Naruto Point Of View

"terima kasih, rapat selesai" ucapku seraya berdiri dan meninggalkan ruang rapat yang baru saja kuhadiri.

Rasanya aku ingin cepat pulang dan menemui Hinata, seharian ini pikiranku tidak tenang. Aku selalu mengantar Hinata ke kantornya setiap pagi, bahkan saat aku harus keluar negeri karena pekerjaan, Hinata selalu berangkat diantar oleh supirku.

Dan hari ini aku tidak mengantarnya, seluruh hariku dipenuhi rasa bersalah.

Karena itu aku ingin pulang lebih cepat, menjemputnya lalu memeluknya semalaman.

"kau mau kemana Naruto? Ini masih jam kerja, jangan berkeliaran" ucap Karin, kakakku sekaligus sekretaris dan penasihat perusahaan saat dia masuk keruanganku dan melihat aku membenarkan jas yang kukenakan .

"menjemput Hinata" Karin memandangku bingung.

"ini belum jam pulang Hinata"

"aku mau membeli bunga dulu, kau ini tidak romantis sama sekali" ledekku pada Karin.

"ya terus ledek lah kakakmu yang sudah menikah tapi tidak mengerti kenapa suamiku tidak bicara padaku setelah hari pernikahan kami"

"tentu saja dia marah, pria mana yang tidak marah saat ditinggal istrinya ngorok saat malam pertama?"

BUK

Sebuah bantal yang tadi duduk manis diatas sofa, terbang ke arah Naruto namun pria itu sukses menghindarinya.

"aku pergi dulu nee-chan" Karin tersenyum saat melihat Naruto yang berlari kecil keluar ruangannya.

"anak itu"

Indra penciumanku sesekali mengendus aroma wangi bunga mawar yang ada di tanganku saat ini.

Namun perhatianku teralih pada mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari mobilku

Kurasa aku tidak akan suka dengan siapapun pemilik mobil itu.

"kau ingat saat kita pertama kali bertemu? Saat festival musim panas?" suara itu..

Aku yang baru keluar dari lift, dan hendak belok ke arah apartemenku, namun suara itu menghentikan langkahku.

Aku mengambil satu langkah maju untuk menengok ke arah kiri, hanya untuk melihat pria itu duduk bersandar di daun pintu, sambil menangis.

"aku masih ingat semua detail yang kulihat malam itu tentangmu, wajah polosmu, senyummu, bahkan yukata yang kau kenakan hari itu..Hinata? kenapa kau sangat cantik? Membuatku sulit untuk melupakanmu" kakiku refleks mundur ke belakang dan menyandarkan badanku di balik dinding, bunga yang tadi kupegang dengan erat, kini menjuntai lemah ditangan kananku.

"aku selalu mencintaimu, dari dulu hingga sekarang..tapi aku bahkan tidak bisa memberikanmu apapun, kau bahkan menderita karena aku, kau selalu menangis saat di sisiku, tapi rasanya itu tidak dapat membuatku dengan rela melepasmu, aku selalu menjadi yang paling egois"

Ya, kau yang paling egois Uchiha..

Kau bersalah karena meninggalkan Hinata…

"kau selalu menjadi perisaiku, kau melindungiku dengan tubuh mungilmu dari dunia, bahkan dari ayahku sendiri..tanpa sadar, aku membiarkan semua orang menyakitimu"

Bodoh sekali.

"aku bahkan tidak mengetahui tentang bayi kita, dia begitu malang"

Hari ini, Uchiha Sasuke berlutut di depan apartemenku, berharap maaf dari Hinata, seorang Uchiha yang egois menurunkan ego-nya untuk seseorang..tapi kenapa aku merasa seperti ini?

Perasaan kesal dan bersalah ini..

CKLEK

Hinata pasti sudah membuka pintunya.

Aku mendengarkan percakapan mereka, entah mengapa aku tidak mau melangkahkan kakiku di antara mereka.

Sudah cukup satu kali cara kotor ku gunakan..

"Uchiha-san" suara manis Hinata-ku

"kembalilah ke rumahmu"

Ah, bodohnya aku, Hyuuga Hinata, kekasih yang paling kucintai, hanya akan mengkhawatirkan satu orang.

