Semua berawal dari obsesi Baekhyun pada seniornya. Tapi apa jadinya jika obsesinya itu malah membawa dirinya ke sebuah gym dan dipertemukan dengan seorang personal trainer yang menyebalkan?
Tittle : Exercise Warning Signs
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, and others
Genre : School life, romance, comedy
Rate : T (bertambah sesuai alur)
Note : untuk cast Kei disini Kei-nya Lovelyz ya :) dan beberapa ada yang salah nebak tentang siapa yang nyari Baekhyun hihihi xD gausah panjang2, happy reading '-')/
I WARN YOU, THIS IS YAOI / BOYS LOVE / BOY x BOY
.
.
.
"Sehun-ah!"
Sehun baru saja akan menjatuhkan bokongnya di kursi sebelum sesosok laki-laki bersuara cempreng datang dan memanggilnya dengan suara khasnya. Sehun memperhatikan Baekhyun yang tersenyum di hadapannya.
"Kau sudah sembuh, Baek?" Baekhyun mengangguk, pria itu mendudukkan dirinya di depan bangku Sehun.
"Sudah. Bagaimana? Apa bentuk tubuhku sudah semakin baik?"
Sehun memandangi sahaatnya itu dari atas hingga bawah, lalu kembali ke atas lagi. Apanya yang berubah? Tubuhnya masih saja pendek dan datar-datar saja.
"Biasa saja." Baekhyun mendecak lalu mengerucutkan bibirnya.
"Kupikir latihanku selama seharian kemarin telah membuahkan hasil." Sehun menatapnya datar. Baekhyun menyengir sebelum kembali berbicara. "Ah! Kau bilang ada yang mencariku kemarin? Siapa?"
Sehun ikut mendudukkan dirinya setelah meletakkan tas ransel miliknya di meja.
"Kei sunbae."
Baekhyun membulatkan matanya. Kei dia bilang? Untuk apa gadis cantik itu mencarinya? Apa Kei mulai tertarik padanya? Ia mengembangkan senyumnya. Ini kemajuan yang sangat besar(jika tebakannya benar).
"Apa?"
"Kubilang Kei sunbae, Baek."
"Aku dengar, Sehun." Baekhyun memutar bola matanya. Dia kan hanya merealisasikan rasa terkejutnya.
"Aku hanya menjawab sesuai pertanyaanmu." Sehun mengaduh setelah jari-jari lentik Baekhyun menoyor kepalanya.
"Untuk apa dia mencariku?" Baekhyun dapat melihat sehun mengangkat bahunya, lalu menggeleng pelan.
"Tidak tahu."
Baekhyun bermaksud ingin ke kelas Kei sunbae sebentar untuk bertanya mengapa gadis itu mencarinya kemarin. Baekhyun tidak bisa sabar jika itu menyangkut tentang gadis pujaannya. Tapi sayangnya kali ini keberuntungan sedang tidak berpihak padanya, bel pertama berbunyi sesaat setelah ia berdiri dari kursinya.
.
.
.
Baekhyun berdecak keras saat melihat kerumunan orang didepannya. Apa mereka semua belum menyentuh makanan selama seminggu hingga harus berdesak-desakan seperti ini? Kantin sekolah Baekhyun menerapkan sistem prasmanan, siswa sisiwi bebas mengambil makanan yang disajikan. Seharusnya tiap siswa diwajibkan untuk antre, tapi sepertinya peraturan yang satu itu tidak pernah diindahkan. Jika sudah menyangkut makanan dan kelaparan, persetan dengan antre. Siapa cepat dia dapat. Atau lebih tepatnya, siapa cepat dia kenyang.
Baekhyun menyentuh perutnya yang terasa seakan bergerak-gerak. Bukan, tentu saja bukan karena ada sesosok bayi kecil disana, tetapi karena bunyi lambungnya yang kelaparan minta diisi hingga membuat perutnya bergetar. Baekhyun kesiangan tadi pagi, dan ia belum sempat menyantap sarapannya. Pria itu kembali menatap gerombolan dihadapannya. Hell, bagaimana ia bisa mengisi perutnya jika seluruh penjual makanan diblok oleh siswa-siswi lain? Bisa-bisa jam istirahatnya habis jika seperti ini terus.
Well, setelah bel istirahat berbunyi 5 menit yang lalu, yang dilakukan Baekhyun adalah melesat sesegera mungkin ke kelas Kei. Tapi ia tak menemukan gadis itu disana. Jadi, ia memilih menyelamatkan perutnya terlebih dahulu. Ia akan menemui Kei sepulang sekolah nanti.
Kembali ke masalah perut. Baekhyun harus menemukan cara agar ia bisa masuk ke celah kerumunan. Ha! Baekhyun punya ide! Dengan senyum liciknya, Baekhyun melangkah ke kerumunan tersebut. Diawali dengan menarik nafas dalam-dalam dan kemudian..
"MINGGIR ATAU KALIAN AKAN CELAKA! AKU SEDANG MEMBAWA PANCI PANAS!"
Terserah kalian akan percaya atau tidak. Tapi cara itu benar-benar berhasil. Kerumunan siswa langsung memberi jalan untuknya. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Baekhyun dengan segera masuk ke dalam kerumunan. Dengan cekatan ia mengambil beberapa potong hotdog, satu cup ramen dan segelas cola. Siswa-siswi lain menyadari jika pria itu tidak sedang membawa panci panas atau apapun. Sadar teman-temannya sebentar lagi akan mengamuk, dengan kecepatan kilat ia berhasil kabur setelah membayar makanan dan minumannya.
