'Ayah... Jihoon minta maaf. Jihoon sering membuat ayah marah. Meskipun ayah hanya diam saja, Jihoon tahu ayah kecewa. Ayah berharap banyak pada Jihoon, tapi untuk menjawab kelak ketika sudah besar Jihoon akan menjadi apa, Jihoon tidak bisa. Jihoon minta maaf sudah membuat ayah sedih. Jihoon minta maaf sudah sering bohong sama ayah. tapi Jihoon sayang sama ayah. Jihoon sayang banget sama Ayah. Jihoon sayang ayah, sayang Woojin. Harusnya Jihoon bisa kuat setelah ditinggal sama Ibu. Harusnya Jihoon bisa menjadikan itu semua alasan supaya Jihoon bisa menjadi lebih kuat dan berani. Ayah,... Jihoon minta maaf karena udah jadi pengecut dan udah jadi sampah. Jihoon tahu kalau Jihoon emang kakak yang ngga berguna. Bukan anak yang bisa diandalkan juga. Jihoon minta maaf ayah – '

Dan tulisan itu tidak pernah selesai karena Jihoon sudah lebih dulu menangis tanpa suara didalam kamarnya yang remang remang. Tangan gemuk itu menyeka air mata nya yang mengalir deras. Waja Jihoon memerah dan rambutnya lepek. Jihoon menangis tersedu sedu. Terisak menyedihkan sembari dengan gerakan cepat merobek selembar isi hati yang baru saja ia tulis, kemudian membuangnya asal. Menghabiskan malam harinya menangis sendirian. Di meja belajar dengan lampu yang masih menyala. Tidak sanggup pergi tidur. Kepalanya berat setengah mati. pusing. Tidur bukanlah solusi yang ia butuhkan, dan karena tak terlintas di benaknya cara untuk menghibur diri sendiri. Putra sulung keluarga Park itu benar benar menangis hingga pagi hari


jika aku memiliki lebih banyak waktu, aku ingin menikmati segala kekalahanku

Park Jihoon –


"kau habis dari mana?"

"panti asuhan"

"apa perlu pulang selarut ini?"

"aku jalan jalan sebentar"

"kau bukan orang yang suka jalan jalan"

"aku berdo'a di Gereja bersama anak anak dan pendeta Jonghyun"

Jihoon menatap Jungkook dihapannya dengan wajah datar, kemudian melanjutkan "Daehwi dan Samuel tidak lama lagi akan lulus sekolah menengah atas, pendeta Jonghyun mengajak aku untuk berdo'a bersama yang lain, agar mereka diterima di universitas yang mereka impikan" pemuda manis itu berjalan melewati Jungkook "maaf karena sudah pulang larut dan membuatmu khawatir"

Jungkook mengikuti Jihoon yang berjalan menuju dapur. Menuangkan secangkir susu vanilla untuk Jihoon tanpa mengatakan apapun. Kemudian duduk di meja makan. Sementara manajernya, Kim Namjoon sibuk berbicara di telepon entah apa dan entah dengan siapa. Manik hitam Jungkook mengikuti setiap pergerakan Jihoon yang kini tengah menyeduh ramen instan. Hingga duduk di sebelah Jungkook tanpa berniat menatap si pemuda Jeon.

Jungkook diam. begitupula Jihoon. Hening yang menyesakkan – bagi Jungkook – menyeruak di atmosfir keduanya dan membuat pemuda bertubuh atletis itu tidak nyaman. Jemarinya mengetuk permukaan meja makan yang terbuat dari marmer. Menimbulkan suara berisik tapi tidak berhasil membuat Jihoon terganggu. Dengan acuh, pemuda manis itu meraih segelas susu yang tadi sudah disiapkan oleh Jungkook dan menyesapnya sedikit demi sedikit.

"kau belum makan tadi?"

Jihoon menyeka bekas susu di bibir nya dengan tissue "sudah. Tapi aku lapar"

Bohong. Jungkook tahu Jihoon selalu menolak ajakan Jinyoung atau Daniel atau Daehwi atau Sihyun atau siapapun dari panti asuhan untuk makan malam disana. Bahkan pendeta Kim sekalipun. Tapi Jungkook hanya mengangguk anggukan kepala.

