BOY IN LUV
.
.
Taehyung melirik Jimin yang terlihat masih sibuk di mejanya, padahal pelajaran sudah selesai dan murid satu persatu sudah keluar dari kelas.
"apa kau akan menginap di sekolah?" tanya Taehyung sambil beranjak menuju meja Jimin yang ada di sebelah mejanya.
Jimin yang mendengar ucapan Taehyung langsung membereskan mejanya sebelum Taehyung tiba.
"masih memikirkan Min Yoongi, eoh?" ledek Taehyung sambil mengambil posisi duduk di sudut meja Jimin, membuat Jimin tersenyum kecil.
Taehyung tahu betul sahabatnya ini sangat menyukai kakak kelas yang menurut Taehyung sangat berbeda dari orang-orang kebanyakan, dan Taehyung pun tidak mengerti kenapa Jimin bisa sangat menyukai Yoongi.
"Kau tidak terpikirkan untuk mencari sosok lain yang bisa kau sukai selain dia?" tanya Taehyung sambil mengingat bagaimana sosok Min Yoongi yang menakutkan menurutnya.
"memang apa yang salah dari dia?" Jimin menanggapi dengan santai sambil menyandarkan punggungnya di kursi dan kepalanya mendongak menghadap Taehyung.
"Ya! Kau pasti tahu kan bagaimana dia? Dia seperti monster, Jim! Aku saja sangat segan jika bertemu dengannya, cara dia menatap orang itu sangat menakutkan, membayangkannya saja aku tidak mau" Taehyung bergidik ngeri mengingat sosok Yoongi yang selalu menunjukkan tatapan yang sangat menyeramkan.
Jimin yang mendengar ucapan Taehyung langsung berdiri dan mendekatkan wajahnya pada Taehyung, hingga hidung mereka nyaris bersentuhan, menatap tepat di mata Taehyung sambil tersenyum, membuat Taehyung berkedip-kedip lucu.
"aku jamin kau akan menarik ucapanmu saat kau melihat dia tersenyum, Tae—"
Taehyung mendorong bahu Jimin sebelum Jimin menyelesaikan kalimatnya agar Jimin menjauh.
"t-tidak usah dekat-dekat!" ujar Taehyung cepat dan beranjak dari duduknya.
"wae? Apa jantungmu berdegup cepat saat aku melakukan itu?" dengan rasa tidak bersalahnya Jimin meletakkan telapak tangannya di dada Taehyung, dan langsung ditepis oleh sahabatnya itu. Membuat Jimin tertawa terbahak-bahak setelahnya.
"maaf. Jantungku hanya berdegup lebih cepat bahkan beribu kali lebih cepat ketika aku berhadapan dengan Jungkook"
Ucapan Taehyung membuat Jimin berhenti tertawa tiba-tiba.
"Tae. Aku pergi duluan ne, sampai bertemu besok!" Jimin langsung mengambil tasnya tergesa, dan melangkah keluar dari kelas dengan cepat, membuat Taehyung berdiri mematung melihat tingkah Jimin.
"dasar aneh. Kenapa aku bisa memiliki sahabat seperti itu!" ucap Taehyung santai dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari kelas.
DEG
Taehyung menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas ketika melihat pujaan hatinya –Jungkook- berlari menuruni anak tangga sambil tersenyum dan menghampirinya.
Kelas Taehyung berada di dekat tangga memang.
"Taehyung sunbaehh~" sapa Jungkook yang kini sudah tiba di depan Taehyung sambil mengatur napasnya.
"k-kau tidak apa-apa?" tanya Taehyung sambil memperhatikan wajah manis Jungkook yang masih mengatur napas.
Jungkook mengangguk sambil tersenyum dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan terkena tiupan angin selama dia berlari tadi.
"ada apa, sunbae?" tanya Jungkook yang sekarang sudah bisa bernapas seperti biasa, dan masih dengan senyum di wajahnya.
Taehyung mengernyitkan dahinya ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jungkook.
"ada apa?" gumam Taehyung sambil berpikir apa maksud pertanyaan dari Jungkook.
"—tadi sunbae meminta aku kesini sepulang sekolah. Memang ada apa?" lanjut Jungkook setelah melihat raut wajah Taehyung yang bingung.
