Yo!
Yah, sekali-kali lah nyetuh FF lama. Sebenarnya puisi-puisi ini sudah dibuat beberapa bulan yang lalu—lebih dari 10 bulan kayaknya...—dan akhirnya mau coba-coba publish lagi. Tidak banyak perubahan. Author hanya mengikuti apa yang pernah author ketik dulu. Dimulai dari... sini ni~ *nunjuk ke bawah*
Oke. Langsung aja! Rate, disclaimer, dan warning... sama seperti chap sebelum. Tapi kali ini, mungkin genre yang bakal berubah. #authorhobbybuatgenreyangberubahubah #gakkonsistennih!
Ga tau atuh! Ahahaha!
Readers: nih author bicara ame siapa?
Warning tambahan yang ingin kukatakan, OOC yang terlalu jauh T-T, Garing, dan... gimana yah ngejelasinnya. Yah~ semacam... Alur gaje atau adegan gaje?
.
Puisi pertama dimulai dari Masamune.
Inilah Basara!
by. All Basara
Berbagai macam cerita dibuat di dunia
Kami salah satunya
Banyak sejarah di dunia
Kami salah satunya
Kami datang untuk menghibur
Kami menceritakan kisah luar biasa
Kami punya banyak versi
Kami bangga, kami ada
Kalian bisa tersenyum karena kami
Walaupun kurang terkenal...
Tetapi senyum kalian membuat kita puas
Sekarang...
10 tahun adalah umur kami
Akankah kalian tetap mencintai fandom ini?
Akankah kami bertahan lebih lama?
Terima kasih untuk kalian yang masih mendukung kami
Teman Tanpa Bicara
by. Keiji, Shikanosuke, Sakon, Yukimura
Terkadang aku sepi...
Sendirian tanpa ada yang menemani...
Sampai kau datang...
Aku bisa tersenyum...
Tanpa banyak kata...
Kau membuatku bahagia...
Tanpa banyak mengeluh...
Kau selalu menyertai...
Kau tak bisa menjawab...
Apa yang aku tanya...
Tapi kau mengerti...
Apa yang aku rasakan...
Teman tanpa bicara...
Kau temani aku...
Berjalan bersama...
Disaat yang lain sibuk...
"Emm..." Wabisuke, yang kebetulan hari ini memegang panggung, sedang menganalisis puisi buatan KeiShiSaYu. "Maksud kalian... hewan ya?"
KeiShiSaYu mengangguk bersamaan.
"Keiji, apa hewan mu?" tanya Wabisuke.
"Yumekichi," jawab Keiji singkat dan ditambah 'Kik' dari Yumekichi.
"Kalau... Shikanosuke?" Wabisuke bertanya lagi.
"Tentu saja! Oyasan!" jawab Shikanosuke.
"Sakon?"
"Monyet-nya Toyotomi dong! Hideyoshi-sama!" jawab Sakon enteng.
"AVAH!?" semua Toyotomi teriak berjamaah.
Mitsunari mendeathglare ria Sakon. "Apa ejekkan itu, SAKOOOOOOOOOOONN!"
"Eh? Mit... Mitsunari-sama..." Sakon berkeringat dingin.
"Habislah nyawa-mu, Sakon~" kata Hanbei sedikit tertawa.
Seketika Sakon dibabat abis sama Mitsunari dan keluarga Toyotomi. Hideyoshi juga mengamuk loh!
"Hah~" Wabisuke menghela nafas. "Lalu... binatangmu apa, Yukimura?"
"Shinobi no Kai! Sarutobi Sasuke!" jawab Yukimura semangat. Seketika Sasuke pundung.
"Kau tak apa Sasuke?" Shingen menepuk punggung Sasuke.
"Sama sekali tak apa-apa!" Sasuke mengangkat kepalanya sambi tersenyum. Semua bingung. "Jangan hanya melihat kata Saru saja. Tobi juga berarti! Artinya 'elang'! Melompat di pohon, terbang tinggi di langit! Jangan pernah meremehkan klan Sarutobi!" kata Sasuke dengan muka kerennya. Padahal di dalam hatinya... dia pundung berat loh!
Kancut!
Keluarga
by. Maeda Matsu dan Maeda Toshiie
Sejauh apapun kita mengembara
Sesering apapun kita pergi berperang
Sesendirian berjalan-jalan
Akan tiba saatnya...
Kita merindukan mereka
Jauh disana...
Menanti kebersamaan
Diantara...
Orang-orang terkasih
Satu meja...
Dapat memberi senyum
Bersama menebar tawa
Tak ada 'cemberut'
"Membangun rumah, tidak bisa sendirian"
Kerja sama... itulah keluarga
"Matsunee-chan... Toshie... kalian hebat!" Keiji mengacungkan jempol.
"Kan Maeda paling sohib diantara semua samurai!" kata MatsuToshie berbarengan.
'Revolution'
by. TMR (Tadatsugu Makes Revolution)
Dulu...
