Disclaimer : Naruto bukan punyaku, and jujur aja itu sayang banget... Cih... Ternyata aku masih kalah juga ngelawan oom Kishi di pengadilan... Hmmm... Ada yang tahu pengacara bagus yang bisa bikin aku menangin Naruto dari oom Kishi?
Warning : Yaoi. Yang ga ska ato phobia sama cerita kaya gini ga usa coba coba nyentuh.
Rating : Hmmm. Yang kayaknya agak 'parah' disini cuma adegan ciumannya. Ga ada yang gimana banget sie... Jadi apakah ini ratingnya T ato M?
Pairing : Sasunaru. Nurut gw bahkan pasangan Edward-Bella aja blum bisa nyaingin mereka.
A/N : Sori ya, kayaknya chap ini blum ada lemonnya. Tapi coba aja chap 4 ya? Blakangan nanti Itachi bakal muncul... Sebagai protagonis tentunya... Klo bukan chap 4 ya chap 5. Jadi, para pecinta Itachi, bersoraklah!! Chap 3 eman musingin banget. Coz ceritanya skip beberapa minggu. Di cerita ini Naru sudah merasakan 'getar getar cinta' *O my gawd, garing abis*, tapi tentu aja blum nyadar klu dia suka... Well, buat para pembaca yang ga ska sama gaya cerita chap 2, kayaknya kalian bakal kecewa di chap 3 de... Kurang lebih sama sih...
Thanks to :
*) zhavhu . ludicrous : Wkwk... diantara semua ripiu yg saia dapet, punya kamu yang paling heboh tuh. Wkwkwkwk... Klu soal lemon... Yang ini jga ga ada lemon... duh... sori yach... Klu bisa sie, maw diajarin... (Pasrah kalau seandainya keluguan saia bakal dikorupsi) Wkwkwk
*) chaa a.k.a panda-kun : Aku da baca fic-mu, and aq suka kok. Cuma blum selese... Wkwk... Pasangan Itachi? Bukan OC, tenang aja. Maw tau siapa? Maw tau? Jawabannya adalah... Setelah chapter chapter berikut ini... Hehe... Aq eman masi baru juga niech... blum banyak pengalaman, duh... makanya aq butu bgt review and kritik nie!!!
*) VongoLa-al : Tq berat bwat ripiunya!! Eman banyak yang protes gara gara itu sie... hehe.... Lime chap 1 kurang 'panas'. And kenyataannya chap ini juga ga parah... Please, stay with this for the moment! Bkal ada lime kok, and jelas lebih parah. Tapi di chap chap kedepan... Gipsi yang dibawa Itach? Haha...
*) cha-chan.d-psycoholic : Lebi detail? Makasi yach!! Eman lebi detail siech... Klo chap 3 ini gimana? Penggunaan titik lebi dari 3 ato kelipatannya sudah diusahakan. Tapi klu masi ada yang ga, bakal jauh lebih baik di chap depan kok!! Cwenya Itach? Smuanya juga nanya hal yang sama... Biar lagi ujian, emang dilanjut kok!! Walo seandainya ujian final, ujian akhir tahun, ujian kelulusan juga bakal lanjut!!
Jumlah huruf : 2922
Terkadang, apa yang sebenarnya kita inginkan tersembunyi jauh didalam...
Tak tersentuh, bahkan oleh diri kita sendiri
-Anastasya Debbie-
Naruto memeriksa jadwal kegiatan Sasuke. Mata saphirenya sibuk memperhatikan barisan huruf huruf diatas sebuah notes berwarna putih yang sampulnya disulam dengan kain sutra putih dan benang emas. Jari jarinya mengetuk ngetuk meja dari kayu meranti yang dilapisi dengan kain sutra berkualitas terbaik.. Ia menghela nafas. Daripada pelayan pribadi, lebih tepat kalau seandainya ia dibilang sebagai sekretaris sekaligus pelayan Sasuke.
