Di Chapter sebelumnya...
"Sasuke-kun, apa kau menemukan sesuatu?." Sakura bertanya pada Sasuke yang sibuk dengan komputer kepala sekolah. Tak ada jawaban, hanya gelengan singkat yang ditunjukkan Sasuke. Menyerah karena tak berhasil menemukan apa yang ia cari, Sasuke memutuskan untuk berhenti dan merileksasikan otot-ototnya yang tegang. Apa yang mereka lalui setengah hari ini benar-benar membuatnya kelelahan. Lain halnya dengan Naruto, saat ini tangannya bergetar, peluh menetes melalui dagunya, mulutnya terbuka, matanya memandang horor kearah depan. Lebih tepatnya kearah luar melalui jendela.
"A-apa... ini.."
.
.
.
.
.
Chapter 3
"Determination Between of The Dead"
.
.
.
~oOo~
.
.
.
.
"A-Apa.. ini.." gumamnya dengan suara bergetar.
"Hm..? Ada apa Naruto?" Sakura bertanya pada sahabat kuningnya tersebut. Saat melihat gelagat aneh dari Naruto, Sakura memutuskan untuk menghentikan aktivitasnya dan menghampiri pemuda bersurai kuning itu. Tampaknya Sasuke juga menghampiri Naruto sama seperti Sakura.
"..?!"
Mereka terkejut saat berada di samping Naruto. Melihat apa yang Naruto lihat sedari tadi membuat mata mereka bergetar. Dari sini, mereka bisa melihat ke arah seluruh penjuru Konoha, karena sekolah Konoha Gakuen terletak di selatan Konoha. Asap membumbung tinggi dimana-mana, jalanan porak-poranda dengan mobil yang berserakan. Tak jauh dari tempat mereka, jalanan di pinggir tempat parkir sepeda Konoha Gakuen pun dipenuhi dengan mayat-mayat berjalan. Kota yang mereka tempati saat ini... telah menjadi kota mati.
"I-ini tidak mungkin... ini tidak mungkin terjadi.." Gumam Sakura sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia masih belum mau mempercayai apa yang ia lihat.
"Konoha... hancur." Kata Sasuke singkat dengan apa yang dilihatnya sejauh mata memandang.
Tak lama setelah keterkejutan mereka bertiga, kini tidak terdengar lagi suara-suara dobrakan dari luar dan malah tergantikan oleh suara seseorang yang mereka kenal sejak bersekolah disini.
"Sitri-san, Akimici-san, tetaplah di belakangku!."
"Ha'i sensei."
Naruto, Sakura dan Sasuke sadar bahwa suara itu berasal dari luar dan tak jauh dari ruangan mereka. Dan pemilik suara itu adalah...
"Anko-sensei..!" Pekik mereka bertiga secara bersamaan.
Sabetan demi sabetan mengenai telak ke kepala para makhluk itu yang mencoba mendekat kearah Anko dan 2 remaja di belakangnya. Lagi-lagi tempat itu dipenuhi dengan cipratan darah yang keluar dari kepala mereka. Sona dan Chouji hanya bisa menatap kagum akan kelincahan serta kecepatan dari Anko-sensei yang berada di depan mereka. Terlebih lagi bagi Chouji yang sedang memandang pergerakan indah Anko-sensei dengan sangat bergairah. Tak henti-hentinya pemuda tambun itu nosebleed saat pandangan wajah mesumnya terpaku pada oppai sang guru yang proporsional, terbanting-banting naik-turun di balik jas dan kemeja yang ia kenakan.
Sona yang melihat pemuda di sampingnya dengan wajah mesum hanya sweatdrop sambil menyiapkan sebuah sepatu untuk menyadarkan otak mesumnya.
Duagh..
Gambar sol sepatu mengecap jelas melintas di tengah wajah Chouji.
"Saat seperti ini.. kau benar-benar baka." Geramnya saat memakai sepatunya kembali. yang di tampar menggunakan sepatu tadi hanya tersenyum tak jelas dengan wajah yang sudah tidak karuan.
"Mereka pasti tahu kita ada disini, kita harus segera membantu mereka!." Ucap Naruto dengan wajah serius.
"Itulah yang aku pikirkan sedari tadi." Sasuke menyahuti Naruto dengan wajah yang tak bisa dibilang stoic lagi sekarang.
"Aku ingat! Para guru menyimpan beberapa perlengkapan olahraga di lemari. Mungkin ada sesuatu yang bisa kalian gunakan." Sakura juga menyahuti yang lain dengan cepat, berharap mereka berdua bisa segera melakukan sesuatu untuk membantu Anko-sensei.
Tak butuh waktu lama bagi Naruto untuk segera mengobrak-abrik lemari besi berwarna biru di pojokan. Tak lama berselang ia lemparkan sesautu kearah Sasuke. Dengan cekatan Sasuke menangkap benda yang dilemparkan bocah kuning tadi.
"Kita pakai ini.. ayo, Sasuke." Memegang erat sebuah pemukul kasti yang juga ia berikan pada Sasuke tadi, Naruto segera meninggalkan lemari yang masih terbuka.
