnya untuk menemukan jam mungilnya. Dengan kesadaran yang masih setengah-setengah, ia melihat angka yang ditunjuk oleh jarum jam itu. Hinata mempertahankan kesadarannya sebentar, menaruh kembali dan menarik selimut hangatnya hingga mencapai perpotongan leher.
5
4
3
2
1
Dan..
"Kyaaa!"
Dengar? Itu tadi adalah teriakan dari seorang Hinata Hyuuga yang baru saja memperoleh kesadaranpenuhnya. Dengan cekatan, ia menyibakkan selimutnya kasar dan kembali mengambil jam kecilnya, memastikan bahwa beberapa detik yang lalu, meskipun dengan kesadaran seadanya, ia berharap matanya masih normal. Ya, matanya memang masih normal tapii..
"Bohong! Jam 08.15?! Aku terlambat!" Hinata segera meninggalkan tempat tidurnya dan segera berlari menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamarnya. Tidak sampai sepuluh menit Hinata ada di dalam sana, Hinata keluar dengan pakaian lengkap. Ia segera menyisir rambut panjangnya kemudian menyambar tas berwarna ungu. Untung saja ia telah menata jadwal sekolahnya kemarin malam sehingga ia tidak perlu membuang-buang waktu lagi. Sudah jam 08.30 dan ia berpikir tidak akan sempat untuk sarapan. Langsung saja ia meluncur ke bawah dan melewati ruang makan dimana Sakura tengah menyantap sarapan paginya.
"Aku berangkat!" ucapnya dan berlari keluar rumah mengabaikan panggilan Sakura. Yang ada dipikirannya saat ini adalah ia harus segera sampai kejalan utama dan mendapatkan bus.
"Hinata?" Hinata terpaksa menghentikan langkahnya ketika mendengar sebuah suara yang memanggilnya. Uchiha Sasuke berdiri di depan rumahnya sambil memakai dasinya. Hinata menghentakkan kakinya kesal sebelum menoleh kearah Sasuke.
"Apa?"
"Kita bisa berangkat bersama kan?"
"Tidak usah!" tolak Hinata tanpa berpikir panjang. Ia kembali melanjutkan perjalannya meninggalkan rumah Sasuke.
"Menyebalkan!" gumam Sasuke lalu kembali masuk ke dalam rumahnya.
Betapa sialnya Hinata pagi ia telah mencapai jalan utama, bus yang harusnya ia naiki baru saja meninggalkan komplek perumahan Hinata dan itu artinya Hinata harus menunggu selama 10 menit untuk kembali mendapatkan bus. Ia merasa hari ini akan menjadi hari yang panjang. Hinata yang merasa kesal memilih jongkok dipinggir jalan dengan menenggelamkan wajahnya di kedua lengannya yang ia tumpukan pada lutut.
"Hei, masih disini?" Tanya Sasuke yang sudah berada di depan Hinata dengan motornya. Hinata mendongak dan mendengus.
"Hmm."
"Naiklah." Sasuke member tanda dengan postur tubuhnya agar Hinata naik kemotornya. Tapi gadis itu justru menatapnya curiga. "Cepat atau kutinggal. Dua puluh menit lagi bel berbunyi."
"Tch!" tidak ada pilihan lain bagi Hinata. Baru saja ia mengingat bahwa jam pertama hari ini akan diajar oleh Anko-sensei dan ia tidak mau dihukum oleh salah satu guru yang terkenal galak di sekolahnya itu. Jadi ia memilih untuk menaiki motor Sasuke untuk sampai ke sekolahnya. Untuk kali ini saja. Begitu pikirnya.
"Sudah siap?" Tanya Sasuke saat dirasa Hinata telah menyamankan duduknya.
"Iya.." jawab Hinata. "Jangan ngebut ya? Aku takut."
Belum sempat Hinata menutup mulutnya, Sasuke sudah melaju dengan kecepatan tinggi sehingga Hinata yang belum siap langsung menubrukkan badannya ke Sasuke dan melingkarkan lengannya dengan erat. Hinata benar-benar takut sekarang.
"Bakaa! Kau mau membunuhku?!" teriak Hinata tepat di telinga Sasuke. Untung saja Sasuke memakai helm jadi dampak teriakan Hinata tidak terlalu terasa.
