"Hubungi nomernya." Jeda sejenak. "Nomormu kusimpan, jika sewaktu-waktu aku merasa bosan dan ingin merokok kau harus ada saat aku menghubungimu. Mau tidak mau, karena apa? Jika kau membawaku pada Ibiki sensei, aku tidak main-main memberimu ancaman lain."
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
STORY BY HAYUMAA
Sasuke Uchiha & Sakura Haruno
Rated M for save
Drama & Romance
Typo, alur kecepatan, gaje, alur banyak kesamaan, mohon di hargai ya ...
BAGIAN 3
.
.
.
.
.
-o-
.
.
.
.
.
Mereka bertemu lagi, setelah Sasuke yang mengantarkan Sakura sampai dirumahnya, kali ini mereka kembali beriringan saat saling memandang satu sama lain di lorong sekolah.
"Jalan bersama ketua OSIS." Entah itu sebuah pernyataan atau gumaman, tapi Sakura sebatas membalasnya dengan senyuman tipis.
"Sepulang dari rumahku .. kau tidak merokok lagi 'kan?" Sakura membuka suara –tidak, membuka pembicaraan baru karena hening menengahi mereka setelahnya.
Sasuke menggeleng, "Aku merokok," Kepala Sakura menoleh cepat mendengar pengakuannya. "Tapi tidak di area sekolah." Lanjutnya santai.
Nyaris bibir Sakura akan mengeluarkan berbagai ucapan nasehat-nasehat kedokteran yang ia tau, tapi Sasuke membuatnya kembali mengurungkan niat.
"Sepertinya kau senang aku antar pulang." Wajah Sakura berubah drastis, kali ini ia justru menundukan kepalanya tidak lagi memandang kearah depan. "Ucapanku benar, rupanya." Tambah Sasuke lagi.
"Heh, bagaimana bisa kau mengatakan ucapanmu benar sedangkan aku tidak menjawab apapun?" nada suara Sakura terdengar jika ia tidak terima dengan tambahan Sasuke. "Aku tidak terlalu senang –maksudku, atau aku tidak senang sama sekali malah. Sudah sering rekan –
"Mereka tidak ada yang spesial seperti hari kemarin." Potong Sasuke.
"Maksudnya?" Sakura siap jika setelah ini ia akan mengeluarkan ekspresi yang berbeda lagi.
Sasuke membuang nafasnya, "Pasti diantara mereka, kau yang diminta pulang bersama, bukan kau yang meminta pulang bersama." Jelasnya.
Sakura terbelalak terkejut, bukankah Sasuke sendiri yang mengatakan "Kau tidak akan bisa menunggu bus sendirian?" "Kau terlalu percaya diri!" gumam Sakura membuang mukanya kearah lain. "Kau sendiri yang menyebutkan –
"Tapi kau lebih dulu diam disamping motorku." Selaan kali ini tidak Sakura sangkal. "Bagaimana pendapat Ibumu?" tanya Sasuke ambigu.
Astaga Sakura bisa stres sekedar ia berjalan bersampingan dengan Sasuke. "Jangan mulai lagi. Baru saja kita baikan kemarin, kau sudah memainkan emosiku lagi." Ini terdengar seperti sebuah tuduhan.
"Hn. Mengapa harus? Aku baru bersekolah disini kau sudah banyak mengumpat, menegur, bahkan mengadu. Kemarin itu aku bahkan tidak meminta maaf atau bicara hal-hal persahabatan padamu." Sasuke tersenyum menang, mereka kini menaiki anak tangga.
Sakura tidak memedulikan beberapa pasang mata yang memandang mereka iri, toh ia tidak merasakan perasaan ganjal atau tidak enak berjalan dengan sosok si murid baru ini, meskipun Sasuke sendiri terus mencoba menyulut emosinya.
"Kau diam." Tegur Sasuke.
"Kenapa aku harus berbicara dengan lelaki menyebalkan sepertimu?" tandas Sakura menatap tajam kesampingnya.
"Sebentar lagi aku di jadikan ketua ekskul basket."
"Aku tidak bertanya, ingat!" Sakura merasa puas karena Sasuke memejamkan kedua matanya.