Sakura juga tak mau tinggal diam setelah melihat kedua orang terpenting dalam hidupnya kini telah siap menghancurkan kepala mereka. Ia tarik meja yang menahan pintu dengan sekuat tenaga lalu membuka pintu ruangan tersebut dengan cepat.
"Mereka terlalu banyak.." Kata Anko-sensei yang tampak kewalahan menghadapi rombongan makhluk-makhluk itu. Nafasnya tersenggal saat menari-nari menghindari serangan dari mereka. Dan saat ia lengah, satu dari makhluk itu berhasil menangkapnya. Seolah telah mengunci pergerakan guru muda itu, Anko terlihat tak bisa berkutik.
"Anko-sensei..!" Sona dan Chouji berteriak khawatir saat melihat Anko-sensei yang tak berkutik dalam dekapan makhluk sialan itu. Selain juga staminanya yang telah terkuras, juga dekapan mayat itu sangatlah kuat. Namun sebelum makhluk jelek itu berhasil menggigit pundak mulus Anko-sensei...
Buagkh..!
Sebuah sontekan tongkat mematikan berhasil mematahkan leher mayat hidup itu terlebih dahulu, membuat Anko-sensei bebas dari dekapan maut mereka.
"Butuh bantuan eh, sensei?." Naruto bertanya dengan nada menggoda. Ternyata yang mematahkan leher makhluk tersebut adalah Naruto!
"Namikaze!"
"Namikaze-kun!"
Pekik gembira Chouji dan Sona bersamaan. Terlebih Sona yang menunjukkan ekspresi senangnya kala melihat Naruto setelah sekian lama insiden mengerikan ini berlangsung. Ia tahu tahu walau Naruto adalah orang yang agak bodoh, tapi ia percaya bahwa pemuda yang bernama lengkap Namikaze Naruto ini selalu bisa melakukan hal yang terduga.
"Dengan senang hati, Namikaze-kun" dengan nada yang tak kalah menggoda, Anko menjawab pertanyaan Naruto tadi, sedangkan Sona hanya sweatdrop melihatnya. Sasuke terlihat tengah sibuk melindungi Sakura. Pukulan demi pukulan ia lancarkan kearah kepala mereka menggunakan tongkat pemukul kasti.
.
.
.
.
.
"Kusoo... apa yang harus kulakukan?!"
Nampak beberapa meja dan kursi yang disusun secara acak di depan pintu, juga terlihat pemuda berambut spike yang kini sedang menjambak rambutnya sendiri karena frustasi dengan keadaannya sekarang, ia selalu mondar-mandir di depan gadis berponi yang masih setia meringkuk di lantai. Suara berisik dari pintu juga membuat mereka tidak menyadari kegaduhan di lantai teratas gedung ekstra kurikuler.
"Sudahlah Kiba... kita tetap akan mati." Gadis bersurai hitam kebiruan itu membuka suara. Matanya sayu, masih sama seperti tadi. Terlihat jelah bahwa ia telah menyerah dan sama sekali tak ada semangat hidup yang mengalir di denyut nadinya. perkataan gadis tadi membuat pemuda bertato segitiga terbalik di kedua pipinya itu seketika menghentikan kegiatan mondar-mandirnya.
"Hinata-chan, kau tak boleh berkata seperti itu." Menghampiri gadis tadi, Kiba berucap dengan lembut seakan ia tak mau gadis itu terpuruk terlalu dalam.
Hinata mengangkat wajahnya saat mendengar Kiba memanggil namanya dengan suffix -Chan. Sesaat menatap pemuda itu lekat-lekat, lalu memandang ke lantai lagi.
"Kita tak boleh menyerah Hinata... tak peduli dalam keadaan apa pun, kita tak boleh menyerah." Lagi... ucapan lembut Kiba mengalir melewati gendang telinga Hinata. Namun gadis ini tetap tak beranjak dari pandangannya ke lantai usang penuh debu.
"Tapi... kita-"
"Katakan bahwa kau tidak akan menyerah, Hinata." Sela Kiba memotong kata-kata yang akan keluar dari mulut Hinata.
"Kiba... aku-"
"Katakan sekarang, Hinata. Katakan bahwa kau tak akan pernah menyerah." Tak henti-hentinya Kiba coba meyakinkan Hinata. Coba membangunkan kembali semangat yang telah meringkuk di dasar hatinya. Kiba tak menyerah untuk menyelamatkan Hinata dari keterpurukan yang semakin lama semakin menelannya.
"Tapi aku tidak... bisa. Aku tak bisa Kiba" Hinata mengeratkan genggaman di dadanya, membuat seragam yang ia kenakan berkerut.
"Kau bisa Hinata... kau bisa..." Kiba mendongakkan kepala Hinata kearahnya dengan lembut. Memaksa mata amethyst Hinata bertemu dengan mata Kiba. Mencoba membagi keteguhan hati melalui sorot matanya.
"Kau tahu Hinata? Aku tidak pernah menyerah sampai saat ini, karna aku selalu teringat dengan kata-kata seseorang."
"Sese...orang?"
"Ya.. seseorang. Seseorang yang sangat bodoh dan ceroboh. Seseorang yang tak pernah mendapatkan nilai baik di sekolah. Seseorang yang tak mengerti aturan dan sangat berisik."
