Rated: T
Disclaimer: These chara is totally belongs to Mashasi Kishimoto, but this fic is officially mine.
Warning: bahasa gajelas, alur lompat-lompat, setting gajelas, OOC tingkat dewa, Crack pairing dsb
SasuTen slight ItaTen
Read it with ur own risk(:
Couple words from author:
Hai minna! author kembali lagi hehe, karena bingung mau ngapain ditengah puasa akhirnya aku ngebut ngelanjutin fic ini dan sekarang langsung aplot ke chap tiga hehe, oh iya sebelumnya aku mau ngucapin selamat beribadah puasa bagi yang menjalankan ya hehehe, semangat puasanya bentar lagi buka minna! hehe, okee balas reviews dulu yaa
Youthful Flower: holaa ama-chan, bagaimana nih fic request mu, semoga kamu suka yaa hehe. waduh ._. udah baca kan tapi? hehehe, di fav?! :O makasih yaa ama-chan hehe.
Fumiyo Nakayama.71: wah kamu udah terharu ._. dibagian mananya hehehe ._. tenang aja aku pasti bikin kok hehe :3
yosh segitu aja balasannya hehe, okay kita simak saja ceritanyaa!
Chapter 3
Setelah memarkirkan mobil Mini Cooper Paceman S miliknya di sisi jalan. Tenten segera keluar. Tepat seperti dugaannya, seorang laki-laki dengan mantel abu-abu dan berambut gelap tengah berjalan di trotoar disebrang Tenten berdiri saat ini. Bisa Tenten lihat, laki-laki itu tengah menggenggam cangkir karton berwarna hijau dengan tangan kirinya dan ya, perban coklat itu masih melekat di tangannya. Begitu gadis itu melihat si rambut gelap menaiki tangga menuju salah satu gedung apartemen, Tenten segera berlari kecil menyebrangi jalanan. Untung saja tangannya berhasil menyangga pintu apartemen sebelum benar-benar tertutup. Begitu Tenten masuk, pintu lift berwarna keemasan didalam apartemen itu sudah tertutup. 'Pasti ia sudah naik kedalam.' Tanpa membuang waktu, Tenten segera berlari kearah tangga dan berlari menaiki anak tangga demi anak tangga dengan kakinya. Tak dihiraukannya rasa sesak didada karena kelelahan berlari menaiki tangga. 'Apartemen didaerah Riverside, lantai dua nomor 231.' Batin Tenten berusaha mengingat alamat lengkap yang ia dapat dari Itachi tadi malam.
Setelah insiden membentak kemarin, Tenten tidak bisa berpikir dengan tenang. Dirinya selalu dibayangi perasaan bersalah, ditambah karena sudah memarahi Sasuke. Jadi Tenten membulatkan tekad untuk datang ke apartemen Sasuke dan memintamaaf bahkan melakukan sesuatu kalau itu bisa membuat Sasuke tidak membencinya atau setidaknya memaafkannya. Tsunade selalu mengajarkan Tenten untuk selalu meminta maaf ketika ia melakukan kesalahan apapun kondisinya. Dan Tenten selalu menanamkan ajaran ibu pantinya itu sampai ia tumbuh dewasa dan pindah ke New York. Dan akhirnya tadi malam, Tenten meminta alamat lengkap Sasuke kepada Itachi. Laki-laki berambut panjang itu sebenarnya ingin mengantar Tenten ke kediaman adiknya, karena ia sendiri tidak yakin kalau Sasuke akan menerima atau mungkin mau berbicara dengan Tenten, tapi karena ada suatu proyek yang harus ia kerjakan, ia pun tidak bisa menemani Tenten. Tenten maklum akan hal itu, ia malah bersyukur Itachi tidak datang bersamanya, karena ia tidak mau melihat Sasuke berbicara pedas pada kakaknya dan membuat amarah Tenten membuncah lagi.
Setelah lima menit berlari menaiki tangga, Tenten pun sampai di lantai dua. Dan untungnya, letak anak tangga tidak jauh dari apartemen Sasuke. Terbukti begitu Tenten sampai, Sasuke pun sudah berdiri dihadapan sebuah pintu. Dan sepertinya Sasuke menyadari keberadaan malaikat mautnya, karena ia menolehkan kepala dan melangkah menjauh. Seolah tidak peduli dengan reaksi Sasuke, Tenten berjalan menghampiri laki-laki itu. Gadis itu sudah menyiapkan mentalnya untuk kondisi terburuk. Misalnya, Sasuke membentaknya, atau malah mengusirnya pergi. Meski Sasuke melemparkan tatapan setajam elang yang seolah berkata 'Jangan mendekat atau kau akan mati' Tenten tetap melangkahkan kakinya mendekat kearah Sasuke, ia harus meminta maaf kepada Sasuke kalau ia ingin bisa menikmati hidupnya lagi tanpa beban pikiran.
