Dua Sisi Dunia

Author: SheilaLuv

Summary: Kefanaan, sesuatu yang berdiri di sisi terdalam dari dunia seni milik Deidara. Prinsip itu harus dikonfrontasi oleh perspektif keabadian seni yang dianut oleh Sasori. Dua hal yang bertolak belakang, namun sebenarnya saling mengisi dalam lingkaran waktu yang tidak terputus. Tapi, ketika mereka menyadarinya, semua sudah terlambat…

Pairing: Sasori/Deidara. Dua jiwa seniman yang bersinar dalam spektrum warna mereka masing-masing.

Disclaimer: Naruto is a property of Masashi Kishimoto. Saya cuma meminjam karakter-karakter kreasinya dan menggerakkan mereka dengan seutas benang yang tak tampak.

Dan yang terpenting, Sasori dan Deidara tetap saling memiliki, bahkan dalam kematian –dodges rotten tomatoes-. This fiction is dedicated for my dear senpai, GoodBoyTobi (Rin-chan) for introducing me to this wonderful pair! Rin-chan, semoga fic ini bisa menghibur kamu yang sedang berjuang buat ujian masuk universitas, ya! Apa pun masalah yang menghadang, tetap semangat! –burning mode on-

Untuk semua pembaca fic ini, jangan ragu memberi komentar, kritik dan saran lewat review ya. Saya terima dengan senang hati. Akhirnya, Deidara mulai membuka mata Sasori tentang hal-hal yang ini lebih panjang dari biasanya, silakan dinikmati pelan-pelan dengan pikiran terbuka.

Enjoy!


"Karena telah kelelahan dalam perjuangan abadi untuk menemukan jalan menembus materi kasar, kami memilih jalan lain dan berusaha untuk merengkuh yang tak terbatas. Kami masuk ke dalam diri sendiri dan menciptakan suatu dunia baru…"

-Henrik Steffens- (Naturalis Norwegia, penguliah Gerakan Romantisisme Jerman di Copenhagen tahun 1801)

Dikutip dari Sophie's World, halaman 381, oleh Jostein Gaarder)


Chapter 3

Satu Hari untuk Dua Hati

-

Tidak ingin lagi diri ini beranjak pergi

Dari semua kebenaran yang hakiki

Meniupkan kembali ruh ke hati yang pernah mati

Di matamu tak pernah padam malam menyala

Dalam tuturmu bertakhta pesona abadi cakrawala

Melalui dirimu, kumiliki keindahan seisi dunia…

-Sasori to Deidara no Shi- (Syair Sasori dan Deidara)-

-

Sinar mata Sasori melembut seiring mencairnya tetesan salju pertama yang membasahi pori-pori tanah, melumerkan segala kebekuan yang membelenggu nafas di musim dingin.

Derai air sungai yang mengalir bergemericik, kicau burung uguisubari yang bertengger di pucuk-pucuk tertinggi deretan pohon pinus, angin semilir sejuk yang mengusir segala penat, harum bunga yang menyelimuti padang-padang luas tak bertepi sejauh mata memandang, dan belaian sinar matahari yang hangat saat menyentuh kulit—musim semi yang sempurna. Menghapus habis segala kesuraman musim dingin dan menggantinya dengan suatu masa tanpa noda—seolah-olah Jiwa Dunia kembali membuka lembar-lembar awal kehidupan yang masih putih polos.

Kedua bola mata Deidara bersinar makin indah di musim semi. Pijar yang sempat hilang karena luka yang dideritanya di musim dingin kini sudah kembali menyala-nyala seiring kesembuhannya, dan kini Deidara sudah kembali seperti biasa. Melangkahkan kakinya dengan antusias untuk menghirup udara pertama yang semerbak dengan keceriaan musim semi, shinobi muda itu bersikeras mengajak Sasori untuk menemaninya berjalan-jalan, sekaligus sparing.

Markas Akatsuki terletak di sebuah daerah yang terisolir oleh benteng pegunungan yang menjulang dan barisan hutan pinus, sesuai sekali untuk tempat persembunyian sekaligus arena bertarung, tidak mencolok. Deidara ingin memanfaatkan potensi itu.

"Ayolah, Sasori no Danna, un," kata Deidara bersemangat, bangkit dari tempat tidur dengan nyaris melompat karena luapan energi yang terpendam,"Badanku sudah pegal karena tidur terus 3 hari ini, un. Aku butuh bergerak, un!"