Ia kelihatannya tidak terlalu mempermasalahkan ucapan Sakura karena saat ia membuka kembali matanya, ada ide baru yang melintas dipikirannya. "Kau ketua OSIS, aku kapten basket. Kurasa itu cocok."
Pipi Sakura merona mendengarnya, sialan, ia memang tidak merasakan ada gejala malu atau semacamnya, tapi rona yang menjalari pipinya tidak bisa berbohong. "Jalan ke kelasnya lumayan jauh ya?" ok Sakura harus akui ia memang merasa gugup saat ini.
.
.
.
"Pipimu merah Sakura, ada apa?" Ino menyembulkan kepalanya ke jendela yang berada tepat disamping tempat duduknya. Ia ingin memastikan siapa gerangan yang membuat Sakura nyaris tersipu seperti ini.
Sakura diam, bisa gawat kalau ia bercerita pada ratu gosip yang berstatus sahabatnya. Saat ia salah bicarapun akan berakibat fatal karena nanti akan banyak rentetan pertanyaan dari teman-temannya atau bahkan adik kelas. Ingat, dia adalah Ketua OSIS yang harus memberikan contoh baik untuk sekolah.
"Aku bertanya padamu!" ulang Ino dan kali ini Sakura balas menggelengkan kepalanya pelan.
"Nothing."
Ketukan di pintu kelas membuat semua siswa diam, saling mengandalkan satu sama lain untuk membukakan pintunya sampai Sakura sendiri yang turun tangan berjalan kedepan.
"Sakura-chan, kau matikan ponselmu?" sosok Naruto berdiri disana. Tidak, tidak ada Sai saat ini, hanya dirinya saja yang ada disana. Sakura mengerutkan kedua alisnya, ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jas.
"Ya. Aku baru saja membuka ponselku. Ada apa Naruto?" Sakura menanyakan hal yang semestinya, apa lelaki didepannya ini membutuhkan sesuatu atau ingin membicarakan hal penting, ia tidak bisa menebaknya. "Oh .. ya aku tau." Tanpa Naruto yang menjawab pun Sakura sudah bisa mengetahui apa jawabannya saat delapan panggilan masuk yang tidak ia angkat dengan nama yang sama.
Naruto tersenyum lebar, tidak ia bahkan mengeluarkan cengengesannya. "Itu saja, si Teme menyuruhku agar kau nyalakan ponselmu Sakura-chan. Baik, aku harus kembali di kelasku." Sakura mengangguk mempersilahkan, ia sendiri kembali masuk kedalam kelasnya.
"Mau apa dia? Tumben sekali Naruto datang kesini?!" Ino menghujatnya dengan pertanyaan heran. Bagaimana ia bisa tinggal diam, karena Naruto datang ke kelasnya bisa di hitung pakai jari berapa kali ia butuh.
Sakura menggeleng pelan, "Hanya ada sesuatu hal saja." Jawabnya. Ia kunci ponselnya dan kembali ia masukan kedalam saku jas.
Satu panggilan masuk dan kali ini Sakura mengetahuinya, "Sasuke, mau apa dia menghubungimu?" pertanyaan Ino terdengar curiga. "Jawab Sakura!" desaknya, dengan gemas Ino bahkan menggeser tombol hijau yang ada dalam layar ponsel Sakura.
"Apa-apaan kau Ino!?" Sakura terlihat tidak terima, namun Ino menggerakan bibirnya seolah ia mengharuskan agar Sakura menjawab saja sambungan dari seseorang yang .. baru-baru ini jadi bahan perbincangan.
Sakura menempelkan ponselnya ketelinga dengan matanya yang memandang was-was. "Hn. Aku ingin merokok dikantin, kau tidak mau datang kemari?" sialan, segera ia jauhkan ponselnya dari telinga.
Ino menaikan kedua alisnya saat Sakura terlihat kesal. Ia tidak menjawab apa-apa dan mematikan sambungan ponselnya begitu saja. "Hei, kau mau kemana!?" panggilan Ino tidak mendapat respon apa-apa.