Sampai akhir, hanya ada Sasuke.

"bila begitu, maka aku harus membawamu"

"karena kau adalah rumahku"

Bibirku membentuk senyuman, aku tidak tersentuh, tentu tidak.

Hanya saja semua ini, terasa menggelikan.

###

"aku pulang" ucapku seraya melepas sepatuku.

Aku baru masuk 10 menit setelah Sasuke pergi, dan aku belum pernah melihat wajah Hinata begitu kaget melihatku.

"Na-naruto-kun kapan sampai?" aku dapat melihat hidungnya yang memerah sehabis menangis, namun wanita itu langsung membalikkan tubuhnya dan kembali ke dapur.

"baru saja" aku berjalan mendekati Hinata yang membelakangi ku.

"surprise" tanganku merengkuh pinggang mungil Hinata, di tangan kananku ada bunga yang tadi kubeli.

"Na-naruto-kun, tumben sekali, ada apa?" Hinata menyentuh kelopak mawar merah itu.

"aku merasa bersalah karena mengacuhkanmu tadi pagi, maafkan aku"

"kenapa semua orang meminta maaf hari ini?" aku terdiam.

"memang siapa yang sudah minta maaf lebih dulu?" tanyaku.

"e-eh? Bukan apa-apa" Hinata membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku, dia mengambil bunga yang masih ditanganku.

CUP

Wajah Hinata menegang, tidak ada wajah memerah setiap kali mengecupnya seperti ini

Aku tau, cepat atau lambat rahasiaku akan terbongkar, dan aku akan kehilangan Hinata..

End of Naruto point of view

###

Sasuke duduk di pinggir pantai sendirian, hanya satu, dua orang yang lewat di sekitarnya, karena hari sudah hampir malam.

Pria itu sudah tidak mengenakan jas mahal yang dikenakannya setiap hari, dia hanya mengenakan kaos hitam polos, dan celana lusuh, yang dulu dipakainya saat berlayar.

Senyum kecil mengembang di wajahnya saat mengibgat bagaimana usahanya untuk mendapatkan uang dari kerja serabutan disana sini, dia rela melepaskan 'dunia sempurna' yang diciptakan ayahnya hanya demi seorang gadis.

Lucu bagaimana Hinata yang naif, tegar, namun sangat manis itu bisa merubah sifat playboy, pemalas, boros,dan intinya, semua sifat brengsek yang paling buruk di dunia ini, menjadi seperti dirinya saat ini.

Dia bahkan sudah terlalu malas untuk pergi ke bar malam, apalagi untuk berkencan dengan perempuan, bagaimanapun dia sudah memiliki istri.

Ya, Hinata masih sah sebagai istrinya.

Tidak seorang pun dari mereka pernah melayangkan gugatan cerai, dan ayahnya..entah kenapa tidak pernah menyuruh mereka bercerai, dia hanya ingin mereka berpisah.

Hanya saja keadaan sudah berubah, Hinata sudah memiliki Naruto, dan mungkin mereka akan segera menikah.

Mereka tidak akan menikah bila Hinata belum bercerai dengan Sasuke kan?

Tak pernah terpikir oleh Sasuke, tapi sepertinya dia yang harus mengirimkan surat gugatan terkutuk itu lebih dulu..

Namun tepat saat dia merogoh ponselnya, kakaknya menelpon

DRRT DRRT

"halo" ucap Sasuke seraya mengangkat panggilan dari kakaknya.

"Sasuke, kau harus jemput Hinata sekarang"

"ada apa? Dia aman, Kekasihnya sudah pu-" kalimat Sasuke terpotong oleh kalimat Itachi yang lansung merubah raut wajahnya.

"aku akan segera kesana" Sasuke menutup ponselnya dan bergegas ke arah mobilnya.

Melajukan mobilnya ke arah apartemen Hinata dan kekasih psikotiknya, Naruto.

"HINATA" teriak Sasuke saat menggedor pintu apartemen Naruto dan Hinata.

"lepaskan!" mata Sasuke membelalak saat mendengar suara teriakan.

Sasuke berusaha mendobrak pintu apartemen itu namun terlalu sulit.

Namun tiba-tiba hening

"HINATA!" panggil Sasuke seraya menggedor pintu dengan tidak sabar.

Tak lama, pintu terbuka dan menampakkan wajah datar Hinata, wanita itu hanya mengenakan kimono tidur tipis.

"pergilah"

Sasuke menatap Hinata bingung, namun api kemarahannya langsung membara saat melihat Naruto dibelakangnya, telanjang dada.

Seakan mengetahui apa yang sedang mereka "lakukan", rahang Sasuke mengeras.

"apa orang ini menyakitimu Hinata?" tanya Sasuke, masih berusaha menghiraukan usiran Hinata.

Hinata terdiam, dia meneguk ludahnya lalu membuka mulutnya

"tidak"

Dengan satu kalimat itu, memukul mundur Sasuke, namun kalimat kakaknya selalu terngiang di kepalanya.

###

(1 jam sebelumnya)

TOK TOK

"masuk" ucap Itachi yang masih berkutat dengan laptop dihadapannya.

Walaupun sekarang Itachi sedang di kamarnya sendiri, dia tetap membawa pekerjaannya, karena itu dia selalu disebut maniak kerja

"kami sudah dapatkan informasi tentang kejadian 6 tahun yang lalu tuan" seketika, Itachi meletakkan laptop yang tadi pangkuannya ke atas kasur, dia berdiri dan duduk di kursi dekat jendela, diikuti anak buahnya, Sai.

"hari itu Hinata-sama baru saja pulang dari mansion ini, tapi di jalan saat dia menuruni jalan, sebuah mobil menabraknya dari belakang"

"apa Hinata bicara dengan ayah sebeumnya?" tanya Itachi.

"iya tuan, kami sudah memeriksa CCTV dan Hinata-sama terlihat keluar dari ruangan Presdir sambil menangis."

Itachi terdiam, wajahnya berubah tanpa ekspresi.

Dia berdiri lalu menyuruh anak buahnya keluar dan mencari tau lebih dalam.

"ayah" ucap Itachi saat masuk ke dalam ruangan kerja Fugaku.

"apa lagi kali ini?" Fugaku memandang tajam Itachi.

"bagaimana ayah tau Hinata keguguran 6 tahun yang lalu?" wajah Fugaku menegang.

"tentu saja aku tau, dia keguguran tak jauh dari mansion, semua bodyguard melihatnya"

"benarkah?"

"apa maksudmu bertanya seperti itu?"

"apa ayah yakin bukan ayah yang menyuruh seseorang menabrak Hinata?"

"beraninya kau menanyakan hal itu" Itachi masih memandang Fugaku, masih berusaha mencari di jawaban di balik wajah stoic Ayahnya.

"lalu apa ayah tau kenapa Hinata ke mansion ini saat itu?"

"hentikan omong kosong ini"

"aku tidak akan berhenti sebelum ayah menjawabnya"

"kenapa kau begitu peduli pada wanita itu?"

"karena dia adik iparku, dan aku tidak mau membiarkan adikku menjadi sepertiku, kehilangan seseorang demi kekuasaan" suara Itachi mulai memelan.

"ayah yang memanggilnya"

"untuk apa?"

Fugaku melempar pandangannya ke arah lain, dan menghela nafas panjang, lalu menceritakan kejadian kelam itu.

FLASHBACK

Fugaku duduk bersebrangan dengan Hinata di ruang kerjanya, Hinata menunduk dalam sambil memainkan ujung rok-nya.

"U-Uchiha-sama, kumohon..beritau aku dimana Sasuke-kun" mohon gadis itu sambil terisak.

"kau bahkan tidak tau dia ada dimana, apa kau yakin bukan dia yang ingin meninggalkanmu?" Hinata menatap Fugaku lalu menggeleng cepat.

"ti-tidak tuan, Sasuke bu-bukan orang seperti itu"

Fugaku terdiam, memandangi Hinata dari atas sampai bawah, gadis itu hanya memakai sweater biru malam, dengan rok dibawah lutut berwarna putih, dan sepatu flat berwarna putih.

Hinata sangat sederhana.