Hinata mulai mendengar cerita Kiba dengan seksama. Kegundahan hatinya mulai berkurang sedikit demi sedikit dan tergantikan oleh ketenangan yang Kiba bagikan melalui sorot matanya.
"Walau pun dia bodoh, namun dia punya sesuatu... Sesuatu yang tak dimiliki oleh orang lain."
"Sesuatu... yang tak dimiliki oleh orang lain?." Tanya Hinata dengan suara lebut.
"Ya., Hinata... sesuatu. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dan sesuatu itu adalah... semangat pantang menyerah."
"Semangat... pantang...menyerah?" Hinata kembali bertanya seperti orang kikuk, Walau begitu Kiba tetap memberikan senyuman terbaiknya.
"Aku belajar darinya, Hinata-chan. Belajar untuk tidak pernah menyerah dalam segala hal. Kau tahu? Seseorang itu adalah sahabat baikku, seorang yang menyuruhku untuk membawamu keluar dari kelas."
"Sahabatmu... menyuruhmu... menyelamatkanku?"
"Ya.. Hinata-chan. Seseorang itu adalah... Naruto Namikaze, si baka sekaligus juga sahabatku." Kiba tersenyum lembut mengakhiri ceritanya. Namun lain halnya dengan Hinata. Ia memasang ekspresi wajah yang tercengang setelah mendengar kalimat Kiba. Lebih tepatnya, mendengar Kiba menyebut nama pemuda kuning yang sejenak menghilang di pikirannya begitu insiden berdarah ini dimulai.
Yang lebih mengejutkannya lagi adalah... pemuda kuning itu yang menyuruh Kiba untuk menyelamatkannya. Hinata benar-benar membatu sekarang. Pikirannya tercemari oleh berbagai pertanyaan seputar pemuda kuning itu. Selamatkah dia? Baik-baik saja kah dia? Jika baik-baik saja, dimanakah ia sekarang? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam pikirannya.
Wajah Hinata kembali jatuh menatap lantai. Kiba yang melihatnya segera mengelus pipi gadis yang disukainya tersebut.
"Maka dari itu, Hinata. Aku ingin dirimu juga mempunyai semangat pantang menyerah yang dimiliki Naruto."
"A-aku..." Kiba menunggu kata yang akan keluar dari mulut Hinata. Menunggu penuh kesabaran. Hingga tanpa disadari mata Hinata telah terkatup dengan rapat.
"A-aku... aku tidak akan menyerah... Aku akan terus berjuang!." Katanya pelan dengan suara lemah namun terlihat tegas. Kiba kembali tersenyum kearah Hinata. Ya, dia telah berhasil membuat Hinata bangkit dari keterpurukan. Segera ia peluk tubuh gadis itu dan mengelus lembut rambut panjangnya. Hinata terkejut dengan apa yang dilakukan pemuda yang ada di depannya, namun ia biarkan, dengan begitu Kiba tidak bisa melihatnya menjatuhkan setetes air bening yang mengalir lewat pipi putihnya. Walau Kiba memeluknya penuh kasih sayang, Hinata sama sekali tak membalas pelukannya. Dan tanpa Kiba ketahui juga, seulas senyum lembut terukir di wajah cantik Hinata.
'Aku tak akan pernah menyerah lagi, Naruto...-kun'
.
.
.
.
.
Terdengar nafas yang menderu dan tersenggal-senggal dari pemuda berambut raven. Banyak peluh menetes membasahi wajah tampannya. Tongkat pemukul yang ia bawa kini berlumuran darah yang telah mengental. Tampak tak jauh dari pemuda tersebut, seorang pemuda bersurai kuning juga tak jauh berbeda seperti keadaanya. Saat ini matahari telah tenggelam dengan sempurna, menyembunyikan sinar eloknya yang tak lama lagi akan tergantikan oleh cahaya sang rembulan.
Lantai 3 Konoha Gakuen, berubah menjadi lantai berdarah dengan banyak mayat yang berserakan disana-sini. Tentu akan jadi pemandangan yang sangat mengerikan bagi seorang anak berumur di bawah 7 tahun.
"Jadi... apa yang akan kita lakukan sekarang?." Pemuda bersurai kuning rancung mulai bertanya saat detak jantungnya kembali normal.
"Untuk sekarang... kita bisa bertukar informasi terlebih dahulu tentang mayat-mayat hidup ini." Siswi berkacamata menjawab pertanyaan dari pemuda kuning tadi.
"Informasi..?"
"Ya, informasi. Kita tahu bahwa menghancurkan eem... otak mereka, adalah satu cara untuk menghentikan mereka. Selain itu, apa yang kalian ketahui?."
Setelah menjelaskan, Sona memberi pertanyaan kepada kelompok Naruto. Yang diberi pertanyaan malah hanya menggaruk-garuk pipi, membuat anggota kelompoknya sendiri sweatdrop melihat kebodohan Naruto.
"Menurutku, mereka tertarik dengan suara gaduh. Sewaktu tadi saat kami membuat kegaduhan di lantai ini, mereka langsung berdatangan dan mengurung kami di ruangan guru." Sakura yang sempat sweatdrop oleh kebodohan Naruto pun akhirnya membuka suara, menyampaikan pendapatnya tentang apa yang ia ketahui dari makhluk-makhluk itu.