Sakura berjalan terburu-buru bahkan beberapa adik kelas yang ia tabrak, ia tidak punya banyak waktu untuk meminta maaf. Dengan pandangannya yang terus tertuju kedepan membuat Sakura tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai dan memergoki kegiatan Sai dan Naruto yang sedang merokok –lagi, di area kantin.
Salah satu penjual disana segera menunjuk kearah meja dimana ketiga sejoli itu duduk santai. "Seharusnya mereka masuk di jam pelajaran pertama." Decak Sakura dan mendekat kearah meja yang satu-satu terisi di jam yang masih pagi.
"Merokok dini pagi akan membuat paru-parumu lebih cepat terserang penyakit." Sahut Sakura dengan menggebrak meja membuat Naruto terlonjak kaget dan sisanya hanya memandang datar.
Sasuke tersenyum tipis, menunjukan pada kedua sahabatnya jika Sakura benar-benar memenuhi panggilannya. "Baru saja aku menyuruhnya untuk menyalakan ponsel. Dan kau terburu-buru menghubunginya, Teme!" sahut Naruto tersenyum senang.
Sakura mengernyit heran, "Jadi untuk apa kau memanggilku? Untuk menegur kedua sahabatmu dan membuang-buang waktu!?" tanya Sakura kesal, dan Sasuke menganggukan kepalanya membenarkan.
"Kenapa tidak kau adukan saja mereka berdua?" tanya Sasuke.
"Hei!" Naruto terlihat kesal dengan umpan Sasuke.
Sakura menghela nafasnya dalam-dalam. "Untuk apa aku mencari masalah dengan kedua orang penting sepertinya yang bisa menggunakan uang untuk apapun yang mereka rasa itu merugikan?" suaranya terdengar santai, namun cukup membuat antara Naruto maupun Sai menunduk, ditambah mereka langsung mematikan rokoknya.
"Jadi kau pikir aku bukan orang penting?" balas Sasuke memandang Sakura langsung di sorot mata hijaunya.
"Hei Sasuke dengarkan aku, aku tidak peduli kau orang penting atau tidak, kau murid baru atau bukan, jika kurasa aku bisa menyimpan rasa peduli pada salah satu dari kalian atau itu kau, mengapa kau harus merasa dirugikan?" kali ini mata Sakura yang balas memandang sorot mata hitam didepannya. "Jika kau hanya ingin mengatakan itu, aku lebih baik pergi ke kel–
"Tunggu dulu Sakura-chan!" Naruto refleks memanggil lagi ketua OSIS yang memang terkenal dengan rasa disiplinnya yang tinggi. "Kau harus ikut di pameran pertama Sai, hari ini jam dua siang. Tenanglah, latihan basket tidak ada jadwalnya khusus sekarang." Naruto mengatakannya dengan lancar.
"Kami ingin kau datang di acara pameran seniku yang pertama." Sahut Sai menambahkan.
Sakura tersenyum tipis, ia tidak menunjukan jika suatu kebanggaan tersendiri diajak oleh kedua siswa yang sering disegani guru-guru sekolah. "Tapi aku tidak tau akan pergi dengan siapa kesananya Sai. Mungkin, jika Ayah ada dirumah aku akan memintanya untuk –
"Sasuke bisa mengantarmu Sakura-chan, ini juga ide .."
Satu jitakan dikepala Naruto oleh Sasuke membuat Sakura meringis pelan melihatnya. Apa seberani itu Sasuke? Oh baik, karena ini semua Sakura belum tahu jika mereka sudah bersahabat sejak lama atau baru saling mengenal.
"Tak apa Naruto, aku tidak akan memaksakan. Aku kan sudah bilang aku akan meminta Ayahku saat ia pulang kerja." Lanjut Sakura menuntaskan kalimatnya.
"Kapan Ayahmu datang?" Sasuke angkat bicara. "Jam dua?" tanyanya lagi dan Sakura jawab dengan anggukan pelan. "Biar nanti aku yang menjemputmu." Jeda sejenak. "Pulang sekolah juga." Gengsi atau gugup? Sasuke terdengar ragu-ragu mengatakannya.