Ia masih mengingat bagaimana mata para pelayan membelalak begitu mendengar teriakan dan hinaanku pada laki laki yang seharusnya kupanggil 'tuan' ini. Bagaimana tidak kaget? 'Brengsek' adalah kata yang mungkin tidak pernah ditujukan pada laki laki sempurna ini. Well, nyaris sempurna kalau seandainya sikapnya yang menyebalkan itu menghilang.
Mungkin yang amat mengagetkan para pelayan itu adalah fakta bahwa Sasuke tidak marah dan justru balas mengejek seakan sedang bermain main. Sasuke bahkan membiarkan gadis ini memanggilnya dengan namanya langsung; tanpa embel embel 'tuan' atau 'majikan' atau 'monsieur', 'sir', 'signore','herre', atau apapun itu lah! Yang pasti ia tidak menggunakan rasa hormatnya sama sekali, dan melihat reaksi Sasuke yang malah senang, ini bagaikan pukulan yang amat kuat bagi para pelayan.
Terkadang apa yang sebenarnya diinginkan tersembunyi jauh didalam. Naruto ingat kata kata ibunya. Apakah... kata kata kasarku yang diinginkannya? Yang diinginkannya.... Wajah Naruto memerah. Ia ingat dengan jelas apa yang terjadi beberapa minggu lalu. Sampai saat ini Naruto masih tidak dapat percaya kalau hal itu benar benar terjadi. Itu pertama kalinya!! Sial!!!! Well, setidaknya ia tidak akan menikah berhubung ia adalah seorang pelayan sekarang.
Tapi, tetap saja...... Ukh...... "Lupakan saja, Naruto!! Lupakan! Konsentrasi pada pekerjaan didepanmu!! Hmm, makan siang dengan Count Hyuuga, Pertemuan membicarakan pekerjaan, Mengurus dokumen dokumen resmi, dan.... wow..... banyak sekali.... ", Naruto terkagum kagum melihat jadwal kegiatan Sasuke. Luar biasa. Ini semua kegiatannya? Apa dia punya waktu untuk istirahat kalau begini? Ternyata tidak mudah jadi seorang terpandang. 3 halaman hanya untuk satu hari?
Naruto mengingat pagi hari tadi. Sasuke tidur diluar lagi, diatas sofa lembut dari bulu angsa di beranda. Padahal malam hari pastinya amat dingin kan? Naruto mengetahuinya. Apakah Sasuke akan baik baik saja? Dengan jadwal seperti ini?
Sasuke pulang dari pekerjaannya. Letih, namun tentu saja tidak akan pernah diperlihatkannya pada orang lain. Harga dirinya terlalu tinggi untuk terlihat lemah, bukan begitu? Ia sudah menanggalkan seragamnya dan mengenakan tuksedo yang sederhana dan nyaman. Ia merebahkan tubuhnya diatas sofa coklat yang berhiaskan sulaman sulaman dari benang emas. Bahannya yang terbuat dari kain membuatnya terasa hangat ditengah musim dingin yang membeku itu. Ia memejamkan matanya, berusaha menikmati hangatnya api perapian. Hidungnya menghirup nafas panjang panjang.
Bau kayu apel. Ia membuka mata obsidiannya perlahan lahan. Memperhatikan api dari perapian yang sebenarnya tidak terlalu membantu akibat suhu yang amat sangat membekukan tulang ini. Malam ini bahkan lebih dingin daripada malam sebelumnya. Oh, matanya mulai berkunang kunang lagi. Ia sebal sekali setiap hal ini terjadi. Ia sibuk, oke? Dan sakit flu atau sakit apapun adalah musuh terbesarnya. Setidaknya, ia akan mati terhormat bila wafat ditengah medan perang. Dan bila ia sakit? Adanya ia hanya akan dicap manja karena membolos dengan alasan 'sakit'.
Semua orang tahu bahwa petugas yang ijin dengan alasan 'sakit' sering kali hanya membolos saja. Sasuke tentu tidak termasuk diantara pemalas pemalas itu kan? Sasuke adalah seorang jendral yang amat terpandang. Ia rajin, pintar, tampan, dan masih muda. Ditambah dengan posisinya sebagai seorang count. Semua orang mengidolakan dan menggantungkan harapan padanya. Ia diandalkan oleh orang orang. Bila ia sakit dan membolos, ia hanya akan kehilangan rekor sempurnanya.
