Seperti biasa, Kuroko menatap lurus ke luar jendela, memperhatikan sekumpulan orang dengan rambut berbeda warna. Mari kita juluki mereka pelangi.
Akashi mendengus kesal melihat Kuroko lebih senang menatap pelangi jadi-jadian dibandingkan dirinya yang malaikat beneran.
"Tetsuya," panggil Akashi.
"Ya Akashi-kun?" Kuroko mengalihkan perhatiannya, menatap si surai merah yang duduk di depannya. "Ada apa?" tanyanya.
"Apa yang kau lihat Tetsuya?" tanya Akashi, walaupun sebenarnya dia sudah mengetahui apa yang Kuroko lihat.
"Tidak ada," jawab Kuroko singkat.
Akashi berniat untuk memprotes jawaban Kuroko yang tidak terbuka padanya sebelum sebuah suara dari depan kelas menginterupsi obrolan mereka.
"Kalian berdua, perhatikan ke depan atau keluar saja dari kelas!" tegur sang guru.
"Baik," jawab Akashi dan Kuroko kompak, namun memiliki arti yang berbeda.
Kuroko memfokuskan pandangannya ke depan kelas, sedangkan Akashi beranjak dari tempat duduknya dan menyeret Kuroko bersamanya.
"Akashi-kun apa yang kau lakukan?" bisik Kuroko. Akashi tidak menghiraukan Kuroko, dia terus berjalan dan menyeret Kuroko menuju pintu keluar.
"Kalian berdua! Apa yang kalian lakukan?!" bentak sang guru.
Akashi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah guru yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Jujur saja pak botak—" semua murid tertegun mendengar apa yang baru saja murid baru bersurai merah itu katakan, mereka tidak percaya ada yang berani mengatakan hal itu secara terang-terangan pada guru killer di depan kelas mereka. Sedangkan sang guru yang dimaksud sudah berasap marah.
"—cara mengajarmu sangat membosankan, aku lebih memilih untuk keluar dari kelas." Kini seluruh isi kelas dibuat menganga oleh perkataan Akashi barusan. Mereka menahan nafas menantikan apa yang akan guru killer mereka lakukan, meskipun dalam hati mereka membenarkan apa yang Akashi katakan.
"BERANINYA KALIAN! JANGAN PERNAH MASUK KE KELASKU LAGI!" teriak sang guru disertai ilustrasi api yang berkobar di tubuhnya.
Zrassh
Sebuah gunting yang melayang tepat ke arah kepala botak sang guru disertai aura mengerikan membuat semua yang menyaksikannya pingsan seketika. Sedangkan yang menjadi korban pelemparan kini sudah terduduk tidak percaya sehingga gunting yang Akashi lempar tidak menancap di kepalanya.
Akashi berjalan perlahan disertai aura andalannya mendekati gurunya yang gemetar ketakutan. "Sadarilah posisimu," ujarnya penuh penekanan.
Guru itu hanya mengangguk patuh. Dapat dipastikan setelah ini Akashi masuk kedalam daftar murid yang diistimewakan.
"Akashi-kun kau keterlaluan." Kuroko menyentakkan tangannya yang ditarik Akashi, membuat genggaman Akashi terlepas.
Akashi hanya diam, dia menyadari apa yang baru saja ia lakukan. "Kau tenang saja Tetsuya, aku akan menghapus kejadian itu dari ingatan mereka."
Kuroko memandang Akashi tidak percaya. "Tenang katamu? Jangan hanya karna Akashi-kun memiliki kekuatan, Akashi-kun bisa seenaknya begitu!" bentak kuroko.
Akashi menghela nafas panjang, entah kenapa jika Kuroko yang berkata padanya, pikirannya seolah terbuka dan mau mengakui kesalahannya.
"Maafkan aku Tetsuya," lirih Akashi.
"Aku tidak akan melakukannya lagi." Kuroko memandang sepasang manik heterochrome Akashi. Melihat ketulusan di mata Akashi, emosi Kuroko akhirnya reda.
"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Kuroko begitu ia menguasai kembali dirinya.
"Kau akan tau nanti." Akashi menyeringai, dia menggenggam tangan Kuroko lagi dan berjalan menuju sekumpulan pelangi.
"Akashi-kun, tidak perlu bergandengan tangan, ini bukan ff yaoi," protes Kuroko.
"Aku ini absolute Tetsuya, aku yang menentukan segalanya."
Kuroko memutar bola matanya malas. "Mulai lagi dia," gumamnya.
^May Angelf^
Seolah dapat membaca pikiran Kuroko yang selama ini sangat ingin bergabung dengan sekumpulan pelangi, Akashi menuntun Kuroko untuk menghampiri mereka dan dengan songongnya berkata bahwa dia akan menjadi kapten mereka dan mereka harus patuh padanya.