Tenten berhenti ketika ia sudah berada didekat Sasuke, gadis itu menundukan kepalanya, berusaha menormalkan ritme nafasnya yang tersengal-sengal Karena ngebut menaiki tangga tadi.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tenten hanya bisa terdiam ketika mendengar pertanyaan yang terdengar lebih tajam dibanding yang ia perkirakan. Setelah merasa nafasnya sudah kembali normal dan kepalanya tidak lagi berdenyut, Tenten meregangkan tubuhnya. Mata hazelnya menatap wajah Sasuke yang ternyata sangat… datar.
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu atas segalanya. Soal tanganmu, soal aku yang memarahimu kemarin dan… krim keju serta coklat panas yang mengotori baju serta err rambutmu."
"Kau sudah tahu kecerobohanmu itu berakibat buruk padaku?"
"Membuatmu tidak bisa bermain piano selama satu bulan?" Tanya Tenten ragu, Sasuke sedikit kaget namun laki-laki itu menyembunyikan ekspresinya dengan baik. "Bukan hanya itu, aku harus membatalkan beberapa recital yang sudah ku sepakati hingga akhir tahun." Ujar Sasuke dengan nada yang sangat tajam. Ditambah lagi tatapan tajam yang tak henti-hentinya menatap Tenten, tatapan itu seolah berbicara kepada Tenten 'Kau tahu? Kau yang bersalah, kau salah.'
Tenten tahu bahwa ia salah, dan ia sangat menyesal. Ditambah lagi dengan pernyataan yang barusan diberitahukan Sasuke, bahwa laki-laki itu harus membatalkan resitalnya, tanpa diberitahu tentang pembatalan itu Tenten pun sudah cukup merasa bersalah, apalagi dengan diberitahu?
"Aku minta maaf, aku akan membayar sebisaku dengan apapun.. aku benar-benar-"
"Pulang." Tenten mengerjap tak percaya sementara Sasuke hanya menatap Tenten dengan tatapan merendahkan.
"Apa?"
"Kubilang, pulang."
"Tapi aku hanya ingin minta ma-"
"Sudah selesai, kau sudah meminta maaf padaku bukan? Dan permintaan maafmu itu tidak bisa mengganti kerugian atas pembatalan resitalku, permintaan maafmu tidak bisa menyembuhkan tanganku jadi lebih baik sekarang kau pulang sebelum kau melukai tanganku yang satunya."
Tenten masih terpaku karena kata-kata setajam silet yang menyayat pendengarannya. Ternyata sosok Uchiha Sasuke lebih mengerikan dari yang ia bayangkan, lihat dia? Sikapnya dua kali lebih menyebalkan hari ini. Tenten mengangkat kedua bahunya. "Baiklah.. kau benar, permintaan maafku memang tidak akan bisa mengubah segalanya, aku tahu aku sudah sangat merugikanmu. Dan ya, soal melukai tanganmu yan satunya itu bisa saja terjadi. Baiklah… aku permisi dulu, Uchiha Sasuke." Ujar Tenten dengan penekanan di nama laki-laki tersebut. Setelah berkata seperti itu Tenten melangkahkan kakinya kearah lift. Sudah selesai, yang terpenting ia sudah meminta maaf pada Sasuke. Tak peduli laki-laki itu menerima permintaan maafnya atau tidak, yang penting Tenten sudah meminta maaf, dan acara meminta maaf ini selesai lebih cepat dari yang ia duga, dan itu bagus. Dengan begitu Tenten punya waktu luang untuk ber skating ria sebelum murid-muridnya datang.
Tenten segera memencet tombol anak panah kebawah disebelah pintu lift ketika ia berdiri didepan lift. Setelah itu ia berdiri diam, menunggu pintu lift terbuka. Sementara Sasuke masih sibuk dengan kuncinya. Ia bingung bagaimana ia bisa membuka pintu apartemennya.