"ne?" Taehyung semakin bingung dengan ucapan Jungkook.
Hening.
Jungkook menangkap raut wajah bingung Taehyung dan langsung mengeluarkan ponselnya, menunjukkan pesan yang diterima olehnya pagi tadi.
Pesan yang memintanya untuk pergi ke kelas dua sepulang sekolah, lengkap dengan nama Kim Taehyung di akhir pesan.
Taehyung membulatkan matanya dan membuka mulutnya tanpa sadar ketika membaca pesan di ponsel Jungkook.
"Ta-tapi...tapi-aku tidak..." Taehyung tergagap dan kemudian terdiam saat mengingat Jimin yang merebut ponselnya di kelas tadi setelah dirinya memamerkan nomor Jungkook di ponselnya.
"terkutuk kau Park Jimin, bo-" rutukan Taehyung dalam hanti terhenti ketika mendengar suara hembusan napas berat Jungkook di hadapannya.
Ya.
Jungkook menghembuskan napas beratnya setelah mendengar ucapan Taehyung yang terbata.
"jadi sunbae tidak benar-benar memintaku kesini ne?"
Taehyung menatap tepat ke mata Jungkook. Dan Taehyung menemukan sebuah siratan kecewa disana.
"yasudah, kalau begitu aku duluan ne, sunbae~ maaf sudah mengganggu" Jungkook tersenyum kecil sambil merunduk ke arah Taehyung dan melangkahkan kakinya perlahan dengan wajah yang sulit ditebak.
Taehyung hanya bisa terdiam dan jujur dia bingung harus berbuat apa sekarang. Melihat Jungkook-nya seperti ini, membuat Taehyung merasa tidak enak hati, dan kegelisahan mulai menyelimuti pikirannya.
Taehyung sudah membuat Jungkook-nya berlari-lari untuk menemuinya. Dan setelah Jungkook tiba di hadapannya, Taehyung tiba-tiba membuat senyum di bibir Jungkook memudar? Dan dia benar-benar tidak salah melihatnya tadi. Tatapan kekecewaan yang diberikan Jungkook itu sangat menusuk tepat di hatinya.
"k-kau...mau langsung pulang?" Jungkook tersentak ketika mendengar suara Taehyung yang tiba-tiba sudah berjalan di sampingnya, mensejajarkan langkahnya.
"ne? Ah, tidak, sunbae. Aku ingin pergi ke toko di persimpangan jalan. Membeli peralatan untuk praktik besok" jawab Jungkook sambil tersenyum kecil tetapi tidak menghadap Taehyung.
"aku... boleh aku ikut?"
Jungkook menganggukkan kepalanya setelah mendengar pertanyaan Taehyung.
Senyum lebar dan semangat kembali Taehyung lihat di wajah manis Jungkook, membuat dirinya tersenyum lega.
.
Yoongi terdiam, berdiri di depan kelasnya dan melihat satu objek yang ada di lantai bawah –karena letak kelas tingkat tiga memang paling atas-. Entah apa yang dilihatnya, sampai sebuah senyum simpul tercetak jelas di wajah pucatnya
"belum pulang?" Seokjin menghampiri Yoongi dan berdiri tepat disampingnya sambil tersenyum.
Yoongi menoleh dan hanya menggeleng pelan.
"aku ingin pergi memperbaiki ponselku, hyung" ujar Yoongi yang kembali melihat ke arah lantai bawah.
"oh? Kalau begitu aku ikut ya?" Seokjin berseru riang sambil merangkul Yoongi, yang hanya dibalas cibiran dari Yoongi, tetapi tidak ditolaknya.
Yoongi sudah menceritakan perihal kejadian di toilet yang menyebabkan ponselnya tidak bisa hidup seperti ini kepada ketiga sahabatnya, yang direspon dengan tawa ketiga sahabatnya yang sama sekali tidak berguna –menurut Yoongi.
Tapi beruntungnya, Seokjin masih mau menemaninya memperbaiki ponsel kesayangan Yoongi.
"tidak pergi ke loker dulu?" Seokjin mencolek dagu Yoongi saat tiba di depan ruang loker, karena Seokjin tahu pasti akan ada surat dari penggemar rahasia Yoongi di sana.
