Title: 12 HOURS OF SINGLE PARENT (Sequel of "ROOM") [1-2]
Author: Myka Reien
Main Cast: KaiSoo, Kim Kyungjong
Slight: HunHan, Oh Sena
Genre: Rate T, GS
Note: No bash, no flame, no peanut please~^^ Let's be a good reader and good shipper~^^
HAPPY READING 뿅~뿅~
.
.
.
12 HOURS OF SINGLE PARENT
[1-2]
.
.
.
Kamar apartemen itu tidak terlalu luas, tapi juga tidak bisa dibilang sempit. Meski jarak satu ruang dengan ruang yang lain hanya sekitar 1-2 meter, namun penataan perabot serta ornamen yang minimalis tapi tetap cantik, membuatnya masih memiliki ruang gerak yang bebas. Semua ruangan apartemen itu didominasi oleh warna-warna natural yang kalem seperti putih, hitam, abu-abu, hijau, dan coklat kayu, begitu menyejukkan dan memberi kesan segar di penglihatan. Ditambah dengan semua barang yang tertata rapi dan nyaris tanpa debu, semakin membuat betah berlama-lama berada di dalamnya.
Di salah satu sisi ruang tamu, ruangan yang paling dekat dengan beranda, menggantung sebuah bingkai foto besar yang memperlihatkan gambar sosok namja dan yeoja dalam balutan pakaian pengantin. Pengantin laki-laki nampak sangat tampan dengan stelan jas hitam dan warna kulitnya yang kecoklatan itu memberi kesan seksi di wajahnya yang manly, walaupun senyuman simpul yang memunculkan kedua eyes smile-nya malah memberikan kesan cute yang tersembunyi. Sedikit berkebalikan dengan suaminya, pengantin perempuan memiliki kulit seputih susu, nyaris tak ada bedanya dengan gaun putih yang dia kenakan, serta mata bulatnya yang terlihat sangat menawan. Senyuman manisnya membuat bibirnya membentuk heart-shape dan ada perasaan gemas ketika melihat ekspresinya yang sedikit kaku itu, sangat cantik tapi entah kenapa pipinya yang bulat chubby tersebut membuat tangan gatal ingin mencubit.
Tak jauh dari foto pernikahan itu, menggantung sebuah foto lain yang tidak bisa untuk tidak diperhatikan. Masih memperlihatkan pasangan tadi, hanya saja dengan tambahan seorang bayi kecil di tengah-tengah mereka. Seorang bayi laki-laki mungil yang dipakaikan kostum anak ayam, dengan kulitnya yang putih dan sepasang matanya yang bulat bening, nampak tertawa senang di gendongan Ibunya, memamerkan sepasang eyes smile-nya yang menggemaskan. Dan di kanan-kirinya, kedua orang tuanya ikut tersenyum semakin menambah aura hangat keluarga yang tersirat dari foto tersebut.
Whuush, angin bertiup masuk melalui jendela yang tidak ditutup, mengibarkan tirai hijau pupus yang menghalangi silau cahaya matahari senja musim semi. Seorang namja tinggi bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela yang terbuka. Dengan cekatan dia menutup dan mengunci jendela itu, untuk sesaat kepalanya melongok melihat ke arah langit.
"Apa malam ini akan hujan?" tanyanya dengan suara agak keras.
Tak ada jawaban.
"Yeobo, apa malam ini akan turun hujan?" ulangnya lebih keras.
"Ne? Eoh? Mollaseo! Wae?" sebuah suara wanita terdengar menyahut.
"Langitnya sedikit mendung," desis namja berkulit kecoklatan itu sambil sekali lagi mendongakkan kepala memperhatikan awan kelabu yang menggantung merata di atas atap kota Seoul.
Gyuts, namja itu segera menunduk ketika merasa ada yang menarik ujung celana panjangnya dan sekejab senyuman muncul di bibirnya begitu melihat seorang makhluk kecil sedang berusaha berdiri dengan berpegangan pada kakinya.
"Ayo, berdiri. Kau bisa berdiri. Kyungjongie bisa berdiri sendiri," ujarnya memberi semangat pada bayi kecilnya yang sedang berusaha menyeimbangkan kedua kakinya sambil tetap berpegangan erat di kaki panjang Ayahnya.
Butuh waktu agak lama sampai bayi itu bisa berdiri dengan tegak dan begitu dia melakukannya, dia mendongakkan kepala, menatap Ayahnya dengan sepasang mata bulatnya yang bersinar lalu muncul senyuman polosnya.
"Pa pa pa~" celoteh bayi itu riang.
"Kyaa, uri Kyungjongie sudah bisa berdiri. Kyungjong sudah bisa berdiri. Anak pintar~ anak Appa memang pintar," puji namja itu sambil memegang kedua tangan mungil anaknya dan duduk pelan-pelan sambil tidak melepaskan lengan kecil itu, membantunya supaya tetap berdiri.
"Kyungjong sudah bisa berdiri~" ujarnya lagi seraya mendekatkan wajahnya pada wajah mungil bayinya yang belum genap berusia setahun, menyentuhkan kedua ujung hidung mereka, membuat bayi itu tergelak senang.
"Kyahaha~"
Bruk.
"Omo!" si namja memekik pelan saat mendadak anaknya hilang keseimbangan dan jatuh terduduk di atas karpet lantai. Mata bulat bayi itu berkedip, lalu kembali memandang Appa-nya yang diam menunggu reaksinya, menangis atau tidak.
"Kyaahaha~" di luar dugaan, bayi itu malah tertawa. Dia mengangkat kedua tangannya sambil terus memperlihatkan senyuman lebar dan eyes smile-nya yang super cute, membuat Appa-nya ikut tertawa.
"Kyungjong tidak hanya pintar, tapi kau juga pemberani. Kau tidak menangis~ ahh, kyeopta sekali anak Appa ini. Sini Appa gigit kau, sini~" namja itu meraih ketiak bayinya dan memeluknya dengan erat, menciumi kedua pipi chubby-nya sampai anak tersebut tergelak makin senang. Keduanya jatuh bertindihan di atas karpet, berguling, dan terbaring bersisian.