Tangan kanannya tak bisa digerakan, tangan kirinya menggenggam kunci dan cangkir kopi yang tadi pagi ia beli di kedai kopi tak jauh dari apartemennya. Harus kalian tahu, membuka pintu apartemen itu tidaklah semudah membuka pintu biasa. Kau harus memutar kunci dan membukanya secara bersamaan, berbeda ketika kau berada didalam apartemen, kau hanya perlu memutar kunci lalu memutarnya. Dan hal itu terlupakan oleh Sasuke, ia lupa bahwa tangan kanannya harus libur bertugas selama satu bulan kedepan. Dengan frustasi Sasuke menghentakan kakinya kelantai kayu apartemen dan hal itu membuat Tenten sedikit terlonjak kaget. Gadis itu menolehkan kepalanya.
'Apa Sasuke pingsan?' Namun dugaannya salah, yang bisa ia lihat hanya sosok laki-laki dengan mantel abu-abu yang berdiri membelakanginya.
'Ada apa dengannya? Kenapa dia masih berada disana? Apa ia ingin memastikan bahwa aku benar-benar pulang?'
Pertanyaan Tenten terjawab ketika mendengar geraman kesal dari arah Sasuke berdiri. 'Kenapa dia? Apa dia kesal karena… ah tentu saja! Tangan kanannya kan sedang sakit, pasti ia tidak bisa membuka pintu.'
Tenten hampir saja tertawa ketika melihat Sasuke kembali menghentakan kakinya. 'Sepertinya aku mulai menikmati pertunjukan ini.' Batin Tenten sambil tersenyum geli. TING! Dentingan lift membuat Tenten menoleh kearah lift. Tenten tidak langsung masuk kedalam lift, dirinya menimbang-nimbang. Apakah ia akan meninggalkan Sasuke begitu saja? Membiarkan Sasuke terkurung diluar sampai tetangganya atau mungkin Itachi datang?
Tenten akhirnya memutuskan untuk berbalik, meninggalkan pintu lift berwarna kekuningan yang sudah terbuka, menunggu orang yang memencet tombol untuk segera masuk. Tenten berhenti ketika ia sudah berada didekat Sasuke yang masih berusaha membuka pintu.
"Kau butuh bantuan?" Tubuh Sasuke terlihat sedikit tersentak kaget. Terang saja ia kaget, karena ia mengira gadis sial itu sudah pulang, dan ia berharap bahwa tetangganya yang datang. Tetapi harapannya tak terkabul, malaikan mautnya kembali datang.
'Apa lagi yang ia inginkan dariku? Belum puaskah ia melihatku seperti ini?' Batin Sasuke yang mulai terlihat melankolis. Melihat Sasuke yang tidak menggubris tawarannya membuat Tenten merasa jengkel, meski begitu gadis itu berusaha menahan amarahnya untuk meledak.
"Aku bisa membantumu membuka pintu itu, atau memegang kopimu agar tidak tumpah." Setelah mendengar kata-kata Tenten, Sasuke terdiam sejenak, ia tidak lagi berusaha membuka pintu apartemennya. Ia pun berbalik dan menyerahkan kunci yang terbuat dari logam kepada Tenten. Setelah menerima kunci apartemen Sasuke, Tenten pun melangkah melewati Sasuke dan membuka pintu apartemen dengan mudah. Setelah itu, Tenten menyingkir sedikit agar Sasuke bisa masuk kedalam.
Laki-laki itu tidak menghiraukan Tenten, ia tidak menyuruh Tenten masuk ataupun pulang. Karena kunci apartemen Sasuke masih ada ditangan Tenten, Tenten memutuskan untuk masuk kedalam apartemen Sasuke dan mengembalikan kunci apartemen laki-laki itu lalu segera kembali ke ice rink, ia tidak ingin berlama-lama bersama Sasuke, berada beberapa menit didekat laki-laki dingin itu membuat mood Tenten hancur begitu saja.
"Kau lupa kuncimu, Sasuke." Ujar Tenten yang berjalan menghampiri Sasuke yang sedang menikmati kopinya diatas sofa kulit bewarna hitam.
"Taruh saja dimeja." Jawab Sasuke singkat padat dan jelas. Laki-laki itu mengernyit ketika merasakan cairian dingin dan hambar melewati tenggorokannya. "Kau baik-baik saja?" Tanya Tenten yang ternyata memperhatikan ekspresi aneh yang sempat terpeta diwajah Sasuke.
"Kopi ini… sangat buruk." Ujar Sasuke seraya meletakan kopi itu diatas meja dan mendorongnya menjauh. "Kenapa kau masih ada disini?" Tanya Sasuke sambil menoleh kearah Tenten. Lagi-lagi Tenten harus menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. Tapi amarah itu surut ketika matanya menjelajahi apartemen Sasuke yang terlihat sangat berantakan. Apalagi ketika secara tak sengaja mata hazel nut Tenten hijrah di dapur kecil apartemen itu. Di sebuah counter marmer disana, terlihat sebuah bungkus kopi yang tercabik dengan cangkir yang terbalik. Tenten berasumsi bahwa laki-laki ini mencoba membuat kopi dengan satu tangan dan akhirnya gagal.