"ck!" Yoongi mendecik tidak suka, tetapi dia lebih dulu masuk ke ruang loker, membuat Seokjin menggeleng pelan melihat tingkah Yoongi yang seperti ini. Terkesan tidak peduli tetapi sebenarnya dia sangat ingin tahu juga –mungkin.
Seokjin menyandarkan tubuhnya di pintu ruang loker, melihat Yoongi yang masih berdiri di depan lokernya.
"dua, hyung" Yoongi berbalik arah dan menghampiri Seokjin sambil memperlihatkan dua amplop kepada Seokjin.
Seokjin dan Yoongi saling bertatapan dan melihat kedua amplop di tangan Yoongi bergantian.
.
Taehyung mengikuti Jungkook yang berjalan di dalam toko peralatan sekarang. Toko yang memang dibangung untuk menjual barang perlengkapan sekolah maupun umum.
Taehyung memperhatikan Jungkook yang sibuk memilih peralatan yang diperlukan untuk praktik melukis di kelasnya esok hari, memasukkan satu persatu item kedalam keranjang yang sudah disiapkan dalam toko.
"apa yang akan kau lukis besok?" Taehyung membuka suara saat Jungkook sedang memilih kuas dan terlihat bingung memilih yang satu dengan yang lain.
"entahlah, sunbae. Aku bahkan belum terpikir akan melukis apa. Aku tidak pernah melukis sebelumnya" ujar Jungkook sambil mengerucutkan bibirnya lucu.
"apa tema yang diajukan?" Taehyung ikut memilih-milih kuas yang ada disana dengan berbagai jenis dan ukuran yang berbeda.
"realism. Sesuatu yang nyata"
Taehyung terdiam dan menerawang untuk berpikir apa yang bisa dilukis Jungkook. Dia ingin menjadi orang yang berguna untuk Jungkook kali ini.
"seperti manusia?" tanya Taehyung sambil melihat wajah Jungkook yang juga sedang berpikir.
"ya. Dan.. ah! Aku akan menggambar wajah manusia, sunbae" Jungkook tersenyum lebar dan mulai memilih kuas yang bisa dia gunakan untuk melukis wajah manusia.
Taehyung tersenyum melihat Jungkook yang tersenyum bersemangat seperti itu.
"wajah siapa yang akan kau lukis?" tanya Taehyung penasaran sambil memberikan kuas yang dia pilih kepada Jungkook.
"hemmm... orang yang aku kagumi mungkin" jawab Jungkook sambil merunduk dan mengambil kuas yang dipilih Taehyung.
Taehyung bisa melihat senyum yang berbeda di wajah Jungkook setelah Jungkook bicara tentang orang yang dia kagumi. Seperti lebih tulus dan lebih dalam.
Siapa?
Taehyung hanya bertanya dalam hatinya saja.
Jungkook selesai memilih peralatan yang dia butuhkan dan bersiap menuju kasir untuk membayar, berjalan beriringan dengan Taehyung.
"wah! Hampir saja lupa" gumam Jungkook lirih, tetapi masih bisa di dengar Taehyung yang ada di sampingnya.
Taehyung menoleh dan melihat Jungkook mengambil satu bungkus amplop kecil lengkap dengan kertas kecil yang bisa dimasukkan ke dalam amplop.
'amplop? Surat? Apa melukis membutuhkan surat serta amplop?'
.
Keesokan harinya...
Yoongi berjalan di koridor sekolahnya seorang diri. Menatap lurus ke depan tanpa peduli di sekitarnya ada apa dan siapa. Bahkan mungkin ada siswa disampingnya yang mendadak menghilang atau berubah wujud, Yoongi tidak akan menyadarinya.
"bisakah kau menyadari keberadaanku?"
"Ayo kita mengenal satu sama lain"
Dua kalimat dari dua surat yang Yoongi dapatkan kemarin terus terlintas di pikirannya. Entah kenapa Yoongi terus mengingat kedua kalimat itu sejak kemarin. Bahkan di rumahpun Yoongi terus terpikirkan dengan surat itu.
Sempat ada pemikiran untuk membalas surat itu dan mengetahui siapa sebenarnya orang itu. Tapi Yoongi dengan cepat mengusir rasa penasarannya karena Yoongi merasa jika Yoongi membalas surat itu, dia akan terjebak mengikuti alur yang tidak jelas semakin jauh.
Yoongi melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju lantai tiga masih disertai dengan pemikiran tentang surat itu. Di satu sisi Yoongi sangat penasaran dengan orang yang mengirimkan surat dan ingin membalas surat itu, di satu sisi lain Yoongi ingin tidak penasaran dan kembali menjadi sosok Yoongi yang tidak peduli dengan hal-hal kecil seperti ini.
"ayolah, Yoon. Kenapa kau seperti ini? Ini bukan dirimu" Yoongi membuang napasnya kesal sambil terus menaiki anak tangga satu demi satu dengan langkah yang pelan dan tidak bersemangat.
BUGH!
Yoongi tersadar dari lamunannya ketika dirinya hampir terjatuh kebelakang karena bahunya yang didorong –atau mungkin tidak sengaja terdorong- seseorang.
"oh, maaf, sunbaenim, aku tidak sengaja, aku benar-benar tidak melihatmu" ujar orang yang tadi menabrak Yoongi.
Yoongi memutar kedua matanya kesal dan bersiap membuka mulutnya untuk memarahi orang yang membuat moodnya semakin tidak bagus pagi ini. Tetapi Yoongi mengurungkan niatnya ketika melihat nama yang tertulis di nametag siswa itu—
Kim Taehyung.
Yoongi menarik napas dalam-dalam dan entah kenapa dia sedang malas untuk marah pagi ini.
"lain kali perhatikan apa yang ada di depanmu" ucap Yoongi dan berusaha setenang mungkin sebelum dia melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju lantai tiga. Membuat Taehyung yang sebelumnya menundukkan wajah dan meringis meratapi nasib sialnya yang harus berurusan dengan Min Yoongi di pagi hari menjadi mendongak, mengikuti arah Yoongi yang menjauh sambil membuka mulutnya.
"aku tidak salah lihat? Aku kira dia akan memakanku" ucap Taehyung pelan dan langsung menuruni anak tangga dengan langkah yang cepat, takut-takut Yoongi mendengar dan mengejarnya untuk dijadikan santapan makan siang nanti.
Ya.
Taehyung benar. Yoongi mendengar ucapan Taehyung dengan jelas karena posisinya yang belum benar-benar jauh dari Taehyung.
Dan Yoongi hanya mengibaskan tangannya di depan wajah, berusaha untuk melupakan kejadian ini.
.
"dua, hyung?" Suara Hoseok meninggi dan membuat siswa di kelasnya menoleh ke arahnya sejenak, membuat Namjoon mau tidak mau memukul kepala Hoseok menggunakan pulpen yang dia pegang.
Namjoon, Hoseok dan juga Seokjin sedang berkumpul di meja Yoongi yang masih kosong karena pemiliknya belum menampakan wujudnya di pagi yang indah ini.
"ne. Yoongi mendapat dua surat kemarin, dan aku ikut membacanya. Salah satu dari surat itu isinya mengajak Yoongi untuk mengenal satu sama lain" ucap Seokjin sedikit heboh tetapi dengan suara pelan agar tidak didengar siswa lain di kelasnya.
Namjoon dan Hoseok saling beradu tatap seolah mereka mengobrol dalam tatapan mereka, dan itu berlangsung cukup lama, membuat Seokjin harus menepuk dua kepala sahabatnya agar menghentikan tingkah bodoh mereka.
"kenapa kalian malah bertatap-tatapan?!" Seokjin melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap sebal kepada dua pasang mata itu bergantian.
"Kenapa? Hyung cemburu, eoh? Tenang saja hyung, cinta Namjoon hanya untuk hyung" ucap Hoseok sambil tersenyum lebar dan menempelkan jari telunjuk serta ibu jarinya, hingga seperti membentuk tanda love di depan wajah Seokjin, membuat wajah Seokjin tiba-tiba memanas dan sedikit merona.