Aku dianggap tak berguna
Hanya sebagai pengganggu
Tak bisa apa-apa
Aku memberi semangat
Aku sedikit memaksa
Tapi aku tak bermanfaat
Hanya memerintah
Hingga akhirnya dibuang
Sampai aku dipungut
Dan membuat revolusi
Dan sekarang...
Aku adalah permulaan kalian
Tanpa suara ku...
Siapa yang membuka?
Taiko
by. Toyotomi Hideyoshi
Aku sekarang sudah berjaya!
Dulu...
Aku hanya orang pendek
Berwajah buruk
Seperti Monyet
Namaku Hiyoshi
Anak Miskin
Yang memiliki masa lalu
Yang suram
Diangkat menjadi salah satu pasukan
Memulai pekerjaan pertama
Di provinsi Owari milik Oda
Namaku Tokichiro dari marga Konishita
Suatu perang besarku menangkan
Memiliki sebuah benteng
Dan beberapa istri serta teman
Konishita Hideyoshi
Akhirnya!
Inilah saya!
Dengan bantuan kawan-kawan
Dan dukungan banyak orang
Akulah sang Taiko!
Namaku...
"Toyotomi Hideyoshi!" kata Hideyoshi mengakhiri puisinya.
"Hm... cerita nyatamu ya~? Bagus-bagus!" Wabisuke memuji. "Ada yang mau maju lagi?"
"Tunggu! Aku masih ingin membaca puisi lagi!" jawab Hideyoshi.
"Tumben. Berapa banyak stok puisimu itu Hideyoshi?" kata Keiji dengan nada sedikit mengejek.
"Em... entahlah, Toshimasu!" Hideyoshi membalas ejekan Keiji dengan nama lamanya. "Ehum! Aku harap, kalian tidak menangis terutama kalian, Shigeharu dan Sakichi." Semua pada bingung dengan nama itu. "(Karena Botenmaru sudah biasa)"
Kematianmu Adalah Amanat Untukku
by. Toyotomi Hideyoshi (untuk Takenaka Shigeharu)
Perang selalu kumenangkan
Selama kau mengaturku
Masa depan yang luar biasa ada ditangan kita
Selama kau disampingku
Orang sejinusmu terlahir kedunia ini
Seperseratus tujuanmu akan berhasil
Seandainya tak ada penyakit ini
Kau masih ada disini
Pada detik-detik akhir nafasmu
Kau masih mau bangkit
Dan berlutut dengan tubuhmu yang kurus
Seperti papan
Dan rendah seolah-olah patah
Bahkan masih berbicara panjang lebar
Hingga akhir katamu
Dan sekarang...
Hanya kubur saja yang tersisa
Aku akan selalu merindukan perjuanganmu!
"Bahkan aku akan tetap mengabdi bahkan dibawah liang kubur... tuan Hideyoshi..." Hanbei tersenyum mendengar puisi yang dibacakan Hideyoshi.
"Huaaaa! Hideyoshi-sama! Puisi itu memang pantas untuk Hanbei-sama!" air mata Mitsunari berterbangan. Rambut depannya melambai-lambai ke kiri dan ke kanan. "Rambut Kepedihan~!" serunya sampai berdiri dari kursinya. Dan kenapa bisa ada adegan seperti ini?
"Eh? Ieyasu? Kau juga menangis?" tanya Hideyoshi yang turun dari panggung.
"Iya... ini loh... kripik MaNagamasa, pedes buanget! SE-HAH!" kata Ieyasu yang kemerahan mukannya karena sedang memakan sesuatu yang begitu merah sampai membuat tangannya merah pula.
"Kenapa tiba-tiba kau makan kripik itu, Ieyasu?" tanya Motochika.
"Ga tahu. Habisnya... daripada menangis karena puisi Hideyoshi-ko, mending nangis karena ini. SE-HAH!" Ieyasu masih kepedasan. Dan Ieyasu mendapat tatapan sadis dari beberapa penggemar puisi dan penggemar Hideyoshi.
Apalagi Mitsunari yang sudah menghitam dari tadi, "Ieyasu... kau... tidak menghargai PUISI HIDEYOSHI-SAMAAAA!" Mitsunari melempar semangkuk sambel—dimana ada campuran sambel matah, sambel rica-rica, mie, balsem, dan minyak kayu putih di dalamnya.
"HUAAAA! PUAAANAAAAS!" Ieyasu pun lari kepanasan.
Lupakan dia. Saatnya Masamune ambil bagian—lagi, mungkin?—dalam membaca puisi di hari ini karena puisi adalah ide Masamune.
"OI! Dasar! Gantian dong! Jangan kau terus yang mewakilkan! Mentang-mentang tokoh utama dan punya fans banyak!" Motochika ngamuk karena dari tadi dia tak dapat bagian. "Lalu, apa-apaan itu! Kenapa puisi ini idenya Masamune!?" teriak Motochika di depan CCTV terdekat. Entah apa yang dilakukan tuh anak!