"Jangan berteriak. Kita ada di jalan Hinata." Balas Sasuke tenang tanpa rasa tidak mengerti, justru ia paham benar kalu Hinata sedang ketakutan. Tapi entah kenapa rasanya menyenangkan. Sasuke melirik sebentar lengan Hinata yang melingkar erat di pingganggnya dan ia tersenyum tipis. Tentu saja Hinata tidak bisa melihatnya. Ia tetap melaju dengan kecepatan tinggi bahkan sekarang menjadi sedikit lebih cepat. Itu menurut menurut Hinata, dengan kecepatan yang seperti ini mampu membuatnya menuju surga lebih cepat. Sasuke benar-benar ingin membunuhnya! Hinata semakin mempererat pegangannya sambil menutup matanya.
'Pokoknya kalau sampai aku mati, kau harus ikut denganku.' Batin Hinata horror.
Saat dirasa Sasuke sudah mengurangi kecepatannya, Hinata mulai berani membuka mata dan melepas pegangannya. Hinata memperhatikan sekitarnya. Ini bukan surga. Daerah ini sudah dikenal Hinata dengan baik. Sebentar lagi mereka tiba di sekolah. Hinata melihat jam tangannya, pukul 08.53. Kurang dari sepuluh menit lagi gerbang akan ditutup. Syukurlah ia tidak terlambat. Hinata segera turun dari motor Sasuke setelah pemuda itu menghentikan motornya di depan gerbang. Dengan sekuat tenaga, Hinata memukul lengan Sasuke sampai membuatnya meringis kesakitan tapi Hinata tidak peduli.
"Kenapa memukulku?" Tanya Sasuke kesal. Ia benar-benar tidak siap menerima pukulan dari gadis ini. Sasuke menatap Hinata tajam tapi bukannya takut, Hinata malah menatapnya balik seolah menantangnya.
"Kan salahmu. Sudah kubilang aku takut tapi kau malah seperti itu. Menyebalkan." Kata Hinata sengit. Sasuke menghela napas berat.
"Cukup katakan terima kasih Hinata." Sasuke kembali tenang seperti biasa. Untuk saat ini, ah, tidak, untuk seterusnya dia memang tidak bisa marah pada Hinata meskipun kadang gadis ini berubah menyebalkan.
"Terima kasih tuan Uchiha."Ujar Hinata tidak ikhlas.
"Tch! Terserah. Dasar pe-na-kut." Setelah berkata begitu, Sasuke kembali melajukan motornya untuk ke parkiran. Sementara Hinata menuju kelasnya dengan kesal.
Ino, teman Hinata segera melambaikan tangannya begitu melihat Hinata memasuki kelas.
"Ohayou Ino-chan" sapa Hinata.
"Ohayou mo.. Apa yang terjadi?" Tanya Ino dengan senyum khasnya.
"Eh? Tidak terjadi apa-apa."
"Bohong. Aku melihatmu memukul Sasuke di depan gerbang." Ujar Ino. Cukup keras untuk membuat para fans Sasuke menoleh ke arah mereka.
"Jangan bahas Sasuke lagi." Hinata menampakkan wajah cemberutnya. Oke, Ino tahu saat ini Hinata dalam mood yang buruk.
"Baiklah. Kau tau? Hari ini aku berangkat bersama Gaara. Hebat kan?" Ino memberitahu Hinata dengan bersemangat. Membahas Sabaku Gaara jauh lebih baik daripada membahas Uchiha Sasuke. Begitu pendapat Hinata.
"Bagaimana bisa?" Tanya Hinata.
"Tadi mobil Dei-nii macet di jalan. Kebetulan Gaara lewat dan menawariku untuk berangkat bersama. Yah, begitulah. Dia baik sekalii.. dia mengajakku mengobrol selama di jalan. Sepertinya aku menyukainya. Tapi entahlah, aku tidak yakin. Bagaimana menurutmu?" Ino meminta pendapat Hinata dengan mata berbinar-binar.
"Baguslah, Ino-chan. Akhirnya kau menyadari ada laki-laki yang lebih baik dari ayam bungsu Uchiha itu." Itu jawaban Hinata.