Sasori tetap memunggunginya, larut dalam kesibukan.

"Lakukan saja sendiri," balas Sasori acuh. Bunyi tik tik terdengar pelan sementara dia merakit rancangan boneka-bonekanya. Hanya bunyi itu yang menjadi simfoni di sela-sela percakapan mereka saat ini. "Banyak yang harus dilakukan. Sudah cukup kusediakan waktu selama ini untuk mendengar detuman ledakan yang kau sebut seni," sambung Sasori lagi, tanpa menoleh menatap partnernya.

Deidara melipat kedua tangannya di depan dada, jelas kesal. Sampai sebuah ide terlintas.

Kerutan di bibir Deidara segera berubah menjadi senyum nakal. Dia mengenakan jubah latihannya dan berjalan menghampiri meja kerja Sasori yang berhadapan persis dengan jendela besar di kamar tidur mereka. Deidara memiringkan kepalanya sedikit sehingga selevel dengan wajah stoik Sasori. "Apa Sasori no Danna termasuk tipe orang yang menyebut diri sendiri sebagai pelaku seni dinamis, un?"

Sasori mengerutkan dahi,"Katakan saja apa maksudmu yang sebenarnya," ucapnya.

Begitu sembuh, sikapnya kembali seperti semula. Benar-benar tidak terduga.

Deidara merendahkan suaranya, sehingga kedengaran nyaris berbisik di telinga Sasori,"Jika memang Sasori no Danna termasuk golongan itu, Danna tidak akan membiarkan apa pun merantai Danna di tempat yang tidak menginspirasi, un," beber Deidara bangga. "Karena begitu terbuai oleh satu tempat dan kehilangan naluri untuk menyelami pesona dunia yang lain, seni yang tercipta bisa bersifat statis. Dan statis bukan ciri seorang pelaku seni, un."

Jelas sekali, taktik Deidara berhasil mengikis habis kesabaran Sasori yang sudah menipis.

Pernah seorang tetua shinobi Iwagakure mengatakan,"Jika kau ingin mengobarkan api, kau hanya perlu tahu dimana menyalakan sumbu yang benar." Pepatah yang dulu hanya sempat dianggap angin lalu oleh Deidara ketika dia masih kanak-kanak kini terbukti kebenarannya.

Dan Deidara sendiri sudah menyulut 'sumbu' yang paling penting, yaitu perspektif seni yang dianut Sasori. Sasori sendirilah 'api' yang siap menghamburkan nyala dan panas menggelegak.

Dia menggeram dengan suara rendah namun berbahaya,"Apa kau menyindir kalau diriku dan seni yang kuciptakan selalu bersifat statis, hmm?"

Sebelah alis Deidara terangkat, pertanda kemenangan. Senyumnya terkulum. "Kalau memang Sasori no Danna mengatakan begitu, un."

Belum sampai beberapa detik, kericuhan sudah terjadi. Sasori segera menggerakkan boneka-bonekanya melalui cakra tipis yang menjulur dari ujung jari-jarinya, menyerang Deidara secara tiba-tiba. Sudah memperhitungkan kemungkinan akan adanya serangan, Deidara menghindar dengan gesit, tepat sebelum beberapa bilah kunai yang dibalut oleh bom kertas mengiris rambut pirangnya yang berharga. Dia berputar dan kabur lewat jendela yang terbuka, jubahnya berkibar-kibar diterpa angin.

"Dasar sialan," rutuk Sasori geram, dan bergegas mengejar, ikut melompat turun melalui ambang jendela.

Untuk membuat partnernya terhadang, dengan cekatan tangan Deidara mulai membentuk serangkaian tanah liat peledak yang diterbangkannya ke arah Sasori.

"Katsu," kata Deidara penuh keyakinan.

DUAR! DUAR! DUAR!

Sasori menangkis beberapa di antaranya nyaris dengan satu kedipan mata, walaupun begitu, ledakan yang ditimbulkan cukup keras untuk mengguncang tumpukan salju terakhir yang belum jatuh ke tanah dengan bunyi debum.

DUAR! DUAR! DUAR!

Di markas, Kakuzu terlompat dari tidur nyenyaknya, lolongannya bergaung sepanjang lorong.