Baekhyun duduk di meja kantin yang paling ujung. Ia dapat merasakan teman-temannya yang lain sedang memelototinya, tapi yang Baekhyun lakukan adalah berpura-pura tidak melihat mereka. Well, selamat karena rencanamu kali ini berhasil Baek.
Baekhyun memakan ramen dan menggigit hotdong secara bersamaan hingga kedua pipinya menggembung, penuh dengan makanan. Karena kesulitan menelan akibat makan terburu-buru, ia menenggak colanya dengan rakus hingga tersisa setengah botol. Lihat, sebenarnya siapa yang belum menyentuh makanan selama seminggu?
"Jangan makan makanan itu"
Baru saja ia membuka mulut dan ingin menyantap suapan kedua, sebuah suara menginterupsinya. Baekhyun mendongak untuk melihat siapa yang mengganggu acara makannya. Baekhyun mendengus, ternyata Chanyeol.
"Memangnya kenapa?" Baekhyun hampir memasukan potongan hotdog ke dalam mulutnya, tapi dengan sadisnya Chanyeol meraih roti berisi sosis tersebut lalu melemparnya ke tong sampah. Baekhyun melotot dibuatnya
"Yak bodoh! Kenapa kau membuangnya?"
Baekhyun masih menatap Chanyeol tajam saat pria itu duduk di kursi yang ada di seberang kursinya. Pria tinggi itu meraih piring makanan dan botol cola Baekhyun, lalu membuang semua isinya ke tong sampah yang kebetulan ada di dekatnya.
"Hei apa yang kau lakukan? Kau tidak tahu perjuangan beratku demi mendapatkan makanan itu? Haishh!" Baekhyun menghentakkan kakinya kesal.
"Bukankah sudah kubilang, aku yang akan mengatur jenis makanan yang boleh masuk ke dalam lambungmu?"
"Mengapa harus?" Baekhyun menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, lalu melipat tangannya kesal.
"Apa seperti ini jenis makanan yang kau konsumsi setiap hari? Kau tidak lihat perutmu yang membuncit itu?"
"Perutku tidak buncit!"
"Ya, tidak buncit. Hanya cembung ke depan." Baekhyun membuang mukanya kesal. Sesekali ia melirik ke bawah, ke arah perutnya. Sebenarnya ia sedikit khawatir saat Chanyeol mengatakan bahwa perutnya buncit. Apa memang benar begitu? Baekhyun menyentuh perutnya diam-diam, tak ingin Chanyeol memergokinya. Baekhyun meraba permukaan perutnya. Ah, biasa saja. Ia meraba-raba lagi. Oke, itu memang sedikit buncit. Hanya sedikit.
"Bagaimana? Benar kan apa kataku?"
Bekhyun menatap chanyeol. Dijauhkan tangannya dari perut. Sial, apa pria itu melihatnya?
"Tidak."
Chanyeol menghela nafas. "Percayalah, jika kau terus memasukkan makanan seperti itu ke dalam perutmu, kau tidak akan pernah melihat perubahan tubuh seperti yang kau inginkan."
Baekhyun mengerucutkan bibirnya. Matanya melirik tajam kearah Chanyeol.
"Setidaknya biarkan aku memakan 'makanan tidak sehatku' untuk yang terakhir kalinya siang ini. Aku belum makan apapun hari ini, bodoh."
"Hey, bagaimanapun aku ini sunbae dan personal trainermu. Kau harusnya lebih menghormatiku!" Tangan besarnya terangkat, memberi hadiah pada pucuk kepala Baekhyun, sebuah jitakan. Baekhyun mengusap-usap bekas jitakan Chanyeol dengan telapaknya.
Chanyeol menambahkan, "nanti di gym, kita bicarakan masalah ini."
"Aku membencimu." Chanyeol mengangkat bahunya acuh. Sebetulnya ia sedikit menyesal telah membuang semua makanan bocah itu. Harusnya ia menyisakan sepotong hotdog untuknya.
"Aku kemarin mencarimu, lalu aku bertanya pada seorang siswa yang kebetulan teman sekelasmu. Ia bilang kau tidak masuk. Kenapa kau tak masuk?" Baekhyun mengangkat alisnya. Chanyeol mencarinya?
"Kau bertanya pada siapa?"
"Ia tak memberitahumu? Seorang laki-laki berkulit putih. Pipinya sedikit chubby."
Baekhyun berpikir, berkulit putih dan chubby? Siapa teman sekelasnya yang meiliki ciri-ciri seperti itu?
"Dia pendek sepertimu" Baekhyun mencibir. Tapi sepertinya ia tahu siapa orangnya.
"Aahh, mungkin Minseok. Soal itu, aku memang tidak masuk karena sakit."
"Sakit? Sakit apa?" Baekhyun menggigit bibir bawahnya, bisa-bisa pria itu mentertawainya lagi jika tahu Baekhyun sakit hanya karena latihan tempo hari lalu.
"Daripada itu, untuk apa kau mencariku?"
"Untuk—"
"Hai! Apa aku boleh bergabung?"
Baekhyun dan Chanyeol secara bersamaan menolehkan kepalanya ke asal suara. Kedua laki-laki itu menemukan Kei sedang berdiri di sisi meja yang mereka tempati dengan membawa segelas milkshake dan seporsi tteokbokki. Baekhyun yang sempat menganga buru-buru menganggukkan kepalanya cepat.
"T-tentu saja boleh!"
Baekhyun menggeser sedikit tubuhnya agar gadis itu bisa duduk di sampingnya. Gadis itu tersenyum manis lalu duduk disamping Baekhyun. Kei memandangi kedua pria itu secara bergantian.
"Kalian tidak makan?"
Baekhyun menggeleng, sementara Chanyeol acuh. Tak menanggapi pertanyaan sang gadis.