"Memangnya kau siapa hah?" bentak Aomine yang jengah melihat tingkah orang cebol di hadapannya seraya mendorong tubuh mungil Akashi, membuat Akashi terhuyung kebelakang.
Akashi mendengus kesal, sudah berapa orang yang membentaknya hari ini. Jika saja bukan karena Tetsuyanya, Akashi pasti sudah menebarkan gunting keramatnya.
"Hei kecil, kau ingin aku hancurkan ya?" kini Murasakibara yang berbicara dengan nada malasnya.
Akashi memejamkan matanya sejenak berusaha untuk meredam emosinya. "Aku tidak ingin ribut dengan kalian, untuk membuktikan aku pantas sebagai kapten kalian, mari kita bertanding."
Kuroko menahan nafas mendengar apa yang Akashi katakan barusan, sedangkan para pelangi menatapnya remeh.
"Jika kalian bisa menghentikanku memasukan bola ke dalam ring, sebagai permintaan ma'af, aku akan menuruti semua perintah kalian." Tantang Akashi.
"Tapi Akashi-kun—"
"Kau tenang saja Tetsuya." Potong Akashi cepat.
"Kau percaya padaku kan?" lanjutnya. Kuroko hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.
Selang beberapa menit, semua orang dibuat menganga. Tidak hanya para pelangi dan Kuroko, tetapi murid-murid lain yang menghambur keluar kelas untuk istirahat dan melewati lapangan pun dibuat takjub olehnya. Dengan tubuh mungilnya Akashi dapat melakukan dunk yang spektakuler setelah berhasil melewati kelima pelangi yang jauh lebih tinggi darinya. Terlebih lagi Akashi membuat mereka jatuh berlutut di hadapannya. Benar-benar luar biasa.
"Sudah kubilang aku ini absolute dan tak terbantahkan. Sadarilah posisi kalian," ujarnya disertai gayanya yang khas.
^May Angelf^
Hari demi hari mereka lalui bersama, para pelangi yang kini dijuluki Generation Of Miracles setelah kehadiran Kuroko dan Akashi mulai akrab satu sama lainnya. Mereka bahkan sudah terbiasa dengan Akashi dan segala tetek bengeknya. Kehadiran Akashi dan Kuroko di tengah-tengah mereka membawa perubahan besar bagi mereka, mereka menyadari segala hal yang Akashi lakukan meskipun cenderung mengintimidasi namun bertujuan untuk kebaikan. Terbukti kini mereka merasa seperti sebuah keluarga bahagia yang saling menyayangi satu sama lainnya. Akashi yang suka mengatur seenaknya sebagai Ayah mereka, sedangkan Kuroko yang pengertian sebagai Ibu mereka. Jangan lupakan Momoi yang perempuan sendiri sebagai asisten rumah rangga. Benar-benar keluarga absurd tingkat dewa.
"Akashichi, kenapa aku tidak pernah melihatmu makan ssu?" tanya Kise yang tengah menyantap makanannya bersama anggota yang lain.
"Kisechin benar, Akachin tidak pernah makan. Akachin mau?" Murasakibara menyodorkan makanannya pada Akashi yang duduk di samping Kuroko, tapi Akashi hanya menggeleng sebagai penolakan.
"Kau harus makan nanodayo, bukannya aku perduli, aku hanya tidak ingin kau sakit nanodayo." Midorima ikut menimpali.
"Kalian ini pasangan yang serasi ya, yang satu sedikit makan dan yang satu lagi gak doyan makan." Kagami mulai nglantur.
"Tidak heran kalau mereka tidak tumbuh juga," celetuk Aomine disambut gunting merah yang melayang kearahnya, membuat wajahnya yang tampak pucat semakin pucat.
Sejujurnya Akashi ingin mengatakan bahwa ia telah kapok memakan makanan manusia gara-gara surai biru di sampingnya, tapi mengingat hal itu tidak penting, Akashi mengurungkan niatnya.
"Mereka benar Akashi-kun, cobalah mencicipi makanan lain agar kau tumbuh tinggi," ujar Kuroko lupa diri. Sebenarnya siapa-yang-paling-tidak-tumbuh-tinggi-disini.
Akashi menatap kuroko tajam, ingin sekali dia melempar gunting keramatnya. Tapi melihat botol yang berisi tikus menyembul dari dalam tas di dekat Kuroko, Akashi lagi-lagi mengurungkan niatnya.
"Kalau Kurokochi yang bilang begitu tidak digunting ssu." Protes Kise. Yang lain mengangguk setuju.