"AKU BACA ITU!" Motochika masih mengamuk. Biarkan dia.
"Hah~ OK. Here! Nih!" Masamune menyerahkan naskahnya. Dan Motochika berhenti dari kesetressanya itu. "(Daripada dia makin stress!)," kata hati Masamune.
Seandainya dan Hati Basara
by. All Chara
Dan kami pun masih ada di sini
10 tahun kami lalui
Kalian telah mencintai kami
Dukungan kalian sangat kami hargai
Seandainya...
Kami tamat...
Apakah kalian akan tetap setia pada kami?
Apakah kalian masih tetap mencintai kami?
Seandainya...
Kami tak ada...
Fandom apa yang mungkin menjadi tempat kalian?
Dimana kalian menikmati imajinasi kalian?
Dan seandainya...
Ada 'Edo Basara'...
Apa yang kalian harapakan di Fandom itu?
Semoga kami masih bisa...
Hidup lebih lama
Sampai ke cucu cicit kalian...
Agar mereka tahu...
betapa greget-nya...
Cerita kami ini...
"Wait, wait, wait!" Shirendan nongol tiba-tiba. "Ini puisi... apa curhat? Kayaknya... bukan hanya si Author yang lagi stres."
"Tuh! Si Mune! Ngapain dia nyaranin kita buat puisi ini!" tunjuk Motochika.
"Hei! What my fault!? Kalian juga ikut-ikutan!" Masamune membela diri.
"Maa, maa... kalian jangan bertengkar gitu, dong! Kalian kan ga sejodoh..." Ieyasu menenangkan pertengkaran mereka.
"Apa maksudmu jodoh, IEYASU!" 2M versi seme, ngamuk.
"Hmmm... bisa saja! Kan Motochika warna ungu, Masamune warna biru. Ungu adalah warna Hinata..."
(Ya! Ya! Ya!)
"...dan biru adalah warna Sasuke!—,"
(Ya! Ya! Ya!)
"Jadi, TERBUKTI bahwa MasaChika sama dengan "SasuHina-nya Basara"!" jelas Shirendan. Dan Sang Penulis merasa tak ada hubungannya.
"Matte! Kalau begitu... GUA UKE-NYA DONG!" amuk Motochika.
"Mendinglah gua jadi seme... TAPI GUA GA SUDI PASANGAN SAMA LO, BAJAKAN!" Masamune juga ikutan ngamuk.
"Huh! Sama! Saya juga! Enek gue sama loe!" Motochika sok ga enak sama Masamune. "Lalu... JANGAN SEBUT AKU BAJAKAN, KESEGANRYU!"
"WHAT DID YOU SAY!?
"MAU BERANTEM!?"
"YO, LAPANGAN LUAS!"
Terjadi pertarungan—baca: pasangan—heboh antara MasaChika.
"Ide bagus juga tuh, Shirendan!" Ieyasu setuju dan akhirnya dibalas dengan 'Super Duper Deathglare' MasaChika yang babak belur.
"Sudah sudah! Kita tutup episode ini! Siapa yang mau jadi 'End Poetry'?" Wabisuke menawarkan.
"Aku! aku!" Maria mengangkat tangan.
Sengoku
by. Kyogoku Maria
Jaman dimana...
Blok timur dan blok barat
Di satu negara berperang
Semua bingung berjamaah.
"Maria-dono... puisi apa ini?" Yukimura bingung dengan polosnya.
"Ini namanya Haiku! Aku sedang berlatih membuat Haiku karena untuk panggung selanjutnya, Dansegeblek-gebleknya itu, menyuruh kita membuat haiku. Tema-nya diri kalian sendiri. Tulis pr kalian!" jawab Maria sekaligus perintah Maria.
"Yah~" yang ada disana pada gelisah. "Awas aja kalau SenBaNa ada PR!"
Njiirrr! Dah lama ga dibuka, ternyata nih fanfic suka bikin PR ya! Yang repot bukan mereka, tapi author. Dan dulu aku ngebuat pair seme!Masamune dan uke!Motochika... GA PERCAYA! HAMBA BUAT APA YA, KAMISAMA! *minta telolet di tengah jalan*
Eh? Tapi aku jangan pergi dulu. Aku masih ada urusan dengan para chara soal haiku. *tatap sinis para chara*
All chara: *pijit-pijit author* semangat ya thor! Mau dibuatin apa? Mau makan ama minum apa? Mau nonton apa? Mau uke siapa? Nanti kami siapin deh~
Me: Kok kesel ya... tapi kalau soal uke, Keiji—
Keiji: Aku keluar!
All chara (kecuali Keiji): Ayolah~!
Keiji: Ga mau!
Mana gaje-gaje lagi yang aku ketik. Ga nyangka, dulu kayak gini ya. :V
Boleh kalau mau mereview. Bye!
