This Vampire Wants You
3 : Arrest

.

Idea(s):

Arrow (movie series)

Eye Candy (movie series)

.

Genre ditambah 'Crime'

.

.

.

.

Sabtu, 31 Oktober 2015—

"Jadi, bagaimana kencanmu tadi malam?"

Alis Akashi terangkat tinggi ketika mengalihkan pandangan dari laptop ke pria tinggi berambut hijau yang merespon balik secara kaku.

"Taiga?" tebak wanita muda itu.

Setetes peluh muncul di kening sang pria berkacamata. "Jangan salahkan dia, Seiko. Kuroko-san ada di sini saat aku kembali, jadi aku bertanya ke mana kau pergi tanpa penjagamu." Berkali-kali ia mencuri pandang ke arah lain sebelum mengambil napas dan menggenggam tangan di balik punggung. Ia berdehem sekilas, "Saudara tidak merahasiakan apapun." Matanya kembali curi-curi kepada Akashi.

"Tentu saja tidak," wanita dengan sweater marun dan celana tiga per empat itu terkekeh. "Jika pada tiga saudaraku aku terus menyembunyikan sesuatu, pada siapa aku bisa menjadi diriku sendiri? Aku hanya belum bertemu denganmu sejak kemarin, Shintarou."

"Untungnya kau bertemu denganku hari ini," Shintarou mengleha napas. Karena, jujur saja, ia jarang membicarakan masalah pribadi dengan orang lain walaupun itu Akashi. Tentu saja 'kencan' selalu menjadi prioritas utama untuk disembunyikan. Tapi kali ini ia tidak bisa menahan ketertarikannya ketika Akashi juga tertarik pada seseorang. "Jadi, siapa pria beruntung ini?" tanyanya.

Akashi mengedikkan bahu dan menutup laptopnya sebelum terkekeh, "Kau dan Tetsuna jelas memiliki kemiripan." Ingatannya kembali pada malam ia dan Kuroko pergi bersama. Akashi meregangkan lengan dan berdiri. "Hanya pemuda yang kutemui di bioskop saat pemutaran Dracula Untold, dan beruntungnya, dia sangat tampan."

Midorima memutar bola matanya. "Oh, fetish alami wanita."

Akashi kembali terkekeh.

"Sayangnya…" lanjut wanita itu, berjalan melewati kakak sepupunya yang masih tercium seperti obat-obatan, dan mengambil teh mawarnya di atas meja buku. "dia bukan manusia."

Midorima Shintarou memicingkan mata di balik kacamata bingkai hitamnya. "Werewolf?"

"Binggo." Akashi membiarkan penjelasannya menggantung untuk meminum teh. Senyum jahilnya menandakan ia sengaja memberi waktu untuk pikiran Midorima berkembang liar.

Ekspresi sang kakak sepupu langsung mengeras. "Sebaiknya kau hentikan hubungan 'tidak sehat' ini, Seiko."

"Tenang saja," balas Akashi, merasa menang. "Kami langsung berpisah saat itu."

"Maksudmu… dia juga sudah tahu?" Mata hijau itu semakin membulat.

Pundak kecil Akashi yang terekspos, terangkat sekilas. "Kami sama-sama kelepasan." Kemudian menyeruput tehnya lagi. "Kau juga sebaiknya carilah seseorang," sarannya, "Kau selalu seperti zombie ketika tiba di rumah." Yang Akashi maksud adalah kulit pucat Midorima karena lembur dan aroma tubuhnya. Kini Akashi bisa mencium bau busuk dari darah orang-orang sakit di kemeja putih Midorima. "Seorang wanita yang mengurusmu tidak akan merugikan, Shintarou," lanjutnya, "Atau, lamar saja dia."

Dan seperti dugaan, kakak sepupunya itu menaikkan alis terkejut dengan wajah bersemu.

"Jika Kazuna, aku tidak keberatan dia jadi sepupu iparku," tambah Akashi, memperlebar senyum jahilnya.

"Aku mandi dulu," pamit Midorima, dan dengan itu keluar dari ruang kerja Akashi yang menyandarkan tubuh pada meja, terkekeh.

Pandangan sepasang rubi itu kemudian beralih pada sebuah pigura dengan empat remaja duduk bersama di satu sofa panjang, mengenakan pakaian rumah, dan tersenyum lebar tanpa melihat kamera yang dinyalakan otomatis. Penampilan mereka berantakan karena terbilang masih terlalu pagi bahkan untuk mencuci muka, jauh dari kesan foto keluarga yang seharusnya. Tapi, lebih penting dari itu, mereka tampak bahagia, tak ada beban, dan yang utama, Seijuurou masih ada di sana.

Ya, tepat di antara dirinya yang merangkul sang adik dan Kagami yang berpose seperti jatuh dari samping. Jika dipikir-pikir, ini adalah kali pertama dan terakhir kalinya kamera menangkap ekspresi senang di wajah tampan itu.

Lihat, bahkan Midorima yang kaku ikut tertawa dengan tingkah Kagami.

Akashi meraih pigura itu, rasa getir perlahan menusuk dadanya ketika menatapnya lekat-lekat. Ia kembali ke depan laptop dan meletakkan pigura itu di samping sebuah pigura lain tentang dirinya, Seijuurou, serta orang tua mereka, ketika adiknya itu masih empat tahun.

Lihat, ternyata Seijuurou juga memiliki senyum yang sama di foto ini.

Laptop kembali ia nyalakan dan tersambung dengan website rahasia yang ia buat untuk membantu orang-orang yang juga kehilangan orang terkasih mereka. Ini seperti chat forum di mana mereka bisa berkonsultasi pada Akashi tanpa perlu memberikan identitas. Salah satunya adalah gadis ini, yang ia tangani sebelum Midorima masuk ke ruangannya, dengan nama samaran 'pinkcherry'.

Sebelum itu, harus dijelaskan bahwa Akashi sempat mengambil jurusan psikologi di Harvard.

pinkcherry, gadis malang ini, mengaku sudah seminggu ini tak mendapat kabar dari tunangannya walau tinggal di apartemen yang sama. Sepertinya Nona pinkcherry sangat mencintai tunangannya, karena, dengan penjelasan bahwa sang pria sering berlaku kasar dan tertangkap basah bersama wanita lain, gadis yang Akashi perkirakan sepantaran dengannya ini masih saja menangis setiap malam menantikan kepulangannya.

Akashi menghela napas dalam. Terlalu banyak yang ingin dia bahas dengan gadis menyedihkan ini—dari saran untuk melupakan saja pria brengsek itu hingga cercaan bahwa wanita tidak seharusnya dilecehkan seperti itu—tapi Akashi sadar betul, tidak sepantasnya ia menghakimi keputusan hati orang lain. Dan jika ia lakukan, ia tidak yakin dapat menahan diri untuk, setidaknya, tidak sarkastik.

Paling tidak ada satu hal yang dapat ia katakan, "Tenangkan dirimu, pinkcherry-san. Aku akan membantumu mencari tunanganmu."

"Bagaimana kau bisa?" balasnya, "Polisi bahkan tidak memberikan kabar apapun."

Lagi-lagi polisi. Akashi sudah cukup berpengalaman untuk tidak terlalu menaruh harapan pada anjing pelacak militer itu.

"Apakah kau polisi?" pertanyaan tak terduga itu membuat Akashi menahan napasnya sejenak.

"Tidak. Aku lebih baik dari mereka." Kedua tangan itu lalu bergerak dengan cepat di atas keyboard, diam-diam mengakses komputer pinkcherry dari jaringan internet yang menghubungkan mereka. Dan tak perlu waktu lama, Akashi berhasil masuk ke kotak masuk email pribadi pinkcherry. "Nama tunanganmu Haizaki Shougo?" Akashi langsung mencari nama tersebut di internet, dan menemukan beberapa akun jejaring sosial dan foto seorang pemuda berambut abu-abu dengan anting perak di kedua telinganya dan terlihat yankee.

"Bagaimana kau tahu?" tanya pinkcherry, Akashi tebak ia sedang terkejut. "Aku tidak pernah memberitahukannya padamu."

"Maafkan aku, tapi aku sedang masuk ke hard drive komputermu. Aku butuh beberapa data dari sana, jadi aku mengkopinya. Butuh 24 jam untuk menganalisanya, jadi aku harap kau bersabar."

"Tidak masalah. Terimakasih, Ruby."

Dan setelah lima detik pinkcherry tak lagi membalas, Akashi kembali mencari informasi tentang Haizaki Shougo. Akun Twitter-nya sudah tak lama aktif, bahkan sejak tiga minggu yang lalu. Padahal jika melihat timeline-nya, pemuda ini bukanlah tipe yang tidak akan meng-update apapun lebih dari delapan jam. Selain Twitter, ia punya Instagram yang hanya berisi foto-fotonya di klub malam bersama beberapa wanita yang mungkin saja bukan pinkcherry. Benar-benar tukang pesta.

Akashi menarik kesimpulan bahwa tidak ada sesuatu yang bisa didapatnya dari jejaring sosial pemuda ini. Semuanya sudah lama tak aktif, namun tak terjadi di saat yang sama. Maka hanya ada satu cara lagi.

Sudah saatnya untuk menggunakan caranya sendiri.

pinkcerry bilang bahwa polisi tidak memberikan kabar apapun, berarti ia sudah melapor pada polisi dan mungkin saja mereka menyimpan beberapa data tentangnya. Menyadari itu, Akashi langsung menerobos masuk website Kepolisian Jepang. Tidak butuh banyak perjuangan mengotak-atik kata sandi, karena Akashi sudah pernah melakukannya beberapa kali. Ia tinggal mencari nama Haizaki dan langsung menemukan sebuah file yang setengah kosong.

Hm, sepertinya polisi tidak memberitahukan apapun karena memang tidak menemukan sesuatu yang perlu disampaikan pada pinkcherry.

Tapi ini lebih baik dibanding tidak sama sekali. Akashi kemudian mengkopi data tersebut ke komputernya.

Ketika sedang tersenyum, pandangannya beralih pada handphone Apple hitam yang bergetar di samping laptopnya. Nama kecil Kuroko terpampang dengan foto masa SMA mereka yang masih mengenakan seragam.

"Hai, Tetsuna."

"Selamat pagi, Akashi-san. Aku harap aku tidak mengganggu apapun yang sedang kau kerjakan."

Akashi melirik laptopnya, namun belum ada perubahan berarti yang dapat membuatnya kembali sibuk.

"Tidak. Ada apa?"

"Sepupuku mengundangku dan Kagami-kun ke pesta Halloween di klubnya yang baru buka. Aku tidak terbiasa dengan klub, dan Kagami-kun tidak suka Halloween, tapi aku tetap tidak enak menolaknya. Jadi aku berpikir apakah kau bisa ikut."

Akashi mengedipkan mata untuk membantunya berpikir. Jika pesta, berarti malam, ya? Ia tidak memiliki rencana apapun, malah ajakan Kuroko terdengar sangat menarik. "Tentu saja, Tetsuna. Jam berapa?"

"Kagami-kun menjemputku jam enam."

"Oke. Berdandanlah yang cantik."

Setelah Tetsuna menutup telepon, Akashi kembali menghubungi orang lain.

"Reo?" sapanya saat diangkat. "Butikmu sudah buka, kan? Oh, ya, tentang tato itu…"

"Oh, kau sudah siap? Aku tidak tanggung jawab, lho."

"Siapkan saja jarum dan tintanya. Aku ke sana sekarang."

Percakapan singkat itu berakhir. Sebelum beranjak dari kursinya, Akashi melirik sekali lagi pada layar laptop yang masih menampakkan berjalannya proses menyalin data. Sepertinya akan sedikit lama. Lebih baik Akashi bersiap dulu selagi menunggu.

.

-:-

.

Nijimura keluar dari ruangan Alex, masih memperhatikan map berisi dokumen penemuan potongan tubuh tadi malam yang harus dimasukkannnya ke dalam komputer. Bibirnya berkerut maju. Lagi-lagi kepala polisi pirang asal Amerika itu menyuruhnya berhadapan dengan komputer, walau Nijimura sadar betul ini termasuk tugasnya sebagai detektif penanggung jawab kasus ini.

Mau tidak mau ia duduk di mejanya dan menyalakan komputer, membuka database kepolisian dan mulai menyalin data tentang penemuan bagian tubuh yang kedua ini. Hasil otopsi menunjukkan potongan-potongan itu berasal dari orang yang sama walau belum bisa dipastikan identitasnya.