"mau pesan pizza?"

Tidak ada jawaban. Suara Jihoon yang tengah menyeruput ramen seolah menjadi jawaban imaginer bagi Jungkook dan terdengar seperti 'tidak'.

Jihoon mengunyah ramennya pelan pelan. Hening lagi. Sampai Jungkook bersuara frustasi

"oke, Jihoon, oke. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf, aku –"

Jungkook mengusak rambutnya frustasi "aku tahu aku sudah berlebihan kemarin. Aku minta maaf. Aku sudah membuat mu marah seperti ini. aku tidak bermaksud. Sungguh"

Jihoon melirik Jungkook melalui sudut mata. Ia meletakkan cup ramennya diatas meja. Kemudian menghela nafas.

"jangan meminta maaf Jungkook"

Jungkook menolehkan kepala. Menatap Jihoon yang sudah bangkit dari duduknya, lalu balas menatap Jungkook tepat di obsidian hitamnya yang mampu menenggelamkan jutaan wanita maupun pria lain didepan sana. Jihoon menghela nafas. Tangan mungilnya terulur untuk menepuk bahu Jungkook, kemudian si manis bergumam

"aku tidak bisa marah padamu, kau tahu itu kan? Aku hanya kesal pada diriku sendiri. Maaf karena sudah membuatmu beranggapan seperti itu"

Kemudian Jihoon memberikan Jungkook kecupan di pipi dan berlalu kekamar.

"selamat malam"

Jungkook buru buru bangkit dari duduknya. Meraih tangan Jihoon untuk ia genggam. Menghentikan langkah anak sulung pemuda Park itu sebelum benar benar mencapai kamar tidurnya, kemudian kesempatan mereka untuk berbicara sepenuhnya hilang.

"Honey, please –"

"do not 'Honey' me Jeon"

Jihoon memotong ucapan Jungkook. Pemuda manis itu menatap Jungkook dingin.

"we're never dating in the first place"

Dan pembicaraan malam itu diakhiri dengan Jihoon yang masuk ke kamar sembari membanting pintu dengan keras. Meninggalkan Jungkook yang hanya bisa terdiam tanpa memiliki keberanian untuk mendobrak pintu kamar Jihoon lalu memaksa pemuda yang sudah membuang jauh jauh nama marga keluarga nya untuk menarik kata katanya.


Hiroshima itu –

–menyebalkan ketika memasuki musim dingin. Sedari pagi angin sudah berhembus. Membuat siapapun menggigil. Mengurungkan niat untuk keluar rumah, memilih untuk bergumul dalam selimut, seakan akan musim dingin sudah tiba, padahal musim yang identik dengan kristal salju dan sinter klas itu masih akan menyapa Jepang beberapa bulan lagi. Nestapa pula untuk orang yang memiliki pohon pohon besar di rumah mereka – semisal di panti asuhan. Panti asuhan yang ditempati oleh Kang Daniel dan kawan kawannya ini memiliki setidaknya empat pohon besar yang ketiganya sedang dalam proses meranggas. Guanlin dapat melihat seberapa menyebalkan nya itu. Samuel yang tadi menyelesaikan bagian piket menyapu halaman belakang paling terakhir tak henti hentinya mengeluh. Ia berkata pada Guanlin ;

"aku tidak yakin Kak, tapi sepertinya Daehwi sengaja mengerjaiku. Aku merasa semakin sering mendapatkan piket menyapu halaman sekarang. Dia yang mendapat bagian mengatur piket! Aku yakin jika dia memanipulasi bagian piketku!" Samuel langsung membuat daun daun kering yang tadi ia kumpulkan kocar kacir, sementara mulutnya bercerita pada Guanlin dengan berapi api.

Guanlin tertawa kecil. Mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Kini hanya tersisa ia seorang dihalaman belakang panti asuhan. Dengan setumpuk diktat di sebelah kanannya. Bersama dengan asbak, dan sekotak rokok Marlboro. Di pangkuannya ada diktat lain yang terbuka dengan beberapa bagian yang ia sudah tandai dengan highlighter. Tangan kanan Guanlin memegang rokok, sementara tangan kirinya ia Gunakan untuk memegang ponsel yang kini tengah tersambung dengan kekasihnya yang berada di korea selatan. Baek Jiheon.

Guanlin menyesap rokoknya sembari sesekali berbicara pada orang yang berada di seberang sambungan telepon.

Jiheon kekasihnya yang kini sedang bercerita panjang lebar mengenai kesehariannya selama kuliah seorang diri di korea selatan tanpa dirinya menemani. Beberapa kali Jiheon terdengar mengeluh karena kesal. Sebab Guanlin jarang mengabarinya melalui chat, tidak mengangkat panggilan skype nya dan lain lain.

"aku sedang agak sibuk sayang. Aku sedang berada di Hiroshima untuk melakukan penelitian" Guanlin memberikan alasan jujur yang dibalas Jiheon dengan dengungan manja.

"tapi aku rindu Kak Guanlin"

Guanlin tersenyum tipis. Kembali menyesap batang rokoknya yang sedikit demi sedikit mulai habis terbakar dan berubah menjadi abu.

Pemuda jangkung itu menghela nafas sesaat sebelum menjawab Jiheon "aku juga rindu sayang"

"kapan Kak Guanlin pulang ke korea?"

"setelah studiku selesai mungkin. Aku akan kembali sesegera mungkin"

"Kak Guanlin bilang akan kembali sesegera mungkin, tapi setelah studimu selesai? Setelah Kak Guanlin lulus? Jahat sekali" Jiheon merengek disebelah sana.

Kekehan lirih lolos dari bilah bibir tebal Guanlin. Ia mematikan rokoknya yang telah habis didalam asbak, kemudian memantik yang baru lagi. Kalau Jiheon tahu ia menyesap lebih dari satu batang rokok dalam sehari, gadis cantik itu pasti mengamuk. Jiheon selalu membuang kotak rokoknya setiap kali gadis bermarga Baek itu berhasil menemukan satu.

"kita lihat nanti ok?"

"tidak bisakah kak Guanlin berjanji untuk pulang kesini dalam waktu dekat? Sebentar lagi anniversary kita"

Guanlin termenung sesaat, Jiheon melanjutkan "tahun kemarin kau tidak pulang ketika natal, kita juga melewatkan anniversary kita, ka – "

"sayang, Narasumber yang akan aku wawancarai sudah datang. Nanti aku hubungi lagi"

Guanlin mematikan sambungan telepon itu sepihak. Pemuda tampan itu menyesap rokoknya dalam dalam. Kemudian meletakkan rokok yang baru habis setengah nya itu di asbak.

Bohong.

Sekarang Guanlin sedang berada di halaman belakang panti asuhan yang ditumbuhi oleh pohon mapple dan persik, serta tanaman lain. Di pinggiran pagar ada kumpulan bunga Daisy yang ditata rapi dan terawat. Itu membantu Guanlin rileks. Sementara di pangkuannya ada sebuah diktat tebal yang sudah pasti memuakkan jika dijadikan bahan bacaan. Tapi apa daya, diktat ini berhubungan dengan tugas penelitian yang sedang ia kerjakan.

Guanlin memiliki rencana sederhana seperti ini; lulus kuliah S2 dengan kurun waktu tiga tahun – Guanlin agak malas kembali ke korea kalau boleh jujur –. Begitu pulang ke korea langsung menikah dengan Jiheon kemudian memboyong kekasihnya itu untuk pindah kewarganegaraan menjadi warga negara Taiwan. Sekalipun sekarang kedua orang tua Guanlin menetap di korea. Tempat itu menyimpan terlalu banyak kenangan yang tidak ingin Guanlin ingat.

Tapi sepertinya rencana itu akan berubah total karena Guanlin bertemu dengan Jihoon di jepang. Di Hiroshima. Di negara tempat ia melanjutkan studi. Di kota tempat ia melakukan penelitian. Dan parahnya lagi kemungkinan frekuensi pertemuan mereka meningkat juga tidak bisa dipungkiri.

Jadi selama ini Jihoon di jepang?

Di Hiroshima?