Sakura terlihat jika dia sedang menimang-nimang, baik kumpulan OSIS harus dibatalkan untuk hari ini. "Aku tunggu." Sakura meninggalkan mereka bertiga dengan langkah terburu-buru, ia bahkan melupakan jika rokok Sasuke masih tersimpan di pemuda itu. Toh, asal ia memenuhi panggilan Sasuke untuk menyelamatkan moodnya Sasuke sudah berjanji ia tidak akan merokok di sekolah.
"Sasuke, sepertinya kita tidak harus merokok di sekolah lagi." Sasuke mendengus mendengar gumaman Sai. "Atau itu salah satu cara agar kau bisa mendapatkan Sakura?" tebaknya.
Sasuke mengendikan bahunya pelan. "Kita harus segera masuk kelas."
Mengalihkan pembicaraan rupanya, Naruto menyikut lengan Sai dan masih dengan cengiran khasnya. "Sai, orang yang selalu mengalihkan topik pembicaraan berarti dengan orang yang sedang gugup."
.
.
.
Kakashi mengakhiri jam pelajarannya di kelas XI IPA-2, dan jam dinding dikelas menunjukan pukul satu lebih lima belas menit. "Rapat OSIS dibatalkan!" Sakura setengah berteriak berusaha memberitahu salah satunya Sara, sekretaris OSIS yang satu kelas dengannya.
Tidak ada yang bertanya alasannya, mereka yang sesama OSIS justru bersorak memanfaatkan kesempatan dengan kegiatan mereka sendiri. Sakura buru-buru menggendong tas nya dan menyimpan ponselnya kedalam saku.
"Sakura, pulang sekarang?" Ino menauatkan alisnya bingung tidak biasanya Sakura tampak terburu-buru. Tapi ia justru berinisiatif untuk tidak lagi di tinggalkan oleh sahabatnya.
Kepala merah mudanya mengangguk cepat dan langkahnya membawa ia menjauh dari tangga.
"Sialan! Aku harus lebih cepat!" Ino mendecak sebal. Ia susul langkah Sakura yang menurutnya sangat-sangat cepat.
Tiba-tiba dirinya berhenti saat diparkiran sekolah Sakura tampaknya berbincang bersama Naruto, Sai, dan Sasuke (?) mengapa bisa mereka terlihat akrab? Sedangkan Sakura sendiri tidak bercerita apa-apa tentangnya.
Ino segera mendekat, dengan penuh keberanian ia memanggil Sakura yang tersenyum mendapati kedatangannya. Sakura sudah tahu Ino pasti akan mengejar langkahnya dan ia tidak harus terkejut saat sahabatnya itu berhasil untuk usahanya.
"Ino .. kami akan pergi ke pameran seni, kau mau ikut?" ajakan Sakura yang terdengar santai dan datar bukan hanya membuat ketiga teman lelakinya terkejut, Ino sendiripun merasa tidak enak dengan ajakan Sakura.
Sasuke diam, Naruto bungkam, hanya Sai yang mendekat kemudian berdiri bersampingan dengan Sakura. "Kau bisa ikut untuk menamaninya, I-I –
"Ino." Sahut Sakura menambahkan.
"Ya. Kau bisa ikut di pameran seni pertamaku, ini memang tidak disebar untuk banyak siswa sekolah dan kalian adalah salah satu perwakilannya, menurutku." Lanjut Sai tersenyum manis.
Ucapan Sai membuat Ino jutsru merasa rendah, bagaimana ia bisa datang sedangkan kelihatannya Sakura bisa pergi bersama Sasuke untuk mengunjungi pameran seni Sai.
"Kau bingung dengan siapa kau pergi? Jika kau ingin, aku menunggumu di taman Konoha. Kita tidak saling tahu sebelumnya, jadi aku tunggu kau disana." Sai membuat Ino membeliak kaget, merasa di sanjung – karyakan?
"T-tidak usah aku mungkin akan berangkat sendirian." Balas Ino tak enak hati. Namun masih dengan senyuman tipisnya Sai menggeleng.
"Sakura akan berangkat dengan Sasuke, Naruto akan menjemput kekasihnya, menurutku kau sendiri jadi mungkin aku bisa menjemputmu."