"Suara ya? Aku rasa itu ada benarnya.." Tukas Anko-sensei sambil menginjak mayat siswa yang tadi ia bunuh kembali dari kematiannya.
"Seseorang akan berubah menjadi seperti mereka jika terkena gigitan, walau pun itu hanya sebuah gigitan kecil." Sasuke kini ikut angkat bicara. Memang benar apa yang dikatakan Sasuke. Mereka berenam bisa berubah menjadi seperti makhluk-makhluk itu apabila tergigit oleh mereka. Dan dengan satu gigitan kecil saja itu sudah cukup untuk membuatmu berjalan bak seorang mayat yang kelaparan.
"Benar... aku lihat para sisiwa-siswi disini yang berubah menjadi makhluk buas pemakan daging, juga berawal dari gigitan. Semua menyebar dengan cepat keseluruh Konoha Gakuen." Ujar panjang lebar Anko-sensei.
Kondisi yang beberapa saat lalu tenang, semua melaksanakan proses ajar-mengajar seperti biasanya, juga para murid Konoha Gakuen yang masih seorang manusia biasa. Namun tanpa diduga, sebuah insiden kecil di halaman sekolah mampu membuat semuanya berubah menjadi mencekam dan mengerikan.
"Saat ini, aku belum mengetahui interval waktu bagi mereka yang tergigit untuk berubah." Tukas Sasuke lagi.
"Dan juga, sejak sedari tadi kami tak bisa menghubungi siapa pun. Selain tidak ada sinyal, juga tidak ada yang menyambungkan kepada nomor yang dituju." Sambil memasang pose berpikir, dengan bersidekap dan menyangga dagu Naruto menyatakan keanehan yang jarang terjadi di Konoha.
Sesaat sebelum insiden berdarah ini terjadi, memang mereka agak susah menggunakan jaringan telepon memalui ponsel mereka. Entah itu menelpon seseorang atau pun hanya sekedar mengirim pesan singkat. Kejadian seperti ini sangat aneh bagi Naruto, pasalnya sangat jarang sekali kota besar dan maju seperti Konoha dengan segala fasilitas lengkapnya, masih saja terjadi error komunikasi.
"Hmm.. aku juga kesulitan untuk mendapatkan sinyal sejak tadi." Ujar Chouji sambil menggoyang-goyangkan sebuah ponsel keatas.
"Baiklah, apa ada yang lain selain itu?." Sona kembali bertanya sambil membetulkan posisi kacamata yang ia pakai.
"Ano.. seberarnya ada satu lagi." Naruto mengangkat tangan kanannya untuk memeberi interupsi.
"Ya.. Namikaze-kun?" Sona menanggapi Naruto dengan sedikit senyuman di wajahnya.
"Ano.. sebenarnya... mereka itu suka dengan pemuda tampan seperti Sasuk-"
Duagh..!
Kepalan tangan Sakura seketika bersarang di atas kepala Naruto. Membuat sang empunya kepala meringis kesakitan memegangi kepala jabriknya.
"Sudahlah Naruto, jangan membahas hal yang tidak-tidak seperti itu!"
Yang melihat kejadian tersebut hanya bersweatdrop ria, tak terkecuali Sasuke yang berada di samping Naruto.
'Benar-benar bodoh..' gumam Sasuke dalam hati.
"Tapi, Sakura.. apa yang aku katakan tadi benar kan? sedari tadi yang menyerang Sasuke selalu-"
Buughh..
Lagi, pukulan keras Sakura kembali mendarat di atas kepala Naruto. Dua benjolan seketika keluar dari kepala pemuda berambut nanas ini. Sona hanya mampu mengurut keningnya melihat kekonyolan dari Naruto.
"Yare... sebaiknya kita segera keluar dari sekolah ini. Bukankah itu rencana kita tadi, Sitri-san?" Sekarang giliran Anko-sensei yang berbicara. Dia kembali mengingatkan rencana mereka saat di dojo kendo tadi.
"Umm.. kurasa keluar dari sekolah ini adalah ide yang bagus." Sakura setuju dengan rencana kelompok Anko-sensei. Keluar dari tempat yang menyeramkan ini merupakan hal yang bagus untuk saat ini.
"Pertanyaannya... bagaimana kita semua akan keluar dari sini?." Sasuke bertanya dengan mode coolnya. Bersidekap sambil memasang wajah stoic andalannya.
"Kita akan keluar dari sini... menggunakan bis sekolah."
Naruto, Sakura dan Chouji nampak tekejut mendengar ide dari Sona. Bagaimana tidak? Bis sekolah merupakan transportasi pribadi milik sekolah. Walau pun tak sebesar bis kota atau bis umum, namun bis itu dirasa mampu untuk menampung mereka semua. Karena besar dan tertutup, maka akan lebih aman dari serangan para mayat hidup itu ketimbang jalan kaki atau pun naik mobil pribadi bukan? Namun semua itu tak pernah terpikirkan oleh mereka bertiga.
"Ahh... itu ide yang bagus, Sitri-san. Kalau tidak salah kuncinya ada di ruang guru." Tukas Anko-sensei.