"A-aku sudah makan tadi."
Kei kembali tersenyum manis, semakin membuat Baekhyun terpaku di tempatnya. Matanya terus memandangi bagaimana cara gadis itu memakan makanannya. Sangat manis. Baekhyun melihat Kei menjepit sebuah tteokk berlumuran saus dengan sumpitnya, lalu mengarahkannya ke depan wajah Chanyeol.
"Oppa, coba ini. Rasanya enak!"
Chanyeol hanya terdiam menatap tteokk di hadapannya. Baekhyun mendengus. Mengapa Kei tidak menyuapinya saja? Bahkan ia jauh lebih tampan jika dibandingkan dengan pria raksasa itu. Chanyeol tiba-tiba saja berdiri dari kursinya.
"Aku akan kembali ke kelas sekarang."
Baekhyun tersenyum. Itu bagus, jadi ia bisa berdua saja dengan Kei. Pria bersurai cokelat itu tidak menyadari perubahan pada raut wajah Kei. Gadis itu tampak menatap Chanyeol yang berjalan menjauh dengan tatapan kecewa.
"Kei sunbae." Kei menoleh pada Baekhyun. Secepat kilat ia mengganti ekspresi wajahnya menjadi sumringah kembali.
"Panggil aku noona saja, Baekhyun-ah" gadis itu beralih menyuapinya, dengan senang hati Baekhyun melahap makanan yang Kei berikan. Senyum Baekhyun mengembang. Ini peningkatan!
"Uhm noona, Sehun bilang kemarin noona mencariku?" Baekhyun melihat gadis itu meneguk milkshakenya lalu mengangguk.
"Iya, aku mencarimu, tapi Sehun bilang kau tak masuk." Baekhyun menenangkan debaran jantungnya yang kini menggila. Wow! Ternyata Sehun tidak berbohong. Kei memang benar-benar mencarinya kemarin!
"M-memangnya ada apa noona mencariku?" Baekhyun menggigit bibir bawahnya
"Tidak ada, hanya ingin mengajakmu makan siang bersama." Tidak ada yang tahu jika jantung Baekhyun sedang berpesta sekarang. Ini sungguh gila. Bahkan ia tak pernah membayangkan bisa sedekat ini dengan gadis pujaannya.
"B-benarkah?"
Gadis itu mengangguk pelan, kemudian membuka suaranya lagi. Baekhyun menunduk, menyembunyikan senyum kelewat lebarnya.
"Baekhyun-ah, sepertinya kau akhir-akhir ini dekat dengan Chanyeol oppa." Baekhyun menolehkan kembali kepalanya pada Kei.
"Ya, begitulah. Dia adalah personal trainerku, noona." Baekhyun terpaksa menjawab jujur. Ia tak mau Kei berpikiran yang tidak-tidak nantinya. Bisa saja kan Kei jadi ragu mendekatinya dan mengira Baekhyun gay karena terus-terusan dekat dengan raksasa itu?
"Benarkah? Kapan kalian akan berlatih di gym lagi?" Baekhyun dapat melihat raut wajah Kei yang berbinar-binar.
"Nanti, pukul 2 siang noona"
"Waaah, bolehkah aku ikut denganmu?"
"A-apa?" Baekhyun melebarkan bola matanya. Gadis disampingnya itu tampak mengerucutkan bibirnya saat melihat respon Baekhyun.
"Tidak boleh ya? Padahal aku hanya ingin melihatmu berlatih.."
Tunggu. Baekhyun mengorek-ngorek kedua lubang telinganga dengan jari-jarinya. Apa ia tak salah dengar? Kei bilang dia ingin melihatnya berlatih? Hanya orang bodoh yang menolak kesempatan emas ini!
"T-tentu saja sangat boleh!"
"Terimakasih, Baekhyun-ah!"
Baekhyun merasakan pikirannya mengosong saat jemari lentik Kei mengusak lembut surai cokelat madunya. Sungguh hari yang indah.
.
.
.
Baekhyun baru saja akan memasuki lift jika saja mata sipitnya tak menangkap sesosok pria yang beberapa hari lalu ia temui, kini tengah berjalan ke arah pintu dimana terdapat kolam renang indoor dibalik pintu tersebut. Baekhyun memutar jalannya, menghampiri pria tersebut.
"Kyungsoo-ssi!"
Pria pendek tersebut berbalik, dan menemukan seorang laki-laki dengan tinggi sejajarnya sedang tersenyum lebar di hadapannya.
"Kau Kyungsoo kan?" Pria bermata bulat itu menatap heran pada Baekhyun untuk kemudian mengangguk.
"Ya, tapi bagaimana kau bisa tahu namaku?"
Pria bernama Kyungsoo itu semakin mengerutkan keningnya saat pria di hadapannya tampak mengorek-orek sesuatu dari dalam tas nya.
"Ini." Baekhyun menyodorkan sebuah buku pada pria bermata bulat tersebut. "Aku Baekhyun. Kita bertabrakan didekat pintu masuk beberapa hari yang lalu, apa kau ingat?"
Pria itu mengambil buku yang diberikan oleh Baekhyun sambil mengingat-ingat kejadian yang dimaksud.
"Ada satu bukumu yang tertinggal. Ah! Aku tahu namamu dari buku itu hehe"
Baekhyun tersenyum kikuk. Ia sebenarnya refleks saat memanggil pria itu dengan nama Kyungsoo tadi. Bisa saja kan pria bermata bulat itu hanya meminjam buku itu dari orang lain yang bernama Kyungsoo? Tapi ia lega saat pria itu membenarkan jika namanya adalah Kyungsoo. Jadi ia tak perlu menanggung malu karena salah memanggil nama orang.