Entah anugerah apa saat ini, tapi dengan datangnya Sasuke, sahabatnya yang ikut andil, Ino benar-benar tidak menyangka impiannya untuk sekedar jalan bersama Sai Shimura akan menjadi kenyataan.
"Tentu saja aku mau." Ino menerima kesempatan terbesarnya.
TBC
A/N
Lebay ga sih? Ya ampun ga PD update chapter 3 nya :') Balesin review dulu yoo
Rimbursa : Iya makasih xD ok Ejaan nya belum sempurna-sempurna terus zebell wkwk, kalimat eifisien? Contoin dong :3
Dinaa Haruno : Sudahh :*
Luca Marvell : Ga punya hubungan apa-apa ko awalnya, baca aja perchapternya nanti yaa :*
Raizel's wife : Adududuhhh makasih bangettt xD. Hehe itu hanya bagian kalimat untuk word panjangan kali :p makasih ya udah nunggu ini aku udah update just for you :* :D
Hoshi Riri : Hehe aku belum senpai maaf :') aku nulis story ini karena aku juga masih anak sekolahan :p #ga nyambung! Abaikan :')
Dianarndraha : Makasih :) lanjutannya ini ya gatau ngejawab penasaran kamu atau engga xD Oke!
Zarachan : Okokkk :)
Undhott : Pas liat reviewmu juga seneng bangett tapi hiksss aku ga bisa panjang wordnya :'( kan fast update xD ini juga udah update ga lama-lama :p
Greentea Kim : Sudah! Sudah! ;)
Azhar : Oh iya makasih dikit-dikit ya aku perhatiin soalnya udah biasa nulis kaya gini :') makasih ya sarannya ini sudah dilanjutkan ;)
Fujiwaraa : Udahhh haaaa, ga ngerasa di paksa ko xD
Wowwoh . geegee : Sudah .. kasih review wajib masih suka ga sama chap ini? xD
Charlotte Puff : KYAAA KAMU BIKIN HATI AUTHOR DUGDUGDARR :* sudah lanjut, jangan lupa review lagi xD
Top Kopi : Ya ampun aku baru liat usename kamu ternyata kamu nyenengin juga ya xD wkwk abaikan aku lagi pusiangg :D
Sri334 : Oh ya ampun, maaf aku gatau hehe iya makasih udah di kasih tau pembelajaran aja kedepannya, makasih banyak ya :*
Aikaa-chan : Sasuke sebenarnya dia Uchiha 'kan? Wkwk, iya ini udah dilanjutin, makasih juga soal semangatnya :*
Alif Yusanto : Ga terlalu kilat sih tapi masuk di fast update #eh :D
Hikayu : Makasihhh cans/hans. Sudah dilanjutin ya :*
Clairine Clay : Iya nih makasih sarannya aku juga kalau inget baru ganti 'tau' jadi 'tahu' tapi kalau lupa .. ahh ya sudahlah :v . Update kilat ga ini? xD
Jamurlumutan462 : Wahhh aku juga :3. Ini sudah di next ;)
Guest : Hai gila, selamat datang :* kalau kamu ingin di hargai tapi kamu tidak bisa menghargai lebih baik gausah review ya :) !
Laifa : Haha iya lah say, itu kan dunia nyata, wkwk ini imajinasi aku sendiri sih haha. Makasih review nya :*
Kirara967 : Apa ini pertanyaan yang menjurus? xD. Sudahh yoo :*
Rizuki Yoshida : Wkwk jadi mesem-mesem :p
Kiki Kim : Baper ga? :v udah di lanjut nih xD :*
Tia TakoyakiUchiha : Sudah :*
Zahra-chan610 : Rated nya M whoahh xD sorry-sorry galfok :')
Desypramitha26 : Adudududuhhh makasih banyak kaka atau ade siapapun dikau, aku seneng banget ampe nubruk atap #eh xD. Makasih –makasihhhh banget pujian dan reviewnya, aku apresiasi :') ini sudah update tapi ga kilat :)
Aishamath Shinobu : Macho? Wkwk kaya aku xD haha :p makasih ya sudah review :*
SPESIAL THANKS TO ALL READER TAP FAVORITE THIS STORY