Sona yang mendapat ide brilliant tersenyum penuh kemenangan kearah Sasuke, yang di balas decihan kecil dari sang Uchiha muda. Aura persaingan sangat kentara di sekitar mereka. Memperebutkan gelar murid terpintar se-Konoha Gakuen merupakan gengsi tersendiri bagi mereka berdua.
"Baiklah kalau begitu, tak perlu membuang waktu lebih banyak lagi. Kita segera keluar dari sini!" Ujar Naruto tegas sambil menepuk kedua tangannya.
Mereka semua pun segera masuk ke ruang guru untuk mencari kunci bis sekolah. Lampu sengaja tidak dinyalakan karena mereka mengira cayaha dari lampu akan mengundang makhluk-makhluk itu kemari. Dengan peralatan seadanya seperti cahaya layar ponsel mereka gunakan untuk mencari benda kecil yang akan menyelamatkan mereka dari sekolah kematian ini. Setelah lama susah payah mencari, tetap saja mereka tak menemukan kunci tersebut.
"Sepertinya akan mustahil mencari sebuah benda sekecil penghapus ujian di dalam kegelapan seperti ini." Oceh Chouji entah kepada siapa. Naruto yang mendengar itu pun menjawab ocehan Chouji dengan malas.
"Sudahlah Chouji, berhentilah mengeluh dan tetaplah mencari."
"Anko-sensei, apa kau yakin kunci itu ada di ruangan ini?." Tanya Sona kepada satu-satunya guru di kelompok mereka.
"Umm.. ya, aku masih ingat kepala sekolah meletakkannya di sekitar sini." Anko menjawab sambil tetap mencari di rak penyimpanan warta sekolah.
Sakura yang terlihat lelah menyeka keringat di jidat lebarnya. Juga mempunyai pemikiran yang sama dengan Chouji, bahwa mencari sebuah kunci bis yang panjangnya tak sampai sejengkal tangan orang dewasa, terasa sangat mustahil di ruangan gelap seperti ini. Jika pencarian tetap dilakukan sepertinya hanya akan sia-sia saja bagi Sakura. Namun ia tak menyampaikan apa yang ada di pikirannya kepada mereka, karna baginya itu hanya akan membuat kondisi psikologis mereka menjadi down. Membuat mereka putus asa bukanlah sudah pasti bukan kemauan Sakura.
Para manusia yang tersisa di Konoha Gakuen ini mencari dengan ditemani oleh sinar rembulan yang melingkar sempurna. Membuat ruangan yang berada disitu tersinari oleh cahaya elok sang raja malam. Walau tak mampu menerangi sudut-sudut ruangan, namun sinar bulan purnama masih mampu menerangi tubuh mereka, hingga memudahkan mereka melihat para rekannya.
"Ayolah.. kumohon.." Gumam Sona pelan tetapi masih bisa terdengar yang lain.
Sona sedang membongkar-bongkar lemari kecil yang menyatu di bawah meja. Tangan kanannya memegang sebuah ponsel berwarna biru aqua untuk memudahkannya mencari. Sedangkan tangan kirinya sibuk begerilya menelusuri setiap lekuk benda yang ada di dalam sana. Tanpa ia sadari Naruto yang tak jauh darinya berjalan menghampiri Sona. Gadis berkacamata itu pun sedikit terkejut saat Naruto telah berjongkok di sampingnya.
"Sitri-san, biar kubantu.." Kata Naruto pelan sambil memegang ponsel Sona.
"B-Baiklah.." Ujarnya kecil
Sona terlihat salah tingkah ketika Naruto berapa di dekatnya. Seolah tahu apa yang Naruto akan lakukan, ia pun melepaskan genggamannya pada ponsel biru itu. Membiarkan Naruto yang mengambil alih urusan pencahayaan. Tak lupa juga Naruto arahkan layar ponselnya ke dalam meja disitu. Membuat pencahayaannya semakin terang, agar memudahkan Sona mencari kunci tersebut. Sebenarnya Naruto melakukan ini hanya untuk alasan saja, karena ia memang terlalu malas untuk mencari. Pekerjaan yang sangat membosankan baginya. Ketika melihat Sona tak terlalu jauh darinya, segera saja ia memulai acara pendekatannya. Bukan pendekatan untuk mendekati Sona, melainkan pendekatan untuk menutupi alasannya agar tidak ikut mencari kunci yang entah sampai kapan akan ditemukan. Untuk otak sekaliber otak Naruto, itu merupakan ide brilliant yang ia dapat pikirkan. Bisakah itu dibilang licik? Terserah pemikiran kalian.
"Bisakah kau berhenti memanggil margaku dan mulai memanggil nama depanku?." Gumam pelan Sona kepada Naruto dengan sedikit rona merah di wajah manisnya. Suaranya lebih seperti orang berbisik bila diperhatikan. Namun apa daya, suaranya yang terlampau pelan untuk didengar walau Naruto ada di dekatnya.
"Um? Kau mengatakan sesuatu, Sitri-san?." Tanya Naruto dengan tampang tak berdosanya.
Perempatan mucul di kening Sona. Berusaha agar suaranya tak terdengar oleh orang lain dan sekuat tenaga ia menahan malu saat mengatakan itu pada Naruto, tapi bocah kuning itu sama sekali tak mendengarnya. Sungguh membuat Sona kesal. Apa harus ia ulangi lagi dan menahan rasa gugupnya kembali?