Tentu saja Tuan Park tidak pernah kepikiran mencari keberadaan Jihoon di negara yang berbeda. Jihoon itu pergi dari rumah hanya membawa uang pas pasan, serta sedikit baju. Siapapun tidak akan menyangka kalau Jihoon berhasil menyebrangi lautan. Entah itu lewat angkasa, atau memang menyebrangi laut dalam arti harfiah. Guanlin juga masih bimbang harus menghubungi Woojin atau tidak. Kalau Guanlin menghubungi pemuda ber-snagglethooth itu, Woojin bisa jantungan dan reflek buru – buru datang ke Hiroshima dengan helikopter milik tentara, dan berseragam lengkap. Ok, itu memang berlebihan, tapi jika itu Woojin, Guanlin yakin apapun bisa terjadi. Dia adalah adik Park Jihoon. Mereka sama sama nekad. Dan pelatihan di akademi militer pasti membuatnya menjadi orang yang sekalipun diajarkan untuk berfikir dua kali sebelum bertindak – keberaniannya dalam menghadapi atau melakukan sesuatu itu sangat mengkhawatirkan.

"sedang membaca apa?"

"Astaga – aduh!"

Bruk!

Sumpah. Itu tadi suara siapa. Dekat sekali. Sampai membuat Guanlin nyaris jantungan.

Guanlin yang terkejut terjatuh dari bangku yang ia duduki, lalu dengan tidak elit nya – ralat; memalukannya – menolehkan kepala dan mendapati Park Jihoon berdiri disebelah bangkunya dengan selimut membungkus tubuh mungilnya hingga membuatnya terlihat lucu di mata Guanlin.

Tunggu, apa? Tidak tidak tidak

Guanlin sontak berdiri dari posisi memalukannya. Menggelengkan kepala kuat kuat untuk mengusir pemikiran aneh yang sepintas hadir di kepalanya yang mungkin sudah mulai berkarat karena terlalu banyak memakan diktat.

"ah, hai Jihoon"

Guanlin salah tingkah. Tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana pun juga, kisah persahabatannya dengan Jihoon berakhir dengan sangat tidak menyenangkan.

"hai Guanlin" Jihoon membalas sapaan Guanlin dengan wajah lempeng

Guanlin makin bingung harus berbuat apa.

Tidak ada adegan dramatis yang sudah ia persiapkan responnya, seperti; Jihoon yang memaki maki dirinya, atau Jihoon yang menangis meraung raung kemudian membeberkan pada seluruh penghuni panti, Jinyoung dan pendeta Kim kalau dia dan keluarga Park adalah alasan Jihoon pergi dari Korea, atau mereka yang berpura pura menjadi orang yang tidak saling mengenal dan memulai ini itu dari awal.

Guanlin agak tidak menyangka Jihoon akan mengajaknya berbicara lebih dulu seperti sekarang. Sementara Guanlin yang memang brengsek dan jelas memiliki kesalahan pada si manis justru bersikap pecundang dengan, yah... minimal – bersujud di kaki Jihoon sembari meminta maaf. Itu berlebihan. Memang. Tapi di kamus Guanlin, entah kenapa ... rasanya itu tidak masalah jika hal yang berkaitan dengan adengan dia yang bersujud, memilki sangkut paut dengan Jihoon. Guanlin merasa itu tidak masalah. Kesalahan yang ia perbuat di masa lalu lebih buruk hingga membuatnya merasa lebih rendah dari sampah sekalipun.

Jihoon duduk disebelah Guanlin sementara matanya fokus pada bunga daisy yang menari diterpa angin senja yang dingin. Guanlin menangkap gerakan jemari Jihoon yang merapatkan selimut.

"aku sedang membaca diktat, kalau kau masih bertanya" Guanlin menjawab pertanyaan Jihoon yang tadi ia potong dengan sapaan.

Jihoon mengerling sesaat "oh... i see"

Hening menyapa. Keduanya dibelai oleh hembusan angin musim gugur yang terasa semakin dingin di kala menjelang malam seperti sekarang. Duduk berdua disebuah bangku kayu nan usang. Berdampingan. Dengan jarak yang tidak jauh. Guanlin ingat, terakhir kalinya mereka berada di jarak sedemikian dekat – hal yang tidak diinginkan terjadi tanpa dapat Guanlin cegah, kemudian menjadi malapetaka untuk dirinya, dan sepertinya ... bumerang untuk Jihoon yang tidak nampak lebih baik dari dirinya.

