Hal pertama yang Sasuke lihat saat terbangun dari tidur panjangnya adalah gorden jendela bersiluet hitam di depan ranjangnya yang belum tersibak, menimbulkan efek gelap pada setiap sudut kamarnya. Lampu-lampu masih padam, Sasuke berusaha menajamkan penglihatannya, iris matanya menyipit, semuanya samar-samar terlihat, ia perlahan mengulum senyum, mengamati seorang wanita yang berdiri menghadap dirinya sembari menggenggam tali pembuka gorden itu.
"Kenapa tak kau buka gorden itu, Sakura?" Sasuke bangkit mendekati si wanita. Senyum terkembang dibibirnya.
—Itachi, dari lubang pintu menggigit bibir bawahnya. Matanya menatap nanap. Kaki-kakinya seakan melumer, ia tersungkur.
'Adiknya berbicara sendiri.'
Naruto milik Masashi Kishimoto
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam bentuk materi dari fanfiksi ini.
AU. OOC. Drama. Typo(s). SasuSakuxxx
Don't like? Don't read!
Saya telah memperingatkan.
…Namun ada kalanya Uchiha Sasuke bosan. Sedikit bermain api. Dan akhirnya membawanya ke dalam penyesalan yang tak berujung.
Bagian II
Lima tahun lalu…
Pantulan bola basket menggema diudara bersamaan dengan suara decit sepatu. Segerombol anak laki-laki saling mengejar, berusaha merebut atau mempertahankan bola tersebut. Beberapa dari mereka mengalih fungsikan mulut menjadi hidung, berusaha sebanyak mungkin mengisi paru-paru dengan oksigen, menimbulkan reaksi suara engahan. Di sudut ruangan, nampak anggota pemandu sorak—yang selesai berlatih—dengan serius menonton, sesekali menjerit histeris kemudian hening, lalu histeris kembali. Papan waktu menunjukan limit terakhir, sementara papan skor menampakkan nilai yang hampir berimbang, hanya terpaut dua angka.
Bola melayang, menuju objek berambut kebiru-biruan.
"Sasuke!"
Penonton bersamaan menahan nafas saat bola berada di tangan Uchiha Sasuke, seolah nasib dunia berada di tangan pemuda itu. Keadaan memacu adrenalin, penonton menunggu dengan rasa was-was. Sasuke melakukan shoot, bola sempat menari di bibir ring sebelum akhirnya masuk kedalam ring.
Peluit panjang ditiup.
.
.
Sasuke menghempaskan dirinya di salah satu bangku penonton. Peluh merembes keluar dari tubuh tegapnya. Ia mencoba menetralkan deru nafasnya yang tak teratur dan memejamkan matanya. Sekelebat ingatan melintas di benaknya, muncul acak seperti puzzle, membuat kepalanya sedikit pening.
Ada banyak hal yang mesti Sasuke Uchiha pikirkan, salah satunya…
"Sasuke-kun!"
Seorang perempuan berambut merah tergopoh-gopoh menghampirinya. Ia menenteng sebotol air mineral dan handuk kecil di tangannya. Gadis itu melebarkan senyumnya saat Sasuke membuka kedua kelopak matanya dan berbalik menatapnya. Ia berangsur mendekati pemuda itu, sembari memberikan botol minuman yang dibawanya. Dan Sasuke langsung menenggak habis minuman yang disodorkan gadis itu.
"Jangan melamun. Ngomong-ngomong selamat atas pertandinganmu." Gadis itu duduk disamping Sasuke. Tubuhnya masih mengenakan seragam pemandu sorak dengan slengan 'captain'.
Sasuke melirik gadis itu dari sudut matanya, "Hn." Gadis itu tergelak. Sasuke menyernyit.
"Kau lucu, minum saja belepotan." Gadis merah itu lantas mengusap wajah Sasuke yang penuh keringat dan tersiram air minumannya sendiri. Sasuke menatapnya lekat-lekat, ada gelenyar aneh muncul. "Ngomong-ngomong, apa aku tak 'kan dimarahi kekasihmu nanti?"
Sasuke tersentak, "Entahlah. Ia sedang ke Iwa, mengikuti lomba sains, dua bulan."
Gadis merah itu tersenyum terpaksa. "Ah, iya. Sakura Haruno adalah gadis paling bersinar di bidang akademik untuk kampus kita. Aku tak heran." Sasuke mendengus pelan. "Tapi bukankah bulan depan kau ada pertandingan Nasional? Jadi ia tak bisa mendukungmu langsung?"