"Baka.." Pekiknya kecil.
"Eh.. uhhh..." Naruto menghembuskan nafas pelan karna ia tak mengerti apa yang dibicarakan Sona. Gadia itu mengatakan sesuatu dengan sangat pelan dan hampir seperti bergumam pada diri sendiri lalu menyebutnya baka saat ia bertanya?
'Benar-benar aneh.' Pikir Naruto dalam hati
.
.
.
.
.
Suara-suara kayu yang bergesekan akibat dari bergeseknya meja dan kayu yang disusun di depan pintu masih terdengar dari dalam gudang. Memang sekarang tidak ada dobrakan yang agresif lagi dari luar, dan itu membuat Kiba sedikit lebih tenang. Pemuda spike itu bersandar di dinding tak jauh dari Hinata sambil memasang pose berpikir. Ia masih memikirkan cara untuk kabur dari ruangan pengap ini tanpa menimbulkan resiko yang terlalu besar untuk tidak sampai tergigit oleh para mayat hidup di luar. Namun sampai detik ini, belum juga ada satu ide pun yang muncul di kepalanya. Merasa semua ini hanyalah jalan buntu, ekspresi Kiba yang tadinya serius, kini berubah menjadi cemas. Ya... dia mencemaskan nasib dirinya dan Hinata yang mungkin tak akan pernah bisa keluar dari ruangan ini.
Hinata yang melihat perubahan ekspresi di wajah Kiba mengerti bahwa saat ini Kiba telah mencapai batasnya. Mata indah bak rembulan yang saat ini sedang bersinar terang, kini berubah sayu. Menyiratkan rasa lelah dan seperti akan menyerah. Tapi bukankah Hinata telah berjanji secara tak langsung pada bocah kuning rancung yang telah memberikannya banyak inspirasi tentang arti perjuangan dan indahnya kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, bahwa ia tak akan pernah menyerah lagi dalam kondisi apa pun.
Hinata sama sekali tak ingin mengingkari janjinya tersebut. Ia juga sedang berpikir keras untuk keluar dari sini sedari tadi. Nanun nihil, tak ada satu cara pun yang terlintas di pikirannya. Kini ia sadar hidupnya tak akan lama lagi. Hanya tinggal menunggu waktu bagi mereka untuk terbujur kaku karena kekurangan oksigen dan dehidrasi. Untuk yang kesekian kalinya, wajah cantik gadis ini kembali meredup, mata indahnya kembali sayu seperti tadi. Akan tetapi sesuatu menyadarkannya. Menyadarkan dirinya dari keterpurukan yang siap menelannya kembali. Sesuatu tersebut adalah sebuah ingatan. Ya, ingatannya tentang sebuah senyuman. Seseorang dengan cengiran khas yang selalu menjadi inspirasinya. Senyuman paling menenangkan yang menurutnya adalah obat untuk membunuh keputusasaannya. Seorang bersurai kuning rancung dengan kedua manik Sapphire sebiru langit luas kembali masuk ke memori ingatannya.
Flashback
.
.
.
Sore hari taman yang terletak di tengah kota Konoha, Hinata duduk di bawah sebuah pohon yang rindang. Pohon itu adalah pohon terbesar yang ada di taman ini. Dengan dedaunan hijau yang sangat rimbun dan sejuk, membuat siapa saja yang duduk di bawahnya merasakan kenyamanan dan kesejukan yang tiada banding di tengah hiruk pikuk kesibukan kota Konoha. Tak terkecuali Hinata yang saat ini tengah memejamkan matanya, merasakan setiap angin yang menerpa wajah cantiknya. Membuat rambut panjangnya seakan menari-nari dimainkan oleh angin. Memberikan sebuah keanggunan tersendiri bagi yang melihat.
Wajahnya begitu tenang, namun tidak dengan pikirannya dan hatinya. Terngiang semua yang ia dengar dari para teman barunya di Kohoha Gakuen. Ingatannya penuh dengan ejekan dan olokan yang begitu sangat menyakitkan saat masuk ke gendang telinga Hinata. Seakan jarum tajam yang menghujam tepat di ulu hatinya saat kalimat-kalimat pedas terlontar dari mereka.
"Ppsstt... lihat, apa itu murid pindahan yang akan masuk ke sekolah kita?."
"Aku dengar juga begitu."
"Sepertinya memang iya."
"Tapi aku tidak habis pikir kenapa kepala sekolah mau menerimanya."
"Aku juga berpikir begitu, kenapa sekolah ini mau menerima murid cacat seperti dia."
"Heii.. lihat! Ada murid pindahan baru yang datang."
"Apa dia cacat?"
"Aku rasa begitu, menggunakan kursi roda? Buat malu sekolah ini saja."
"Apa jadinya bila dunia tahu Konoha Gakuen mempunyai murid cacat seperti dia?"
"Hahahahaha..."
"Heii.. kalian ini berisik sekali! Aku jadi tidak bisa tidur!"
"Memangnya kenapa Naruto?! Murid cacat seperti dia tak pantas sekolah disini."