^May Angelf^
Akashi dan Kuroko berjalan beriringan untuk kembali kerumahnya, Kuroko sesekali melirik ke arah Akashi yang hanya menatap lurus ke depan. Kuroko ingin mengobrol dengan Akashi untuk memecah keheningan, tapi dia sendiri bingung apa yang akan dia bicarakan.
"Akashi-kun," panggil Kuroko.
"Hmm," Akashi hanya menggumam pelan sebagai jawaban, dia tidak menoleh sedikitpun pada Kuroko, membuat Kuroko semakin kebingungan ingin mengatakan apa.
"Akashi-kun merasa tidak? Ada yang aneh dengan Aomine-kun." ujar Kuroko setelah berhasil menemukan topik pembicaraan.
"Hmm." Lagi-lagi Akashi hanya menyahut dengan gumaman, matanya tetap menatap lurus ke depan seolah tidak tertarik dengan topik yang Kuroko bicarakan.
"Kira-kira kenapa ya? Apa kita perlu mencari tau?" tanya Kuroko seraya mengingat kembali tingkah Aomine yang terkadang seperti orang bingung disertai kantong mata dan wajah pucatnya.
"Tidak perlu, aku sudah tau," jawab Akashi singkat. Akashi lalu menghentikan langkahnya, matanya terpejam. Membuat Kuroko menatapnya heran.
"Ada apa Akashi-kun?" tanya Kuroko.
"Peluk aku Tetsuya," pinta Akashi tiba-tiba, membuat Kuroko terperanjat di tempatnya.
"Apa?!"
"Peluk aku." Ulangnya lagi.
"Tapi—"
"Tidak ada penolakan." Akashi membuka matanya dan menatap Kuroko dengan wajah seriusnya, membuat Kuroko mau tidak mau menuruti perintahnya.
Kuroko memeluk Akashi erat masih dengan wajah bingungnya, sedangkan Akashi mengedarkan pandangannya ke segala arah, memastikan tidak ada orang di sekitarnya. Ia lalu mengembangkan sayapnya dan terbang bersama Kuroko di pelukannya.
"Memangnya ada apa Akashi-kun?" tanya Kuroko lagi.
"Kurasa Daiki butuh pertolongan kita," jawabnya datar.
^May Angelf^
Apa yang Akashi katakan benar adanya. Setelah sampai di tempat di mana Aomine berada, pemandangan yang Kuroko lihat di depannya membuatnya bergidik ngeri sekaligus emosi. Tepat beberapa meter di hadapannya terdapat seorang pemuda yang tengah dikeroyok oleh empat orang berbadan besar yang sepertinya dikomandoi oleh seorang wanita paruh baya yang berdiri tak jauh dari mereka. Mereka memukul dan menendang Aomine secara membabi buta tanpa memperdulikan keadaan pemuda dim tersebut yang sudah tak berdaya.
Kuroko mengepalkan tangannya, merasa marah dengan apa yang telah dilihatnya, dia berniat untuk menolong Aomine tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri, beruntunglah Akashi mencegahnya.
"Biar aku saja," titah Akashi.
Akashi melangkahkan kakinya semakin mendekati TKP, dia kemudian menghentakkan kaki kanannya, membuat 4 orang yang tengah mengeroyok Aomine dan seorang wanita paruh baya yang berdiri tidak jauh dari sana terlempar seketika. Akashi kemudian mengangkat tangan kanannya, membuat kelima orang yang tadi terpental ke berbagai arah terangkat mengikuti irama gerak tangannya.
Kuroko yang melihatnya berdecak kagum, sedangkan Aomine yang tergeletak tak berdaya tidak dapat menyadari apa yang terjadi di sekitarnya.
"Akashi-kun keren sekali." Kuroko bertepuk tangan dan melompat-lompat kecil berfanboy ria. Sedangkan Akashi mengibaskan tangannya membuat kelima orang itu terlempar entah kemana.
"Terima kasih," ujar Akashi kemudian. Akashi membungkukkan badannya di depan Kuroko yang masih berfanboy ria setelah menyelesaikan pertunjukkannya. Mereka berdua ber-OOC ria melupakan temannya yang tergeletak tak berdaya.
-TBC-
.
.
Big thanks to :
kufufufu-chan, Bona Nano, KNY14
Terima kasih juga untuk yang sudah membaca, khususnya yang sudah mereview, memfavorite dan memfollow.
Saran dan dukungan kalian sangat berarti bagi saya, membuat saya enggan untuk berhenti dan bersemangat untuk melanjutkannya kembali.
Sekali lagi terima kasih banyak ^_^
Jangan lupa review ya :)