Hidan melempar pandang kesal, sekali lagi, ritual pemujaan Jashin-sama harus diinterupsi oleh ketololan sikap orang lain yang tidak ada habisnya.

"Astaga! Apa yang dilakukan kedua orang itu pagi-pagi begini?" omel Konan kesal di ruang sidang. "Tampaknya hanya sakit parah yang bisa menahan Deidara."

Pein menggelengkan kepala, suaranya bernada tajam,"Kita selalu tahu apa yang mungkin mereka lakukan. Bukankah itu kegiatan habitual yang wajar?"

Zetsu diam mengiyakan.

Itachi mengganggukkan kepalanya dengan khidmat, duduk di sebelah Kisame yang sedang mengevaluasi performa Samehada. "Hukum alam," ucap Itachi, suaranya bergetar menenangkan,"Selalu berulang dalam lingkaran waktu, dan mewujudkan eksistensinya dalam bermacam cara."

"Analogi yang rumit, Itachi-san," kata Kisame dengan tatapan kagum bercampur hormat,"Tapi sesuai, sangat sesuai."

"Ya," jawab Itachi pendek, mengalihkan pandangannya ke luar untuk menatap duel yang sedang berlangsung. "Dua elemen yang tidak terpisahkan, dua sisi dunia yang saling melengkapi."


Terkapar, dengan nafas menderu, berbantalkan rumput hijau segar sebagai landasan punggung, kedua matanya beradu dengan sepasang bola mata lain yang menyala-nyala, bahkan saat rambut kemerahan yang indah membingkai raut wajahnya yang sempurna. Benang-benang emas halus yang merupakan perwujudan dari helai-helai rambut pirang yang berserakan tidak membuat Deidara kehilangan magnetisme.

"Heh, kelihatannya kali ini aku yang menang," ucap Sasori puas, berhasil menyudutkan Deidara. Dia berlutut, sebilah kunai tergenggam di tangan kanannya. Kedua lututnya jatuh hingga bergesekan dengan rerumputan, mengapit tubuh Deidara yang terbaring kalah.

"Ya, kali ini, Sasori no Danna, un. Kali berikutnya, siapa tahu, un?"

Bahkan dalam kekalahan, egonya belum padam. Sama sekali. Deidara berucap lantang meskipun kunai Sasori nyaris mengiris lehernya.

"Kau meremehkanku? Kau tidak akan pernah menang dengan mudah dariku, Deidara," balas Sasori. Seringai kemenangan semakin merekah dari sudut-sudut bibir tipisnya.

Mendengar itu, Deidara terkekeh. "Ternyata…Sasori no Danna benar-benar orang yang tidak mudah ditundukkan, un." Ditatapnya mata Sasori lurus-lurus dan berkata,"Aku cuma bercanda, un. Tapi, nampaknya seluruh pertahanan Sasori no Danna runtuh di saat itu juga, sewaktu aku tidak mengakui sudut pandangmu dalam seni, un."

Sekarang, giliran Sasori yang merasa begitu bodoh. Bodoh karena begitu gampangnya terpancing oleh sesuatu yang sepele dan membiarkan emosi yang mengambil alih. Dia melepaskan kunainya yang berdenting jatuh, dan melepaskan Deidara. Membungkam ribuan kata yang ingin terucap, dan memilih duduk beralaskan rumput. Keheningan kali ini menjadi instrumen yang menyatukan nafas mereka.

Deidara bangkit dan duduk, meluruskan dua kakinya sementara kedua lengannya menopang sisi kanan-kiri tubuh. Dia memiringkan kepalanya sedikit, mengamat-ngamati Sasori, namun tidak mengucapkan apa-apa.

"Kenapa kau selalu—," kata-kata Sasori semakin melemah hingga nyaris menyatu dengan angin yang bertiup,"Mengikutiku?"

Ekspresi Deidara campur aduk, bingung bagaimana merespon. "Aku—kenapa Danna harus bertanya begitu, un?"

"Karena aku berhak tahu. Selama ini—kadang aku berpikir—"

"Tentang aku, un? Hmm…pengaruh keadaan, kurasa. Kita partner, dan kupikir itu tidak menjadi masalah, un…"

"Biar begitu, kau pasti punya waktu yang ingin kau lewatkan sendiri,"Sasori menjelaskan,"dimana hanya ada kau dan hal yang kau tekuni."