Pandangannya mengabur. Padahal ia tidak meminum anggur malam ini. Tampaknya bukan merupakan ide yang cukup baik untuk menyesap segelas wine dalam keadaan seperti ini. Ia melirik ke sekeliling ruang tersebut. Ruang pribadi yang dilihatnya setiap hari. Membosankan. Hanya terdiri dari kain sutra yang melapisi tembok, furnitur furnitur dari kayu jati, beberapa botol minyak aroma terapi, sofa yang sedang ia duduki, 2 rak buku besar yang dipenuhi buku buku kesayangannya, dan kepura puraan yang terasa dingin dan kosong.
Dingin dan kosong persis seperti hatinya. Sebelum sang malaikat datang dan menyelakan lilin mungil dalam hatinya dalam wujud seorang gadis gipsi yang manis dan cantik luar biasa, tentu saja. Tak disangka sangka, ternyata Tuhan masih mau memperhatikan makhluk rendah seperti aku. Yang tidak ada harganya dan hanya akan menghabiskan hidup di kedalaman kabut dan bayangan malam yang gelap.
Hidupnya yang bagai lumpur, penuh kepura puraan dan kosong. Tiba tiba saja Tuhan membawakannya sebuah kejutan yang indah. Atau mungkin ini hanya salah satu cara Tuhan menyindir Sasuke? Kelopak mata Sasuke memberat perlahan. Matanya seaskan berkabut. Ia juga amat pusing. Perlahan lahan, kesadarannya menghilang.
KRIEEETT.....
Eh? Ada yang membuka pintu ruanganku? Siapa? Ada yang melangkah kearahku. Dekat. Cahaya dari luar ruangan terang sekali. Apa itu malaikat yang datang? Tangan itu menyentuh pundakku. Hangat. Ia memanggil namaku. Wajahnya cantik sekali. Seindah suara beningnya. Eh? Kenapa wajahnya pucat sekali? Ia berteriak teriak. Memanggil Tayuya? Ya Tuhan, wajahnya amat ketakutan. Kenapa ia menangis? Ia memanggil namaku lagi dan wajahku disentuhnya. Ia makin panik. Kenapa tangisnya malah semakin keras? Aku ingin mengatakan sesuatu. Tolong jangan menangisi aku.
Ia memanggil Tayuya lagi. Kali ini ia segera berlari keluar ruangan. Tolong, jangan tinggalkan aku. Tolong... jangan...... tinggalkan...... a-......
"Ku....ku....ku....."
Suara apa itu? Burung merpati? Hangat...... Jam berapa ini? Ukh.... kepalaku.... Perlahan Sasuke membuka mata obsidiannya. Ruangan ini..... Terasa familiar..... Kamarku? Ya, rak buku besar berwarna hitam, meja kecil berbau cinnamon yang dipelitur kasar, lampu gantung yang sederhana namun berkesan mewah, bau sutra dan sedikit lavender yang tertangkap hidung Sasuke. Ini memang kamarnya.
Sasuke mengerang. Kepalanya terasa pusing dan sedikit sakit ketika ia tiba tiba bangkit. Ia membelalakkan matanya, tertumpu pada sosok yang menimpa tubuhnya. Bulu mata yang lentik, rambut pirang dan ikal yang tergerai lembut berhiaskan bando berwarna merah yang dipakainya agar rambutnya tidak menghalangi penglihatannya, kulit kecoklatan yang membuatnya terlihat amat sangat manis, dan bibir merah nan mungil yang mengundang untuk dicium. Ini Naruto.
Wajah manis yang tidak mungkin dan tidak akan ia lupakan itu tampak seperti malaikat. Begitu tenang dan damai... Sasuke baru menyadarinya. Pakaiannya sudah diganti dengan jubah tidur berwarna putih yang lembut dan kering. Setelah melihat lap basah yang dipegang Naruto, Sasuke menyadari alasan wajahnya tetap kering walau bagian tertentu tubuhnya basah oleh keringat.