(*^﹏^*)(*^﹏^*)(*^﹏^*)
Di salah satu butik di kota Konoha, seorang gadis sedang melihat-lihat beberapa gaun di dekat pintu masuk. Apa ia berniat membeli salah satu gaun itu? Jawabannya tidak. Gadis itu hanya ikut membantu melayani pelanggan di butik milik bibinya. Meskipun hari masih pagi, tapi suasana butik sudah ramai oleh pelanggan. Sakura, nama gadis itu, kini membantu seorang wanita untuk memilih gaun pesta dan di saat bersamaan pintu terbuka yang artinya ada pelanggan datang.
"Selamat datang." Sakura memberi salam kedua orang yang baru memasuki butik dengan ramah tapi ia sedikit tersentak saat menyadari siapa kedua orang itu.
"Eh?! Kau Sakura kan?!" Sepertinya tidak hanya Sakura yang terkejut. Seorang wanita paruh baya berambut merah juga menampakkan ekspresi yang sama dengannya, begitu pula seorang pemuda berambut pirang jabrik di belakangnya.
"Bi-bibi Kushina.."
"Ternyata betulan Sakura-chan. Kau sudah besar ya.. dan juga cantik. Iya kan Naru?" Naruto hanya tersenyum. Wanita yang bernama Kushina itu memeluk Sakura seperti seorang ibu yang baru bertemu putrinya setelah sekian lama. "Sudah lama sekali. Bibi benar-benar rindu padamu. Sejak kapan kau ada di Konoha?" Tanya Kushina. Kini ia telah melepas pelukannya.
"Baru beberapa hari yang lalu bi." Jawab Sakura.
"Ooh.. Kenapa tidak mengabari bibi? Kau tinggal dimana? Lalu kau tidak sekolah?" Beberapa pertanyaan langsung diajukan oleh Kushina. Ibu Naruto ini memang benar-benar cerewet.
"Maaf bi. Sekarang aku tinggal di kediaman Hyuuga. Seperti yang bibi lihat, aku sudah tidak sekolah. Aku baru saja lulus SMA dan sekarang bekerja di sini membantu bibi Hikari."
"Begitu yaa.. Oh ya, apa Hikari ada?"
"Ya tentu. Sebentar, aku panggilkan." Sakura meninggalkan mereka dan memasuki sebuah ruangan yang merupakan ruangan Hikari Hyuuga, ibu Hinata. Tak lama kemudian Sakura kembali bersama Hikari.
"Kushina-chan. Sudah lama tidak ke sini. Ada apa?" Tanya Hikari pada Kushina.
"Hmm ya begitulah. Kebetulan besok aku harus menemani suamiku untuk menghadiri sebuah acara resmi. Aku membutuhkan bantuan memilih gaun langsung dari ahlinya. Hehe.." jawab Kushina.
" aku." Hikari dan Kushina menuju sudut ruangan. Sakura juga kembali bekerja. Dia sedang memilihkan gaun dari satin untuk seorang ibu-ibu lalu setelah merasa cocok dengan pilihan Sakura, ibu itu menuju ruang ganti dan Naruto menghampiri Sakura.
"Hai." Sapa Naruto.
"Hn. Kau tidak sekolah?" Tanya Sakura basa-basi.
"Aku malas. Semua pelajarannya menyebalkan." Jawab Naruto disertai cengiran rubahnya. "Kau sibuk?"
"Tidak juga."
"Bagus! Temani aku jalan-jalan. Aku yang akan minta ijin." Kata Naruto sambil menarik Sakura ke tempat Hikari. Sakura tidak mempunyai kesempatan untuk melawan. "Bibi Hikari! Boleh aku mengajak Sakura jalan-jalan?" Tanya Naruto langsung.
"Kalau Sakura mau, ya silakan."
"Mau kan?" Naruto menoleh pada Sakura yang hanya diam. "Oke. Ayo pergi!" Tanpa menunggu jawaban dari Sakura, Naruto langsung membawa Sakura keluar butik. Mereka terus berjalan dan hanya Naruto yang tau kemana mereka akan pergi.
"Lepaskan aku! Aku bukan peliharaanmu! Kita mau kemana?"Setelah beberapa menit mereka hanya diam, akhirnya Sakura berani untuk melawan.
"Hanya jalan-jalan." Jawab Naruto tanpa melepaskan tangan Sakura.
