Kamis, 29 Juni 20xx.
Liburan Kisedai kali ini sangat patut dilabeli sebagai training camp—begitulah yang dikatakan Kuroko—karena porsi main basket mereka yang sudah kelewat batas, jika disebut hanya 'main'. Pagi buta jogging sampai seorang Kuroko Tetsuya harus menahan muntah, dilanjut dengan sarapan ala kadarnya karena mereka tak ada yang bisa masak, lantas mulai main basket lagi hingga matahari tepat di atas kepala. Jika bukan lagi-lagi karena Kuroko yang muntah, sepertinya Akashi akan lupa bahwa ini liburan.
Toh semua yang ada disana bahagia.
"Kita lanjut nanti sore." Titah Akashi pada mantan anak buahnya.
Entah karena pasrah atau karena kelelahan luar biasa, lima kepala warna warni lainnya hanya mengangguk sekali—kemudian mulai beranjak berdiri membereskan barang bawaan dan segera masuk ke dalam vila.
Lagipula, porsi latihan yang Akashi jadwalkan akan buyar tercerai berai sebentar lagi. Permainan basket nanti sore adalah yang terakhir di vila ini.
.
.
Kuroko no Basket milik Tadatoshi Fujimaki.
Rated : T
Bahasa tidak baku untuk dialog maupun monolog tokoh. Indonesia AU.
Enjoy, minna!
.
.
"Nice pass, Tetsu!"
Kepalan tangan yang saling bertemu milik Aomine dan Kuroko menjadi simbol berakhirnya permainan basket sore itu. Mini game ini dimenangkan oleh kubu Akashi-Aomine-Kuroko—dan lucunya, dimanapun Akashi berada, tim tersebut pasti menang—sementara Midorima-Kise-Murasakibara hanya mengatur napas sebal.
"Nanti malam kita bakal ngepain Akashi-kun?" Tanya Kuroko sambil mengusap wajahnya dengan handuk, mendekati Akashi yang baru saja selesai meneguk minuman.
"Dijadwal yang gue bikin sih tanding one on—"
"Gimana kalo barbeque-an aja-ssu?" Kise menyalak dengan kelewat antusias, tahu perkataan yang akan Akashi lontarkan. "Aku udah pesen pemanggang dan dagingnya ke Hanamiya-san, lho! Harusnya sih udah dia taro di depan vila sekarang."
"Barbeque..." Murasakibara sudah mengeluarkan sungai dari mulutnya sejak pertama kali Kise menyebut kata itu, tak peduli kelanjutan kalimat si pirang.
"Wah, boleh, tuh." Aomine nyengir lebar. "Dagingnya pake duit lo, 'kan?"
Kise cemberut, Akashi tertawa renyah. "Boleh, sih. Ya udah, nanti kita barbeque-an di depan vila aja, ya." Perkataannya disambut anggukan semangat dari yang lain. "Tenang, Ryouta. Nanti kita patungan lagi."
Selanjutnya enam pemuda tersebut segera kembali ke vila dan menemukan Hanamiya Makoto sedang membersihkan pemanggang barbeque tak jauh dari sana. Kise sempat mengucapkan terima kasih pada pria berusia setengah abad lebih 10 tahun itu dan menjadi yang terakhir masuk vila.
.
.
.
Pukul tujuh malam, pas sekali saat daging dan bahan pelengkap selesai dipersiapkan, Midorima membawa keluar semua itu dibantu oleh Aomine. Akashi sedang mengutak-atik handycamnya di ruang tamu, Murasakibara masih menyiapkan minuman di dapur, Kise dan Kuroko sedang menyalakan pemanggang di luar.
Ketika empat orang yang sebelumnya berada di dalam vila sudah keluar semua, mereka tersentak kala melihat Kise dan Kuroko tampak sedang memperhatikan sebuah benda.
"Itu apa-nodayo?" Midorima menaruh daging di samping pemanggang. Lantas mendekat pada duo Kise-Kuroko.
"Kayak permainan papan gitu. Ada bidak-bidak dan dadu." Jawab Kuroko sambil memegang sebuah bidak, teman-teman yang lain mengelilinginya.
Papan yang terbuat dari kayu itu berbentuk persegi dengan sisi 50 sentimeter, dan ketebalan kurang lebih 10 sentimeter. Mulai dari pinggiran sisi atas, ada kotak-kotak kecil berderet membentuk lintasan tempat jalannya bidak yang mengarah menuju tengah, di tengah-tengahnya sendiri ada sebuah cekungan kecil berdiamater 3 sentimeter. Sisi samping papan tersebut seperti laci yang bisa ditarik keluar, tempat menaruh bidak dan dadu.