Mendadak Kyungjong tengkurap, menegakkan kedua tangannya, lantas bergerak merangkak meninggalkan Appa-nya.
"Ya, Kyungjong-ah, eodiga?" seru sang Appa ketika bokong kecil putranya makin bergerak menjauh.
"Kim Kyungjong!" panggil namja itu lagi, namun tidak diindahkan oleh si pemilik nama. Bayi mungil tersebut terus merangkak keluar dari ruang tamu.
Namja tinggi itu bangkit berdiri, mengikuti anaknya yang merangkak masuk ke dalam dapur.
"Kau mencari Umma, eoh? Kau tahu Umma ada di sini?" tanya namja itu baru mengerti keinginan anaknya.
Kyungjong tidak merespon dan tetap merangkak mendekati sepasang kaki jenjang yang berdiri di dekat meja makan. Sebelah tangan mungil itu terangkat, memegang kaki Ibunya, sedikit mengagetkan yeoja tersebut.
"Omo! Eoh? Kyungjongie? Kau mengagetkan Umma," ujar wanita muda itu. "Kenapa kau ke sini? Umma sedang sibuk, mainlah dulu dengan Appa." Yeoja cantik yang memiliki mata bulat sama seperti bayinya tersebut membersihkan tangan dengan lap yang berada di atas meja lalu menunduk, meraih tubuh anaknya dan menggendongnya.
"Ma ma ma ma~" Kyungjong kembali berceloteh sambil memegang-megang wajah Ibunya.
"Kau memasak banyak sekali," celetuk Kai, namja tinggi berkulit kecoklatan yang juga Appa dari Kyungjong, begitu melihat berkotak-kotak bekal makanan yang ditata oleh istrinya di atas meja.
"Anak-anak itu makan sangat banyak dan mereka bilang mereka suka dengan masakanku, jadi sekalian saja," jawab Kyungsoo, istri Kai sekaligus Umma dari Kyungjong, seraya melanjutkan menata lauk ke dalam kotak bekal dengan satu tangan sementara tangannya yang lain kerepotan menggendong Kyungjong yang terus bergerak ingin memegang makanan di atas meja.
"Andwe, Kyungjong-ah. Kau tidak bisa makan ini," ujar Kyungsoo seraya memperbaiki posisi bayinya yang masih menolak untuk tenang.
"Ma ma ma!" Kyungjong nampak ngotot, terus mengulurkan tangan, mencoba untuk memegang makanan yang berjajar rapi di atas meja.
"Aigoo~ Yeobo, pegang dia." Kyungsoo menyerah dan memindahkan bayi itu ke pangkuan Appa-nya yang duduk menganggur. Kai menerima tubuh Kyungjong, memangkunya searah dengan posisi duduknya, dan langsung memeluknya erat, tidak membiarkannya bergerak sedikit pun. Kyungjong yang terkunci gerakannya hanya dapat menggeliat-geliatkan badan meminta untuk dilepaskan, erangan keluar dari bibirnya yang mungil.
"Ma maa uugh~!" bayi kecil itu memberontak.
"Kau tidak bisa lepas, kau sedang dikurung," goda Kai menertawakan tingkah bayinya yang kesal karena tidak bisa bergerak sama sekali.
"Hiks-" pada akhirnya kedua mata Kyungjong malah berair.
"Ya, ya, ya, kenapa kau malah membuatnya menangis?" tegur Kyungsoo kesal.
"Omo, dia menangis?" Kai terkejut dan langsung melepaskan kutatan lengannya, namja itu mengangkat tubuh Kyungjong dan menghadapkannya dengan badannya. Baru menyadari jika bayi tersebut sudah berada di mode siap menangis.
"Uhh, mian mian mian. Appa tidak bermaksud menyakitimu, Kyungjongie. Sakit ya? Eoh? Sakit? Kau kesal, huh? Mianhe, Kyungjong-ah. Cup cup cup," bujuk Kai sambil berdiri dari kursi dan menimang-nimang Kyungjong yang masih memperlihatkan ekspresi cemberut, belum mau memaafkan Appa-nya.
"Kyungjong-ah, ke sini. Coba cicipi ini," ujar Kyungsoo sambil mendekatkan ujung telunjuknya ke bibir Kyungjong. Bayi mungil itu membuka mulutnya dan mengemut ujung jari Ibunya sesaat, mencecap sesuatu yang melumuri di sana.
"Manis? Manis 'kan? Kau suka?" tanya Kyungsoo yang langsung dijawab oleh senyuman lebar anaknya.
"Ma ma ma~" Kyungjong kembali berceloteh ceria. Air mata sudah hilang dari wajahnya.
"Apa itu?" tanya Kai heran. "Aku juga mau."
"Madu," jawab Kyungsoo sambil kembali mencolek permukaan madu di dalam kaleng di atas meja dengan telunjuknya lalu mengarahkan jarinya ke mulut Kai.
Kai mengemut ujung jari lentik Kyungsoo, agak lama.
"Manis?" tanya yeoja bertubuh mungil itu. Kai mengangguk tanpa melepaskan jari istrinya dan mendadak Kyungsoo memekik karena Kai menggigit jarinya.
Plak, sebuah pukulan ringan mendarat di lengan Kai, membuat namja usil itu tertawa.
"Appo!" decak Kyungsoo kesal.
"Hehehe, mian. Habisnya jarimu kecil sekali, seperti stik pocky," bela Kai tanpa berhenti terkekeh. Sedangkan di gendongannya, Kyungjong ikut tertawa.
"Aku mau itu." Kai menunjuk kimbab yang tertata cantik di salah satu kotak bekal.
"Itu bukan buatmu," ujar Kyungsoo.
"Ahh~ aku mau. Biarkan aku makan satu," pinta Kai merengek seperti anak kecil.
Kyungsoo mengambil satu potongan kimbab dengan tangannya, memberikannya pada Kai. Namun ketika suaminya itu membuka mulut, Kyungsoo menjauhkan tangannya dari depan wajah Kai.
"Ya!" dengus Kai kesal. Kyungsoo tertawa, dia mendekatkan lagi kimbab di tangannya ke wajah namja itu. Tapi sekali lagi, begitu Kai membuka mulut dan mendekatkan wajahnya, tangan Kyungsoo menjauh.