Tentu saja, dia lahir dari keluarga miskin.

Tapi Mikoto juga tidak berasal dari keluarga kaya.

"bagaimana kau bisa mengenal putraku lebih dari aku?" tanya Fugaku.

"te-tentu aku mengenal Sasuke-kun, karena di-dia ayah bayiku" Hinata yang nampaknya menyadari kalimatnya langsung menggigit bibir bawahnya.

"kau hamil?"

"to-tolong jangan memintaku menggugurkannya, bayi ini tidak bersalah tuan" mata saat melihat Hinata bersimpuh di kakinya.

'apa dulu kau jua begini Mikoto? Saat kau tau kau sedang hamil Itachi?'

"pergilah" Hinata kaget mendengar kalimat Fugaku yang tidak mencacinya.

"tu-tuan kumohon, janga-"

"aku tidak akan menyuruhmu melakukan apapun, pergilah dari sini" Hinata sangat tau bahwa keputusan Fugaku akan berubah mengatakan satu patah kata lagi, dia berdiri dan meraih tasnya.

"sa-saya pergi tuan"

Ayah 2 anak itu terdiam, dia berusaha mengingat alasan dia tidak merestui kedua pasangan yang dipilih putra-putranya.

Karena dia tidak mau mereka seperti dia.

Fugaku tidak pernah membenci Konan maupun Hinata.

Sebaliknya, dia sangat menghargai kedua perempuan itu.

Hanya saja, luka lama memaksanya untuk bersikap seperti itu, seperti ayah yang baik.

Ya, seperti seorang ayah.

Fugaku ingat ketika dia membawa Mikoto yang sedang hamil muda ke rumahnya, mansion Uchiha, dan mendapat penolakan dari ayahnya.

"kalian belum menikah tapi wanita ini sudah hamil? Tidak dapat dipercaya"

Kalimat itu dilontarkan oleh sosok yang sangat dia hormati, dan sampai akhir pria itu hubungannya dengan Mikoto.

"jika kau ingin putra-putramu tetap tinggal di rumah ini bersama ayahnya, kau yang harus pergi"

Fugaku memijit dahinya pelan.

Alasannya tidak merestui Sasuke dengan Hinata maupun Itachi dengan Konan, karena dia tau kedua gadis itu terlalu baik, terlalu naif untuk dihancurkan impiannya oleh kekuasaan.

Karena dulu dia seperti itu..

Dia meninggalkan Mikoto, demi kekuasaan, berjalan menjauh tanpa menoleh kebelakang sambil menggendong kedua putranya di tangannya, meninggalkan Mikoto yang menangis di rumah sakit jiwa.

Ya, Mikoto dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa karena ayahnya, yang berusaha meyakinkan Fugaku kalau wanita yang dipilihnya tidak waras.

"mereka putraku, aku tidak mau semua berakhir seperti dulu" ucap Fugaku pelan seraya melihat Hinata yang berjalan tergopoh -gopoh ke arah gerbang luar.

Dia merasa sakit hati karena mengusir ibu dari calon cucunya.

Tapi ego tetaplah ego, hingga akhirnya Onyx Fugaku membelalak kaget saat melihat sebuah mobil sedan tiba-tiba menabrak Hinata di luar pagarnya yang sedang berjalan dipinggirnya.

FLASHBACK END

Itachi kaget saat mendengar ayahnya begitu jujur mengenai kejadian 6 tahun lalu, tapi tentu saja Fugaku tidak menceritakan alasan sebenarnya dia menolak Hinata dan Konan.

Oh tentu tidak, harga dirinya sebagai seorang Presdir masih terlalu tinggi dibanding menjadi seorang ayah.

"apa ayah tidak berbohong tentang itu?"

"apa kau mau kepalamu ku tebas dengan katana?" Fugaku menatap Itachi datar.

"tapi siapa yang menabrak Hinata?"

Itachi melirik ayahnya yang menoleh ke arah lain, seakan menyimpan jawaban yang dia cari.

"ayah"

"Uzumaki"

Itachi terdiam, seakan mengingat marga yang terasa familiar di telinganya.

"penabrak itu Uzumaki Naruto"

TBC