Perlahan, ia angkat tangannya dan menyentuh pipi gadis itu perlahan. Dengan hati hati ia gerakan tangannya dari tulang pipi ke dagu Naruto berulang ulang.
Jangan sampai ia bangun. Air muka Sasuke tiba tiba berubah. Ia melepaskan tangannya dari pipi Naruto secara tiba tiba. Wajahnya pucat. Tidak, tidak, ia tidak boleh... Setelah menghabiskan beberapa malam untuk berpikir dan merenung... Ia tidak boleh merasakan hal ini. Naruto berasal dari kelas sosial yang amat, sangat, berbeda.
Bila bersamanya Naruto hanya akan tertekan dan menderita. Tekanan di lingkungan kalangan atas... Gadis ceria dan begitu 'bercahaya' seperti Naruto tidak akan sanggup... Sasuke menghela nafas untuk mengembalikannya dari lamunan tersebut. Tuhan... Apa kau sedang tertawa sekarang? CaraMu mempermainkanku sungguh lucu. Kau sedang tertawa kan? Melihatku seperti ini; tak berdaya dihadapanMu dan gadis kecil nan lemah ini.
Apakah Kau puas; memainkanku dengan membuatku jatuh hati pada gadis yang tidak mungkin kumiliki? Apakah gadis ini berkat dariMu atau justru merupakan salah satu caraMu untuk membunuhku perlahan? Padahal Kau tahu, aku tak mungkin menolak cahaya yang Kau kirim ini; walau kematian adalah harga yang harus kubayar. Bagaimana mungkin aku lebih memilih menjalani hidupku yang bagai lumpur daripada cahaya dari surga seperti ini?
Sasuke menghela nafas lagi. Untuk apa aku bersungut sungut? Memang Tuhan mendengar? Sasuke menatap Naruto dalam dalam; memastikan ingatan akan wajahnya terpatri kuat kuat di ingatannya. Sasuke tidak ingin kehilangan sedetikpun kesempatan bersamanya. Tuhan, setidaknya tolong jangan ambil dia daripadaku...
"Sasuke, kamu yakin sudah sembuh?", Naruto khawatir, keningnya berkerut. "Hn.", Sasuke malas menjawab pertanyaan Naruto. Alisnya bertaut. Bagaimana ia tidak jengkel? Ini sudah keberapa-juga-sudah-tidak-tahu-lagi-saking-seringnya kalinya Naruto menanyakan hal yang sama! Naruto kesal mendengar jawaban itu. "Dasar brengsek!", bisiknya jengkel. Sasuke hanya tersenyum dan tertawa dengan hidungnya. Naruto makin sebal melihatnya.
Padahal Sasuke hanya beristirahat selama 1 hari saja. Walau dokter bilang dia butuh setidaknya 3 hari penuh istirahat, namun Sasuke menolak dan hanya libur selama 1 hari. Itupun karena waktu ia bangun, saat itu sudah pk. 11.00 dan Sasuke memang sudah terlambat. Tangan Naruto masih terus bergerak. Jari jarinya membentuk kain sutra itu sehingga berbentuk dasi. Ia menariknya dengan hati hati agar Sasuke tidak tercekik. "Nih, sudah selesai. Tapi, hari ini jadwalmu padat. Ada pesta di kediaman keluarga Akimichi. Apa kau akan ba-mph!"
Sasuke mencium Naruto dengan paksa. Tangan kirinya yang tadi memegang kepala Naruto diturunkannya dan merengkuh pinggang Naruto kuat kuat, sedangkan tangan kanannya menekan kepala Naruto ke bibirnya. Sasuke melumat bibir Naruto dengan rakus, membuat Naruto semakin kehabisan nafas. Suhu disekitar Naruto tiba tiba saja terasa panas... Kepala Naruto terasa pusing sekali.