Sasuke meremas botol air mineral miliknya, melemparkannya kencang menuju tong sampah. Ini masalah utamanya. Ia menatap tajam gadis disebelahnya. Sekelebat perasaan kecewa dan marah mengusai bola mata hitam itu. "Hn."
Gadis itu termangu, ia tersenyum manis kemudian. "Tenang saja, aku akan selalu mendukung Sasuke-kun!"
Dan ini masalah keduanya.
Hatinya bercabang. Antara Haruno Sakura dan Uzumaki Karin.
.
.
Sasuke pertamakali mengenal Uzumaki Karin saat dirinya memilih bergabung dengan klub basket di kampusnya. Menyalurkan hobi. Dan gadis merah tersebut merupakan kapten pemandu sorak bagi tim basket. Tentu lantas membuat keduanya terlibat dalam kegiatan tertentu dan berakhir pada kedekatan tertentu. Sasuke tak menampik, Karin memiliki tubuh dan wajah yang sedikit lebih mumpuni ketimbang Sakura, ia juga gadis enerjik dan yang paling penting, ia ada saat Sasuke membutuhkan dukungan. Kemana Sakura? Ia sibuk mengurusi olimpiade sains-nya. —Dan kelemahan laki-laki adalah perhatian.
Gadis itu hadir kala dirinya mengalami badai besar dengan kapal yang hampir oleng. Sekarang pertanyaaannya, kemana ia akan memilih? Melanjutkan perjalanan dengan kapal yang hampir karam, atau memilih berpindah pada kapal lain yang jauh lebih aman?
.
Percayalah, ada titik jenuh dalam sebuah hubungan.
Tinggal bagaimana cara kita menyikapinya.
Lanjut, atau berhenti?
.
Sakura melangkah riang di sepanjang jalan menuju kediaman Uchiha. Siang ini, terik matahari memang membakar kulit, dan ia sama sekali tak perduli. Gaun merah muda selututnya mengembang melambai dimainkan angin, topi pantai khas Iwa bertengger diatas kepalanya. Ia tersenyum sembari mengayunkan tas sedang digenggamannya—oleh-oleh untuk keluarga Uchiha. Hari ini adalah hari kepulangannya setelah dua bulan lalu megikuti lomba sains. Ia tak sabar bertemu Sasuke. Bagaimana kabar pemuda itu, apakah ia akan terkejut melihatnya, apakah Sasuke akan memeluknya dan apakah-apakah lainnya.
Tinggal melewati jejeran ruko, berbelok dan bingo! Ia akan sampai di kediaman kekasihnya. Ia melebarkan senyumnya.
—Hanya saja Sakura hanya bisa merencanakan, pelaksanannya ada pada Kami-sama. Uchiha Bungsu tak ada dirumah, senada dengan Uchiha lainnya. Itachi ke Inggris, Mikoto dan Fugaku meninjau cabang Uchiha di salah satu kota Jepang, ujar salah satu pelayan keluarga Uchiha. Sasuke? Entahlah, ia tak tahu.
Sakura tak ambil pusing. Mungkin saja pemuda itu tengah berada di kediaman Naruto atau Kiba. Ah, Neji juga mungkin. Ia berbalik arah meninggalkan kediaman Uchiha. Kembali berbelok dan menyusuri jejeran ruko-ruko di kanan kirinya.
"Itu dia!" Sakura memekik melihat jejeran gantungan kunci yang terpajang disalah satu ruko. Ada sepasang gantungan kunci, berwarna jingga dan merah. Ah, ia hampir lupa. Ia pernah memesankan sepasang gantungan kunci berbentuk chibi dirinya dan Sasuke sebelum dirinya terbang ke Iwa, sama seperti gantungan kunci yang kini terpajang apik disalah satu etalase toko. Sakura menepuk jidatnya. Dengan setengah melompat ia menghampiri toko tersebut.
"Permisi."
Lonceng berbunyi nyaring saat ia membuka toko pernak-pernik itu. Desain toko cukup simpel dengan beberapa ornamen berbau remaja menghiasi dinding-dindingnya. Cat biru langit, tanaman bonsai yang tertata di sudut-sudut toko, itu yang Sakura lihat saat pertama kali menginjakkan kakinya disini. Ia menebar senyum. "Rupanya sedikit berubah."
