A/N : hooeeyyyy… akhirnya apdet chap 3 juga, setelah lama saya males melanjutkan ini(plakk) hehehe… okee maafkan segala kekurangan di chapter-chapter sebelumnya yaaa~

Warning : Typo ada aja… ==, Geje, Abal, Nista, AU, OOC, dan segala kekurangan lainnya, mohon dimaklumi adanya..*bungkuk-bungkuk*

Dislaimer : Bleach Tite kubo yang punya, itu saja cukup kan…

.

.

.


"Kata ayahku kita pernah bertemu sebelumnya, apa kau ingat?" Ichigo membuka pembicaraan terlebih dahulu.

Rukia sedikit terlonjak dengan pertanyaan Ichigo.

"Uhm… " hanya gumaman tak jelas yang keluar dari mulut Rukia.

.

.

.

Rukia menatap Ichigo yang ada di sampingnya tak percaya. Sementara Ichigo melihat kearah lain tak memperdulikan Rukia, dia hanya menunggu jawaban Rukia dari pertanyaannya.

"seperti apa kita dulu?" kata Ichigo lagi yang tatapannya masih tak juga berpaling dari pemandangan di luar.

"Aku juga tak begitu ingat, karna kita memang masih kecil," jelas Rukia, matanya mengisyaratkan agar Ichigo melihatnya, tapi sang lelaki itu tak menyadarinya.

"Beri tau aku apa yang kau ingat saja, agar aku yakin," kali ini ichigo menatap Rukia lekat-lekat.

"A-apa yang aku ingat?" rona merah menghiasi pipi Rukia kali ini.

"Iya pendek," Ichigo menekankan perkataanya tadi agar Rukia mau cepat sedikit menjelaskan.

"Jangan panggil aku begitu jeruk," balas Rukia.

"Kalau begitu cepat ceritakan saja pendek," kata Ichigo.

"Hh… bailkah," Rukia segera mengiyakan, karena dia tidak mau melanjutkan keributan di dalam bianglala itu, tapi sebelum Rukia melanjutkan ceritanya, bianglala berhenti, dan Ichigo juga Rukia harus turun dari tempat itu. Mereka berdua akhirnya turun dari tempat itu, Ichigo sempat clingukan dulu memastikan tidak ada lagi fans girlnya yang berkeliaran, walau dia tidak pernah mengingat dan tau seperti apa wajah fans girlnya.

Ichigo lalu menggandeng tangan Rukia dan berlalu dari tempat itu dengan cepat, Rukia hanya menurut saja dan berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki Ichigo, dan itu cukup membuatnya mengeluarkan energi lebih.

"Ichigo,, bisakah pelan sedikit?" Tanya Rukia sambil setengah menarik tangannya yang masih di genggam Ichigo erat.

"Ups,, maaf," kata Ichigo sambil memperlambat gerakan kaki panjangnya itu.

"Kita mau kemana?" Tanya Rukia dengan tampang innocent.

"Ke tempat di mana kita bisa berbicara dengan tenang," jawab Ichigo.

Mereka sudah sampai di tempat parker mobil Ichigo, Ichigo segera menyuruh Rukia untuk memasuki mobilnya, walau sedikit ragu tapi Rukia akhirnya masuk kedalam mobil Ichigo. Sementara Ichigo sudah duduk santai di jok supirnya.

"Ayolah mulai ceritakan, aku penasaran," kata Ichigo saat mobilnya mulai menelusuri jalanan panjang.

"Ya ya ya, mau mulai dari mana?" tanya Rukia.

"Mana ku tau, kan kau yang akan bercerita dan aku lupa dengan semuanya, jadi terserah kau," kata Ichigo yang sibuk menyetir mobilnya.

"Oh iya ya,, ahaha… " Rukia menepuk dahinya pelan dan menertawakan dirinya sendiri. Ichigo hanya merespon kelaluan Rukia dengan helaan nafas.

"Jadi begini, dulu kau pernah datang kerumahku bersama ayahmu, karena ayah kita bersahabat dari dulu, kau tau kan?" Tanya Rukia.

"Ya, lanjutkan," perintah Ichigo.

"Ehmm,, ntah apa yang aku salah ingat atau apalah, waktu itu kau langsung mengajakku bermain di halaman belakang rumahku, dan… " Rukia terlihat ragu melanjutkan kata-katanya.

"Dan? " kata Ichigo.

"Err… ah, aku berhenti di sini saja, rumahku sudah dekat dari sini, " seru Rukia tiba-tiba, dia berusaha mengalihkan pembicaraan ini dengan Ichigo.