"apa-apaan kau, Jung Hoseok! Lanjutkan bicaramu, hyung" ujar Namjoon agar Hoseok berhenti membicarakan hal itu. Hal yang membuat jantungnya berdebar secara tiba-tiba, apalagi setelah melihat wajah Seokjin yang merona seperti itu, membuat Namjoon ingin menarik Seokjin meninggalkan kelas dan membawanya ke tempat yang bisa dijadikan sebagai saksi bisu cerita cinta mereka berdu-
"baik. Menurut kalian, kita harus mencari tahu siapa orang itu, atau tidak?" pertanyaan Seokjin membuat Namjoon kembali dari khayalan indahnya.
"menurutku iya. Dan harus. Tapi bagaimana caranya? Kita tidak mungkin mengawasi loker 24 jam kan, hyung?"
Namjoon mengangguk setuju dengan pertanyaan Hoseok.
"iya juga. Hemmm bagaima-"
"tidak perlu repot-repot. Aku saja tidak peduli kan? Kenapa kalian yang repot?" Suara Yoongi menginterupsi ucapan Seokjin.
"tapi Seokjin hyung benar. Kita, terutama kau harus tahu siapa dia" Namjoon dan Seokjin kini mengangguk kompak menyetujui ucapan Hoseok.
"lagipula bukankah dia sudah mengajakmu untuk mengenal satu sama lain? Kalau begitu balas saja. Aku yakin dia akan memberitahu identitasnya. Percaya padaku" Namjoon mengankat ibu jarinya dan menatap ketiga orang disana dengan yakin.
"sangat yakin?" tanya Seokjin dengan nada menginterogasi sambil menatap Namjoon. Dan Namjoon langsung mengangguk mantap sambil tersenyum lebar kepada Seokjin.
Yoongi mendudukkan diri di sudut mejanya, dan melipat kedua tangannya di dada.
"kalian tahu bagaimana aku kan?" tanya Yoongi yang dijawab dengan anggukan dari ketiga sahabatnya.
"dan menurut kalian aku akan melakukan hal itu atau tidak?" kali ini pertanyaan Yoongi dijawab dengan gelengan kompak dari Seokjin, Namjoon dan Hoseok.
Yoongi mengangkat kedua bahunya sebagai keputusan akhir dari pembahasan mereka berempat.
"tapi, Yoongi. Ide dari Namjoon sepertinya perlu dipertimbangkan. Aku rasa orang itu mulai akan membuka identitasnya dengan dia mengajakmu untuk mengenal satu sama lain. Bukankah ini kesemptaan yang bagus?" ucap Seokjin panjang lebar, dan kembali didukung oleh anggukan dari Namjoon dan Hoseok.
Yoongi terdiam sekarang. Dan memilih untuk duduk di kursinya dengan tenang.
.
Jimin melihat sekeliling kelas ditengah penjelasan guru sejarahnya yang membuat dirinya bosan karena terlalu banyak cerita tentang masa lalu. Prinsip Jimin, kita tidak boleh terus membicarakan masa lalu, karena hanya akan membuat kita terus terjebak dan terbawa perasaan. Mulai berpikirlah tentang masa depan, dengan begitu kita akan bahagia. Kalau kita terus memikirkan-
DDRT
Jimin tersentak dan tersadar dari lamunannya ketika merasakan ponsel di saku celananya bergetar.
Jimin mengeluarkan ponselnya dan melihat ada satu pesan disana.
[hei. Tahu apa yang aku alami tadi pagi?]
Jimin menatap Taehyung yang ada di sampingnya dengan tatapan heran.
"apa?" Jimin mengirim balasan pesan dari Taehyung.
[bertemu Yoongi. Min Yoongi. Aku tidak sengaja menabraknya tadi]
Jimin membulatkan matanya setelah membaca pesan Taehyung. Dan lagi-lagi Jimin menoleh menatap Taehyung dengan tatapan penuh tanya. Sedang yang ditatap terus menghadap ke depan seolah seperti memperhatikan guru sejarah itu menjelaskan.
"kau menabraknya? Bagaimana kondisinya? Tergores sedikit saja, aku jamin kau tidak bisa melihat dunia lagi!"
Kali ini ganti Taehyung yang menoleh dan menatap Jimin dengan tatapan tajamnya.