Naruto akhirnya berhasil mendorong Sasuke hingga Sasuke melepaskannya. Naruto terengah engah dan terpaksa menggunakan salah satu meja dari kayu mahoni disekitarnya untuk menopang tubuhnya. Panas... kepalaku pusing... Naruto mendongak sedikit untuk melihat ekspresi Sasuke. Benar saja, alis Sasuke naik dan matanya terlihat khawatir serta bingung.
"Hei, aku belum pernah berlatih menahan nafas, brengsek! Biarkan aku mengambil nafas sebentar dong!", seru Naruto cepat cepat. Bagaimanapun, tampan itu memang kutukan. Naruto tidak mungkin tega bersikap tidak suka pada laki laki bagai malaikat ini kan? Selain itu, Naruto juga tidak terlalu merasa keberatan...
Sasuke tersenyum tulus. Senyuman yang sangat hangat dan seakan bercahaya. Tidak. Kali ini bukan seakan akan lagi. Ia benar benar mengeluarkan cahaya terang yangamat indah. Benar benar tak terkatakan lagi. Mungkin bisa dibilang... aura? Naruto terkagum kagum sesaat. Ia bahkan lupa apa yang baru saja ia katakan dan pikirkan sebelumnya. Benar benar kosong... Ketampanannya memang menakutkan, tapi mungkin senyumannya...
Ini jelas jelas senyuman yang ia lihat kemarin pagi ketika ia bangun dan mendapati Sasuke sudah sadar dan memperhatikannya. Tiba tiba saja ia disambut oleh senyuman yang membingungkan itu. Bayangkan saja, kondisi Naruto yang baru saja bangun ditambah dengan senyuman maut Sasuke. Seharian itu Naruto tidak bisa berpikir. Benar benar tindakan tolol; membiarkan dirinya terlihat begitu bodoh didepan Sasuke dan pelayan lain.
"Lihat, kan? Nafasku bahkan lebih panjang daripadamu. Itu tandanya aku sudah baik baik saja.", bisiknya lembut, namun cukup untuk diingat Naruto seumur hidup. Suaranya begitu manis... Naruto dapat merasakan sensasi terbakar merayapi wajahnya, terutama pipi. Sasuke tersenyum jahil. "Atau kau mau satu lagi?", katanya seraya membelai bibir ranum Naruto dengan jemarinya yang panjang dan kurus. Naruto dapat merasakan seluruh pembuluh darah di wajahnya meledak. Wajahku, kepalaku, panas lagi...
Sasuke tertawa kecil. "Naruto, nanti pk. 19.00 kamu sudah harus siap dengan gaun yang pantas. Biar Tayuya yang menyiapkannya. Aku akan menjemput.", katanya seraya membuka pintu ruangan tersebut yang penuh ukiran ukiran cantik dengan warna putih yang amat lembut.
Naruto tidak mengerti dan menatap mata obsidian Sasuke dengan mata yang mengatakan; 'Aku tidak mengerti. Apa maksudmu? Tolong beri penjelasan'. Sasuke tersenyum sedikit, namun senyum itu segera ia ganti dengan ekspresi merendahkan Naruto. Ia menghela nafas panjang panjang. Ia mengerti tatapan Naruto itu. Walau baru mengenalnya selama beberapa minggu, namun ia sudah amat memahami Naruto. Tatapan bodohnya-yang sebenarnya membuat Naruto semakin terlihat imut- itu pasti artinya wanita itu tidak mengerti.
"Ah, aku berangkat dulu.", kata Sasuke sembari keluar dari rumah itu. Kereta kudanya sudah menunggu diluar. Naruto menemani Sasuke disisinya. Masih memasang tampang yang selalu diejek sebagai 'tampang idiot' oleh Sasuke. Sasuke sebenarnya ingin sekali memberikan satu ciuman lagi untuk Naruto. Wajahnya membuat Sasuke merasa gemas.
Namun terlalu banyak saksi mata disini. Ia tidak dapat mempercayai orang lain selain dirinya sendiri dan... malaikat mungil disisinya ini. Bahkan Tuhan pun tidak dapat ia percayai. Tampaknya hubungan kecil ini hanya akan disaksikan oleh tembok tembok dingin rumah ini. Tersimpan... selamanya...