Sementara Sasuke hanya menatap tajam kearah gadis yang berdiri tak jauh darinya. Ia masih heran kenapa gadis itu masih berdiri disini.
'Apa dia mau mencelakaiku lagi?' Batin Sasuke kesal. "Kau yakin tidak apa-apa tinggal sendiri disini?" Pertanyaan gadis itu membuat Sasuke sedikit kaget. "Sudah lima tahun aku tinggal di apartemen ini dan lihat? Aku masih hidup bukan." Tenten memutar kedua bola mata hazelnya, berbicara dengan Sasuke sangat memerlukan ketebalan kesabaran, Tenten mengakui itu.
"Maksudku, apa kau baik-baik saja tinggal sendirian disini dengan kondisi tanganmu yang… seperti itu." Sasuke hanya bisa terheran-heran. Kenapa? Kenapa gadis ini terlalu perhatian padanya? Bukannya geer, tapi Sasuke merasa bahwa gadis disampingnya ini seperti mengkhawatirkannya? Padahal dari awal mereka bertemu Sasuke sama sekali tidak menyodorkan senyuman manis, mereka pun tidak pernah mempunyai perbincangan yang menyenangkan.
Sementara Tenten hanya bisa termenung diam. Gadis ini bingung, ia bingung karena ia begitu perhatian pada Sasuke. Ia bingung kenapa dia bisa sebegitu peduli pada laki-laki yang jelas-jelas menginginkannya pergi menjauh?
"Sudahlah lebih baik kau pulang, aku lelah." Ujar Sasuke sambil memijat batang hidungnya dengan kedua jarinya.
"Bagaimana kalau aku membuatkanmu makan siang dan segelas kopi sebelum aku pulang, aku tidak yakin meninggalkanmu sendirian tanpa makanan." Ujar Tenten yang akhirnya menatap laki-laki yang tengah duduk tak jauh darinya. Itu benar, meskipun Tenten tidak menyukai laki-laki ini tapi tetap saja Tenten tidak tega jika melihat Sasuke kelaparan. Ya hitung-hitung sebagai permintaan maaf. "Tidak perlu, aku bisa delivery, dan soal kopi… lupakan, aku sudah tidak ingin meminum kopi." Tenten mendengus kesal.
"Sudahlah, tidak apa-apa, hitung-hitung sebagai permintaan maafku." Sasuke kembali menghela nafas panjang, ia benar-benar bingung dengan gadis ini. "Baiklah, kalau kau berkeras hati." Kenapa dia begitu keras ingin membantu? Kenapa dia begitu peduli pada Sasuke. Setelah mendengar kata-kata Sasuke, Tenten segera melepaskan mantelnya dan menggantungnya di penyangga mantel, lalu gadis itu segera melenggang menuju dapur yang terletak disamping ruang duduk. "Apa kau mau meracuniku?" Pertanyaan Sasuke membuat Tenten menolehkan kepalanya.
"Eh?"
"Kau berkeras hati ingin membuatkanku makan siang, apa kau berencana untuk meracuniku?" Tenten hanya bisa membekap mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawanya yang akan meledak.
"Tentu tidak, baka. Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu."
"Itu bisa saja terjadi bukan? Kau sudah mencelakaiku, membuat tanganku patah, ada kemungkinan kau mau membuatku mati karena keracunan."
"Perlu kau ketahui, Uchiha Sasuke. Kejadian kemarin sepenuhnya ketidak sengajaan, aku sama sekali tidak berniat menabrakmu dan juga, tanganmu terkilir, bukan patah."
"Terkilir, patah. Apa bedanya? Aku masih tetap tidak bisa menggerakan tanganku." Tenten hanya bisa terdiam, ia memilih untuk tidak menggubris kata-kata Sasuke, percuma saja, tidak akan memperbaiki keadaan. Sementara Tenten tengah sibuk didapur, Sasuke sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada apa dengan gadis itu sebenarnya? 'Kenapa dia begitu peduli padaku?'
yosh! chappie 3, gimana-gimanaa? hehehe, disini udah mulai keliatan ya bagaimana Sasuke benci banget sama Tenten ._. jujur aku sangat menikmati saat ngetik tentang perdebatan Sasuke dan Tenten hehe, baiklah itu aja terakhir reviews please (:
