[Antagonist]
NCT belongs to themselves
"Antagonist" belongs to Lexa Alexander
Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa
Main Pair: TaeTen
Other Pair: JaeDo, JohnIl
SM School of Performing Art –sekolah dengan fokus pendidikan di seni bermain peran terbaik tingkat nasional. Selama bertahun-tahun, hampir tidak pernah gagal meluluskan murid-murid yang berkualitas dalam seni peran. Kualitas murid-muridnya selalu nomor satu, dan tentu saja sistem pendidikannya pun yang terbaik.
Selain itu, sekolah ini juga mengajarkan seni peran kepada murid-muridnya secara langsung melalui sebuah permainan cardverse game, dimana murid-muridnya akan bermain peran sesuai kartu yang mereka dapatkan di awal tahun ajaran.
Permainan yang sederhana dan cukup mudah.
Di awal tahun ajaran, setelah memasuki kelas masing-masing –antara Spade, Diamond, Clover, dan Heart–, Wali Kelas akan mengedarkan sebuah kotak berisi 14 amplop yang di dalamnya berisi sebuah kartu bridge. Setelah dipersilahkan untuk membuka amplopnya, murid-murid akan mengetahui peran mereka untuk setahun penuh sesuai dengan kartu yang mereka dapatkan. Mereka harus berperan secara totalitas –mulai dari akting hingga kostum.
King berarti Raja. Berperan sebagai raja. Bebas melakukan apa pun yang diinginkan, selama masih sesuai aturan sekolah. King berpakaian layaknya raja, dengan seragam yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa layaknya orang-orang dari kerajaan –di sini, orang-orang kerajaan disebut royal class.
Di bawah King, ada Queen. Ratunya. Harus bersama dengan King sepanjang waktu, kecuali King memberi kebebasan pada Queen untuk melakukan apa pun. Queen tidak sebebas King.
Jack adalah teman dekat King, berada di royal class dan satu tingkat lebih rendah di bawah Queen. Jack harus menuruti apa kata King maupun Queen –nomor satu tetaplah King.
Kartu nomor 10 adalah Pleaser. Berada di bawah Jack dan termasuk high class –masih memiliki kuasa. Setara dengan kartu nomor 9 –disebut Wannabe. Keduanya adalah pengikut setia para anggota royal class. Kuasanya terbatas –dan tidak memiliki hak untuk menentang royal class. Berpakaian layaknya bangsawan dan selalu mengikuti kemanapun royal class pergi –kecuali dengan adanya perintah khusus untuk tidak mengikuti.
Di bawah high class ada middle class. Kartu nomor 8 yang disebut Prep adalah orang yang berperan sebagai anak pintar di kelas –biasanya menjadi ketua kelas, dan selalu mendapat nilai baik di tiap ujian. Prep tidak perlu berpenampilan nyentrik seperti yang lainnya, hanya perlu berpakaian rapi dan sopan sesuai aturan sekolah. Walaupun menjabat sebagai ketua kelas, namun tetap saja tidak mempunyai kuasa untuk menentang royal class maupun high class. Kuasa tertinggi tetap berada di tangan King.
Setara dengan Prep, nomor 7 yang disebut Messenger mempunyai peran sebagai yang menjalankan perintah. Biasanya royal class akan menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang sederhana seperti mengumpulkan tugas kelas dan yang lainnya. Saat guru ingin menyampaikan pesan, Messenger yang diberi amanat untuk menyampaikannya kepada teman sekelasnya. Urusan tugas dari guru biasanya akan dilakukan Messenger, dan terkadang bersamaan dengan Prep.
Masih di middle class, kartu nomor 6 atau yang biasa disebut Slacker berperan layaknya orang bodoh. Biasanya sekaligus menjadi moodmaker kelas. Pantangan seorang Slacker adalah emosi negatif –kecuali jika menyangkut Joker, Slacker diperbolehkan menunjukkan emosi negatifnya.
Di low class, nomor 5 yang juga disebut Geek berperan layaknya orang culun yang terlalu fanatik akan suatu hal –biasa disebut otaku.
Juga di low class, nomor 4 atau Goth harus berpakaian serba hitam –biasanya seragamnya dibuat berantakan, mengenakan aksesoris serba hitam, dan kalau mau bisa mengenakan cardigan hitam dan celana seragamnya diganti dengan warna hitam. Rambutnya juga harus dicat dengan warna hitam.
Lalu posisi terakhir di low class adalah kartu nomor 3 yang juga disebut Brain –berperan layaknya orang egois, tidak mau ikut campur urusan orang lain, dan biasanya tidak ingin terlibat dalam masalah. Lebih sering menghindari keramaian karena tidak ingin terlibat dengan masalah Joker.
Di luar hierarki, ada dua posisi yang sedikit menguntungkan –karena tidak perlu berurusan dengan orang-orang dari high class hingga low class, bahkan royal class tidak akan menganggap mereka ada. Walaupun begitu, menentang royal class tetaplah dilarang.
Kartu as –disebut juga Bad boy– berperan sebagai begundal, mulai dari penampilan hingga kelakuannya. Untuk peran ini, sekolah memperbolehkan anting dan tindik, namun tetap harus dalam batas wajar. Kebanyakan murid tidak menggunakan anting ataupun tindik walaupun diperbolehkan pihak sekolah –alasannya karena terlalu berlebihan. Jadi mereka hanya menggunakan tato semi permanen saja.
Selain Bad boy, kartu nomor 2 yang juga disebut floater termasuk dari bagian yang tidak terikat dalam hierarki.
Kemudian yang paling bawah dan paling akhir adalah kartu Joker. Kasta terbawah. Siapa pun yang mendapat kartu ini berperan sebagai target –atau sasaran bullying. Peran yang paling dihindari oleh tiap siswa –karena tidak ada yang ingin menjadi target bullying selama setahun penuh, bertahan dalam keputusasaan dan harus tunduk pada siapa pun.
[]
yeayy~ up~
work yang sudah sampe 18K+ lebih di laptop, akhirnya dipublish juga di sini. wkwkwkw
dan makasih banyak buat fa0107 untuk reviewnya~ utututu~ kamu yang pertama review, aku terharu
((taeten cocok jadi beginian)), hmmz, gimana ya, aku mikirnya Ten cocok saja meranin "Ten" yang disini. Karakter "Ten" di Antagonist, dalam bayanganku tu agak ... nyabe. wkwkwkwkw. ya, centil genit nyebelin sombong gitulah kalo pas di sekolah. aku langsung kepikiran Ten, jadi deh Ten meranin "Ten". wkwkwkw.
terus kalo bang Tiway yang meranin "Taeyong", yah, soalnya, "Taeyong" itu, depan sama belakangnya beda (?). ada sesuatu yang bikin "Taeyong" jadi ngeselin begini, dan gatau kenapa pas mikirin karakter "Taeyong", aku langsung kepikiran Tiway. kayak ada mirip-miripnya gitu. heheheh XD
OKAY! *lucaseu voice
Yeorobun! Mind to review? Barangkali ada saran yang membangun?