"Ah.. aku ingat. Terimakasih telah mengembalikan bukuku. Awalnya kukira buku ini hilang."
Pria itu sedikit membungkuk pada Baekhyun. Baekhyun tersenyum menanggapinya.
"Tidak masalah. Ngomong-ngomong, kau sering kemari?" Baekhyun melirik pintu kaca yang membatasi area kolam renang di dalam sana. "Apa kau akan berenang?"
Kyungsoo terkekeh. "Hampir setiap hari aku kemari. Berenang adalah hobiku."
Baekhyun ber-oh-ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"Sebenarnya aku ingin mengobrol banyak denganmu. tapi sayang sekali, sepertinya tarinerku telah menunggu. Sampai jumpa lagi Kyungsoo-ssi!"
Baekhyun berlari memasuki lift setelah berpamitan pada Kyungsoo. Sesampainya di lantai dua, ia langsung menuju loker untuk berganti pakaian. Lelaki itu mengganti pakaiannya dengan kaos longgar berwarna putih, dan celana training selutut berwarna hitam. Selesai dengan urusan mengganti pakaian, ia segera menuju ke ruang fitness.
"Maaf aku terlambat."
Baekhyun berhenti di hadapan Chanyeol yang sedang melipat tangan.
"Sebelum kita memulai latihan, aku akan membicarakan tentang peraturan-peraturan yang kubuat."
Baekhyun mengikuti Chanyeol yang duduk bersila di lantai. Trainernya itu memberikan selembar kertas pada Baekhyun. Baekhyun menerima kertas itu lalu melihat tulisan yang tertera disana.
O6.00
–3 buah putih telur rebus
–2 buah roti gandum selai kacang
–1 gelas susu tinggi kalsium
09.00
–1 buah pisang
–1 cup yoghurt
12.00
–1 mangkuk nasi merah
–1 potong dada ayam rebus
–1 gelas jus buah dan sayur
15.00
–5 buah stroberi
–10 butir almond panggang
18.00
–1 potong daging panggang bebas lemak
–1 gelas susu tinggi kalsium
"Apa ini?"
"Pola makan untuk programmu."
Baekhyun menatap Chanyeol tak percaya. Ia diharuskan makan makanan seperti itu? Benar-benar jauh dari makanan sehari-hari Baekhyun. Biasanya pria mungil itu tidak pernah mengatur jenis makanan apa yang akan masuk ke dalam perutnya. Apa saja, asalkan enak.
"Yang benar saja?"
"Tambahan, kau wajib meminum susu tinggi protein sebelum dan sesudah berlatih."
Baekhyun melengkungkan bibirnya kebawah. Ia memandang tak suka pada Chanyeol. Memangnya dia siapa? Berani-beraninya mengatur Baekhyun.
"Aku personal trainermu, dan tentu saja kau harus menurut."
Baekhyun membulatkan mata saking terkejutnya. Mengapa pria itu tahu apa yang sedang dipikirkannya? Pada akhirnya Baekhyun hanya bisa mengangguk lemah, pasrah.
"Kita akan membeli bahan-bahan makananmu nanti setelah jam latihan selesai." Baekhyun mengangguk lagi, Chanyeol terkekeh dibuatnya.
"Ah, aku hampir lupa. Kau juga diwajibkan untuk tidur sebelum pukul 22.00. Kau harus melakukan program yang telah kurancang dengan konsisten selama minimal dua bulan. Selama itu, kau tidak boleh sedikitpun mengkonsumsi hal yang tidak tertulis di daftar. Aku akan mengganti daftarnya setiap seminggu sekali agar kau tak bosan."
Baekhyun baru saja akan membuka mulutnya sebelum Chanyeol kembali menyelanya. "Snack, chocolate dan eskrim juga tidak boleh."
Baekhyun mengomel. Bagaimana bisa ia dipisahkan dari snack dan eskrim? Mereka berdua adalah cinta sejati Baekhyun. Baekhyun selalu mempunyai stok kedua makanan tersebut dan bahkan kini ia tak dibolehkan untuk menyentuhnya?
"Apa aku terlambat?"
Kedua laki-laki itu menoleh ke sumber suara. Keduanya menatap gadis yang baru datang tersebut dengan ekspresi yang berbeda. Chanyeol memandang tak suka, sedangkan Baekhyun hampir meneteskan liurnya. Gadis itu melepas jaketnya, menampilkan tubuh indahnya yang berbalut tanktop berwarna merah muda, dan hotpants putih. Baekhyun bahkan tidak berkedip melihatnya.
"Untuk apa kau kemari?" Chanyeol bangkit dari duduknya, lalu menatap tajam gadis itu. Baekhyun yang melihat hal itu, tidak tinggal diam. Ia juga bangkit dari duduknya lalu menatap tajam pada Chanyeol.
"Aku yang mengajaknya. Kenapa?"
Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Baekhyun. Kedua bola matanya memancarkan keheranan.
"Kenapa kau mengajaknya kemari?"
"Ia hanya ingin melihatku berlatih. Santai saja, apa masalahmu?"
"Terserah." Chanyeol berjalan menuju salah satu alat fitness di ujung ruangan diikuti oleh Baekhyun dan Kei di belakangnya.
"Hari ini, kita akan fokus melatih otot perut. Ini adalah alat yang akan kau gunakan." Chanyeol menujuk alat berbentuk menyerupai kursi dengan beberapa pernak pernik yang Baekhyun tak tahu apa itu. "Namanya Ab Crunch Machine"
"Seperti nama makanan." Baekhyun bergumam sangat pelan. Chanyeol menyuruhnya duduk di alat yang mirip kursi tersebut. Baekhyun mendudukkan tubuhnya disana dengan hati-hati.
"Sandarkan tubuhmu senyaman mungkin, lalu letakkan kedua tanganmu pada handle." Chanyeol mengarahkan kedua tangan Baekhyun pada handle yang terdapat di kedua sisi alat bagian atas.
"Lalu tempatkan kaki-kakimu di holder bagian bawah" Baekhyun melakukan apa yang diperintahkan oleh Chanyeol.
"Seperti ini?" Chanyeol mengecek bagian kaki Baekhyun yang kini telah terkait di holder. Pria itu mengangguk.
"Oke. Sekarang perlahan tarik handle kebawah. Ya, seperti itu." Seperti instruksi Chanyeol, Baekhyun menarik handle tersebut dengan perlahan. "Nah, tahan untuk 10 detik."
Pada detik ketiga, Baekhyun tidak tahan lagi. Ia melepaskan handle hingga kembali pada posisi awal. Chanyeol memelototinya.
"Bodoh! Jangan melepaskan handle secara tiba-tiba! Kau bisa merusaknya!"
Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Maaf, aku tidak kuat menahannya lagi."
"Dasar payah." Chanyeol menyentil dahi Baekhyun hingga membuat pria itu meringis.
"Oppa, bantu aku. Bagaimana cara menggunakannya?'
Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Kei yang entah sejak kapan sudah menempati alat yang sama disamping Baekhyun. Pria tinggi itu mendengus.
"Aku dibayar untuk melatih Baekhyun, bukan kau." Chanyeol menatapnya tajam. Gadis itu melunturkan senyumannya, lalu menunduk.
"Chanyeol!" Chanyeol kembali mengalihkan pandangannya pada Baekhyun.
"Dan kau! Panggil aku hyung, aku lebih tua darimu."
Baekhyun sedikit tersentak saat Chanyeol membentaknya. Pria itu membuang mukanya lalu mulai mencibir.
.
.
.
Baekhyun mendorong troli dengan gerakan malas. Laki-laki raksasa itu cerewet sekali, seperti seorang ahjumma-ahjumma saja. Percayalah, tidak ada satupun ucapannya yang benar-benar diperhatikan oleh Baekhyun. Pria mungil itu hanya mendengung setiap Chanyeol selesai berbicara.
Chanyeol sedang memilihkan beberapa sayuran untuk Baekhyun. Baekhyun tidak tertarik untuk ikut memilih. Matanya malah mengedarkan pandangannya pada rak dimana berbagai jenis snack tertata rapi disana. Baekhyun menelan air liurnya. Membayangkan betapa nikmatnya snack-snack itu. Baekhyun melirik ke arah Chanyeol yang masih sibuk memilih bongkahan brokoli hijau.
"Satu. Aku akan mengambil satu dan membayarnya secara terpisah."
Dengan kaki yang sedikit berjinjit(sebenarnya tak ada gunanya), Baekhyun berjalan menuju dimana rak snack berada. Senyumnya melebar melihat makanan ringan favoritnya—sebenarnya semua favorit Baekhyun— terpampang disana.
"Come to papa, sayang~" Baekhyun mengulurkan tangannya, hendak meraih bungkusan besar snack dengan kemasan berwarna hijau. "Akh!"
Baekhyun menengokkan kepalanya kesamping, ingin melihat siapa orang lancang yang berani-beraninya memukul tangannya dan mengganggu kegiatannya barusan. Matanya melebar.
"C-Chanyeol"
Chanyeol menatapnya datar. Baekhyun menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecut.
"A-aku hanya ingin menyentuhnya. Tidak boleh?" Baekhyun mengangkat dagunya, menatap tak suka pada Chanyeol. Chanyeol mengangkat bahunya lalu pergi dari sana. Baekhyun mengikuti Chanyeol dengan kaki yang menghentak-hentak. Niatnya untuk menyantap snack itu gagal sudah.
Baekhyun masih mengerucutkan bibirnya saat sang kasir telah menghitung semua belanjaannya. Baekhyun membayar semua belanjaannya dengan kartu kredit miliknya, lalu membawa dua kantung besar belanjaannya seorang diri. Tebak dimana Chanyeol? Pria itu dengan tidak berperikemanusiaan meninggalkannya dan membiarkan Baekhyun membawa kantung-kantung itu sendirian.
Baekhyun dengan sedikit berlari, menyusul Chanyeol yang sudah berjalan agak jauh didepannya.
"Apa kau tak berniat untuk membantu membawakan kantung-kantung ini?"
Chanyeol hanya menoleh sekilas lalu beralih ke jalanan didepannya lagi.
"Anggap saja itu latihan agar ototmu semakin cepat terbentuk." Ingin rasanya Baekhyun melempar kantung besar itu ke kepala Chanyeol saking kesalnya. Sesekali, Baekhyun berhenti dan meletakkan bawaannya di trotoar untuk beberapa saat, merilekskan tangannya. Baekhyun memperhatikan tubuh tinggi Chanyeol yang berbalut kemeja biru tua dari belakang. Ideal sekali bentuk tubuhnya. Ia harap ia bisa memiliki bentuk tubuh seperti itu kelak. Baekhyun kembali berlari agar dapat berjalan beriringan dengan Chanyeol.
"Aku ingin bertanya."
"Tanya saja." Chanyeol tampak menggulung lengan kemeja panjangnya hingga sebatas siku.
"Mengapa kau menolak Kei noona?"
"Karena aku tidak menyukainya."
Baekhyun kembali berhenti. Sungguh, tangannya pegal sekali.
"Apa matamu bermasalah? Gadis sesempurna Kei noona menyatakan cinta padamu, dan kau malah menolaknya." Baekhyun kembali berjalan mengejar Chanyeol. "Kalau aku jadi kau, aku pasti langsung menerimanya tanpa pikir panjang."
"Jangan melihat seseorang dari luarnya saja." Baekhyun mengernyitkan dahinya.
"Kau bercanda? Kei noona orangnya sangat baik! Jika gadis secantik dan sebaik Kei noona saja kau menolaknya.. jangan-jangan kau memang tidak suka wanita."
Enrah mengapa, Chanyeol tersandung kakinya sendiri saat mendengar celetuk Baekhyun —yang sebenarnya hanya bahan candaannya saja—. Untung saja pria itu memiliki keseimbangan yang kuat. Chanyeol berdehem untuk kemudian berkata.
"Jangan mengada-ada. Lagipula, kenapa kau begitu menyukai gadis itu?" Chanyeol berhenti saat tersadar sesuatu. "Aaah, jangan-jangan kau rela berlatih untuk bisa mendapatkan perempuan itu?"
Baekhyun ikut menghentikan langkahnya seperti Chanyeol, sambil mengistirahatkan tangannya lagi tentu saja.
"Jika aku bilang iya, kau mau apa?"
Kali ini Baekhyun yang berjalan duluan, meninggalkan Chanyeol yang kini mulai berjalan kembali.
"Kusarankan kau tidak usah percaya pada kata-katanya. Jauhi saja daripada kau menyesal." Baekhyun mengerutkan keningnya.
"Memangnya kenapa? Kau takut dia jatuh ke pelukanku? Lagipula kau kan sudah menolaknya, jadi aku bebas merebutnya darimu."
"Terserah."
Chanyeol tampak mengendikkan bahunya, lalu berbelok ke kanan. Sementara Baekhyun yang menghentikan kembali jalannya, menatap kesal pada punggung Chanyeol yang sudah berjalan jauh didepannya. Benar-benar menyebalkan.
Baekhyun menyebrang saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Lelaki itu berhenti dan duduk dengan lega di kursi panjang halte. Ia mengibas-ngibaskan tangannya yang pegal.
"Baekhyun? Apa yang kau lakukan disini?" Baekhyun mendongak dan menemukan teman sekelasnya, Luhan.
"Luhan? A-aku baru saja dari minimarket. Kau sendiri?"
Luhan tampak memperhatikan dua kantung belanjaan Baekhyun.
"Waah belanjaanmu banyak sekali. Aku baru saja menyewa DVD. Apa kau mau menontonnya nanti malam bersamaku? Sehun dan minseok juga akan datang"
"Pukul berapa?"
"Kami sepakat untuk berkumpul di apartemenku pukul 21.00"
Baekhyun menimbang-nimbang ajakan Luhan. Ia ingin sekali menontonnya, tapi ia teringat akan pesan Chanyeol yang menyuruhnya untuk tidur sebelum jam sepuluh malam.
"Bagaimana?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Mungkin, untuk kali ini saja tidak apa-apa. Chanyeol juga tidak akan tahu ia begadang atau tidak. Ya, dia tidak akan tahu.
"Baiklah, jangan memutar filmnya sebelm aku datang!"
.
.
.
Baekhyun mengetuk pintu berwarna putih didepannya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menenteng sekantung cemilan dan minuman. Oke, oke. Ia akui ia melanggar peraturan dari Chanyeol kali ini. Tapi ia sudah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ini merupakan pelanggaran yang pertama dan terakhir baginya.
Baekhyun tersenyum saat pintu itu terbuka dan menampilkan wajah Luhan dari dalam sana. Pria itu memasuki apartemen Luhan setelah dipersilahkan oleh sang tuan rumah.
"Oh, kalian sudah datang?" Sehun dan Minseok yang sudah lebih dulu datang menatap datar pada Baekhyun. Baekhyun hanya tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi rapinya.
"Ini keterlaluan. Kau terlambat selama satu jam dan kau sekarang malah bertanya pada kami 'oh, kalian sudah datang?' dengan santainya." Sehun mencibir kesal. Baekhyun yang merasa tak enak hati, menggaruk kepalanya dan mendudukkan diri di sofa disamping Minseok.
"Maafkan aku, tadi sebelum kemari aku harus membeli pembalut—"
"APA? J-jadi ternyata selama ini kau menyamar sebagai laki-laki Baek?" Baekhyun menatap datar pada Sehun.
"Minseok-ah, bisakah kau membungkuk sebentar?"
Minseok yang bingung hanya menuruti perintah Baekhyun untuk membungkuk. Setelah tak ada tubuh Minseok yang menghalangi, Baekhyun mengulurkan tangan kirinya melewati tubuh Minseok lalu dengan kesal menoyor kepala Sehun keras-keras. Sehun yang menjadi korban toyoran Baekhyun hanya bisa mengomel.
"Aku membeli pembalut luka di apotek, bodoh. Telapak kaki Baekbom hyung terluka karena tak sengaja menginjak pecahan kaca."
Minseok menegakkan tubuhnya kembali, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya bersamaan dengan Luhan.
"Kukira kau menstruasi, Baek."
Baekhyun memutar bola matanya. Ia tak berselera membalas ucapan Sehun. Ia meletakkan kantung plastik yang sejak tadi ada di pangkuannya ke atas meja. Dikeluarkannya seluruh isi kantung itu.
"Aku membawa beberapa cemilan dan minuman, ayo kita putar filmnya!"
Luhan tampak mengeluarkan keping DVD dari dalam covernya, lalu memasukkannya ke dalam DVD player. Pria berdarah China itu kembali duduk di sofa—disamping Sehun— saat televisi sudah mulai menampilkan beberapa tulisan berjalan.
"Apa genrenya Lu?"