[tidak usah berlebihan. Aku hanya menyenggolnya saja. Tapi aneh. Dia tidak marah sama sekali]
Jimin tersenyum kecil membaca pesan balasan dari Taehyung, dan langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
'aku senang kau seperti ini, tidak pemarah, tidak arogan'
.
Bel istirahat telah berbunyi 2menit yang lalu.
Taehyung melirik meja Jimin yang kosong, entah kemana perginya sahabat baiknya itu. Beberapa menit yang lalu, Jimin memang meminta ijin untuk keluar kelas karena dia ingin ke toilet, tapi belum kembali juga sampai sekarang.
"kemana perginya anak itu?!" Taehyung beranjak dari kursinya dan berjalan ke meja Jimin. Melihat buku Jimin yang masih berantakan, Taehyung dengan sukarela membereskan apa yang ada di meja Jimin dan merapikan semuanya ke dalam tas Jimin.
Setelah memastikan semua beres, Taehyung berjalan meninggalkan meja Jimin untuk pergi keluar kelas mencari Jimin sebelum pergi ke kantin untuk makan siang.
Lagi-lagi langkah Taehyung terhenti saat di depan pintu kelasnya ketika melihat seseorang berlari menuruni anak tangga sambil tersenyum melihat dirinya.
"sunbaehh~"
Siapa lagi kalau bukan Jungkook. Orang yang selalu membuat Taehyung lupa bagaimana caranya bernapas –menurut Jimin.
"kau ini hobi sekali berlari menuruni anak tangga, eoh?" tanya Taehyung sambil tersenyum ketika Jungkook tiba di hadapannya dan masih mengatur napas yang tersengal.
Jungkook tertawa pelan dan menarik napas dalam, mengatur agar bisa bernapas seperti biasa lagi.
"Taehyung sunbae tidak berkumpul untuk membicarakan pertandingan futsal bulan depan?" Jungkook bertanya sambil mengusap keringatnya yang mengucur di pelipis menggunakan punggung tangan.
"aku tidak diberitahu. Hari ini?" Taehyung terus memperhatikan apa yang Jungkook lakukan, apa yang Jungkook bicarakan, semua hal tentang Jungkook tidak ingin Taehyung lewatkan sedikitpun.
"iya, sekarang. Tapi mungkin hanya tim kelas satu saja, sunbae. Itu kenapa sunbae tidak diberitahu-" jelas Jungkook sambil terus tersenyum memamerkan gigi kelincinya yang menggemaskan.
"—yasudah, sunbae. Aku pergi duluan ne"
Jungkook tersenyum dan melambaikan tangannya di hadapan Taehyung, membuat Taehyung tersenyum lebar dan melihat Jungkook yang berlari menjauh darinya.
Entahlah..
Taehyung memikirkan sesuatu saat itu.. saat melihat Jungkook pergi darinya.. sesuatu yang Taehyung juga ragukan kebenarannya..
"Hoi! Kenapa melamun?" Jimin tiba-tiba merangkul bahu Taehyung setelah memperhatikan Taehyung yang terdiam.
"ya! Dari mana saja kau?! Sampai-sampai aku yang harus membereskan semua bukumu! Ganti waktuku yang terbuang untuk itu!" Taehyung menjulurkan tangannya ke Jimin dan menatap Jimin dengan tatapan sebal.
Jimin menautkan alisnya setelah mendengar ucapan Taehyung, dan langsung melangkah meninggalkan Taehyung untuk pergi ke dalam kelas.
"YA! Park Jimin!" Taehyung mengikuti Jimin masuk ke dalam kelas dan mendekat ke meja Jimin.
Jimin membuka tasnya yang sudah dirapikan Taehyung dan memeriksa sesuatu di dalamnya.
"apa ada barangmu yang hilang? Aku tidak mengambilnya" ujar Taehyung santai sambil ikut memegang tas Jimin.
Melihat itu, Jimin langsung mengambil tasnya dari Taehyung dan meletakannya di meja.
"tidak ada yang hilang~ aku hanya memeriksa apa kau benar sudah merapikan semuanya~ kau kan jahil! Bisa saja kau sengaja mengacak isi tasku seperti dulu" Jimin mengerucutkan bibirnya mengingat Taehyung yang pernah mengacak-acak isi tasnya sewaktu mereka kelas satu.