"Kenapa kau seenaknya saja?! Aku belum memberi jawaban!" Sakura masih berusaha melepaskan tangannya tapi apa daya, Naruto malah mengeratkan genggamannya.
"Aku tidak butuh jawabanmu." Naruto berhenti dan menatap Sakura dengan tajam. Sakura yang menerima tatapan itu hanya bisa diam. Sepertinya Naruto tahu kalau dia akan menjawab 'tidak'. "Aku akan melepaskanmu tapi kau tidak boleh kabur. Bagaimana?" Tatapan Naruto sedikit melunak dan ia tersenyum kecil.
"Hhh.. Baiklah." Jawab Sakura. Melihat wajah Sakura yang tampak pasrah membuat Naruto tertawa. "Apa?" Tanya Sakura ketus.
"Hahaha.. tidak. Ayo jalan"
Mereka kembali berjalan dengan Naruto yang di depan dan Sakura mengikutinya dari belakang. Naruto tidak khawatir lagi kalau Sakura akan kabur karena ia tau gadis itu tidak akan mengingkari kata-katanya. Tunggu! Saat ini mereka memasuki area gereja dan tampaknya Sakura pernah mengenal daerah ini. Ia berusaha untuk terus mengingat-ingat dan sama sekali tidak menyadari Naruto yang berhenti medadak hingga akhirnya Sakura menabraknya dan terjatuh.
"Aduh. Ittai."
"Eh, maaf." Naruto mengulurkan tangannya untuk membantu Sakura berdiri. Sakura menerima uluran tangan Naruto dan berdiri lalu membersihkan bagian belakang celananya yang terkena pasir. "Ayo ke sana." Naruto menuntun Sakura untuk menuju ayunan yang berada di halaman samping gereja. Sakura menatap ayunan itu dengan pandangan kosong. "Duduklah Sakura." Sakura masih saja diam dan menuruti keinginan Naruto. Setelah gadis itu duduk di bangku ayunan dan memegang kedua besi di kanan kirinya, Naruto mulai mendorong ayunan itu dari belakang.
"Ini.."gumam Sakura lirih. Ia benar-benar merasa familiar dengan dengan keadaan seperti saat ini. Ini sama seperti keadaan beberapa tahun yang lalu saat semuanya masih 'normal'. Sakura menggelengkan kepalanya untuk mengusir ingatan mengenai kejadian buruk setelah itu.'Kenapa dia membawaku kesini?' Batin Sakura. Saat Naruto akan mendorong ayunan untuk yang ke empat, Sakura menahan dengan kedua kakinya lalu berdiri.
"Ada apa?" Tanya Naruto dengan heran.
Sakura mulai berjalan menjauh dari Naruto tapi Naruto menahan lengannya. Pemuda itu tidak mau kalau hanya akan berakhir sampai disini.
"Kenapa kau membawaku kesini? Kau sengaja membuatku kembali mengingat kejadian menyedihkan itu? Kau jahat Naruto!" Kata Sakura tanpa menoleh ke arah pemuda yang tengah menatapnya sedih.
"Tidak! Aku hanya-"
"Lepaskan aku! Aku mau pulang." Sakura berusaha menyentak tangan Naruto kasar. Ia tidak memberi kesempatan Naruto untuk bicara. Tentu saja Naruto sangat terpukul. Ia memilih untuk melepaskan tangan Sakura dan Sakura langsung meninggalkan Naruto tanpa menoleh sedikitpun. Gadis itu menunduk dan membiarkan rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya agar tak seorangpun menyadari bahwa ia tengah menangis.
"Siaal!" Naruto berteriak frustasi sambil menendang batu yang ada di dekat kakinya. Ia hanya memandang kepergian Sakura dan tidak mengejarnya. Naruto menyadari satu hal. Ia mengajak Sakura ke tempat itu untuk mengenang saat bahagia yang mereka lewati tapi Sakura justru mengingat itu. Mengingat kejadian buruk yang menimpa Sakura karena kesalahannya dan kejadian itu terjadi setelah mereka bermain ayunan. "Aku memang bodoh." Naruto tersenyum miris.