Lintasannya sendiri terdiri dari kotak start di salah satu titik sudut papan, diakhiri dengan kotak end yang merupakan kotak terakhir sebelum cekungan. Di sepanjang lintasan ditemui kotak-kotak bertuliskan 'permintaan' dan 'pertanyaan' masing-masing lima buah.
Akashi mengernyitkan alis, "kok gue gak kenal ini mainan apa, ya? Papannya udah usang, mungkin benda lama punya warga sini dulunya."
"Bukan monopoli, ular tangga, atau ludo." Murasakibara menambahkan. "Tapi untungnya bukan papan ouija juga."
"Kita tanya Hanamiya-san aja, yuk. Siapa tau dia yang naro sini-ssu." Kise memberi usul lantas berdiri dan mengajak Kuroko menemui Hanamiya yang rumahnya hanya berjarak 50 meter dari vila yang mereka tempati.
"Gue ikut. Tetsuya, lo disini aja bantu nyiapin." Akashi bangkit dari posisi jongkok dan menghampiri Kise. Papan permainan beserta bidak dan dadu turut dibawa.
Dalam perjalanan menuju rumah Hanamiya, Akashi membuka percakapan, "Ryouta, lo bener gak pesen mainan itu, 'kan?"
Kise menjawab tanpa berpikir, "engga-ssu. Mungkin emang Hanamiya-san yang naro, buat kita main."
.
.
.
Sesampainya di rumah sederhana tersebut, Hanamiya mempersilakan Akashi dan Kise masuk. Akashi menaruh papan permainan itu di salah satu meja.
"Kalian mau nanya cara mainnya?" Tanya Hanamiya sambil tersenyum hangat.
"Eh, itu, sih, tinggal jalanin bidak aja, 'kan-ssu?"
Akashi mengangguk kalem. "Tapi sebelum itu, Anda yang naro mainan ini di dekat pemanggang yang Ryouta pinjam?" Akashi bertanya to the point. "Ini mainan apa?"
"Iya saya yang naro disana. Barangkali kalian mau sambil main." Hanamiya terbatuk sesaat. "Saya juga gak tau pastinya apa, kata warga disini sih, bisa buat manggil arwah."
Kise menelan ludah, Akashi tampak antusias. "Emangnya yang kayak gitu beneran ada?"
Pria enam puluh tahun berambut hitam itu tertawa. "Cuma mitos, nak. Gak usah dipikir yang bukan-bukan. Cuma mainan biasa." Hanamiya kembali tersenyum. "Kalau mainnya dengan cara biasa."
Akashi menautkan alis. Kalimat-kalimat Hanamiya tampak kontradiksi didengar. "Tolong tunjukkan cara main untuk memanggil arwah."
Kise melotot. "Akashicchi!" Bisiknya, yang segera dihiraukan Akashi.
"Untuk cara mainnya sendiri, sama seperti permainan dadu yang lain. Kalo kalian berhenti di kotak 'pertanyaan', kalian bisa bertanya apapun ke siapapun—termasuk pada para arwah—tapi kalo yang ditanya tidak menjawab atau menjawab bohong, arwah-arwah akan bertindak.
"Kalo berhenti di kotak 'permintaan', kalian bisa meminta orang pemilik bidak paling belakang untuk melakukan apapun—jika lebih dari satu orang maka bebas pilih siapa orangnya—dan kalau ditolak, lagi-lagi para arwah yang akan bertindak.
"Jika sebuah bidak nempatin kotak yang sama dengan bidak lain, maka bidak yang duluan disana harus kembali ke kotak start, sepert ludo. Cara main biasa—tanpa memanggil arwah—seperti itu. Cuma kalian tidak bisa bertanya pada arwah dan jika kalian menolak menjawab atau melakukan sesuatu, tidak akan ada apapun terjadi.
"Untuk memanggil arwah sendiri," Hanamiya membetulkan posisi duduk. "sebelum permainan dimulai, ucapkan nama arwah yang sama dalam hati masing-masing. Dia akan datang untuk menjawab pertanyaan kalian."
Akashi mengangguk. "Terimakasih atas penjelasannya." Akashi meraih papan permainan itu. "Kalau begitu, kita permisi." Akashi bangkit dari duduk dan menenteng permainan itu. Kise mengikuti berpamitan.
Baru saja selangkah melewati daun pintu, Hanamiya kembali berkata, "pastikan kalian menang kalau mau selamat."
.
.
.
Sambil menyantap barbeque, Akashi menceritakan perkataan-perkataan Hanamiya pada teman-teman yang lain.
"Jadi, kita mainin apa enggak, nih, Akachin?" Tanya Murasakibara seraya memasukkan daging yang seharusnya jatah Kise itu ke mulutnya.