Taehyung mengacak rambut Jimin sambil tertawa melihat tingkah sahabatnya ini.
"Hei, Park Jimin, ada yang mau aku bicarakan" ucap Taehyung lirih sambil duduk di sudut meja Jimin.
"soal apa?" Jimin terlihat antusias dan langsung duduk di kursinya menghadap Taehyung.
"Jungkook" Taehyung bicara dengan nada berbisik saat teman sekelasnya lewat tepat disampingnya untuk keluar kelas.
"si manis Jungkook? Ada apa dengan dia? Kalian sudah berpacaran?" tanya Jimin panjang lebar, dan dibalas dengan jitakan pelan dari Taehyung.
"dengarkan aku dulu, Jim! Aku...sedikit curiga dengan dia"
"curiga? Kenapa?" Jimin mendongak menatap Taehyung dengan wajah seriusnya.
"kemarin saat aku menemani dia ke toko, dia membeli kertas surat dan juga amplop kecil berbagai warna" ucap Taehyung sambil mengerucutkan bibirnya lucu.
Jimin yang mendengar itu langsung memutar kedua bola matanya sambil berpikir maksud ucapan Taehyung.
"hemmm lalu? Apa yang kau curigakan?"
"Jim! Kau ingat ucapan di kantin saat kita satu meja dengan Min Yoongi-mu dan teman-temannya? Mereka membicarakan tentang Yoongi sunbae yang mendapat surat terus menerus bahkan sudah tidak terhitung? Kau ingat?"
Jimin kembali menerawang dan mencoba mengingat kejadian itu.
"maksudmu, Jungkook yang menulis dan memberikan surat itu pada Yoongi sunbae? Apa ada bukti lain?" Jimin bertanya dengan nada menyelidik.
Taehyung menggigit bibir bawahnya dan menatap Jimin serius.
"ada. Beberapa kali aku tidak sengaja bertemu dia di depan kelas. Dia berlari menuruni anak tangga"
"lalu? Apa hubungannya tangga dengan surat itu?"
Taehyung menghela napasnya mendengar pertanyaan Jimin yang polos.
"Park Jimin, Jungkook itu kelas satu. Kelas satu itu ada di bawah, dan yang di atas itu kelas tiga. Min Yoongi itu kelas tiga. Lalu kenapa Jungkook berlari menuruni anak tangga? Berarti dia baru saja kembali dari lantai tiga kan? Untuk apa?"
Jimin mengangguk memahami penjelasan Taehyung dan berpikir tentang suatu hal yang Taehyung mungkin tidak ketahui.
.
Yoongi berjalan beriringan dengan Hoseok saat jam istirahat untuk menuju kantin.
"Yoongi~" panggil Seokjin dari arah belakang mereka berdua, disusul Namjoon di belakangnya, membuat Yoongi dan Hoseok menghentikan langkah mereka.
"lihat. Aku menemukan surat lagi di lokermu~" Seokjin menunjukkan sebuah amplop berwarna kuning di tangannya sambil tersenyum lebar.
"tadi kami pergi ke loker dan melihat amplop itu di lokermu. Jadi kami bawa saja" jelas Namjoon.
"tenang saja. Aku belum membukanya. Tadinya aku mau buka karena penasaran tapi dilarang Namjoon" Seokjin memasukkan amplop itu ke saku kemeja seragam Yoongi sambil melirik Namjoon sebal.
"aku menjaga privasimu" Namjoon hanya tersenyum lebar mendengarnya.
Yoongi yang melihat tingkah kedua sahabatnya hanya bisa menghela napas berat, lalu melirik amplop yang dimasukkan Seokjin ke sakunya.
"ayo ke kantin. Aku lapar" ucap Yoongi sambil membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan, diikuti Hoseok di belakangnya.
Sedangkan Namjoon menahan tangan Seokjin dan mengajaknya berbalik arah ke tempat lain. Tidak mengikuti Yoongi dan Hoseok.
TBC
Akhirnya sudah mulai ketahuan kan siapa pengirim surat itu? Kekekeke.
Di chapter berikutnya bakal benar-benar ketahuan siapa pengirim suratnya :D
Dimohon kasih reviewnya yaaaaaaaaa untuk semangat dan inspirasi juga, terimakasih :)