"Memang, tapi tidak bisa selamanya begitu, un. Lagipula—wajar saja kalau aku sedikit-sedikit ingin mengenal orang yang menjadi partnerku, un. Tentunya Sasori no Danna juga berpendapat sama, un?"

Sasori menatapnya. "Mengenalku? Kau sudah melakukannya."

"Yah, yang kumaksud adalah mengenal bagaimana Sasori no Danna yang sebenarnya, bukan cuma mengenal sosok Danna yang selalu tersembunyi di balik Hiruko saja, un," kata Deidara. "Kuakui pandangan kita berbeda, tapi bukankah kita sama-sama mengagungkan seni, un? Di balik semua itu, senilah titik temunya, un. Aku banyak belajar saat berdiskusi dengan Danna, un."

Sasori kehilangan kata-kata.

Satu gumpalan menyesakkan mulai memenuhi rongga dadanya. Sudah lama dia merasa sangat rapuh, dan mulai menciptakan jarak antara dirinya dan dunia luar. Kenapa Deidara berhasil membidik dengan tepat poros tengah yang menjadi alasan pembenarannya selama ini?

Baginya, dunia fana hanya mengalirkan duka yang tidak kunjung putus semenjak kematian orangtuanya. Seni menjadi pelarian, tapi tidak benar-benar menjadi tempat berlindung. Mungkin itu sebabnya kenapa dia tidak pernah bisa membiarkan dirinya benar-benar larut dalam keindahan dunia, benar-benar mengapresiasi bentuk-bentuk keindahan di alam bebas. Sementara Deidara menenggelamkan diri sendiri menuju pusat samudra seni yang dalam, Sasori cukup puas dengan melihat pantulan bayangannya sebelum setiap pori tubuhnya benar-benar merasakan sejuknya lautan keindahan yang dicari nuraninya selama ini.

Betapa sejujurnya dia merasa pengecut. Pengecut dan gagal. Kemudian dia teringat kata-kata terakhir mendiang ibunya sebelum perang ganas dunia ninja merenggutnya pergi dari dunia fana.

"Apa pun yang terjadi setelah perang berakhir, bagaimanapun nasibmu nanti, jangan pernah kehilangan hatimu, Nak. Jangan pernah menutup pintu hatimu dari dunia luar." Wanita itu merengkuh tubuh rapuh Sasori dalam lindungannya, jemarinya yang lentik mengusap rambut putra semata wayangnya.

"Kenapa, Bu?" tanya Sasori kecil, mengeratkan pelukannya, matanya mulai lelah dan mengantuk malam itu.

Suara lembut ibunya menghanturkan kata-kata bijak,"Sebab, jika pintu tidak membuka, sekeras apapun memaksa, cahaya tidak akan masuk dan menyala…"

Sasori akhirnya membuka suara, meski tenggorokannya terasa kering. Kalah oleh keberanian Deidara. Dengan suara serak dia bertanya,"Hanya karena itu?"

"Salahkah, un?" balas Deidara langsung. "Aku mendapat kesan kalau seni yang Sasori no Danna agungkan menyimpan sesuatu yang lain—walau aku tidak bisa menebak apa itu, un…"

Menghela nafas, Sasori menjawab,"Setiap penciptaan mempunyai alasan, termasuk seni. Seni yang kupunya…menyimpan setiap momen-momen berharga yang sudah berlalu, mengabadikannya hingga tidak habis digerus waktu."

"Misalnya?"

"Figur seseorang yang berharga di masa lalu—yang kenangan akannya terus kubawa ke masa depan…"

Deidara mengangguk paham, tenggelam dalam pikirannya. "Begitu, un."

Sasori berdehem. "Jangan terlalu memikirkan hal itu. Aku mengatakan hal ini hanya karena rasa penasaranmu yang terus mendesak."

Meskipun samar, raut wajah Deidara berhias binar-binar kegembiraan. "Sudah kuduga, aku banyak belajar saat bersama Danna, un."

Perbedaan yang prinsip tidak menyurutkan kekaguman Deidara akan beribu cakrawala dunia milik Sasori yang mulai diketahuinya hari ini.

Seolah seperti manuver yang menyerang balik, Sasori kini berkata,"Sebagai pertukaran setara atas hal ini, kau bisa memberitahuku apa persisnya hal yang mendasari fanatisme terhadap ledakan yang kau sebut seni, sekarang juga ."