.
Nostalgia, ia berkeliling mengitari rak-rak berukuran sedang yang memajang berbagai macam benda lazim, namun berbentuk unik. Contohnya saja pensil berbentuk panjang dan elastis ini, seolah-olah pensil tersebut adalah karet. Sakura terkikik, ia menarik ulur pensil dengan sifat kelentingan tak terbatas berwarna biru muda berpolet putih itu. Ia hanya akan berkeliling sebentar, tentunya setelah ada dua gantungan kunci chibi dirinya dan Sasuke yang masuk kedalam kantung belanjaannya. Rupanya pesanannya telah lama siap, hanya menunggu pemesannya mengambil.
Bel berdenting nyaring, menggema sampai sudut toko. Sakura mengalihkan atensinya menghadap pintu yang perlahan terbuka, menampilkan sosok berambut kebiruan mengenakan seragam klub basket—yang ia kenal betul siapa—dan seorang gadis berambut merah yang mengenakan seragam pemandu sorak berlapis jaket kebiruan, Sakura sama sekali tak tahu siapa gadis itu.
"Untuk apa kau mengajakku kemari, Karin?" Sakura hapal betul siapa pemilik suara datar nan menusuk ini. Diluar nalar, sangat hafal. Lelaki itu mendengus bosan, matanya menatap malas. Tapi ada yang aneh dari tatapan pemuda itu.
Tiga tahun bersama Sasuke membuatnya hafal kebiasaan pemuda itu. Dan Sasuke tak mungkin mau menerima ajakan siapapun kecuali orang terdekat atau sahabatnya. Sasuke cenderung tertutup dan pemilih. Jika Sasuke mau pergi bersama si gadis merah dan meminjamkan jaketnya, ada dua kemungkinan…
"Aku hanya ingin memberikanmu sesuatu sebagai hadiah ulang tahunmu, umm… mungkin terlambat sih. Tapi, daripada tidak sama sekali." Gadis merah bernama Karin itu mengerucutkan bibirnya. Sakura mengamati keduanya masih dari balik rak. Ia bisa melihat Karin membisikkan sesuatu kepada penjaga toko, matanya berbinar. Sasuke masih memasang wajah datar.
Pertama, Sasuke menganggap gadis bernama Karin itu sahabatnya…
"Taraaa…! Ini dia! Hadiah ulangtahunmu." Karin mengibas-ngibaskan sepasang gantungan kunci didepan Sasuke, matanya berkilau. "Mungkin ini norak, bodoh, atau apapun itu. Tapi aku hanya ingin kau mengingatku." Suara Karin menguap di akhir kalimat, ia bermimik sendu.
Diam-diam Sasuke tersenyum geli, "Hn. " kemudian memeluk Karin sayang.
"Kau pegang gantungan kunci berbentuk aku dan aku sebalik—…"
Suara Karin sayup-sayup berdenging di telinga Sakura. Kepalanya terasa berat. Ia tanpa sadar menjatuhkan belanjaannya, terpaku ditempat. Sakura menggigit bibir.
Kedua, ini yang paling mungkin. Sasuke menyayangi gadis itu, lebih atau sama dengannya, Sakura Haruno.
.
.
Dua minggu kemudian…
"Kau tahu Sasuke, ada beberapa macam hal yang tak mungkin bisa dibohongi. Salah satunya gerak tubuh atau bahasa kerennya sih body language."
Suara Sakura memantul diantara dinding-dinding bisu kamar Uchiha Bungsu. Matanya menerawang jauh.
"Aku berkenalan dengan banyak orang disana(Iwa), salah satunya ialah mahasiswi semester akhir jurusan Psikologi, teman semasa kecilku, Hyuuga Hinata. Ia sempat bercerita padaku tentang studi skripsinya. Aku memang bukan mahasiswi dengan jurusan psikologi, namun sedikitnya aku tahu beberapa garis besarnya."
Sasuke mendengarkan seksama, matanya bergulir gelisah. Ia melipat tangan didepan dadanya dan bersandar pada kursi belajar. Salah satu ujung kakinya lurus menghadap lemari yang berada di samping kirinya, sementara yang satu lagi menghadap kedepan. Sakura masih menatap langit-langit kamar, ia tengah berbaring di kasur empuk milik pemuda itu. Gadis merah muda itu kemudian memejamkan mata erat-erat seolah-olah beberapa detik lagi ia akan berada diujung maut, remuk, jadi debu. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras.
"Bagaimana seseorang bersikap, berbicara, melangkah, menatap, menggerakan kakinya, setidaknya aku tahu garis besar perihal tersebut…"
Pelipis Sasuke mengerut, ia tak mengerti arah pembicaraan ini. "Apa maksudmu Sakura?"
Sakura tersenyum miris, ia membuka matanya dan bangkit duduk. "Aku tahu kau Sasuke, mungkin jauh lebih mengerti ketimbang dirimu sendiri. Menurutku tiga tahun bukanlah waktu singkat. Cukup untuk mempelajari kepribadian seseorang." Sakura memandang Sasuke lekat-lekat. Matanya memancarkan luka.
Sasuke bergerak tak nyaman di kursi duduknya. "Hn?"
"Aku tahu kau hanya akan menyilangkan kedua tanganmu didepan dada untuk beberapa hal, menunjukan kuasamu, menyembunyikan sesuatu, tak nyaman dengan keadaan sekitar. Dan untuk menutupi kebohonganmu…" Sasuke menyernyitkan alisnya dalam, peluh keluar dari pelipisnya. Bibirnya kelu, ia tak mampu berkata-kata.
"Peluh yang keluar dari pelipis apabila dalam keadaan wajar—tidak melalukan aktifitas berat semisal olahraga—mengindikasikan keadaan tertekan, gugup, kurang nyaman…"
"Maksudmu apa, Sakura?" Sasuke melakukan penekanan diujung kalimatnya. Matanya memandang menyelidik. Sakura tersenyum lemah. "Tak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin kau mendengarkanku barang sebentar."
Sasuke bungkam.
"Kau tahu, kepercayaan ibarat sebuah kertas putih. Sekali kau membuat titik, kau tak bisa kembali menjadikannya putih bersih. Jika kau berniat menghapusnya dengan tipe-x, sekalipun warnanya sama, kertas putih tersebut tak bisa kembali ke semula. Ada bekas noda." Sakura memandang jauh melewati jendela, menembus mega. Matanya bersinar redup.
"Aku mendapat tawaran akselerasi atas prestasiku dua minggu lalu —juara pertama nasional mewakili kampus kita, mungkin tahun depan aku akan lulus. Dan beruntungnya lagi, beberapa rumah sakit telah menawariku bekerja disana." Sakura menarik nafas, dari ujung matanya ia melihat Sasuke membeliak. Terkejut atas ucapannya.
" Ah, aku datang kesini hanya untuk mengembalikan ini." Sakura menyerahkan benda bulat kecil yang tadi sempat melingkar di jari manisnya.
Sasuke terkesiap, ia terkejut. Sakura mendekat, membuka buku-buku jarinya dan meletakan cincin itu di tangannya. "Maksudmu apa, Sakura? Mengembalikan cincin tunangan ini?" Sasuke frustasi. Ia menatap Sakura nyalang.
Ini sama sekali tak masuk dalam prediksinya.
Sakura menghela nafas pasrah, matanya menyiratkan luka yang mendalam. "Aku tahu kau cukup jenius, Sasuke."
"Kenapa?"Sasuke mencicit, ia memandang ujung kakinya. Sakura masih berada didepannya.
"Aku rasa jawaban itu ada pada dirimu sendiri," Ia mengacak lembut rambut si Bungsu. Sasuke memejamkan matanya erat-erat. "Aku sama seperti kebanyakan gadis, tak ingin diduakan atau dikhianati…" Sasuke tercabik. Ia sekarang tahu arah pembicaraan.
"… Rasanya ngilu dan membuatmu tak bisa tidur nyenyak semalaman. Kadang kala—bahkan tanpa sebab, air mata bisa keluar dari matamu. Aku bahkan sempat menyesal menjadi anak perempuan yang di anugerahi Kami-sama perasaan yang lebih peka. Hahaha… lucu ya? " Sakura tertawa hambar. Sasuke diam.
Tawa Sakura lenyap, meninggalkan kehampaan diantara keduanya. "Rasanya sakit, saat kau tahu orang yang kau pikirkan belum tentu memikirkanmu," Gadis itu menghela nafas lelah, solah-olah bosan menghirup udara. Sasuke menajamkan pendengarannya. Batinya pelan-pelan tergores.