"Ah, Umma~~" suara Kai keluar berirama, membuat tawa Kyungsoo meledak.
"Kyahaha~" Kyungjong yang tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang tuanya, hanya ikut-ikutan tertawa begitu melihat Ibunya tergelak.
"Ah, jebal," pinta Kai pada Kyungsoo yang masih sibuk tertawa. Yeoja itu kembali mendekatkan tangan ke mulut Kai dan di waktu yang sangat tepat dia menarik lagi tangan kurusnya, membuat Kai gagal mendapatkan makanan itu untuk kesekian kalinya. Kyungsoo tertawa geli.
"Ya, Do Kyungsoo! Aish!" Kai mengumpat kesal seraya memperbaiki posisi Kyungjong yang masih bergelantung erat di gendongannya seperti anak koala.
"Arasseo, arasseo, buka mulutmu," ujar Kyungsoo pada akhirnya, merasa kasihan juga pada suaminya yang sudah memperlihatkan wajah kusut. Kyungsoo membiarkan Kai memakan kimbab itu kali ini.
"Kimchi. Kimchi-nya juga," pinta Kai dengan mulut sibuk mengunyah.
"Ya!" Kyungsoo menegur.
"Satu." Kai mengacungkan telunjuknya. "Satu saja."
Kyungsoo mencomot potongan kimchi dengan tangannya lagi dan menyuapi Kai yang nampak begitu lapar meski pada kenyataannya dia baru selesai makan tadi. Kai memegang tangan Kyungsoo yang menyuapinya, memakan kimchi beserta jari lentik itu membuat istrinya terjengat kaget. Kai mengemut ujung jari Kyungsoo yang berasa bumbu kimchi, dan baru melepaskannya setelah jari itu bersih.
"Jorok," cetus Kyungsoo dengan mulut mengerucut kesal.
"Tapi romantis." Kai menyunggingkan senyuman jahil.
"Cheesy," balas Kyungsoo, membuat suaminya tertawa.
"Pa pa pa~" mendadak Kyungjong menyentuh mulut Kai.
"Sudah habis, kau tidak kebagian," kata Kai pada bayinya yang hanya membalas dengan tawa lebar.
"Besok kau pulang jam berapa? Kau 'kan tahu aku tidak bisa menjaga Kyungjong sendirian lama-lama. Aku cuma bisa mengajak dia main dan mengganti popoknya. Selain itu aku tidak bisa apa-apa," ujar Kai seraya kembali duduk di kursi, memangku Kyungjong, lalu beralih mengajaknya bercanda sampai bayi itu tertawa-tawa senang.
"Aku akan pulang sebelum makan malam," jawab Kyungsoo.
"Yakso?" Kai memastikan.
"Yakso. Lagipula Luhan Unnie 'kan juga punya bayi yang harus dia urus," ujar Kyungsoo seraya menutup semua kotak bekal.
"Apa Sena dan Luna ikut?" tanya Kai.
Kyungsoo menggeleng. "Mereka ditinggal bersama Sehun di rumah."
"Memang Sehun bisa mengurus dua anak dan satu bayi?" Kai sangsi mengingat jika ketiga anak Sehun itu masih sangat kecil dan Sehun sendiri juga termasuk kategori Appa yang masih childish. Si sulung, Sena, baru berumur 3 tahun. Adiknya, Luna, baru setahun. Dan si bungsu yang juga menjadi satu-satunya anak laki-laki di antara tiga bersaudara, Shin, belum genap berusia 5 bulan.
"Luhan Unnie bilang kalau Ibunya akan membantu Sehun besok." Kyungsoo nyengir, sementara Kai melengos.
"Pantas saja Sena dan Luna ditinggal. Ada nenek mereka," dengus Kai.
"Kau 'ku ajak juga tidak mau..."
"Tidak! Lebih baik aku bersama Kyungjong di rumah daripada bertemu dengan wali murid bawel dan guru-guru les centil teman-temanmu itu. Mereka pasti akan mengelilingiku dan tidak berhenti menggangguku. Padahal jelas-jelas mereka sudah tahu aku suamimu dan aku menggendong anak. Tapi kenapa mereka tetap tidak mau melepaskan aku? Menyebalkan," gerutu Kai.
Kyungsoo tersenyum geli. "Itu karena kau terlalu tampan." Yeoja tersebut meraih sebelah pipi Kai, mencubitnya pelan.
"Biasanya orang akan bangga dilahirkan tampan, tapi buatku hal itu malah seperti hukuman," keluh Kai. Lalu dia beralih memandang Kyungjong yang bermain-main dengan kancing kemejanya.
"Kyungjong-ah, nanti kalau kau besar kau juga harus berhati-hati ya. Jangan dekat-dekat dengan ahjumma, jangan mudah percaya dengan kata-kata ahjumma, dan sebisa mungkin hindari para ahjumma. Kalau ada yang mencoba untuk mengganggumu, langsung tendang dia. Jangan pedulikan siapa dia, pokoknya tendang saja dulu. Arajji?" ujar Kai.
Seolah mengerti kata-kata Appa-nya, Kyungjong mendongak dan langsung menyunggingkan senyum lebar, memperlihatkan lagi eyes smile-nya yang cute. "Waaa~"
"Ya, jangan memberikan sugesti seperti itu pada Kyungjong. Bagaimana bisa kau menyuruh untuk dia menendang orang lain? Jinjja." Kyungsoo menggerutu.
"Lebih baik 'kan daripada dia jadi korban puber kedua para ahjumma." Suara Kai masih terdengar gusar. "Lagipula Kyungjong pasti nanti jadi namja yang sangat tampan," lanjutnya seraya mengangkat tubuh anaknya, membuat si kecil berdiri di pangkuannya.
"Kau pasti akan jadi lebih tampan daripada Appa," kata Kai pada Kyungjong yang menatap polos ke arahnya.
"Jam berapa ini? Kyungjong-ah, ayo tidur," celetuk Kyungsoo seraya melepas apron yang sedari tadi terikat di tubuh mungilnya.
"Ma ma ma ma~" mendengar panggilan Ibunya, Kyungjong mengangkat kedua tangan mungilnya tinggi-tinggi, berusaha meraih yeoja itu.
"Kau tidak mau istirahat dulu? Kau sudah memasak seharian," ujar Kai belum mau memberikan Kyungjong pada istrinya. Karena bayi itu pasti akan langsung tidur setiap sudah mulai menyusu.
"Setelah dia tidur aku baru bisa istirahat," balas Kyungsoo menunggu suaminya yang masih saja memeluk bayi mereka, tidak mau melepaskannya.
"Jangan buat dia tidur dulu, aku masih mau main dengannya," pinta Kai sambil memandang memohon pada Kyungsoo. Kyungsoo hanya menghela napas mendapat serangan puppy eyes seperti itu.
"Kalau aku ketiduran lebih dulu bagaimana? Kyungjong juga belum minum susu," ujar yeoja mungil tersebut mulai gusar. Suaminya itu memang hanya tahu cara mengajak Kyungjong main tanpa bisa memikirkan hal yang lain.
"Aku akan membangunkanmu...ah, anniya, Kyungjong akan membangunkanmu dengan tangisannya," jawab Kai. "Ayolah, 'ku mohon, sebentar lagi. Aku masih mau main dengannya, Umma."
"Seingatku aku baru melahirkan satu kali, tapi kenapa aku bisa punya dua orang anak?" desis Kyungsoo lantas berjalan keluar dapur menuju ruang tamu. Meninggalkan Kai dan membiarkannya bermain sedikit lebih lama dengan anak mereka.
"Yey, Kyungjong belum mau tidur. Ayo main lagi sama Appa." Kai mengangkat tubuh bayinya tinggi-tinggi ke udara hingga terdengar suara tawa Kyungjong yang pecah dengan ceria.
Sedangkan di ruang tamu, Kyungsoo yang mendengar suara riang kedua orang itu hanya bisa menyunggingkan senyuman. Yeoja tersebut duduk di sofa, meluruskan kakinya yang terasa pegal karena sudah seharian berdiri meracik makanan di dapur. Kyungsoo juga merebahkan badannya, meletakkan kepalanya sejajar dengan punggungnya. Perlahan yeoja itu merasa kedua matanya berat, pandangannya mulai kabur, dan dia pun jatuh tertidur.
-o0o-
Matahari baru saja terbit namun apartemen Kai sudah sibuk. Dua orang namja jangkung, Kai dan Sehun, nampak bolak-balik keluar-masuk apartemen, dimulai dengan membawa termos makanan kosong dari mobil Sehun yang diparkir di basement, menata kotak bekal ke dalam termos, lalu membawa benda itu kembali turun untuk dimasukkan lagi ke dalam mobil. Kegiatan itu terulang beberapa kali hingga stok bekal di atas meja makan Kai, yang nantinya akan dibagikan ke anak-anak yang menjadi siswa les vokal di tempat Kyungsoo dan Luhan mengajar, sudah masuk semuanya ke dalam termos.
Kyungsoo dan Luhan akan pergi piknik selama satu hari ke pantai bersama dengan anak-anak didik, rekan guru, serta para orang tua murid. Kebetulan Kyungsoo yang kebagian tugas memasak bersama dengan beberapa guru lain termasuk Luhan, namun karena ketiga anak Luhan sangat menyita perhatian, dia jadi tidak bisa memasak sama sekali. Istri Sehun itu lantas membantu Kyungsoo menyediakan alat makanan seperti kotak bekal dan termos.
Memang, Kyungsoo pernah mengajar les vokal ketika sebelum dia mengandung Kyungjong. Dia berhenti bekerja sementara untuk fokus menjaga kandungannya karena dia termasuk orang yang kurang hati-hati dan daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Kyungsoo lebih memilih istirahat lebih dulu. Sekarang setelah Kyungjong lahir, Kyungsoo memutuskan untuk kembali bekerja. Kali ini dia bekerja bersama dengan Luhan yang juga banting stir dari pekerjaan dosen menjadi guru les, sebab ketiga anaknya tidak mungkin bisa ditinggal lama-lama dengan kesibukan sebagai seorang dosen.
"Kyungkyung, jongjong, Kyungjong~" Luhan mengganggu Kyungjong yang sedang menyusu di pangkuan Kyungsoo. Wanita itu mencolek-colek pipi bulat Kyungjong, mengalihkan fokus bayi tersebut sehingga tidak segera menyelesaikan sarapannya.
"Unnie, jangan ganggu dia. Kita bisa terlambat kalau Kyungjong tidak kenyang-kenyang," tegur Kyungsoo yang merasakan bayinya berhenti menghisap ASI.
"Terlambat sebentar tidak apa-apa 'kan? Bayimu ini lucu sekali, Kyungsoo-ya. Neomu kyeopta~ ahh, aku jadi ingin menggigitnya~ Kyungjong-ah, ayo lihat sini. Lihat Noona sini~" balas Luhan santai lantas kembali menggoda Kyungjong hingga bayi itu tertawa dan melepaskan mulutnya dari puting susu Ibunya, lebih tertarik untuk bermain dengan Luhan, membuat air susu merembes tumpah membasahi pakaian dalam Kyungsoo. Positif, Kyungjong tidak melanjutkan sarapannya dan Kyungsoo hanya bisa menghela napas jengah.
Orang ini sama persis seperti Kai, dengus Kyungsoo dalam hati sambil memandang Luhan yang keasyikan menggoda anaknya.
"Yang di atas meja itu sudah semuanya 'kan?" mendadak sebuah suara terdengar dari pintu ruang tamu, mengagetkan Kyungsoo dan Luhan bersamaan. Reflek Kyungsoo membenahi kemejanya yang separuh terbuka karena sedang menyusui Kyungjong, mengira yang masuk adalah Sehun. Namun begitu tahu jika yang masuk adalah Kai, yeoja itu menghembuskan napas lega.
"Iya, yang di atas meja itu semuanya. Sudah selesai?" balas Kyungsoo dijawab anggukan oleh suaminya. Namja tersebut duduk di sebelah istrinya, meletakkan kepala di bahu sempit Kyungsoo, dan menggantikan Luhan mengganggu Kyungjong. Sementara Luhan sendiri sudah berdiri dan berjalan keluar ruang tamu, meninggalkan pasangan muda tersebut berdua.