"bagaimana kabarmu?"

Jihoon menoleh pada Guanlin, kemudian ia bergumam pelan "baik" mata bening itu memilih untuk menatap kakinya yang dibalut sepatu converse berwarna putih "kau?"

Guanlin mengulas gummy – smile nya yang lucu "eung, baik" ucapnya dengan nada jenaka.

"Woojin?"

"hm?"

Jihoon menghela nafas berat. Kemudian si manis mengulang pertanyaannya "Woojin bagaimana?"

Guanlin termenung sesaat. Tidak menyangka Jihoon akan menanyakan keadaan adik laki lakinya yang satu itu. "baik. Tentu saja. Sekarang dia sudah jadi tentara, dia salah satu lulusan terbaik, mendapatkan jabatan memuaskan di usia muda, aku pikir Paman dan Bibi hanya tinggal menunggu kapan dia memutuskan untuk menikah" pemuda taiwan itu menjelaskan keadaan adik Jihoon tanpa diminta.

Jihoon hanya menganggukkan kepala. tidak berniat menengadahkan kepaa dari pemandangan sepatunya yang menapak tanah.

"aku kira kau tidak akan pernah mengajak aku bicara lagi, seperti sekarang"

Jihoon menoleh, mendapati Guanlin yang mengulas senyum pahit. Pemuda tampan itu menggigit bibirnya sebelum berucap

"kau membuat semua orang kalang kabut"

Jihoon diam. tidak memberikan tanggapan. Wajahnya datar. Jika diperhatikan sekilas, Jihoon mungkin nampak tidak tertarik dengan topik obrolan yang Guanlin bawa. Tapi Guanlin adalah teman masa kecil Jihoon. Dan Jihoon tahu, terkadang mereka mengenal satu sama lain lebih dari diri itu sendiri mengenal sebaik apa dan seburuk apa nyawa yang menggerakkan sistem motorik untuk melakukan banyak hal. Entah itu berguna atau tidak. Intinya, seorang Jihoon dan Guanlin sudah sangat memahami satu sama lin.

Sebuah tawa nan lepas lolos dari bilah labium Guanlin. tapi suara tawa itu lebih seperti – Guanlin menertawakan dirinya sendiri.

"aku agak tidak percaya bisa bertemu dengan kau di Jepang"

Guanlin menyeka air matanya yang jatuh karena tertawa "kami mencarimu kemana mana selama dua tahun" ia berkata lirih. Tidak mampu merangkai kata kata menjadi sebuah kalimat yang menjelaskan 'hei! Apa maksudmu pergi dari rumah, membuat semua orang khawatir, lalu tahu tahu aku menemukanmu di Jepang! Di negara berbeda!'

"hng... aku kira kau sudah lupa padaku" Jihoon bergumam

"seharusnya itu kalimatku" Guanlin mendengus kasar. Jemari panjang nya bergerak untuk mematik rokok lagi. Kali ini dengan lebih tergesa gesa.

"oh..."

Guanlin menyesap rokok itu kuat kuat. Membiarkan tenggorokannya terasa terbakar. Menikmati sensasi ketika asap itu dapat ia keluarkan melalui hidung. Tidak peduli sekalipun terasa agak perih.

Guanlin ingin bertanya mengapa Jihoon pergi dari rumah, meskipun ia sudah tahu beberapa alasan yang ia simpulkan sendiri, tapi ia ingin mendengarnya dari Jihoon. Rasa bersalah kembali menggerogoti hati Guanlin. pemandangan dimana Jihoon menjadi sosok pendiam seperti sekarang membuatnya teriris. Sudah bertahun tahun berlalu, tapi seorang Park Jihoon yang akan menceritakan segala sesuatu, dari yang paling penting sampai yang tidak penting sama sekali membuat nya merasakan rindu. Kemudian detik detik dimana Jihoon mengecup bibirnya pelan. Guanlin bersumpah, sampai mati pun mungkin ia tidak akan pernah bisa melupakannya. Bagaimana suara lembut itu mengatakan perasaannya dengan lirih dan tulus.

Ah, kenapa justru kenangan itu yang hinggap di kepalanya sekarang?