Baekhyun ikut menolehkan kepalanya pada Luhan, penasaran juga dengan genre film yang akan ia tonton karena sejujurnya, jangankan tahu judulnya, genrenya saja ia tak tahu. Ia langsung menyetujui tawaran Luhan karena ia maniak film. Luhan mengalihkan pandangannya pada Minseok yang bertanya padanya.
"Horror comedy, apa kalian keberatan?" Ketiga orang lain didalam ruangan itu menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa ketiganya setuju-setuju saja dengan film yang Luhan putar.
"Woohoo! Aku suka horror! Pasti akan menyenangkan!" Baekhyun mengangkat kepalan tangannya keatas, terlalu bersemangat.
Film benar-benar telah dimulai, Baekhyun menyarankan agar Luhan mematikan lampu ruangan. Agar lebih dramatis dan mirip seperti di bioskop, katanya.
Adegan-adegan konyol dan menggelikan muncul di awal putaran. Sewaktu film menayangkan adegan tokoh utama yang tak sengaja kentut di hadapan banyak orang, tawa keempat manusia berjenis kelamin sama tersebut meledak. Baekhyun yang paling parah, lelaki itu tertawa hingga terpingkal-pingkal dan terjatuh dari sofa saking gelinya. Sebelah tangannya memegangi perutnya yang kaku, sementara tangan yang lain menghapus titik air mata di sudut matanya akibat tertawa terlalu kencang.
Tawanya berhenti ketika merasakan getaran di celana jeansnya. Bukan, bukan vibrator. Tetapi ponsel semata wayangnya. Ditariknya ponsel itu dari saku jeans, lalu matanya melebar melihat siapa yang meneleponnya. Ia dengan segera meraih remote yang ada di meja. Baekhyun mengecilkan volume televisi hingga nol(ia tak langsung memencet tombol 'mute' karena panik) lalu memberi isyarat agar teman-temannya mau hening sejenak. Pria itu menempelkan ponsel pada telinganya setelah menyentuh ikon berbentuk telepon berwarna hijau.
"Kau lupa dengan peraturan dariku?"
"Hoamm~ apa maksudmu?"
Baekhyun merubah suaranya seolah-olah seperti orang yang baru saja bangun tidur. Ketiga temannya menatapnya bingung, penasaran dengan orang yang menelepon Baekhyun.
"Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu kau melanggar peraturanku. Cepat tidur atau aku akan menghukummu" wajah Baekhyun memucat. Bagaimana pria tinggi itu bisa tahu jika dirinya memang belum tidur? Apa pria itu keturunan seorang cenayang? Beberapa waktu yang lalu, pria itu secara kebetulan mengetahui isi pikirannya. Dan kali ini bahkan Chanyeol mengetahui apa yang sedang Baekhyun lakukan. Ini mengerikan.
"Apa yang kau katakan? Aku sedang tidur sebelum kau menelepon dan mengganggu tidur nyenyakku."
"Masalahnya, aku tidak bisa tidur. Kau dan bocah-bocah itu sangat berisik. Suara tawamu adalah yang paling keras diantara teman-temanmu, dan itu sangat menggangguku."
Baekhyun membulatkan matanya. Selain tahu apa yang sedang Baekhyun lakukan, ternyata pria itu juga bisa mendengar suara Baekhyun. Baekhyun jadi merinding dibuatnya.
"B-bagaimana kau bisa tahu?" Baekhyun menggigiti bibir bawahnya.
Baekhyun menatap layar ponselnya saat tiba-tiba sambungan terputus. Ia memandang ke arah teman-temannya yang menatap penuh tanya seakan-akan bertanya 'siapa yang menelponmu dan mengapa?' Pada Baekhyun. Baekhyun hanya menjawab itu dari Chanyeol, tapi tak menjelaskan apa yang terjadi.
Baekhyun mengangkat bahunya. Mungkin saja Chanyeol memang sedang kebetulan menebak lagi. Atau pria itu sedang mengigau. Bisa saja kan? Baekhyun membesarkan kembali volume televisi ke ukuran normal. Dipusatkannya lagi pandangannya pada televisi, begitupun dengan ketiga temannya.
Baekhyun hampir memekik saat sesosok hantu wanita tiba-tiba muncul di adegan film. Bersamaan dengan itu, pintu diketuk. Baekhyun tersentak dan refleks mengangkat kakinya keatas sofa. Luhan menyuruhnya membuka pintu karena ia yang duduk paling dekat dengan pintu. Awalnya Baekhyun menolak. Tapi karena pintu terus-terusan diketuk, akhirnya dengan desakan teman-temannya, Baekhyun melangkahkan kakinya ke arah pintu dan membukanya perlahan.
"WAAAAAAmph!" Chanyeol membekap mulut Baekhyun dengan cepat sebelum para tetangga apartemen Luhan protes karena suara melengking Baekhyun. Ya, itu Chanyeol. Baekhyun berteriak karena Chanyeol, bukan hantu.
"Kau itu benar-benar berisik. Kau mau dibakar oleh warga apartemen karena mengganggu tidur mereka dengan teriakanmu yang memekakkan telinga itu?"
Baekhyun melepas bekapan tangan Chanyeol dari bibirnya. Sebenarnya ia sepenuhnya sadar jika orang yang ada di balik pintu adalah Chanyeol dan bukannya hantu mengerikan. Hanya saja, ia terlalu terkejut. Baru saja pria itu meneleponnya dan menyuruhnya tidur, tapi tiba-tiba saja sudah ada di hadapan Baekhyun. Ia rasa raksasa itu memang keturunan dukun.
"B-bagaimana kau bisa ada d-disini?"