Menyedihkan. Hanya karena potongan daging, ia harus lembur di TKP dan bahkan tidur di laboratorium forensik. Pasti kantung matanya kembali terlihat, padahal ia sudah berusaha sekeras mungkin menghilangkannya sebelum bertemu Akashi kemarin.

Yah, apa boleh buat. Lagipula ia tidak mungkin bertemu gadis itu lagi.

Ketika sedang melamun begitu, ia menyadari ada sesuatu yang aneh pada jumlah data yang seharusnya bertambah, jadi berkurang, namun kembali ke jumlah semula, tapi menurun lagi. Nijimura langsung tahu bahwa ada yang menyabotase data kepolisian dan mungkin saja sedang menghapus atau menyalin data.

Ia bergerak cepat dengan melacak jaringan internet kepolisian dan menemukan sebuah drone virtual yang bekerja menyalin data. Langsung saja ia selidiki asalnya, yang ternyata masih tersambung secara online dengan komputer pribadi milik seseorang.

Haruskah ia lacak?

.

-:-

.

Akashi tidak bisa meninggalkan laptopnya yang menyala sendirian di rumah, apalagi menghentikan penyalinan data sementara ia pergi ke suatu tempat. Jadilah ia memasukkannya ke dalam tas dalam keadaan Sleep, dan kembali mengaktifkannya begitu tiba di sebuah butik bernuansa gotik di area Harajuku.

Begitu membuka pintu, pemiliknya, seorang wanita tinggi dengan gaun ketat hingga lutut, syal bulu berwarna ungu, dan anting-anting bola besar, menyambut Akashi dengan nyaring. "Ah, lama tidak bertemu, Sayang. Kau semakin cantik." Ia memeluk dan mencium pipi Akashi.

"Kau juga semakin menawan, Reo. Aku tidak sabar melihat perkembangan usahamu," balas Akashi dengan senyum hangat pada sahabat lamanya, Mibuchi Reo.

"Terimakasih untuk seseorang yang memberi modal tambahan." Reo mengerling pada Akashi, dan kedua wanita itu terkekeh. "Oh, kau harus lihat koleksi musim gugurku, Sayang. Rancangan Tim Burton baru saja tiba."

"Itu akan sempurna untuk pesta Halloween nanti malam."

"Oh? Kau akan ke pesta? Berarti kita harus membuatmu cantik—walau kau sudah cantik. Mau coba bajunya sekarang?"

"Tidak usah. Aku percaya pada pilihanmu," tolak Akashi. "Tato sedikit lama mengering."

Mereka kemudian berpindah ke bagian belakang butik, sebuah ruangan remang bernuansa hitam dan ungu dengan gambar-gambar indah yang memiliki filosofi tersendiri. Di tengah ruangan ada kursi hitam yang seperti kursi dokter gigi. Akashi langsung menempatkan diri di sana sementara Reo melepas syalnya, memakai sarung tangan dan menyiapkan jarum dan tinta.

Akashi mulai bersiap-siap dengan menaruh tasnya di meja kecil, membuka sweater marunnya, dan bersandar pada kursi. Beberapa kali ia mengatur napas dan mensugestikan diri bahwa ini tidaklah sakit. Bukan, bukan jarum yang ia khawatirkan, tapi apa yang akan tercetak setelahnya.

Reo pun datang dan memperhatikan bagian yang ingin Akashi tato—dada kiri, tepat di atas jantungnya, di mana sudah ada luka timbul berbentuk salib di sana.

"Owh," erang Reo dengan jijik. "Luka itu tampak mengerikan," komentarnya.

Akashi hanya tersenyum. "Makanya aku ingin menutupnya dengan yang lebih bagus sebelum pesta nanti."

"Hanya itu alasanmu?" Reo berkacak pinggang tanpa sadar sudah menggenggam jarum listrik besar berisi tinta di tangannya. "Akan sangat menyakitkan, lho."

"Lukanya sudah semakin mengering, Reo. Aku takut tidak akan berfungsi beberapa saat lagi. Buatlah salib yang bagus." Akashi mengatur napas sekali lagi. "Oh ya, sebaiknya kau mengikat kaki dan tanganku," tambahnya, "Taiga juga mentato ulang salibnya dan dia hampir membunuh pentatonya," ia memberi saran, dan tersenyum ringan seolah pembicaraan bunuh-membunuh sama ringannya seperti memilih warna eyeshadow untuk pesta.

Reo bergidik ngeri. "Kau harus tahu bahwa kucing hanya memiliki satu nyawa, begitu juga dengan siluman kucing." Ia kemudian mengambil borgol dan mengikat kedua tangan dan kaki Akashi.

Mereka sama-sama melakukan terapi napas. Dan setelah yakin telah siap, Reo menyalakan jarum listrik dan perlahan menorehkannya di atas kulit putih Akashi. Ia mengikuti pola dasar salib dan membuat Akashi sempat tersentak dan meraung kesakitan. Tapi si rambut merah sekuat tenaga menahan diri, hingga Reo dapat menyelesaikan karyanya walau memerlukan waktu yang lebih lama dari biasanya.

Reo menghela napas panjang sambil mengelap peluh. "Akhirnya sele—"

"Kepolisian Jepang!"

Akashi dan Reo membeku di tempat. Ketika menoleh ke arah pintu, seorang pria berdiri di sana sambil mengacungkan pintol dan lencana polisinya, ikut membeku setelah melihat Akashi yang tak memakai baju—lebih tepatnya, hanya mengenakan bra hitam.

Parahnya, Akashi tahu orang itu.

Nijimura.

.

-:-

.

Situasi benar-benar aneh saat ini.

Udara yang seakan tak bergerak, hanya dipenuhi oleh lagu Icona Pop - I Love It dengan volume super dari empat stereo raksasa di sudut-sudut ruangan. Untuk beberapa saat, tak seorang pun di antara mereka bertiga bereaksi. Reo, yang masih memegang jarum listrik, langsung mengangkat kedua tangannya begitu mendengar kata 'polisi', dan memandang Nijimura dengan horor dan sedikit… kagum. Yah, jarang-jarang ada pria setampan dia mau masuk ke butik perempuan. Sedangkan Akashi? Pundaknya yang terbuka, entah sejak kapan sudah naik lima senti dan otot-ototnya menegang. Kedua mata merah itu membesar, pandangan lurus pada Nijimura yang bahkan sudah memerah. Kemudian, setelah beberapa kali kedipan, akhirnya gadis itu mengerti kenapa Nijimura bersemu.