Aomine bergidik ngeri. "Gak usah, lah."
Kise mengangguk menyetujui Aomine. "Hanamiya-sannya aja gak jelas-ssu."
"Justru itu," Akashi menimpali. "itu cuma ocehan kakek-kakek yang nakutin kita. Gak ada salahnya kita mainin."
"Nanti kalo ada yang aneh-aneh gimana-nodayo? Gue gak mau ikut-ikutan."
"Ayolah," Akashi menyeringai. "udah berapa kali gue main jailangkung, manggil bloody Marry, dan semua itu berakhir gitu aja."
Lima orang di sekelilingnya menatap Akashi tidak percaya. 'Ini anak mau jadi dukun atau gimana?' Batin mereka kompak.
"Oh ya, Akashi-kun." Kuroko kembali membuka konversasi. "Mau main cara biasa atau sambil manggil arwah?"
Lima pemuda yang lain membisu. Tenggelam dalam pikiran masing-masing—yang sebenarnya adalah satu hal yang sama.
"Mau manggil Momoi?"
Iris-iris berbeda warna menatap Akashi dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Saran Akashi sangatlah emosional.
"Kasian kalo dia gak diajak ngumpul." Akashi masih mempromosikan sarannya. "Gimana?"
Yang lain saling beradu tatap. Hampir saja mengiyakan begitu saja kalau tak ingat resiko yang ditanggung jika gagal.
"Tapi tadi, Hanamiya-san bilang kita harus menang-ssu. Menang lawan siapa? Arwah yang dipanggil? Siapapun itu tapi—"
"Tenang, Ryouta." Akashi tersenyum kalem. "Kita pasti menang."
.
.
.
Seusai acara makan dan membereskan banyak hal, Kisedai kini duduk melingkari papan permainan itu di ruang utama vila.
Midorima berinisiatif memulai persiapan permainan karena teman-temannya hanya duduk saling melihat satu sama lain dalam kondisi tegang. Tentu saja kecuali Akashi, orang itu sepertinya sedang menimbang-nimbang hal apa yang akan dia tanyakan pada arwah Momoi nanti.
Bidak-bidak dikeluarkan dari laci. Jumlahnya ada tujuh buah, warnanya seperti warna pelangi—MeJiKuHiBiNiU. Dadunya sendiri berjumlah dua buah. Midorima menyerahkan bidak sesuai warna rambut teman-temannya—jalan tengah karena Aomine dan Kise berebut bidak berwarna nila. Kini, tersisa bidak jingga yang kembali Midorima masukkan dalam laci.
"Akachin," Murasakibara membuka percakapan sambil memainkan bidaknya. "arwahnya ikutan main apa gimana? Kok kita dibilang harus menang?"
Kepala lain kompak menoleh ke arah Akashi, si merah menaikkan bahu. "Hanamiya gak ngomong apa-apa. Lagian, emangnya arwah mau ngocok dadu terus ngucapin permintaan—"
"Serem-ssu." Kise bergidik ngeri. Air mata sudah berkumpul di ujung pelupuk mata.
"Oke," Akashi berdeham, mengembalikan fokus. "langsung aja, ucapin nama Momoi."
Tanpa disuruh—tapi itulah yang mereka pikir harus lakukan—semua orang disana memejamkan mata, lantas menyebutkan nama Momoi Satsuki dalam hati.
"Jalannya berdasar urutan MeJiKuHiBiNiU aja, ya." Akashi memberi saran yang langsung ia jalankan sendiri tanpa menunggu persetujuan yang lain.
Akashi meraih dadu lantas mengocoknya dengan satu tangan, kemudian ia lemparkan ke atas papan. Mata dadu menunjukkan jumlah dua belas—nilai maksimal. Akashi kembali meraih dadu tersebut dan kembali melemparnya, sekarang jumlahnya delapan. Total Akashi mendapat angka dua puluh. Jika ini hanya monopoli atau ular tangga, mungkin Aomine sudah berdecak kagum atas kehebatan Akashi dalam melempar dadu.
Kise menyambar dadu-dadu kemudian melemparnya. Ia mendapat jumlah lima.
"Ck, dasar payah." Aomine mencibir dan segera mendapat tatapan sinis dari si kuning.
Giliran Midorima. Ia sempat merapal doa sebelum memulai mengocok dadu, berharap tidak ada kesialan apapun menimpa mereka. Jika ada, silakan teman-temannya saja yang kena, dia tidak perlu.
Dadu milik Midorima sempat berputar agak lama, dan hasil akhirnya berjumlah tujuh. "Bagus juga-nodayo." Midorima tersenyum puas. Awal yang baik karena ia mendapat angka keberuntungannya.