"Kenapa kau disini? Pergilah! Jangan dekat-dekat kami"
"Hei dengar yah.. seharusnya kau itu sekolah di sekolah khusus untuk anak cacat sepertimu!."
"Hahaha benar.. kami malu jika mempunyai teman cacat sepertimu. Apa kata murid sekolah lain jila tahu kami punya seorang teman yang cacat?."
"Oh tidak.. membayangkannya saja sungguh memalukan, pergi sana! Cari sekolahan lain."
"Lihat, bekal makanannya jatuh. Aku bertaruh dia tak bisa mengambilnya."
"Hahaha biarlan saja. Lagi pula dia tak pantas bersekolah disini."
"Benat-benar membuat malu nama Konoha Gakuen saja."
"Heii Naruto! Apa yang kau lakukan?!"
"Sudah Naruto.. biarkan saja dia."
"Kenapa kau malah membantunya? Sudahlah biarkan saja."
"Apa kau tidak malu mempunyai teman yang cacat seperti dia?."
"Aku yang malu mempunyai teman seperti kalian. Dasar sampah."
"Heii ada apa denganmu Naruto?!."
Tanpa terasa setetes cairan bening menetes melewati pipi putihnya saat kembali mengingat semua cemohoan itu. Hinata meletakkan kedua tangannya tepat di dada, ia merasakan sakit yang teramat sangat di bagian sana. Rasa sakit yang membuatnya berpikir, kenapa ia terlahir kedunia ini dengan keadaan yang... tak sempurna? Kenapa kami-sama membuat hidupnya seperti ini? Kenapa ia terlahir dengan kedua kaki yang lumpuh?
"Jika jadinya seperti ini.. aku berharap... a-aku berharap tak pernah terlahir kedunia ini..
selamanya." Gumam Hinata pelan dengan mata yang masih terpejam. Tak jua berhenti air mata yang mengalir dari kedua pelupuk matanya. Tetes demi tetes jatuh membasahi rerumputan hijau di bawahnya.
"Semua orang mencaciku... semua orang menjauhiku.. semua orang malu padaku.." Lanjutnya sambil terisak.
"Kenapa.. k-kenapa kami-sama... sangat sakit, rasanya sangat sakit disini..." Suara Hinata semakin parau saat mengeratkan genggaman tangan di dadanya. Seolah menunjukan bahwa disitulah rasa yang amat teramat sakit yang setiap saat ia rasakan.
"A-aku.. aku... tak mau hidup lebih lama lagi.. Sudah cukup rasa sakit yang selama ini k-kurasakan.." Hinata semakin jatuh dalam keputus asaan. Ia berpikir, tak ada lagi yang mampu menyembuhkan rasa sakit yang ia rasakan.
"Percuma, percuma saja aku dipindahkan dari sekolah ke sekolah lain.. se-semua selalu menjauhiku.."
"Aku tidak."
"s-semuanya selalu membenciku.."
"Itu omong kosong. Aku tidak membencimu."
"T-tapi a-aku tak punya teman..."
"Kau punya."
"Si-Siapa..?" Hinata bertanya dengan mata yang masih terpejam sambil terisak.
"Aku.."
"kami-sama... a-apa sekarang a-aku berhalusinasi..?"
"Hahaha kau lucu sekali, Hinata."
Merasa aneh dengan suara seseorang yang tertawa di sampingnya, Hinata mencoba membuka matanya yang sembab penuh air mata itu untuk mencari asal suara tadi. Namun setelah menoleh kesamping, mata Hinata membulat sempurna ketika melihat seorang pemuda berkulit tan dengan rambut kuningnya sedang tidur di rerumputan. Hinata diam membeku dengan mulut yang terbuka. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Hinata.
'J-jadi sedari tadi.. d-dia yang..' Hinata terpekik dalam hati. Sungguh ia tak tahu selama ini yang menjawab kalimatnya adalah bocah kuning ini. Hinata mengira ia hanya berhalusinasi ketika mendengar suara tersebut. Ia tak menyadari ada seseorang di dekatnya saat ia menangis tadi.
"Kau mempunyai teman, Hinata. Aku adalah temanmu." Ucap pemuda tersebut yang tak lain adalah Naruto, yang sedang berbaring di rerumputan dengan mata terpejam. Hinata sama sekali tak merespon karna masih kalut dengan keterkejutannya.
"Aku sama sekali tidak membencimu... tak pernah. Dan aku yakin tidak semua orang membenci kekuranganmu. Aku juga seorang yang bodoh, aku juga orang yang tak bisa diandalkan. Dulu, semua orang selalu mencaciku, sama sepertimu. Namun tak pernah ku hiraukan perkataan mereka.." Naruto bangkit dari tidurnya lalu memposisikan duduknya menghadap kearah Hinata.
"Mereka selalu bilang aku ini bodoh, berandalan dan tak berguna. Namun apa kau tahu apa yang kulakukan? Aku tetap melangkah maju... aku tetap menjadi diriku sendiri..
Aku tetap melindungi apa yang berharga bagiku dan aku tak pernah menyerah. Aku selalu berjuang keras untuk mendapatkan teman. Teman yang mau mengakuiku sebagai temannya."
"T-teman yang mau mengakuimu sebagai temannya..?"