Ia menunduk dan menemukan dirinya sendiri setengah telanjang.

"I don't care. I love it!"

Suasana benar-benar aneh. Dan lagu sialan itu memperparah suasana.

Langsung saja ia melirik sweater marun yang ia letakkan di samping tasnya. Ketika hendak turun dari kursi, ia kembali teringat bahwa kedua tangan dan kakinya terborgol.

Dobel sialan.

"Reo," panggilnya, sedikit berbisik sebenarnya. Karena akan memalukan sekali jika Nijimura, dengan telinganya yang melebihi manusia biasa, dapat mendengar permintaannya yang ingin diambilkan baju. Sayangnya volume lagu yang luar biasa menyebalkan, ditambah aksi terpana Reo yang salah situasi, membuat wanita genit itu tak mendengar sahabatnya.

Akashi memutar bola matanya, jengah. "Reo!" serunya, kali ini berhasil membuat Reo berpaling. Wanita dengan rambut hitam itu hanya mengangkat alis. Dan terlihat dari semu di wajahnya, dapat dipastikan ia sangat menikmati pundak bidang dan perut six pack Nijimura yang hanya terbalut T-shirt putih lengan panjang yang sedikit, sebut saja, um, ketat.

"Ambilkan bajuku, dan urus dia. Cepat!"

Titah telah keluar, dan Reo tidak berniat menunda-nunda melaksanakannya ketika menyadari ada sang polisi seksi dalam kalimat tersebut. Lebih tepatnya, tidak sabar untuk 'mengurus dia' saja. Masalah mengambilkan baju, ia hanya menyambar sesuatu didekatnya dan melemparnya langsung pada Akashi. Mungkin, lebih tepatnya, pada wajahnya.

Sialnya yang dilemparnya bukan baju. Akashi merasa ada bulu-bulu di lidahnya. Tunggu, bulu?

Ketika matanya sudah tak lagi gatal, ia sadar bahwa yang dilemparkan Reo dan sekarang jatuh ke dadanya adalah syal bulu berwarna ungu.

Di satu sisi, setelah melaksanakan perintah pertama Akashi, Reo langsung berjalan mendekati Nijimura—yang salah tingkah dan meminta maaf berkali-kali karena menerobos masuk begitu saja—mendorongnya keluar ruangan, dan menutup pintu.

"Reo!" seru Akashi lagi. "Borgolnya! Kunci!" Namun sekeras apapun ia menjerit, sudah tidak mungkin terdengar—selain masih karena unsur volume, Reo juga sudah tak ada di ruangan itu lagi. Dengan helaan napas dalam, ia menggeram, "F*ck."

Ingatkan dia untuk tidak pernah melepas baju di luar rumah, atau meminta diborgol.

Sambil berusaha menekan emosi, ia berpikir. Ah, kalau tidak salah dia menyangga poninya dengan penjepit rambut sebelum pergi. Dan benar saja, setelah menunduk untuk mendekatkan kepala dengan tangan kanan, ia bisa meraih jepit itu, dan dengan sedikit usaha dan permainan jari, borgol tangan kanan pun terlepas. Ia kemudian melakukan hal yang sama pada tiga borgol lain, langsung meloncat turun, mengenakan sweater, menyambar tasnya, dan berjalan cepat keluar ruangan.

Begitu membuka pintu, ia bisa tahu Reo telah menggoda Nijimura jika dilihat dari reaksi sang werewolf yang salah tingkah—dalam konteks ini, antara takut dan segan untuk kabur—dan Reo yang masih bersemu.

"Untuk apa kau ke sini," ujar Akashi, secara tidak sadar membetulkan kerah kirinya yang merosot, "Nijimura-san?"

Begitu melihat Akashi, reaksi Nijimura seperti 'oh-terimakasih-Tuhan-akhirnya-aku-melihat-malaikat'.

"Mencarimu, tentu saja," jawabnya, sepertinya tanpa pikir panjang. Namun langsung dipotong dengan dehaman dan, "Maksudku—Akashi Seiko, kau ditangkap atas tuduhan masuk tanpa izin dan mencuri beberapa data kepolisian."

.

-:-

-:-

.

Jadi, di sinilah Akashi lima belas menit kemudian, di dalam kantor polisi lantai dua belas yang seperti kehabisan beton untuk dijadikan tembok sehingga menggunakan kaca tebal di berbagai sisi, duduk di depan sebuah meja yang diyakininya milik Nijimura.

"Oke." Nijimura akhirnya kembali ke hadapannya setelah beberapa menit di kantor kepala polisi di tengah-tengah ruangan, dengan papan nama menggantung di pintu bertuliskan 'Alexandra Gracia'. Kedua mata abu itu masih terfokus pada lembaran kertas dalam map, bahkan ketika duduk. "Akashi Seiko, dua puluh tiga tahun. Tinggi badan 163 sentimeter , berat 53 kilogram. Pemegang saham utama sekaligus general manager dari Rumah Sakit Swasta Shuutoku, Restoran Seirin beserta cabangnya, Rakuzan Enterprises Holdings, dan Teikou Technology for Future Factory. Lulusan Cambride University dengan gelar Master di bidang Bisnis dan Manajemen, kemudian mengambil Harvard University jurusan Psikologi dan lulus tahun 2014. Sejauh ini bisa berbahasa Inggris, Jepang, Jerman, Prancis, dan Mandarin. Warna mata dan rambut merah alami. Intinya, kau wanita muda yang sempurna—namun," Nijimura menekankan intonasi pada kata terakhir, dan menyingkirkan file dari hadapannya untuk dapat menatap Akashi yang tak bergeming. "Sang Perfect Lady ternyata mempunyai kebiasaan buruk untuk membobol situs orang lain."

Akashi sedikit menautkan alisnya—kesal. Wikipedia ternyata menyimpan terlalu banyak data dirinya.