Memandang Sasori tidak percaya, Deidara memulai penjelasannya dengan antusias. Dua shinobi yang berasal dari dua sisi dunia yang berlainan itu kini disatukan oleh Jiwa Dunia yang tersenyum pada mereka, dengan setia terus menuntun jiwa-jiwa yang terpisah menemukan keping-keping kebenaran yang dirindukan.

Pada hari itu, kisah mereka berdua dimulai dalam lembaran baru. Mengisi halaman-halaman putih yang dulu kosong, datar tanpa warna, menjadi semburat spektrum pelangi yang mewarnai beribu-ribu cakrawala keindahan yang membentang.

Ya, ini kisah mereka berdua.


Author's note: Yaaaay! Selesai juga…proses penulisannya kurang dari seminggu, dan saya senang ini bisa selesai ditengah-tengah musim ujian yang nyaris memenjarakan kreatifitas, hoho. Padahal pas saya selesai nulis, masih harus belajar buat ujian Matematika dan Bahasa Jepang besok, tapi saya nyantai aja, tuh. –dilempar sandal- Huoo! Ujian nggak akan menyurutkan semangat saya untuk berkarya! Hidup fanfic Indonesia! –nyengir-

Gimana interaksi SasoDei di chapter ini? Cukup memuaskan? Atau kurang? Oh ya, entah kenapa saya senang kalau semua anggota Akatsuki berkumpul, jadi mereka semua nampil, deh. Itachi-sama! Kau benar-benar memahami SasoDei di sini! –meluk Itachi-

Oke, saya mulai sedikit pelajaran filsafat seperti biasa:

Ungkapan Jiwa Dunia yang saya gunakan di fic ini mengacu pada filosofi Romantisisme yang mulai berkembang di Eropa pada awal abad ke 19. Jiwa Dunia, atau Ruh Dunia adalah pemahaman kaum Romantik bahwa segala sesuatu itu satu adanya. Filosof Romantik yang terkemuka, Schelling, yang hidup dari tahun 1775 hingga 1854 menjelaskan: baik jiwa manusia maupun realitas fisik (alam) adalah ungkapan dari satu yang Mutlak, atau ruh dunia. Schelling berkata,"Alam adalah ruh yang dapat dilihat, ruh adalah alam yang tidak dapat dilihat, sebab seseorang merasakan suatu 'ruh pembangun' di mana-mana di alam ini."

Romantisisme sendiri adalah paham yang sangat mengagungkan filsafat, telaah alam, dan puisi, maupun berbagai bidang seni. Dongeng adalah sastra ideal kaum Romantik. Kaum Romantik sangat mengagungkan posisi seniman, karena mereka menelaah hal-hal ke dalam diri sendiri untuk menciptakan seni. Meskipun seni yang dipakai Deidara dan Sasori bukan seni penulisan, tapi yang menarik adalah persamaan mendasar: bagi pelaku seni, karya ciptanya adalah alam raya yang menyatu dengan dirinya. Itulah sebabnya Kaum Romantik bermotto,"Semua adalah Satu", atau,"Satu di dalam Semua."

Salah seorang tokoh lainnya, Novalis, berkata kalau,"Manusia menyimpan seluruh alam raya itu di dalam dirinya sendiri dan dapat paling dekat menyentuh misteri itu dengan melangkah masuk ke dalam dirinya sendiri."

Jelas, bagi Deidara dan Sasori, seni yang mereka anut adalah alam raya mereka. Deidara juga menyarankan pada Sasori secara halus untuk lebih menghayati keberadaan alam di fic ini, sehingga bisa menyatu dengan keindahan yang sesungguhnya.

Oh, saya mulai kecanduan filsafat! Sasori dan Deidara benar-benar punya image yang pas dengan periode Romantik! Terutama Sasori, karena aura melankolisnya. –meluk Sasori- Untuk Deidara sendiri, menurut saya, banyak kesamaan prinsip dengan periode Barok juga, tapi saya bakal menjelaskan periode ini di chapter 4. Kalian akan tahu kenapa Deidara menghargai segala sesuatu yang fana dan tidak abadi, sesuai dengan image periode Barok yang menggambarkan,"Hidup itu singkat dan rapuh."

Oke, sekian untuk chapter ini. Kita bakal jumpa di chapter 4, chapter terakhir. Seperti biasa, kritik, saran, pertanyaan ditunggu lewat review, lho.

Ja matta!