"Jihoon, aku minta maaf"

Tidak ada balasan

"ini mungkin aneh. Kita baru saja bertemu. Aku tahu aku memang pengecut karena sebelumnya tidak berani memulai pembicaraan lebih dulu tapi –" Guanlin menelan ludah "aku minta maaf karena waktu itu tidak bisa meluangkan waktu untukmu, padahal aku tahu kau nyaris tidak memiliki siapapun selain aku, tidak bersikap terbuka, tidak bertanya keadaanmu, padahal aku – aku..." tenggorokan Guanlin tercekat "padahal aku – mungkin teman mu satu satunya saat itu" guanlin memainkan jemarinya gelisah "juga... karena tidak menya –"

"Guanlin" Jihoon menepuk paha Guanlin pelan. Secara tidak langsung meminta Guanlin untuk bernafas. Guanlin sendiri tidak sadar kalau sejak tadi ia bahkan menahan sirkulasi udaranya, ia segera meraup oksigen sebanyak banyaknya.

Guanlin menegakkan wajahnya untuk menatap bola mata Jihoon yang bening. Yang dulu sering ia puji karena iri, betapa mata itu terlihat lugu, bening, jernih, pokoknya indah sekali "lebih indah dari mata ibuku" begitu ketika ia yang masih kecil memekik riang, yang hanya dibalas Jihoon dengan tawa.

Mata itu masih sama. Poni Jihoon sudah lebih panjang, nyaris menutupi matanya yang kini lebih sering terlihat sayu. Surainya kini berwarna coklat gelap. Guanlin dapat menyadari bagaimana tubuh itu kehilangan banyak berat badan sekalipun pipinya masih chubby. Baju baju oversize yang Jihoon kenakan tidak sepenuhnya menyembunyikan lekuk tubuh Jihoon yang kini lebih terlihat karena bagian pinggang kebawah, sudah menjadi lebih ramping dan kecil.

"itu sudah lama sekali" Jihoon menatap Guanlin tepat di mata "aku sudah tidak memikirkan nya lagi" jeda sejenak "tapi aku juga tidak mau kembali ke sana lagi"

Guanlin tercekat. Jihoon tahu, cepat lambat ia akan meminta pemuda manis itu kembali ke korea untuk pulang.

"kembal ke Korea sama dengan kembali ke titik yang sama" Jihoon tersenyum tipis. Ia menatap Guanlin dalam "aku tidak memikirkan bukan berarti aku melupakan. Aku tidak bisa melupakannya sekalipun aku sangat ingin" sorot matanya terlihat sendur "itu membuat aku kesal"

Kemudian Jihoon bangkit dari duduknya. Menatap Guanlin dari posisi yang lebih tinggi.

"jangan beritahu siapapun aku ada disini"

Itu bukan permintaan. Melainkan perintah. Sebuah ultimatum. Jihoon tidak memberikan Guanlin pilihan. Seakan ini adalah waktu untuk Jihoon, giliran Jihoon, bagian Jihoon. Kartu As Jihoon.

Ah, tatapan penuh kehangatan dan cinta tak lagi Guanlin temukan di iris Jihoon. Mata itu tidak bercahaya. Kosong dan hampa.

"tapi kurasa itu tidak penting. Sekarang kita sudah memiliki kehidupan masing masing" Jihoon memaksa dirinya untuk tersenyum lebih lebar. Senyum pahit yang berusah untuk diukir sebahagia mungkin. Ia menepuk pundak Guanlin dengan gerakan lembut

"tolong lupakan segala hal tentang aku Lai Guanlin"


"hei kau berani menantangku? Uwah lihat wajah itu, kenapa? Kau ketakutan huh? Ayo cepat telfon ibumu supaya aku bisa minta tebusan uang. Anaknya yang tampan ini kan mahal"

Preman preman itu tertawa terbahak bahak. Preman dengan tattoo elang di bahunya yang berotot memberikan tendangan pada perut Jeon Jungkook yang kini terikat di kursi dalam keadaan babak belur.

Jungkook terbatuk. Tidak sanggup mengaduh. Sekujur tubuhnya terasa remuk, atau memang secara harfiah bisa dikatakan demikian.