"Menerobos database kepolisian, memprogram ulang sistem proteksi web kepolisian, dan mencuri beberapa file kasus pembunuhan yang belum selesai." Nijimura mendiktekannya sambil membalik-balik lembaran dalam map abu-abu. "Yang mengejutkan, kau telah melakukan hal ini selama empat tahun dan selalu menghapus jejakmu dengan bersih, tapi kali ini tidak." Ia melempar map itu ke atas meja. "Apa sebenarnya tujuanmu?"

Pria itu mencondongkan tubuh dan menatapnya tajam. Bola mata abu bertemu dengan sepasang rubi, saling mengirimkan tantangan tanpa gentar.

Pertama-tama, Akashi mengambil napas dalam. "Seperti yang kau tahu, aku sudah melakukannya sejak empat tahun lalu—lebih tepatnya semenjak adikku diculik dan polisi tak kunjung menemukannya. Kemudian adalah sesuatu tindakan yang wajar jika warga Negara menerobos data kepolisian untuk mencari orang tersayangnya. Sayangnya, polisi juga tak menemukan apapun. Aku kemudian memiliki simpati pada orang-orang yang bernasib sama sepertiku, sehingga aku membantu mereka. Aku selalu mencari sendiri, namun terkadang tidak ada pilihan lain selain membongkar data kepolisian. Kemudian ada beberapa yang telah ditemukan, ada yang belum—yah, aku masih berusaha menyelesaikannya hingga kau menangkapku setengah telanjang siang ini."

Nijimura memerah dan menutupi wajahnya dengan tangan untuk beberapa detik, dan kembali menatap Akashi setelah berhasil untuk tidak mengingat kembali kejadian penggerebekan di butik. "Jadi, um, kau membantu kami? Karena dari data yang kuterima, kasus yang berhasil kau pecahkan adalah kasus-kasus yang telah ditutup dengan catatan belum terselesaikan."

"Tidak," jawab Akashi, lugas dan tegas. "Aku tidak membantu polisi—aku menyelesaikan apa yang mereka tidak bisa selesaikan."

"Terimakasih atas bantuanmu. Tapi kau tidak mempunyai wewenang melakukannya. Kau bukan polisi, tidak peduli seberapa kaya dirimu."

"Then, make me."

Percakapan serius dengan adu pandangan itu tersela dengan kehadiran seorang wanita pirang dengan rok pendek dan jas hitam yang sama-sama ketat. Kacamatanya berwarna merah jambu mencolok, dan wanita itu begitu tiba langsung mengacak rambut hitam Nijimura. "Permintaanmu akan dipertimbangkan, Akashi Seiko."

"Ap—jangan bercanda, Ketua!" Nijimura langsung menangkis tangan wanita itu, dan berbalik menatapnya dengan berang. "Dengan pelanggaran yang telah dia lakukan, seharunya dia ditahan, bukan dijadikan polisi!"

"Chk. Bocah, kau tidak mengerti ya, bahwa tidak semua orang bisa ditahan semudah itu?"

Suara gaduh kemudian terdengar dari luar ruangan. Dari arah lift, dua pria berlari di sepanjang lorong hingga membuat perhatian seisi lantai berpindah. Akashi yang melihat itu kembali menghela napas, apalagi setelah kedua pria itu berdiri di sampingnya.

"Seiko, kau tidak apa-apa?" Midorima mencengkram pundaknya, menatap Akashi langsung di mata. Dan dari tatapan mata emerald itu, bisa diketahui bahwa sang dokter bedah tengah panik. "Kau tidak disakiti, kan?"

"Kesampingkan itu, Shintarou. Tapi, meretas? Sejak kapan kau jadi hacker, Seiko? Dan tidak sembarangan web, tapi Kepolisian Jepang! Nasional! Kau ingin kita dideportasi?" Kini Kagami juga ikut-ikutan panik dengan mengacak rambutnya.

Akashi? Ia sebenarnya malu dengan tingkah dua kakak sepupunya, tapi sudah menduganya juga. Malah, sekarang ia merasa geli. "Taiga, tenang saja, kita warga Negara Jepang. Kita tidak akan dideportasi ke manapun. Dan Shintarou, aku tidak apa-apa. Malahan Nona Gracia baru saja memberikan penawaran yang bagus." Akashi memberikan senyum manis pada Alex. Senyum bisnis, lebih tepatnya.

Midorima menaikkan sebelah aslinya. "Oh, ya?" ia terlihat tertarik. "Penawaran apa?"

"Panggil aku Alex saja, tolong. Dan Tuan-Tuan, mari duduk di sofa di sana." Alex menunjuk sepasang sofa di sebelah barat ruangan yang terbanjiri sinar oranye matahari terbenam. Dengan santai, wanita itu duduk di sebuah sofa tunggal, mempersilahkan tiga saudara itu duduk berdampingan di sebuah sofa panjang, dan membiarkan Nijimura berdiri di sampingnya karena kehabisan tempat.

Wanita itu menyilangkan kakinya dulu sebelum mulai bicara, "Langsung saja, aku sangat terkesan dengan kemampuan Akashi-san." Tiga saudara itu berkedip, bingung. "Kau berhasil masuk ke website paling ketat di Jepang tanpa ketahuan, bahkan hingga mengkopi—bukan mencuri, ya! Ingat itu, Shuuzou!—selama empat tahun. Bahkan kau berhasil menyelesaikan kasus yang polisi pun sudah hampir menyerah. Siapa yang tidak terkesan? Jadi aku berharap bisa meminta bantuan Nona Akashi di sela-sela waktu sibuknya. Sebagai gantinya, tentu, masalah ini tidak akan dibawa ke pengadilan dan kau tidak akan ditahan. Bagaimana?"

Ketiga saudara itu saling bertatapan.

Midorima, yang telah ditunjuk Akashi dari anggukan kecilnya sebagai pembicara, berkata, "Jadi, kau berusaha menukar hukum dengan pekerjaan?"

"Kadang penjahat menjadi jahat karena kemampuan mereka." Alex mengedikkan bahu. "Lagipula, sayang jika kita menyia-nyiakan bakat Akashi-san."

Kagami, di satu sisi, melipat tangan di depan dada dan tertawa mencemooh. "Heh, lucu sekali mendengarnya dari aparat yang harusnya menegakkan hukum."