FLASHBACK ON
"Saku-chan! Naru-chan! Ayo kita pulang. Hari mulai gelap." Seru seorang wanita berambut merah jambu dari bawah pohon. Sesekali ia tersenyum geli melihat putrinya tertawa lepas saat Naruto mendorong ayunan yang ia naiki dengan sedikit keras. Saat ini mereka tengah menghabiskan sore di halaman gereja dekat rumah dengan ditemani ibu Sakura.
"Lima menit lagi Kaa-chan!" Balas Sakura.
"Kita pulang saja Sakura-chan. Aku lapar." Ujar Naruto.
"Uhmm baiklah Naruto-kun." Kedua anak yang masih berusia 7 tahun itu meninggalkan ayunan dan berlari menghampiri ibu Sakura. "Naruto-kun lapar."
"Ayo kita pulang." Ibu Sakura menggandeng kedua bocah itu dan mereka pun berjalan pulang. Dalam perjalanan, Sakura dan Naruto yang terkenal tidak bisa diam, terus mengoceh tentang banyak hal dan itu membuat ibu Sakura tertawa dengan kepolosan mereka.
"Eh, burungnya kasihan." Celetuk Naruto. Ia melihat seekor anak burung yang ada di tengah jalan. Sepertinya terjatuh dari sarangnya. Tanpa pikir panjang, Naruto langsung berlari menuju jalan dan mengambil anak burung itu. Saat ia berdiri, sebuah truk dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya. Ibu Sakura yang melihat itu langsung berlari dan mendorong Naruto dan si supir truk segera mengerem truknya tapi terlambat.
BRUAAK! terdengar benturan keras dan menyebabkan ibu Sakura terpental jauh. Darah segar langsung menutupi tubuhnya yang sudah tidak bernyawa. Ibu Sakura meninggal karena menyelamatkan Naruto.
Beberapa hari setelah pemakaman ibu Sakura, Sakura dan ayahnya pergi ke Amerika karena diajak ayah Hinata untuk membantu bisnisnya di sana sekaligus untuk melupakan kejadian yang mengenaskan itu.
FLASHBACK OFF
(*^﹏^*)(*^﹏^*)(*^﹏^*)(*^﹏^*)
Konoha High School
Benar-benar menyebalkan! Sepertinya kalimat itu cukup untuk mendiskripsikan kejadian-kejadian yang dialami tokoh utama kita, Hinata Hyuuga. Ia sangat merasa tidak nyaman berada di sekolahnya hari ini.
Setelah pernyataan Ino perihal pemukulan pangeran sekolah yang dilakukan Hinata pagi tadi, membuat Hinata sedikit, ah tidak, sangat kewalahan. Sebagian fansgirl Sasuke yang mendengar kabar itu mendatanginya dan bertanya macam-macam. Ada yang bertanya 'Kenapa kau bisa berangkat bersama Sasuke-kun?', 'Kau apakan Sasuke-kun ku?', 'Kenapa kau memukulnya?', 'Ada masalah apa kau dan Sasuke-kun?' dan masih banyak lagi sampai-sampai Hinata tidak sanggup untuk mengingatnya. Sepertinya sebentar lagi ia akan menjadi bahan gossip satu sekolah. Yah berharap saja Konan tidak memuatnya di majalah bulanan mereka. Sejujurnya itu membuat Hinata takut. Dengan popularitas yang dimiliki Sasuke, mungkin Hinata akan berurusan dengan fans Sasuke yang mengerikan itu. Terlebih lagi ia paling tidak suka menjadi pusat perhatian.
Hinata sempat merasa lega karena setelah istirahat pertama, para fans Sasuke mulai mrnjauh. Tapi belum sempat berlama-lama merasa lega, Hinata kembali panik saat Kurenai-sensei mengadakan ujian mendadak. Hinata sempat menyesal kenapa kemarin ia tidak belajar padahal waktu luangnya banyak sekali. Seusai mengerjakan ujian seadanya, Hinata merasa sangat lemas. Ia menyembunyikan wajahnya pada lipatan lengannya yang ia tumpukan pada meja. Untungnya setelah jam Kurenai-sensei berakhir, tidak ada pelajaran a.k.a jam kosong lalu dilanjutkan istirahat makan siang.
Gaara, salah satu teman Sasuke memasuki kelas Hinata dan membuat kehebohan kecil dengan para fansnya yang meneriakkan namanya.