"Sudah selesai?" sapa Luhan pada Sehun yang baru saja masuk ke beranda. Suaminya mengangguk lesu tanpa menjawab, terlihat sekali jika dia lelah. Naik-turun belasan lantai dan berjalan membawa termos yang berat memang bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi dalam posisi dia belum makan apa-apa. Karena begitu membuka mata, Luhan langsung menyeretnya untuk memanasi mobil dan meluncur ke apartemen Kai. Bahkan sepertinya nyawa Sehun juga masih tertinggal separuh di tempat tidurnya.
Sehun memeluk Luhan, menjatuhkan kepalanya di bahu wanita itu dengan manja, membungkukkan badannya yang jangkung tanpa memikirkan jika nanti punggungnya bisa terasa sakit. Sementara tangan Luhan melingkar di lehernya, mengusap surai belakang rambutnya dengan lembut.
"Aku lapar," keluh Sehun.
"Tenang saja, Kyungsoo mengajak kita sarapan sebelum berangkat. Maaf ya, sudah merepotkanmu sepagi ini, Yeobo. Kau pasti masih mengantuk," ujar Luhan seraya mengusap-usap punggung lebar suaminya.
"Kalau begitu...pupuh~" cetus Sehun kemudian.
"Ya, micheosseo? Kau pikir kita ada dimana sekarang?" mata Luhan mendelik kesal.
"Ahh~ pupuh~" Sehun merengek sambil mengguncang-guncangkan bahu sempit Luhan. Tanpa sengaja lengannya menyentuh dada istrinya dan menyadari kalau pakaian Luhan...
"Basah," desis Sehun kemudian melempar pandangan penuh tanya ke arah Luhan.
"Ini air susu. Padahal Shin sudah minum banyak, tapi rasanya dadaku masih penuh sekali," keluh Luhan sambil memegang kain bajunya yang basah karena air susu yang merembes keluar tanpa henti.
"Itu karena kau terlalu banyak makan," celetuk Sehun membuat mulut istrinya meruncing.
"Ah, kyeopta~ sini aku cium." Mendadak Sehun senang melihat bibir cemberut Luhan yang sangat menggemaskan buatnya. Namun ekspresi Sehun berubah ketika Luhan memukul kepalanya dengan pelan.
"Sadarlah, Oh Sehun. Sadarlah," ujar Luhan lantas berbalik, membiarkan suaminya mengekor di belakang sambil terus merengek minta makan...dan minta cium.
-o0o-
08.00 A.M
"Janji kau akan pulang sebelum makan malam?" Kai mengulangi lagi kalimat yang sama untuk kesekian kalinya, hanya agar Kyungsoo tidak melupakan kata-katanya itu.
Kyungsoo yang baru selesai memakai sepatu hanya menjawab dengan senyuman manis dan anggukan singkat.
Mendadak tangan Kai terulur, meraih tubuh mungil Kyungsoo di pelukannya, mendekapnya erat, menyandarkan kepala sepenuhnya di bahu istrinya itu, membuat yeoja tersebut terkejut. Untung saja Sehun dan Luhan sudah mendahuluinya pergi ke mobil, jadi dia tidak perlu takut jika tingkah manja suaminya itu ketahuan pihak ketiga.
"Aku khawatir aku hanya akan melukai Kyungjong tanpa pengawasanmu. Kau tahu sendiri 'kan? Aku bahkan tidak bisa mengurus diriku sendiri." Suara Kai terdengar kecil, penuh kecemasan dan pikiran mengenai buah hati mereka.
"Semuanya akan baik-baik saja. Lagipula Kyungjong 'kan selalu tertawa kalau bersama dengan Appa-nya," hibur Kyungsoo yang sebenarnya juga sedikit berat untuk meninggalkan bayi dan suaminya sendirian.
Sejak Kyungjong lahir, dia tidak pernah jauh dari anaknya itu. Ini pertama kalinya Kyungsoo terpisah dari Kyungjong, meski hanya untuk satu hari tapi membayangkan tidak akan bisa melihat tawa ceria dan suara lucu bayinya, juga tidak akan bisa menggendong maupun menyusuinya, Kyungsoo merasa sinar hidupnya meredup satu. Lalu soal Kai...sangat mengkhawatirkan memang kalau meninggalkan orang itu sendirian di rumah. Kyungsoo hanya berharap Kai tidak akan lupa membuang popok bekas ke tempat sampah maupun tidak akan menghancurkan rumah dengan sifat berantakannya yang bawaan lahir itu.
"Umma, cepatlah pulang~" rengek Kai seperti anak yang tidak mau ditinggal Ibunya bekerja.
"Arasseo, tapi kalau kau tidak mau melepaskan aku, mana bisa aku cepat pulang," balas Kyungsoo. Kai menegakkan badannya sekejab, menatap lurus ke manik mata istrinya dengan pandangan mata sedih.
"Aku akan merindukanmu, Yeobo," ujar Kai.
Kyungsoo lagi-lagi hanya tersenyum. Dia menggerakkan tangannya, meminta Kai untuk menunduk, dan begitu suaminya yang jangkung itu menunduk, bibir Kyungsoo mendarat singkat di bibir Kai.
"Aku juga akan merindukanmu, Yeobo. Jaga Kyungjong baik-baik ya, Appa," ujar Kyungsoo seraya mengelus lembut sebelah pipi Kai.
"Hati-hati," pesan Kai.
"Ne," jawab Kyungsoo pendek.
Tiba-tiba Kai meraih tangan kiri istrinya, memegang jari manis yeoja itu yang memakai cincin pernikahan mereka. "Jangan coba-coba melepaskan ini dan jangan berikan nomor ponselmu pada namja yang mendekatimu di pantai. Kalau mereka memaksa, berikan saja nomor ponselku." Pesan penutup Kai yang posesif berhasil membuat tawa Kyungsoo meledak.
. . .
08.20 A.M
Suasana apartemen sepi. Kyungsoo sudah berangkat piknik dan Kai tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Ini bukan pertama kalinya dia ditinggal Kyungsoo di rumah bersama Kyungjong, tapi ini pertama kalinya dia akan di rumah bersama Kyungjong sendirian, selama seharian penuh.