Urat di kening Nijimura berkedut. Rasa kesal ini bukan hanya karena pekerjaan tercintanya diejek, tapi Alex, si Kepala Polisi yang kadang menyebalkan tapi sangat ia hormati, juga disindir. "Kau tidak dengar, Alis Bercabang, kalau ini juga salah satu cara menegakkan hukum?"

"Oh, benarkah?" Kagami berdiri, sebelah kakinya ia hentakkan di atas sebuah meja kecil berwarna putih. "Padahal aku lihat kau tadi main mata dengan Seiko, Pak Polisi."

Nijimura juga mengikuti cara Kagami. "Ini dan itu tidak ada hubungannya, Sialan." Dan mereka berhadap-hadapan dengan wajah begitu dekat dan aura membunuh yang kuat.

"Apa katamu, Kampret?!"

Akashi yang menyaksikan itu semua hanya menghela napas dan menggeleng.

"Kau kenal dia, Seiko?" tanya Midorima setelah menelaah kalimat Nijimura. "Polisi itu, maksudku."

"Ah, kencanku kemarin."

Kagami, dengan pendengaran yang juga di luar batas normal, langsung membeku. Tiba-tiba saja ia mencengkram kerah Nijimura. "Jadi itu kau, ya?!" serunya.

Sudah cukup. Nijimura tidak tahan lagi direndahkan seperti itu. "Kalau iya, memangnya kenapa, hah?!" ia balas berseru, persis di depan wajah Kagami. "Memangnya kau siapa? Pacarnya?"

"Aku lebih dari pacarnya, Brengsek!"

"Beraninya kau memanggil seorang polisi brengsek!"

"Kau juga tadi memanggilku sialan dan Alis Bercabang!"

"Alismu memang bercabang! Ngaca!"

Akashi kini bukan sekedar menggeleng lagi, tapi sudah memijit pelipis. Midorima bingung harus melerai mereka atau membiarkan dua idiot ini. Dan para polisi yang lain? Jika ketuanya saja—Alex—malah tertawa, apakah ini sesuatu yang harus mendapat campur tangan mereka juga?

Tiba-tiba fokus Akashi teralih berkat suara dari handphone-nya. Email dari Kuroko, ternyata.

[Aku tidak bisa menemukan kostum yang tepat. Apakah menurutmu aku cocok menjadi hantu?
NB: Apakah Kagami-kun ada bersamamu? Aku tidak bisa menghubunginya sejak tadi.]

Email itu membuat Akashi terkejut ketika melihat jam. Sudah pukul lima sore, dan kakak idiotnya ini berjanji akan menjemput Kuroko jam enam.

"Bisakah aku pergi?" sela Akashi tiba-tiba, dengan suara yang cukup keras untuk menghentikan adu mulut Nijimura dan Kagami. Dua pria itu langsung beralih padanya. "Aku ada pesta satu jam lagi. Dan kau juga, Taiga."

Reaksi pertama Kagami adalah, "Eh?" kemudian mengecek jam tangannya, dan kembali panik. "Kau benar!"

"Tunggu. Bukankah kita belum selesai?" desak Nijimura—seperti tidak sadar bahwa waktu yang terbuang juga merupakan kesalahannya. "Kau belum menerima tawaran Ketua, dan kita belum memutuskan apakah kau harus ditahan atau tidak."

"Maka dari itu, Shuuzou," sela Alex, kembali terlihat tenang. "Kita harus memberikan waktu bagi Akashi-san untuk berpikir," alihnya pada Akashi, "Dan sampai saat itu, kutugaskan Shuuzou untuk mengawasimu." Bukan hanya Akashi dan Nijimura, tapi Midorima dan Kagami juga berekspresi 'HAH?!'. Lagi, ia tersenyum bisnis. "Aku harap kau tidak keberatan."

"Aku keberatan!" seru Nijimura. "Kenapa aku harus melakukan ini?"

"Karena kita tidak mungkin membiarkan seorang penjahat berkeliaran bebas, kan? Lagipula, ini kasusmu, Shuuzou."

"Sejak kapan?!"

"Sejak kau memutuskan untuk bertindak sendiri menangkap Miss Hacker."

Nijimura terdiam, sebenarnya ingin sekali meledak. Ketika itu, malah gantian Kagami yang protes. "Aku juga keberatan! Mana mungkin aku membiarkan Seiko diawasi oleh anjing hutan ini!"

Bukannya marah, Nijimura malah bertampang bingung. "Anjing hutan?" Ia memiringkan kepala. Aneh sekali, ia kira Kagami akan memanggilnya 'Brengsek' atau semacamnya. Tapi, 'anjing hutan'? Setelah memutar otak dua kali, akhirnya ia sadar. "Ah! Sialan, dari mana kau tahu?!"

Aturan dasar di keluarga Midorima, Kagami, dan Akashi adalah saling menceritakan. Jadi anggap saja Kagami tahu dari Midorima.

Dan dua orang itu langsung terdiam.

Di satu sisi, Akashi langsung berdiri dengan kesal. "Permisi, tapi aku ada pesta yang harus kuhadari." Dan berjalan keluar ruangan begitu saja.

Kagami dan Nijimura ternganga menatap kepergiannya.

"Tunggu, aku ikut!" seru mereka, lucunya secara bersamaan pula.

.

-:-

.

Suara lonceng yang berdenting dua kali dengan nyaring, mengalihkan pandangan seisi ruangan yang berisi pakaian, manekin, dan beberapa orang wanita. Salah satunya adalah Reo, sang pemilik butik, yang langsung menghampiri pintu depan begitu melihat Akashi berdiri di ambangnya.

"Oh, honey, are you alright?" Dia memeluk Akashi sekilas, kemudian meremas pundaknya sambil bertatap mata. "Mereka tidak melakukan hal yang tidak-tidak padamu, kan?"

Akashi sudah menduga reaksi Reo, jadi dia memasang senyum tipis. "Tidak, tentu saja."

"Uh, sayang sekali." Dan dia tidak mengerti kenapa Reo terlihat kecewa. Namun ekspresi itu hanya bertahan sesaat sebelum ia menoleh ke belakang sang sahabat dan melihat Nijimura berdiri sambil memasukkan kedua tangan. Ketika pandangan mereka bertemu, Nijimura mengalihkan muka dengan gugup. Namun Reo terlihat sumringah."Wow, bukankah dia polisi yang tadi?" tanyanya, kembali salah fokus pada fisik Nijimura. "Kenapa dia masih bersamamu, Sayang? Dan kenapa sepertinya dia tidak mau pergi darimu?"