Ichigo reflek mengerem mobilnya mendadak, tak ada semenit Rukia sudah keluar dari mobil si rambut orange itu, dan menutup pintu mobilnya.

"Okay, bye Ichigo… " Rukia melambaikan tangannya sambil menunduk untuk melihat Ichigo yang masih di dalam mobil, dan tanpa menunggu jawaban dari Ichigo, Rukia sudah berbalik badan dan meninggalkan Ichigo dengan cepat. Sementara Ichigo bingung sendiri.

Ichigo akhirnya pulang dengan segala pertanyaan yang muncul di otaknya tentang Rukia.

'Dia kenapa sih?' kata ichigo dalam hati.

.

.

.

Dua minggu setelah kencan itu, keluarga Kuchiki mangadakan pesta peresmian hotel berbintang lima di ballroom hotel tersebut. Suasana mewah terpancar begitu memasuki hotel ini, warna-warna emas, perak, dan putih mendominasi setiap ruangan dan dengan sentuhan warna hitam dan merah membuatnya terlihat elegan.

Seluruh keluarga Kuchiki ada di pesta tersebut, tak terkecuali Rukia, yang sekarang mengenakan dress berwarna putih, dengan berhiaskan renda hitam, dan pita berwarna merah pada pinggangnya, rambutnya hanya di gerai seperti biasa, tapi itu tak mengurangi kesan manis pada Rukia. Kakinya beralaskan high heels sepuluh senti berhiaskan pita hitam simple yang melingkar di pergelangan kakinya.

Tanpa Rukia duga, keluarga Ichimaru datang pada pesta malam itu, dan pastinya Ichigo juga ada, karena rambut orangenya yang mencolok gampang di temukan di antara tamu-tamu yang hadir.

'Oh tidak, kenapa ada dia? Sial, dan kenapa ini?' Rukia menjadi gugup ketika melihat Ichigo datang, setelah kejadian dua minggu yang lalu, Rukia memikirkan, bagaimana dia harus bersikap jika bertemu kembali dengan Ichigo, dan pikiran-pikiran itu membuat dadanya sesak sendiri. Dengan susah payah, Rukia menyembunyikan kegugupannya ketika Keluarga Ichimaru mendekatinya, ah tidak, lebih tepatnya ayah dan ibu Rukia, Rukia hanya kebetulan berada di dekat kedua orang tuanya karena Rukia sendiri tidak tau harus berbincang-bincang dengan siapa, baginya semua tamu-tamu itu asing, kecuali dia.

Ichigo menatap Rukia yang malam ini terlihat begitu cantik.

'cantik' batin Ichigo saat melihat Rukia. 'ah tidak, apa yang ku pikirkan?' Tanya Ichigo pada dirinya sendiri.

Tersadar dari keterpanaannya sesaat atas gadis manis yang ada di depannya itu, Ichigo segera menyapa Rukia dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

"Hai Rukia," kata Ichigo sambil mengulurkan tangannya.

"Ya Ichigo," Rukia membalas uluran tangan Ichigo, dan segera menarik kangannya kembali dengan cepat, dia merasa risih jika terlalu lama bersama Ichigo.

Ketika Ichigo dan Rukia tengah bingung dengan keadaan 'bisu' yang terjadi pada mereka, tiba-tiba terdengar suara ayah Rukia yang membahana di ballroom megah itu, dan ternyata microfonlah yang membuat suara itu menjadi terdengar ke seluruh sudut ruangan.

"Cek cek… ekhem,, satu dua tiga," Urahara mencoba microfonnya yang sudah jelas-jelas tidak rusak, dan membuat suaranya keras, sementara karena mendengar suara itu, seluruh tamu-tamu yang hadir, perhatiannya sekarang menjadi pada Urahara yang sekarang berdiri di depan.

"Selamat malam semuanya," kata Urahara sambil mengembangkan senyumnya. Dan reflek semua orang yang ada di sana membalas salam Urahara.

"Malam ini hotel ke tujuh Kuchiki Corp. akan segera saya resmikan, terima kasih pada seluruh undangan yang telah meluangkan waktu untuk memenuhi undangan kami bla… bla… bla… "

Urahara mengucapkan sambutan-sambutannya, sebelum akhirnya ia mempersilahkan para undangan untuk menikmati hidangan malam itu.