Di sudut bibirnya ada aliran darah yang mulai mengering. Poninya yang biasanya tertata rapi menampilkan dahi hingga membuat wanita menjerit kegirangan. Kini basah oleh keringat dan darah yang mengalir dari bagian kepalanya yang tadi dipukul menggunakan balok kayu oleh salah satu preman yang ia tebak, barangkali usianya kepala dua. Tak jauh berbeda dari dirinya.

Mata kanannya mengerling lemah. Mata kirinya bengkak karena di tonjok. Manik hitam nya melirik kesana kemari. Kemanapun asal jangan ke preman yang baru saja bersulang alkohol dihadapannya.

"ah, bocah ini. wajahnya saja yang sudah kelihatan dewasa. Sebenarnya dia masih bayi manja yang minta minum susu dari payudara ibunya" preman preman itu tertawa terbahak bahak, menertawakan lelucon rekannya yang jelas sekali merendahkan jati diri Jungkook.

"kau sudah telfon ibunya? Apa wanita itu menangis tersedu sedu?"

"bah! Tidak diangkat! Bangsat"

Mana ada ibuku mau datang, bedebah brengsek

Jungkook menggerutu dalam hati. Tubuhnya sudah lemas dan ia tidak mampu melakukan perlawanan. Matanya mengerling ke sudut lain ruangan, ada tumpukan botol minuman keras yang tidak dibersihkan. Mengerling lagi, ada kondom bekas pakai bertebaran. Mengerling lagi, ada seorang pemuda bersurai abu abu tengah membaca buku.

Tunggu, apa?

Jungkook berusaha memusatkan pandangannya. Matanya tidak salah lihat. Ada seorang pemuda dengan postur tubuh lebih kecil dari dirinya, yang tengah membaca buku usang yang Jungkook tidak bisa lihat berjudul apa. Rambut nya berwarna abu abu. Kulitnya kecoklatan. Dan yang paling Jungkook tak habis pikir, adalah bagaimana ia terlihat begitu tidak peduli.

Jungkook larut dalam pemikirannya sampai kepala kembali dipukul dengan keras.

Lagi lagi Jungkook tidak mengaduh. Ia hanya sedikit meringis untuk melampiaskan rasa sakit yang ia terima. Jungkook mungkin lahir dari keluarga konglomerat, orang orang mungkin mengira jika ia asing terhadap tindak kekerasan seperti yang sekarang ia alami. Well, ia memang asing. Tapi bukan berarti ia tidak kuat menahan. Batin nya sudah lebih sering disakiti sehingga ketika fisiknya disiksa pun ia mampu menahan diri.

"Jihoon!" salah satu preman berteriak. Nampaknya memanggil pemuda bersurai abu abu itu, dan benar saja. Pemuda bersurai abu abu itu mengangkat kepala dari buku yang tengah ia baca. Menatap preman yang tadi memanggil namanya dengan wajah datar. Tidak menampilkan ekspresi apapun. Pun tidak bersuara untuk membalas panggilan preman tersebut yang nampaknya merupakan seorang pemimpin.

"jaga Tuan Muda ini! dia bisa bernilai jutaan won jika kita bisa menawar"

Preman preman bertubuh besar itu berlalu keluar. Masih dengan tertawa. Jungkook sendiri heran, apa mereka tidak bosan tertawa? Sebab ia merasa tak ada satu hal pun yang lucu dan pantas untuk menjadi bahan tertawaan. Kecuali, jika memang dirinya diaanggap payah dan layak ditertawakan.

Tinggal lah hanya Jungkook dan pemuda bersurai abu abu itu berdua.

Jungkook mendengar suara helaan nafas. Ia mengalihkan atensinya pada si pemuda manis yang kini bangkit dari duduknya dan melangkah malas untuk duduk di sofa yang berada dekat dengan kursi kayu tempat Jungkook diikat dengan tali tambang. Tanpa sengaja, Mereka berdua jadi duduk berhadapan. Mungkin pemuda bersurai abu abu itu berfikir, dengan begitu ia jadi lebih mudah mengawasi Jungkook?