Akashi menghela napas. "Ya, itulah masalahnya."

"Dan masalahnya adalah…?" Reo menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi, jelas belum mau melepaskan cengkramannya pada pundak kecil Akashi sebelum mendapat jawaban.

Lagi, Akashi menghela keras. "Urus saja dia, Reo." Dengan jawaban demikian, wanita muda itu sudah menduga Reo akan mengubah lekuk alisnya menjadi menukik tajam—heran, bingung, tidak puas. "Ah, um," si rambut merah mengalihkan mata sejenak. Haruskah ia mengatakannya? "Dia teman kencanku."

Reo memekikkan "Wow!" di depan wajahnya. "Oke. Akan kusiapkan pakaian untuk kalian berdua." Wanita yang kembali mengenakan syal bulu-bulu itu pun melangkah untuk masuk ke bagian dalam butik dan membongkar koleksi khususnya.

Sementara itu, Nijimura melipat kedua tangannya di depan dada ketika mengikuti Akashi memasuki butik. "Bisa kau jelaskan kenapa sekarang aku jadi teman kencanmu?"

Akashi tersenyum miring. "Jika tidak, dia akan menggodamu lagi." Dan menyembunyikan kekehan ketika melihat tampang horor Nijimura. "Maaf karena harus membawamu ke toko pakaian perempuan lagi. Tapi aku tidak bisa membawa lelaki asing ke rumah walau Taiga dan Shintarou punya banyak pakaian yang bisa kaupakai untuk Halloween." Kemudian, obrolan tersela ketika Reo kembali sambil membawa sebuah gaun pendek berwarna hitam. "Tenang saja, kau berada di tangan yang tepat," tambahnya, merujuk pada keahlian Reo.

Pandangan Nijimura masih mengikuti si rambut merah sampai ia menghilang di balik pintu ruang ganti, membawa serta gaun pendek dari Reo. Sementara itu, dirinya sendiri kembali menegang ketika menyadari kata 'berada di tangan yang tepat', berarti Reo pula yang akan mengurusnya.

"Nah, ayo, Pria Tampan. Pakaian pria di sebelah sini." Reo mendorong punggung Nijimura ke suatu ruangan.

Perasaannya semakin tidak enak.

-:-

Lima belas menit kemudian.

Akhirnya Nijimura terbebas dari tangan-tangan jahil Reo yang memanfaatkan kesempatan untuk meraba tubuhnya dengan alasan mengukur tubuh atau memasangkan aksesoris kostum. Sudah cukup. Mengingatnya hanya akan membangkitkan sensasi mengerikan di setiap bekas sentuhannya.

Tapi, boleh juga kostum pilihannya. Sebuah kostum yang ia sendiri tidak tahu harus menjabarkannya seperti apa, tapi mengingatkannya dengan kostum Orlando Bloom sebagai Will Turner dalam Pirates of the Caribbean. Yah, yang kurang hanya topi bajak laut.

"Kostum yang bagus."

Tiba-tiba saja sosok langsing Akashi sudah muncul di sudut cermin tinggi di mana ia mematut diri. Wanita itu tersenyum dengan anggun, tulus dengan pujiannya. Nijimura lantas berbalik dengan cepat.

"Cocok denganmu," tambah wanita itu.

"Yah, aku rasa temanmu memang punya bakat."

"Jika tidak, dia tidak akan kupercayai menangani pakaianku."

Mereka berdua mendekat dengan beberapa langkah, hingga cukup untuk memperhatikan wajah masing-masing. Akashi sedang menelaah make-up apa saja yang digunakan Reo pada seorang pria, sedangkan Nijimura, well, dibanding menerka juga, lebih tepatnya ia terpana. Pasalnya Akashi hanya memoles sedikit wajahnya dengan bedak dan blush-on tipis, seperti biasa. Bedanya, kali ini alisnya yang rapi dipertegas dengan torehan pensil alis, bibir merah pekat mengkilap, dan eyeshadow bergradasi hitam-ungu-emas. Warna terakhir jelas-jelas untuk menyesuaikan dengan warna baru mata Akashi.

Pada awalnya Nijimura sudah mendapat bayangan Akashi akan menjadi apa. Tapi ketika melihat dress hitam sepaha dengan potongan brokat pada dada hingga kerah dan lengan, serta sepasang boots kulit hitam semata kaki, ia mulai kehilangan percaya diri dengan dugaannya pada kostum sang vampir.

"Jadi, kau menjadi apa?"

Pertanyaan Nijimura itu langsung mendatangkan senyum tipis di bibir merah Akashi. "Vampir modern."

"Yeah, jelas sekali." Huh, vampir. Kenapa ia tidak memikirkan itu? Mungkin karena Akashi menggunakan aksesoris bernuansa salib perak seperti kalung dan anting-anting yang membuatnya ragu apakah wanita itu tetaplah sang penghisap darah atau tidak. "Lalu kenapa aku menjadi bajak laut?"

"Bukan bajak laut, Pak Polisi. Ini pakaian pemburu di abad pertengahan."

"Dan kenapa aku menjadi pemburu abad pertengahan?"

Sang wanita Sagitarius mengedikkan bahu. "Mungkin Reo hanya teringat film versi terbaru dari Red Riding Hood, dimana sang pemburu sekaligus kekasih si Kerudung Merah juga seorang werewolf." Tatapan bingung dan terkejut Nijimura dapat diartikan dengan mudah sebagai rasa tidak percaya Reo juga mengetahui identitasnya. "Reo siluman kucing, dan dia juga penyihir. Mengetahui wujud asli seseorang tidaklah sulit baginya." Si rambut merah terkekeh. "Lagipula, jelas sekali kau tidak bisa ke pesta jika meniru Jacob Black dengan bertelanjang dada."

Kini ia berhasil membuat pria Cancer itu ikut tertawa. Pada kenyataannya, ia sendiri juga lebih suka bertelanjang dada jika di rumah.