Rukia yang entah mengapa masih bersama Ichigo akhirnya pergi mengambil beberapa kue dan memakannya sambil mencari tempat yang sekiranya jauh dari Ichigo, seolah seperti magnet, Ichigo dan Rukia selalu bertemu walaupun Rukia sedah berjalan sejauh mungkin agar dia tak lagi bertemu dengan Ichigo dan saling bartatapan ntah untuk yang keberapa kali. Bertemu pandang dengan lelaki orange itu membuat jantung Rukia bekarja lebih cepat, syukurkah tak ada yang menyadari detak jantungnya yang mendadak cepat itu selain dirinya.

Ichigo merasa kalau Rukia menghindarinya, saat dia melihat Rukia di kerumunan tamu-tamu ber jas dan gaun mewah, tanpa mengulur waktu Ichigo segera mendekati Rukia.

"Rukia," Ichigo sedikit mengeraskan suaranya, bermaksud agar Rukia melihatnya.

Rukia sebenarnya tau bahwa Ichigo ada di dekatnya, tapi dia pura-pura tak melihat, setelah Ichigo memanggil namanya, barulah Rukia seolah kaget dan melihat Ichigo.

"Ah, Ichigo kukira siapa," kata Rukia sambil tersenyum.

"Eh, anu… aku tak punya teman mengobrol di sini, dan aku hanya mengenalmu, selain kedua orang tuaku tentunya," kata Ichigo canggung.

"Oh begitu, sama dong," Rukia tak kalah canggungnya dengan Ichigo.

"Hehe.. " Ichigo tertawa dipaksakan, karena bingung harus berbuat apa

Saat mereka berdua terperangkap oleh 'bisu' kembali. Urahara berbicara dengan microfonnya lagi dan berdiri di depan, tapi kali ini bersama sang istri tercintanya yoruichi, juga…

_Rukia Pov_

Aku kembali terdiam tak tau harus berbincang-bincang apa dengannya, aku hanya berharap dia lupa dengan kelanjutan ceritaku yang terputus a.k.a sengaja ku putus waktu itu.

Tiba-tiba ayah berbicara dengan microfonnya lagi, ku lihat Ibu mendampingi ayah, mereka sangat serasi, tapi tunggu dulu, siapa yang ada di samping kiri ayah? Ah, pasti itu rekan kerjanya.

"Malam ini tidak hanya peresmian hotel kami," Urahara menebarkan senyum sebelum akhirnya melanjutkan bicaranya.

"Saya akan memperkenalkan pasangan di sebelah saya, tuan dan nyonya Ichimaru."

'Aku bingung kenapa ayah memperkenalkan pasangan Ichimaru itu, eh Ichimaru? ah ya aku ingat, mereka yang datang bersama Ichigo tadi. Kenapa aku bisa lupa,' batinku.

"Hey Ichigo ada apa? Kenapa orang tuamu juga di depan, aku baru tau kalau orang tuamu bekerja sama dalam pembangunan hotel ini," akhirnya aku bertanya pada Ichigo saking penasarannya.

"Mana ku tau," jawab Ichigo cuek.

Kemudian aku mendengarkan dan memperhatikan ayah lagi.

"Malam ini saya akan menjodohkan anak saya, Rukia Kuchiki, dengan anak lelaki dari keluarga Ichimaru, yaitu Ichigo Ichimaru," ayah begitu sumringah saat mengucapkan kalimat yang sukses membuatku tercekat dan menjatuhkan kue strewberry yang masih satu kali kugigit.

Ketika itu juga aku mendengar tepuk tangan riuh seluruh tamu-tamu yang ada di ruangan itu.

"Dan malam ini, saya sambung dengan acara pertunangan Rukia dan Ichigo," lanjut ayah.

Aku semakin lemah mendengar keta-kata ayah, serasa tak kuat lagi aku menahan beban tubuh mungilku sendiri, tapi sayang aku tak jatuh pingsan, seharusnya aku pingsan saja dalam keadaan begini, aku tak berani melihar Ichigo, aku pun tak tau dia sekarang ada dimana, masih di sampingku atau tidak, yang aku inginkan hanya pingsan, lalu ketika aku bangun, hari sudah pagi, dan aku tak perlu mengingat kejadian malam ini.

"Rukia, Ichigo, majulah kedepan," terdengar suara riang ayah.

'Mana mungkin aku bisa berjalan dengan keadaan shock begini!' jeritku dalam hati.

"Rukia, ayo kedepan,"

Aku tersentak mendengar suara lelaki itu, ternyata dia ada di belakangku.

"…"

"Hey Rukia,"

TBC

Thanks dah baca ya minna…^^

Sekali lagi maafkan atas keterlambatan apdet chaper tiga ini ya~

Okay…

Silahkan klik kata review berwarna biru di bawah ini ya…^^

Doomo arigato.