Kyungsoo memang selalu meninggalkan Kai dan bayinya sendirian di rumah, 5 hari dalam seminggu untuk mengajar les vokal selama 2 pertemuan. Biasanya setelah Kai pulang kerja dari bengkel di sore hari, Kyungsoo akan meninggalkan mereka untuk mengajar les. Namun hanya selama kurun waktu 2 – 4 jam. Sementara hari ini, Umma yang selalu mereka jadikan tempat bersandar akan pergi seharian. Kai tidak berani memikirkan hal terburuk apa yang mungkin akan dia sebabkan dengan kedua tangannya sendiri.
Setelah memastikan jendela terkunci, kompor mati, dan kran kamar mandi mati, Kai berjalan ke kamar tidur. Kyungjong sudah kembali tidur setelah minum susu sampai kekenyangan. Biasanya bayi itu akan bangun 2 jam kemudian jika tidak diganggu oleh Appa-nya. Dan kali ini Kai sedang tidak mau mengganggu Kyungjong, karena tidak ada Kyungsoo yang akan buru-buru datang dan menolong bayi itu setiap kali dia menangis disebabkan tidurnya diganggu oleh Appa-nya yang tidak mau diam.
Kai merebahkan badan di sebelah Kyungjong yang terlelap menggemaskan. Sebelah tangannya memeluk tubuh mungil bayi itu dan Kai mencoba untuk memejamkan mata, mengikuti irama napas si kecil dan kurang dari lima menit, dua orang itu sudah bertukar mimpi dalam keheningan.
. . .
0.30 P.M
"Kyungjong-ah, apa kau tidak bosan?" tegur Kai pada bayi mungil yang asyik memaju mundurkan mobil mainan di atas karpet di ruang tamu. Sudah hampir dua jam dia menemani anaknya bermain tanpa sedikit pun bergerak dari tempat mereka duduk. Kyungjong sendiri seperti tidak peduli dia sudah berada di satu tempat yang sama berapa lama, bayi itu terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri. Bermain dan menggumamkan kalimat-kalimat tidak jelas seolah dia sedang membacakan narasi dari negeri antah-berantah.
Kyungjong menoleh, menatap Appa-nya yang duduk bosan bersandar di kaki sofa. Perlahan bayi itu bergerak, merangkak mendekati Kai, mengulurkan tangan meminta pegangan. Kai menyambut sepasang tangan mungil Kyungjong dan membiarkannya berdiri sendiri.
"Pa pa pa pa~" celoteh Kyungjong seperti sedang menghibur Appa-nya.
"Kau tidak rindu pada Umma?" tanya Kai, masih memegangi bayinya yang mulai hilang keseimbangan. Hup, tepat sebelum Kyungjong terjatuh, lengan panjang Kai meraih tubuh mungil itu dan membawanya ke pangkuannya. Kyungjong duduk anteng di atas kaki Ayahnya sambil terus mengocehkan frasa-frasa kalimat aneh.
"Appa merindukan Umma. Apa yang Umma-mu sekarang lakukan? Dia pasti sedang sibuk mengurusi anak-anak orang. Menyebalkan. Kyungjong-ah, kau tidak rindu Umma?" Kai membuat monolog.
Kyungjong mendongak, memandang Kai dengan tatapan mata bulatnya yang polos, kepolosan yang sama dengan yang selalu terlihat di wajah Ibunya.
"Ma ma ma~" Kyungjong balik memanggil Kyungsoo. Namun kemudian kedua mata bayi itu berair, akan menangis. Kyungjong memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut.
"Omo, kau kenapa? Kenapa kau menangis?" tanya Kai kaget saat melihat perubahan ekspresi bayinya.
"Hiks-" isakan andalan Kyungjong mulai terdengar.
"Kau sakit? Ada yang luka? Digigit semut? Atau kau buang air lagi?" Kai panik.
"Jangan bilang kau rindu Umma. Umma sekarang sedang sibuk, mustahil dia bisa mengangkat telpon. Kyungjong-ah, jebal~ jangan menangis, ne? Cup cup cup," bujuk Kai mati-matian.
Krukk~
Mendadak suara petir lokal terdengar. Kai terdiam, menatap lurus mata bayinya yang berkaca-kaca lalu beralih ke perut kecilnya.
"Kau lapar?" tanya Kai. Kyungjong mengemut jarinya yang berada di dalam mulut, gesture yang biasa dia perlihatkan untuk menandakan jika dia sedang lapar.
Kai menyeringai. Namja itu berdiri, membiarkan anaknya bergelantung di dadanya seperti bayi kukang.
"Arasseo, ayo kita makan. Appa juga sudah lapar." Lalu Kai berjalan menuju dapur. Dia membuka kulkas dan mengambil botol berisi susu yang didinginkan di dalam sana. Kai mengisi panci dengan air lalu meletakkannya di atas kompor yang menyala. Namja itu menghangatkan kembali botol susu dengan cara merebusnya sekaligus di dalam panci.
"Ma ma ma ma~" Kyungjong yang seperti tahu jika botol kesayangannya sedang dihangatkan, terus bicara dan bergerak dengan tangan mencoba menggapai panci yang mendidih. Sampai-sampai Kai kerepotan memegangi bayi kecil itu.
"Ya, ya, ya, hajima. Eoh? Jangan nakal. Kalau kau tidak mau diam, Appa tidak akan memberimu susu," ancam Kai.
"Hiks-" Kyungjong mengeluarkan jurus tangisannya.
"Kau ini...pintar sekali mengintimidasi orang. Kau benar-benar mirip seperti Umma-mu," cetus Kai seraya mematikan kompor dan mengambil botol susu yang sudah hangat. Kai mengocok botol itu sesaat dan masih memegangnya tanpa memberikannya pada Kyungjong, dia menunggu sampai isinya menjadi sedikit lebih dingin. Sedangkan bayinya sudah semakin frustasi meraih botol dari tangan Appa-nya.
"Ma ma ma!" nada suara Kyungjong berubah menuntut namun Kai masih tidak peduli.