Chanyeol memutar bola matanya malas. Dengan gerakan yang sama malasnya, ia mengarahkan telunjuknya kesamping.
"Apartemenku ada di sebelah kalau kau mau tahu." Baekhyun membulatkan matanya. Jadi karena itu ia bisa tahu? Oh, ini sungguh tidak seru. Ia pikir Chanyeol benar-benar memiliki kekuatan supranatural. Jika iya, ia akan meminta Chanyeol untuk mengajarkan ilmunya padanya.
"Jadi, kau masih akan mengatakan jika kau sedang tidur nyenyak sebelum ini?"
Chanyeol melirik ke belakang Baekhyun, dimana televisi besar sedang menyala dan menampilkan adegan demi adegan. Baekhyun meneguk ludahnya dengan susah payah. Sial, ia benar-benar ketahuan kali ini.
"Maaf.. tapi aku janiji hanya kali ini saja!"
Baekhyun mengacungkan dua jari telunjuk dan tengahnya keatas, membentuk huruf 'V'. Luhan muncul di belakang Baekhyun. Pria bermata rusa itu membulatkan mulutnya saat menyadari ada Chanyeol disana.
"Chanyeol hyung? Masuklah kedalam. Kami sedang menonton film bersama!"
"Tidak, terimakasih. Aku akan kembali ke kamarku lagi." Chanyeol berlalu dari muka pintu apartemen Luhan. Baekhyun bernapas lega karena lelaki itu tidak melarangnya untuk meneruskan kegiatan menontonnya. Sebenarnya Chanyeol tidak mengatakan jika ia mengijinkan Baekhyun, tapi ia diam saja saat Baekhyun berjanji tadi. Diam sama dengan iya kan?
Luhan kembali ke sofa sementara Baekhyun menutup pintu. Baru saja berbalik dan akan melangkahkan kakinya, pintu kembali diketuk. Baekhyun mendecak, siapa lagi kali ini? Ia membuka pintu dan menemukan Chanyeol lagi disana.
"Aku berubah pikiran. Sialnya, pintuku terkunci dari dalam."
Chanyeol masuk dan mendahului Baekhyun menuju sofa. Baekhyun mencibir lalu menutup pintu kembali. Baekhyun melihat tempatnya kini telah diduduki oleh Chanyeol. Ia terpaksa mendudukkan dirinya paling ujung, disamping Chanyeol. Tangannya meraih sebungkus keripik pedas dan hendak membukanya sebelum sebuah tangan besar menahannya.
"Malam ini kuijinkan kau untuk begadang, tapi tidak untuk makanan itu."
Baekhyun membanting bungkusan itu ke meja. Bibirnya mengomel tanpa suara. Ia bisa melihat Chanyeol menggeser sekotak popcorn original ke depan mejanya.
"Kau boleh memakan yang itu jika kau mau."
Baekhyun meraih kotak popcorn, membukanya dengan tidak sabaran, lalu melahap isinya dengan rakus. Bukan karena ia kelaparan atau apa, tapi untuk menunjukkan rasa kesalnya.
Beberapa menit kemudian, fokusnya kembali pada tayangan film di hadapannya. Chanyeol menonton dengan raut muka yang terlampau datar. Apa bagusnya film ini? Pikirnya. Adegan menampilkan seorang gadis berpakaian seksi sedang memasuki kamar mandi. Gadis berambut merah itu mulai melepas satu persatu pakaiannya. Tiba saat ia berdiri didepan cermin, wajah cantiknya berubah menjadi sosok yang sangat mengerikan.
"HUWAA!" Pekikan kaget keempat manusia disana teredam oleh suara teriakan salah seorangnya. Tebak siapa? Itu Chanyeol. Keempat lelaki itu menatap Chanyeol dengan pandangan yang berbeda beda. Ada yang terkejut, tidak menyangka, dan juga pandangan geli. Yang terakhir adalah pandangan dari Baekhyun. Pria manis itu terkekeh.
"Tak kusangka kau ternyata penakut juga" Chanyeol melotot pada Baekhyun yang masih terkekeh. Chanyeol tak membalas ucapan Baekhyun dan memilih memusatkan pandangannya pada layar televisi lagi.
Beberapa menit berlalu, film sudah hampir berakhir, begitupun dengan cemilan dan minuman yang ada di meja kini telah habis tak bersisa. Chanyeol tersentak saat merasakan sesuatu membentur bahu kanannya. Ia mengalihkan pandangannya kesamping dan melihat kepala Baekhyun yang tergeletak di bahunya. Pria itu mengedarkan pandangannya kesamping kiri. Dilihatnya Minseok, Sehun dan Luhan juga sudah tertidur.
Chanyeol menghela nafas. Sial, ia masih terbayang wajah menyeramkan di film tadi. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa lalu menutup mata. Mencoba terbang ke alam mimpi dan melupakan bayangan sosok hantu yang melintas. Ia mendecak keras karena tak kunjung terlelap. Kepalanya ia miringkan ke samping, tepat ke arah Baekhyun. Yang terlihat olehnya hanyalah kepala dan rambut cokelat Baekhyun. Pelan tapi pasti, matanya tertutup. Semakin lama, kesadarannya semakin berkurang. Ia terlelap bersama aroma manis dari surai Baekhyun yang merasuk ke dalam lubang hidungnya.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Chapter 3 yuhuuu '3'
Terimakasih lagi buat yang berkenan baca ff saya, terutama yang review/fav/follow ff jelek ini ya xD
Maaf ya ChanBaek moment-nya masih gitu2 aja. Semua butuh proses, menurutku feelnya kurang dapet kalo tiba-tiba langsung saling jatuh cinta aja ._.
Review lagi ya? Thanks~ salam CBSHS/?
Love ya!