"Ah, dan satu lagi; kau tidak perlu datang bersamaku ke kantor hari ini, Naruto. Aku pergi sendirian. Konsentrasilah dengan persiapanmu.", katanya pelan setelah memasuki kereta kuda. Pintu kereta kuda itu ditutup dan Sasuke segera pergi; meninggalkan Naruto yang masih termangu mangu menatapnya sampai hilang dari pandangan.
"Hmm. Bagaimana menurutmu yang satu ini? Renda yang cantik. Warna merah jambu cenderung pastel yang amat menarik. Bukankah sangat cocok?", seru seorang pemuda menawarkan sebuah gaun. Tayuya mempertimbangkan. Ia terlihat sedang berpikir cukup keras. Naruto terlihat masih linglung. Tampaknnya senyum Sasuke tadi pagi masih membuatnya sulit berpikir. Padahal dalam keadaan biasa saja ia bukan merupakan orang yang pintar. Apalagi ditambah dengan senyum Sasuke?
Tayuya memperhatikan Naruto. Ia mencengkram wajah Naruto-lagi-dengan amat cepat dan kuat. Naruto terkejut, tentu saja. "Nah, sadar kan?", kata Tayuya sambil tersenyum licik. Naruto kesal, tapi memang dia sadar juga sih... "Cobalah.", kata Tayuya lagi sambil melempar gaun itu pada Naruto. Naruto berjalan sambil membawa gaun itu kebalik pembatas.
Setelah beberapa jam...
"Tayuya! Berapa gaun yang seharusnya kucoba?!", protes Naruto keras. Bagaimana ia tidak kesal? Ia sudah mencoba kurang lebih 57 gaun dan tidak satupun dipilih. Terlalu mencolok lah, terlalu sederhana lah... Banyak sekali alasan Tayuya untuk tidak memilih gaun gaun yang dicoba Naruto. Tayuya menghela nafas malas dan kembali menatap pedagang tadi.
"Kau tahu kan, gaun ini untuk siapa? Tolong bawa gaun yang sesungguhnya. Bukan barang barag gagal seperti ini.", katanya dingin pada pedagang itu. Naruto terperangah. Apa yang ia bilang tadi? Barang gagal? Padahal menurutku gaun gaun tadi luar biasa! Tidak pernah Naruto membayangkan dapat melihat-imajinasi Naruto tidak sampai sejauh menyentuh gaun seperti itu- dari dekat gaun secantik yang ia coba tadi!
Pedagang itu tersenyum. "Tenang saja, masih ada satu gaun lagi.", katanya tenang. Naruto terkejut bagaimana pedagang itu bisa begitu sabar menghadapi Tayuya. Tayuya dan mulut tajamnya... Tapi protes Naruto terhenti sekali lagi. Ia sekarang kembali pada keadaannya ketika melihat senyum Sasuke tadi pagi. Ya... tidak sama persis sih, tapi bisa dibilang cukup mendekati.
Pedagang itu mengeluarkan sebuah gaun yang luar biasa indah; berwarna putih dengan sedikit sapuan warna pink pucat-amat sangat pucat; nyaris putih,seperti baby pink tapi lebih pucat lagi- dihiasi dengan berlian berlian yang benar benar mengundang perhatian, bunga bunga kecil yang menimbulkan kesan manis naamun tetap elegan, memperlihatkan pundak Naruto yang memang mulus dan sempurna.
Begitu memakainya, Tayuya tidak dapat berkata apa apa lagi. Ia hanya menatap Naruto dengan mata membelalak dan mengangkat tangannya tanda setuju. Naruto sendiri masih dalam keadaan antara sadar atau tidak.
Hmm.... persiapan... selesai...
A/N : Gimana? Bingung? Nurut kalian, rencana Sasuke apa? Khukhukhu... Jelek ya? Sudah kuduga... Para pecinta lemon, MAAFKAN AKU!! Well, aku akan tetap berusaha... Review PLIZ!!