Tanpa menghiraukan bayi kecilnya yang begitu bersemangat mengulur-ulurkan tangan mencoba mengambil botol, Kai kembali membuka pintu kulkas dan mengambil lauk yang sudah dipersiapkan Kyungsoo. Dia memasukkan piring lauk itu ke dalam microwave, memanaskannya selama beberapa detik. Setelah meletakkan piring berisi lauk hangat ke meja, Kai bergerak mengambil mangkuk untuk diisi nasi. Dia meninggalkan botol Kyungjong di atas meja makan, membuat pemiliknya semakin merasa kesal dan tidak sabar.
Kai menata makan siangnya di atas meja dan memangku Kyungjong di paha sebelah kiri, memegangi bayi itu sekaligus memegang botol susu yang akhirnya masuk juga ke dalam mungil Kyungjong dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya ia digunakan untuk makan. Kai mengunyah makanan sambil memandang geli pada bayinya yang menghisap air susu dengan rakus.
"Apa kau selapar itu, huh?" tanya Kai dijawab kedipan lucu oleh Kyungjong.
"Ah, kyeopta~" Kai mencium sebelah pipi bayinya dengan gemas lantas melanjutkan lagi acara makan siangnya.
. . .
3.15 P.M
Kyungjong melempar mainan di tangannya dengan raut muka kesal. Dia bosan. Lalu bayi itu bergerak, merangkak mendekati Kai yang terbaring memejamkan mata tak jauh dari tempatnya bermain.
"Pa pa pa pa~" Kyungjong menepuk-nepuk wajah Kai, membangunkan Appa-nya.
"Eoh? Wae?" tanya Kai dengan suara parau, puzzle kesadaran masih belum terkumpul sepenuhnya di ekspresi wajahnya yang mengambang.
"Uuu uu uu~" Kyungjong mengeluarkan suara yang tidak dimengerti maknanya oleh Kai. Namja itu mengedarkan pandangan dan melihat mainan yang berserakan di atas karpet. Ada mainan sebanyak itu tapi Kyungjong meninggalkannya dan malah membangunkannya, itu artinya...
"Kau sudah bosan?" tanya Kai. Kyungjong menepuk-nepuk karpet seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tetap saja Appa-nya tidak mengerti.
Kai bangkit duduk, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia diam, Kyungjong juga diam. Mereka saling diam sambil bertukar pandangan, seolah sedang bicara melalui tatapan mata.
"Ayo keluar, kita lihat anjing di petshop," celetuk Kai kemudian. Kyungjong menelengkan kepala ke samping.
"Gukguk. Ayo kita lihat gukguk. Gukgukguk~" Kai menggunakan bahasa yang lebih sederhana sambil meraih tubuh mungil Kyungjong, menciumi perutnya yang gemuk sampai bayi itu tergelak kegelian.
"Uk uk~" Kyungjong meniru kata-kata Kai.
"Benar, ayo kita lihat gukguk," ujar Kai.
"Kyaa~ uk uk uk~" sorak Kyungjong senang.
Dia memegang baju Appa-nya dengan erat ketika digendong masuk ke kamar tidur. Kai menarik laci almari baju Kyungjong dan mengambil topi, jaket, serta sepatu bayi. Namja itu menidurkan Kyungjong di atas kasur, memakaikannya sepatu bayi. Dengan cepat Kyungjong berguling dan duduk, tapi tangan Appa-nya lebih cekatan memasukkan kedua lengannya ke lubang jaket. Terakhir, Kai memakaikan topi berbentuk kepala anak anjing pada anaknya. Namja itu tidak bisa menahan diri untuk tertawa dan merasa gemas pada si kecil yang terlihat sangat lucu memakai topi boneka. Kyungjong pun hanya tergelak menerima ciuman-ciuman penuh kasih sayang dari Appa-nya.
Kai memakai jaket dan menutupi kepalanya dengan topi yang dibalik ke belakang. Penampilan 'muda'-nya sekarang sama sekali tidak menunjukkan jika dia sudah berkeluarga, hanya keberadaan cincin nikah di jarinya saja yang menandakan jika dia sudah 'terikat'. Melihat penampilan Kai yang seperti itu, lalu melihat dia bersama dengan Kyungjong, tak ada bedanya seperti melihat seorang kakak yang mengajak adiknya berjalan-jalan.
Kai meraih si kecil, menggendongnya dan menutupi badan mungilnya dengan jaket hingga yang terlihat hanya kepala Kyungjong, menyembul keluar dan celingak-celinguk dengan mata polos seperti puppy. Sekali lagi Kai tertawa, tidak bisa berhenti untuk merasa gemas pada tingkah bayinya.
"Ayo ke petshop, kita lihat gukguk," ujar Kai disahut suara Kyungjong yang berceloteh riang. Kai memakai sepatu di beranda, membuka pintu, dan keluar untuk pergi ke petshop yang berada tak jauh dari apartemennya. Apartemennya melarang penghuninya untuk memelihara binatang, jadi setiap kali Kai ingin membawa Kyungjong untuk bermain dengan puppy, dia akan membawa bayi itu ke petshop.
"Uk uk uk~" Kyungjong terus berceloteh hingga mereka keluar dari lift di lantai satu. Angin musim semi bertiup cukup dingin. Kai merapatkan jaket yang menutupi tubuh anaknya, menjaga Kyungjong supaya tetap merasa hangat.
"Uk uk pa pa pa~" ujar Kyungjong seraya meraih wajah Appa-nya dengan tangan mungilnya.
"Kau senang kita akan melihat gukguk, huh? Kau senang?" tanya Kai seraya membenarkan posisi Kyungjong dan kembali menutupinya dengan jaket.
"Uk uk~"
"Haruskah kita lari? Kau mau lari?" ujar Kai disambut tawa riang Kyungjong.
Namja itu berlari kecil, membuat tubuh bayinya terguncang di gendongannya, Kyungjong menjerit senang. Kai berjalan pelan beberapa menit dan kemudian berlari lagi, kembali membuat bayinya tergelak girang. Kyungjong menggerak-gerakkan kedua kakinya penuh semangat, seolah dia ingin ikut berlari, namun Appa-nya hanya mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi ke udara. Pasangan Ayah dan anak yang dikira Hyung-Dongsaeng oleh orang lain itu terus melanjutkan perjalanan mereka ke petshop yang tinggal beberapa meter di depan sambil tidak berhenti bercanda.