Dengan sebelah matanya yang masih bisa berfungsi dengan baik, Jungkook mulai meneliti pemuda itu. Surainya berwarna abu abu – sepertinya Jungkook sudah mengulang ulang ini sejak tadi – , pipinya agak tembam tapi tubuhnya tidak nampak berisi. Wajahnya dibubuhi luka juga. Lecet, bekas codet, memar pun ada. Ada perban yang mengelilingi leher pemuda yang jika dilihat lihat, - wajahnya manis juga -.

Jungkook sontak menggeleng gelengkan kepala ketika kalimat terakhir dalam benaknya terasa tidak masuk akal untuk dirinya sendiri.

Pemuda bersurai abu abu itu melanjutkan acara membacanya tanpa peduli pada keberadaan Jungkook. "tadi preman jelek itu memanggil dia siapa ya?" Jungkook bertanya tanya dalam hati.

Matanya terfokus pada pemuda bersurai abu abu itu. toh, wajahnya jauh lebih enak dipandang daripada wajah preman preman jelek tadi. Siapa sih namanya, siapa ya? Jiyoon? Jieun? Apa tadi? Ji –

" – Jihoon?"

Jungkook merutuki mulutnya yang kelepasan bicara mengucapkan nama pemuda bersurai abu abu itu. ia sibuk memarahi dirinya sendiri hingga tidak sadar jika pemuda bersurai abu abu tadi sudah mengangkat wajahnya dari buku yang ia baca.

Jungkook tercekat. Pemuda bermarga Jeon itu salah tingkah setengah mati. bingung luar biasa ketika pemuda bersurai abu abu itu menatapnya dengan mata yang bening tapi entah kenapa membuatnya merasa dihakimi di pengadilan seorang diri, tanpa pengacara.

Mimpi buruk? Benarkah? Kalau rasanya seperti mimpi buruk, dada Jungkook terasa berdesir?

Jungkook menelan ludah. Membasahi bibir kemudian mencoba menatap pemuda itu lebih dalam dan mengulang panggilannya.

"Jihoon?"

"hm" Jihoon bergumam pelan. Masih dengan wajah datar yang sejujurnya membuat Jungkook sebal. Tapi entah kenapa Jungkook malah tersenyum sumringah dengan wajahnya yang babak belur, lecet dan bengkak sana sini.

"hai" Jungkook nyaris memekik, jika saja rasa sakit karena sudut bibirnya yang robek tidak membuatnya berjengit kemudian melanjutkan berucap "namaku Jeon Jungkook"


To Be Continue


Pojokan nyampah Rac-Chan:

Eum. Aku berubah pikiran? Iya ngga sih? Labil banget kan ya *gantung diri

Serius! Aku berubah pikiran! Maafkan aku yang labil banget, php, dan males menulis. Maafin aku sekalipun lebaran udah lewat. Jadi kemarin aku lagi ya gitu, down syndrome? Ga tahu. Kek yang ga niat gitu. Jadi nulis chapter 2 berhari hari rasanya ngga bakal beres beres :v. Sementara chapter ini aku tulis dari pagi sampe jam setengah sepuluh beres :'(. Aku emang kebangetan banget. Aku memutuskan untuk publish di ffn dan di wattpad saja :'). Aku merasa bersalah banget setelah baca komen komen yang ada. Kesannya bener bener aku yang kayak php.

Itu sesi bacot yang berisi sampah banget.

Eung, tahu ngga. Aku awalnya debat sama temen diskusi aku si ... tentang siapa yang cocok jadi PHO panwink. Padahal ngga pake PHO pun aku tahu kalau plot nya udah berat, tapi ya namanya orang gaje, waktu 20 menit terbuang Cuma Cuma buat nentuin siapa PHO panwink :'). Dan awalnya aku mau pake Donghyun sebagai PHO. Cuman setelah kemarin aku rada kesambet sama cinta lamaku yang sekarang makin PANAS DAN MENLI si jeka, dan aku yang emang penganut dominant! Jungkook. Aku dengan nekadnya menjadikan Jungkook PHO. Yang mana itu artinya plot nya berubah total.

Ada yang bingung sama chapter ini? atau chapter kemarin? Atau gaya menulisku kurang bikin nge feel? Kritik, saran dan pertanyaan aku terima di kolom review :').

sincerely

'shouharaku'

290618