"Mau menemaniku makan siang?" Tanya Gaara pada Ino. Tentu saja hal itu membuat Ino dan Hinata terkejut. Ino menoleh pada Hinata yang asih tampak lemas.
"Kau mau ikut?" Tanya Ino dan hanya dibalas dengan gelengan lemah dari Hinata. Jika ada Gaara pasti ada Sasuke. Begitu pikir Hinata. Ia masih kesal dengan Sasuke. Pokoknya ia tidak mau lagi naik motor Sasuke."Mau kubelikan sesuatu?"
"Minuman dingin saja."
"Baiklah." Setelah itu, Gaara dan Ino meninggalkan kelas Hinata.
"Sepertinya Gaara menyukai Ino-chan." Gumam Hinata dan tersenyum tipis. Ah! Ia ingat. Tadi pagi ia kesiangan dan tidak sempat sarapan. Pantas saja ia merasa lemas.
Ino kembali beberapa menit sebelum bel berbunyi dan menyerahkan jus kaleng pada Hinata.
"Arigatou."
"Ya tidak masalah."
Setelah mengikuti 3 jam terakhir di sekolah, akhirnya para murid KHS bisa pulang. Sesampainya di rumah nanti, pokoknya Hinata harus tidur. Ya, ia merasa sangat lelah. Tapi sepertinya ia harus sabar saat ini karena bus yang ia tunggu tak kunjung tiba. Hinata duduk di halte dekat sekolahnya sendirian. Ino yang biasa menemaninya tadi sudah pulang bersama Gaara. Cuaca hari ini panas sekali, dan Hinata merasa pusing. Akhirnya ia menunduk dan memejamkan matanya.
"Kenapa masih disini?" Tanya Sasuke yang tiba-tiba sudah ada di depannya dengan motornya.
"Menunggu bus. Kau pulang saja sana." Jawab Hinata lirih. Sasuke merasa ada yang aneh dengan Hinata. Jadi dia memutuskan untuk turun dari motornya dan duduk di sebelah Hinata.
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa." Sasuke yang tidak puas dengan jawaban Hinata, meraih kedua pipi Hinata dan membuatnya menoleh padanya.
"Kau sakit?" Sasuke melihat wajah Hinata yang tampak sangat pucat. "Sudah makan?" Hinata menggeleng. "Kau harus makan." Sasuke menggenggam jemari Hinata dan mrngajaknya berdri. Saat berdiri, Hinata sempat terhuyung tapi dengan cepat dia mejaga keseimbangannya.
"Aku tidak bawa uang. Antar aku pulang saja." Entah Hinata mengatakannya dengan sadar atau tidak karena tadi dia sendiri yang tidak mau naik motor Sasuke lagi.
"Aku yang traktir. Naiklah. Aku janji tidak akan ngebut." Hinata naik ke motor Sasuke dan mereka meninggalkan area sekolah.
Tanpa mereka sadari, ada dua orang gadis yang terus mengawasi mereka. Salah satu dari mereka yang berambut merah menyala menatap Hinata tajam.
"Siapa dia?" Tanya Karin pada Matsuri, temannya.
"Entahlah Karin, tapi kurasa dia kekasih Sasuke-kun." Jawab Matsuri yang langsung disambut dengan dengusan Karin.
"Mana mungkin dia kekasihnya. Yang aku tahu Sasuke-kun itu tidak punya kekasih." Sanggah Karin dengan kesal.
"Tahu darimana? Kau tahu sendiri kan kalau Sasuke-kun itu sangat tertutup? Kemarin saja aku melihat Sasuke-kun bersama gadis itu makan malam berdua." Entah apa maksudnya, Matsuri justru membuat Karin semakin kesal. Bukankah mereka berteman?
"Kau itu mendukungku tidak sih? Menyebalkan! Pokoknya aku tidak mau tahu! Sasuke harus menjadi milikku."
(*^﹏^*)(*^﹏^*)(*^﹏^*)(*^﹏^*)
T.B.C
Gimana gimana?
Saya rasa perjalanan fic ini masih panjang
Mohon dukungannya minna ~ (^ω^)
Sekali lagi saya minta maaf
Salam,
Voza Valliere