"Ya, Hinata... teman adalah salah satu alasanku untuk tetap berdiri. Melindungi mereka, melindungi teman yang berharga bagiku adalah alasanku untuk tak pernah menyerah. Walau banyak yang membenciku, tapi aku percaya bahwa masih ada orang yang menyayangiku. Dan kau juga harus percaya.. Hinata."
"A-aku..?"
"Percayalah... percayalah bahwa masih ada yang menyayangimu, Hinata." Ujar Naruto sambil menatap lembut gadis manis yang ada di depannya. Tak lupa juga ia berikan sebuah senyuman, senyuman yang mampu meruntuhkan semua keraguan.
Dengan itu Hinata teringat oleh ayahnya. Ayah yang masih mau menerimanya walau ia adalah seorang yang cacat. Ayahnya yang tak pernah mempermasalahkan tentang kekurangannya itu. Ayahnya yang selalu berusaha untuk membuatnya senang. Ayahnya tidak ingin ia bersedih karena selalu di caci maki, hingga ayahnya selalu memindahkannya dari sekolah ke sekolah lain agar Hinata mendapatkan teman yang mau menerima dirinya dengan semua kekurangannya. Ya... kini Hinata sadar jika ia mempunyai seseorang yang masih dan selalu menyayanginya, yaitu ayahnya. Hinata tak pernah menyadari itu karena ia selalu bersedih dengan kondisinya yang jauh dari kata sempurna ini.
Air matanya menetes lagi saat mengingat kembali kasih sayang yang ayah berikan untuknya. Ia mengangguk pada Naruto sambil menyeka butiran-butiran air yang ada di pelupuk matanya. Seakan ia setuju dengan kata-kata Naruto tadi. Naruto yang melihat Hinata mengangguk padanya segera bangkit berdiri dan tersenyum lembut kearah Hinata.
"Seberat apa pun kehidupanmu, percayalah bahwa masih ada yang menyayangimu, Hinata. Karna semua orang selalu punya kekurangan. Jadi... jangan pernah menyerah."
Sesaat Naruto memberikan senyum manisnya lalu melangkah pergi menjauh dari tempat Hinata setelah itu. Hinata yang melihat Naruto berjalan semakin menjauh, segera manggilnya.
"A-anoo..." Panggil Hinata. Naruto yang mendengar Hinata mengatakan sesuatu pun berhenti dan sedikit berbalik kearah Hinata.
"A-ano.. Arigatou..." Kata Hinata. Memalingkan wajahnya ke arah rerumputan sambil memegang erat rok hijau sekolahnya dengan erat.
"Um? Eheheh..." Terlihat cengiran lebar Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Flashback End
.
.
.
Hinata tak boleh menyerah apa pun yang terjadi. Tak boleh.
'Gomen ne Naruto-kun... gomen ne.'
.
.
.
.
"Ketemu..!" Jerit Anko-sensei. Yang lain memperlihatkan wajah terkejut sekaligus senang. Tak terkecuali dengan Sakura yang hampir putus asa. Anko berhasil menemukan kunci itu di rak lemari kepala sekolah. Pantas saja Sasuke dan yang lain tak kunjung menemukannya.
"Hhh... syukurlah." Sakura menghela nafas lega.
"Akhirnya ketemu juga... benar-benar melelahkan." Oceh Sona sambil membenarkan posisi kacamatanya.
"Lalu, Anko-sensei.. dimana letak bisnya?." Tanya Chouji.
"Bisnya terparkir di parkiran belakang sekolah. Tapi, jika kesana mau tidak mau kita akan berhadapan dengan mereka." Ujar Anko-sensei yang sedang melihat kearah tempat parkir Konoha Gakuen melalui jendela ruang guru. Dari sini ia bisa melihat tak sedikit makhluk-makhluk yang berada disana, di parkiran sekolah. Letak tempat parkir Konoha Gakuen berada di belakang gedung utama dan masih satu area dengan sekolah. Jaraknya juga tak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang.
"Yooosh.. itu tak masalah." Kata Naruto sambil menepuk kepalan tangannya. Aneh, hanya Naruto yang saat ini masih memasang wajah semangat. Berbeda dengan yang lain, tampak jelas bila mereka sedang kelelahan saat ini.
Sona segera mengambil tongkat pemukul kasti yang Naruto sandarkan di sebelah meja saat sedang mencari kunci tadi, setelah itu langsung ia berikan kepada Naruto. Saat menerima tongkat pemukul dari Sona, Naruto tersenyum padanya. Namun Sona justru memalingkan wajahnya cepat dengan kesal. Naruto yang melihat itu hanya menggaruk pipi dengan telunjuknya. Naruto terlampau bodoh untuk menyadari Sona yang menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Tak lama kemudian terdengar suara dobrakan pintu. Mungkin mayat-mayat hidup itu telah mengetahui bahwa mereka disini. Naruto segera berjalan mendekat kearah pintu, di susul Sasuke dan Sakura yang sedang membawa tongkat dari sapu yang ia patahkan. Tepat di belakang mereka, Anko-sensei, Sona dan Chouji juga telah bersiap. Naruto tahu ini akan jadi malam yang panjang dan sangat melelahkan. Ia segera mengeratkan genggaman tongkat di tangannya.
"Ayoo!"
.
.
To Be Continue...