. . .
4.50 P.M
"Apa maksudmu, huh?" suara Kai terdengar kesal. Dia sedang bicara dengan Kyungsoo di telpon sekarang, sementara Kyungjong yang capek habis bermain dengan puppy di petshop, hanya tiduran dan berguling-guling tanpa suara di atas tempat tidur. Dia tidak mau tidur, tapi juga tidak mau bermain, untung saja dia tidak menangis.
"Mianhe, Yeobo. Busnya tiba-tiba mogok, sekarang sedang diperbaiki. Aku tidak tahu aku akan sampai di rumah jam berapa." Suara Kyungsoo terdengar menyesal dan lelah.
"Apa kau tidak bisa meminta ijin untuk pulang lebih dulu atau bagaimana? Kyungjong belum mandi, dia lapar, dan susunya sudah habis," sergah Kai.
"Bagaimana bisa aku ijin pulang duluan..."
"Bilang saja kau punya bayi di rumah!" potong Kai.
"Yeobo..." Kyungsoo masih mencoba untuk membujuk.
"Luhan Noona? Bukankah Luhan Noona juga harus pulang? Bagaimana dengan Shin?" tanya Kai.
"Anni, dia ada di sini bersamaku sekarang," jawab Kyungsoo lemah. Kai mendengus.
"Aku tidak peduli, pokoknya kau harus segera pulang. Aku tidak bisa memandikan Kyungjong," tuntut Kai.
"Kai-ya, jebal..." suara Kyungsoo terdengar memelas.
"Keunho." Kai menutup panggilannya tanpa memberi kesempatan bicara lagi pada istrinya, namja itu lantas melempar ponsel ke atas meja dengan kesal. Dia membaringkan tubuh di sebelah Kyungjong yang menatap polos padanya.
Drrt, drrt, terdengar getaran pendek dari ponsel Kai. Namja itu bangun dan mengambil ponselnya lagi.
[Sehun] Hyung, mobilmu ada?
[Kai] Eoh, wae?
[Sehun] Mobilku sedang dibawa mertuaku ke supermarket dengan anak-anak. Aku ingin menjemput Luhan. Kyungsoo Noona juga bersamanya 'kan?
[Kai] Eoh, kemarilah.
[Sehun] OK. Aku sampai dalam 15 menit.
Kai menarik laci meja rias dan mencari kunci mobil. Dia jarang menggunakan mobil karena dia lebih suka mengayuh sepeda gunungnya untuk pergi ke bengkel. Begitu pun Kyungsoo, meski dia bisa menyetir, yeoja itu lebih suka meletakkan Kyungjong di keranjang sepedanya sendiri setiap kali pergi keluar untuk berbelanja atau bermain di taman.
Lima belas menit kemudian bel rumah Kai berbunyi, namja itu menyambut Sehun yang ternyata datang bersama dengan Sena, putri pertamanya yang baru berumur 3 tahun. Sena yang digendong oleh Sehun, nampak senang melihat Kyungjong yang bergelayut lucu di gendongan Kai. Gadis kecil itu tidak berhenti mengusap pipi chubby Kyungjong dan memegang-megang tangannya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, kelihatannya Sena sudah tumbuh menjadi sosok seorang kakak yang baik seperti Ibunya. Sehun menerima kunci mobil Kai dan pergi setelah sebelumnya ikut-ikutan mencubiti kedua pipi Kyungjong seperti yang dilakukan oleh putrinya.
Seperginya Sehun, Kai mengambil ponsel dan mengetik pesan singkat pada Kyungsoo. Sementara lagi-lagi tangan Kyungjong tidak mau diam dan berusaha meraih ponsel yang dipegang oleh Ayahnya sambil mengeluarkan ocehannya yang absurd seperti biasa.
[Kai] Sehun akan menjemput kalian.
[Kyungsoo] Jinjja? Ah, syukurlah...
[Kai] Apa yang harus aku lakukan pada Kyungjong sekarang?
[Kyungsoo] Mandikan dia, lalu buat susu, dan ajak dia tidur.
Kai berdecak keras. Memandikan, membuat susu, dan mengajak tidur. Itu semua adalah hal yang belum pernah dia lakukan sama sekali. Sedangkan di gendongannya, Kyungjong masih asyik mencoba mengambil ponsel Appa-nya tanpa tahu kerisauan hati orang tuanya itu.
Kai membuka phone list, mencari nama orang yang kira-kira bisa menerima sinyal S.O.S-nya. Kai menggeser satu nomor dan menempelkan speaker ke telinganya. Terdengar sebuah jawaban di seberang sana.
"Baekhyun Noona, bantu aku~!"
-TBC-
Yehett~ ketemu lagi di kehidupan family EXO ala Myka Reien^^ lol
Awalnya mau posting kisah ChanBaek, tapi ternyata ide yang ini menghantam tanpa direncanakan dan akhirnya berakhir dengan release lebih dulu. I am always like that, getting distracted easily ㅠㅠ
Belajar dari Room yang punya 16k kata tapi cuma dibagi dalam 2 chapter dan mungkin udah bikin kalian mabok bacanya karena puanjang sangat, kali ini author bagi chapter-nya dengan lebih pendek. Mian yaa~ ㅠㅠ
Soal Kyungjong, pas nulis si kecil ini entah kenapa aku gak bisa gak mikirin Taemin SHINee. Karena Kyungjong itu kayak 'versi putih' dari Kai, jadi mungkin profil Taemin SHINee bakalan cocok buat dia kali ya, secara 'kan mereka berdua mirip. lol gimana menurut kalian?^^
Silakan kalau ada yang punya uneg-uneg, let's share everything fun^^
C U in chapter 2❤
Wanna read more? Review first please~^^
Buat yang gak punya akun di FFN & pengen review-nya dibales, bisa mention author lewat twitter / ask . fm (lihat di profil)^^ boleh juga kalo mau gangguin author, kepo tanya2 kapan update, berdemo, protes, apalagi ngasih es krim gratis & cookies (?) author is VERY WELCOME~!❤
FYI: I always share about the update in twitter, so just check my twitter to know about fast update and more^^
Kamsahamnida~ *bow*