"Ah, lagipula kita sepertinya lebih baik menjadi teman. Bukan begitu, Ayam?" Sakura tersenyum, ia mememerkan deretan gigi-giginya yang rapi.
"Aku tak mau." Ucapan Sasuke sukses membuat cengiran yang susah payah Sakura buat pudar.
"Kenapa?" Sakura mencicit.
"Alasanmu terlalu mengada-ada." Sasuke berucap sarkas.
"Bukan mengada-ada itu kenyataan. Nyatanya, hatimu bercabang. Mengertilah."
"Bercabang? Tidak." Sasuke mengusap hidungnya yang agak memerah.
"Kau bohong, hidung adalah salah satu bagian tubuh yang paling sukar berbohong selain kaki, dan mata. Hanya orang berbohong yang akan mengusap hidungnya bila berbicara. Terjadi karena otak menolak memberikan informasi yang salah dan secara tak sadar mengirimkan impuls kepada syaraf tangan untuk menyentuh hidung. Lagipula—"
"—PERSETAN DENGAN ILMU PSIKOLOGI BODOHMU!" Sasuke mengamuk. Ia bangun dari duduknya. Matanya semakin nyalang, buih-buih kemarahan tercipta.
"Akuilah, " Sakura pelan-pelan meninggalkan Sasuke yang murka. Ia membuka pintu kamar Bungsu Uchiha itu. "Aku titip salam untuk Mikoto-baasan, Fugaku-jiisan, dan Itachi-niisan yang ada di Inggris saat ini."
"Sakura," Sakura berhenti membuka pintu. Ia tak berbalik. "Kita belum berakhir." Sakura mematung. Sedikit hatinya goyah,
"Ah, aku ingat. Mungkin tadi sepatu Karin yang ada di bawah kursimu, katakan padanya salah satu sepatunya terlepas saat ia bersembunyi di lemari pakaianmu, Sasuke. Mungkin ia terlalu terburu-buru. Darimana aku tahu? Ujung kakimu menyiratkannya untukku."
Yang terakhir Sasuke lihat, Sakura berbalik menghadapnya dan tersenyum lembut. Sinar mentari senja menerpa wajah ayu Sakura. Angin yang bertiup dari ceruk jendela memainkan rambut merah muda sebahu gadis itu. Mata hijau beningnya menatap penuh syukur.
"Terimakasih untuk kenangan selama tiga tahun ini, untuk kesediaanmu mengisi mimpiku. Dan kali ini saatnya aku terbangun. Terimakasih."
Pintu tertutup. Meninggalkan Sasuke yang diam, matanya nanap.
Tiktok jam. Deru nafas. Lamat-lamat ia memejamkan matanya.
"Maaf." Suara Sasuke menguap terbawa angin. Nyatanya ucapan gadis merah muda itu benar, dan ia tak bisa menyangkalnya.
Ia menghempaskan dirinya ke kursi, menyandarkan kepalanya, memijit-mijit pelipisnya yang berasa pening. Matanya menatap langit-langit kamar. Ada lubang kosong diujung sanubari miliknya.
Suara benturan keras. Pintu lemari menjeblak. Karin keluar dari lemari pakaiannya.
.
Menyakitkan mana,
Meninggalkan orang yang dicintaimu?
Atau,
Ditinggalkan orang yang mencintaimu?
.
"Delusional depresi disorder, hipotesaku mengatakan besar kemungkinan Sasuke mengidapnya. Ia mengalami waham campuran, antara waham persecutory dan waham bersalah—"
"Maaf memotong ucapanmu, tapi bisa kau jelaskan secara lebih err-dimengerti?" Itachi Uchiha menyergah sopan, ia melemparkan tatapan bertanya kepada pria bermasker diseberang meja.
Si pria menghela nafas panjang, "Kau mungkin kenal dengan apa itu delusi(Itachi mengangguk pelan), secara singkat merupakan gangguan kejiwaan yang mengakibatkan penderitanya mengalami keyakinan yang salah; tidak bisa membedakan mana kenyataan dan terjebak dalam ilusinya sendiri, sepanjang kasus delusi milik pasienku. Ini yang paling rumit." Kakashi-pria tadi memijit-mijit pellipisnya.
"Maaf, atas tinggkah adikku selama ini." sebagai seorang kakak, Itachi merasa mesti bertanggung jawab.