Tanpa pemberitahuan, Akashi mengambil satu langkah maju. Jemari yang terpoles cat kuku hitam itu kemudian membetulkan kerah Nijimura. Sesekali pandangannya melirik ke atas. Dan ketika mata mereka bertemu, Akashi tersenyum.

"Ada apa?" ucap Akashi, menyadarkan Nijimura yang entah sejak kapan melamun. "Kau memperhatikanku terus, Pak Polisi."

"Ah, um, apakah itu warna matamu yang sebenarnya? Dan jangan memanggilku seperti itu."

"Kenapa? Kau masih bertugas, kan? Dan, tidak, ini lensa kontak. Warna mataku seperti yang kau lihat selama ini—merah rubi—tapi adikku memang bermata amber. Yah, aku hanya berpikir mungkin kostumku akan terlihat semakin nyata dengan warna mata seperti ini." Ia mengedikkan bahu.

"Aku lebih suka kau yang biasanya," balas Nijimura, setengah melamun. Kemudian ia menyadari perkataannya ketika gerakan jemari Akashi terhenti. "Maksudku, lebih menyatu dengan rambutmu. Ah, um, lupakan." Dan ia berbalik untuk kembali bercermin. "Jika kau ingin terlihat seperti vampir, coba lumuri bibirmu dengan darah," guraunya.

Akashi pun terkekeh. "Ide bagus."

.

.

.

.

.

TBC

-:-

Tentang 'f*ck', saya gak tahu apakah kata ini setabu itu untuk disensor. Tapi karena ratingnya masih T (padahal saya berharap banget ada T+ atau T++), jadi yah, cari aman aja. Ngomong-ngomong 'f*ck', ada lagu yang nadanya lucu dan pas banget (bagi perempuan, terutama) kalau kesel tingkat dewa. Lily Allen – Fuck You. Serius, nada lagunya kaya lagu-lagunya Lenka, jadi saya kaget saat denger baik-baik ternyata liriknya seperti itu.

Dan seorang oknum (Eamaki Devy) menetapkan bahwa "Cup bra-nya Akashi C aja." Jadi, yah, silahkan bayangkan sendiri.

.

.

Apa? Kekecilan?

.

.

.

-:-

OMAKE

This Vampire Wants You #NG

(maaf kalau mungkin OOC)

-:-

Nijimura yang belum pernah bertemu vampir sebelumnya, menjadi kepo. Dia memanfaatkan sesi interogasi Akashi untuk bertanya banyak hal tentang vampir.

N: "Apakah vampir selalu menghisap darah setiap hari?"
A: "Vampir sama seperti manusia. Kami hidup bukan untuk makan saja. Kami juga bekerja, beristirahat, bersenang-senang, dll."

N: "Berarti sama saja kan, kalian 'makan' manusia setiap hari?"
A: "Lebih tepatnya, kami tetap meminum darah setiap hari, tapi tidak perlu sampai membunuh seseorang untuk mendapatkannya. Biasanya kami meminum satu kantung darah donor untuk sehari."

N: "Apakah orang yang kau gigit akan menjadi vampir?"
A: "Tidak. Hanya sedikit kehilangan darah, tapi dia tetap manusia. Ibaratnya manusia seperti botol minuman berjalan."

N: "Apakah setelah meminum darah, vampir akan mendapat kekuatan yang luar biasa?"
A: "Apakah manusia langsung segar bugar setelah makan? Tentu saja tidak, duh. Hanya energi biasa."

N: "Apakah luka vampir langsung bisa sembuh, terutama ketika bulan purnama?"
A: "Tidak langsung juga, membutuhkan proses. Tapi setidaknya lebih cepat dari manusia. Dan bulan purnama memang sedikit berpengaruh—ibaratnya sama seperti manusia yang menghirup udara pagi pegunungan."

N: "Bagaimana dengan mitos sinar matahari?"
A: "Kulit kami memang sangat sensitif terhadap sinar ultraviolet. Penyakit ini bernama Porfiria—kau bisa cek di ilmu kedokteran—dan membuat kulit kami sangat pucat. Tapi kami tidak akan hangus dan terbakar begitu saja begitu terkena sinar matahari. Jika benar begitu, maka Edward Cullen tidak akan memilih Brazil untuk tempat bulan madu."

N: "Berarti benar jika vampir hanya keluar saat malam hari?"
A: "Kau dengar penjelasanku tidak, sih? Kami tetap bisa beraktifitas saat siang, kok, hanya tidak dalam waktu terlalu lama. Dan siapapun yang memiliki Porifia pasti juga lebih suka berkeliaran saat matahari tidak ada."

N: "Lalu, apakah benar vampir bisa berubah menjadi kelelawar?"
A: "Yah, um, aku akui kami seperti siluman. Tapi berubah wujud terlalu mencolok. Kami jarang melakukannya."

N: "Lalu, apakah vampir abadi?"
A: "Proses penuaan kami memang lebih lambat dibanding manusia—setahun bagi kami sama seperti lima tahun untuk manusia. Jadi jika sebagai vampir umurku 15 tahun, sebagai manusia aku berumur 75 tahun—tapi bukan berarti kami tidak bisa keriput atau mati, walau kuakui saat tua pun kami tidak terlalu banyak memiliki kerutan. Yah, intinya kami awet muda, bukan abadi."

N: "Berarti benar dong, jika jantungmu ditusuk dengan pancang atau kepalamu dipenggal, kau akan mati?"
A: "Makhluk hidup mana yang tidak mati? Duh."

-:-

Yang punya pertanyaan lain, silahkan tanyakan. Akan saya jawab, tapi dengan logika di fiction ini, ya. Kalau pertanyaannya seperti membandingkan dengan cerita lain, seperti "Di Twilight, vampir kulitnya akan bercahaya kalau terkena sinar matahari. Apakah Akashi juga?" Maka saya akan menjawab, "Ya itu ceritanya Mbak Stephanie Mayer. Cerita saya, ya cerita saya."

Hehe.

Apa? Mau tanya tentang werewolf? Boleh.

PEMBERITAHUAN:

Mulai dari saat ini, saya akan hiatus demi menghadapi ujian akhir semester dan belajar ilmu menulis novel.

Mohon dukungannya. Maaf karena tiba-tiba dan cerita dibiarkan menggantung.

.

Hormat dan cinta saya,
(10 Mei 2015)
Lee Audrey