Segera Aomine mengocok dadu dengan semangat. Ia harus berjalan paling depan di antara teman-temannya, memandu agar mereka menang. Itulah tugas seorang ace, bukan?
Dadu menunjukkan jumlah dua.
"Pfft," Kuroko dan Murasakibara menahan tawa, sementara Kise sudah terbahak.
"Sial," Aomine mengumpat. "Tapi gak apa-apa. Lebih sakit kalo udah jauh tapi malah balik ke start lagi."
Tanpa disuruh, Kuroko mengambil dadu dan mengocoknya. Tidak mau menahan malu seperti Aomine, Kuroko mengocok dengan kalem dan melemparnya dengan amat hati-hati.
Jumlah yang ia dapat adalah sepuluh. Lumayan.
Selanjutnya adalah Murasakibara. Ia mengambil dadu dari atas papan dan langsung melemparnya kembali tanpa dikocok. Ajaibnya, mata dadu menunjukkan jumlah maksimal. Aomine dibuat melongo.
Pelemparan kedua Murasakibara pun kembali mendapat nilai maksimal. Akashi memberi apresiasi dengan menepuk tangan dua kali. Pelemparan ketiga Murasakibara mendapat jumlah empat. Ini membuat bidaknya berdiri paling depan.
Giliran kembali pada Akashi dan dia mendapat jumlah dua. Tidak ada yang menghinanya seperti yang didapat Aomine tadi—walau jumlahnya sama-sama dua—karena dengan itu, Akashi berkesempatan mengajukan pertanyaan.
Semua mata memandangnya dengan tegang.
"Momoi," Akashi mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Bener lo udah ada disini?"
Hening melingkupi. Tidak ada jawaban atau pertanda apapun. Akashi menaikkan bahunya dan mengangsurkan dadu pada Kise. Yang lainnya mengembuskan napas lega.
"Gue kira bakal ada apa, gitu." Aomine mengelus dadanya.
"Kalo beneran ada apa-apa palingan Aomine-kun juga kabur." Kuroko memberi tanggapan dan segera dibalas "oi!" oleh Aomine.
Permainan terus berlanjut namun tidak ada dari mereka yang kembali mendapat 'pertanyaan' ataupun 'permintaan'. Saat ini dadu Midorima berjalan paling depan, sementara yang paling belakang adalah Kise karena dia sempat dipaksa kembali ke kotak start.
Jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Permainan tambah seru karena Murasakibara berhasil mengirim Midorima ke kotak start, membuat si hijau dendam setengah mati. Di luar dugaan, Aomine berhenti di kotak 'permintaan' dan ia menyuruh Midorima mengambil minum untuknya.
"Aominecchi kenapa gak minta minum buat semuanya aja, sih?" Tanya Kise saat Midorima akhirnya melesat dan sampai di dapur, setelah si hijau menyumpahi Aomine dan dihadiahi petuah dari Akashi dengan berkata, "malang sekali nasibmu nak Shintarou."
Aomine menggaruk punggungnya. "Gak, lah. Kalian ambil sendiri."
Sesampainya Midorima, Akashi malah menyudahi permainan. "Lanjut besok lagi, sekarang udah malem."
"Gak bisa gitu-nodayo!" Midorima menyalak dan segera ditenangkan oleh Kuroko.
Tanpa mengindahkan protes Midorima, Akashi memfoto posisi bidak-bidak di atas papan untuk melanjutkan permainan besok. Papan permainan disimpan olehnya.
.
.
.
Akashi menaruh papan itu di meja di kamarnya, kemudian ia bergegas menuju kamar mandi.
Sehabis gosok gigi dan cuci kaki, Akashi kembali menuju kamarnya dan menemukan sebuah tisu tergeletak di atas papan, ditahan dengan bidak merah—bidak milik Akashi—seolah menahan agar tisu itu tidak terbang. Di atasnya tertulis menggunakan darah yang Akashi yakini adalah darah segar :
'Ya, aku disini Akashi-kun.'
.
.
Akhirnya update yaampun hiks.
.
Buat readertachi saya minta maaf ya jarang banget update :" saya gabisa memungkiri setahun belakangan emang sibuk karena ada di kelas 12 hehe.
.
Walau ini telat tapi saya merasa ada tanggung jawab moral untuk mengucapkan:
Selamat dan sukses teman-teman seangkatanku :)
.
Dan jujur lagi nih, abis ini saya akan disibukkan sama kuliah—ugh. Gatau nasib ff ff gimana :""
.
Makasih buat yang masih setia hehee :")
.
See you next,
Kiryuu