Kakashi merasa tak enak, "Ah, tak apa. ini juga sebagai tugasku. Ngomong-ngomong tentang waham tadi, kau belum tahu?" ia membelokkan topik pembicaraan.
Itachi mengerjap, ia menggangguk pelan sebagai jawaban.
"Waham persecutory merupakan kepercayaan dimana pasien merasa dimata-matai, ditipu, difitnah sehingga pasien tidak mempercayai orang lain; waham bersalah menyebabkan pasien merasa berdosa telah melakukan hal yang fatal dan menyakitkan pihak lain; waham campuran adalah munculnya dua waham atau lebih dalam sebuah kasus delusi,"
"Semua ini masihlah hipotesaku mengingat terkadang Uchiha Sasuke melakukan tindakan kekerasan dan setelahnya ia akan murung, seolah-olah ia memiliki kembali kesadarannya."
"Untuk sementara, kusarankan obat-obatan jenisRegular antipsikotik. Karena sampai detik ini belum tanda-tanda kegelisahan dan susah tidur, aku tak menyarankan obat penenang atau antidepresan. Seperti biasa." Kakashi menatap sulung Uchiha dengan tatapan serius.
"Hn."
"Aa, baiklah. Sebelum aku pamit, ada satu hal yang masih menjadi enigma sampai detik ini," Itachi menyernyit, dahinya berkerut. "Aku masih belum bisa mengorek informasi dari adikmmu secara langsung, selama ini aku hanya bisa menyimpulkan dari tingkah polah adikmu itu serta penuturan orang-orang terdekatnya, semisal kau, Itachi." Dahi Itachi berkerut semalin dalam.
"Sebenarnya, apa penyebab adikmu mengalami gangguan kejiwaan ini? Adakah sebuah peristiwa yang cukup memukul batinnya? Ataukah—"
"Aku tak tahu."
Kakashi menyernyit, dari seberang meja ia melihat Itachi memandang lantai dibawahnya dengan tatapan kosong. Terlarut dalam dunia pikirannya, eh?
"Maksudmu?" kali ini giliran Kakashi yang menyernyitkan dahinya.
"Semua masih baik-baik saja ketika Sakura—mantan istri adikku yang kuceritakan tempo hari— memilih bercerai dari Sasuke setelah penghianatan yang dilakukan adikku itu—ia bodoh. Namun, berubah luar biasa dua bulan setelahnya, Sasuke mulai bertingkah aneh, menanyakan dimana Sakura, berbicara sendiri, tak ingin keluar dari kamarnya—"
Kakashi memandang secara seksama, ia seakan menemukan titik temu. "—carilah Sakura!"
Itachi menegang, "seandainya, menemukan Sakura merupakan hal mudah, sejak dulu aku akan menemukannya." Suaranya terdengar rapuh dan putus asa.
Kembali buntu. Kakashi memijit kembali pelipisnya—
"Sakura menghilang setelah bercerai dengan adikku. Jejaknya seolah terhapus di muka bumi."
.
Nyatanya, kehilangan dalam bentuk apapun akan menimbulkan luka,
-dan kita tak tahu mengapa.
.
To be continue…
Thanks to review:
Haza ShiRaifu, Niigata Rine, eL-yuMiichann, SRZ, Baby Kim, erica christy .77, kim yoome, Hanaxyneziel, ponikadewi, cherrysakusasu, Ajisai Rie, Nyimi-chan, , Queen Phoenix17, Ucucubi, View, Hanade Aoi, adem ayem, miyank, sasusaku kira, kimya chan, YJ.C, Y0uNii D3ViLL, Hero, missclouds
(maaf apabila salah penulisan atau belum disebutkan)
Untuk pengetahuan, scene italic merupakan scene tahun ke 2 sasusaku di bangku kuliah.
Dan untuk yang normal, itu waktu setahun setelah bercerai. Masalah time line:
8 tahun lalu, sasusaku umur 16 tahunan, kelas 2 SMA.
7 tahun lalu, sasusaku umur 17 tahun kelas 3 SMA.
Dan seterusnya.
Secuil curcol: tugas dan presentasi yang menumpuk membuat nila stress berat. Ditambah awal bulan depan nila akan perfi ke Yogyakarta. Kemungkinan besar, update akan ngadat.
Gommen. :(
Jika berkenan, tinggalkan review untuk kemajuan cerita.
Love,
nilakandi
Bandung, 24 januari 2013. 8:30 p.m
